5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Thursday, August 31, 2017

The Jose Flash Review
Midnight Runners
[청년경찰]

Sebagai salah satu negara produsen film yang paling produktif, sinema Korea Selatan punya cukup banyak variasi genre dan tema yang ditawarkan. Salah satu yang termasuk sering diangkat adalah bromance. Entah apa alasan utamanya. Mungkin saja salah satunya adalah kesadaran mereka bahwa komoditas terbesar mereka adalah aktor-aktor muda eye-candy yang popularitasnya (berikut juga tipikalnya) sudah mendunia. Setelah terakhir penonton Indonesia disuguhi My Annoying Brother, kali ini ada Midnight Runners (MR) yang disutradarai dan ditulis oleh Kim Joo-Hwan (Goodbye My Smile, Koala). Dengan meletakkan Park Seo-Joon (serial Kill Me, Heal Me, She Was Pretty, Hwarang: The Poet Warrior Youth, dan Fight for My Way) dan Kang Ha-Neul (serial The Heirs dan Misaeng), MR mencoba menggabungkan tema bromance dengan kehidupan para siswa sekolah kepolisian (semacam akpol di Indonesia).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 30, 2017

The Jose Flash Review
Baby Driver

Kiprah sutradara Inggris, Edgar Wright dengan style film-filmnya yang ‘nyeleneh’ tapi asyik dengan mudah dilirik dan bahkan dipuja oleh banyak moviegoers di dunia. Terutama lewat Cornetto Trilogy (istilah yang kemudian muncul karena di masing-masing film menunjukkan referensi terhadap tiga rasa es krim Cornetto yang berbeda) yang terdiri dari Shaun of the Dead (2004), Hot Fuzz (2007), dan The World’s End (2013), serta tentu saja Scott Pilgrim vs. the World (2010) yang dianggap sebagai sebuah game-changer. Maka tak heran jika tiap kali perilisan film terbarunya selalu mendapatkan perhatian serta antusiasme khusus. Itulah yang membuat Baby Driver (BD) jadi hype tersendiri, selain tentu saja ‘gebrakan’ lain yang dilakukan Wright. Menggandeng Ansel Elgort (The Fault in Our Stars, franchise Divergent), Kevin Spacey, Lily James, Jamie Foxx, John Hamm, Eiza González, CJ Jones, hingga penyanyi, Sky Ferreira yang sebelumnya juga pernah mendukung di The Green Inferno. Daya tarik lain tentu saja jajaran soundtrack list-nya yang membentang lintas genre dan era, mulai era ’60-an hingga ’90-an. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
American Made

Status superstar Tom Cruise sampai detik ini belum pudar. Maka tak heran jika studio-studio major Hollywood masih dengan senang hati meletakkannya di garda depan, bahkan tak jarang menjadi satu-satunya komoditas daya tarik film. Tak hanya yang pure blockbuster, tapi juga film-film serius yang berpotensi menjadi tontonan segmented. American Made (AM) yang merupakan biopik dari tokoh nyata, Barry Seal, adalah salah satu contohnya. Karakter Barry Seal sendiri sebenarnya pernah muncul di beberapa film karena punya kaitan erat dengan tokoh mafia Kolumbia paling populer, Pablo Escobar. Sebut saja dokudrama Doublecrossed (1991) dan The Infiltrator yang baru beberapa bulan lalu menyambangi bioskop kita. Hanya saja tentu akan jauh berbeda jika menggunakan treatment blockbuster dari aktor kelas A, Tom Cruise dan sutradara Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity, Edge of Tomorrow). Dari naskah Gary Spinelli yang pernah masuk 2014 Black List, AM masuk menjadi salah satu peran Tom Cruise paling menarik dari daftar panjang filmografi-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 28, 2017

The Jose Flash Review
Bareilly Ki Barfi
[बरेली की बर्फी]

Senyata kelahiran dan kematian, dipertemukan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan kita, termasuk pasangan hidup, bisa jadi merupakan takdir. Setidaknya berdasarkan pengalaman, itulah yang saya percaya. Setiap kejadian, termasuk dipertemukan dengan siapa saja, punya maksud dan tujuan tersendiri. Namun saya juga percaya, apa yang terjadi setelah pertemuan tergantung dari keputusan atas dasar free will dari masing-masing pribadi. Beberapa film pernah mengangkat ‘fenomena’ ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah film Perancis berjudul Le fabuleux destin d’Amélie Poulain dan Serendipity. Meyakini fenomena serupa, film Hindi dari sutradara wanita, Ashwiny Iyer Tiwari, istri dari Nitesh Tiwari, sutradara/penulis naskah Chillar Party dan Dangal. Ashwiny sendiri sempat mencuri perhatian lewat debutnya, Nil Battey Sannata (2015) dan remake versi Tamil-nya setahun kemudian, Amma Kanakku. Dari naskah yang ditulis sang suami bersama rekannya di Kill Dill dan Dangal, Shreyas Jain, film komedi romantis berjudul Bareilly Ki Barfi (BKB) ini punya Kriti Sanon (Heropanti, Dilwale, dan baru saja, Raabta), Ayushmann Khurrana (VJ MTV India yang makin dikenal setelah Vicky Donor dan Dum Laga Ke Haisha), Rajkummar Rao (Kai po che!, Queen, Raabta) di jajaran cast terdepannya serta narasi dari penulis naskah legendaris, Javed Akhtar (Don, Deewaar, Lakshya). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Gentleman:
Sundar, Susheel, Risky

Trend aktor memainkan peran ganda di sinema Bollywood agaknya masih belum surut. Sebelum Varun Dhawan di Judwaa 2 akhir September 2017 nanti, rekan sesama pendatang baru yang pernah dipertemukan di Student of the Year 2012 silam, Sidharth Malhotra, yang mengikuti jejak panjang tersebut lewat A Gentleman: Sundar, Susheel, Risky (sundar = charming, susheel = gentle). Sempat dirumorkan sebagai sekuel dari Bang Bang! yang merupakan remake dari film Hollywood, Knight and Day, gara-gara pernyataan sutradara Siddharth Anand yang menyebutkan kemungkinan ada sekuel tersebut dengan Siddhart mengisi peran utama. Namun kemudian ternyata A Gentleman disutradarai oleh duo Krishna D.K. dan Raj yang populer lewat Flavors, Go Goa Gone, dan Happy Ending, serta sebuah foto produksi menampilkan clapboard bertuliskan judul Not Bang Bang 2, yang mematahkan rumor tersebut. Ada pula klaim yang menyebut A Gentleman sebagai remake bebas dari The Big Hit, film action comedy Hollywood berbudget kecil yang dibintangi Mark Wahlberg, Lou Diamond Phillips, Antonio Sabato Jr., dan Christina Applegate. Apapun referensinya, A Gentleman agaknya memang menyuguhkan treatment perpaduan antara The Big Hit dan Bang Bang!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 26, 2017

The Jose Flash Review
Amityville: The Awakening

Salah satu kasus pembunuhan paling populer yang diwarnai unsur supranatural adalah Ronald DeFeo, Jr yang menghabisi  enam anggota keluarganya di kawasan Amityville, pantai Selatan Long Island, New York, pada 1974 lalu. Keluarga yang kemudian tinggal di rumah bekas TKP mengaku mendapat gangguan paranormal dan memutuskan pindah. Kisah ini menginspirasi Jay Anson untuk mengangkatnya ke sebuah buku berjudul The Amityville Horror pada tahun 1977 dan kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada 1979 yang sampai menjadi nominee Oscar untuk kategori Best Original Score. Diikuti sekuel berjudul Amityville II: The Possession pada 1982, satu film berformat 3D pada 1983, enam film video dan TV, serta remake pada tahun 2005 dengan bintang Ryan Reynolds dan Chloë Grace Moretz. Meski menggunakan template yang kurang lebih sama dan belum sebesar franchise horor raksasa lainnya, Amityville sudah menjelma menjadi nama yang sudah punya brand kengeriannya sendiri. Upaya mempertahankan franchise ini sudah dipersiapkan Dimension Films dan Miramax dengan konsep found footage berjudul Amityville: The Lost Tapes sejak 2011. Namun banyak faktor yang membuat proyek ini terus mengalami penundaan hingga diputuskan menyusun ulang konsep yang benar-benar baru sejak 2014. Lagi-lagi proyek bertajuk Amityville: The Awakening (ATA) ini mengalami jalan terjal hingga melakukan pengambilan gambar ulang pada 2016 dan jadwal rilisnya terus mengalami penundaan. Beruntung kita di Indonesia mendapatkan kesempatan menyaksikannya di layar lebar sebelum di Amerika Serikat yang bahkan sampai tulisan ini dibuat belum menentukan jadwal pasti. Padahal ATA punya punya daya tarik dari jajaran cast yang meliputi Bella Thorne (Blended, The DUFF, serta serial Scream), Cameron Monaghan (Vampire Academy, The Giver, serta serial Gotham), dan Jennifer Jason Leigh (The Hateful Eight). Penulis naskah dan sutradaranya pun punya track record yang cukup baik di genrenya, terutama P2 (2007).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Dark Tower

Nama Stephen King sebagai penulis novel misteri, horor, dan supranatural sudah menjadi legenda sejak lama. Ratusan karya tulisnya sudah diangkat ke layar lebar, termasuk Carrie, The Shining, Pet Sematary, Misery, The Shawshank Redemption, dan The Green Mile yang sudah menjadi penghuni banya daftar film terbaik sepanjang masa. Karya terbarunya yang diangkat ke layar lebar, The Dark Tower (TDT), merupakan novel berseri yang sudah mencapai 8 jilid sejak 1982 hingga 2012. Rencana adaptasi ke layar lebar sudah digagas sejak 2007 dengan melibatkan nama-nama populer seperti J. J. Abrams, Ron Howard, hingga akhirnya jatuh ke tangan sutradara Denmark, Nikolaj Arcel (penulis naskah adaptasiThe Girl with the Dragon Tattoo versi Swedia yang pernah menjadi sutradara A Royal Affair). Tak hanya franchise di layar lebar, tapi sudah dipersiapkan pula serial TV di bawah produser Glen Mazzara yang akan menjadi backstory sementara versi layar lebar merupakan sekuel dari kedelapan seri novelnya dan dijadwalkan tayang mulai tahun 2018, masih dengan mengusung aktor Idris Elba dan Tom Taylor di lini terdepan. Mendapatkan sebagian besar kritik negatif, TDT ternyata masih mampu menghasilkan US$ 71.8 juta di seluruh dunia hingga 20 Agustus 2017 (menurut data Box Office Mojo) dari budget US$ 60 juta. Setidaknya memperkenalkan universe baru dengan memadukan koboi western dan fantasi sci-fi, TDT masih punya daya tarik untuk dialami di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Toilet - Ek Prem Katha
[टॉयलेट: एक प्रेम कथा]

Tanah Hindustan termasuk salah satu negara besar di dunia ketiga yang punya cukup banyak masalah sosial, bahkan sampai saat ini. Salah satu yang pernah menjadi perhatian dunia adalah sanitasi, dimana hasil sensus tahun 2011 seperti yang dilansir di The Hindu pada 2Juli 2012, bahwa ada 131 juta rumah tangga di India yang tak punya toilet sama sekali. Delapan juta di antaranya menggunakan toilet umum dan 123 juta buang air di tempat terbuka. Sebuah fakta ironis yang sempat mencuatkan kasus wanita seperti Priyanka Bharti dan Anita Narre yang menuntut sang suami yang baru dinikahi karena tak ada toilet di rumah tangga mereka. Kasus yang dialami Anita Narre ini yang kemudian mengilhami Toilet: Ek Prem Katha (TEPK) yang naskahnya disusun oleh Siddharth Singh dan dialog dari Garima Wahal (keduanya yang menggarap naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela, Brothers, dan Raabta), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Shree Narayan Singh, editor Baby, Rustom, dan M.S. Dhoni: The Untold Story yang menandai film panjang keduanya setelah Yeh Jo Mohabbat Hai (2012). Pemilihan cast-nya tak main-main. Di lini terdepannya ada Akshay Kumar dan Bumi Pednekar (Dum Laga Ke Haisha). Penghasilan box office-nya pun tergolong baik setelah film-film blockbuster beberapa bulan terakhir yang jeblok. Dengan budget ‘hanya’ 18 crore (sekitar US$ 2.8 juta), berhasil mengumpulkan 225.15 crore di seluruh dunia dalam kurun waktu 14 hari saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bad Genius
[ฉลาดเกมส์โกง]

Ujian menjadi bagian penting dari dunia pendidikan di negara manapun, yang mana masih menjadikannya tolak ukur keberhasilan seseorang dalam pendidikan. Namun film yang secara khusus membidik tentang ujian tingkat pendidikan tergolong masih jarang diangkat. So far hanya The Perfect Score (2004) yang masih saya ingat dalam memori. Maka apa yang diangkat oleh PH terinovatif Thailand, GDH 559 (sebelumnya GTH) di tahun 2017 ini menjadi sajian yang menarik. Disutradarai Nattawut Poonpiriya (Countdown) dari naskah yang disusun Tanida Hantaweewatana (Hormones), Vasudhorn Piyaromnam (May Who), dan Nattawut sendiri, film bertajuk Bad Genius (BG) ini meletakkan model Chutimon Cheungcharoensukying alias Aokbab, Eisaya Hosuwan yang baru saja kita lihat di Siam Square, Teeradon Supapunpinyo alias James, dan Chanon  Santinatornkul alias Nonkul yang keduanya pernah mendukung serial Hormones. Dengan kultur dan sistem pendidikan yang serupa dengan kita di Indonesia, tak sulit bagi BG untuk terasa dekat dengan penonton kita.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, August 24, 2017

The Jose Flash Review
The Hitman's Bodyguard

Hollywood sudah sejak lama memasangkan aktor-aktor terbaiknya dalam tema-tema ‘buddy’, terutama untuk frame polisi, penegak hukum, maupun penjahat. Sebut saja Bad Boy, Training Day, The Other Guys, sampai yang paling populer dan menjadi franchise besar, Lethal Weapon. Tema dan premise-nya boleh sekedar daur ulang, tapi yang menjadi kekuatan utama adalah chemistry antar karakter utama yang harus selalu terasa fresh dan klop. Maka tak heran jika tema serupa akan selalu ada dan selalu berevelousi mengikuti selera generasi masing-masing. Upaya terbaru adalah memadukan Ryan Reynolds yang makin kuat dengan image bad-ass sekaligus kocak terutama setelah Deadpool, dan Samuel L. Jackson yang sudah sejak lama dikenal mampu memadukan karakter action star dengan suara yang begitu khas. Dengan sutradara yang dikenal lewat Red Hill dan The Expendables 3, Patrick Hughes, dan naskah dari Tom O’Connor (Fire with Fire), The Hitman’s Bodyguard (THB) punya ‘pemasangan’ yang unik; seorang pembunuh bayaran dan bodyguard-nya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Cars 3

Di antara franchise animasi yang dimiliki Pixar, Cars termasuk salah satu yang menguntungkan. Dimulai dari Cars tahun 2006 yang berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 462 juta di seluruh dunia, Cars 2 yang dirlis tahun 2011 justru punya penghasilan yang meningkat, yaitu lebih dari US$ 562 juta. Selain itu dirilis pula spin-off Planes yang diproduksi di bawah DisneyToon dan mengumpulkan US$ 239 juta di seluruh dunia, serta sekuelnya, Planes: Fire & Rescue yang semakin jeblok dengan penghasilan ‘hanya’ sekitar US$ 151 juta. Di usia yang menginjak 11 tahun sejak installment pertama, Pixar menelurkan installment ketiga, Cars 3 dengan voice talent utama yang masih tetap, seperti Owen Wilson, Bonnie Hunt, Larry the Cable Guy, Tony Shalhoub, John Ratzenberger, serta tambahan dari Armie Hammer, Cristela Alonzo, Chris Cooper, dan Nathan Fillion yang mengisi suara karakter-karakter baru. Brian Fee yang sudah menjadi animator dengan berbagai jobdesk di Disney dan Pixar, termasuk storyboard artist di Cars, Ratatouille, Wall-E, Cars 2, dan Monsters University, dipercaya untuk menjadikan Cars 3 debutnya duduk di bangku sutradara, berdasarkan naskah yang disusun Kiel Murray dan Bob Peterson yang sudah sangat berpengalaman menggarap naskah animasi-animasi Pixar, serta Mike Rich yang pernah menyusun naskah Finding Forrester, The Rookie, Radio, The Nativity Story, dan Secretariat
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 21, 2017

The Jose Flash Review
A: Aku, Benci, dan Cinta

Popularitas bintang muda Jefri Nichol dan Amanda Rawles selepas Dear Nathan semakin meroket tak terbendung. Keduanya kemudian dipasangkan kembali di Jailangkung dan masih di tahun yang sama dipertemukan lagi di A: Aku, Benci, dan Cinta (AABC), sebuah drama romantis remaja dengan bumbu komedi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi (sebelumnya juga merupakan karya tulis yang dipublikasikan di Wattpad sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, sama seperti Dear Nathan). Naskah adaptasinya disusun oleh Alim Sudio yang sudah berpengalaman menyusun puluhan naskah film, termasuk yang diadaptasi dari novel, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Surga yang Tak Dirindukan, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Cinta Laki-Laki Biasa, dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Rizki Balki sebagai film debutnya setelah dikenal sebagai sutradara TVC. Selain Jefri dan Amanda, digandeng juga nama-nama bintang muda populer seperti Indrah Permatasari ({rudy habibie}, Pesantren Impian, Athirah, dan Stip & Pensil), Brandon Salim (di hari yang sama ada dua filmnya yang dirilis, satunya The Underdogs), Syifa Hadju, dan Maxime Bouttier.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
The Underdogs

Mau tak mau harus diakui bahwa media sosial menjadi fenomena sosial yang paling besar dewasa ini. Media sosial lah yang menggeser makna dan sistem popularitas menjadi lebih umum, tak lagi soal bakat saja. Salah satu yang pengaruhnya adalah YouTube yang membuat semua orang bisa punya channel sendiri berisi aksi pribadi masing-masing hingga membentuk profesi baru; YouTuber. Sinema Indonesia sudah pernah mengangkat tema ini lewat Youtubers tahun 2015 silam dengan menggandeng berbagai YouTuber betulan, seperti da Lopez Bersaudara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Atomic Blonde

Dunia tak akan pernah cukup melahirkan tokoh-tokoh jagoan baru di film, tak terkecuali bergender wanita yang harus diakui punya daya tarik tersendiri. Setelah ‘era kejayaan’ Angelina Jolie yang pernah menjelma menjadi sosok Lara Croft, Evelyn Salt, Mrs. Smith, dan Fox (Wanted) dan di era ini ada Scarlett Johansson (Black Widow di Marvel Cinematic Universe, Lucy, dan Major (Ghost in the Shell), aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron pun tak mau ketinggalan kembali mengambil peran kick-ass heroine pasca Æon Flux dan Furiosa di Mad Max: Fury Road. Kesempatan terbaru ini berasal dari sutradara David Leitch, yang sebelumnya bertindak sebagai stuntman, stunt coordinator, sekaligus fight choreographer dari film-film blockbuster seperti Fight Club, Mr. & Mrs. Smith, X-Men Origins: Wolverine, The Bourne Legacy, dan pernah dipercaya menyutradarai beberapa adegan di John Wick, film pendek Deadpool: No Good Dead, dan upcoming, Deadpool 2. Naskahnya disusun oleh Kurt Johnstad (300, Act of Valor, dan 300: Rise of an Empire) berdasarkan novel grafis The Coldest City keluaran Oni Press karya Antony Johnston dan Sam Hart. Didukung James McAvoy, John Goodman, Toby Jones, Sofia Boutella, hingga aktor Jerman yang sering main di film Hollywood, Til Schweiger, Atomic Blonde (AB) yang merupakan kisah espionage ini berpotensi berkembang menjadi franchise baru setara John Wick.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 15, 2017

The Jose Flash Review
The Battleship Island
[군함도]

Perang Dunia II adalah peristiwa sejarah dunia yang bisa dikatakan terbesar hingga saat ini. Tentu ada banyak kisah yang bisa diangkat, baik dari sudut pandang tokoh-tokoh populer yang punya pengaruh besar terhadap arah sejarah maupun manusia-manusia biasa dengan kesederhanaannya. Tak hanya dari sudut pandang Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan negara-negara anggota lainnya), Jerman, ataupun Jepang yang memang menjadi negara-negara pion utama dari PD II, tapi juga negara-negara lain yang menjadi ‘korban’. Terutama di Asia; Cina dan Korea. Sinema Korea Selatan yang sudah semakin mumpuni, bahkan semakin lama semaki ambisius, akhirnya ikut meramaikan ‘bursa’ PD II lewat salah satu era kelam dalam sejarah Korea; 400 orang Korea yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik ternyata dikirim ke Pulau Hashima dan dipaksa bekerja sebagai buruh pertambangan batu bara milik Jepang. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Emoji Movie

Saat ini smartphone mungkin sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski tetap saja ada tingkatan-tingkatan ‘ada harga ada rupa’, setidaknya fungsi-fungsi dasar smartphone sudah bisa dinikmati bukan lagi sebagai barang mahal. Saking smart-nya, mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya seperti apa sih kinerja di balik kecerdasan fungsional mereka. Tony Leondis (story artist dari The Lion King 2: Simba’s Pride, The Prince of Egypt, dan Home on the Range yang pernah dipercaya untuk menyutradarai animasi Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch dan Igor) mencoba untuk menjelaskan kinerja di balik smartphone, terutama salah satu elemen paling populernya, emoji, secara imajinatif. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Hunter's Prayer

Penggabungan action thriller dengan drama lewat mengulik sisi emosional dari sosok yang identik dengan dingin dan kejam seperti yang pernah dilakukan oleh Léon: The Professional (1994) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa jadi paduan yang menghibur sekaligus menyentuh. Formula serupa coba dihadirkan sekali lagi oleh Jonathan Mostow yang pernah dipercaya menggarap Breakdown, U-571, Terminator 3: Rise of the Machines, dan Surrogates. Naskah film bertajuk The Hunter’s Prayer (THP) yang diadaptasi John Brancato dan Michael Ferris (keduanya bekerja sama menyusun naskah The Net, The Game, Terminator 3 & Salvation, serta Surrogates) ini berasal dari novel For the Dogs karya Kevin Wignall yang dirilis tahun 2004. Dengan membawa nama-nama populer di jajaran cast, seperti Sam Worthington (Terminator Salvation, James Cameron’s Avatar) dan bintang muda yang karir aktingnya kian mengkilat setelah The Odd Life of Timothy Green, The Giver, serta Goosebumps, Odeya Rush, THP punya daya tarik yang cukup mengundang rasa penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 12, 2017

The Jose Flash Review
Annabelle: Creation

Reputasi James Wan sebagai produser spesialis horror jaminan mutu semakin terkukuhkan dengan lahirnya The Conjuring Universe. Terbukti ‘pancingan’ sosok-sosok horror ikonik yang ia sebar di dua installment The Conjuring (dan rupanya masih akan terus berlanjut) begitu diminati, bahkan dengan antusiasme tinggi oleh penggemar sekaligus penonton umum di seluruh dunia. Diawali dengan spin-off pertama, Annabelle (2014) yang meski lebih banyak mendapatkan review negatif tapi berhasil mengumpulkan US$ 256.9 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 6.5 juta. Tentu ini membuat New Line Cinema, Warner Bros., dan James Wan sendiri selaku produser, percaya diri untuk ‘menebus’ seri Annabelle dengan follow-up. Gary Dauberman yang kembali ditunjuk menyusun naskahnya memilih untuk mengembangkan prekuel bertajuk Annabelle: Creation (AC) dengan setting country (pedesaan) Amerika Serikat era ’50-an. Ini bisa jadi sedikit penyegaran setelah mengambil setting suburban dan country Amerika Serikat, serta suburban Inggris era ’70-an. Bangku sutradara dioper ke David F. Sandberg yang sukses mengangkat film pendek fenomenalnya, Lights Out ke layar lebar dan menarik perhatian Wan. Di deretan cast, ada Stephanie Sigman yang pernah kita lihat di Spectre, Miss Bala, dan terakhir belum lama ini, Once Upon a Time in Venice, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, dan si cilik yang ‘keranjingan’ bermain di film horror, Lulu Wilson (Ouija: Origin of Evil).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Jab Harry Met Sejal
[जब हैरी मेट सेजल]

Bekerja sama dengan sang raja, Shah Rukh Khan (SRK), mungkin sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi sineas di tanah Hindustani. Setelah sekian tahun dan sekian kali belum berjodoh, Imtiaz Ali (Jab We Met, Love Aaj Kal, Rockstar, Highway, dan Tamasha) akhirnya menemukan peran yang pas untuk SRK. Berpasangan kembali dengan Anushka Sharma setelah Rab Ne Bana De Jodi, Jab Tak Hai Jaan, dan Ae Dil Hai Mushkil (di sini keduanya tak dipasangkan. SRK pun hanya menjadi cameo), kisah asmara bertajuk Jab Harry Met Sejal (JHMS) ini bukanlah remake dari komedi romantis legendaris, When Harry Met Sally. Judul tersebut hanyalah atribut sebagai penghormatan semata, sementara plot dan tema yang diusung jauh berbeda. Imtiaz sendiri sempat mengubah konsep awal yang mengangkat pria yang hendak bunuh diri menjadi lebih ceria dan berwarna. Tentu saja star power sebesar SRK tak boleh kelewat membuat fanbase raksasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia kecewa, bukan?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Once Upon a Time in Venice

Meski image-nya lebih kuat sebagai aktor laga, Bruce Willis sebenarnya tak jarang juga mengambil peran-peran komedi. Sebut saja The Whole Nine Yards, The Bandits, dan Cop Out. Toh ternyata ia cukup luwes juga mengisi peran-peran komedi. Setelah Cop Out, Willis kembali menerima tawaran Mark Cullen (penulis naskah Cop Out) untuk tampil di Once Upon a Time in Venice (OUTV). Nama Mark Cullen dan Robb Cullen sebenarnya cukup punya reputasi bagus, terutama karena nominasi Emmy Awards untuk serial Lucky yang mereka ciptakan. Aktor-aktor pendukung OUTV pun cukup menjanjikan. Mulai dari Jason Momoa (Aquaman di upcoming DC’s Justice League dan Aquaman), John Goodman, Thomas Middleditch, Famke Janssen, hingga Adam Goldberg. Dengan premise detektif dengan bumbu komedi dan latar tropis Venice, OUTV sebenarnya berpotensi menjadi sajian yang menghibur.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cowo]


Setelah beberapa minggu sebelumnya Mars Met Venus: Part Cewe (PCe) dirilis dan ternyata mendapat sambutan penonton yang sangat baik (sudah melewati angka 200 ribu penonton di minggu ketiga penayangannya!), giliran Part Cowo (PCo) mencoba menyajikan perspektif berbeda dari materi cerita yang sama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Berangkat!

Petualangan road trip gila-gilaan adalah kemasan sekaligus bumbu yang meresap baik dengan tema persahabatan. Toh katanya persahabatan akan semakin erat ketika sama-sama melewati banyak peristiwa yang menguji kekuatan dan ketulusan sebuah persahabatan. Jika di Hollywood paduan ini sudah sangat sering digunakan, seperti Road Trip dan yang ‘dibumbui’ kelewat batas, Hangover Trilogy. Di film Indonesia, MVP Pictures pernah memproduksi Punk in Love (2009) yang membawa trio Vino G. Bastian, Andhika Pratama, Yogi Finanda, dan Aulia Sarah bertualang dalam sebuah road trip dari Malang ke Jakarta untuk bertemu kekasih salah satu dari mereka yang akan dinikahkan. Tahun 2017 ini MVP Pictures kembali mengajak penonton untuk bertualang bersama tiga sahabat. Kali ini digawangi oleh trio Tarra Budiman, Ringgo Agus Rahman, dan Ayushita Nugraha. Film petualangan komedi gila-gilaan bertajuk Berangkat! ini dipercayakan di tangan sutradara wanita, Naya Anindita, yang pernah memvisualisasikan secara menarik biopic pendiri Kaskus, Sundul Gan!. Sementara naskahnya disusun oleh Nicholas Raven dan komika sekaligus penulis komedi, Isman HS.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 2, 2017

The Jose Flash Review
Banda:
The Dark Forgotten Trail

Di pelajaran sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu selalu disebutkan bahwa bangsa-bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena memperebutkan rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, tapi saya tidak pernah tahu kenapa. Apa yang membuat rempah-rempah punya signifikansi bagi peradaban Barat? Sebuah film dokumenter produksi Lifelike Pictures yang pernah memproduksi Pintu Terlarang, Modus Anomali, dan Tabula Rasa, memberikan jawabannya. Tak hanya tentang seluk-beluk pala, tapi juga mengeksplorasi Kepulauan Banda yang pernah menjadi rebutan bangsa-bangsa Barat di abad ke 18. Di bawah sutradara Jay Subiyakto yang selama ini lebih dikenal sebagai sutradara video musik dan pertunjukan (terutama konser), Banda: The Dark Forgotten Trail (BTDFT) tak hanya mencoba menjadi film dokumenter yang sangat informatif, tapi juga disusun dengan pendekatan video musik yang stylish dan dinamis. Apalagi ditambah dengan narasi dari Reza Rahadian (untuk narasi berbahasa Indonesia) dan Ario Bayu (untuk narasi berbahasa Inggris), BTDFT tampak begitu menarik dan penting untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates