Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Friday, March 31, 2017

The Jose Flash Review
The Moment
[รักของเรา]


Selain GTH (yang kemudian ‘bertransformasi’ menjadi GDH), nama production house Talent 1 juga cukup dikenal, terutama untuk genre horror seperti Last Summer (2013) dan The Couple (2014). Menyambut Valentine 2017 lalu, Talent 1 mencoba memproduksi genre yang sama sekali berbeda dari ‘spesialisasi’ mereka, yaitu romance. Film bertajuk The Moment (รักของเรา/Ruk Kong Rao) ini menawarkan sebuah interwoven dari tiga cerita dengan latar belakang negara berbeda-beda tapi punya benang merah yang sama, bahkan karakter-karakternya terkoneksi secara langsung. Menghadirkan aktor-aktor yang cukup dikenal, seperti Pachara Chirathivat (SuckSeed dan The Billionaire), Jarinporn Joonkiat (Countdown), Toni Rakkaen (How to Win at Checkers (Every Time), Love H2O), Supassra Thanachat (The Swimmers), hingga aktor berdarah Korea Selatan, Teo Yoo (Equals).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Danur:
I Can See Ghosts


Sudah menajdi rahasia umum bahwa genre horror masih merupakan salah satu genre yang paling digemari penonton film Indonesia terlepas dari image-nya yang sudah terlanjur ‘ternodai’ oleh bumbu esek-esek. Bagaimanapun angka jumlah penonton tak bisa berbohong. Ditambah dengan fakta merupakan adaptasi dari novel laris dan bintang dengan fanbase yang begitu besar dan kuat, jadilah sebuah formula box office! Peluang itulah yang diambil oleh MD Pictures sebagai produksi perdana dari salah satu PH turunannya, Pichouse Films. Diangkat dari novel laris karya Risa Saraswati (pernah kita kenal juga sebagai personel band Homogenic dan kemudian Sarasvati) yang konon merupakan berdasarkan kisah nyata yang dialaminya sendiri, Danur: I Can See Ghosts (DICSG) dipercayakan di tangan Awi Suryadi (Claudia/Jasmine, Street Society, Badoet), sutradara yang sebenarnya punya skill dan taste style directing yang bagus tapi masih belum mendapatkan proyek yang cukup high-profile. Sementara naskahnya diadaptasi oleh Laila Nurazizah (Adriana, Princess, Bajak Laut & Alien, Untuk Angeline) dan Ferry Lesmana. Namun above all yang paling menarik perhatian penonton adalah kehadiran Prilly Latuconsina yang semakin melejit pasca Hangout di lini terdepan, ditambah Shareefa Daanish yang sudah punya image kuat di genre horror.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Perfect Dream


Di antara kota-kota besar di Indonesia, orang Surabaya termasuk punya karakteristik yang unik. Punya taste lifestyle yang tinggi tapi tetap mempertahankan elemen-elemen kedaerahan yang khas, terutama aksen dan bahasa Suroboyoan yang seperti perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan sedikit variasi. Uniknya lagi, orang Surabaya pada umumnya lebih inferior ketimbang di daerah lain. Misalnya orang Surabaya akan mentertawai dan menganggap kampungan dialog yang Suroboyoan banget, padahal kehidupan sehari-hari sendirinya pun menggunakan bahasa dan aksen yang sama. Itu juga mungkin yang menyebabkan Surabaya bukan pasar yang potensial untuk film Indonesia. Coba tanya PH, produser, atau publisis film Indonesia manapun. Penonton Surabaya termasuk yang terendah. Jika pasarnya saja lemah, bagaimana mungkin bisa punya ‘industri’ sendiri? Alhasil hanya ada gerakan-gerakan indie yang tergolong kecil jika dibandingkan di kota-kota besar lain.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 30, 2017

The Jose Flash Review
Ghost in the Shell (2017)

Sudah bukan kasus yang baru lagi bahwa Hollywood sering mencari inspirasi ide cerita film dari Asia, terutama manga dan/atau anime Jepang yang memang salah satu paling kaya dan populer. Sayangnya karena saking populernya yang kemudian membentuk fanbase yang besar dan kuat, seringkali upaya remake Hollywood mendapatkan kritik tajam dari para fanatik, terutama soal whitewash (mengganti karakter yang sejatinya beretnis Asia menjadi kulit putih) dan pengubahan di banyak elemen yang sejatinya bertujuan agar bisa dipahami dan dinikmati oleh range penonton yang lebih universal. Toh versi remake Hollywood yang jelas punya pasar jauh lebih luas bisa menjadi sarana promosi materi aslinya untuk dikenali lebih dalam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 29, 2017

The Jose Flash Review
Smurfs: The Lost Village


Universe dan karakter-karakter selegendaris The Smurfs (judul aslinya Les Schtroumpfs) karya kartunis Peyo yang sudah ada sejak tahun 1958 terlalu berharga untuk tidak terus dilestarikan lintas generasi. Kendati versi hibrida antara live-action dan animasi yang diproduksi Sony Pictures Animation tahun 2011 dan sekuelnya di tahun 2013 mendapatkan review beragam (cenderung negatif), hasil box office menunjukkan betapa masih banyak penonton yang mendambakan atau ingin meneruskan warisan Smurfs ke generasi selanjutnya. Bukan karena penurunan penghasilan box office The Smurfs 2, sejak sebelum installment kedua dirilis pun sudah direncanakan bahwa installment ketiga akan berupa fully-animated dan reboot dari dua installment sebelumnya. Ia pun mengembalikan desain universe dan karakter-karakter seperti komik aslinya. Mungkin ada juga pengaruh kesuksesan Peanuts Movie yang mempertahankan gaya-gaya visual asli kendati berupa animasi 3D, baik secara komersial maupun resepsi kritikus. Dari naskah yang disusun Pamela Ribon (Moana) dan Stacey Harman, penyutradaraan Smurfs: The Lost Village (STLV) dipercayakan kepada Kelly Asbury yang sudah berpengalaman menangani animasi Spirit: Stallion of the Cimarron, Shrek 2, dan Gnomeo & Juliet. Pemilihan voice cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Demi Lovato, Joe Manganiello, Michelle Rodriguez, Meghan Trainor, Jeff Dunham, hingga Julia Roberts, dan chef terkenal, Gordon Ramsey.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 25, 2017

The Jose Flash Review
Phillauri
[फिल्लौरी]

Aktris cantik Bollywood, Anushka Sharma, sudah membuktikan diri mampu menjadi produser film lewat NH10 (2015) lalu. Kini ia kembali memproduseri sebuah film layar lebar yang juga ia bintangi sendiri, Phillauri. Menggandeng Suraj Sharma yang kita kenal sebagai Pi Patel di Life of Pi (2012) dan Diljit Dosanjh (Udta Punjab), Phillauri menjadi debut penyutradaraan dari Anshai Lal yang sebelumnya menjadi asisten sutradara kedua di Dostana (2008). Naskahnya disusun oleh Anvita Dutt yang kita lihat karyanya di Shaandaar, Baar Baar Dekho, dan dialog di Queen. Dengan dukungan nama-nama ini, Phillauri berpotensi menjadi sajian yang menarik, apalagi premise-nya yang seolah menyindir tradisi lama masyarakat India.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 24, 2017

The Jose Flash Review
Mooncake Story


Sejatinya siapa saja bisa punya cerita yang menginspirasi sekitarnya, apalagi pengusaha sukses yang akhir-akhir ini menjadi salah satu trend untuk membagikan kisahnya ke dalam sebuah film biopic. Setelah Karmaka Suryaudaya, pendiri Bank NISP lewat film Love and Faith, kini giliran pendiri Mayapada Group, Dato’ Sri Tahir. Tak harus melulu berupa life chronicle berisi jatuh-bangun sebelum meraih sukses, tapi bisa juga sepenggal kisah kecil yang tak kalah penting dan berartinya. Lewat Tahir Foundation dan menggandeng Multivision Plus dalam memproduksi, sutradara yang namanya sudah dikenal di kancah internasional, Garin Nugroho, dipercaya untuk menyutradarai sekaligus menuliskan naskahnya. Pasangan Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari yang sempat sukses lewat Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, kembali dipasangkan, didukung pendatang baru Melati Zein, Dominique Diyose, Deddy Sutomo, Jaja Miharja, dan Richard Oh. Bertajuk Mooncake Story (MS), sejatinya dirilis bertepatan dengan momennya, tapi dimundurkan hingga resmi tayang 23 Maret 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dear Nathan


Mimpi untuk menjadi penulis (khususnya novel) sebenarnya semakin mudah diwujudkan akhir-akhir ini, apalagi dengan platform bernama Wattpad. Banyak sekali karya tulis yang telah berhasil membuktikan dibaca oleh jutaan pengguna (meski sebenarnya merupakan hasil akumulasi dari tiap kali dibuka ketika ada update cerita) dan membuat penerbit tertarik untuk membukukannya. Salah satu yang paling sukses adalah Dear Nathan (DN), karya Erisca Febriani. Tak hanya diterbitkan dalam bentuk buku, Rapi Films pun tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Apalagi mengingat pangsa pasar remaja yang memang paling mendominasi penonton bioskop tanah air. Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Love and Faith, Talak 3, dan upcoming, Kartini) ditunjuk untuk mengadaptasi naskahnya bersama Gea Rexy, sedangkan bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Indra Gunawan (Hijrah Cinta). Selain materi cerita yang sudah punya fanbase sendiri, daya tarik yang tak kalah besarnya adalah dipasangkannya bintang muda yang masih tergolong pendatang baru,  Jefri Nichol (baru saja kita lihat debutnya di Pertaruhan) dan Amanda Rawles (baru saja di Promise). Meski punya kans yang besar untuk sukses secara komersial, DN masih punya beban ekspektasi yang cukup besar dari penonton yang menantikan film drama percintaan remaja yang digarap baik di generasi sekarang, setelah Ada Cinta di SMA dan Galih dan Ratna yang telah menetapkan standard cukup tinggi di genrenya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Baracas:
Barisan Anti Cinta Asmara


Di beberapa kalangan nama Pidi Baiq mungkin cukup familiar. Selain novel seperti Dilan dan Milea, Pidi dikenal sebagai frontman dari band komedi The Panasdalam dan punya kumpulan quote yang sering di-share di kalangan anak muda, terutama di Bandung sebagai basecamp utamanya. Tak mengherankan jika kemudian Pidi tertarik untuk mencoba peruntungan di dunia film. Beruntung Max Pictures juga tertarik memberikannya kesempatan menjajal menjadi sutradara sekaligus penulis naskah, dibantu Tubagus Deddy Safiudin (Ketika Bung di Ende, Mursala, dan Jenderal Soedirman) dan Saleh Elhan. Background kepenulisan baik novel maupun lagu seharusnya tak membuatnya terkendala banyak di film, tapi tentu saja ini adalah bidang yang sama sekali berbeda dengan skala yang jauh lebih besar. Maka Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara menjadi semacam ‘percobaan’ pertama bagi Pidi. Beruntung proyek perdananya ini didukung nama-nama populer seperti Ringgo Agus Rahman, Tika Bravani, Ajun Perwira, Stella Cornelia, Budi Doremi, Ficco Fachriza, sampai Cut Mini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 23, 2017

The Jose Flash Review
The Devil's Candy

Jesse Hellman, seorang ayah bergaya metal, berprofesi menjadi pelukis untuk menafkahi keluarganya; sang istri, Astrid, dan putri semata wayangnya yang juga ikut-ikutan bergaya metal, Zooey. Demi membayar kepindahan mereka ke rumah yang baru, ia rela melukis objek untuk bank yang sama sekali tidak sesuai kepribadiannya. Di rumah yang baru Jesse seperti kerasukan yang menggerakkannya untuk melukis objek mengerikan. Zooey pun kedatangan pria misterius yang memberikannya gitar elektrik legendaris. Siapa sangka pria misterius ini ternyata menggiring Zooey dalam bahaya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Life


Perpaduan antara sci-fi dan horror sudah sejak lama menjadi pasangan yang pas untuk disandingkan. Sejauh ini sudah ada franchise Alien sebagai bukti keberhasilan menghadirkan horror di ranah sci-fi. Bagi saya pribadi (dan saya yakin banyak juga penonton lain), masih ada Event Horizon (1997) yang punya daya cekam (juga traumatik) paling maksimal. Tak lupa pula Species (1995) yang turut menambahkan unsur erotisme di dalamnya. Di tengah trend cerebral sci-fi yang lebih mengedepankana filosofi di balik perjalanan bernafas sci-fi akhir-akhir ini, Life yang naskahnya ditulis oleh Rhett Reese dan Paul Wernick (keduanya berada di balik naskah Zombieland, G.I. Joe: Retaliation, dan Deadpool), serta digarap oleh sutradara asal Swedia, Daniel Espinosa (Safe House, Child 44) menjadi satu sajian yang menarik. Apalagi dukungan nama-nama populer di lini terdepan seperti Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, dan Ryan Reynolds, daya tarik Life menjadi semakin bertambah.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Saban's Power Rangers


Mereka yang pernah melewati era 90-an mustahil tidak mengenal Power Rangers. Ya, lima (kemudian berkembang menjadi enam) remaja superhero ini menjadi salah satu icon 90-an terbesar di negara manapun. Sejarah perkembangan TV show yang diadaptasi dari acara TV Jepang Kyōryū Sentai Zyuranger ini tergolong panjang hingga saat ini dengan berbagai variasi. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995) di bawah bendera Fox, baru di tahun 2014 lalu Saban Capital Group selaku creator tertarik untuk me-reboot franchise lawas ini kembali untuk generasi kini di bawah bendera Lionsgate yang memang tengah mencari peluang franchise baru. Naskahnya dipercayakan kepada John Gatins (Coach Carter, Real Steel, Flight, Need for Speed, dan terakhir, Kong: Skull Island), sementara bangku penyutradaraan diserahkan kepada Dean Israelite yang kita kenal lewat Project Almanac.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 21, 2017

The Jose Flash Review
Dark Summer


Daniel yang masih berusia 17 tahun harus menjadi tahanan rumah dengan gelang sensor di pergelangan kaki yang akan berbunyi jika ia melewati garis batas rumahnya. Ia juga tak boleh menerima tamu masuk dan menggunakan internet karena nomer IP-nya sudah ditandai. Sendirian di rumah membuat ia mencari cara untuk melewatkan waktu, termasuk menyelundupkan kedua sahabatnya, Kevin dan Abby untuk masuk ke dalam rumah dan meminjami laptop untuk sekedar berkomunikasi dengan sang ibu. Iseng-iseng ia men-stalk gadis pujaannya, Mona Wilson. Malang ia stalk di saat yang tidak tepat. Mona melakukan aksi bunuh diri di depan kamera Skype. Semenjak itu Daniel mulai mendapatkan berbagai teror yang mengarah ke sosok Mona. Cara-cara supranatural hasil browsing di internet dicoba untuk menghentikannya, tapi Daniel menemukan fakta lain di balik teror-teror tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Beauty and the Beast (2017)


Kesuksesan demi kesuksesan komersial membuat Disney semakin semangat untuk meremake film-film animasi klasiknya ke dalam format live action. Setelah Alice in Wonderland, Maleficent, Cinderella, The Jungle Book, dan Pete’s Dragon, kini giliran salah satu film animasi Disney yang bahkan menjadi satu-satunya film animasi Disney yang masuk nominasi Best Picture, Beauty and the Beast (BatB). Selain versi Disney, dongeng klasik asal Perancis ini sebenarnya sudah punya beberapa versi live action. Paling terakhir, versi Perancis sendiri yang diproduksi tahun 2014 lalu dengan bintang Vincent Cassel dan Lea Seydoux.  Namun brand ‘Disney’ dan sentuhan musikal dari versi animasinya yang sudah menjadi karya klasik tersendiri tentu tetap akan membuat penonton dari seluruh dunia, tak perduli golongan usia dan strata sosialnya, penasaran. Naskah adaptasinya disusun oleh tim yang cukup berpengalaman di masing-masing elemen, Evan Spiliotopoulous di genre fantasi (The Jungle Book 2, The Lion King 1 ½, Tarzan 2, Cinderella III, The Little Mermaid: Ariel’s Beginning, Tinker Bell and the Lost Treasure, Hercules (2014), dan The Huntsmen: Winter’s War) dan Stephen Chbosky di genre musikal (Rent dan The Perks of Being a Wallflower). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Bill Condon yang dikenal lewat musikal Dreamgirls, The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2, dan penulis naskah Chicago.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bid'ah Cinta


Jika tema cinta beda agama masih menjadi isu sensitif kendati sudah sering diangkat (dengan ending serta konklusi yang masih lebih sering ‘main aman’), bagaiman dengan cinta sesame agama tapi beda aliran? Dilema, bahkan konflik yang tak kalah pelik itulah yang coba dihadirkan oleh Nurman Hakim (3 Doa 3 Cinta, Khalifah, dan The Window) lewat Bid’ah Cinta (BC) yang diproduksi di bawah bendera Kaninga Pictures. Dengan naskah yang disusunnya sendiri bersama Zaim Rofiqi dan Ben Sohib, BC menghadirkan Ayushita, Dimas Anggara, dan Ibnu Jamil, dengan dukungan dari Dewi Irawan, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Fuad Idris, Ade Firman Hakim, Jajang C. Noer, Tanta Ginting ,Khiva Iskak, dan mantan bintang cilik yang melanjutkan kerjasama dengan Nurman setelah The Window, Yoga Pratama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Trinity, The Nekad Traveler


Traveling yang dulunya dianggap sebagai hobi eksklusif kian hari kian me-‘rakyat’, terutama setelah ada blog, low-cost carrier, dan social media. Salah satu ikon traveling asal Indonesia yang paling populer saat ini adalah Trinity, seorang traveling blogger yang sudah menelurkan delapan buku bertemakan traveling best seller, termasuk lima di antaranya seri The Naked Traveler. Buku-buku ini dianggap informatif, menghibur, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk turut menjadi traveler, bukan sekedar wisatawan (perbedaan keduanya sudah sering dibahas di berbagai media bertemakan traveling). Tinggal menunggu waktu saja hingga ada PH yang tertarik mengangkatnya ke layar lebar. Adalah Tujuh Bintang Sinema yang pernah memproduksi Air Mata Surga tahun 2015 lalu yang berhasil mendapatkan hak adaptasi ke layar lebar dengan judul Trinity, The Nekad Traveler (TTNT) sebagai karya keduanya. Rahabi Mandra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga, Hijab, 2014: Siapa di Atas Presiden, Senjakala di Manado, From London to Bali, dan upcoming, Night Bus) ditunjuk untuk mengadaptasi naskah, sementara Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak Trilogy, Air Terjun Pengantin, 5 cm, Supernoba: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Aktris muda yang pernah mempesona kita di Perahu Kertas, Maudy Ayunda, dipasang untuk memerankan sosok Trinity, didukung Hamish Daud Wyllie, Babe Cabiita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, dan cameo dari Tompi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Badrinath Ki Dulhania
[बद्रीनाथ की दुल्हनिया]


Jika memperhatikan tema sinema Hindi beberapa tahun terakhir, Anda akan kerap menemukan tema feminisme atau women empowerment. Selain tingginya kasus pelecehan terhadap wanita yang sempat menjadi isu internasional yang hangat, masyarakat India tampaknya masih banyak yang menganut budaya tradisional yang cenderung memposisikan wanita di bawah kaum pria. Sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang tahun 2014 lalu sukes menghantarkan film komedi romantis, Humpty Sharma Ki Dulhania (HSKD), menjadi box office besar dan semakin melambungkan pasangan Varun Dhawan dan Alia Bhatt setelah breathrough performance di Student of the Year, turut mengikuti jejak trend ini. Produser Karan Johar memberikan lampu hijau kepada Khaitan untuk mengembangkan HSKD menjadi sebuah franchise. Badrinath Ki Dulhania (BKD – yang dalam bahasa Inggris punya arti harafiah ‘The Bride of Badrinath’) bukanlah sebuah sekuel langsung dari HSKD meski masih mengusung Dhawan-Bhatt sebagai pasangan utama. Lebih merupakan kesatuan franchise dengan persamaan tema tapi cerita yang sama sekali berbeda, seperti halnya Kahaani dan Jolly LLB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, March 19, 2017

The Jose Flash Review
Hidden Figures


Oscar 2016 yang dicap ‘OscarSoWhite’ membuat studio-studio Hollywood berlomba-lomba mengangkat tema anti-racism, khususnya terhadap kaum kulit hitam, dengan harapan dilirik Oscar 2017 yang seolah disengaja mengusung tema diversity. Selain Moonlight yang dengan masif dipromosikan oleh distributornya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional, sebenarnya masih ada Hidden Figures (HF) yang mengangkat kisah nyata tiga wanita kulit hitam pertama yang punya andil besar di tahun-tahun awal NASA. Diadaptasi dari novel biografi berjudul sama yang disusun oleh Margot Lee Shetterly, naskahnya disusun oleh Allison Schroeder dan Theodore Melfi yang juga merangkap bangku sutradara. Keduanya tergolong ‘baru’ di layar lebar (mainstream). Melfi sendiri baru dikenal lewat Winding Roads (1999) dan St. Vincent (2014). Namun kualitas mereka tak boleh diremehkan. Terbukti dari nominasi Oscar untuk naskah adaptasi yang mereka susun bersama. Ditambah jajaran aktor-aktris yang menarik, mulai Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, hingga Mahershala Ali yang tahun ini benar-benar angkat nama berkat Moonlight.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 11, 2017

The Jose Flash Review
Silence

Sejak lama saya percaya bahwa agama apa saja awalnya disebarkan bukan dengan pengkotak-kotakan atau pelabelan seperti saat ini. Pengalaman pribadi akan tumbuh menjadi iman yang jauh lebih kuat ketimbang sekedar 'mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya'. Gereja Katolik Roma yang punya sejarah panjang berkali-kali mengalami pergolakan, mulai ajaran yang dijalankan secara puritan hingga fleksibel mengikuti perkembangan jaman seperti saat ini. Salah satu episode yang menjadi 'pelajaran' penting dalam penyebaran agama tertuang dalam novel fiksi historis berjudul Silence (沈黙 / Chinmoku) karya Shūzaku Endō yang pertama kali dipublikasikan tahun 1966. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul sama di tahun 1971 oleh sutradara Masahiro Shinoda. Meski mendapatkan apresiasi kritik internasional, versi Shinoda ini tidak disukai oleh Endō karena perubahan ending yang dianggap mempengaruhi esensi keseluruhan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 8, 2017

The Jose Flash Review
Kong: Skull Island


Dalam sejarah perfilman Hollywood, King Kong bisa jadi salah satu sosok monster raksasa tertua. Pertama kali muncul tahun 1933, kemudian di-remake tahun 1976, dan terakhir versi Peter Jackson di tahun 2005. Dari sekian banyak seri dan spin-off, ada satu yang paling menarik; versi versus dengan monster raksasa asal Jepang, Godzilla di King Kong vs Godzilla pada tahun 1962 yang diproduksi oleh Jepang-Amerika Serikat. Versi itulah yang menginspirasi Legendary Pictures untuk kembali mempersatukan keduanya dalam sebuah franchise universe; MonsterVerse. Dimulai dari remake (atau reboot) Godzilla tahun 2014 lalu, installment keduanya siap tayang 2017 ini; Kong: Skull Island (KSI). Rencananya, installment berikut akan tayang tahun 2019 sebagai sekuel dari Godzilla, Godzilla: King of the Monsters dan tahun 2020 lewat Godzilla vs Kong. Dengan penghasilan Godzilla (2014) yang mencapai US$ 529.1 juta di seluruh dunia, Warner Bros. tak ragu untuk menginvestasikan hingga US$ 190 juta untuk KSI (di atas Godzilla yang berbudget US$ 160 juta). Dari naskah yang disusun Dan Gilroy (The Bourne Legacy, Nightcrawler), Max Borenstein (Godzilla 2014), dan Derek Connolly (Jurassic World, Monster Trucks), bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Jordan Vogt-Roberts yang mana ini baru kali keduanya menangani film layar lebar setelah The Kings of Summer. Lini bintangnya meliputi Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John C. Reilly, John Goodman, Toby Kebbell, hingga bintang muda Cina yang baru saja kita lihat aksinya di The Great Wall, Jing Tian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 7, 2017

The Jose Flash Review
Galih & Ratna


Cinta adalah universal. Merujuk pada ungkapan tersebut, maka tiap negara dan budaya memiliki sosok pasangan asmara yang mewakili dan melegenda. Jika Inggris punya Romeo dan Juliet yang diadaptasi ke berbagai variasi nama di berbagai negara, Cina punya Sampek-Engtay, maka Indonesia punya Galih dan Ratna, di samping Ramadhan & Ramona, dan era 2000-an, Cinta dan Rangga. Namun sosok Galih dan Ratna yang diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman di film Gita Cinta dari SMA (1979) sudah melekat begitu kuat hingga kini. Maka tinggal menunggu momen yang tepat untuk melanjutkan warisan ke generasi selanjutnya, seperti yang sudah dilakukan Putrama Tuta di Catatan Harian Si Boy untuk franchise klasik Catatan Si Boy. Adalah Lucky Kuswandi, sutradara muda yang kita kenal lewat Madame X (2010) dan Selamat Pagi, Malam (2014) yang beruntung ditunjuk untuk menggarap Galih dan Ratna versi generasi milenial bertajuk Galih & Ratna (G&R). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lucky juga menyusun naskahnya bersama Fathan Todjon. Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter acara musik di salah satu stasiun TV nasional dan sempat menunjukkan kemampuan aktingnya di Koala Kumal bersama Raditya Dhika, ditunjuk untuk mewakili sosok Ratna, sementara Refal Hady yang dikenal lewat serial TV dipercaya menghidupkan karakter Galih. Tak hanya film, G&R juga mencoba mempopulerkan kembali lagu tema yang sempat begitu populer dengan mempercayakannya kepada trio GAC.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, March 6, 2017

The Jose Flash Review
Museum
[ミュージアム]

Tokyo Metropolitan Police sedang digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai sadis yang meninggalkan petunjuk surat berisi ‘hukuman’ yang diterima oleh para korban. Detektif Hisashi Sawamura dan partnernya yang masih muda dan baru, Junichi Nishino yang menyelidiki kasus ini menemukan pola pada korban yang mengarah kepada kasus pembunuhan seorang gadis cilik beberapa tahun yang lalu. Dari pola tersebut, Detektif Hisashi baru sadar bahwa sang istri, Haruka, bisa jadi korban berikutnya. Semakin dipicu oleh waktu, Detektif Hisashi nekad menangkap sang pelaku dengan caranya sendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 3, 2017

The Jose Flash Review
Interchange

Untuk urusan kualitas film layar lebar, Indonesia boleh sedikit lebih berbangga karena masih berada di atas rata-rata sinema Malaysia yang lebih banyak dibanjiri film-film drama, komedi, dan horror yang dibuat dengan standard FTV (or even worse). Ini bisa jadi merupakan imbas dari peraturan pemerintah Malaysia yang menentukan kuota layar lebih banyak dan hari tayang minimum untuk film-film lokal mereka, sehingga ada kesan sekedar kejar kuantiti ketimbang kualitas. Namun sesekali tetap ada film yang layak diperhitungkan. Tak hanya dikerjakan dengan teknis sinematik yang layak, tapi juga eksplorasi tema yang tergolong berani untuk industri film yang statusnya masih ‘berkembang’. Setelah horror reliji Munafik yang masuk Indonesia tahun lalu, satu lagi sinema Malaysia yang menyambangi layar lebar kita. Interchange, sebuah thriller investigatif bergaya noir dengan bumbu fantasi yang merupakan joint-venture antara Malaysia (Seeing Eye Films, Sonneratia Capital, APPARAT, MDEC) dan Indonesia (Cinesurya – Fiksi dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
London Love Story 2


Ekspansi Screenplay dari FTV ke layar lebar sejak 2015 lalu patut mendapatkan apresiasi dan layak dianalisis. Bagaimana tidak, kesemua film yang mereka produksi selalu sukses mengundang di atas 500.000 penonton berbondong-bondong. Satu, aktor-aktris andalan mereka terbukti punya fanbase yang kuat dan besar di seluruh penjuru Indonesia. Dua, mereka tahu betul bagaimana selera pasarnya dan bagaimana menjual tepat pada sasarannya. Persetan dengan apa pendapat kritik dan kalangan yang memang bukan target audience, dari produksi ke produksi berikutnya terbukti mengalami perkembangan dan peningkatan di banyak aspek, terutama teknis yang makin sinematis. Produktivitas mereka yang tahun 2016 lalu saja mampu memproduksi tiga judul film (dan kesemuanya sukses secara box office sekaligus berhasil menciptakan istilah-istilah gaul menjadi viral) juga patut diacungi jempol. Tak heran jika di tahun 2017 ini mereka semakin gencar memproduksi film. Baru Januari lalu menelurkan Promise yang sampai saat ini sudah mencatat angka 655.805 penonton, di awal Maret ini mereka sudah meluncurkan sekuel dari salah satu film box office mereka tahun lalu, London Love Story (LLS – mencatat angka 1.124.876 penonton). Bertajuk London Love Story 2 (LLS2), winning team masih tetap dipertahankan; sutradara Asep Kusdinar, penulis naskah Tisa TS, serta primadona mereka; Michelle Ziudith, Dimas Anggara, dan kini diramaikan pula oleh primadona mereka lainnya, Rizky Nazar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 2, 2017

The Jose Flash Review
Logan

Di antara mutan-mutan di universe X-Men, Wolverine tampaknya menjadi karakter yang paling menarik untuk digali lebih dalam. Apalagi sejak awal sosoknya sudah dihidupkan dengan begitu kuat oleh Hugh Jackman. Tak heran jika Marvel dan 20th Century Fox kemudian membuatkan film stand-alone, tak hanya satu tapi dua sekaligus: X-Men Origins: Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013). Keduanya mengambil setting sekaligus treatment style yang sama sekali berbeda, sejalan dengan rentang hidup karakter Wolverine sendiri yang memang panjang. Kendati banyak kritik yang tidak menyukai kedua versi ini, saya pribadi cukup menikmati dan bahkan banyak adegan-adegan yang memorable dalam ingatan saya sampai saat ini. Saya yakin I'm not the only one. That means that both were not bad attempts at all.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 1, 2017

The Jose Flash Review
Fabricated City
[조작된 도시]


Varian genre sinema Korea Selatan semakin beragam seiring dengan perkembangan dan penghasilan film-film mereka yang memang signfikan. Bahkan termasuk genre sci-fi yang punya tingkat kerumitan sekaligus kesulitan teknis sehingga sebisa mungkin dihindari sinema-sinema non-Hollywood. Korea Selatan seolah membuktikan level kapasitas mereka kepada penonton dunia. Fabricated City (FC) yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Park Kwang-hyun (dikenal lewat adaptasi drama panggung Welcome to Dongmakgol – 2005 yang sukses besar secara komersial maupun oleh kritik), mencoba menggabungkan tema investigasi pembunuhan, kritik sosial terhadap hukum dan persepsi masyarakat, dengan kecanggihan teknologi cyber. Menggandeng aktor K-drama muda (populer lewat Smile Again), Ji Chang-wook, bintang Miss Granny, Shim Eun-kyung, dan Oh Jung-se (The King of Pigs, How to Use Guys with Secret Tips, dan Petty Romance), FC berhasil melewati angka satu juta penonton di weekend pembukaannya. Di Indonesia FC diimpor oleh CBI Pictures (sebelumnya bernama Jive!) dan tayang mulai 1 Maret 2017 di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose State of Mind
VOD Streaming Service:
A Substitute or a Complement
on How People Watching Movies?

How come people enjoy streaming movies to the max?

Sebagai seorang moviegoers sejak kecil, bioskop dan home video selalu menjadi pilihan utama saya untuk menonton film. Bioskop sebagai format yang menawarkan pengalaman terbaik dalam menikmati film, yang sampai sekarang pun masih menjadi tujuan pembuatan film yang utama. Teknis-teknis pembuatan film termaksimal dimaksudkan untuk bisa dinikmati di layar bioskop dengan fasilitas mumpuni. Sementara home video menjadi alternatif ketika suatu film tak dirilis di bioskop lokal atau koleksi untuk binge-watch film-film paling favorit kapan saja. Apalagi dengan dukungan perangkat home theatre yang cukup mendukung (setidaknya ada LCD 42" dan tata suara 5.1). Meski tak sedahsyat di bioskop, tetapi tetap terasa maksimal dengan perbandingan ukuran ruangan. Channel khusus movie di TV berbayar pun tak pernah membuat saya berpikir untuk berlangganan, karena toh kebanyakan sudah saya tonton di bioskop. Yang belum ditonton pun saya lebih memilih format DVD karena faktor fleksibelitas waktu. Dua pilihan format ini saya pegang teguh bahkan setelah era digital dimana film-film bisa dinikmati secara streaming ataupun digital download.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates