It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Friday, September 22, 2017

The Jose Flash Review
Kingsman: The Golden Circle

Di antara banyaknya tokoh agen rahasia, tak banyak yang berhasil menjadi ikon. Apa yang dicapai Kingsman: The Secret Service (2015), berdasarkan komik berseri karya Mark Millar dan Dave Gibbons yang diterbitkan Icon Comics sejak tahun 2012, ini tergolong istimewa. Film pertama saja sudah berhasil menarik perhatian penonton hingga pendapatannya mencapai US$ 414.4 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo hingga 23 Juni 2015). Dengan kemasan yang serba fresh, dinamis, kekerasan brutal dan berdarah-darah, dan humor bereferensi pada budaya pop, tentu dengan mudah ia mencuri perhatian secara instan. Bahkan gaya dandanan gentleman a la bangsawan Inggris pun lantas menjadi trend di mana-mana. Ini menandakan kans untuk terus mengembangkannya sebagai franchise sangat besar sekali. Tahun 2017 ini dengan tim yang kurang lebih sama, termasuk aktor Taron Egerton, Mark Strong, bahkan kembalinya Colin Firth yang sempat dimatikan di film pertama, sutradara Matthew Vaughn, hingga penulis naskah Jane Goldman dan Vaughn sendiri. Selain dari itu, tentu saja ada penambahan tokoh-tokoh baru yang diperankan oleh aktor-aktris populer untuk menambah daya tarik installment bertajuk Kingsman: The Golden Circle (KTGC) ini. Mulai Channing Tatum, Halle Berry, Jeff Bridges, Pedro Pascal, Julianne Moore, hingga Sir Elton John! Well, the more the merrier, eh?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 21, 2017

The Jose Flash Review
Lucknow Central
[लखनऊ सेंट्रल]

Selain tema dasar cinta, ada dua tema yang sedang jadi trend di sinema Hindi; feminisme dan sistem hukum. Setelah Pink dan Jolly LLB, satu lagi film Hindi yang mencoba menyentil sistem hukum di tanah Hindustan dengan caranya sendiri. Bak perpaduan The Shawshank Redemption dan School of Rock (ya, setidaknya begitu menurut saya), Lucknow Central (LC) ditulis dan disutradarai oleh Ranjit Tiwari yang mana ini merupakan debut layar lebarnya setelah selama ini menjadi associate director dari D-Day, Hero, dan Katti Batti, dengan bantuan dari Aseem Arora yang dikenal sebagai penulis naskah serial populer, Uttaran. Menempatkan Farhan Akhtar (duologi Rock On!!, Zindagi Na Milegi Dobara, Bhaag Milkha Bhaag, dan Wazir), Diana Penty (Cocktail), Deepak Dobriyal (Tanu Weds Manu, Omkara, Prem Ratan Dhan Payo), Rajesh Sharma (Bajrangi Bhaijaan, M.S. Dhoni, Toilet: Ek Prem Katha), dan Ronit Roy (Student of the Year, Kaabil, Sharkar 3, Munna Michael), LC punya cukup banyak daya tarik untuk disimak. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 19, 2017

The Jose Flash Review
Gerbang Neraka
[Firegate]

Legacy Pictures dikenal sebagai salah satu PH yang selalu berupaya menyuguhkan varian tema beragam di perfilman nasional. Setelah debut proyek pertama, Kapan Kawin, sebenarnya Firegate yang memadukan horor mitologi dengan petualangan bak film-film bertemakan mummy, adalah proyek kedua mereka. Namun mengusung tema yang masih sangat asing bagi penonton kita tentu beresiko tinggi. Maka butuh waktu sekitar dua tahun untuk menemukan bentuk yang paling bisa diterima penonton kita, moda promosi yang pas, sekaligus memaksimalkan visual effect dan CGI yang menjadi salah satu elemen krusial film. September 2017, Firegate akhirnya siap rilis dengan judul terjemahan, Gerbang Neraka (GN), yang tentu terdengar lebih akrab di telinga penonton umum kita. Disutradarai Rizal Mantovani yang reputasinya sudah melambung di genre horor Indonesia (setidaknya dari segi visual), GN mempertemukan Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono. Tentu nama-nama ini menjadi daya tarik yang begitu besar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 15, 2017

The Jose Flash Review
Detroit

Jika Tragedi Mei 1998 menjadi salah satu lembar sejarah terkelam Indonesia, Amerika Serikat pun punya tragedi konflik sosial serupa. Juli 1967 di Kota Detroit, Michigan, terjadi kerusuhan bernuansa rasialis selama berhari-hari yang memakan korban 39 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Menjelang peringatan 50 tahun salah satu sejarah terkelam Amerika Serikat, sutradara Kathryn Bigelow kembali mengajak penulis naskah Mark Boal kembali berkolaborasi setelah kesuksesan The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty di berbagai ajang penghargaan internasional. Detroit, tajuk film drama thriller historis yang mereka ulang salah satu kejadian paling mendebarkan di tengah-tengah panasnya kerusuhan rasialis di Detroit. Meletakkan John Boyega yang makin populer pasca perannya sebagai Finn di Star Wars: The Force Awakens, Will Poulter, Algee Smith, dan bintang serial Game of Thrones, Hannah Murray, Detroit agaknya mencoba sekali lagi peruntungan Bigelow dan Boal di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional. Tak terkecuali Golden Globe dan Academy Awards.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Total Chaos

Geliat ‘dinasti’ Punjabi di panggung hiburan tanah air makin melebar dengan berdirinya DePetalz Pictures yang digawangi oleh Gobind Punjabi, saudara Dhamoo dan Raam Punjabi, yang pernah turut memimpin Multivision Plus. Sebagai produksi perdana, DePetalz lewat produser Rajesh Punjabi, putra Gobind, bersama istrinya, Simran Punjabi sebagai produser eksekutif, memilih Total Chaos (TC), sebuah drama komedi yang bahkan sudah memperingatkan penontonnya lewat tagline, “Tinggalkan Logika di Rumah”. Mendapuk sutradara Angling Sagaran dan kembali memasangkan Ricky Harun dan Nikita Willy (plus Gary Iskak pula!), TC bak proyek lanjutan setelah sukses From London to Bali (FLtB) awal tahun 2017 ini meski berasal dari production house yang berbeda (FLtB produksi StarVision Plus). Dari judul dan tagline-nya saja bisa ditebak bagaimana TC mencoba mengajak penonton tertawa terbahak-bahak lewat konsep dunia yang serba absurd. Selain itu digandeng pula Babe Cabita, Ciccio Manassero (7 Hari Menembus Waktu, Juara), Awwe, Yurike Prastica, bahkan sampai Walikota Bandung, Ridwan Kamil, beserta istrinya, Atalia Praratya, dengan harapan lebih banyak menarik minat penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 14, 2017

The Jose Flash Review
American Assassin

Hollywood agaknya tak akan pernah kehabisan stok agen rahasia. Satu lagi karakter agen rahasia dari novel yang diangkat ke layar lebar. Adalah Mitch Rapp rekaan Alm. Vince Flynn yang sudah punya 15 seri sejak tahun 1999 dan masih akan terus dilanjutkan oleh Kyle Mills yang rencananya merilis judul baru pada September 2017. CBS Films telah memegang hak adaptasi filmnya sejak 2008 dan produksi pertama dipegang oleh produser Lorenzo di Bonaventura (franchise Transformers, Shooter, Salt, duologi RED, Jack Ryan: Shadow Recruit, dan terakhir, Unlocked) bersama Nick Wechsler. Sayang kondisi studio yang sedang lesu membuat produksi mengalami penundaan. Padahal nama-nama yang sempat diumumkan terlibat cukup menjanjikan. Seperti sutradara Antoine Fuqua, Edward Zwick, hingga Jeffrey Nachmanoff yang akhirnya diputuskan kepada Michael Cuesta (Kill the Messenger), hingga pilihan aktor seperti Gerard Butler, Colin Farrell, hingga Chris Hemsworth untuk merepresentasikan karakter Rapp, hingga akhirnya jatuh ke tangan Dylan O’Brien yang dirasa lebih cocok sesuai dengan usia karakter di film pertama bertajuk American Assassin (AA) ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 12, 2017

The Jose Flash Review
Tokyo Ghoul
[東京喰種]

Tak mudah mengadaptasi manga atau anime ke bentuk live action. Salah satu alasannya adalah desain universe manga/anime yang kerap kali out of this world. Sulit untuk membuat keputusan adil antara memuaskan fans asli yang tentu mengharapkan seotentik mungkin, sementara ada tujuan lain untuk memperluas range penonton umum yang bisa jadi sulit menerima desain universe jauh dari realistis. Apalagi penggemar-penggemar anime/manga termasuk paling fanatik dibandingkan kultur-kultur populer lain yang lebih fleksibel. Setelah belum lama ini penggemar Gintama dipuaskan dengan keotentikan versi live actionnya sekaligus bisa menghibur non-penggemar lewat self-mocking, kali ini giliran Tokyo Ghoul (TG) karya Sui Ishida yang mencoba peruntungan di ranah live action. Ditangani oleh Kentarõ Hagiwara (sutradara film pendek yang terakhir turut ambil bagian dalam Anniversary atau Anibâsarî), TG didukung jajaran cast yang menarik, antara lain Masataka Kubota (Death Note), Fumika Shimizu (Kamen Rider), dan Yû Aoi (trilogi Ruroni Kenshin). Penggemar di Indonesia termasuk beruntung karena Moxienotion membawa versi live action TG ke bioskop-bioskop nasional mulai 13 September 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Exception

Romansa berlatarkan kejadian nyata, terutama Perang Dunia II, sudah jamak dilakukan. Tak heran, dengan perpaduan demikian, film bisa menarik minat audiens yang lebih luas terutama dari segi jenis kelamin. Lagipula sumber materinya juga sudah banyak di ranah novel sehingga tak perlu susah-susah mencari patokan dasar. Salah satunya adalah novel The Kaiser’s Last Kiss karya Alan Judd yang diterbitkan pertama kali tahun 2003 dan kemudian diadaptasi ke layar lebar tahun 2016. Dengan naskah adaptasi oleh Simon Burke yang sebelumnya menulis naskah FTV dan serial TV dan arahan dari sutradara Inggris, David Leveaux yang mana ini merupakan debut film panjangnya, The Exception didukung nama-nama berkualitas seperti Christopher Plummer, Jai Courtney (Suicide Squad), dan Lily James yang belum lama ini kita lihat di Baby Driver
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Renegades

Kiprah Luc Besson untuk mengimbangi citra sinema Eropa secara keseluruhan yang melekat pada arthouse dengan film-film aksi ringan bercitarasa blockbuster Hollywood tapi tentu dengan kekhasannya tersendiri memang seringkali menghadirkan sesuatu yang menarik. Paska Valerian yang ambisius, Besson menyiapkan Renegades yang sejatinya telah diumumkan sejak 2014 dan mulai diproduksi Apri 2015, tapi terus mengalami penundaan penayanganan hingga September 2017. Dengan naskah yang disusunnya bersama Richard Wenk (The Mechanic, The Expendables 2, The Equalizer, The Magnificent Seven versi 2016, hingga Jack Reacher: Never Go Back) dan bangku penyutradaraan yang dipercayakan kepada Steven Quale (sutradara unit kedua di Titanic dan James Cameron’s Avatar yang juga pernah menyutradarai Final Destination 5 dan Into the Storm), Renegades menawarkan aksi petualangan pemburuan harta karun dengan background fantasi yang bisa dikatakan versi realistis dari legenda El Dorado. Di jajaran cast ada Ewen Bremner (Trainspotting), Sullivan Stapleton (300: Rise of an Empire), Sylvia Hoeks (upcoming, Blade Runner 2049), dan J.K. Simmons. Bukan produksi yang high profile, tapi tema pemburuan harta karun yang akhir-akhir ini sudah sangat jarang diangkat membuat Renegades tetap menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, September 11, 2017

The Jose Flash Review
Cage Dive

Di antara sekian banyak film indie bertemakan shark attack, Open Water (2003) termasuk yang paling populer. Sang pembuatnya pun mungkin tak akan mengira dengan budget ‘hanya’ US$ 120.000 saja bisa menarik perhatian Lionsgate hingga dibeli sebesar US$ 2.5 juta setelah pemutaran di Sundance dan diedarkan secara global. dengan penghasilan total US$ 55 juta. Open Water kemudian menjadi brand yang digunakan untuk film-film indie low budget bertema sejenis yang didistribusikan oleh Lionsgate. Open Water 2: Adrift (2006) dan terbaru di tahun ini, Open Water 3: Cage Dive. Di Indonesia, installment ketiga ini tayang di bioskop-bioskop dengan judul Cage Dive (CD) saja. Tentu keputusan ini mengingat seri Open Water selama ini tidak ada yang didistribusikan secara resmi. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jembatan Pensil

Pendidikan menjadi salah satu perhatian terbesar di industri film Indonesia. Di satu sisi ada pihak yang mengharapkan konten hiburan yang mendidik, sementara di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa film tak selalu harus mendidik (dalam konteks mendikte). Maka tak heran jika kemudian tema pendidikan menjadi semacam lahan basah di perfilman kita. Didukung dengan keberhasilan (baik secara komersial maupun resepsi kritk) film bertema pendidikan yang memang digarap baik, seperti Laskar Pelangi (2008), film bertemakan pendidikan cenderung lebih mudah untuk dipromosikan. Tinggal menggandeng dan ‘membujuk’ sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk menggelar acara nonton bareng, jumlah penonton yang tinggi pun dengan mudah diraih. Mungkin begitu yang ada di benak investor ketika setuju turut ambil bagian dalam proyek perdana Grahandhika Visual, Jembatan Pensil (JP). Dari naskah yang disusun oleh Exan Zen dan disutradarai oleh Hasto Broto (Diaspora Cinta di Taipei dan Surga Menanti), JP didukung oleh nama populer seperti Kevin Julio, Agung Saga, Alisia Rininta (masih ingat penampilannya sebagai Sophie di 7 Misi Rahasia Sophie?), Andi Bersama, hingga Meriam Bellina untuk menambah daya tariknya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 8, 2017

The Jose Flash Review
Petak Umpet Minako

Pasca kesuksesan Danur: I Can See Ghosts, genre horor kembali dilirik oleh banyak pegiat film Indonesia setelah sempat dihindari karena image horor esek-esek yang kerap dijadikan kambing hitam rendahnya kualitas film Indonesia secara keseluruhan. Di tengah eksplorasi genre horor di film Indonesia yang masih belum beranjak terlalu jauh ke mana-mana, Nimpuna Sinema mencoba mengangkat kisah Petak Umpet Minako (PUM) dari novel best-seller karya @manhalfgod sebagai produksi perdananya. Tak tanggung-tanggung, Billy Christian yang dikenal spesialis horor dengan visi dan konsep unik, ditunjuk sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Sementara di jajaran cast, ada belasan nama populer dan beberapa tergolong fresh seperti Miller Khan, Gandhi Fernando, Regina Rengganis, Nicky Tirta, Natasha Gott, Wendy Wilson, Hans Hosman, Novinta Dhini eks-JKT48, Tia Muller, Tamara Tyasmara, Reza Restapop, Herichan, Daniel Topan, dan Ario Astungkoro (penyiar Hard Rock FM Jakarta). Menghadirkan budaya Jepang dengan sub-genre survival horror, PUM berpotensi memberikan warna tersendiri pada genre horor di film Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 7, 2017

The Jose Flash Review
It (2017)

Sebagai salah satu penulis novel paling produktif dan karyanya banyak diangkat ke layar lebar, layaklah jika tiap kali kemunculan film adaptasi Stephen King menjadi daya tarik tersendiri. 2017 agaknya menjadi tahun keemasan bagi King. Sebulan lalu baru saja kita disuguhi The Dark Tower, kini kita sudah dihadapkan pada It yang sebelumnya sudah pernah diangkat ke format mini seri yang terdiri dari dua episode pada tahun 1990 dan melambungkan nama Tim Curry sebagai salah satu ikon horor legendaris lewat karakter badut Pennywise. Jika The Dark Tower lalu sempat mengecewakan banyak pihak, maka It bisa jadi pengobat lara yang cukup menjanjikan. Naskahnya diadaptasi oleh kolaborasi Chase Palmer, Cary Fukunaga (Beasts of No Nation dan juga menyutradarai Jane Eyre), serta Gary Dauberman (Annabelle, Annabelle: Creation, dan upcoming, The Nun). Sementara bangku penyutradaraan diduduki oleh Andy Muschietti (Mama) setelah Fukunaga mengundurkan diri karena masalah budget dan perbedaan visi, terutama karena studio menginginkan rating film yang lebih ‘ramah’. Jajaran cast-nya tergolong pendatang baru, kecuali sosok ikonik Pennywise yang jatuh kepada Bill Skarsgård (terakhir kita lihat aksinya di Atomic Blonde). Di bulan yang penuh dengan film horror, It menjadi salah satu yang dinanti-nantikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 6, 2017

The Jose Flash Review
The Evil Within

Ada banyak alasan mengapa sebuah film (terutama film horor) mendapatkan status sebagai film cult. Salah satunya adalah background pembuatan film yang tak kalah menarik dengan hasil akhir yang memang ‘unik’. Background behind the scene The Evil Within (TEW) memenuhi ‘syarat’ tersebut. Bagaimana tidak? Film yang disutradarai dan naskahnya disusun oleh Andrew Getty (putra komposer Gordon Getty dan paman dari aktor Balthazar Getty) ini sejatinya sudah mulai diproduksi sejak tahun 2002. Namun berbagai masalah, termasuk pembiayaan, konflik jadwal cast, hingga masalah hukum, membuat produksi berkali-kali terhenti hingga benar-benar selesai tahun 2008. Seolah permasalahan belum selesai, Getty yang perfeksionis terobsesi di ruang editing hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun menyelesaikannya. Bahkan hingga Getty sendiri harus meninggalkan kehidupan di dunia tahun 2015 karena pendarahan maag sebagai akibat dari kecanduan methamphetamine. Inisiatif dari salah satu produser, Michael Luceri-lah yang akhirnya menyelesaikan film peninggalan Getty ini dan ditayangkan di layar lebar. Indonesia termasuk salah satu yang beruntung ada distributor yang tertarik menayangkannya di layar lebar nasional.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 5, 2017

The Jose Flash Review
Colossal

Belum banyak yang berani memadukan sci-fi dengan komedi. Secara spontan, mungkin yang tercetus pertama kali dalam memori saya adalah Evolution dan Mars Attacks!. Maka apa yang coba dihadirkan oleh sutradara/penulis naskah asal Spanyol, Nacho Vigalondo (segmen A is for Apocalypse di antologi The ABCs of Death dan Open Windows yang menghadirkan Elijah Wood serta bintang biru, Sasha Grey) ini dengan mudah menarik perhatian. Apalagi meletakkan Anne Hathaway yang jelas punya pesonanya sendiri di lini terdepan, didukung Jason Sudeikis (Horrible Bosses dan We’re the Millers) yang juga punya reputasi baik di ranah komedi. Meski tergolong low budget indie di balik monster raksasa sebagai tema utamanya, premise yang unik lah menjadi daya tarik terbesar bagi Colossal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Shubh Mangal Saavdhan
[शुभ मंगल सावधान]

Tak banyak film Asia yang berani mengangkat tema seks ke ranah sinema. Maklum, di budaya Timur, seks masih menjadi topik yang tabu untuk dibahas. Namun bukan berarti sama sekali tidak ada. Tiap kemunculannya kemudian menjadi sesuatu yang menarik. Tak terkecuali di scene sinema Tamil yang meski dianggap masih di bawah industri Bollywood tapi justru telah melahirkan banyak ide-ide menarik yang kemudian diadaptasi ke bahasa Hindi oleh industri mainstream Bollywood. Salah satunya adalah Kalyana Samayal Saadham, komedi romantis garapan RS Prasanna yang banyak mendapatkan pujian kritikus. Bahkan Sudhish Kamath dari The Hindu memasukkannya ke dalam daftar 5 film yang mendefinisi ulang perfilman Tamil tahun 2013. Tahun 2017, sutradara RS Prasanna sendiri yang turun tangan untuk menggarap remake berbahasa Hindi-nya, Shubh Mangal Saavdhan (SMS) dengan naskah yang diadaptasi oleh Hitesh Kewalya (Siddharth: The Prisoner). Memasangkan kembali Ayushmann Khurrana dan Bhumi Pednekar pasca Dum Laga Ke Haisha yang berjaya di berbagai ajang penghargaan film dan sukses secara box office tahun 2015 lalu, menjadi daya tarik SMS. Apalagi keduanya punya film yang rilis dalam waktu yang berdekatan; Ayushmann di Bareilly Ki Barfi (tayang seminggu sebelumnya di bioskop Indonesia), sementara Bhumi di Toilet: Ek Prem Katha (tayang dua minggu sebelumnya di bioskop).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 3, 2017

The Jose Flash Review
Warkop DKI Reborn:
Jangkrik Boss! Part 2

Ada banyak cara untuk kembali mengangkat materi yang pernah populer beberapa generasi lalu. Cara yang paling basic adalah remake, meski remake sendiri bisa dilakukan dengan berbagai kemungkinan treatment. Apa yang dilakukan Falcon Pictures kepada legenda humor Indonesia, Warkop DKI, lewat Warkop DKI Reborn (WDKI-R), tergolong unik meski bukan pula sepenuhnya yang pertama kali ada. Dengan mempertahankan ciri-ciri khas group lawak, mulai tampilan fisik hingga style dan pattern humor, upaya melestarikan warisan Warkop DKI dibangun lewat aktor-aktor non-komedi dengan treatment yang lebih modern dan mumpuni. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, August 31, 2017

The Jose Flash Review
Midnight Runners
[청년경찰]

Sebagai salah satu negara produsen film yang paling produktif, sinema Korea Selatan punya cukup banyak variasi genre dan tema yang ditawarkan. Salah satu yang termasuk sering diangkat adalah bromance. Entah apa alasan utamanya. Mungkin saja salah satunya adalah kesadaran mereka bahwa komoditas terbesar mereka adalah aktor-aktor muda eye-candy yang popularitasnya (berikut juga tipikalnya) sudah mendunia. Setelah terakhir penonton Indonesia disuguhi My Annoying Brother, kali ini ada Midnight Runners (MR) yang disutradarai dan ditulis oleh Kim Joo-Hwan (Goodbye My Smile, Koala). Dengan meletakkan Park Seo-Joon (serial Kill Me, Heal Me, She Was Pretty, Hwarang: The Poet Warrior Youth, dan Fight for My Way) dan Kang Ha-Neul (serial The Heirs dan Misaeng), MR mencoba menggabungkan tema bromance dengan kehidupan para siswa sekolah kepolisian (semacam akpol di Indonesia).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 30, 2017

The Jose Flash Review
Baby Driver

Kiprah sutradara Inggris, Edgar Wright dengan style film-filmnya yang ‘nyeleneh’ tapi asyik dengan mudah dilirik dan bahkan dipuja oleh banyak moviegoers di dunia. Terutama lewat Cornetto Trilogy (istilah yang kemudian muncul karena di masing-masing film menunjukkan referensi terhadap tiga rasa es krim Cornetto yang berbeda) yang terdiri dari Shaun of the Dead (2004), Hot Fuzz (2007), dan The World’s End (2013), serta tentu saja Scott Pilgrim vs. the World (2010) yang dianggap sebagai sebuah game-changer. Maka tak heran jika tiap kali perilisan film terbarunya selalu mendapatkan perhatian serta antusiasme khusus. Itulah yang membuat Baby Driver (BD) jadi hype tersendiri, selain tentu saja ‘gebrakan’ lain yang dilakukan Wright. Menggandeng Ansel Elgort (The Fault in Our Stars, franchise Divergent), Kevin Spacey, Lily James, Jamie Foxx, John Hamm, Eiza González, CJ Jones, hingga penyanyi, Sky Ferreira yang sebelumnya juga pernah mendukung di The Green Inferno. Daya tarik lain tentu saja jajaran soundtrack list-nya yang membentang lintas genre dan era, mulai era ’60-an hingga ’90-an. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
American Made

Status superstar Tom Cruise sampai detik ini belum pudar. Maka tak heran jika studio-studio major Hollywood masih dengan senang hati meletakkannya di garda depan, bahkan tak jarang menjadi satu-satunya komoditas daya tarik film. Tak hanya yang pure blockbuster, tapi juga film-film serius yang berpotensi menjadi tontonan segmented. American Made (AM) yang merupakan biopik dari tokoh nyata, Barry Seal, adalah salah satu contohnya. Karakter Barry Seal sendiri sebenarnya pernah muncul di beberapa film karena punya kaitan erat dengan tokoh mafia Kolumbia paling populer, Pablo Escobar. Sebut saja dokudrama Doublecrossed (1991) dan The Infiltrator yang baru beberapa bulan lalu menyambangi bioskop kita. Hanya saja tentu akan jauh berbeda jika menggunakan treatment blockbuster dari aktor kelas A, Tom Cruise dan sutradara Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity, Edge of Tomorrow). Dari naskah Gary Spinelli yang pernah masuk 2014 Black List, AM masuk menjadi salah satu peran Tom Cruise paling menarik dari daftar panjang filmografi-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 28, 2017

The Jose Flash Review
Bareilly Ki Barfi
[बरेली की बर्फी]

Senyata kelahiran dan kematian, dipertemukan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan kita, termasuk pasangan hidup, bisa jadi merupakan takdir. Setidaknya berdasarkan pengalaman, itulah yang saya percaya. Setiap kejadian, termasuk dipertemukan dengan siapa saja, punya maksud dan tujuan tersendiri. Namun saya juga percaya, apa yang terjadi setelah pertemuan tergantung dari keputusan atas dasar free will dari masing-masing pribadi. Beberapa film pernah mengangkat ‘fenomena’ ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah film Perancis berjudul Le fabuleux destin d’Amélie Poulain dan Serendipity. Meyakini fenomena serupa, film Hindi dari sutradara wanita, Ashwiny Iyer Tiwari, istri dari Nitesh Tiwari, sutradara/penulis naskah Chillar Party dan Dangal. Ashwiny sendiri sempat mencuri perhatian lewat debutnya, Nil Battey Sannata (2015) dan remake versi Tamil-nya setahun kemudian, Amma Kanakku. Dari naskah yang ditulis sang suami bersama rekannya di Kill Dill dan Dangal, Shreyas Jain, film komedi romantis berjudul Bareilly Ki Barfi (BKB) ini punya Kriti Sanon (Heropanti, Dilwale, dan baru saja, Raabta), Ayushmann Khurrana (VJ MTV India yang makin dikenal setelah Vicky Donor dan Dum Laga Ke Haisha), Rajkummar Rao (Kai po che!, Queen, Raabta) di jajaran cast terdepannya serta narasi dari penulis naskah legendaris, Javed Akhtar (Don, Deewaar, Lakshya). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Gentleman:
Sundar, Susheel, Risky

Trend aktor memainkan peran ganda di sinema Bollywood agaknya masih belum surut. Sebelum Varun Dhawan di Judwaa 2 akhir September 2017 nanti, rekan sesama pendatang baru yang pernah dipertemukan di Student of the Year 2012 silam, Sidharth Malhotra, yang mengikuti jejak panjang tersebut lewat A Gentleman: Sundar, Susheel, Risky (sundar = charming, susheel = gentle). Sempat dirumorkan sebagai sekuel dari Bang Bang! yang merupakan remake dari film Hollywood, Knight and Day, gara-gara pernyataan sutradara Siddharth Anand yang menyebutkan kemungkinan ada sekuel tersebut dengan Siddhart mengisi peran utama. Namun kemudian ternyata A Gentleman disutradarai oleh duo Krishna D.K. dan Raj yang populer lewat Flavors, Go Goa Gone, dan Happy Ending, serta sebuah foto produksi menampilkan clapboard bertuliskan judul Not Bang Bang 2, yang mematahkan rumor tersebut. Ada pula klaim yang menyebut A Gentleman sebagai remake bebas dari The Big Hit, film action comedy Hollywood berbudget kecil yang dibintangi Mark Wahlberg, Lou Diamond Phillips, Antonio Sabato Jr., dan Christina Applegate. Apapun referensinya, A Gentleman agaknya memang menyuguhkan treatment perpaduan antara The Big Hit dan Bang Bang!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 26, 2017

The Jose Flash Review
Amityville: The Awakening

Salah satu kasus pembunuhan paling populer yang diwarnai unsur supranatural adalah Ronald DeFeo, Jr yang menghabisi  enam anggota keluarganya di kawasan Amityville, pantai Selatan Long Island, New York, pada 1974 lalu. Keluarga yang kemudian tinggal di rumah bekas TKP mengaku mendapat gangguan paranormal dan memutuskan pindah. Kisah ini menginspirasi Jay Anson untuk mengangkatnya ke sebuah buku berjudul The Amityville Horror pada tahun 1977 dan kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada 1979 yang sampai menjadi nominee Oscar untuk kategori Best Original Score. Diikuti sekuel berjudul Amityville II: The Possession pada 1982, satu film berformat 3D pada 1983, enam film video dan TV, serta remake pada tahun 2005 dengan bintang Ryan Reynolds dan Chloë Grace Moretz. Meski menggunakan template yang kurang lebih sama dan belum sebesar franchise horor raksasa lainnya, Amityville sudah menjelma menjadi nama yang sudah punya brand kengeriannya sendiri. Upaya mempertahankan franchise ini sudah dipersiapkan Dimension Films dan Miramax dengan konsep found footage berjudul Amityville: The Lost Tapes sejak 2011. Namun banyak faktor yang membuat proyek ini terus mengalami penundaan hingga diputuskan menyusun ulang konsep yang benar-benar baru sejak 2014. Lagi-lagi proyek bertajuk Amityville: The Awakening (ATA) ini mengalami jalan terjal hingga melakukan pengambilan gambar ulang pada 2016 dan jadwal rilisnya terus mengalami penundaan. Beruntung kita di Indonesia mendapatkan kesempatan menyaksikannya di layar lebar sebelum di Amerika Serikat yang bahkan sampai tulisan ini dibuat belum menentukan jadwal pasti. Padahal ATA punya punya daya tarik dari jajaran cast yang meliputi Bella Thorne (Blended, The DUFF, serta serial Scream), Cameron Monaghan (Vampire Academy, The Giver, serta serial Gotham), dan Jennifer Jason Leigh (The Hateful Eight). Penulis naskah dan sutradaranya pun punya track record yang cukup baik di genrenya, terutama P2 (2007).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Dark Tower

Nama Stephen King sebagai penulis novel misteri, horor, dan supranatural sudah menjadi legenda sejak lama. Ratusan karya tulisnya sudah diangkat ke layar lebar, termasuk Carrie, The Shining, Pet Sematary, Misery, The Shawshank Redemption, dan The Green Mile yang sudah menjadi penghuni banya daftar film terbaik sepanjang masa. Karya terbarunya yang diangkat ke layar lebar, The Dark Tower (TDT), merupakan novel berseri yang sudah mencapai 8 jilid sejak 1982 hingga 2012. Rencana adaptasi ke layar lebar sudah digagas sejak 2007 dengan melibatkan nama-nama populer seperti J. J. Abrams, Ron Howard, hingga akhirnya jatuh ke tangan sutradara Denmark, Nikolaj Arcel (penulis naskah adaptasiThe Girl with the Dragon Tattoo versi Swedia yang pernah menjadi sutradara A Royal Affair). Tak hanya franchise di layar lebar, tapi sudah dipersiapkan pula serial TV di bawah produser Glen Mazzara yang akan menjadi backstory sementara versi layar lebar merupakan sekuel dari kedelapan seri novelnya dan dijadwalkan tayang mulai tahun 2018, masih dengan mengusung aktor Idris Elba dan Tom Taylor di lini terdepan. Mendapatkan sebagian besar kritik negatif, TDT ternyata masih mampu menghasilkan US$ 71.8 juta di seluruh dunia hingga 20 Agustus 2017 (menurut data Box Office Mojo) dari budget US$ 60 juta. Setidaknya memperkenalkan universe baru dengan memadukan koboi western dan fantasi sci-fi, TDT masih punya daya tarik untuk dialami di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Toilet - Ek Prem Katha
[टॉयलेट: एक प्रेम कथा]

Tanah Hindustan termasuk salah satu negara besar di dunia ketiga yang punya cukup banyak masalah sosial, bahkan sampai saat ini. Salah satu yang pernah menjadi perhatian dunia adalah sanitasi, dimana hasil sensus tahun 2011 seperti yang dilansir di The Hindu pada 2Juli 2012, bahwa ada 131 juta rumah tangga di India yang tak punya toilet sama sekali. Delapan juta di antaranya menggunakan toilet umum dan 123 juta buang air di tempat terbuka. Sebuah fakta ironis yang sempat mencuatkan kasus wanita seperti Priyanka Bharti dan Anita Narre yang menuntut sang suami yang baru dinikahi karena tak ada toilet di rumah tangga mereka. Kasus yang dialami Anita Narre ini yang kemudian mengilhami Toilet: Ek Prem Katha (TEPK) yang naskahnya disusun oleh Siddharth Singh dan dialog dari Garima Wahal (keduanya yang menggarap naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela, Brothers, dan Raabta), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Shree Narayan Singh, editor Baby, Rustom, dan M.S. Dhoni: The Untold Story yang menandai film panjang keduanya setelah Yeh Jo Mohabbat Hai (2012). Pemilihan cast-nya tak main-main. Di lini terdepannya ada Akshay Kumar dan Bumi Pednekar (Dum Laga Ke Haisha). Penghasilan box office-nya pun tergolong baik setelah film-film blockbuster beberapa bulan terakhir yang jeblok. Dengan budget ‘hanya’ 18 crore (sekitar US$ 2.8 juta), berhasil mengumpulkan 225.15 crore di seluruh dunia dalam kurun waktu 14 hari saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bad Genius
[ฉลาดเกมส์โกง]

Ujian menjadi bagian penting dari dunia pendidikan di negara manapun, yang mana masih menjadikannya tolak ukur keberhasilan seseorang dalam pendidikan. Namun film yang secara khusus membidik tentang ujian tingkat pendidikan tergolong masih jarang diangkat. So far hanya The Perfect Score (2004) yang masih saya ingat dalam memori. Maka apa yang diangkat oleh PH terinovatif Thailand, GDH 559 (sebelumnya GTH) di tahun 2017 ini menjadi sajian yang menarik. Disutradarai Nattawut Poonpiriya (Countdown) dari naskah yang disusun Tanida Hantaweewatana (Hormones), Vasudhorn Piyaromnam (May Who), dan Nattawut sendiri, film bertajuk Bad Genius (BG) ini meletakkan model Chutimon Cheungcharoensukying alias Aokbab, Eisaya Hosuwan yang baru saja kita lihat di Siam Square, Teeradon Supapunpinyo alias James, dan Chanon  Santinatornkul alias Nonkul yang keduanya pernah mendukung serial Hormones. Dengan kultur dan sistem pendidikan yang serupa dengan kita di Indonesia, tak sulit bagi BG untuk terasa dekat dengan penonton kita.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, August 24, 2017

The Jose Flash Review
The Hitman's Bodyguard

Hollywood sudah sejak lama memasangkan aktor-aktor terbaiknya dalam tema-tema ‘buddy’, terutama untuk frame polisi, penegak hukum, maupun penjahat. Sebut saja Bad Boy, Training Day, The Other Guys, sampai yang paling populer dan menjadi franchise besar, Lethal Weapon. Tema dan premise-nya boleh sekedar daur ulang, tapi yang menjadi kekuatan utama adalah chemistry antar karakter utama yang harus selalu terasa fresh dan klop. Maka tak heran jika tema serupa akan selalu ada dan selalu berevelousi mengikuti selera generasi masing-masing. Upaya terbaru adalah memadukan Ryan Reynolds yang makin kuat dengan image bad-ass sekaligus kocak terutama setelah Deadpool, dan Samuel L. Jackson yang sudah sejak lama dikenal mampu memadukan karakter action star dengan suara yang begitu khas. Dengan sutradara yang dikenal lewat Red Hill dan The Expendables 3, Patrick Hughes, dan naskah dari Tom O’Connor (Fire with Fire), The Hitman’s Bodyguard (THB) punya ‘pemasangan’ yang unik; seorang pembunuh bayaran dan bodyguard-nya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Cars 3

Di antara franchise animasi yang dimiliki Pixar, Cars termasuk salah satu yang menguntungkan. Dimulai dari Cars tahun 2006 yang berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 462 juta di seluruh dunia, Cars 2 yang dirlis tahun 2011 justru punya penghasilan yang meningkat, yaitu lebih dari US$ 562 juta. Selain itu dirilis pula spin-off Planes yang diproduksi di bawah DisneyToon dan mengumpulkan US$ 239 juta di seluruh dunia, serta sekuelnya, Planes: Fire & Rescue yang semakin jeblok dengan penghasilan ‘hanya’ sekitar US$ 151 juta. Di usia yang menginjak 11 tahun sejak installment pertama, Pixar menelurkan installment ketiga, Cars 3 dengan voice talent utama yang masih tetap, seperti Owen Wilson, Bonnie Hunt, Larry the Cable Guy, Tony Shalhoub, John Ratzenberger, serta tambahan dari Armie Hammer, Cristela Alonzo, Chris Cooper, dan Nathan Fillion yang mengisi suara karakter-karakter baru. Brian Fee yang sudah menjadi animator dengan berbagai jobdesk di Disney dan Pixar, termasuk storyboard artist di Cars, Ratatouille, Wall-E, Cars 2, dan Monsters University, dipercaya untuk menjadikan Cars 3 debutnya duduk di bangku sutradara, berdasarkan naskah yang disusun Kiel Murray dan Bob Peterson yang sudah sangat berpengalaman menggarap naskah animasi-animasi Pixar, serta Mike Rich yang pernah menyusun naskah Finding Forrester, The Rookie, Radio, The Nativity Story, dan Secretariat
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 21, 2017

The Jose Flash Review
A: Aku, Benci, dan Cinta

Popularitas bintang muda Jefri Nichol dan Amanda Rawles selepas Dear Nathan semakin meroket tak terbendung. Keduanya kemudian dipasangkan kembali di Jailangkung dan masih di tahun yang sama dipertemukan lagi di A: Aku, Benci, dan Cinta (AABC), sebuah drama romantis remaja dengan bumbu komedi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi (sebelumnya juga merupakan karya tulis yang dipublikasikan di Wattpad sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, sama seperti Dear Nathan). Naskah adaptasinya disusun oleh Alim Sudio yang sudah berpengalaman menyusun puluhan naskah film, termasuk yang diadaptasi dari novel, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Surga yang Tak Dirindukan, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Cinta Laki-Laki Biasa, dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Rizki Balki sebagai film debutnya setelah dikenal sebagai sutradara TVC. Selain Jefri dan Amanda, digandeng juga nama-nama bintang muda populer seperti Indrah Permatasari ({rudy habibie}, Pesantren Impian, Athirah, dan Stip & Pensil), Brandon Salim (di hari yang sama ada dua filmnya yang dirilis, satunya The Underdogs), Syifa Hadju, dan Maxime Bouttier.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
The Underdogs

Mau tak mau harus diakui bahwa media sosial menjadi fenomena sosial yang paling besar dewasa ini. Media sosial lah yang menggeser makna dan sistem popularitas menjadi lebih umum, tak lagi soal bakat saja. Salah satu yang pengaruhnya adalah YouTube yang membuat semua orang bisa punya channel sendiri berisi aksi pribadi masing-masing hingga membentuk profesi baru; YouTuber. Sinema Indonesia sudah pernah mengangkat tema ini lewat Youtubers tahun 2015 silam dengan menggandeng berbagai YouTuber betulan, seperti da Lopez Bersaudara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Atomic Blonde

Dunia tak akan pernah cukup melahirkan tokoh-tokoh jagoan baru di film, tak terkecuali bergender wanita yang harus diakui punya daya tarik tersendiri. Setelah ‘era kejayaan’ Angelina Jolie yang pernah menjelma menjadi sosok Lara Croft, Evelyn Salt, Mrs. Smith, dan Fox (Wanted) dan di era ini ada Scarlett Johansson (Black Widow di Marvel Cinematic Universe, Lucy, dan Major (Ghost in the Shell), aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron pun tak mau ketinggalan kembali mengambil peran kick-ass heroine pasca Æon Flux dan Furiosa di Mad Max: Fury Road. Kesempatan terbaru ini berasal dari sutradara David Leitch, yang sebelumnya bertindak sebagai stuntman, stunt coordinator, sekaligus fight choreographer dari film-film blockbuster seperti Fight Club, Mr. & Mrs. Smith, X-Men Origins: Wolverine, The Bourne Legacy, dan pernah dipercaya menyutradarai beberapa adegan di John Wick, film pendek Deadpool: No Good Dead, dan upcoming, Deadpool 2. Naskahnya disusun oleh Kurt Johnstad (300, Act of Valor, dan 300: Rise of an Empire) berdasarkan novel grafis The Coldest City keluaran Oni Press karya Antony Johnston dan Sam Hart. Didukung James McAvoy, John Goodman, Toby Jones, Sofia Boutella, hingga aktor Jerman yang sering main di film Hollywood, Til Schweiger, Atomic Blonde (AB) yang merupakan kisah espionage ini berpotensi berkembang menjadi franchise baru setara John Wick.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 15, 2017

The Jose Flash Review
The Battleship Island
[군함도]

Perang Dunia II adalah peristiwa sejarah dunia yang bisa dikatakan terbesar hingga saat ini. Tentu ada banyak kisah yang bisa diangkat, baik dari sudut pandang tokoh-tokoh populer yang punya pengaruh besar terhadap arah sejarah maupun manusia-manusia biasa dengan kesederhanaannya. Tak hanya dari sudut pandang Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan negara-negara anggota lainnya), Jerman, ataupun Jepang yang memang menjadi negara-negara pion utama dari PD II, tapi juga negara-negara lain yang menjadi ‘korban’. Terutama di Asia; Cina dan Korea. Sinema Korea Selatan yang sudah semakin mumpuni, bahkan semakin lama semaki ambisius, akhirnya ikut meramaikan ‘bursa’ PD II lewat salah satu era kelam dalam sejarah Korea; 400 orang Korea yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik ternyata dikirim ke Pulau Hashima dan dipaksa bekerja sebagai buruh pertambangan batu bara milik Jepang. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Emoji Movie

Saat ini smartphone mungkin sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski tetap saja ada tingkatan-tingkatan ‘ada harga ada rupa’, setidaknya fungsi-fungsi dasar smartphone sudah bisa dinikmati bukan lagi sebagai barang mahal. Saking smart-nya, mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya seperti apa sih kinerja di balik kecerdasan fungsional mereka. Tony Leondis (story artist dari The Lion King 2: Simba’s Pride, The Prince of Egypt, dan Home on the Range yang pernah dipercaya untuk menyutradarai animasi Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch dan Igor) mencoba untuk menjelaskan kinerja di balik smartphone, terutama salah satu elemen paling populernya, emoji, secara imajinatif. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Hunter's Prayer

Penggabungan action thriller dengan drama lewat mengulik sisi emosional dari sosok yang identik dengan dingin dan kejam seperti yang pernah dilakukan oleh Léon: The Professional (1994) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa jadi paduan yang menghibur sekaligus menyentuh. Formula serupa coba dihadirkan sekali lagi oleh Jonathan Mostow yang pernah dipercaya menggarap Breakdown, U-571, Terminator 3: Rise of the Machines, dan Surrogates. Naskah film bertajuk The Hunter’s Prayer (THP) yang diadaptasi John Brancato dan Michael Ferris (keduanya bekerja sama menyusun naskah The Net, The Game, Terminator 3 & Salvation, serta Surrogates) ini berasal dari novel For the Dogs karya Kevin Wignall yang dirilis tahun 2004. Dengan membawa nama-nama populer di jajaran cast, seperti Sam Worthington (Terminator Salvation, James Cameron’s Avatar) dan bintang muda yang karir aktingnya kian mengkilat setelah The Odd Life of Timothy Green, The Giver, serta Goosebumps, Odeya Rush, THP punya daya tarik yang cukup mengundang rasa penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 12, 2017

The Jose Flash Review
Annabelle: Creation

Reputasi James Wan sebagai produser spesialis horror jaminan mutu semakin terkukuhkan dengan lahirnya The Conjuring Universe. Terbukti ‘pancingan’ sosok-sosok horror ikonik yang ia sebar di dua installment The Conjuring (dan rupanya masih akan terus berlanjut) begitu diminati, bahkan dengan antusiasme tinggi oleh penggemar sekaligus penonton umum di seluruh dunia. Diawali dengan spin-off pertama, Annabelle (2014) yang meski lebih banyak mendapatkan review negatif tapi berhasil mengumpulkan US$ 256.9 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 6.5 juta. Tentu ini membuat New Line Cinema, Warner Bros., dan James Wan sendiri selaku produser, percaya diri untuk ‘menebus’ seri Annabelle dengan follow-up. Gary Dauberman yang kembali ditunjuk menyusun naskahnya memilih untuk mengembangkan prekuel bertajuk Annabelle: Creation (AC) dengan setting country (pedesaan) Amerika Serikat era ’50-an. Ini bisa jadi sedikit penyegaran setelah mengambil setting suburban dan country Amerika Serikat, serta suburban Inggris era ’70-an. Bangku sutradara dioper ke David F. Sandberg yang sukses mengangkat film pendek fenomenalnya, Lights Out ke layar lebar dan menarik perhatian Wan. Di deretan cast, ada Stephanie Sigman yang pernah kita lihat di Spectre, Miss Bala, dan terakhir belum lama ini, Once Upon a Time in Venice, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, dan si cilik yang ‘keranjingan’ bermain di film horror, Lulu Wilson (Ouija: Origin of Evil).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Jab Harry Met Sejal
[जब हैरी मेट सेजल]

Bekerja sama dengan sang raja, Shah Rukh Khan (SRK), mungkin sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi sineas di tanah Hindustani. Setelah sekian tahun dan sekian kali belum berjodoh, Imtiaz Ali (Jab We Met, Love Aaj Kal, Rockstar, Highway, dan Tamasha) akhirnya menemukan peran yang pas untuk SRK. Berpasangan kembali dengan Anushka Sharma setelah Rab Ne Bana De Jodi, Jab Tak Hai Jaan, dan Ae Dil Hai Mushkil (di sini keduanya tak dipasangkan. SRK pun hanya menjadi cameo), kisah asmara bertajuk Jab Harry Met Sejal (JHMS) ini bukanlah remake dari komedi romantis legendaris, When Harry Met Sally. Judul tersebut hanyalah atribut sebagai penghormatan semata, sementara plot dan tema yang diusung jauh berbeda. Imtiaz sendiri sempat mengubah konsep awal yang mengangkat pria yang hendak bunuh diri menjadi lebih ceria dan berwarna. Tentu saja star power sebesar SRK tak boleh kelewat membuat fanbase raksasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia kecewa, bukan?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Once Upon a Time in Venice

Meski image-nya lebih kuat sebagai aktor laga, Bruce Willis sebenarnya tak jarang juga mengambil peran-peran komedi. Sebut saja The Whole Nine Yards, The Bandits, dan Cop Out. Toh ternyata ia cukup luwes juga mengisi peran-peran komedi. Setelah Cop Out, Willis kembali menerima tawaran Mark Cullen (penulis naskah Cop Out) untuk tampil di Once Upon a Time in Venice (OUTV). Nama Mark Cullen dan Robb Cullen sebenarnya cukup punya reputasi bagus, terutama karena nominasi Emmy Awards untuk serial Lucky yang mereka ciptakan. Aktor-aktor pendukung OUTV pun cukup menjanjikan. Mulai dari Jason Momoa (Aquaman di upcoming DC’s Justice League dan Aquaman), John Goodman, Thomas Middleditch, Famke Janssen, hingga Adam Goldberg. Dengan premise detektif dengan bumbu komedi dan latar tropis Venice, OUTV sebenarnya berpotensi menjadi sajian yang menghibur.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cowo]


Setelah beberapa minggu sebelumnya Mars Met Venus: Part Cewe (PCe) dirilis dan ternyata mendapat sambutan penonton yang sangat baik (sudah melewati angka 200 ribu penonton di minggu ketiga penayangannya!), giliran Part Cowo (PCo) mencoba menyajikan perspektif berbeda dari materi cerita yang sama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Berangkat!

Petualangan road trip gila-gilaan adalah kemasan sekaligus bumbu yang meresap baik dengan tema persahabatan. Toh katanya persahabatan akan semakin erat ketika sama-sama melewati banyak peristiwa yang menguji kekuatan dan ketulusan sebuah persahabatan. Jika di Hollywood paduan ini sudah sangat sering digunakan, seperti Road Trip dan yang ‘dibumbui’ kelewat batas, Hangover Trilogy. Di film Indonesia, MVP Pictures pernah memproduksi Punk in Love (2009) yang membawa trio Vino G. Bastian, Andhika Pratama, Yogi Finanda, dan Aulia Sarah bertualang dalam sebuah road trip dari Malang ke Jakarta untuk bertemu kekasih salah satu dari mereka yang akan dinikahkan. Tahun 2017 ini MVP Pictures kembali mengajak penonton untuk bertualang bersama tiga sahabat. Kali ini digawangi oleh trio Tarra Budiman, Ringgo Agus Rahman, dan Ayushita Nugraha. Film petualangan komedi gila-gilaan bertajuk Berangkat! ini dipercayakan di tangan sutradara wanita, Naya Anindita, yang pernah memvisualisasikan secara menarik biopic pendiri Kaskus, Sundul Gan!. Sementara naskahnya disusun oleh Nicholas Raven dan komika sekaligus penulis komedi, Isman HS.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 2, 2017

The Jose Flash Review
Banda:
The Dark Forgotten Trail

Di pelajaran sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu selalu disebutkan bahwa bangsa-bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena memperebutkan rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, tapi saya tidak pernah tahu kenapa. Apa yang membuat rempah-rempah punya signifikansi bagi peradaban Barat? Sebuah film dokumenter produksi Lifelike Pictures yang pernah memproduksi Pintu Terlarang, Modus Anomali, dan Tabula Rasa, memberikan jawabannya. Tak hanya tentang seluk-beluk pala, tapi juga mengeksplorasi Kepulauan Banda yang pernah menjadi rebutan bangsa-bangsa Barat di abad ke 18. Di bawah sutradara Jay Subiyakto yang selama ini lebih dikenal sebagai sutradara video musik dan pertunjukan (terutama konser), Banda: The Dark Forgotten Trail (BTDFT) tak hanya mencoba menjadi film dokumenter yang sangat informatif, tapi juga disusun dengan pendekatan video musik yang stylish dan dinamis. Apalagi ditambah dengan narasi dari Reza Rahadian (untuk narasi berbahasa Indonesia) dan Ario Bayu (untuk narasi berbahasa Inggris), BTDFT tampak begitu menarik dan penting untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, July 31, 2017

The Jose Flash Review
Napping Princess
[ひるね姫
知らないワタシの物語]

Selain Hollywood, Jepang sejak lama dikenal lewat karya-karya sci-fi dengan imajinasi dunia masa depan yang tergolong tinggi dan punya ciri-ciri visual yang khas, terutama lewat medium animasi atau yang secara spesifik disebut anime. Tak sedikit yang akhirnya di-remake Hollywood seperti baru-baru ini, Ghost in the Shell. Selain bertemakan dewasa, ada pula yang membidik pasar yang lebih luas dengan mengambil setting remaja. Setelah terakhir penonton bioskop Indonesia disuguhi Your Name (Kimi no na wa.), kali ini giliran distributor Feat Pictures menawarkan Napping Princess (Hirune-hime: Shiranai watashi no monogatari), sebuah gabungan fantasi sci-fi dengan kehidupan sosial remaja, seperti yang kerap disandingkan oleh sinema Jepang, terutama lewat animenya. Merupakan produksi anime pertama dari studio Signal.MD (bagian dari I.G Port), Napping Princess (NP) ditulis dan disutradarai oleh Kenji Kamiyama (Ghost in the Shell: Stand Alone Complex, Moribito – Guardian of the Spirit, dan Eden of the East). Dengan terlibatnya Satoko Morikiwa (The Cat Returns, Eden of the East, dan Xi AVANT) selaku desain karakter, Shigeto Koyama (Michiko & Hatchin, Moribito – Guardian of the Spirit, Heroman) selaku desainer mekanis, serta Christophe Ferreira (Bleach, Crayon Shin-chan Movie 22, Fullmetal Alchemist: Brotherhood, Gala) yang menangani concept art, creature design, dan key animation, NP menjanjikan sebuah fantasi sci-fi yang menarik dan cukup visioner.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Drone

Masih ingat tahun 2016 lalu ada film thriller war, Eye in the Sky yang mengedepankan kisah drone pengawas yang memata-matai sepak terjang teroris? Bukan rahasia lagi memang bahwa badan-badan intelijen dunia sudah memanfaatkan teknologi drone untuk memata-matai bahkan menyerang target. Tahun 2017 ini Kanada tak mau kalah mengangkat tema serupa meski skalanya bisa dikatakan jauh lebih kecil. Dari sutradara Jason Bourque, sutradara Kanada yang memenangkan beberapa penghargaan film internasional lewat Black Fly 2014 silam, Drone meletakkan aktor The Lord of the Rings, Sean Bean di lini terdepan, didukung Patrick Sabongui (Kapten David Singh di serial The Flash versi 2014 dan baru saja kita lihat di remake Power Rangers sebagai ayah Trini), Mary McCormack (serial The West Wing), serta bintang muda Maxwell Haynes. Diputar pertama kali di ajang Vancouver Film Festival April lalu, penonton Indonesia sudah bisa menyaksikannya di layar lebar oleh distributor Indonesia Entertainment Group.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
From a House on Willow Street

Kita di Indonesia mungkin tergolong sangat jarang menikmati sinema Afrika Selatan. Padahal kiprah sinema Afrika Selatan di perpetaan film dunia cukup konsisten. Bahkan pernah ada yang sampai memenangkan Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year, Tsotsi (2005). Di ranah pure hiburan, ada franchise The Gods Must Be Crazy dan Yankee Zulu yang benar-benar menancap dalam ingatan saya. Di era 2000-an, sineas Neill Blomkamp berhasil menembus pasar dunia, berturut-turut lewat District 9 dan Chappie. Tahun ini Feat Pictures mencoba kembali memperkenalkan taste Afrika Selatan lewat film horor bertajuk From a House on Willow Street (FaHoWS). Dari sutradara Alastair Orr (Indigenous dan Expiration) dan naskah yang disusun Alastair bersama rekan di film-film sebelumnya, Catherine Blackman dan Jonathan Jordaan. Menggabungkan tema home invasion dengan exorcism, FaHoWS terdengar menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 30, 2017

The Jose Flash Review
TEN: The Secret Mission

Wanita-wanita seksi. Jago bela diri. Misi espionage. Paduan formula yang sudah sangat jamak dilakukan di ranah sinema manapun. Mulai produksi kelas A Hollywood seperti Charlie’s Angels hingga produksi kelas B macam film-film karya Andy Sidaris yang populer di era 80-an dengan istilah BBB alias Bullets, Bombs, and Boobs. Sensualitas akan selalu menjual, apalagi dipadukan dengan kemampuan beladiri yang semakin menambah sisi sensual wanita. Resep itulah yang ingin coba dihadirkan oleh Vicky G. Saputra, co-founder sekaligus CEO Papilon Group yang menerbitkan majalah pria dewasa, Popular, sebagai salah satu bentuk ekspansi bisnis terbarunya. Menggandeng sutradara Helfi Kardit yang pernah menangani puluhan film multi genre, di antaranya Miracle, Lantai 13, Mengaku Rasul: Sesat, Arisan Brondong, Arwah Goyang Karawang, BrokenHearts, Guardian, dan Kacaunya Dunia Persilatan, digelarlah audisi menjaring sepuluh orang model bergelar Miss Popular yang digembleng berbagai seni bela diri yang berbeda-beda selama dua setengah bulan, mulai Pencak Silat, Kung Fu, Taekwondo, Park Our, Muay Thai, Kravmaga, Karate, hingga memanah dan menembak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, July 29, 2017

The Jose Flash Review
Mubarakan
[मुबारकां]

Di ranah perfilman Hindi, memerankan dua karakter atau lebih agaknya menjadi salah satu tantangan favorit bagi para aktor. Setelah Aamir Khan di Dhoom:3 dan Shah Rukh Khan di Fan, kini lagi-lagi Arjun Kapoor memainkan peran ganda setelah sebelumnya di Aurangzeb (2013). Film komedi romantis keluarga berjudul Mubarakan (dalam bahasa Inggris berarti ‘congratulations’) ini menandai pula kerjasama pertamanya dengan sang paman, Anil Kapoor. Dari sutradara Anees Bazmee (No Entry, Singh is Kinng, dan Welcome Back) dan penulis naskah Balwinder Singh Janjua (Chak Jawana), Mubarakan turut menggandeng aktris Ratna Pathak yang mencuri perhatian di Lipstick Under My Burkha dan Kapoor & Sons, Pavan Malhotra (Bhaag Milkha Bhaag, Bang Bang!), akttris cantik dari Barfi!, Ileana D’Cruz, Athiya Shetty (Hero), dan Neha Sharma (Kyaa Super Kool Hain) untuk makin menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Overdrive

Bicara soal film bertemakan mobil, kebut-kebutan, dan heist, judul The Fast and the Furious sebagai brand besar masih menjadi yang terdepan. Namun bukan berarti tidak ada film-film bertemakan serupa yang menarik untuk disimak. Misalnya remake Italian Job tahun 2003 silam dan Gone in 60 Seconds. Tahun 2017 ini sinema Perancis mencoba mengangkat (atau mendompleng popularitas franchise The Fast and the Furious?) formula serupa Italian Job dengan menggandeng Antonio Negret, sutradara film action thriller Transit 2012 silam dan serial-serial populer seperti The Flash, Lethal Weapon, Arrow, dan remake MacGyver. Penyusun naskahnya pun cukup menjanjikan, yaitu duo Michael Brandt dan Derek Haas yang pernah menyusun naskah 2 Fast 2 Furious, remake 3:10 to Yuma, dan Wanted. Putra sulung aktor veteran Clint Eastwood, Scott Eastwood, didapuk sebagai aktor utama, bersama Freddie Thorp, Ana de Armas (Knock Knock, War Dogs, dan upcoming Blade Runner 2049), Gaia Weiss (serial Vikings), Clemens Schick (Casino Royale dan Point Break versi 2015), serta Simon Abkarian (Casino Royale dan Persepolis). Meski bukan produksi major studio Hollywood, nama-nama tersebut sama sekali tidak boleh diremehkan. Setidaknya sebagai sekedar sajian hiburan, Overdrive masih punya daya tarik yang cukup besar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 28, 2017

The Jose Flash Review
Valerian
and the City of a Thousand Planets


Seperti kebanyakan sinema Eropa lainnya, sinema Perancis dikenal punya style arthouse yang cukup kental. Padahal selain arthouse, mereka juga menghasilkan banyak sekali film-film bercita rasa blockbuster yang tak kalah dari Hollywood. Salah satu sineas yang populer di ranah ini adalah Luc Besson. Setelah The Fifth Element yang kemudian menjadi cult sci-fi, Besson memberanikan diri mewujudkan dream-project sejak lama, adaptasi novel grafis karya Pierre Christin dan illustrator Jean-Claude Mézières yang dirilis pertama kali tahun 1967 bertajuk Valerian and the City of a Thousand Planets (Valerian). Meski pernah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, tapi namanya tidak sepopuler komik Perancis lainnya seperti Asterix & Obelix atau Lucky Luke. Apalagi pergantian sekian generasi yang membuat namanya semakin asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun siapa sangka justru novel grafis ini lah yang menjadi inspirasi banyak film sci-fi selama ini. Sebut saja Star Wars, Conan the Barbarian, Independence Day, bahkan The Fifth Element sendiri (Mézières malah menjadi salah satu desainer konsep di film tersebut). Pencapaian James Cameron lewat Avatar lah yang membuat Besson yakin bahwa visualisasi Valerian ke layar lebar sudah sangat memungkinkan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 26, 2017

The Jose Flash Review
War for the Planet of the Apes

Remake atau reboot sudah jadi hal yang lumrah di Hollywood. Namun apa yang dilakukan Fox untuk Rise of the Planet of the Apes (RotPotA) ini tergolong unik. Meski memegang hak atas novel karya penulis Perancis, Pierre Boulle, yang diterbitkan pertama kali tahun 1963, dan pernah diangkat ke layar lebar sebanyak lima seri sejak tahun 1968, dan di-remake oleh Tim Burton pada 2001, bukan ide Fox untuk kembali me-remake-nya. Adalah prakarsa pasangan suami-istri penulis naskah yang pernah menyusun naskah The Relic, Rick Jaffa dan Amanda Silver, yang beride ketika mengumpulkan berbagai fakta tentang simpanse. Fox kemudian memberikan lampu hijau untuk memproduksinya dengan menunjuk Mark Bomback untuk membantu memodifikasi naskah tersebut, terutama memasukkan berbagai tribute dari materi aslinya. Kesuksesan RotPotA, baik secara komersial (mengumpulkan US$ 481.8 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 93 juta) maupun resepsi kritikus, produksi sekuel Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA) segera terlaksana dengan keuntungan yang ternyata lebih besar lagi (US$ 710.6 juta di seluruh dunia dari budget US$ 235 juta).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 25, 2017

The Jose Flash Review
Wish Upon

Horror remaja yang pernah booming di era 90-an sudah tergantikan oleh horror paranormal dengan background keluarga yang saat ini sedang marak, terutama berkat ‘prakarsa’ dari James Wan lewat franchise Insidious dan The Conjuring-nya. Horror remaja menjadi semacam barang langka yang kehadirannya kerap saya rindu-rindukan. Jawaban atas kerinduan saya terjawab ketika ada kabar pembuatan film horror remaja bertajuk Wish Upon (WU). Disutradarai oleh John R. Leonetti (cinematographer untuk film-film James Wan sejak Dead Silence, Death Sentence, Insidious, The Conjuring, hingga Insidious: Chapter 2 yang juga pernah dipercaya menyutradarai Mortal Kombat: Annihilation, The Butterfly Effect 2, dan Annabelle), berdasarkan naskah Barbara Marshall (serial Terra Nova dan terakhir tahun 2016 lalu, Viral) yang terpilih dari Black List 2015. Diproduksi di bawah bendera Broad Green Pictures dan Orion Pictures, WU menggandeng nama-nama muda seperti Joey King (Quarantine, Ramona and Beezus, The Conjuring, dan Independence Day: Resurgence), Ki Hong Lee (franchise The Maze Runner), Shannon Purser (serial Stranger Things dan Riverdale), dan mantan bintang muda, Ryan Phillippe (I Know What You Did Last Summer). Meski berating PG-13, trailer WU cukup menjanjikan sajian horor seperti yang saya rindu-rindukan sejak lama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Munna Michael
[मुन्ना माइकल]

Eksistensi Michael Jackson sebagai legenda musik sudah terbukti abadi bahkan setelah kepergiannya sekalipun. Warisannya menginspirasi banyak karya-karya di belahan dunia manapun. Salah satu yang paling kuat adalah India, dimana budaya musik dan tari-tarian masih mendapatkan perhatian besar. Munna Michael (MM) adalah contoh terbaru, persembahan dari sutradara Sabir Khan yang kembali menggandeng Tiger Shroff, bintang muda putra dari aktor legendaris Jackie Shroff, setelah Heropanti dan Baaghi. Sabir juga menggandeng aktor Hindi yang sedang high-demand, Nawazuddin Siddiqui, Ronit Roy (Udaan, 2 States, Student of the Year, Kaabil, Sarkar 3), dan model yang mengukir debut akting di film ini, Nidhhi Agerwal. Dengan trailer yang electrifying, perpaduan antara dance dan aksi menjadi sajian yang menarik dan bikin penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates