Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Monday, May 22, 2017

The Jose Flash Review
Ziarah

Selain industri film nasional yang meski belum punya pondasi sistem yang kuat tapi setidaknya cukup ‘hidup’, Indonesia ternyata punya ‘industri’ film-film daerah yang tak kalah punya massa, setidaknya di region masing-masing. Ada film Makassar yang sedang berkembang cukup menggembirakan dengan hasil box office yang tergolong fantastis bahkan untuk ukuran peredaran nasional (meski sebagian besar pendapatannya berasal dari daerah sendiri), ada juga perfilman Yogyakarta yang memilih style ‘alternatif’ yang cenderung mengarah ke gaya art-house alternatif internasional. Dengan sering diikut-sertakannya ke festival-festival film internasional yang lebih bersifat arthouse, mungkin ada alasan mengapa form seperti itu yang mereka pilih. Toh jika punya pencapaian internasional, setidaknya bisa menjadi modal promosi yang cost-nya tak perlu terlalu tinggi dan lebih mudah meyakinkan jaringan bioskop untuk memutar di layar-layarnya. Media pun akan berbondong-bondong meliput tanpa dibayar. Beberapa tahun terakhir ‘industri’ (atau mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai ‘komunitas’) film Yogyakarta menjadi perhatian karena prestasinya. FFI sebagai ajang penghargaan film nasional tertinggi pun mengapresiasinya dengan menganugerahkan Siti karya Eddie Cahyono, sebagai Film Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Penata music Terbaik di FFI 2015 silam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 17, 2017

The Jose Flash Review
The Autopsy of Jane Doe


Horror mungkin adalah genre yang paling sering dibuat selain drama. Tak hanya yang digarap dengan budget ‘layak’, tapi juga film-film horror low budget dan indie yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Tentu kualitas film-film horror low budget dan indie lebih banyak yang mengecewakan, tapi once in a while selalu ada saja hidden gem yang layak simak. Bahkan mungkin menjadi cult movie yang legendaris. The Autopsy of Jane Doe (TaoJD) bisa jadi salah satunya. Debut film berbahasa Inggris pertama dari sutradara Norwegia, André Øvredal (Trollhunter) ini memanfaatkan keterbatasan ruang untuk menjadi panggung horror yang efektivitasnya maksimal. Dari naskah racikan Ian Goldberg (penulis beberapa episode serial-serial populer seperti Once Upon A Time, Criminal Minds,  dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles) dan Richard Naing (ia dan Gold pernah bekerja sama untuk naskah Dead of Summer), pemilihan cast-nya pun bukan aktor-aktris tak dikenal. Ada aktor veteran yang pernah memerankan sosok Hannibal Lecter sebelum Anthony Hopkins di Manhunter (1986) dan membintangi sejumlah proyek blockbuster, di antaranya di dua installment Jason Bourne dan X-Men 2, Brian Cox, Emile Hirsch yang kita kenal lewat komedi remaja, The Girl Next Door dan biopic Christopher McCandless, Into the Wild, Ophelia Lovibond (Carina di Guardians of the Galaxy), serta pendatang baru yang tak boleh diremehkan, Olwen Catherine Kelly, sebagai sosok Sang Jane Doe. Dengan pujian dari salah satu master of horror, Stephen King, yang menyebutnya sebagai visceral horror, menandingi Alien dan film-film awal Cronenberg, daya tarik TAoJD menjadi semakin berlipat-lipat. Terbukti juga dari sambutan penonton ketika diputar perdana di Toronto Internasional Film Festival, September 2016 lalu.

Tommy Tilden adalah seorang petugas otopsi di sebuah rumah jenazah kota kecil yang diasistensi oleh putranya sendiri, Austin. Suatu malam Austin membatalkan janji kencannya dengan sang kekasih, Emma, setelah kedatangan sesosok mayat gadis muda yang dibawa oleh opsir polisi. Mayat tanpa identitas (maka kemudian disebut sebagai Jane Doe) ini ditemukan di lokasi tanpa ada tanda-tanda pendobrakan rumah dengan ciri-ciri fisik antara sudah mati lama dan masih baru. Tommy dan Austin yang penasaran melakukan pemeriksaan lebih jauh. Upaya mereka selalu digagalkan oleh berbagai serangan teror misterius, termasuk badai dadakan yang membuat mereka tak bisa keluar dari rumah. Keadaan semakin mencekam seiring dengan selubung misteri yang sedikit demi sedikit terkuak meski hanya sejauh dugaan-dugaan saja.

Dari selubung terluar, TAoJD mungkin hanya sekedar horror claustrophobic sederhana, terutama karena setting yang hanya satu dan karakter yang totalnya bisa dihitung dengan jari. Namun ia punya daya tarik yang cukup banyak. Pertama, ia menggabungkan elemen science (medis) dan klenik yang bersinergi membangun rasa penasaran penonton. Tak perlu takut merasa awam di kedua elemen ini, karena ia menjelaskannya dengan cukup jelas bagi penonton terawam sekalipun. Justru penggunaannya membuat penonton semakin penasaran, sama seperti ketika mengikuti proses kerja para petugas forensik di serial CSI. Naskah membangun sekaligus membuka selubung misteri dengan efektif dan timing yang pas. Kemudian masih ada koneksi yang cukup atas karakter ayah-anak, Tommy dan Austin, yang lebih dari cukup sebagai emotional investment di klimaksnya. Pada akhirnya memang tak ada kepastian jawaban atas misteri yang disodorkan. Hanya sebatas penemuan dan analisis yang dicapai oleh karakter utama saja. Ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan penonton akan penjelasan, dengan masih menyisakan misteri untuk dianalisis oleh penonton. Tak lupa pula pembangunan atmosfer ketegangan serta kengerian yang tak kalah berhasilnya (malah menjadi salah satu pilar kesuksesan TAoJD sebagai film horror) berkat sense kuat Øvredal, sinematografi Roman Osin (Pride & Prejudice dan Mr. Magorium’s Wonder Emporium) yang mampu memanfaatkan ruang sempit menjadi sajian horror yang tidak monoton, justru menjadi keuntungan tersendiri, editing Peter Gvozdas (The Purge) dan Patrick Larsgaard (Trollhunter dan Kon-Tiki) yang tahu betul tiap momentumnya secara tepat, serta music scoring Danny Bensi dan Saunder Juriaans (Enemy dan The Gift) yang memperpekat suasana eerie sekaligus ketegangan. 

Brian Cox tampil dengan kharisma kebapakan dan kepintaran yang pas memerankan sosok Tommy. Chemistry ayah-anak yang dibangunnya bersama Emile Hirsch pun tergolong meyakinkan dan menjadi emotional emotion yang cukup pada momennya. Hirsch sendiri mungkin tampil sebagai tipikal sosok pemuda di film horror, tapi setidaknya ia masih membawakan keseimbangan antara karakter (agak) ‘joker’ dan keseriusan dengan layak. Ophelia Lovibond mungkin tak punya porsi yang cukup banyak dan penting, tapi kehadirannya di tengah jumlah karakter yang minim cukup memberikan daya tarik tersendiri. Terakhir, tentu tak boleh lupa memberikan kredit kepada Olwen Catherine Kelly yang menjadi sumber kengerian yang ada. Di balik ekspresi yang diam dan membujur kaku sepanjang film, ia berhasil menjadi sosok misterius yang mengerikan.

TAoJD mungkin memang tampak sebagai sebuah horror kecil yang serba sederhana. Tak pula ada inovasi-inovasi penting di genre horror. Namun racikan antara medical science dan klenik yang sama-sama bikin penasaran, dengan penataan serta timing yang tepat, pembangunan atmosfer eerie yang berhasil, serta emotional investment yang cukup, ia masih berhasil menjadi film horror yang memorable. Setidaknya Anda tak akan merasa sama lagi tiap kali mendengar lagu populer,  Open Up Your Heart (And Let the Sunshine In)

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
King Arthur:
Legend of the Sword


King Arthur dan berbagai atributnya sudah menjadi legenda yang dikenal di seluruh penjuru dunia. Batas antara sejarah dan legenda pun semakin kabur dengan diperkenalkannya berbagai versi, terutama versi Geoffrey of Monmouth, Historia Regum Britanniae di abad ke-12 yang memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Uther Pendragon, penyihir Merlin, sang istri, Guinevere, pedang Excalibur. Selain itu ada pula versi penulis Perancis, Chrétien de Troyes yang memasukkan karakter Lancelot dan legenda Holy Grail serta Knights of the Round Table yang memulai genre baru yang diberi nama roman Arthurian. Dengan versi yang berbeda-beda, tak heran jika kemudian muncul berbagai versi dengan modifikasi dan tambal-sulam di sana-sini. Apalagi memang tak ada bukti sejarah otentik tentang keberadaan legenda King Arthur yang sebenarnya membuat siapa saja bebas menginterpretasi maupun memodifikasi kisahnya. Tak hanya untuk literatur, tapi juga drama panggung dan tentu saja, film. Di era 2000-an, ada King Arthur (2004) versi Antoine Fuqua yang mengedepankan sisi akurasi historis ketimbang fantasi, The Last Legion (2007) yang ‘mempertemukan’ King Arthur dengan legenda Kerajaan Romawi era Romulus Augustulus, mini seri Merlin (2008) produksi BBC One, dan Camelot (2011) produksi stasiun TV berbayar, Starz.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Critical Eleven

Adaptasi novel masih menjadi salah satu pilihan utama untuk produksi film layar lebar, tak terkecuali di Indonesia. Di tengah dominasi novel remaja yang memang masih merupakan pasar terbesar, sesekali ada pula novel (roman) dewasa yang berhasil menggaet penggemar tak kalah banyak. Salah satu yang terdepan adalah Critical Eleven (CE) karya Ika Natassa yang pertama kali rilis tahun 2015. Tak hanya menjadi best seller, CE yang mengangkat tema mature relationship, pernikahan, dan kehilangan juga menjadi fenomena tersendiri di ranah literatur Indonesia. Potensi besar ditambah target audience spesifik yang masih jarang ‘dijamah’, StarVision dan Legacy Pictures sama-sama tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan kelebihan produksi masing-masing, pilihan keduanya untuk bekerja sama, dengan melibatkan nama-nama jaminan mutu, mulai penulisan naskah yang disusun oleh Ika sendiri bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi), Monty Tiwa, dan Robert Ronny (kedua nama terakhir merangkap sutradara), pemilihan pasangan Reza Rahadian-Adinia Wirasti untuk ketiga kalinya (setelah Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin?), serta cast lainnya yang tak kalah populer, CE versi layar lebar bak dikerjakan oleh the dream team. Namun kepuasan fanbase yang jumlahnya begitu banyak lah yang akhirnya menentukan keberhasilannya kelak, di balik kemustahilan untuk menuangkan semua part di novel ke dalam film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 8, 2017

The Jose Flash Review
Siam Square
[สยามสแควร์ ]


Di mata internasional, Asia memang kaya akan urban legend mistis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu negara produsen yang paling produktif untuk tema ini adalah Thailand. Tahun 2017 ini Sahamongkol Film, salah satu PH Thailand yang banyak melahirkan film-film populer di kancah internasional, termasuk The Legend of Suriyothai, Love of Siam, dan seri Ong-Bak, memproduksi sebuah horror fiktif yang membahas salah satu kawasan paling populer di Bangkok (disebut-sebut sebagai Shibuya-nya Bangkok), Siam Square (SS). Pairach Khumwan yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer untuk film 36 (2012), Mary is Happy, Marry is Happy (2013), dan Hand in the Glove  (2015), serta pernah menyutradarai salah satu segmen berjudul Samet di omnibus Love, Not Yet (2011), dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. SS juga didukung banyak bintang muda yang menyemarakkan film, seperti model dan bintang TV yang akan membintangi film thriller Bad Genius, Eisaya Hosuwan, Peem Thanabodee (serial Hormones dan Halfworlds), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13 Rak Kan Ja Thai dan #Grace), Morakot Liu (Heart Attack), dan Ploy Sornarin (Single Lady).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 6, 2017

The Jose Flash Review
Free Fire

Reservoir Dogs (RD) dari Quentin Tarantino yang rilis tahun 1992 memberikan angin segar di genre crime dan tema mafia yang sebelumnya dibuat bak biopic seperti yang yang dilakukan The Godfather, Scarface, dan The Untouchables. Fokus cerita dipersempit menjadi satu kejadian fucked-up dengan bumbu komedi di sela-sela kesadisan, menjadikan tema crime lebih menghibur. Ketika Tarantino kemudian mencoba berbagai pendekatan lain yang variatif di film-film selanjutnya, Guy Ritchie dari Inggris muncul dengan berbagai elemen-elemen dasar dari RD, ditambah storytelling dan visual style khas yang ia ciptakan sendiri lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrels (LSTSB - 1998), disusul Snatch (2000), Revolver (2005), dan RocknRolla (2008). Bahkan ketika dipercaya menangani proyek-proyek yang lebih major, seperti Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E., style-style khasnya masih dipertahankan meski banyak juga yang berkompromi dengan selera mainstream. Sesekali style-style khas Ritchie ini coba di-copy dan dimodif di sana-sini, seperti pada Smokin’ Aces (2006) dan Shoot ‘Em Up (2007). Hasilnya sama sekali tak buruk, justru berkali-kali terbukti berhasil ‘mengangkat’ film aksi menjadi lebih bergaya dengan energi oktan tinggi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 5, 2017

The Jose Flash Review
Unlocked


Espionage dan kick-ass chick selalu menjadi paduan yang menarik perhatian. Whether you’re a male or a female, aksi keren dari wanita cantik dan seksi dengan mudah menjadi eye-candy, bukan? Along with the male, kehadiran female agent pun sudah banyak yang memorable. Let’s say La Femme Nikita, Salt, Haywire, Colombiana, dan Hanna. Effort terbaru adalah Unlocked yang mengedepankan aktris Noomi Rapace (franchise The Girl with the Dragon Tattoo versi orisinil dan Prometheus) sebagai sosok kick-ass chick. Diproduksi Lorenzo di Bonaventura (mantan eksekutif Warner Bros. yang menemukan franchise The Matrix dan berjasa atas pembelian franchise Harry Potter, tapi juga berada di balik franchise Transformers ketika PH-nya berada di bawah bendera Paramount Pictures), Unlocked didasarkan dari naskah 2008 Blacklist karya Peter O’Brien (game Halo: Reach). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Michael Apted yang punya track record bagus di genre action, seperti The World is Not Enough, Enough, The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, dan Chasing Mavericks. Selain Rapace, Unlocked didukung pula oleh Orlando Bloom, Toni Collette, Michael Douglas, dan John Malkovich. Nama-nama ini tentu membuat Unlocked layak dilirik kendati statusnya yang bukan termasuk proyek major.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 3, 2017

The Jose Flash Review
The Circle

‘Horror’ masa depan yang disebabkan oleh teknologi sudah sejak lama menjadi topik dalam film. Bahkan mungkin sejak ‘bapak’ dari segala film sci-fi, Metropolis (1927). Setelah era internet, ‘horor’ teknologi menjadi semakin spesifik. Secara umum, ‘momok’ utamanya kurang lebih sama, yaitu ruang privasi yang makin terkikis. Kini dengan maraknya media sosial dengan layanan yang makin beragam dan menjangkau berbagai sendi kehidupan, apa yang digambarkan, let’s say, di Antitrust (2001) atau Transcendence (2014) semakin mendekati kenyataan. Ironisnya, ‘momok’ yang menghantui ketika film tersebut pertama kali muncul sudah menjadi tak lagi mengerikan ketika sudah menjadi kenyataan. Kini ketika trend teknologi bergeser ke era Snapchat, diikuti InstaStory, apa yang digambarkan di novel The Circle karya Dave Eggers yang dirilis pertama kali tahun 2013, seharusnya menjadi ‘momok’ yang relevan. James Ponsoldt (The Spectacular Now) tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Diproduseri Anthony Bregman lewat Likely Story dan Tom Hanks lewat Playtone, The Circle mendapatkan pembiayaan penuh dari Image Nation Abu Dhabi. Selain Tom Hanks yang juga turut mengisi peran, aktris muda yang dikenal lewat franchise Harry Potter dan baru-baru ini, Beauty and the Beast, Emma Watson, aktor kulit hitam yang populer lewat Star Wars: The Force Awakens, John Boyega, Patton Oswalt, serta mendiang Bill Paxton yang mana merupakan penampilan terakhirnya di film sebelum meninggal dunia 25 Februari 2017 silam. Dengan budget yang ‘hanya’ US$ 18 juta padahal harus meng-create desain produksi futuristik, jelas The Circle bukanlah proyek raksasa yang ambisius. Namun bukan berarti tidak bisa jadi menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 30, 2017

The Jose Flash Review
Be Afraid

Film horror dengan pendekatan family drama akhir-akhir ini agaknya menjadi trend. Most notably franchise Insidious dan The Conjuring. Satu lagi film horror supranatural yang mencoba menggunakan pendekatan family drama dirilis di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia. Disutradarai oleh Drew Gabreski yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sinematografer, dari naskah yang disusun Gerald Nott, Be Afraid (BA) mencoba menarik perhatian lewat misteri di balik fenomena sleep paralyzed atau di budaya kita dikenal sebagai ‘ketindihan’.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Seteru

Di peta perfilman Indonesia, nama Hanung Bramantyo seolah sudah menjadi semacam jaminan mutu. Tak hanya menangani proyek-proyek komersial yang ambisius dari PH-PH besar dan karya-karya idealis yang kerap diselipi kegundahan-kegundahan personal, Hanung bersama Dapur Film-nya tak  menolak tawaran proyek-proyek daerah maupun instansi tertentu. Di tangan Hanung (dan tim Dapur Film-nya), proyek-proyek yang kerap dianggap sebagai ‘pesanan’ tersebut terbukti menjadi karya yang tetap tergarap serius, baik dari segi penyusunan naskah, konsep, sampai teknis eksekusi. Pengejar Angin (2011 - Hanung sebagai produser sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Hestu Saputra) dan Gending Sriwijaya (2013) menjadi salah satu buktinya. Di tahun 2017 dimana hanya berselang seminggu dari perilisan film biopic ambisius-nya, Kartini, Hanung juga merilis Seteru, sebuah drama aksi remaja yang bertujuan mengkampanyekan program Bela Negara dari Kementrian Pertahanan. Dibantu oleh Senoaji Julius (asisten sutradara Hanung di Kartini yang pernah menangani Turis Romantis) sebagai co-director, Seteru didukung pula oleh aktor senior, Mathias Muchus, Alfie Alfandy (Hijrah Cinta), serta aktor-aktris muda pendatang baru yang potensial, seperti Bio One (Sule Ay Need You), Yusuf Mahardika, atlet renang peraih medali emas di SEA Games 2013 dan medali perunggu di SEA Games 2015, Triady Fauzi Sidiq, serta atlet timnas voli di SEA Games 2013, Yolla Yuliana.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surau dan Silek

Dibandingkan untuk audience remaja dan dewasa, film anak Indonesia agaknya masih tergolong sangat jarang. Apalagi yang digarap dengan baik. Bagi penonton awam mungkin masih ada Petualangan Sherina dan seri Laskar Pelangi yang paling diingat. Sementara untuk kalangan yang lebih terbatas, ada Cita-Cita Setinggi Tanah yang cukup memorable hingga saat ini. Mungkin keterbatasan itu pula yang menggugah Arief Malinmudo membuat film anak-anak sebagai karya untuk meraih gelar S2 di program Pascasarjana Institut Seni Indonesia, Surakarta. Berkat film anak bertajuk Surau & Silek (SS), ia menjadi lulusan cum laude. Selain pemain-pemain cilik pendatang baru, SS juga didukung oleh aktris senior, Dewi Irawan, seniman teater Sumatra Barat, Yusril Katir, aktor dan presenter, Gilang Dirga (Rumah Kentang, 308), serta Dato’ A Tamimi Arman yang merupakan mantan Menteri Kebudayaan, Seni, dan Warisan Malaysia, yang saat ini menjadi salah satu penasihat pemerintahan Malaysia sekaligus Ketua YIRMI (Yayasan Ikatan Rakyat Indonesia Malaysia). Meski merupakan karya tugas akhir dan tergolong film daerah (yaitu dari Minangkabau), SS jelas punya daya tarik yang tak main-main. Setidaknya jika menargetkan penonton asal Minangkabau (yang notabene banyak sekali tersebar di seluruh penjuru negeri) saja, SS punya potensi untuk meraih kesuksesan secara komersial. Selain tentu saja, sebagai upayanya melestarikan budaya serta kearifan lokal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Baahubali 2: The Conclusion

Masyarakat awam internasional, tak terkecuali Indonesia, mungkin hanya mengenal industri film India sebagai Bollywood. Padahal selain Bollywood yang berpusat di India Utara, masih ada industri film lainnya di bagian Selatan India yang juga berpengaruh, yaitu Telugu (disebut Tollywood), Tamil (Kollywood), Malayalam (Mollywood), Kannada (Sandalwood), dan Tulu (Coastalwood). Masing-masing punya ciri khas dan bahasa daerah sendiri. Meski Bollywood masih menguasai pasar, tak sedikit produksi Tollywood yang berhasil menembus pasar nasional, bahkan internasional. Sering pula film Tollywood yang di-remake oleh Bollywood. Fasilitas produksi film di Tollywood pun sudah memegang rekor Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia dan pusatnya, Hyperabad, punya layar IMAX 3D yang menjadi salah satu terbesar di dunia. Seringkali penonton awam cenderung menyamaratakan produksi film India dengan sebutan Bollywood. Misalnya saja cuplikan adegan-adegan film yang non-sensical sebagai bahan becandaan (meme) yang sebenarnya banyak berasal dari Tollywood, bukan Bollywood. Benar, salah satu ciri khas produksi Tollywood adalah adegan-adegan (biasanya aksi) yang non-sensical. Seringkali menggelikan memang, tapi harus diakui, inovatif dan kerap menginspirasi adegan-adegan fantastikal lainnya di berbagai industri film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 27, 2017

The Jose Flash Review
Guardians of the Galaxy Vol. 2


Meski baru punya satu installment di Marvel Cinematic Universe (MCU) dan belum sepopuler superhero-superhero The Avengers, Guardians of the Galaxy (GotG) ternyata mampu menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya fans komiknya, tapi juga mengundang fans-fans baru berkat keunikan formulanya. Petualangan luar angkasa bak gabungan Star Trek dan Star Wars dengan bumbu musik-musik populer era 70-80’an yang membuat adegan-adegan aksinya terasa lebih groovy. Kelanjutan franchise-nya sebagai bagian dari MCU sudah bisa dengan mudah dipastikan. Spekulasi selanjutnya adalah bagaimana kisah GotG bersimpangan dengan timeline The Avengers. Maka sekuelnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 (GotGV2) yang masih didukung oleh hampir semua cast dan crew dari film pertamanya ditambah aktor-aktris, membuatnya makin ditunggu-tunggu. Tak ketinggalan tracklist soundtrack di installment ini yang sudah menjadi salah satu perhatian utama penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 26, 2017

The Jose Flash Review
Stip & Pensil

Sukses lewat Ngenest dan Cek Toko Sebelah membuat Ernest Prakasa semakin keranjingan berkecimpung di layar lebar. Proyek berikutnya adalah sebuah komedi satir remaja yang diproduksi oleh MD Pictures dan naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Speaking of satire comedy, tentu reputasi Joko tak perlu diragukan lagi. Arisan! menjadi salah satu buktinya. Namun untuk ‘menyesuaikan’ dengan selera humor remaja kekinian, sejalan dengan setting cerita, Ernest sendiri, dibantu Beno Raja Gukguk dan Arie Kriting ikut men-develop naskah Joko tersebut, terutama untuk guyonan-guyonannya. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Ardy Octaviand yang cukup berpengalaman di genrenya, seperti Coklat Stroberi dan 3 Dara. Barisan cast-nya pun menarik. Mulai Ernest sendiri (iya, dia ‘kembali’ ke bangku sekolah di sini!), Tatjana Saphira, Indah Permatasari, dan komika yang akhirnya mendapat giliran berakting di layar lebar, Ardit Erwandha. Mengusung judul Stip & Pensil (S&P) yang begitu dekat dengan dunia pendidikan, ia mencoba menyentil banyak pihak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 23, 2017

The Jose Flash Review
The Last Word

Kisah persahabatan lintas generasi yang justru membuat masing-masing menemukan diri sendiri termasuk sering diangkat. Mulai era Harold & Maude (1971) hingga yang terakhir yang meninggalkan kesan cukup mendalam, The Intern (2015). Belum lagi dengan embel-embel romance seperti An Education (2009) dan karya klasik Bertolucci, Last Tango in Paris (1972). Sutradara Mark Pellington (Arlington Road, The Mothman Prophecy) pun tahun 2017 ini mencoba memasangkan aktris senior, Shirley MacLaine (The Apartment, Terms of Endearment) dengan Amanda Seyfried (Mamma Mia, Les Miserables), dari naskah yang disusun oleh Stuart Ross Fink. The Last Word (TLW) mungkin memang sebuah film kecil tapi menjadi sajian persahabatan dan self-discovery yang menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 21, 2017

The Jose Flash Review
Kartini

Di antara pahlawan-pahlawan nasional terutama yang wanita, nama R. A. Kartini hingga kini masih berada pada jajaran lini terdepan. Bahkan punya hari nasional khusus yang diperingati tiap tahun. Namun untuk popularitas sebesar itu, sosok Kartini bagi kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya dikenal sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita yang punya buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tak banyak yang tahu seperti apa perjuangan yang ia lakukan sebenarnya. Pun juga tak banyak yang tertarik mengangkat kisah hidupnya dalam medium audio-visual. Mungkin ada kebingungan seperti apa bentuk penyampaiannya atau bagaimana memilih range waktu yang tepat untuk merangkum perjuangannya. Mungkin juga faktor tak ada bentuk ‘perang’ yang bisa ditampilkan secara kongkret, yang bisa menambah nilai sisi hiburan dan menghindarkan dari drama yang kelewat serius atau depresif sesuai kondisi eranya. Tahun lalu MNC Pictures sempat mencoba mengangkatnya lewat karakter fiktif sebagai penggerak cerita dengan Surat Cinta untuk Kartini. Sayang, mungkin momentum rilis yang kurang tepat, promosi yang kurang, dan hasil akhir yang banyak dinilai kritikus kurang memuaskan, membuatnya kurang banyak menyita perhatian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 20, 2017

The Jose Flash Review
Lavender


Jane, seorang fotografer wanita, seorang istri dan ibu satu putri, mulai mengalami halusinasi yang mungkin merupakan kepingan-kepingan petunjuk atas apa yang dilaluinya ketika masih kecil, setelah mengalami kecelakaan mobil tunggal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 18, 2017

The Jose Flash Review
The Neighbor

John bekerja untuk bos mafia besar di Cutter, kota kecil di Mississippi. Tugasnya hanya mengganti plat nomor mobil para kurir yang mengantar narkoba. Berniat meninggalkan dunia hitam selama-lamanya, ia dan sang istri, Rosie, memutuskan untuk berhenti setelah uang mereka terkumpul cukup. Sehari sebelum pekerjaan terakhir, mereka berdua kedatangan tetangga yang misterius, Troy. Perkenalan yang canggung tersebut membuat Rosie semakin curiga tentang sosok Troy. Hingga hari H rencana kabur dilancarkan, John menemukan Rosie hilang dari rumahnya. Maka John nekad masuk ke rumah Troy. Tak hanya Rosie, ia juga menemukan rahasia lain dari Troy. Permainan hide-and-seek yang mendebarkan pun dimulai.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 16, 2017

The Jose Flash Review
Aftermath

Meski sudah terlanjur lekat dengan image action hero, Arnold Schwarzenegger sesekali mengambil peran yang lebih serius di genre luar action. Setelah tahun 2015 lalu ‘tampil serius’ di drama zombie bertajuk Maggie, tahun ini ia kembali mencoba peran drama di film yang terinspirasi dari kejadian nyata tabrakan antara pesawat Bashkirian Airlines Flight 2937 dan pesawat kargo DHL Flight 611 di langit Überlingen, Jerman tahun 2002 silam. Diproduseri oleh Darren Aronofski, naskah film bertajuk Aftermath ini disusun oleh Javier Gullón yang dikenal lewat adaptasi Enemy (disutradarai Denis Villeneuve – 2013), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Elliott Lester (Blitz yang dibintangi Jason Statham – 2011). Selain Schwarzenegger, Aftermath didukung pula oleh Maggie Grace (trilogi Taken), Scoot McNairy (Batman v Superman: Dawn of Justice, 12 Years a Slave, dan Argo), dan Kevin Zegers (masih ingat Josh Framm di Air Bud?).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 14, 2017

The Jose Flash Review
The Guys

Selepas tak ada lagi materi dari novelnya yang diangkat ke layar lebar, Raditya Dika menjadi bebas untuk mengeksplor ide-ide di luar ranah yang membesarkan namanya. Setelah bermain-main dengan komedi absurd nonsensical di Hangout, ia menawarkan racikan berbagai elemen ‘hati’ ke dalam satu adonan untuk proyek keduanya bersama Soraya Intercine Film setelah Single yang menyentuh angka 1.3 juta penonton lebih. Konon kesuksesan ini membuat Soraya berani mengontrak Dika untuk beberapa film sekaligus. Namun dengan pengumuman akan vakum sementara setelah The Guys dan eksplorasi yang dilakukannya dari film ke film selama ini, come back Dika nantinya jadi sesuatu yang layak untuk ditunggu-tunggu. Meanwhile, kita nikmati dulu suguhan teranyarnya, The Guys yang didukung Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Tarsan, sampai Widyawati Sophiaan. Tak ketinggalan Pongsiree Bunluewong atau Pukaii, mantan atlet berkuda yang mendapatkan peran melalui audisi, dan bintang tamu aktris Thailand terkenal, Beifern Pimchanok yang di sini dikenal lewat Crazy Little Thing Called Love. Pemilihan aktor-aktris ini tentu sudah menjadi daya tarik tersendiri, selain tentu saja eksplorasi seperti apa yang ditawarkan Dika kali ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 13, 2017

The Jose Flash Review
Fast & Furious 8
[The Fate of the Furious]

Tak perlu diragukan lagi, franchise Fast and Furious (FF) sudah menjelma menjadi brand jaminan mutu berkat penggalian pengembangan cerita yang meski sudah semakin melebar ke mana-mana tapi punya relevansi dengan titik awal serta tentu saja inovasi-inovasi sekuens spektakel yang justru menjadi alasan utama penonton selalu rela berbondong-bondong ketika installment terbarunya rilis. Sudah sampai installment ke-delapan tapi masih belum menunjukkan tanda-tanda kehabisan energi. Justru dengan tambahan karakter di tiap installment membuat seri-seri FF makin meriah. Naskahnya masih dikerjakan oleh Chris Morgan (penulis naskah franchise FF sejak The Fast and the Furious: Tokyo Drift - 2006), sementara bangku penyutradaraan kali ini dipercayakan kepada F. Gary Gray (A Man Apart, The Italian Job, Be Cool, dan Straight Outta Compton) yang menjadi sutradara kulit hitam kedua di franchise FF (yang pertama John Singleton di 2 Fast 2 Furious). Aktor-aktris lini terdepan kembali hadir, ditambah kembalinya karakter-karakter yang sempat absen, dan tentu saja karakter-karakter baru yang makin menambah kemeriahan installment yang diberi tajuk The Fate of the Furious di negara asalnya (Fast and Furious 8 – FF8 - di beberapa negara lain).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 9, 2017

The Jose Flash Review
Miss Sloane

Politik dan court drama bukanlah genre yang populer. Selain temanya yang cenderung berat dan/atau butuh pengetahuan spesifik untuk memahaminya, image membosankan membuat kedua tema ini cenderung dijauhi penonton. Padahal banyak court drama dan film politik yang sebenarnya telah diramu sedemikian rupa sehingga dengan mudah dipahami oleh penonton terawam sekalipun. Miss Sloane (MS) yang naskahnya masuk top five Hollywood’s 2015 Black List dan ditulis oleh satu orang saja, yaitu Jonathan Perera. Menariknya, Perera belum pernah menulis naskah film apapun sebelumnya. Naskah MS mulai ditulisnya saat masih berusia 30 tahun dan tinggal di Asia. Siapa sangka naskah debutan ini menarik minat banyak produser. Bahkan seorang Steven Spielberg mengaku fan berat naskah tersebut dan sempat berniat menyutradarainya. Karena faktor jadwal yang sudah terlampau padat, John Madden (Shakespeare in Love, The Debt, The Best Exotic Marigold Hotel) akhirnya terpilih untuk duduk di bangku sutradara. Nama Jessica Chastain menjadi satu-satunya kandidat aktris pengisi karakter utama menurut visi Madden. Apalagi ini merupakan kerjasama kedua antara Madden dan Chastain setelah The Debt. Didukung Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw, dan John Lithgow, MS lantas menjadi media dan critics darling. Sempat ada isu propaganda terkait topik kepemilikan senjata api yang diangkat menjadi subjek. Bagaimanapun, kontroversi bisa menjadi media promosi yang ampuh. Setidaknya menjadi bahan pembicaraan dan/atau menumbuhkan rasa penasaran. Untuk film yang tergolong segmented, ini jelas punya keuntungan tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 8, 2017

The Jose Flash Review
Get Out


Tema ‘black’ atau kulit hitam beberapa tahun belakangan ini memang menjadi trend di Hollywood. Tentu saja seiring dengan isu anti-racism yang sampai sekarang masih menjadi topik hangat di Amerika Serikat. Jika biasanya tema ini dituangkan dalam genre drama biografi, drama sosial, atau drama romantis (interracial), maka apa yang dilakukan oleh Jordan Peele (dikenal lewat acara sketsa komedi TV, Key and Peele) sebagai debut penyutradaraannya di layar lebar, Get Out (GO) ini tergolong unik. Ia memasukkan isu ‘black’ dan anti-racism dari sudut pandang yang berbeda dan lewat genre mystery thriller a la Hitchcock. Tak heran jika kemudian produser horror yang paling jeli memproduksi horror/thriller murah tapi berpotensi laris, Jason Blum, lewat Blumhouse tertarik untuk memproduksinya. Siapa sangka pula jika GO ternyata menjadi kejutan di box office Amerika Serikat, dengan mengumpulkan hingga US$ 134 juta (di Amerika Serikat saja dan masih terus bertambah). Padahal budgetnya ‘hanya’ US$ 5 juta! Dengan nama-nama aktor/aktris yang belum dikenal, ini adalah prestasi yang jarang terjadi. Masih ditambah resepsi kritikus yang rata-rata positif. Semakin besarlah penonton di belahan dunia lain akan seberapa unik dan dahsyat mystery thriller yang ditawarkan Peele ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 7, 2017

The Jose Flash Review
Night Bus


Thriller bukanlah genre yang populer di film Indonesia meski ‘saudara dekat’-nya, horror, justru menjadi salah satu genre yang paling favorit. Mungkin ada baiknya film-film thriller perlu ‘menjual diri’ dengan label horror dan menambahkan formula-formula horror dasar sebagai strategi memperkenalkan thriller ke penonton Indonesia secara perlahan. Namun ke-‘belum populer’-an thriller tidak menyusutkan niat sineas-sineas kita untuk menyuguhkan thriller yang berbobot. Joko Anwar beberapa kali mempresentasikan thriller berkelas internasional, misalnya lewat Kala: Dead Time, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Ada juga Midnight Show dan bahkan Rumah Dara yang sebenarnya basically thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Labuan Hati


Film adalah medium yang paling tepat untuk mempromosikan pariwisata. Dengan dukungan audio-visual yang bisa menangkap atmosferik sebuah lokasi pariwisata dan mempresentasikannya secara menggiurkan (bahkan tak jarang melebihi kondisi lokasi aslinya), film jelas punya kelebihan terunggul sebagai medium promosi. Tak salah jika kemudian banyak dinas pariwisata dari berbagai daerah memilih untuk meng-hire sineas-sineas kita untuk memanfaatkan keindahan alam dan budaya yang kita miliki, sekedar untuk latar cerita maupun subjek utama dari film. Belum lama ini kita disuguhkan Trinity: The Nekad Traveler yang jelas-jelas bertema wisata dan membawa kita ke Lampung dan beberapa lokasi wisata lainnya, kini giliran Lola Amaria yang mengajak kita berjalan-jalan ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo bersama Nadine Chandrawinata yang image-nya sangat traveler, Kelly Tandiono, supermodel yang kian sering berakting, Ully Triani yang pernah mencuri perhatian di Stay with Me, dan Ramon Y. Tungka, lewat film bertajuk Labuan Hati (LH). Sementara naskahnya ditulis oleh Titien Wattimena yang daftar filmografinya sudah puluhan, termasuk Minggu Pagi di Victoria Park dimana ia pernah bekerja sama dengan Lola.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 6, 2017

The Jose Flash Review
Attraction
[Притяжение]

Diam-diam sinema Rusia ternyata terus berupaya untuk unjuk gigi di pasar internasional, tak terkecuali Indonesia. Setelah berturut-turut menyuguhkan Flight Crew, Earthquake, dan The Guardians, Moxienotion kembali mengimpor film Rusia yang kali ini bertemakan sci-fi. Attraction (Prityazhenie) dibesut sutradara sekaligus aktor yang pernah mendapatkan penghargaan Generation Award di MTV Movie Award Rusia 2008, Fedor Bondarchuk, sementara naskahnya disusun oleh duo Oleg Malovichko dan Andrey Zolotarev yang pernah bekerja sama sebelumnya di film drama fantasi keluarga, Prizrak (2015). Aktris muda Irina Starshenbaum digandeng untuk mengisi peran utama, kembali berpasangan dengan aktor Alexander Petrov setelah di film pendek Podarok Very (2016). Dengan trailer yang menjanjikan tampilan visual dan special effect mencengangkan, Attraction terlihat begitu menarik untuk disaksikan di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
R.A.I.D.: Special Unit
[R.A.I.D.: Dingue]

Di tengah image ‘film Eropa itu artsy, berat, cenderung ke boring’, sinema Perancis sebenarnya punya cukup banyak film-film yang nge-pop dan bisa dipahami pun dinikmati oleh range penonton yang lebih universal, terutama di genre komedi. Sayangnya sinema Perancis tak punya banyak slot di ruang putar Indonesia (bahkan Festival Sinema Perancis yang digagas pusat kebudayaan Perancis Indonesia selama belasan tahun harus absen di tahun 2016 lalu). Maka ketika ada film Perancis yang diputar untuk umum di bioskop kita dan punya jarak jadwal tayang yang tak begitu jauh dengan di negara aslinya, tentu menjadi kesempatan langka yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi nama Dany Boon, seorang aktor yang juga merambah penulis naskah dan akhir-akhir ini, sutradara, termasuk diperhitungkan di negara asalnya. Kembali menggandeng aktris Alice Pol setelah Supercondriaque (2014), Boon kali ini menawarkan sebuah komedi dengan sentilan emansipasi wanita berlatar pelatihan tim pengamanan khusus bak S.W.A.T. bernama R.A.I.D. (saya sempat berpikir ini merupakan parodi dari The Raid kita, tapi ternyata bukan). R.A.I.D. Dingue atau versi internasionalnya, R.A.I.D. Special Unit (RSU) menurut Boon bereferensi pada film-film aksi klasik dari Jean-Paul Belmondo dan film-film aksi Amerika seperti franchise Die Hard yang dibintangi Bruce Willis. Dengan sentuhan komedi khas Boon, setidaknya RSU menjanjikan sebuah tontonan ringan yang menghibur sekaligus seru.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 5, 2017

The Jose Flash Review
The Boss Baby


Tahun lalu Warner Bros Animation sempat mempersembahkan Storks, sebuah film animasi yaag tak hanya memanfaatkan mitos burung bangau sebagai pengantar para bayi dari asalnya ke orang tua dengan bangunan konsep fantasi yang luar biasa, tapi juga punya value yang solid baik untuk anak-anak maupun penonton dewasa. Tahun ini DreamWorks Animations (DWA) menyuguhkan tema yang sekilas mirip (setidaknya dari segi tema asal-usul bayi) tapi ternyata secara keseluruhan berbeda sebagai karya ke-34-nya. Diangkat dari cergam anak berjudul The Boss Baby (TBB) karya Marla Frazee, DWA mengembangkan ide tersebut jauh lebih luas, mendalam, sekaligus highly-imaginative, juga dengan humor-humor khas mereka, tentu saja. Naskahnya disusun oleh Michael McCullers yang banyak berpengalaman di naskah-naskah Saturday Night Live, installment kedua dan ketiga Austin Powers, Baby Mama, Mr. Peabody & Sherman, dan melanjutkan kerjasama dengan DWA selanjutnya untuk Shrek 5. Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Tom McGrath yang sudah bekerja dengan DWA untuk trilogi Madagascar dan Megamind. Dengan voice talent dari nama-nama senior, seperti Alec Baldwin, Steve Buscemi, Jimmy Kimmel, Lisa Kudrow, dan Tobey Maguire, TBB setidaknya akan menarik perhatian penonton yang cocok dengan style DWA.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 4, 2017

The Jose Flash Review
Shut In

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 31, 2017

The Jose Flash Review
The Moment
[รักของเรา]


Selain GTH (yang kemudian ‘bertransformasi’ menjadi GDH), nama production house Talent 1 juga cukup dikenal, terutama untuk genre horror seperti Last Summer (2013) dan The Couple (2014). Menyambut Valentine 2017 lalu, Talent 1 mencoba memproduksi genre yang sama sekali berbeda dari ‘spesialisasi’ mereka, yaitu romance. Film bertajuk The Moment (รักของเรา/Ruk Kong Rao) ini menawarkan sebuah interwoven dari tiga cerita dengan latar belakang negara berbeda-beda tapi punya benang merah yang sama, bahkan karakter-karakternya terkoneksi secara langsung. Menghadirkan aktor-aktor yang cukup dikenal, seperti Pachara Chirathivat (SuckSeed dan The Billionaire), Jarinporn Joonkiat (Countdown), Toni Rakkaen (How to Win at Checkers (Every Time), Love H2O), Supassra Thanachat (The Swimmers), hingga aktor berdarah Korea Selatan, Teo Yoo (Equals).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Danur:
I Can See Ghosts


Sudah menajdi rahasia umum bahwa genre horror masih merupakan salah satu genre yang paling digemari penonton film Indonesia terlepas dari image-nya yang sudah terlanjur ‘ternodai’ oleh bumbu esek-esek. Bagaimanapun angka jumlah penonton tak bisa berbohong. Ditambah dengan fakta merupakan adaptasi dari novel laris dan bintang dengan fanbase yang begitu besar dan kuat, jadilah sebuah formula box office! Peluang itulah yang diambil oleh MD Pictures sebagai produksi perdana dari salah satu PH turunannya, Pichouse Films. Diangkat dari novel laris karya Risa Saraswati (pernah kita kenal juga sebagai personel band Homogenic dan kemudian Sarasvati) yang konon merupakan berdasarkan kisah nyata yang dialaminya sendiri, Danur: I Can See Ghosts (DICSG) dipercayakan di tangan Awi Suryadi (Claudia/Jasmine, Street Society, Badoet), sutradara yang sebenarnya punya skill dan taste style directing yang bagus tapi masih belum mendapatkan proyek yang cukup high-profile. Sementara naskahnya diadaptasi oleh Laila Nurazizah (Adriana, Princess, Bajak Laut & Alien, Untuk Angeline) dan Ferry Lesmana. Namun above all yang paling menarik perhatian penonton adalah kehadiran Prilly Latuconsina yang semakin melejit pasca Hangout di lini terdepan, ditambah Shareefa Daanish yang sudah punya image kuat di genre horror.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Perfect Dream


Di antara kota-kota besar di Indonesia, orang Surabaya termasuk punya karakteristik yang unik. Punya taste lifestyle yang tinggi tapi tetap mempertahankan elemen-elemen kedaerahan yang khas, terutama aksen dan bahasa Suroboyoan yang seperti perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan sedikit variasi. Uniknya lagi, orang Surabaya pada umumnya lebih inferior ketimbang di daerah lain. Misalnya orang Surabaya akan mentertawai dan menganggap kampungan dialog yang Suroboyoan banget, padahal kehidupan sehari-hari sendirinya pun menggunakan bahasa dan aksen yang sama. Itu juga mungkin yang menyebabkan Surabaya bukan pasar yang potensial untuk film Indonesia. Coba tanya PH, produser, atau publisis film Indonesia manapun. Penonton Surabaya termasuk yang terendah. Jika pasarnya saja lemah, bagaimana mungkin bisa punya ‘industri’ sendiri? Alhasil hanya ada gerakan-gerakan indie yang tergolong kecil jika dibandingkan di kota-kota besar lain.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 30, 2017

The Jose Flash Review
Ghost in the Shell (2017)

Sudah bukan kasus yang baru lagi bahwa Hollywood sering mencari inspirasi ide cerita film dari Asia, terutama manga dan/atau anime Jepang yang memang salah satu paling kaya dan populer. Sayangnya karena saking populernya yang kemudian membentuk fanbase yang besar dan kuat, seringkali upaya remake Hollywood mendapatkan kritik tajam dari para fanatik, terutama soal whitewash (mengganti karakter yang sejatinya beretnis Asia menjadi kulit putih) dan pengubahan di banyak elemen yang sejatinya bertujuan agar bisa dipahami dan dinikmati oleh range penonton yang lebih universal. Toh versi remake Hollywood yang jelas punya pasar jauh lebih luas bisa menjadi sarana promosi materi aslinya untuk dikenali lebih dalam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 29, 2017

The Jose Flash Review
Smurfs: The Lost Village


Universe dan karakter-karakter selegendaris The Smurfs (judul aslinya Les Schtroumpfs) karya kartunis Peyo yang sudah ada sejak tahun 1958 terlalu berharga untuk tidak terus dilestarikan lintas generasi. Kendati versi hibrida antara live-action dan animasi yang diproduksi Sony Pictures Animation tahun 2011 dan sekuelnya di tahun 2013 mendapatkan review beragam (cenderung negatif), hasil box office menunjukkan betapa masih banyak penonton yang mendambakan atau ingin meneruskan warisan Smurfs ke generasi selanjutnya. Bukan karena penurunan penghasilan box office The Smurfs 2, sejak sebelum installment kedua dirilis pun sudah direncanakan bahwa installment ketiga akan berupa fully-animated dan reboot dari dua installment sebelumnya. Ia pun mengembalikan desain universe dan karakter-karakter seperti komik aslinya. Mungkin ada juga pengaruh kesuksesan Peanuts Movie yang mempertahankan gaya-gaya visual asli kendati berupa animasi 3D, baik secara komersial maupun resepsi kritikus. Dari naskah yang disusun Pamela Ribon (Moana) dan Stacey Harman, penyutradaraan Smurfs: The Lost Village (STLV) dipercayakan kepada Kelly Asbury yang sudah berpengalaman menangani animasi Spirit: Stallion of the Cimarron, Shrek 2, dan Gnomeo & Juliet. Pemilihan voice cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Demi Lovato, Joe Manganiello, Michelle Rodriguez, Meghan Trainor, Jeff Dunham, hingga Julia Roberts, dan chef terkenal, Gordon Ramsey.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 25, 2017

The Jose Flash Review
Phillauri
[फिल्लौरी]

Aktris cantik Bollywood, Anushka Sharma, sudah membuktikan diri mampu menjadi produser film lewat NH10 (2015) lalu. Kini ia kembali memproduseri sebuah film layar lebar yang juga ia bintangi sendiri, Phillauri. Menggandeng Suraj Sharma yang kita kenal sebagai Pi Patel di Life of Pi (2012) dan Diljit Dosanjh (Udta Punjab), Phillauri menjadi debut penyutradaraan dari Anshai Lal yang sebelumnya menjadi asisten sutradara kedua di Dostana (2008). Naskahnya disusun oleh Anvita Dutt yang kita lihat karyanya di Shaandaar, Baar Baar Dekho, dan dialog di Queen. Dengan dukungan nama-nama ini, Phillauri berpotensi menjadi sajian yang menarik, apalagi premise-nya yang seolah menyindir tradisi lama masyarakat India.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 24, 2017

The Jose Flash Review
Mooncake Story


Sejatinya siapa saja bisa punya cerita yang menginspirasi sekitarnya, apalagi pengusaha sukses yang akhir-akhir ini menjadi salah satu trend untuk membagikan kisahnya ke dalam sebuah film biopic. Setelah Karmaka Suryaudaya, pendiri Bank NISP lewat film Love and Faith, kini giliran pendiri Mayapada Group, Dato’ Sri Tahir. Tak harus melulu berupa life chronicle berisi jatuh-bangun sebelum meraih sukses, tapi bisa juga sepenggal kisah kecil yang tak kalah penting dan berartinya. Lewat Tahir Foundation dan menggandeng Multivision Plus dalam memproduksi, sutradara yang namanya sudah dikenal di kancah internasional, Garin Nugroho, dipercaya untuk menyutradarai sekaligus menuliskan naskahnya. Pasangan Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari yang sempat sukses lewat Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, kembali dipasangkan, didukung pendatang baru Melati Zein, Dominique Diyose, Deddy Sutomo, Jaja Miharja, dan Richard Oh. Bertajuk Mooncake Story (MS), sejatinya dirilis bertepatan dengan momennya, tapi dimundurkan hingga resmi tayang 23 Maret 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dear Nathan


Mimpi untuk menjadi penulis (khususnya novel) sebenarnya semakin mudah diwujudkan akhir-akhir ini, apalagi dengan platform bernama Wattpad. Banyak sekali karya tulis yang telah berhasil membuktikan dibaca oleh jutaan pengguna (meski sebenarnya merupakan hasil akumulasi dari tiap kali dibuka ketika ada update cerita) dan membuat penerbit tertarik untuk membukukannya. Salah satu yang paling sukses adalah Dear Nathan (DN), karya Erisca Febriani. Tak hanya diterbitkan dalam bentuk buku, Rapi Films pun tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Apalagi mengingat pangsa pasar remaja yang memang paling mendominasi penonton bioskop tanah air. Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Love and Faith, Talak 3, dan upcoming, Kartini) ditunjuk untuk mengadaptasi naskahnya bersama Gea Rexy, sedangkan bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Indra Gunawan (Hijrah Cinta). Selain materi cerita yang sudah punya fanbase sendiri, daya tarik yang tak kalah besarnya adalah dipasangkannya bintang muda yang masih tergolong pendatang baru,  Jefri Nichol (baru saja kita lihat debutnya di Pertaruhan) dan Amanda Rawles (baru saja di Promise). Meski punya kans yang besar untuk sukses secara komersial, DN masih punya beban ekspektasi yang cukup besar dari penonton yang menantikan film drama percintaan remaja yang digarap baik di generasi sekarang, setelah Ada Cinta di SMA dan Galih dan Ratna yang telah menetapkan standard cukup tinggi di genrenya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Baracas:
Barisan Anti Cinta Asmara


Di beberapa kalangan nama Pidi Baiq mungkin cukup familiar. Selain novel seperti Dilan dan Milea, Pidi dikenal sebagai frontman dari band komedi The Panasdalam dan punya kumpulan quote yang sering di-share di kalangan anak muda, terutama di Bandung sebagai basecamp utamanya. Tak mengherankan jika kemudian Pidi tertarik untuk mencoba peruntungan di dunia film. Beruntung Max Pictures juga tertarik memberikannya kesempatan menjajal menjadi sutradara sekaligus penulis naskah, dibantu Tubagus Deddy Safiudin (Ketika Bung di Ende, Mursala, dan Jenderal Soedirman) dan Saleh Elhan. Background kepenulisan baik novel maupun lagu seharusnya tak membuatnya terkendala banyak di film, tapi tentu saja ini adalah bidang yang sama sekali berbeda dengan skala yang jauh lebih besar. Maka Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara menjadi semacam ‘percobaan’ pertama bagi Pidi. Beruntung proyek perdananya ini didukung nama-nama populer seperti Ringgo Agus Rahman, Tika Bravani, Ajun Perwira, Stella Cornelia, Budi Doremi, Ficco Fachriza, sampai Cut Mini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 23, 2017

The Jose Flash Review
The Devil's Candy

Jesse Hellman, seorang ayah bergaya metal, berprofesi menjadi pelukis untuk menafkahi keluarganya; sang istri, Astrid, dan putri semata wayangnya yang juga ikut-ikutan bergaya metal, Zooey. Demi membayar kepindahan mereka ke rumah yang baru, ia rela melukis objek untuk bank yang sama sekali tidak sesuai kepribadiannya. Di rumah yang baru Jesse seperti kerasukan yang menggerakkannya untuk melukis objek mengerikan. Zooey pun kedatangan pria misterius yang memberikannya gitar elektrik legendaris. Siapa sangka pria misterius ini ternyata menggiring Zooey dalam bahaya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Life


Perpaduan antara sci-fi dan horror sudah sejak lama menjadi pasangan yang pas untuk disandingkan. Sejauh ini sudah ada franchise Alien sebagai bukti keberhasilan menghadirkan horror di ranah sci-fi. Bagi saya pribadi (dan saya yakin banyak juga penonton lain), masih ada Event Horizon (1997) yang punya daya cekam (juga traumatik) paling maksimal. Tak lupa pula Species (1995) yang turut menambahkan unsur erotisme di dalamnya. Di tengah trend cerebral sci-fi yang lebih mengedepankana filosofi di balik perjalanan bernafas sci-fi akhir-akhir ini, Life yang naskahnya ditulis oleh Rhett Reese dan Paul Wernick (keduanya berada di balik naskah Zombieland, G.I. Joe: Retaliation, dan Deadpool), serta digarap oleh sutradara asal Swedia, Daniel Espinosa (Safe House, Child 44) menjadi satu sajian yang menarik. Apalagi dukungan nama-nama populer di lini terdepan seperti Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, dan Ryan Reynolds, daya tarik Life menjadi semakin bertambah.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Saban's Power Rangers


Mereka yang pernah melewati era 90-an mustahil tidak mengenal Power Rangers. Ya, lima (kemudian berkembang menjadi enam) remaja superhero ini menjadi salah satu icon 90-an terbesar di negara manapun. Sejarah perkembangan TV show yang diadaptasi dari acara TV Jepang Kyōryū Sentai Zyuranger ini tergolong panjang hingga saat ini dengan berbagai variasi. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995) di bawah bendera Fox, baru di tahun 2014 lalu Saban Capital Group selaku creator tertarik untuk me-reboot franchise lawas ini kembali untuk generasi kini di bawah bendera Lionsgate yang memang tengah mencari peluang franchise baru. Naskahnya dipercayakan kepada John Gatins (Coach Carter, Real Steel, Flight, Need for Speed, dan terakhir, Kong: Skull Island), sementara bangku penyutradaraan diserahkan kepada Dean Israelite yang kita kenal lewat Project Almanac.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 21, 2017

The Jose Flash Review
Dark Summer


Daniel yang masih berusia 17 tahun harus menjadi tahanan rumah dengan gelang sensor di pergelangan kaki yang akan berbunyi jika ia melewati garis batas rumahnya. Ia juga tak boleh menerima tamu masuk dan menggunakan internet karena nomer IP-nya sudah ditandai. Sendirian di rumah membuat ia mencari cara untuk melewatkan waktu, termasuk menyelundupkan kedua sahabatnya, Kevin dan Abby untuk masuk ke dalam rumah dan meminjami laptop untuk sekedar berkomunikasi dengan sang ibu. Iseng-iseng ia men-stalk gadis pujaannya, Mona Wilson. Malang ia stalk di saat yang tidak tepat. Mona melakukan aksi bunuh diri di depan kamera Skype. Semenjak itu Daniel mulai mendapatkan berbagai teror yang mengarah ke sosok Mona. Cara-cara supranatural hasil browsing di internet dicoba untuk menghentikannya, tapi Daniel menemukan fakta lain di balik teror-teror tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Beauty and the Beast (2017)


Kesuksesan demi kesuksesan komersial membuat Disney semakin semangat untuk meremake film-film animasi klasiknya ke dalam format live action. Setelah Alice in Wonderland, Maleficent, Cinderella, The Jungle Book, dan Pete’s Dragon, kini giliran salah satu film animasi Disney yang bahkan menjadi satu-satunya film animasi Disney yang masuk nominasi Best Picture, Beauty and the Beast (BatB). Selain versi Disney, dongeng klasik asal Perancis ini sebenarnya sudah punya beberapa versi live action. Paling terakhir, versi Perancis sendiri yang diproduksi tahun 2014 lalu dengan bintang Vincent Cassel dan Lea Seydoux.  Namun brand ‘Disney’ dan sentuhan musikal dari versi animasinya yang sudah menjadi karya klasik tersendiri tentu tetap akan membuat penonton dari seluruh dunia, tak perduli golongan usia dan strata sosialnya, penasaran. Naskah adaptasinya disusun oleh tim yang cukup berpengalaman di masing-masing elemen, Evan Spiliotopoulous di genre fantasi (The Jungle Book 2, The Lion King 1 ½, Tarzan 2, Cinderella III, The Little Mermaid: Ariel’s Beginning, Tinker Bell and the Lost Treasure, Hercules (2014), dan The Huntsmen: Winter’s War) dan Stephen Chbosky di genre musikal (Rent dan The Perks of Being a Wallflower). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Bill Condon yang dikenal lewat musikal Dreamgirls, The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2, dan penulis naskah Chicago.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bid'ah Cinta


Jika tema cinta beda agama masih menjadi isu sensitif kendati sudah sering diangkat (dengan ending serta konklusi yang masih lebih sering ‘main aman’), bagaiman dengan cinta sesame agama tapi beda aliran? Dilema, bahkan konflik yang tak kalah pelik itulah yang coba dihadirkan oleh Nurman Hakim (3 Doa 3 Cinta, Khalifah, dan The Window) lewat Bid’ah Cinta (BC) yang diproduksi di bawah bendera Kaninga Pictures. Dengan naskah yang disusunnya sendiri bersama Zaim Rofiqi dan Ben Sohib, BC menghadirkan Ayushita, Dimas Anggara, dan Ibnu Jamil, dengan dukungan dari Dewi Irawan, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Fuad Idris, Ade Firman Hakim, Jajang C. Noer, Tanta Ginting ,Khiva Iskak, dan mantan bintang cilik yang melanjutkan kerjasama dengan Nurman setelah The Window, Yoga Pratama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Trinity, The Nekad Traveler


Traveling yang dulunya dianggap sebagai hobi eksklusif kian hari kian me-‘rakyat’, terutama setelah ada blog, low-cost carrier, dan social media. Salah satu ikon traveling asal Indonesia yang paling populer saat ini adalah Trinity, seorang traveling blogger yang sudah menelurkan delapan buku bertemakan traveling best seller, termasuk lima di antaranya seri The Naked Traveler. Buku-buku ini dianggap informatif, menghibur, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk turut menjadi traveler, bukan sekedar wisatawan (perbedaan keduanya sudah sering dibahas di berbagai media bertemakan traveling). Tinggal menunggu waktu saja hingga ada PH yang tertarik mengangkatnya ke layar lebar. Adalah Tujuh Bintang Sinema yang pernah memproduksi Air Mata Surga tahun 2015 lalu yang berhasil mendapatkan hak adaptasi ke layar lebar dengan judul Trinity, The Nekad Traveler (TTNT) sebagai karya keduanya. Rahabi Mandra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga, Hijab, 2014: Siapa di Atas Presiden, Senjakala di Manado, From London to Bali, dan upcoming, Night Bus) ditunjuk untuk mengadaptasi naskah, sementara Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak Trilogy, Air Terjun Pengantin, 5 cm, Supernoba: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Aktris muda yang pernah mempesona kita di Perahu Kertas, Maudy Ayunda, dipasang untuk memerankan sosok Trinity, didukung Hamish Daud Wyllie, Babe Cabiita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, dan cameo dari Tompi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Badrinath Ki Dulhania
[बद्रीनाथ की दुल्हनिया]


Jika memperhatikan tema sinema Hindi beberapa tahun terakhir, Anda akan kerap menemukan tema feminisme atau women empowerment. Selain tingginya kasus pelecehan terhadap wanita yang sempat menjadi isu internasional yang hangat, masyarakat India tampaknya masih banyak yang menganut budaya tradisional yang cenderung memposisikan wanita di bawah kaum pria. Sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang tahun 2014 lalu sukes menghantarkan film komedi romantis, Humpty Sharma Ki Dulhania (HSKD), menjadi box office besar dan semakin melambungkan pasangan Varun Dhawan dan Alia Bhatt setelah breathrough performance di Student of the Year, turut mengikuti jejak trend ini. Produser Karan Johar memberikan lampu hijau kepada Khaitan untuk mengembangkan HSKD menjadi sebuah franchise. Badrinath Ki Dulhania (BKD – yang dalam bahasa Inggris punya arti harafiah ‘The Bride of Badrinath’) bukanlah sebuah sekuel langsung dari HSKD meski masih mengusung Dhawan-Bhatt sebagai pasangan utama. Lebih merupakan kesatuan franchise dengan persamaan tema tapi cerita yang sama sekali berbeda, seperti halnya Kahaani dan Jolly LLB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, March 19, 2017

The Jose Flash Review
Hidden Figures


Oscar 2016 yang dicap ‘OscarSoWhite’ membuat studio-studio Hollywood berlomba-lomba mengangkat tema anti-racism, khususnya terhadap kaum kulit hitam, dengan harapan dilirik Oscar 2017 yang seolah disengaja mengusung tema diversity. Selain Moonlight yang dengan masif dipromosikan oleh distributornya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional, sebenarnya masih ada Hidden Figures (HF) yang mengangkat kisah nyata tiga wanita kulit hitam pertama yang punya andil besar di tahun-tahun awal NASA. Diadaptasi dari novel biografi berjudul sama yang disusun oleh Margot Lee Shetterly, naskahnya disusun oleh Allison Schroeder dan Theodore Melfi yang juga merangkap bangku sutradara. Keduanya tergolong ‘baru’ di layar lebar (mainstream). Melfi sendiri baru dikenal lewat Winding Roads (1999) dan St. Vincent (2014). Namun kualitas mereka tak boleh diremehkan. Terbukti dari nominasi Oscar untuk naskah adaptasi yang mereka susun bersama. Ditambah jajaran aktor-aktris yang menarik, mulai Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, hingga Mahershala Ali yang tahun ini benar-benar angkat nama berkat Moonlight.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 11, 2017

The Jose Flash Review
Silence

Sejak lama saya percaya bahwa agama apa saja awalnya disebarkan bukan dengan pengkotak-kotakan atau pelabelan seperti saat ini. Pengalaman pribadi akan tumbuh menjadi iman yang jauh lebih kuat ketimbang sekedar 'mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya'. Gereja Katolik Roma yang punya sejarah panjang berkali-kali mengalami pergolakan, mulai ajaran yang dijalankan secara puritan hingga fleksibel mengikuti perkembangan jaman seperti saat ini. Salah satu episode yang menjadi 'pelajaran' penting dalam penyebaran agama tertuang dalam novel fiksi historis berjudul Silence (沈黙 / Chinmoku) karya Shūzaku Endō yang pertama kali dipublikasikan tahun 1966. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul sama di tahun 1971 oleh sutradara Masahiro Shinoda. Meski mendapatkan apresiasi kritik internasional, versi Shinoda ini tidak disukai oleh Endō karena perubahan ending yang dianggap mempengaruhi esensi keseluruhan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 8, 2017

The Jose Flash Review
Kong: Skull Island


Dalam sejarah perfilman Hollywood, King Kong bisa jadi salah satu sosok monster raksasa tertua. Pertama kali muncul tahun 1933, kemudian di-remake tahun 1976, dan terakhir versi Peter Jackson di tahun 2005. Dari sekian banyak seri dan spin-off, ada satu yang paling menarik; versi versus dengan monster raksasa asal Jepang, Godzilla di King Kong vs Godzilla pada tahun 1962 yang diproduksi oleh Jepang-Amerika Serikat. Versi itulah yang menginspirasi Legendary Pictures untuk kembali mempersatukan keduanya dalam sebuah franchise universe; MonsterVerse. Dimulai dari remake (atau reboot) Godzilla tahun 2014 lalu, installment keduanya siap tayang 2017 ini; Kong: Skull Island (KSI). Rencananya, installment berikut akan tayang tahun 2019 sebagai sekuel dari Godzilla, Godzilla: King of the Monsters dan tahun 2020 lewat Godzilla vs Kong. Dengan penghasilan Godzilla (2014) yang mencapai US$ 529.1 juta di seluruh dunia, Warner Bros. tak ragu untuk menginvestasikan hingga US$ 190 juta untuk KSI (di atas Godzilla yang berbudget US$ 160 juta). Dari naskah yang disusun Dan Gilroy (The Bourne Legacy, Nightcrawler), Max Borenstein (Godzilla 2014), dan Derek Connolly (Jurassic World, Monster Trucks), bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Jordan Vogt-Roberts yang mana ini baru kali keduanya menangani film layar lebar setelah The Kings of Summer. Lini bintangnya meliputi Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John C. Reilly, John Goodman, Toby Kebbell, hingga bintang muda Cina yang baru saja kita lihat aksinya di The Great Wall, Jing Tian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 7, 2017

The Jose Flash Review
Galih & Ratna


Cinta adalah universal. Merujuk pada ungkapan tersebut, maka tiap negara dan budaya memiliki sosok pasangan asmara yang mewakili dan melegenda. Jika Inggris punya Romeo dan Juliet yang diadaptasi ke berbagai variasi nama di berbagai negara, Cina punya Sampek-Engtay, maka Indonesia punya Galih dan Ratna, di samping Ramadhan & Ramona, dan era 2000-an, Cinta dan Rangga. Namun sosok Galih dan Ratna yang diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman di film Gita Cinta dari SMA (1979) sudah melekat begitu kuat hingga kini. Maka tinggal menunggu momen yang tepat untuk melanjutkan warisan ke generasi selanjutnya, seperti yang sudah dilakukan Putrama Tuta di Catatan Harian Si Boy untuk franchise klasik Catatan Si Boy. Adalah Lucky Kuswandi, sutradara muda yang kita kenal lewat Madame X (2010) dan Selamat Pagi, Malam (2014) yang beruntung ditunjuk untuk menggarap Galih dan Ratna versi generasi milenial bertajuk Galih & Ratna (G&R). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lucky juga menyusun naskahnya bersama Fathan Todjon. Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter acara musik di salah satu stasiun TV nasional dan sempat menunjukkan kemampuan aktingnya di Koala Kumal bersama Raditya Dhika, ditunjuk untuk mewakili sosok Ratna, sementara Refal Hady yang dikenal lewat serial TV dipercaya menghidupkan karakter Galih. Tak hanya film, G&R juga mencoba mempopulerkan kembali lagu tema yang sempat begitu populer dengan mempercayakannya kepada trio GAC.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates