Black Panther

The new king of Wakanda to fight for the rest of the world.
Read more.

Eiffel I'm in Love 2

What will Adit and Tita be after 12 years of long distance relationship?
Opens Feb 14.

The Post

Spielberg, Hanks, Streep team up to shake down the goverment through press.
Opens Feb 21.

Dilan 1990

Iqbaal Ramadhan to portray Pidibaiq's most popular novel character.
Read more.

Maze Runner: The Death Cure

Thomas and friends to break into The Last City, the WCKD-controlled labyrinth as their final effort of adventure.
Read more.

Friday, December 1, 2017

The Jose Flash Review
Mata Batin

Trend horor di sinema Indonesia dimanfaatkan dengan baik oleh Hitmaker Studios sebagai anak perusahaan Soraya Intercine Films yang sejatinya sudah konsisten di genre tersebut sejak 2012. Setelah sukses The Doll 2 baik secara komersial maupun pencapaian kualitas, mereka mencoba peruntungan lagi lewat Mata Batin (MB) dengan menggandeng Jessica Mila, Denny Sumargo, Citra Prima, Epy Kusnandar, dan Bianca Hello yang belum lama ini kita lihat di Mereka yang Tak Terlihat. Sementara bangku sutradara masih diduduki oleh Rocky Soraya sendiri, naskah pun masih dipercayakan kepada Riheam Junianti yang sudah menulis semua naskah film-film produksi Hitmaker Studios dengan sekali lagi dibantu oleh Fajar Umbara setelah The Doll 2
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 29, 2017

The Jose Flash Review
Daddy's Home 2

Will Ferrell selama ini dikenal sebagai salah satu komedian Amerika Serikat yang guyonannya punya segmen tersendiri. Tak semua bisa memahami letak kelucuan humornya, sementara pihak lain ada yang dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkahnya. Banyak materi humornya yang terkesan kasar dan tak senonoh sehingga image film-film komedinya seringkali dilabeli dewasa. Maka ketika muncul sebagai seorang ayah yang berusaha mencuri hati anak-anak tirinya sekaligus bersaing dengan ayah kandung mereka, Daddy’s Home (DH) menjadi film yang menarik perhatian sekaligus mengundang rasa penasaran. Bisakah seorang Will Ferrell tetap lucu dengan materi yang ramah-keluarga? Nyatanya DH berhasil mendulang total US$ 242.8 juta di seluruh dunia meski review kritikus termasuk beragam. Wajar jika ada yang benci sekali tapi ada pula yang berhasil terhibur (polling di CinemaScore rata-rata memberikan B+). Kesuksesan ini menggoda Paramount untuk membuatkan sekuelnya. Sean Anders (Horrible Bosses 2) masih dipercaya duduk di bangku sutradara dengan naskah yang juga masih dibantu oleh John Morris (Hot Tub Time Machine, We’re the Millers, Horrible Bosses 2). Formula yang dipakai adalah menambahkan karakter-karakter baru yang diyakini mampu ‘memperkeruh’ keadaan. Bertajuk Daddy’s Home 2 (DH2), kali ini ada Mel Gibson dan John Lithgow yang didapuk mengisi peran ayah dari Mark Wahlberg dan Will Ferrell. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Murder on the Orient Express
[2017]

Penggemar genre detektif pasti mengenal sosok Hercule Poirot (baca: Erkyul Pwarou), detektif fiktif asal Belgia rekaan Agatha Christie yang sudah muncul dalam 33 judul novel, lebih dari 50 cerpen sejak tahun 1920, dan sudah diadaptasi dalam berbagai medium, seperti sandiwara radio, film layar lebar, dan TV. Tak hanya di Inggris dan Amerika Serikat, tapi juga di Jerman, Rusia, bahkan hingga Jepang. Namun judul yang paling sering diadaptasi adalah Murder on the Orient Express (MotOE). Setelah versi tahun 1974 arahan Sidney Lumet dengan ensemble cast kelas A macam Albert Finney, Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Jean-Pierre Cassel, Anthony Perkins, Sean Connery, dan Vanessa Redgrave, versi FTV tahun 2001 yang dibintangi Alfred Molina, serta salah satu episode serial Agatha Christie’s Poirot, 20th Century Fox berinisiatif untuk memperkenalkan kembali sosok Hercule Poirot ke generasi masa kini dengan menunjuk Michael Green (Logan, Alien: Covenant, Blade Runner 2049) selaku penyusun naskah adaptasi dan Kenneth Branagh sebagai sutradara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 28, 2017

The Jose Flash Review
Tumhari Sulu
[तुम्हारी सुलु]

Di antara jajaran aktris papan atas sinema Hindi (baca: Bollywood), Vidya Balan termasuk salah satu yang paling dihormati dan ‘dipandang’, terutama lewat film-film seperti Salaam-E-Ishq, Ishqiya, No One Killed Jessica, The Dirty Picture, hingga yang paling melambungkan namanya, Kahaani. Di tengah tema women empowerment yang makin nyaring didengungkan sinema Hindi akhir-akhir ini, Balan mengambil peran sebagai seorang ibu rumah tangga berpendidikan rendah tapi bermimpi besar, Sulochana atau yang biasa dipanggil Sulu, lewat Tumhari Sulu (TS - dalam bahasa Inggris: Your Sulu). Merupakan debut penulisan naskah serta sutradara film panjang dari Suresh Triveni (sebelumnuya dikenal lewat film-film pendek), TS didukung pula oleh penampilan aktris sekaligus mantan Miss India yang baru saja kita lihat di Qarib Qarib Singlle, Neha Dhupia, Manav Kaul (Kai po che!, Wazir, Jolly LLB 2), dan debut layar lebar seorang penyiar radio di Red FM 93.5, RJ Malishka Mendonsa.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 27, 2017

The Jose Flash Review
Blade of the Immortal
[無限の住人]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Coco

Día de Muertos atau Day of the Dead adalah perayaan khas Meksiko untuk mengenang sekaligus memberikan dukungan atas perjalanan spiritual bagi anggota keluarga dan sahabat yang telah meninggal. Melibatkan altar bernama ofrendas dan persembahan makanan/minuman yang disukai oleh almarhum/almarhumah, perayaan serupa sebenarnya juga dimiliki budaya-budaya lain dengan sebutan serta tradisi yang berbeda-beda tapi punya satu tujuan: mengenang mereka yang telah meninggal. Meski ada beberapa agama atau aliran yang menganggap tradisi semacam ini sebagai bentuk penyembahan berhala, tradisi semacam ini masih dengan mudah ditemui di belahan dunia manapun. Dunia sinema pun berkali-kali mengangkat budaya Día de Muertos, baik sebagai tema utama maupun salah satu background adegan. Yang masih paling segar dalam ingatan adalah film animasi The Book of Life (2014) produksi Twentieth Century Fox Animation. Disney-Pixar pun tak mau kalah dengan proyek serupa yang tergolong ambisius. Memakan waktu produksi hingga memecahkan rekor terlama dalam sejarah mereka, yaitu mencapai enam tahun, proyek Coco dipercayakan kepada Lee Unkrich (co-director Toy Story 2, Monsters, Inc., Finding Nemo, Toy Story 3) dan Adrian Molina (storyboard artist Toy Story 3 dan salah satu penulis The Good Dinosaur). Pendatang baru, Anthony Gonzalez, dipercaya mengisi suara karakter utama, didukung Gael García Bernal, Benjamin Bratt, dan Alanna Ubach. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Marrowbone

Sinema Spanyol di mata internasional selama ini terepresentasikan oleh nama-nama sineas seperti Alejandro Amenábar (Open Your Eyes, The Others), Pedro Almodóvar (The Skin I Love In, Volver), dan J.A. Bayona (The Orphanage, The Impossible, A Monster Calls, dan upcoming, Jurassic World: Fallen Kingdom). Sergio G. Sánchez yang selama ini dikenal sebagai penulis naskah dari The Orphanage dan The Impossible, agaknya layak untuk menyusul masuk daftar tersebut lewat karya terbarunya, Marrowbone. Didukung aktor dan aktris yang masih ‘segar’ seperti George MacKay (Defiance, Captain Fantastic), Charlie Heaton (Shut In, serial Stranger Things), Anya Taylor-Joy (The VVitch, Morgan, Split), Mia Goth (Everest, A Cure for Wellness), dan Kyle Soller (Anna Karenina, Fury), ia menawarkan horor psikologis dengan pendekatan ikatan keluarga, sebagaimana The Orphanage dan bahkan The Impossible.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 25, 2017

The Jose Flash Review
Keluarga Tak Kasat Mata

Maraknya platform digital yang semakin beragam ternyata tak menyurutkan popularitas Kaskus sebagai forum dunia maya terbesar di Indonesia. Salah satu fenomena terakhirnya adalah thread Keluarga Tak Kasat Mata (KTKM) yang membagi kisah nyata pengalaman seorang mahasiswa yang kerja part-time di sebuah kantor bergedung horor di Yogyakarta bernama Bonaventura D. Genta. Thread ini lantas menjadi viral di Indonesia hingga dirangkum dalam sebuah buku novel dan adaptasi layar lebarnya dibeli oleh Max Pictures (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 dan Baracas) dengan naskah adaptasi yang disusun oleh Laila Nurazizah (Adriana, Untuk Angeline, Danur: I Can See Ghosts) dan Evelyn Afnila, serta penyutradaraan yang dipercayakan kepada Hedy Suryawan (Rock N Love). Jajaran cast yang dipasang pun cukup populer. Mulai Deva Mahenra, Miller Khan, Ganindra Bimo, Kemal Palevi, Aura Kasih, Gary Iskak, Weezy, hingga Tio Pakusadewo. Di tengah boomingnya film horor di sinema Indonesia, KTKM menjadi salah satu sajian yang paling banyak ditunggu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Breathe

Selama ini kita mengenal Andy Serkis sebagai sosok aktor motion-capture pengisi karakter-karakter CGI macam Gollum di The Lord of the Rings Trilogy, Kong di King Kong, dan Caesar di Rise of the Planet of the Apes Trilogy. Siapa sangka ternyata ia punya bakat terpendam sebagai sutradara. Kiprah debutnya adalah Breathe, biografi tentang pasangan inspiratif yang mengubah persepsi dunia tentang penderita polio, Robin dan Diana Cavendish yang merupakan orang tua dari sahabat sekaligus partner bisnisnya, Jonathan Cavendish (keduanya menjalankan The Imaginarium, studio spesialis teknik motion-capture yang pernah menangani Rise of the Planet of the Apes Trilogy, Avengers: Age of Ultron, dan Star Wars: Episode VII - The Force Awakens). Proyek ini bisa jadi sebuah keberuntungan sekaligus menjadi tantangan yang tak ringan bagi Serkis mengingat materinya tergolong serius tapi juga punya potensi menjadi sajian klise dan terjerumus ke dalam tearjerker eksploitatif bertema penyakit (saya menjulukinya sebagai ‘disease-porn’). William Nicholson yang punya daftar filmografi mengesankan seperti Nell, First Knight, Gladiator, Elizabeth: The Golden Age, Les Misérables, Mandela: Long Walk to Freedom, Unbroken, Everest dipercaya menyusun naskahnya, dengan bintang Andrew Garfield, Claire Foy (Season of the Witch, Vampire Academy, The Lady in the Van), dan Tom Hollander (About Time, Mission: Impossible - Rogue Nation).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 24, 2017

The Jose Flash Review
Naura & Genk Juara
The Movie

Ada alasan mengapa film anak-anak jarang dibuat. Selain pasarnya yang masih terbatas dibandingkan film-film dengan range usia yang lebih luas (sering juga kan orang tua yang malas menemani anak-anaknya menonton film anak dan cenderung memilih film yang lebih umum atau dewasa yang sekiranya ‘aman’ untuk ditonton bersama-sama?), menggarap film anak juga punya tingkat kesulitan tersendiri. Naskahnya harus dipastikan benar-benar aman untuk menghindari kontroversi dan pengaturan/pengarahan cast anak-anak yang jelas lebih sulit daripada dewasa. Namun bagaimana pun kita perlu film-film yang tak hanya aman tapi juga bermanfaat sekaligus menghibur untuk penonton anak. Maka apa yang diprakarsai oleh KG Productions (Kompas Gramedia) yang konsisten memproduksi konten-konten mendidik sekaligus menghibur, bekerja sama dengan KPG dan Creative and Co. ini patut mendapat apresiasi. Menggandeng Naura, penyanyi cilik populer, putri dari pasangan Nola AB Three dan manajer Be3, Baldy Mulya Putra, film bertajuk Naura & Genk Juara The Movie (NGJ) menawarkan genre musikal. Eugene Panji, sutradara video musik yang memulai debut layar lebar lewat film anak, Cita-Citaku Setinggi Tanah dipercaya untuk mengarahkan berdasarkan naskah yang disusun oleh Dendie Archenius Hutauruk.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Marlina
Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Di ranah perfilman internasional ada istilah sub-genre ‘spaghetti Western’ untuk menyebut film-film dengan latar western yang sejatinya berasal dari Amerika Serikat tapi dibuat oleh Italia, terutama Sergio Leone yang paling populer lewat Dollars Trilogy; A Fistful of Dollars, For a Few Dollars More, dan The Good, the Bad, and the Ugly. Populer di era ’60-an, genre yang dikarang oleh jurnalis Spanyol ini sejatinya banyak terpengaruh dari film-film lain, seperti film Akira Kurosawa, Yojimbo (film-film Western secara umum memang sering mengambil pengaruh dari film-film Kurosawa, seperti The Magnificent Seven yang merupakan adaptasi bebas dari Seven Samurai). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 23, 2017

The Jose Flash Review
Justice League

Warner Bros. dan DC agaknya tak pernah patah arang untuk menyusul ketertinggalan dari Marvel Cinematic Universe yang jauh lebih sukses dan menggaet lebih banyak penggemar baru. Setelah Batman v Superman: Dawn of Justice yang cukup ambisius tapi dianggap konyol oleh banyak kalangan, Suicide Squad, dan Wonder Woman yang ternyata justru mendapatkan sambutan jauh lebih hangat, DC tetap bersikukuh melaju dengan proyek yang bisa dibilang salah satu puncak ambisiusmenya, Justice League (JL). Bak versi DC dari The Avengers, penyatuan berbagai superhero besar mereka ke dalam satu film memang secara logika bisa mengundang lebih banyak penonton. Bayangkan masing-masing fans dari karakter superhero akan berbondong-bondong menyaksikan jagoannya beraksi bersama karakter-karakter lainnya. Zack Snyder yang sudah ‘membangun’ konsep DCEU (DC Extended Universe) sejak Man of Steel masih dipercaya duduk di bangku sutradara meski di momen-momen terakhir mengundurkan diri paska kematian sang putri dan dilanjutkan Joss Whedon yang berjasa dalam membangun MCU. Sementara Whedon sendiri memang sudah berada di jajaran penyusun naskah bersama dengan Chris Terrio (Argo, Batman v Superman). Ben Affleck dan Gal Gadot pun kembali muncul, bersama dengan Ezra Miller, Jason Momoa, dan Ray Fisher yang sempat di-tease di installment-installment sebelumnya, serta tentu saja kembalinya Henry Cavill yang sudah ditunggu-tunggu oleh para fans sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama film. Bisa dibilang, JL menjadi pertaruhan yang cukup penting untuk menentukan arah dan masa depan franchise DCEU.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 18, 2017

The Jose Flash Review
Qarib Qarib Singlle
[करीब करीब सिंगल]

Salah satu formula paling generik dari genre drama romantis (termasuk juga komedi romantis) adalah mempertemukan dua individu dengan sifat yang berlawanan hingga akhirnya saling jatuh cinta. Sudah begitu banyak film dengan formula dasar seperti ini dengan berbagai variasinya. Mulai macam When Harry Met Sally, You’ve Got Mail, The Proposal, hingga Before Trilogy dari Richard Linklater yang begitu legendaris. Sinema Korea Selatan juga punya Mood of the Day dan bahkan sinema Hindi baru saja menghadirkan When Harry Met Sejal. Formula serupa, bahkan dengan konsep dialog-driven dan taveling a la Before Trilogy, sekali lagi coba dihadirkan oleh penulis naskah/sutradara Tanuja Chandra (penulis naskah salah satu film SRK paling fenomenal, Dil To Pagal Hai) lewat Qarib Qarib Singlle (QQS - secara harafiah berarti “nyaris jomblo”) yang memasangkan aktor Bollywood yang sudah mendunia lewat produksi Hollywood seperti Life of Pi, The Amazing Spider-Man, Jurassic World, dan Inferno, Irrfan Khan dan Parvathy yang mana ini merupakan debutnya di sinema Hindi setelah selama ini lebih banyak berkiprah di sinema Malayalam. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Paddington 2

Butuh waktu 56 tahun bagi karakter beruang bernama Paddington ciptaan Michael Bond untuk tampil dalam format film live action panjang setelah menjadi salah satu representasi Inggris di panggung dunia lewat buku cerita, boneka, dan serial animasi. Terbukti film perdana Paddington mendapatkan sambutan hangat yang terbukti lewat penghasilan sebesar US$ 268 juta di seluruh dunia dengan budget yang ‘hanya’ € 38.5 juta atau sekitar US$ 50-55 juta, serta review yang serba positif. Maka rencana melanjutkan franchise dapat berjalan dengan lebih mulus. Semua cast pengisi karakter penting kembali, termasuk Ben Wishaw (Skyfall, Perfume: The Story of a Murderer) sebagai pengisi suara sang tokoh titular. Begitu juga David Heyman (franchise Harry Potter) selaku produser dan Paul King kembali mengisi posisi sutradara sekaligus penulis naskah, yang kali ini dibantu oleh Simon Farnaby (kreator serial Yonderland). Sementara Hugh Grant dan Brendan Gleeson turut meramaikan jajaran cast serta tentu saja menambah daya tarik sekuelnya. Tak tanggung-tanggung. Saking optimisnya, King sudah mempersiapkan installment ketiga bahkan sebelum installment kedua mulai diproduksi. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Chasing the Dragon
[追龍]

Action-thriller mafia bisa dianggap sebagai genre yang mendefinisikan sinema Hong Kong, terutama era ‘80-90-an. Termasuk salah satunya adalah karakter nyata legendaris, Ng Sik-ho alias Crippled Ho dan opsir polisi korup, Lui Lok alias Lee Rock yang pernah diangkat ke layar lebar lewat duologi Lee Rock dan To Be Number One. Wong Jing sebagai salah satu sineas paling populer di medio era tersebut dengan karya-karya legndaris seperti God of Gamblers, City Hunter, dan The New Legend of Shaolin, mencoba kembali menghadirkan duo sosok legendaris ini ke satu layar. Tak hanya memasang Donnie Yen di lini terdepan, tapi juga menggandeng kembali Andy Lau untuk memerankan karakter yang sama, Lee Rock, beserta seabreg aktor-aktor Hong Kong legendaris lainnya seperti Kent Cheng, Felix Wong, Ken Tong, Philip Keung, hingga generasi yang lebih muda seperti Xu Dongdong Xu alias Raquel Xu dan Jonathan Lee. Chasing the Dragon (CtD) yang dalam dunia narkotika merupakan istilah slang dalam bahasa Kanton untuk menggambarkan upaya mendapatkan efek fly dari heroin, jelas merupakan salah satu upaya paling ambisius dari Wong Jing setelah seratus lebih film yang pernah digarapnya sejak 1981.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 17, 2017

The Jose Flash Review
Wage

Indonesia agaknya tak akan pernah kekurangan tokoh untuk diangkat ke layar lebar sebagai sebuah biopik. Selalu ada saja tokoh yang sebenarnya selama ini punya peranan penting bagi bangsa Indonesia tapi belum banyak yang mengetahui kisahnya. Maka upaya yang dilakukan Opshid Media hingga bersedia mengucurkan dana sebesar 16 miliar rupiah untuk memproduksi Wage, film biopik dari pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Mempercayakan penyutradaraan ke tangan John De Rantau (Denias, Senandung di Atas Awan, Generasi Biru, Obama Anak Menteng, Semesta Mendukung, dan Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta), naskahnya disusun oleh Fredy Aryanto (Ketika Mas Gagah Pergi the Movie, Duka Sedalam Cinta) dan Gunawan BS berdasarkan riset yang konon dilakukan dengan serius mengingat minimnya informasi maupun literatur tentang kehidupan sang tokoh. Rendra Embun Pamungkas yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor Teater Gandrik Muda didapuk merepresentasikan sosok Wage, didukung aktor-aktris yang lebih berpengalaman di layar lebar seperti Teuku Rifnu Wikana, Putri Ayudya, dan Prisia Nasution.
Wage kecil lebih cenderung menyukai kesenian, khususnya seni musik dibandingkan teman-teman sebayanya. Ketika pergolakan perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda, Wage harus kehilangan sang Ibu yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Beruntung ia diadopsi oleh keluarga Belanda yang kemudian menyekolahkannya dan mempertemukannya dengan biola. Namun pergulatan batin dan perlakuan orang-orang Belanda terhadap dirinya yang masih dianggap pribumi membuatnya aktif di berbagai kegiatan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai menjadi jurnalis, mengikuti organisasi pemuda, hingga menggubah lagu-lagu yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat. Lahirlah lagu-lagu seperti Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, RA Kartini, dan puncaknya lagu yang kemudian diabadikan sebagai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Meski sebagai konsekuensi ia harus menghadapi pemerintah Hindia Belanda yang menganggap lagu-lagu gubahannya mengancam eksistensi serta wibawa mereka.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 13, 2017

The Jose Flash Review
My Generation

Generation gap adalah isu sosial yang selalu terjadi pada generasi maupun masa apapun mengingat selalu terjadi pergantian sekaligus perubahan yang cukup signifikan antar generasi. Perbedaan yang terasa kian meruncing di era media sosial yang mendorong tiap individu untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan berpikir semakin kritis. Padahal disadari atau tidak, kasus serupa tapi tak sama juga terjadi di generasi-generasi sebelumnya. Itulah yang ingin diangkat oleh Upi, sutradara wanita yang karyanya selalu berjiwa ‘muda’, terutama lewat tema content, desain produksi, hingga pilihan soundtrack. Setelah 2005 lalu ia sempat menyuarakan jiwa muda pada generasinya lewat Realita Cinta dan Rock n’ Roll (RCRR), kini ia tergugah untuk menyelami generasi ‘kids jaman now’ lewat suguhan terbarunya, My Generation (MG). Bertindak selaku co-producer, penulis skrip, dan sutradara, Upi berani menggandeng empat aktor-aktris utama muda yang belum pernah berakting di layar lebar sebelumnya; Bryan Langelo, Arya Vasco, Lutesha, dan Alexandra Kosasie. Tentu saja didukung pula oleh aktor-aktris yang sudah lebih senior seperti Tyo Pakusadewo, Aida Nurmala, Surya Saputra, Ira Wibowo, Karina Suwandi, Indah Kalalo, dan Joko Anwar. Menjadikan MG sajian yang menjanjikan sesuatu yang fresh dan youthful.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 10, 2017

The Jose Flash Review
Mumon: The Land of Stealth
[忍びの国]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jigsaw

Mungkin tak ada yang menyangka, termasuk James Wan sendiri, bahwa Saw (2004), film horor indie low budget akan laris manis (film pertama berhasil menghasilkan US$ 103.9 juta di seluruh dunia ‘hanya’ dengan budget US$ 1.2 juta saja!) berkembang menjadi salah satu franchise horor berumur panjang. Bahkan melebihi Final Destination yang sama-sama bertumpu pada adegan-adegan slasher sadis berdarah. Angka penjualannya mungkin tak selalu meningkat, tapi bagaimana pun termasuk sangat menguntungkan mengingat budget yang rendah. Setidaknya installment terakhir, Saw 3D (2010) masih berhasil mencetak US$ 136 juta lebih di seluruh dunia. Saw 3D yang tadinya akan dibagi menjadi dua bagian akhirnya hanya disetujui satu film oleh Lionsgate selaku pemegang lisensi franchise. Penulis naskah Marcus Dunstan dan Patrick Melton menyebutkan alasan mengapa ending installment tersebut malah justru menambah pertanyaan daripada menjawab. Berselang tujuh tahun (padahal sebelum-sebelumnya rajin merilis installment baru tiap tahun) kemudian, Lionsgate tertarik dengan ide pitch dari Josh Stolberg dan Peter Goldfinger (Sorority Row, Piranha 3D) yang sudah bertahun-tahun mengejar kesempatan untuk mengerjakan salah satu proyek Saw. Michael dan Peter Spierig (Daybreakers, Predestination) kemudian dipilih untuk duduk di bangku sutradara, sementara nama-nama aktor yang selama ini belum terlalu dikenal dipilih untuk mengisi layar dan tentu saja kembalinya Tobin Bell sebagai karakter ikonik John Kramer alias Jigsaw yang menandai bahwa sepak terjangnya masih belum benar-benar usai.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 9, 2017

The Jose Flash Review
Ittefaq
[इत्तेफाक]

Sinema Hindi memang masih tergolong jarang menghadirkan genre thriller dibandingkan drama romantis atau komedi yang mendominasi. Namun sekalinya ada tak main-main. Ittefaq adalah salah satu thriller Hindi besutan sineas legendaris Yash Chopra tahun 1969 silam yang dibintangi oleh Rajesh Khanna dan Nanda. Merupakan remake dari Signpost to Murder (1964), butuh waktu 48 tahun bagi Ittefaq untuk kembali di-remake. Adalah Abhay Chopra (cucu dari B.R. Chopra yang merupakan partner bisnis sekaligus adik kandung dari Yash Chopra) yang didukung oleh seantero keluarga Chopra, Shah Rukh Khan, Karan Johar, Gauri Khan, dan Hiroo Yash Johar yang ditunjuk untuk menjadikan remake ini sebagai karya debut penyutradaraannya. Jajaran cast yang dipilih pun sangat menjanjikan. Ada Sidharth Malhotra (Student of the Year, A Gentleman), Sonakshi Sinha (Dabangg, Rowdy Rathore, Force 2, Noor), dan Akshaye Khanna (Salaam-E-Ishq, Race, Dishoom, Mom). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 8, 2017

The Jose Flash Review
Thank You for Your Service

Tema Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) paska perang termasuk sering diangkat ke layar lebar dengan membidik berbagai angle dan treatment. Terakhir kita lihat Man Down yang dibintangi ShiaLaBeouf dan Kate Mara. Sementara yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah American Sniper besutan Clint Eastwood dan memenangkan satu Oscar dari enam kategori nominasi yang diraih. Seolah ingin mengulang sukses atau ada elemen-elemen lain yang ingin dimasukkan, Jason Hall, sang penulis naskah adaptasi, mencoba untuk kembali mengangkat tema serupa dengan mengambil dasar dari novel non-fiksi berjudul Thank You For Your Service (TYFYS) karya reporter The Washington Post pemenang penghargaan Pulitzer, David Finkel. Tak hanya bertindak sebagai penyusun naskah, Hall juga berani duduk di bangku penyutradaraan untuk pertama kalinya. Menggandeng Miles Teller yang tampaknya makin rajin mengejar peran-peran serius seperti di Bleed for This dan Only the Brave, didukung pula oleh Haley Bennett (The Magnificent Seven versi 2016, The Girl on the Train), Beulah Koale, Joe Cole (Secret in Their Eyes, Green Room), Scott Haze (Midnight Special, Only the Brave), dan Amy Schumer (Trainwreck).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Flatliners [2017]

Tahun 1990 silam Flatliners menjadi film drama thriller sci-fi dengan tema yang cukup unik. Berfantasi mengulik apa yang terjadi setelah kematian, sutradara Joel Schumacher (St. Elmo’s Fire, The Lost Boys, Dying Young, The Client, Batman Forever, A Time to Kill) menggabungkan sci-fi medis dengan alam ‘spiritual’ menjadi sajian misteri yang mencekam tapi logis. Apalagi dukungan A-list star kala itu, mulai Kiefer Sutherland, Julia Roberts, Kevin Bacon, William Baldwin, dan Oliver Platt, tak heran jika Flatliners menjadi salah satu drama thriller sci-fi yang ikonik hingga saat ini. Seperti biasa, Hollywood tak pernah tak tertarik untuk membawa kembali karya-karya ikoniknya. Tahun 2017 ini Flatliners yang mendapat giliran. Alih-alih dijadikan sebagai sebuah sekuel ataupun spin-off, penulis naskah Ben Ripley (Source Code, Boychoir) dan sutradara Niels Arden Oplev (The Girl with the Dragon Tattoo versi asli Denmark dan Dead Man Down) mencoba me-remake dengan penyegaran-penyegaran yang disesuaikan dengan target audience remaja saat ini. Mendapatkan rating PG-13 (versi asli berating R) menjadi salah satu upayanya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 7, 2017

The Jose Flash Review
Hujan Bulan Juni

Nama Sapardi Djoko Damono di kalangan pencinta sastra Indonesia sudah sangat dikenal sejak akhir ’60-an hingga saat ini. Salah satu faktornya adalah puisi dengan kata-kata indah tapi menggunakan bahasa yang sederhana dan dekat dengan masyarakat umum. Setelah beberapa karyanya diadaptasi ke versi musikalisasi, kini giliran format film layar lebar yang memungkinkan untuk eksplorasi visual lebih luas lagi. Hujan Bulan Juni (HBJ) yang merupakan salah satu judul puisi paling populer dipilih menjadi judul dan naskah yang disusun oleh Titien Wattimena (Badai Pasti Berlalu versi 2007, Di Bawah Lindungan Ka’bah3 Nafas Likas, Negeri Van Oranje) diadaptasi dari versi novel yang diterbitkan 2015 silam. StarVision Plus yang bekerja sama dengan Sinema Imaji mempercayakan bangku penyutradaraan Reni Nurchayo Hestu Saputra (Cinta tapi Beda, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga) dengan memasang pasangan Adipati Dolken dan Velove Vexia di lini terdepan, serta dukungan dari Baim Wong, Surya Saputra, Ira Wibowo, serta aktor muda berdarah Jepang pendatang baru, Koutaro Kakimoto yang ternyata adalah putra kandung dari aktor pemeran Ksatria Baja Hitam, Tetsuo Kurata.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 31, 2017

The Jose Flash Review
Beyond Skyline

Skyline, action thriller sci-fi yang dirilis tahun 2010 silam dan disutradarai oleh Strause Bersaudara (Aliens vs. Predator: Requiem) boleh saja termasuk (very) low budget dengan US$ 10-20 juta, tapi menjadi kejutan ketika berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 78 juta di seluruh dunia. Skor rendah di berbagai situs review aggregation seperti Rotten Tomatoes dan Metacritic ternyata tak menghalangi penonton untuk menjawab rasa penasaran mereka. Mungkin tak ada yang menyangka pula ‘keberuntungan’ ini masih bisa menarik minat untuk dikembangkan menjadi franchise. Strause Bersaudara memang tak lagi duduk di bangku sutradara. Adalah Liam O’Donnell (salah satu co-writer di installment pertama) yang justru tertarik untuk menggarap sekuelnya dengan melibatkan rumah produksi dari berbagai negara. Mulai Singapura, Cina, Inggris, Kanada, dan bahkan Indonesia. Bagi kita di Indonesia daya tariknya semakin bertambah dengan terlibatnya Iko Uwais dan Yayan Ruhian di jajaran cast, melengkapi Frank Grillo (Brock Rumlow alias Crossbones di Marvel Cinematic Universe) dan Bojana Novakovic (Drag Me to Hell dan Edge of Darkness). Termasuk juga lokasi syuting yang meliputi Candi Prambanan di Yogyakarta dan studio Infinite Frameworks Studios, Batam. Alasan ini pula yang membuat kita, penonton Indonesia, berkesempatan menyaksikan Beyond Skyline (BS) lebih dulu dibandingkan di Amerika Serikat yang dijadwalkan tayang mulai 15 Desember 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Golmaal Again

Komedi (lebih tepat lagi, komedi absurd) rupanya masih menjadi genre favorit bagi masyarakat India. Ini terbukti dari film-film komedi yang sempat menduduki posisi puncak box office domestik tahun ini seperti Mubarakan, Judwaa 2, dan yang terbaru, Golmaal Again (GA). Yang disebutkan terakhir merupakan installment keempat dari franchise Golmaal yang dimulai oleh Rohit Shetty sejak tahun 2006 lewat Golmaal: Fun Unlimited. Menampilkan empat pria; Gopal, Madhav, Lucky, dan Laxman (judul Golmaal merupakan gabungan singkatan keempat nama karakter ini), perolehan box office-nya semakin meningkat dari installment ke installment. Bahkan Golmaal Again sudah tembus angka ₹266.97 crore (sekitar US$ 40 juta) di seluruh dunia dalam tempo 15 hari saja. Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap remeh. Masih menggandeng aktor-aktor utamanya, Ajay Devgn, Arshad Warsi, Tusshar Kapoor, Shreyas Talpade, dan penambahan Kunal Khemu, Tabu (The Namesake dan Life of Pi), Parineeti Chopra, serta bintang tamu aktor legendaris, Nana Patekar. Meski menggunakan nama-nama karakter dan pemeran yang sama, plot antar installment sama sekali berbeda dan tak saling berhubungan. Let’s say seperti film-film Warkop DKI di Indonesia. Maka tak perlu ragu untuk menyaksikan GA jika merasa belum pernah menyaksikan installment-installment sebelumnya tapi tertarik dengan konsep komedi screwball.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 30, 2017

The Jose Flash Review
Negeri Dongeng

Makin banyak film dokumenter yang mendapatkan kesempatan tayang di bioskop komersial. Tahun ini setelah Banda: The Dark Forgotten Trail, ada Negeri Dongeng (ND) yang menyorot perjalanan mendaki tujuh puncak gunung tertainggi di Indonesia. Dibesut oleh Anggi Frisca yang sebelumnya menata sinematografi untuk Mata Tertutup, Kita versus Korupsi, Sagarmatha, Mantan Terindah, dan Night Bus, turut pula terlibat di dalamnya pegiat-pegiat film yang kebetulan punya hobi menjelajah yang sama dan tergabung dalam tim yang diberi nama AKSA7; Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM. Nadeak, Yohanes Pattiasina, dan Wihana Erlangga. Sebagai bintang tamu digandeng Darius Sinathrya dan Nadine Chandrawinata yang menambah daya tarik ND.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 29, 2017

The Jose Flash Review
Posesif

Nama Edwin sebagai sineas selama ini memang lebih populer di ranah indie, festival, maupun pemutaran-pemutaran alternatif, seperti lewat Babi Buta yang Ingin Terbang dan Kebun Binatang (Postcards from the Zoo). Tahun 2017 ini melalui PH yang diberi nama Palari Films, ia mencoba berkarya di ranah pemutaran teatrikal umum untuk pertama kalinya. Tak seperti biasanya yang penuh metafora yang berat dan segmented, tema yang dipilih justru kehidupan remaja SMA yang jelas punya audience terbesar. Tak tanggung-tanggung, Gina S. Noer (Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Habibie & Ainun) digandeng untuk menyusun naskahnya. Di lini akting ada Adipati Dolken yang disandingkan dengan pendatang baru yang sebelumnya lebih dikenal sebagai salah satu host acara TV My Trip My Adventure, Putri Marino. Didukung Cut Mini, Yayu Unru, Gritte Agatha (The Underdogs), dan Chicco Kurniawan (Stip & Pensil). Tak mau sekedar kisah asmara remaja menye-menye, Posesif memilih isu abusive relationship untuk dibahas.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 24, 2017

The Jose Flash Review
Thor: Ragnarok

Saya pernah berpendapat bahwa dua film Thor adalah installment individu Marvel Cinematic Universe (MCU) yang terlemah dibandingkan personel The Avengers lainnya. Bisa jadi karena konsepnya yang berdasarkan mitologi Norwegia sangat kontras dengan konsep hi-tech sci-fi karakter-karakter superhero MCU lainnya yang lebih realistis. Atau mungkin saja belum menemukan treatment yang tepat untuk membuatnya jadi menarik. Setelah Thor: The Dark World (2013) yang masih konsisten mengikuti treatment dari Thor (2011), agaknya Marvel Studios mulai berpikir untuk mengubah strategi dengan treatment yang lebih segar tanpa mengubah haluan outline konsep besar MCU secara keseluruhan. Maka terpilihlah Taika Waititi, sutradara asal Selandia Baru (pernah dinominasikan di Academy Awards tahun 2005 untuk kategori Best Short Film, Live Action di Two Cars, One Night dan mencuri perhatian festival-festival internasional lewat Hunt for the Wilderpeople 2016 silam) yang dianggap punya ide konsep visual yang paling cocok. Lebih mirip konsep visual Guardians of the Galaxy ketimbang dua film Thor sebelumnya, installment kelima dari fase ketiga MCU ini digadang-gadang menjadi bagian terpenting dari kisah Thor (malah ada rumor yang menyebutkan akan menjadi film terakhir Thor secara individual) sekaligus bagian penting sebelum masuk ke Avengers: Infinity War yang direncanakan tayang Mei 2018.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 23, 2017

The Jose Flash Review
Secret Superstar

Kiprah Aamir Khan di perfilman Bollywood tak pernah surut. Setelah Dangal memecahkan rekor film India terlaris sepanjang masa di seluruh dunia dengan mencatatkan total US$ 300 juta tahun 2016 lalu, Aamir Khan Productions kembali menggandeng Zaira Wasim yang berperan sebagai Geeta cilik untuk mewujudkan ide Advait Chandan (asisten production manager Taare Zameen Par) sebagai karya debutnya sebagai penulis naskah/sutradara. Chandan sendiri mengaku mendapatkan idenya dari salah satu episode program talkshow TV yang mengangkat fenomena sosial India modern produksi Aamir Khan Productions, Satyamev Jayate. Mengangkat fenomena YouTubers dan digabungkan dengan motherhood serta tema women empowerment yang sedang menjadi topik hangat di tanah Hindustan, Secret Superstar (SS) didukung Meher Vij (Bajrangi Bhaijaan), Raj Arjun (Raees), dan pendatang baru yang cukup menjanjikan, Tirth Sharma. Dengan formula yang cocok dan aman sebagai sajian untuk seluruh anggota keluarga, SS sengaja disiapkan untuk memeriahkan hari raya Diwali.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 22, 2017

The Jose Flash Review
Only the Brave

Di telinga dunia internasional, kejadian kebakaran hutan Yarnell Hill di Arizona, Amerika Serikat pada Juni 2013 yang disebut-sebut sebagai kebakaran hutan paling mematikan ketiga di Amerika Serikat. Bagaimana tidak? 19 petugas pemadam kebakaran tewas, 23 orang luka-luka, dan 129 bangunan hancur akibat kebakaran hutan yang disebabkan oleh halilintar ini. Sebuah artikel yang mengangkat kisah heroik tim pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots yang tewas dalam kejadian tersebut di majalah GQ berjudul No Exit oleh Sean Flynn menggugah produser Lorenzo di Bonaventura untuk mengangkatnya ke layar lebar sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan yang tewas. Ken Nolan (Black Hawk Down dan Transformers: The Last Knight) beserta Eric Warren Singer (The International dan American Hustle) ditunjuk untuk menyusun naskah adaptasi film  yang diberi judul Only the Brave (OtB). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Joseph Kosinski (Tron Legacy, Oblivion, dan upcoming, Top Gun: Maverick) dengan jajaran cast yang menjanjikan. Mulai Josh Brolin, Jeff Bridges, Miles Teller, Taylor Kitsch, Jennifer Connelly, hingga Andie MacDowell.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, October 18, 2017

The Jose Flash Review
Happy Death Day

Belum lama ini kita di Indonesia disuguhi A Day, film Korea Selatan yang menggunakan konsep time-loop untuk menyampaikan father-and-daughter relationship sekaligus isu kode etik kedokteran. Karena masih tergolong jarang digunakan, penggunaan konsep time-loop di berbagai tema selalu menarik untuk disimak. Mulai era Groundhog Day (1993) yang disebut-sebut pionir konsep time-loop, Source Code, Edge of Tomorrow, Before I Fall, A Day, hingga kini Happy Death Day (HDD) yang menawarkan konsep time-loop a la Groundhog Day dengan teenage whodunit slasher-thriller a la Scream. Merupakan proyek ‘murah meriah’ (konon budgetnya ‘hanya’ US$ 4.8 juta saja) dari Blumhouse Productions yang tahun ini mencuri perhatian sekaligus untung besar lewat Split dan Get Out, naskah dasar HDD sejatinya sudah ada sejak 10 tahun silam. Christopher B. Landon yang dikenal sebagai sutradara Paranormal Activity: The Marked Ones dan Scouts Guide to the Zombie Apocalypse serta penulis naskah Disturbia dan Paranormal Activity 2 hingga 4 dan The Marked Ones, kemudian ditunjuk untuk merapikan kembali naskahnya bersama Scott Lobdell (Man of the House) sekaligus menyutradarainya. Jessica Rothe yang pernah kita lihat di La La Land (sebagai gadis serumah Mia bergaun hijau) dipercaya mengisi peran utama, didukung Israel Broussard (Flipped, The Bling Ring), Ruby Modine (serial Shameless), dan Charles Aitken (serial The Knick). Resepsinya ternyata cukup luar biasa. Berhasil menggeser Blade Runner 2049 dari tahta jawara box office Amerika Serikat dengan mengumpulkan US$ 32.6 juta di seluruh dunia dalam tempo tiga hari pertama pemutaran saja. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 17, 2017

The Jose Flash Review
Geostorm

Meski namanya cukup populer di genre disaster/sci-fi sebagai produser dan penulis naskah untuk judul-judul legendaris seperti Stargate, Independence Day, dan Godzilla, nama Dean Devlin ternyata selama ini belum pernah didapuk menyutradarai film layar lebar. Kesempatan besar itu baru menghampirinya lewat Geostorm, sebuah film disaster yang awalnya dipegang oleh Paramount lantas berpindah tangan ke Warner Bros.. Namun rupanya nama Devlin ditambah aktor Gerard Butler, Jim Sturgess, Abbie Cornish, Ed Harris, Andy Garcia, dan Daniel Wu belum cukup untuk membuat Warner Bros. percaya diri. Pertama kali diumumkan rilis Maret 2016, kemudian digeser ke Oktober 2016 dan digantikan Batman v Superman: Dawn of Justice. Penundaan kembali dilakukan ke Januari 2017 hingga akhirnya diputuskan Oktober 2017. Konon kabarnya Jerry Bruckheimer pun sempat turun tangan untuk melakukan syuting ulang yang cukup banyak di bawah komando Danny Cannon dari serial CSI selama dua minggu dan memakan dana tambahan sebanyak US$ 15 juta. Tanda-tanda buruk tapi bagaimanapun genre disaster yang sudah cukup lama absen di layar sinema dunia tetap mengundang rasa penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 15, 2017

The Jose Flash Review
Mereka yang Tak Terlihat

Kesuksesan film-film horor di tangga box office Indonesia tahun ini membuat jadwal bulan Oktober hingga akhir tahun 2017 ini didominasi oleh horor-horor dari berbagai PH. Skylar Pictures yang sebelumnya memproduksi Jinx, Surat Kecil untuk Tuhan (2011), Tebus, The Witness, dan Guardian, pun tak mau kalah. Kembali menunjuk salah satu sutradara/penulis naskah spesialis horor Indonesia, Billy Christian, setelah Rumah Malaikat yang diproduksi SAS Film (sister company Skylar Pictures), kali ini menghadirkan kemasan yang sedikit berbeda lewat Mereka yang Tak Terlihat (MyTT), yaitu memadukan horor dengan pendekatan lebih ke arah drama hubungan ibu-anak. Estelle Linden, bintang sinetron muda yang ternyata punya talenta lebih hingga pernah dipercaya menyutradarai dan memproduseri BFF (Best Friends Forever), juga film produksi SAS Film, pun dipercaya membantu penulisan naskah selain mengisi peran utama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
One Fine Day [2017]

Meski tergolong baru di ranah perfilman layar lebar nasional, geliat Screenplay Films tak kalah sukses dari pencapaian mereka di FTV. Tahun 2017 ini saja sudah ada lima film yang diproduksi, baik sendiri maupun bersama Legacy Pictures; Promise, London Love Story 2, Jailangkung, Kartini, dan yang baru saja rilis, One Fine Day (OFD). Dengan target audience remaja yang sudah terbangun dengan sangat kuat di tanah air, kesemuanya masuk dalam jajaran film terlaris tahun ini. Meski dari luar terkesan hanya sekedar modifikasi plot dan bongkar-pasang pemain, tetap saja ada daya tarik baru di tiap installment. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Day
[하루]

Tema time-loop sudah semakin banyak digunakan untuk berbagai kejadian dan genre film. Kuncinya selalu ada sesuatu yang dipecahkan untuk membuatnya layak (baca: bikin penasaran) untuk diulang-ulang. Misalnya untuk menemukan pelaku pemboman di Source Code, mencoba segala cara mengalahkan pasukan alien di The Edge of Tomorrow, menyadari apa yang selama ini kita lewatkan dalam hidup di Groundhog Day, atau mencegah sebuah kejadian tragis terjadi di Before I Fall. Korea Selatan sebagai salah satu industri film terbesar dan termaju di Asia tak mau kalah mempersembahkan film bertema time-loop dengan segala kekhasan mereka lewat A Day (AD). Disutradarai dan ditulis oleh Cho Sun-ho (penulis naskah Killer Toon) dimana ini merupakan debut penyutradaraan layar lebarnya, AD dibintangi Kim Myung-min dan Byeon Yo-han yang keduanya pernah kita lihat bersama di Six Flying Dragons, serta aktris cilik yang sempat memukau di The Handmaiden, Jo Eun-hyung. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, October 13, 2017

The Jose Flash Review
The Promise
[เพื่อนที่ระลึก]

Krisis finansial Tom Yum Kung yang melanda Thailand pada tahun 1997 lalu meninggalkan landmark yang masyhur hingga saat ini, Sathorn Unique Tower, bahkan hingga di luar Thailand. Menjadikan gedung setinggi 49 lantai yang terbengkalai ini kerap menjadi objek wisata, khususnya ‘wisata uji nyali’. Konon kabarnya, gedung tersebut sengaja dibiarkan terbengkalai sebagai monumen kegagalan ekonomi Thailand kala itu. Seperti gedung terbengkalai lainnya, Sathorn Unique Tower juga diwarnai cerita-cerita angker. Apalagi setelah akhir 2014 lalu seorang pria berwarga negara Swedia ditemukan tewas tergantung di lantai 43. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, October 12, 2017

The Jose Flash Review
Blade Runner 2049

Di genre sci-fi, Blade Runner (BR - 1982) menjadi salah satu pionir yang punya pengaruh besar terhadap perkembangan genre tersebut hingga masa kini. Diadaptasi bebas dari novel karya Philip K. Dick (yang kerap dianggap sebagai Bapak Sci-Fi), Do Androids Dream of Electric Sheep?, BR kala itu menyuguhkan visualisasi distopia Los Angeles di tahun 2019 dengan berbagai pernak-pernik futuristik yang menginspirasi serial Battlestar Galactica dan Ghost in the Shell. Perlu 35 tahun kemudian sekuelnya, Blade Runner 2049 (BR2049), dirilis. Padahal pengembangan sebuah sekuel sudah didengungkan Ridley sejak 2007 dengan berbagai ide pengembangan yang terus berubah-ubah dan akhirnya mengalami pembatalan. Tahun 2011 Ridley akhirnya secara resmi mengumumkan produksi meski baru bisa dimulai tahun 2013. Ridley sendiri akhirnya mundur sebagai sutradara (konon kabarnya lebih mengutamakan men-direct Alien: Covenant) tapi tetap duduk sebagai salah satu produser. Denis Villeneuve yang kita kenal lewat The Prisoners, Sicario, dan terakhir, Arrival, ditunjuk untuk duduk di bangku sutradara dengan kembalinya Hampton Fancher yang menyusun naskah film pertama, dibantu Michael Green (Logan dan upcoming, Murder on the Orient Express versi 2017). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Chef [2017]

Chef (2014) merupakan film ‘kejutan’ yang diproduksi, disutradarai, ditulis naskahnya, sekaligus dibintangi sendiri oleh Jon Favreau. Tergolong produksi ‘kecil’ (budgetnya ‘hanya’ US$ 11 juta) tapi punya ide yang menarik dan menggoda. Menggabungkan tema kuliner dengan father-and-son relationship sekaligus self-rediscovery. Tak salah jika kemudian menarik perhatian sinema Hindi yang dikenal suka mengadaptasi materi asing menjadi relevan dengan budaya setempat. Adalah Raja Menon (Airlift) yang memproduksi, menyutradarai, sekaligus menyusun naskahnya bersama Ritesh Shah dan Suresh Nair (keduanya pernah berkolaborasi untuk naskah Airlift, Kahaani, D-Day, Te3n, dan Kahaani 2). Aktor Dil Chahta Hai, Kal Ho Naa Ho, Omkara, Love Aaj Kal, dan Cocktail, Saif Ali Khan dipercaya mengisi karakter utama. Didukung pula oleh Padmapriya yang lebih dikenal di film-film berbahasa Telugu, Malayalam, dan Tamil, Ram Gopal Bajaj yang pernah mendukung The Myth-nya Jackie Chan dan terakhir kita lihat di Jolly LLB 2, serta aktor cilik pendatang baru, Svar Kamble yang pernah mendukung Chidiya (2016).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 9, 2017

The Jose Flash Review
My Little Pony The Movie

Bukan hal yang mengejutkan bahwa serial TV yang sukses akan hijrah ke layar lebar, tak terkecuali untuk serial animasi 2D tradisional. Adalah My Little Pony, serial TV yang populer di berbagai belahan dunia berdasarkan mainan produksi Hasbro sejak 1982. Sempat di-reboot mulai tahun 2010 dengan judul My Little Pony: Friendship is Magic, Hasbro (di bawah Allspark Pictures) bekerja sama dengan DHX Media dan Toon Boom Animation asal Kanada untuk membawanya ke layar lebar dengan judul My Little Pony The Movie (MLPTM). Selain Ashleigh Ball, Michelle Creber, Nicole Oliver, Andrea Libman, Tabitha St. Germain, Britt McKillip, Peter New, dan Tara Strong yang berasal dari serial aslinya, MLPTM juga dimeriahkan oleh voice talent populer seperti Emily Blunt, Taye Diggs, Michael Peña, Zoe Saldana, Liev Schreiber, hingga biduan, Sia. Tetap setia dengan format animasi 2D tradisional (yang berarti merupakan film layar lebar animasi 2D ketiga di era 2010-an setelah Winnie the Pooh (2011) dan The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)), MLPTM mencoba peruntungannya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Foreigner

Sepak terjang Jackie Chan di perpetaan film internasional terus berlanjut. Tak hanya Hollywood, kali ini ia ‘mencoba peruntungan’ di Inggris. Di bawah bendera Sparkle Roll Media miliknya, bekerja sama dengan dua raksasa perfilman Cina yang telah menancapkan investasi di Hollywood, Huayi Brothers Pictures dan Wanda Pictures, beserta PH non-major Hollywood, STX Entertainment, diproduksilah The Foreigner yang diangkat dari novel karya Stephen Leather, The Chinaman (pertama kali dipublikasikan tahun 1992). Orang-orang di belakangnya bukan sembarangan. Naskah adaptasinya dikerjakan oleh David Marconi (Enemy of the State), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Martin Campbell (GoldenEye, The Mask of Zorro, Casino Royale, dan Edge of Darkness). Mendampingi Jackie Chan, dipilihlah mantan Bond, Pierce Brosnan yang menandai kerjasama kedua dengan Campbell pasca GoldenEye. Didukung Rufus Jones, Charlie Murphy, Rory Fleck Byrne, dan Katie Leung.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 8, 2017

The Jose Flash Review
Merah Putih Memanggil

Kiprah Letnan Jenderal Purnawirawan T.B. Silalahi yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia dan Ketua Dewan  Pertimbangan Presiden Republik Indonesia, di ranah perfilman Indonesia makin mantap. Setelah sukses Toba Dreams di bawah bendera TB Silalahi Center, didirikanlah secara khusus TeBe Silalahi Pictures yang telah memproduksi Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon akhir 2016 silam. Tahun 2017 ini mereka menawarkan produksi terbarunya, Merah Putih Memanggil (MPM) yang sekaligus dianggap sebagai kado dari TNI untuk bangsa Indonesia, bertepatan dengan ulang tahun TNI ke-72 pada 5 Oktober. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Mirwan Suwarso (Susahnya Jadi Perawan, Golden Goal) dengan menggandeng aktor Maruli Tampubolon (Terjebak Nostalgia, Bukaan 8), Prisia Nasution, Mentari De Marelle, Ariyo Wahab, Restu Sinaga, Happy Salma, dan para prajurit TNI asli.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ruqyah: The Exorcism

Exorcism sudah menjadi sub-genre tersendiri di ranah film horor dunia. Apalagi tema pengusiran roh jahat ternyata dimiliki oleh berbagai kebudayaan yang berbeda-beda di seluruh dunia dengan kekhasannya tersendiri. Tak terkecuali dalam budaya Islam yang punya tradisi ruqyah. Tahun lalu Malaysia sempat mempopulerkan kembali tema exorcism dalam balutan horor religi, Munafik yang menjadi bahan pembicaraan di kalangan perfilman Asia, tak terkecuali di Indonesia yang diimpor oleh MD Pictures. Tahun ini rumah produksi yang sama mencoba menghadirkan tema sejenis di ranah perfilman Indonesia lewat salah satu anak perusahaannya yang sukses memproduksi Danur: I Can See Ghosts menjadi film terlaris tahun 2017 sampai tulisan ini diturunkan, Pichouse Films. Jose Poernomo yang lekat dengan image horor, bhkan beberapa di antaranya laris manis, seperti Jelangkung, Pulau Hantu, dan terakhir, Jailangkung, ditunjuk menjadi sutradara sekaligus penyusun naskah bersama Baskoro Adi (Jailangkung). Sementara untuk cast, digandenglah Evan Sanders (Kuntilanak), Celine Evangelista (pesinetron yang sempat tampil di layar lebar lewat Kutukan Suster Ngesot dan Misteri Hantu Selular), serta aktor yang lekat dengan image ustad, Alfie Alfandy.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jomblo [2017]

Jomblo yang diangkat dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya pernah menjadi film Indonesia box office tahun 2006 dan bahkan aktor-aktor utamanya; Ringgo Agus Rahman, Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, serta Christian Sugiono, begitu lekat dengan image geng ‘jomblo’. Sebelas tahun kemudian, ketika dirasa telah berganti generasi, Falcon Pictures mencoba membawa kembali kisah klasik ‘persahabatan versus asmara’, tentu saja dengan kemasan dan update perkembangan sosio-kultural sesuai dengan generasi kekinian. Hanung Bramantyo kembali mengisi bangku penyutradaraan dan Adhitya Mulya pun kembali meng-update versi novelnya sekaligus menyusun naskah versi filmnya bersama dengan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Di Balik 98). Ge Pamungkas, Richard Kyle, Deva Mahenra, dan Arie Kriting didapuk menjadi geng ‘jomblo’ yang baru. Didukung Natasha Rizky, Aurellie Moeremans, Indah Permatasari, dan Deswita Maharani yang makin menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, October 4, 2017

The Jose Flash Review
Judwaa 2
[जुड़वा 2]

Tema ‘kembar’ rupanya menjadi salah satu favorit sinema Hindi. Bahkan mungkin salah satu tantangan prestis bagi aktornya adalah memerankan karakter kembar. Salah satunya adalah Salman Khan di Judwaa (1997) yang  merupakan remake dari film Telugu, Hello Brother (1994) yang juga merupakan remake tak resmi dari film Jackie Chan, Twin Dragon. Disutradarai David Dhawan, Judwaa mencetak box office besar, tercatat sebagai terlaris ke-sembilan pada tahun tersebut. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 29, 2017

The Jose Flash Review
Pengabdi Setan (2017)

Tiap sutradara pasti punya satu (atau beberapa) film yang paling menginspirasi untuk bercita-cita menjadi seorang sutradara suatu hari. Bagi seorang Joko Anwar, salah satu sutradara Indonesia yang punya visi menarik, film itu adalah Pengabdi Setan (PS - 1980) yang juga berhasil mendapatkan gelar salah satu film horror Indonesia terseram sepanjang masa, bahkan popularitasnya tersohor sebagai film cult di berbagai negara. Setelah pendekatan selama bertahun-tahun, Joko akhirnya berhasil meyakinkan Rapi Films (yang juga memproduksi versi aslinya) untuk menggarap remake dari PS sesuai dengan visinya sendiri. Kemudian digandenglah sang muse, Tara Basro, aktor Malaysia, Bront Palarae, Endy Arfian (masih ingat mantan aktor cilik yang kita kenal lewat The Perfect House), Dimas Aditya, Arswendi Bening Swara (sebelumnya dikenal sebagai Arswendi Nasution), Egy Fedly, biduan asal Bali yang pernah terlibat di Under the Tree dan Soekarno, Ayu Laksmi, koreografer, Elly D. Luthan, (another) Joko’s muse, Fachri Albar, dan Asmara Abigail yang populer sejak Setan Jawa
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 27, 2017

The Jose Flash Review
Wind River

Selain sebagai aktor di serial Sons of Anarchy, nama Taylor Sheridan lebih dikenal sebagai penulis naskah Sicario (2015) yang disutradarai Denis Villeneuve, dilanjutkan Hell or High Water (2016) yang berhasil dinominasikan untuk empat kategori di Academy Awards, termasuk Best Motion Picture of the Year dan Best Original Screenplay. Meski daftar filmografinya sebagai penulis naskah belum panjang, reputasinya tergolong high profile dengan judul-judul tersebut. Namun kiprahnya sebagai sutradara masih baru Vile (2011) yang tergolong horror indie. Kesempatan menulis sekaligus mengarahkan proyek yang lebih high profile datang lewat Wind River (WR), drama thriller investigasi yang ternyata berdasarkan kejadian serta kondisi sosial nyata di sebuah lokasi reservasi suku Indian di Amerika Serikat. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Mimic
[장산범]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 24, 2017

The Jose Flash Review
Serpent

Di sub-genre creature horror/thriller, ular termasuk salah satu yang sering diangkat. Sayangnya, kebanyakan tergolong film kelas B. Mungkin hanya franchise Anaconda dan Snake on a Plane yang terasa punya profil lebih tinggi dari kebanyakan. Tahun 2017 ini CBI Pictures membawa masuk Serpent, film asal Afrika Selatan tentang ular black mamba di hutan pedalaman Afrika yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Amanda Evans yang memenangkan Nightfall Award di Los Angeles Film Festival. Meski tergolong indie, Serpent agaknya punya daya tarik tersendiri daripada sekedar film kelas B lainnya. Setidaknya ada Tom Ainsley yang dikenal lewat serial The Royals dan film DTV, Jarhead 3: The Siege, serta Sarah Dumont (Don Jon, Scouts Guide to the Zombie Apocalypse, dan juga serial The Royals.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The LEGO Ninjago Movie

Kesuksesan The LEGO Movie (TLM - 2014) dan The LEGO Batman Movie (TLBM - 2017) baik secara angka box office maupun resepsi kritikus membuat Warner Bros. makin percaya diri untuk terus mengembangkan franchise ini bersama Lin Pictures, Vertigo Entertainment, dan studio animasi, Animal Logic. Installment ketiga dipilih The LEGO Ninjago Movie (TLNM) yang merupakan franchise orisinil LEGO dari mainan kepingan-kepingan blok LEGO. Pernah dikembangkan menjadi serial di channel Cartoon Network dan video game, wajar jika franchise ini sudah layak mendapatkan film layar lebarnya sendiri. Meski harus diakui pilihan ini cukup beresiko mengingat LEGO Ninjago belum menjadi franchise yang benar-benar dikenal luas seperti halnya Batman. Bangku penuyutradaraan kali ini dipercayakan kepada Charlie Bean, Paul Fisher, dan Bob Logan yang masing-masing punya pengalaman lebih dari cukup di proyek animasi. Daya tariknya makin bertambah dengan keterlibatan Jackie Chan yang tak hanya menjadi voice talent, tapi juga tampil secara live action. Masih ditambah Dave Franco, Kumail Nanjiani, Michael Peña, Olivia Munn, dan Justin Theroux. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 22, 2017

The Jose Flash Review
Kingsman: The Golden Circle

Di antara banyaknya tokoh agen rahasia, tak banyak yang berhasil menjadi ikon. Apa yang dicapai Kingsman: The Secret Service (2015), berdasarkan komik berseri karya Mark Millar dan Dave Gibbons yang diterbitkan Icon Comics sejak tahun 2012, ini tergolong istimewa. Film pertama saja sudah berhasil menarik perhatian penonton hingga pendapatannya mencapai US$ 414.4 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo hingga 23 Juni 2015). Dengan kemasan yang serba fresh, dinamis, kekerasan brutal dan berdarah-darah, dan humor bereferensi pada budaya pop, tentu dengan mudah ia mencuri perhatian secara instan. Bahkan gaya dandanan gentleman a la bangsawan Inggris pun lantas menjadi trend di mana-mana. Ini menandakan kans untuk terus mengembangkannya sebagai franchise sangat besar sekali. Tahun 2017 ini dengan tim yang kurang lebih sama, termasuk aktor Taron Egerton, Mark Strong, bahkan kembalinya Colin Firth yang sempat dimatikan di film pertama, sutradara Matthew Vaughn, hingga penulis naskah Jane Goldman dan Vaughn sendiri. Selain dari itu, tentu saja ada penambahan tokoh-tokoh baru yang diperankan oleh aktor-aktris populer untuk menambah daya tarik installment bertajuk Kingsman: The Golden Circle (KTGC) ini. Mulai Channing Tatum, Halle Berry, Jeff Bridges, Pedro Pascal, Julianne Moore, hingga Sir Elton John! Well, the more the merrier, eh?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates