The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Read more.

Monday, August 21, 2017

The Jose Flash Review
A: Aku, Benci, dan Cinta

Popularitas bintang muda Jefri Nichol dan Amanda Rawles selepas Dear Nathan semakin meroket tak terbendung. Keduanya kemudian dipasangkan kembali di Jailangkung dan masih di tahun yang sama dipertemukan lagi di A: Aku, Benci, dan Cinta (AABC), sebuah drama romantis remaja dengan bumbu komedi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi (sebelumnya juga merupakan karya tulis yang dipublikasikan di Wattpad sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, sama seperti Dear Nathan). Naskah adaptasinya disusun oleh Alim Sudio yang sudah berpengalaman menyusun puluhan naskah film, termasuk yang diadaptasi dari novel, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Surga yang Tak Dirindukan, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Cinta Laki-Laki Biasa, dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Rizki Balki sebagai film debutnya setelah dikenal sebagai sutradara TVC. Selain Jefri dan Amanda, digandeng juga nama-nama bintang muda populer seperti Indrah Permatasari ({rudy habibie}, Pesantren Impian, Athirah, dan Stip & Pensil), Brandon Salim (di hari yang sama ada dua filmnya yang dirilis, satunya The Underdogs), Syifa Hadju, dan Maxime Bouttier.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
The Underdogs

Mau tak mau harus diakui bahwa media sosial menjadi fenomena sosial yang paling besar dewasa ini. Media sosial lah yang menggeser makna dan sistem popularitas menjadi lebih umum, tak lagi soal bakat saja. Salah satu yang pengaruhnya adalah YouTube yang membuat semua orang bisa punya channel sendiri berisi aksi pribadi masing-masing hingga membentuk profesi baru; YouTuber. Sinema Indonesia sudah pernah mengangkat tema ini lewat Youtubers tahun 2015 silam dengan menggandeng berbagai YouTuber betulan, seperti da Lopez Bersaudara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Atomic Blonde

Dunia tak akan pernah cukup melahirkan tokoh-tokoh jagoan baru di film, tak terkecuali bergender wanita yang harus diakui punya daya tarik tersendiri. Setelah ‘era kejayaan’ Angelina Jolie yang pernah menjelma menjadi sosok Lara Croft, Evelyn Salt, Mrs. Smith, dan Fox (Wanted) dan di era ini ada Scarlett Johansson (Black Widow di Marvel Cinematic Universe, Lucy, dan Major (Ghost in the Shell), aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron pun tak mau ketinggalan kembali mengambil peran kick-ass heroine pasca Æon Flux dan Furiosa di Mad Max: Fury Road. Kesempatan terbaru ini berasal dari sutradara David Leitch, yang sebelumnya bertindak sebagai stuntman, stunt coordinator, sekaligus fight choreographer dari film-film blockbuster seperti Fight Club, Mr. & Mrs. Smith, X-Men Origins: Wolverine, The Bourne Legacy, dan pernah dipercaya menyutradarai beberapa adegan di John Wick, film pendek Deadpool: No Good Dead, dan upcoming, Deadpool 2. Naskahnya disusun oleh Kurt Johnstad (300, Act of Valor, dan 300: Rise of an Empire) berdasarkan novel grafis The Coldest City keluaran Oni Press karya Antony Johnston dan Sam Hart. Didukung James McAvoy, John Goodman, Toby Jones, Sofia Boutella, hingga aktor Jerman yang sering main di film Hollywood, Til Schweiger, Atomic Blonde (AB) yang merupakan kisah espionage ini berpotensi berkembang menjadi franchise baru setara John Wick.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 15, 2017

The Jose Flash Review
The Battleship Island
[군함도]

Perang Dunia II adalah peristiwa sejarah dunia yang bisa dikatakan terbesar hingga saat ini. Tentu ada banyak kisah yang bisa diangkat, baik dari sudut pandang tokoh-tokoh populer yang punya pengaruh besar terhadap arah sejarah maupun manusia-manusia biasa dengan kesederhanaannya. Tak hanya dari sudut pandang Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan negara-negara anggota lainnya), Jerman, ataupun Jepang yang memang menjadi negara-negara pion utama dari PD II, tapi juga negara-negara lain yang menjadi ‘korban’. Terutama di Asia; Cina dan Korea. Sinema Korea Selatan yang sudah semakin mumpuni, bahkan semakin lama semaki ambisius, akhirnya ikut meramaikan ‘bursa’ PD II lewat salah satu era kelam dalam sejarah Korea; 400 orang Korea yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik ternyata dikirim ke Pulau Hashima dan dipaksa bekerja sebagai buruh pertambangan batu bara milik Jepang. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Emoji Movie

Saat ini smartphone mungkin sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski tetap saja ada tingkatan-tingkatan ‘ada harga ada rupa’, setidaknya fungsi-fungsi dasar smartphone sudah bisa dinikmati bukan lagi sebagai barang mahal. Saking smart-nya, mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya seperti apa sih kinerja di balik kecerdasan fungsional mereka. Tony Leondis (story artist dari The Lion King 2: Simba’s Pride, The Prince of Egypt, dan Home on the Range yang pernah dipercaya untuk menyutradarai animasi Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch dan Igor) mencoba untuk menjelaskan kinerja di balik smartphone, terutama salah satu elemen paling populernya, emoji, secara imajinatif. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Hunter's Prayer

Penggabungan action thriller dengan drama lewat mengulik sisi emosional dari sosok yang identik dengan dingin dan kejam seperti yang pernah dilakukan oleh Léon: The Professional (1994) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa jadi paduan yang menghibur sekaligus menyentuh. Formula serupa coba dihadirkan sekali lagi oleh Jonathan Mostow yang pernah dipercaya menggarap Breakdown, U-571, Terminator 3: Rise of the Machines, dan Surrogates. Naskah film bertajuk The Hunter’s Prayer (THP) yang diadaptasi John Brancato dan Michael Ferris (keduanya bekerja sama menyusun naskah The Net, The Game, Terminator 3 & Salvation, serta Surrogates) ini berasal dari novel For the Dogs karya Kevin Wignall yang dirilis tahun 2004. Dengan membawa nama-nama populer di jajaran cast, seperti Sam Worthington (Terminator Salvation, James Cameron’s Avatar) dan bintang muda yang karir aktingnya kian mengkilat setelah The Odd Life of Timothy Green, The Giver, serta Goosebumps, Odeya Rush, THP punya daya tarik yang cukup mengundang rasa penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 12, 2017

The Jose Flash Review
Annabelle: Creation

Reputasi James Wan sebagai produser spesialis horror jaminan mutu semakin terkukuhkan dengan lahirnya The Conjuring Universe. Terbukti ‘pancingan’ sosok-sosok horror ikonik yang ia sebar di dua installment The Conjuring (dan rupanya masih akan terus berlanjut) begitu diminati, bahkan dengan antusiasme tinggi oleh penggemar sekaligus penonton umum di seluruh dunia. Diawali dengan spin-off pertama, Annabelle (2014) yang meski lebih banyak mendapatkan review negatif tapi berhasil mengumpulkan US$ 256.9 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 6.5 juta. Tentu ini membuat New Line Cinema, Warner Bros., dan James Wan sendiri selaku produser, percaya diri untuk ‘menebus’ seri Annabelle dengan follow-up. Gary Dauberman yang kembali ditunjuk menyusun naskahnya memilih untuk mengembangkan prekuel bertajuk Annabelle: Creation (AC) dengan setting country (pedesaan) Amerika Serikat era ’50-an. Ini bisa jadi sedikit penyegaran setelah mengambil setting suburban dan country Amerika Serikat, serta suburban Inggris era ’70-an. Bangku sutradara dioper ke David F. Sandberg yang sukses mengangkat film pendek fenomenalnya, Lights Out ke layar lebar dan menarik perhatian Wan. Di deretan cast, ada Stephanie Sigman yang pernah kita lihat di Spectre, Miss Bala, dan terakhir belum lama ini, Once Upon a Time in Venice, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, dan si cilik yang ‘keranjingan’ bermain di film horror, Lulu Wilson (Ouija: Origin of Evil).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Jab Harry Met Sejal
[जब हैरी मेट सेजल]

Bekerja sama dengan sang raja, Shah Rukh Khan (SRK), mungkin sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi sineas di tanah Hindustani. Setelah sekian tahun dan sekian kali belum berjodoh, Imtiaz Ali (Jab We Met, Love Aaj Kal, Rockstar, Highway, dan Tamasha) akhirnya menemukan peran yang pas untuk SRK. Berpasangan kembali dengan Anushka Sharma setelah Rab Ne Bana De Jodi, Jab Tak Hai Jaan, dan Ae Dil Hai Mushkil (di sini keduanya tak dipasangkan. SRK pun hanya menjadi cameo), kisah asmara bertajuk Jab Harry Met Sejal (JHMS) ini bukanlah remake dari komedi romantis legendaris, When Harry Met Sally. Judul tersebut hanyalah atribut sebagai penghormatan semata, sementara plot dan tema yang diusung jauh berbeda. Imtiaz sendiri sempat mengubah konsep awal yang mengangkat pria yang hendak bunuh diri menjadi lebih ceria dan berwarna. Tentu saja star power sebesar SRK tak boleh kelewat membuat fanbase raksasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia kecewa, bukan?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Once Upon a Time in Venice

Meski image-nya lebih kuat sebagai aktor laga, Bruce Willis sebenarnya tak jarang juga mengambil peran-peran komedi. Sebut saja The Whole Nine Yards, The Bandits, dan Cop Out. Toh ternyata ia cukup luwes juga mengisi peran-peran komedi. Setelah Cop Out, Willis kembali menerima tawaran Mark Cullen (penulis naskah Cop Out) untuk tampil di Once Upon a Time in Venice (OUTV). Nama Mark Cullen dan Robb Cullen sebenarnya cukup punya reputasi bagus, terutama karena nominasi Emmy Awards untuk serial Lucky yang mereka ciptakan. Aktor-aktor pendukung OUTV pun cukup menjanjikan. Mulai dari Jason Momoa (Aquaman di upcoming DC’s Justice League dan Aquaman), John Goodman, Thomas Middleditch, Famke Janssen, hingga Adam Goldberg. Dengan premise detektif dengan bumbu komedi dan latar tropis Venice, OUTV sebenarnya berpotensi menjadi sajian yang menghibur.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cowo]


Setelah beberapa minggu sebelumnya Mars Met Venus: Part Cewe (PCe) dirilis dan ternyata mendapat sambutan penonton yang sangat baik (sudah melewati angka 200 ribu penonton di minggu ketiga penayangannya!), giliran Part Cowo (PCo) mencoba menyajikan perspektif berbeda dari materi cerita yang sama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Berangkat!

Petualangan road trip gila-gilaan adalah kemasan sekaligus bumbu yang meresap baik dengan tema persahabatan. Toh katanya persahabatan akan semakin erat ketika sama-sama melewati banyak peristiwa yang menguji kekuatan dan ketulusan sebuah persahabatan. Jika di Hollywood paduan ini sudah sangat sering digunakan, seperti Road Trip dan yang ‘dibumbui’ kelewat batas, Hangover Trilogy. Di film Indonesia, MVP Pictures pernah memproduksi Punk in Love (2009) yang membawa trio Vino G. Bastian, Andhika Pratama, Yogi Finanda, dan Aulia Sarah bertualang dalam sebuah road trip dari Malang ke Jakarta untuk bertemu kekasih salah satu dari mereka yang akan dinikahkan. Tahun 2017 ini MVP Pictures kembali mengajak penonton untuk bertualang bersama tiga sahabat. Kali ini digawangi oleh trio Tarra Budiman, Ringgo Agus Rahman, dan Ayushita Nugraha. Film petualangan komedi gila-gilaan bertajuk Berangkat! ini dipercayakan di tangan sutradara wanita, Naya Anindita, yang pernah memvisualisasikan secara menarik biopic pendiri Kaskus, Sundul Gan!. Sementara naskahnya disusun oleh Nicholas Raven dan komika sekaligus penulis komedi, Isman HS.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 2, 2017

The Jose Flash Review
Banda:
The Dark Forgotten Trail

Di pelajaran sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu selalu disebutkan bahwa bangsa-bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena memperebutkan rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, tapi saya tidak pernah tahu kenapa. Apa yang membuat rempah-rempah punya signifikansi bagi peradaban Barat? Sebuah film dokumenter produksi Lifelike Pictures yang pernah memproduksi Pintu Terlarang, Modus Anomali, dan Tabula Rasa, memberikan jawabannya. Tak hanya tentang seluk-beluk pala, tapi juga mengeksplorasi Kepulauan Banda yang pernah menjadi rebutan bangsa-bangsa Barat di abad ke 18. Di bawah sutradara Jay Subiyakto yang selama ini lebih dikenal sebagai sutradara video musik dan pertunjukan (terutama konser), Banda: The Dark Forgotten Trail (BTDFT) tak hanya mencoba menjadi film dokumenter yang sangat informatif, tapi juga disusun dengan pendekatan video musik yang stylish dan dinamis. Apalagi ditambah dengan narasi dari Reza Rahadian (untuk narasi berbahasa Indonesia) dan Ario Bayu (untuk narasi berbahasa Inggris), BTDFT tampak begitu menarik dan penting untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates