Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Friday, July 21, 2017

The Jose Flash Review
The Doll 2


Horor agaknya menjadi genre yang selalu diminati bagi penonton kita. Di tahun 2017 ini saja sudah ada dua film bergenre horor yang sudah tembus di atas dua juta penonton; Danur: I Can See Ghosts dan Jailangkung. Hitmaker Studios yang dikenal konsisten memproduksi film horor yang setidaknya selalu mengundang ratusan ribu penonton ke bioskop, tak mau kalah. Amunisi mereka tahun ini adalah sekuel dari horor box office mereka tahun 2016 silam yang berhasil membukukan angka 550 ribu penonton lebih, The Doll. Rocky Soraya masih duduk di bangku sutradara sekaligus produser. Begitu juga dengan Riheam Junianti (penulis naskah semua film produksi Hitmaker Studios dan beberapa produksi Soraya Intercine Films) yang masih dipercaya menyusun naskahnya bersama Fajar Umbara (adik sutradara Anggy Umbara yang pernah menulis naskah franchise Comic 8, 3 (Tiga), dan Anak Kos Dodol). Sementara kisahnya mencoba mengadaptasi pola Insidious dengan mempertahankan karakter Bu Laras yang diperankan Sara Wijayanto, menyertai karakter-karakter baru yang memasangkan Luna Maya dan Herjunot Ali.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 20, 2017

The Jose Flash Review
Let's Go Jets
[チア☆ダン
女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話]

Di antara genre sport, tema cheerleader agaknya masih tergolong jarang diangkat. Bisa jadi hanya Bring It On judul yang bisa diingat dengan mudah. Selain tema yang jarang, ia juga berhasil menjadi sajian yang memorable dan punya daya binge-watch yang cukup tinggi. Tahun 2017, sinema Jepang mencoba ‘menantang’ dominasi Bring It On. Film bertajuk Let’s Go Jets! (LGJ) ini diangkat dari kisah nyata tim cheerleader asal kota kecil di Jepang, Fukui, Jets, yang secara megejutkan memenangkan kompetisi internasional di Amerika Serikat tahun 2009. Disutradarai oleh Hayato Kawai (dikenal lewat berbagai mini seri TV seperti Kurosaki-kun no Iinari ni Nante Naranai, Oniichan, gacha, dan Ani ni aisaresugite komattemasu), naskahnya disusun oleh Tamio Hayashi (The Eternal Zero, Prophecy), LGJ mempertemukan kembali aktris muda, Suzu Hirose (Our Little Sister), dan aktor muda, Mackenyu (upcoming Pacific Rim: Uprising), setelah franchise Chihayafuru. Didukung pula oleh Yûki Amami (pengisi suara Granmamare, sang peri laut di animasi Studio Ghibli, Ponyo) dan bintang-bintang muda, seperti Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, dan Miu Tomita.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jagga Jasoos
[जग्गा जासूस]


Di sinema Hindi, nama Anurag Basu termasuk salah satu sutradara yang disegani. Tak hanya punya kualitas di atas rata-rata, tapi juga tak jarang menjadi box office, baik di rumah sendiri maupun secara internasional. Di antaranya yang paling populer, Kites dan Barfi!. Persembahan terbaru darinya adalah sebuah perpaduan unik antara kisah detektif a la Tintin dengan treatment musikal khas sinema Hindi. Proyek lanjutan antara Anurag dan Ranbir setelah Barfi! bertajuk Jagga Jasoos (JJ - Inggris: Detective Jagga) ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak tahun 2013, tapi perjalanan produksinya jauh dari kata mulus. Mulai faktor keretakan hubungan asmara antara kedua pemeran utamanya, Ranbir Kapoor dan Katrina Kaif, hingga peran ayah Jagga yang awalnya (bahkan sempat menjalani syuting) diperankan Govinda akhirnya diganti oleh Saswata Chatterjee (Kahaani). Banyaknya lokasi syuting yang digunakan, mulai Daarjeling, Thailand, Moroko, hingga Cape Town, Afrika Selatan, turut mempengaruhi lamanya proses pengambilan gambar. Jadwal tayang yang sedianya diset 2015, lalu mundur menjadi November 2016, dan akhirnya Juli 2017, termasuk proses re-shot beberapa adegan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 19, 2017

The Jose Flash Review
Mr. Hurt
[มิสเตอร์เฮิร์ท
มือวางอันดับเจ็บ]

Patah hati dan susah move on memang masih merupakan fenomena asmara universal di belahan dunia mana pun. Begitu juga di ranah film yang bahkan sudah punya formula tersendiri di balik treatment dan resolusi masing-masing. Sajian terbaru datang dari sinema Thai yang dikenal sering menarik dalam mengemas genre romantic comedy, Mr. Hurt. Naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Ittisak Eusunthornwattana yang baru menelurkan The Rooms tahun 2014 silam, Mr. Hurt mempercayakan peran utama kepada Sunny Suwanmethanon yang populer berkat I Fine… Thank You Love You, didukung bintang TV, iklan, dan model, Marie Broenner, Mashannoad Suvalmas (sebelumnya juga dikenal sebagai model), dan aktor 4bia, Phobia 2, ATM: Er Rak Error, dan Pee Mak, Pongstaorn Jongwilak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 18, 2017

The Jose Flash Review
Baywatch


Adalah hal yang wajar, bahkan hampir bisa selalu dipastikan bahwa serial TV akan diangkat ke layar lebar. Tinggal waktu saja yang menentukan. Setelah Mission: Impossible, The Avengers, Charlie’s Angels, The A Team, Miami Vice, dan masih banyak lagi, tahun 2017 menjadi giliran Baywatch yang bertandang ke bioskop. Serial yang disiarkan sebanyak 11 season sejak 1989 ini menjadi salah satu ikon pertelevisian dunia di era 90-an. Tergolong kelewat lama untuk brand sebesar Baywatch, tapi justru ini merupakan kesempatan untuk membuat fans lama bernostalgia sekaligus menjaring fans baru. Pemeran-pemeran aslinya jelas tak mungkin muncul kembali sebagai karakter-karakter ikonik mereka, tapi bukan berarti tak dianggap begitu saja. Baywatch versi layar lebar memasang aktor-aktris masa kini yang cukup mewakili karakteristik karakter-karakter aslinya, seperti Dwayne ‘The Rock’ Johnson sebagai Mitch Buchannon, Zac Efron sebagai Matt Brody, Alexandra Daddario sebagai Summer Quinn, Kelly Rohrbach sebagi CJ Parker, dan Ilfenesh Hadera sebagai Stephanie Holden. Superstar Bollywood yang juga mantan Miss World 2000, Priyanka Chopra, pun turut digandeng untuk menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 14, 2017

The Jose Flash Review
Despicable Me 3


Tak mudah menciptakan sebuah franchise baru yang sukses mengusung karakter-karakter ikonik berusia panjang. Beruntung, Illumination Entertainment, studio animasi milik Universal Pictures di bawah Chris Meledandri yang berdiri sejak 2007 lalu menelurkan franchise Despicable Me (DM) di tahun 2010. Tak ada yang menyangka proyek animasi berbudget US$ 69 juta ini akan sukses mengumpulkan US$ 546.1 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo). Kesuksesan finansial terus meningkat dengan Despicable Me 2 tahun 2013 (mengumpulkan US$ 975.8 juta) dan spin-off Minions tahun 2015 (mengumpulkan US$ 1.167 milyar), meninggalkan produksi animasi-animasi mereka lainnya, seperti Hop, Dr. Seuss’ The Lorax, The Secret Life of Pets, dan Sing.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 13, 2017

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie 2:
Ben & Jody


Sebagai salah satu negara penghasil sekaligus supplier kopi terbesar di dunia (nomor 4, menurut WorldAtlas), layak jika Indonesia mengangkatnya dalam sebuah karya audio-visual. Filosofi Kopi The Movie (FKTM) yang diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari dan dirilis tahun 2015 lalu berhasil menjadikan ‘kopi’ tak hanya sebagai latar belakang kisah persahabatan dan asmara, tapi juga menjadikannya filosofi yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia. Karena potensi pengembangan kisah yang cukup besar, Visinema selaku produsen mengadakan sayembara penulisan premise kelanjutan kisah Ben & Jody, dua karakter utamanya. Hasilnya kemudian ‘diracik’ oleh tim penulis naskah dari film pertamanya, Angga Dwimas Sasongko sendiri (yang juga merangkap sutradara dan produser eksekutif), Jenny Jusuf, ditambah M. Irfan Ramly yang pernah terlibat penulisan naskah Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Surat dari Praha, produksi Visinema juga. Duo karakter utamanya masih diisi oleh Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, dengan penambahan Luna Maya, Nadine Alexandra, serta sederetan cameo yang turut menyemarakkan sekuel bertajuk Filosofi Kopi The Movie 2: Ben & Jody (B&J).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mom

Di tengah kemunculan aktor-aktris berbakat generasi baru di sinema Hindi, nama Sridevi yang dikenal sebagai aktris legendaris sejak kemunculan pertama kalinya di era 60-an masih punya daya tarik yang kuat dan dihormati berbagai pihak. Tak hanya penonton dan penggemar, tapi juga sineas dan aktor-aktris senior lainnya. Apalagi Sridevi dikenal cukup pilih-pilih peran. Terakhir kita dibuat terpesona lewat penampilannya di English Vinglish tahun 2012 silam. Kali ini ia muncul di genre thriller yang masih tergolong jarang di sinema Hindi, Mom. Di bawah arahan sutradara Ravi Udyawar yang mana ini merupakan debut penyutradaraannya (sebelumnya dikenal sebagai pelukis, illustrator, dan sutradara music video - TheHindu), dan dari naskah penulis novel best-seller tahun 2012, Marathon Baba, Mom menandai film Sridevi ke-300. Didukung pula oleh Nawazuddin Siddiqui, Akshaye Khanna, bintang Pakistan, Sajal Ali dan Adnan Siddiqui, Abhimanyu Singh, dan Vikas Verma.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 6, 2017

The Jose Flash Review
The Crucifixion

Salah satu tema di genre horror yang akhirnya berkembang menjadi sub-genre adalah exorcism atau pengusiran setan. Tentu tema exorcism mau tak mau lekat dengan unsur reliji yang menjadi core-nya. Ada cukup banyak contoh judul film yang memberikan kontribusi penting di sub-genre tersebut. Bisa karena memberikan informasi-informasi baru seputar ritual exorcism, baik yang merupakan fakta maupun fiktif, atau karena pencapaian style visual yang ‘berani’. Selain The Exorcist (1973) dan franchise-nya yang menjadi ‘bapak dari segala film exorcism’, masih ada The Exorcism of Emily Rose (2005), Drag Me to Hell (2009), hingga yang menurut saya cukup inovatif dari segi informasi maupun visual style, Deliver Us from Evil (2014). The Crucifixion yang ditayangkan perdana di Screamfest Film Festival, Los Angeles, Oktober 2016 lalu ini sempat menjadi bahan pembicaraan penggemar horror. Betapa tidak, nama-nama di belakang-nya cukup menjanjikan. Mulai sutradara asal Perancis, Xavier Gens (segmen X is for XXL di antologi The ABC’s of Death, Frontier(s), dan pernah dipercaya untuk menangani Hitman versi tahun 2007), duo penulis naskah, Chad dan Carey Hayes (keduanya dikenal sebagai penulis naskah House of Wax versi tahun 2005, The Reaping, Whiteout, dan duologi The Conjuring), hingga Javier Botet (aktor di balik sosok-sosok ‘halus’ di Mama, The Conjuring 2, The Other Side of the Door, Alien: Covenant, hingga The Mummy versi 2017 barusan) di salah satu jajaran cast. Masih ditambah pemanfaatan kultur dan setting Romania yang punya eksotisme tersendiri, apalagi fakta bahwa Romania adalah negara asal cikal-bakal legenda Dracula yang kita kenal selama ini. Meski tergolong indie dan bahkan sampai tulisan ini diturunkan masih belum menentukan jadwal tayang di Amerika Serikat, The Crucifixion telah berhasil mengundang rasa penasaran para pecinta horror di seluruh dunia. Apalagi selepas merilis trailer perdananya. Beruntung Indonesia menjadi negara pertama yang berkesempatan menyaksikannya secara umum.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 27, 2017

The Jose Flash Review
Insya Allah Sah

Hari Raya Lebaran tak afdol rasanya tanpa film yang punya nafas Islami tapi juga bisa dinikmati oleh penonton umum. Maka komedi menjadi medium yang pas untuk ‘berdakwah’ kepada golongan tertentu sekaligus menghibur golongan yang lebih luas. MD Pictures mempersembahkan Insya Allah Sah (IAS) yang diangkat dari novel karya Achi TM (seorang penulis skenario sinetron dan FTV yang sudah menulis 22 novel tapi baru IAS yang diterbitkan oleh penerbit sebesar Gramedia Pustaka Utama) berjudul sama yang diterbitkan pertama kali tahun 2015. Novel yang konon ditulis sebagai upaya terakhir sebelum sempat memutuskan pensiun dari kepenulisan ini segera dikontrak oleh MD untuk diangkat ke layar lebar. Meski akhirnya baru 2017 ini benar-benar diproduksi di bawah penanganan Benni Setiawan (Bukan Cinta Biasa, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Toba Dreams, Love and Faith) selaku sutradara dan penulis naskah adaptasi, dengan dukungan Titi Kamal, Pandji Pragiwaksono, Richard Kyle, dan puluhan cameo yang tersebar di sepanjang film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surat Kecil untuk Tuhan [2017]

Selain horror, rupanya tema yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia adalah drama yang menguras air mata. Tak heran jika tahun 2011 lalu, Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT) yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar mencetak box office dengan perolehan 748.842 penonton. Speaking of tear-jerking, Agnes Davonar bisa dikatakan sebagai penulis paling piawai di tema tersebut. Tercatat sudah cukup banyak karya mereka berdua (ya, Agnes Davonar adalah nama pena untuk duo kakak-beradik, Agnes Li dan Teddy Li) yang diangkat ke layar lebar. Mulai SKuT, Gaby dan Lagunya, Ayah, Mengapa Aku Berbeda?, My Blackberry Girlfriend, My Idiot Brother, Sebuah Lagu untuk Tuhan, dan Bidadari Terakhir. Kerap mengeksploitasi penyakit sebagai tear-jerker, tak menyurutkan antusiasme pembaca dan penonton untuk mengikuti tiap kisah yang ditelurkan. Turut menyemarakkan Hari Raya Lebaran tahun 2017 ini, Falcon Pictures yang dikenal sebagai pencetak box office beberapa tahun terakhir, mencoba mengangkat ‘formula’ khas Agnes Davonar dengan judul yang sama, Surat Kecil untuk Tuhan (versi tahun 2011 di LSF terdaftar sebagai Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT), sementara versi 2017 sebagai Surat Kecil untuk Tuhan saja), tapi dengan materi cerita yang sama sekali berbeda.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 26, 2017

The Jose Flash Review
Jailangkung



Genre horror rupanya selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia. Tahun ini gairahnya sempat dibangkitkan oleh kesuksesan Danur: I Can See Ghosts yang berhasil mengundang lebih dari 2.7 juta penonton ke bioskop. Tak mau kelewatan momen, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo pun membawa kembali franchise yang kehadirannya pertama kali di tahun 2001 menjadi salah satu tonggak sejarah penting kebangkitan film nasional, Jelangkung (dilanjutkan sekuelnya, Tusuk Jelangkung – 2002 dan Jelangkung 3 – 2007). Cukup mengejutkan sebenarnya, ketika pertama kali mengumumkan tentang proyek bertajuk Jailangkung di bawah bendera Screenplay Films-Legacy Pictures yang dikenal selalu sukses mencetak film-film nasional box office. Saat itu ternyata diam-diam pengambilan gambar sudah dilakukan dan hampir tahap finishing dengan pasangan bintang muda yang sedang naik daun pasca Dear Nathan, Jefri Nichol dan Amanda Rawles di lini terdepannya. Padahal akhir 2016 lalu sempat tersiar kabar pembuatan film bertajuk Jelangkung: 13 Tahun Kemudian oleh rumah produksi baru, Tymora Films, dengan sutradara Billy Christian, yang konon berniat menyatukan kembali cast orisinalnya dan syuting diagendakan mulai Januari 2017. Sayang, hingga tulisan ini dibuat tidak ada follow up lagi hingga Rizal Mantovani dan Jose Poernomo mengumumkan proyek Jailangkung dengan mengubah ‘format penulisan judul’ (dari Jelangkung menjadi Jailangkung) dan juga mantra (tagline) menjadi ‘Datang Gendong, Pulang Bopong’, yang konon karena faktor rights dari versi aslinya. Dengan dukungan Screenplay Films-Legacy Pictures yang setidaknya dari segi teknis tidak main-main, Jailangkung memilih Hari Raya Lebaran untuk melanjutkan ‘warisan’ mitologi Jailangkung ke generasi yang lebih baru.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Sweet 20

Digdaya sinema Korea Selatan mau tak mau harus diakui sebagai salah satu yang terbesar di Asia. Tak hanya di pasar domestik tapi juga di seluruh Asia, bahkan tak sedikit yang mampu menembus pasar Amerika Serikat. ‘Invasi’ global ke negara-negara lain salah satunya dilakukan dengan ‘menjual’ right original content mereka sekaligus mendukung produksi versi remake-nya. Miss Granny (2014) menjadi proyek yang akhirnya menggurita. Di-remake di Cina, Jepang, Thailand, Vietnam, bahkan menyusul Hollywood dan Meksiko. Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang masuk ke dalam list CJ Entertainment selaku studio pemilik right-nya. Bekerja sama dengan StarVision Plus yang sangat berpengalaman memproduksi film-film box office lokal dengan kualitas yang rata-rata mumpuni, dipilihlah tajuk Sweet 20 yang dirasa paling pas mewakili. Naskah adaptasinya dipercayakan kepada Upi yang merangkap konsultan kreatif, sementara bangku sutradara dipegang oleh Ody C. Harahap yang sangat berpengalaman di genre drama-komedi keluarga, seperti Kapan Kawin? dan Me vs Mami. Aktris muda yang karirnya terus menanjak, Tatjana Saphira, didapuk di lini terdepan, didukung jajaran all-star lintas generasi, mulai generasi Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, dan Widyawati, generasi Lukman Sardi, Cut Mini, dan Tika Panggabean, sampai generasi Morgan Oey, Kevin Julio, dan Ardit Erwandha. Membidik libur Hari Raya Lebaran, Sweet 20 siap menghibur seluruh anggota keluarga, mulai generasi kakek-nenek hingga para cucu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 25, 2017

The Jose Flash Review
Tubelight
[ट्यूब लाइट]

Tak hanya di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen yang tepat untuk merilis film line-up utama di India. Dua tahun terakhir ini Salman Khan lah yang seolah menjadi jawara di Hari Raya, dengan Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Sultan (2016). Tak mau melepaskan predikat jawara Hari Raya, tahun ini Salman sudah mempersiapkan hits terbarunya, Tubelight, yang diadaptasi dari film reliji Katolik asal Hollywood, Little Boy (2015). Popularitas Little Boy yang sangat kurang terdengar, bahkan di kalangan penonton film reliji Katolik sekalipun, menjadi keuntungan tersendiri bagi Tubelight. Kabir Khan kembali digandeng sebagai sutradara sekaligus penulis naskah (dibantu Parveez Sheikh dan Manurishi Chadha) setelah Bajrangi Bhaijaan. Di lini cast, didukung pula oleh Sohail Khan cukup lama absen berakting (Hello Brother, Fight Club: Members Only, dan Veer), Om Puri yang mana ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada awal tahun 2017 lalu, dan aktris Mandarin, Zhu Zhu, yang sebelumnya pernah kita lihat di What Women Want (versi Andy Lau), Cloud Atlas, dan The Man with the Iron Fist. Musik dari Pritam dan Amitabh Bhattacharya tentu menjadi daya tarik lain yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 23, 2017

The Jose Flash Review
Transformers: The Last Knight

Meski selalu dihujani caci maki dari para kritikus, Transformers tetap kokoh sebagai salah satu franchise terbesar dan paling menguntungkan di seluruh dunia sepanjang masa. Tak heran jika Paramount Pictures selaku pemegang rights-nya terus melaju dengan sineas yang selama ini melambungkan popularitasnya, Michael Bay. Berkali-kali mengaku tak mau lagi menangani installment lanjutan, nyatanya sampai installment kelima bersub-judul The Last Knight (TLK) ini masih berada di arahan tangan besinya. Mark Wahlberg, Stanley Tucci, John Turturro, dan bahkan Josh Duhammel kembali mengisi peran dari installment-installment sebelumnya. Ditambah kehadiran Sir Anthony Hopkins, the new Transformers’ Babe mengikuti jejak Megan Fox dan Rose-Whitely Huntington, Laura Haddock, bintang muda Amerika-Peru jebolan serial Nickelodeon, Isabela Moner, Liam Garrigan yang sekali lagi memerankan karakter King Arthur setelah di serial Once Upon a Time, serta finalis program kontes Sky One’s Project Catwalk yang barusan kita lihat di Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Stratton, Gemma Chan. Masih dihujani caci maki kritikus, bahkan dicap sebagai installment terburuk dalam franchise Transformers, dan hasil box office domestik pekan pertamanya terendah, tapi hasil box office internasionalnya masih sangat memuaskan. So yes, the franchise shall go on, with even more fantastical visual.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 17, 2017

The Jose Flash Review
Planetarium

Jika kita selama ini sudah muak dengan film horror ber-treatment ala dokumenter pemanggilan arwah atau penampakan makhluk halus, pernah kah terbersit pertanyaan, sejak kapan ide memfilmkan peristiwa paranormal dimulai? Planetarium, sebuah film Perancis besutan sutradara wanita, Rebecca Zlotowski (Grand Central, Belle épine, You and the Night) mencoba untuk mengangkat kisah fiktif di balik fenomena yang masih terus berlangsung hingga kini. Meski berstatus film Perancis, Planetarium dibintangi Natalie Portman, Lily-Rose Depp (putri Johnny Depp dan  Vanessa Paradis), aktor watak sekaligus penulis naskah, Emmanuel Salinger, Pierre Salvadori, dan aktris Inggris, Amira Casar. Diputar pertama kali di Venice Film Festival, Planetarium menyambangi bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia. Tentu ini merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan bagi penggemar sinema Perancis, sinema Eropa klasik, maupun arthouse. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
47 Meters Down

Kehadiran The Shallows tahun 2016 lalu membuktikan bahwa sub-genre creature, terutama hiu, masih punya ‘taring’. Belum lagi ditambah film TV Sharknando yang bahkan sudah sampai installment kelima. Maka keputusan Byron Allen’s Entertainment Studios membeli hak tayang wide-release film bertajuk In the Deep di bioskop seluruh dunia dari Dimension Films (milik Weinstein Co.) yang awalnya hanya akan merilis untuk Home Video dan Video on Demand lewat Anchor Bay Entertainment saja, tergolong berani tapi tepat. Film indie produksi Inggris yang ‘hanya’ ber-budget US$ 5 juta ini justru sengaja diposisikan sebagai summer movie dengan judul 47 Meters Down (47MD), bersaing langsung dengan Wonder Woman, The Mummy, dan Cars 3. Siapa sangka film yang awalnya bahkan tak dilirik ini berhasil mengumpulkan US$ 11.2 juta untuk pasar domestik Amerika Serikat di minggu pertama penayangannya. Apa sebenarnya yang menarik dari 47MD sehingga membuat distributor berani membeli dan merilisnya di musim persaingan film-film Hollywood paling ketat? Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Johannes Roberts, dibantu Ernest Riera (keduanya berkolaborasi untuk The Other Side of the Door), 47MD juga menandai kembalinya aktris-penyanyi, Mandy Moore di layar lebar setelah tahun-tahun sebelumnya ‘hanya’ menyambangi layar TV, bersama aktris serial Pretty Little Liars dan The Vampire Diaries, Claire Holt.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 16, 2017

The Jose Flash Review
In This Corner of the World
[この世界の片隅に]


Berbeda dengan kebanyakan animasi dari negara-negara lain, anime Jepang seringkali tak segan-segan mengangkat tema-tema berat, kelam, dan dewasa. Tak terkecuali menyangkut Perang Dunia II. Studio animasi sekelas Ghibli pernah mengangkatnya lewat Hotaru no haka atau judul internasionalnya, Grave of the Fireflies (1988). Pada tema dan pendekatan yang tak berbeda jauh, MAPPA mengadaptasi manga berjudul Kono Sekai no Katasumi ni atau judul internasionalnya, In This Corner of the World (ITCotW) ke anime layar lebar. Disutradarai oleh Sunao Katabuchi (Upon The Planet, Princess Arete, Mai Mai Miracle), dengan budget ¥ 250 juta (sekitar US$ 2.2 juta) berhasil mengumpulkan ¥ 2.5 milyar (sekitar US$ 22.5 juta) hingga Maret 2017 lalu. Belum lagi berbagai penghargaan film nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya. Penggemar anime di Indonesia boleh lega karena tayang resmi di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia oleh distributor Moxienotion.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, June 15, 2017

The Jose Flash Review
Raabta
[राब्ता]

Film yang berani memasukkan elemen reinkarnasi selama ini masih tergolong sangat jarang. Bisa jadi alasannya adalah reinkarnasi bukan merupakan sesuatu yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan tak semua kepercayaan yang menganutnya. Namun bukan berarti tak ada film bertemakan reinkarnasi yang berhasil menjadi sesuatu yang mengesankan, apalagi di genre drama romance yang sejatinya unsur reinkarnasi justru bisa jadi sesuatu yang manis. Sebut saja yang paling populer dan klasik, Bram Stoker’s Dracula, Chances Are, Dead Again, Birth, dan bahkan sinema Hindi pun punya Om Shanti Om. Melengkapi tema unrequited love yang seolah sedang menjadi trend film Hindi beberapa tahun terakhir, Dinesh Vijan (produser Love Aaj Kaal, Cocktail, Finding Fanny, dan Badlapur), mencoba debut penyutradaraannya dengan menggabungkan kembali tema reinkarnasi ke dalam romance lewat Raabta yang artinya ‘connection’. Dari naskah yang disusun oleh Garima-Siddhart (keduanya pernah bekerja sama untuk naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela dan Brothers), Raabta menghadirkan Sushant Singh Rajput yang karirnya makin melejit setelah tampil di Kai Po Che!, PK, dan M.S. Dhoni: The Untold Story, dipasangkan dengan Kriti Sanon yang pernah kita lihat di Heropanti, Dohchay, dan Dilwale. Tak ketinggalan penampilan spesial dari Deepika Padukone yang membawakan title song-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 13, 2017

The Jose Flash Review
The Wall

Film panjang berkonsep satu karakter yang terjebak di satu tempat sepanjang film bukan lagi sesuatu baru meski kehadirannya bisa dikatakan masih sangat jarang. Yang paling memorable mungkin Phone Booth (2002), Saw (2004), Buried (2010), Devil (2010), dan baru-baru ini, Mine. Thriller dan horror menjadi genre yang pas untuk mengaplikasikan konsep ini, tapi tentu tidak menutup kemungkinan bisa dikombinasikan dengan genre lainnya. Mine membuktikan keberhasilan konsep ini untuk genre war. Maka The Wall arahan Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity) ini menawarkan konsep dan setting yang serupa dengan dukungan Aaron Taylor-Johnson (franchise Kick-Ass) dan atlet WWE yang sudah beberapa kali terjun di film laga, John Cena (The Marines). Dengan nama-nama yang dikenal berkualitas ditambah naskah yang termasuk dalam daftar Black List 2014 (daftar naskah-naskah yang paling disukai tapi belum diproduksi) karya Dwain Worrell (serial Marvel Iron Fist), proyek yang sejatinya tergolong indie ini (budgetnya ‘hanya’ US$ 3 juta!) terdengar begitu menarik dan menjanjikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Zombie Fighters
[ក្រុមកម្ទេចខ្មោចឆៅ]

Sinema Thailand punya perpaduan genre yang sudah menjadi salah satu ciri khasnya, yaitu horror dan komedi. Perpaduan yang sebenarnya bertolak belakang ini jelas tak mudah dan beresiko terhadap resepsi penonton. Salah-salah bisa jatuh menjadi sajian konyol yang cenderung ke ‘murahan’. Hebatnya, sinema Thai berkali-kali membuktikan bisa menyeimbangkan horror dengan komedi sehingga kedua elemen ini bisa sama-sama berhasil dan saling melengkapi, serta biasanya ditambahkan pula elemen drama yang tak kalah dalam memggerakkan emosi. Persembahan terbaru, Zombie Fighters (ZF) yang disutradarai Poj Arnon (Bangkok Love Story dan trilogi Make Me Shudder) dengan kembali menggandeng idola-idola muda dari trilogi Make Me Shudder.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 10, 2017

The Jose Flash Review
The Mummy (2017)

Di Hollywood, prestise sebuah studio film (apalagi major) bisa jadi diukur dari ada berapa banyak dan seberapa besar franchise yang dikantongi. Jika Disney masih memimpin dengan mimiliki franchise Star Wars dan Marvel Cinematic Universe dan Warner Bros. punya DC Extended Universe dan Harry Potter, Universal Pictures yang juga termasuk major studio sejak lama terus menggali potensi franchise yang ada, selain Fifty Shades dan Fast and Furious yang sebenarnya sudah sangat menguntungkan. Sejak lama pula ia berusaha menghidupkan kembali franchise Dark Universe dengan ‘koleksi’ karakter-karakter monster klasiknya, seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, dan Wolf Man yang pernah berjaya di era 30-50’an. Sempat mencoba memulai dengan Dracula Untold pada 2014 lalu. Hasilnya sebenarnya tak buruk (dengan budget sekitar US$ 70 juta, menghasilkan US$ 217 juta lebih di seluruh dunia. Hanya saja di pasar domestik cuma berhasil mengumpulkan US$ 56 juta lebih), tapi Alex Kurtzman (sutradara People Like Us dan penulis naskah berbagai film blockbuster, seperti Mission: Impossible III, Star Trek versi 2009, Transformers, serta The Amazing Spider-Man 2) dan pihak studio memutuskan untuk membatalkan Dracula Untold sebagai bagian dari Dark Universe, sementara installment terbarunya, The Mummy lah yang dianggap sebagai film pertama dari konsep pembangunan franchise tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 9, 2017

The Jose Flash Review
Mantan

Di perfilman nasional ada semacam ‘mitos’ bahwa film Indonesia yang rilis selama bulan puasa Ramadhan akan dijauhi penonton. Secara logika, mungkin karena di bulan Ramadhan orang-orang lebih disibukkan oleh kegiatan buka bersama dan teraweh. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih ada kesempatan untuk menggaet penonton selama punya potensi yang menarik perhatian penonton. Ini terbukti dengan film-film summer blockbuster Hollywood (yang selama beberapa tahun terakhir selalu jatuh sekitar bulan Ramadhan juga) yang tetap berhasil mendulang penonton. Mencoba mematahkan ‘kutukan’ tersebut, Renée Pictures justru memanfaatkan momen Ramadhan untuk perilisan film terbarunya, Mantan, lewat tagline ‘silaturahmi bersama mantan’. Dengan menggandeng aktris-aktris populer, mulai comeback Luna Maya, Karina Nadila, ‘muse’ Renée yang popularitasnya kian melambung sejak memyandang gelar Putri Indonesia Pariwisata 2017, Ayudia Bing Slamet yang juga kian melambung sebagai YouTuber bertajuk #TemanTapiMenikah, Kimberly Ryder, serta debut akting dari penyanyi alumni Indonesian Idol, Citra Scholastika. Dari naskah yang disusun Gandhi Fernando (kembali merangkap sebagai aktor), Mantan mempercayakan pengarahannya kepada  sutradara wanita muda, Svetlana Dea yang mana juga merupakan debut layar lebarnya setelah web-series School of the Dead.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mine

Apa yang akan Anda lakukan jika tak sengaja menginjak ranjau darat? Apakah Anda akan terus berdiam sampai pertolongan datang atau segera menjauh sehingga setidaknya kerusakan yang diakibatkan oleh ranjau bisa diminimalisir? Pertanyaan ‘what if’ itulah yang coba disodorkan oleh duo asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro yang bekerja sama menyusun naskah sekaligus menyutradarai film layar lebar pertama mereka bertajuk Mine setelah E:D:E:N (2004), The Silver Rope (2006), dan Y/N: You Lie, You Die (2012). Memanfaatkan konsep satu lokasi setting dan minim karakter, Mine seolah seperti film indie berbudget murah, tapi tak boleh diremehkan begitu saja dengan dukungan cast dari Armie Hammer, Annabelle Wallis, dan Tom Cullen.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 5, 2017

The Jose Flash Review
Stratton

Karakter espionage fiktif dengan berbagai latar belakang yang berasal dari novel hampir semuanya sudah diangkat ke layar lebar. Sebut saja yang paling legendaris, James Bond, disusul Jack Ryan, Jason Bourne, dan Jack Reacher yang juga tak kalah suksesnya. Di generasi yang lebih baru, ada seri novel John Stratton yang ditulis oleh mantan komandan Special Boat Service (salah satu unit di Angkatan Laut Kerajaan Inggris), Duncan Falconer. Sejak dirilis pertama kali tahun 2003, kisah petualangan aksi John Stratton sudah dibukukan sebanyak delapan jilid (terakhir dirilis tahun 2012). Dibanding karakter-karakter espionage fiktif lainnya, popularitas John Stratton memang masih belum terdengar secara global. Kendati demikian, potensi franchise John Stratton dilirik oleh Henry Cavill (Clark Kent alias Superman teranyar) yang sempat berniat mengisi peran Stratton sekaligus memproduseri dengan bendera Promethean Productions, bersama Amber Entertainment, dan GFM Films. Sayang, Cavill memutuskan untuk keluar dari proyek karena perbedaan kreativitas. Dominic Cooper (Need for Speed, Warcraft) kemudian ditunjuk untuk menggantikan, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Simon West, yang sudah sangat berpengalaman di berbagai film aksi high profile, seperti Con Air, The General’s Daughter, Lara Croft: Tomb Raider, The Mechanic, dan The Expendables 2.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 3, 2017

The Jose Flash Review
The Merciless
[불한당: 나쁜 놈들의 세상]


Film mafia Hong Kong, Infernal Affairs (2002) adalah sebuah tonggak sejarah, tak hanya bagi perfilman Hong Kong tapi juga dunia. Bahkan sutradara Hollywood sekaliber Martin Scorsese tertarik me-remake-nya, The Departed, dengan deretan A-list cast seperti Leonado DiCaprio, Matt Damon, Jack Nicholson, dan Mark Wahlberg, juga berjaya di berbagai ajang penghargaan film internasional, termasuk Academy Awards. Sementara sinema negara-negara lain tak ketinggalan menggunakannya untuk remake resmi maupun sekedar ‘terinspirasi’, seperti City of Damnation (2009) dari Korea Selatan, film berbahasa Telugu, Homam (2009), dan film TV dari Jepang, Double Face (2012). The Merciless, film Korea Selatan yang diproduksi CJ Entertainment dan disutradarai oleh Byun Sung-hyun (Whatcha Wearin’? dan The Beat Goes On) ini sebenarnya juga termasuk salah satu yang sedikit banyak terinspirasi oleh Infernal Affairs kendati tak secara terang-terangan mengakuinya dan melakukan modifikasi di sana-sini sehingga lebih bercita rasa khas Korea Selatan. Memasang ‘oppa’ Yim Si-wan (A Melody to Remember dan The Attorney) dan Sul Kyoung-gu (Peppermint Candy, Oasiseu, Cold Eyes, Haeundae, My Dictator) di lini terdepan, The Merciless yang sempat diputar di sesi Midnight Screening Cannes Film Festival ke-70 Mei 2017 lalu ini mencoba untuk menyedot perhatian dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 2, 2017

The Jose Flash Review
The Lost City of Z


Mungkin kita yang hidup di era ini belum banyak yang mengenal sosok Percy Fawcett, seorang prajurit artileri merangkap geografer, penjelajah, arkeologis, sekaligus kartografer Inggris populer di bidangnya. Padahal sosoknya diakui menginspirasi banyak karakter fiktif di berbagai karya populer legendaris, seperti Professor Challenger dari novel Arthur Conan Doyle, The Lost World, Indiana Jones, Ridgewell dari Tintin L’Oreille Cassée, hingga Charles F. Muntz dari animasi Pixar, Up. Popularitas Fawcett semakin meluas secara umum setelah artikel karya penulis sekaligus kolumnis The New Yorker, David Grann, dimuat tahun 2005 dan dibukukan dengan tajuk The Lost City of Z: A Tale of Deadly Obsession in the Amazon tahun 2009. Sebelum bukunya resmi dirilis, rumah produksi Plan B milik Brad Pitt tertarik untuk mengangkatnya ke versi layar lebar dengan James Gray (The Yards, We Own the Night, Two Lovers, The Immigrant) yang ditunjuk sebagai penyusun naskah adaptasi dan sutradara. Tahap development bersama Paramount butuh waktu enam tahun hingga Gray menemukan pendekatan terbaik untuk mengangkat kisah biopic Percy Fawcett.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Havenhurst

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Wonder Woman

Upaya DC Comic untuk menyusul rival terbesarnya, Marvel, dalam memboyong universe superhero komiknya ke layar lebar memang agak tertinggal. Namun dengan grand design yang tak kalah megah dan meriah dari Zack Snyder. Sayangnya meski tetap menarik perhatian penonton umum, tak banyak yang menyukai konsep kelam-nya. Maka pencarian bentuk yang sesuai dengan selera pasar umum terus dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu upayanya adalah Wonder Woman (WW) yang sejatinya sudah sangat lama direncanakan. Bayangkan, komiknya pertama kali terbit tahun 1941 tapi versi layar lebar pertamanya baru pertama kali muncul tahun 2017 setelah selama ini hanya menyambangi layar kaca lewat serial live action yang dipopulerkan oleh Lynda Carter, serial animasi, dan film video. Kemunculannya di Batman v Superman: Dawn of Justice 2016 silam sempat memancing excitement, terutama karena sosoknya yang dianggap berhasil diwakili oleh Gal Gadot, aktris berdarah Israel yang populer lewat franchise Fast & Furious. Melengkapi konsep women empowerment yang juga sedang menjadi global issue panas, DC dan Warner Bros. tak mau kehilangan momen. Sutradara wanita yang sempat mencuri perhatian dunia lewat Monster (2003), Patty Jenkins, dipercaya untuk melesatkan karir penyutradaraannya lewat salah satu franchise berprestis tinggi ini. Pemeran-pemeran pendukungnya pun tak main-main. Mulai Chris Pine, Robin Wright, Connie Nielsen, Danny Huston, David Thewlis, Ewen Bremner, hingga Elena Anaya (masih ingat The Skin I Live In?). Tentu hasil WW yang konon punya tone yang berbeda dengan konsep dark dari Zack Snyder ini turut menjadi penentuan penting, akan bagaimana masa depan konsep DC Extended Universe berikutnya, terutama Justice League yang direncanakan tayang November tahun ini juga.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 29, 2017

The Jose Flash Review
Half Girlfriend
[हाफ गर्लफ्रेंड]

Jika diperhatikan, premise dasar film-film romance Hindi adalah a boy meets a girl, baru kemudian dikembangkan dengan berbagai topik, termasuk sosio-kultural yang mewarnai perjalanannya. Generik, memang, tapi somehow ia selalu punya cara untuk membuat perjalanannya menjadi menarik untuk disimak dan yang terpenting, mampu menggaet emosi penonton. Namun masih sangat jarang film Hindi yang diangkat dari novel roman. Toh, novel Hindi sendiri juga masih sangat jarang terdengar secara global. Maka apa yang dilakukan Mohit Suri yang dikenal sebagai sutradara Aashiqui 2, Raaz – The Mystery Continues, dan Ek Villain yang sukses secara komersial, ini cukup menarik. Diangkat dari novel coming of age berjudul sama karya Chetan Bhagat (penulis novel Five Point Someone yang diadaptasi menjadi film 3 Idiots, 2 States, dan The 3 Mistakes of My Life yang diangkat menjadi film Kai Po Che!) yang dirilis pertama kali tahun 2014 dan hak adaptasi filmnya sudah terjual bahkan sebelum dipublikasikan, Half Girlfriend (HG) menawarkan kehadiran pasangan Arjun Kapoor (Gunday dan Ki & Ka) dan Shraddha Kapoor (Aashiqui 2, Ek Villain, ABCD 2, dan Baaghi) sebagai daya tarik utamanya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Resident Evil: Vendetta
[バイオハザード ヴェンデッタ]

Selain adaptasi live action Hollywood dengan pangsa pasar globa yang lebih luas, Resident Evil (RE - di Jepang dikenal sebagai Biohazard) yang berasal dari video game juga punya franchise layar lebar berformat animasi 3D yang diproduksi oleh produsen game-nya sendiri, Capcom Studios. Berbeda dengan versi live-action Hollywood yang dibintangi Milla Jovovich, RE versi animasi 3D berada pada universe yang sama dan bahkan punya pertalian cerita dengan seri game-nya. Pertama kali muncul lewat Resident Evil: Degeneration (2008), dilanjutkan Resident Evil: Damnation (2012), installment ketiganya tayang di tahun 2017 ini dengan tajuk Resident Evil: Vendetta (REV) dan mengambil setting di antara game Resident Evil 6 dan Resident Evil 7: Biohazard. Naskahnya ditulis oleh Makoto Fukami (Psycho-Pass) sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Takanori Tsujimoto yang pernah berpengalaman menangani The Next Generation: Patlabor dan Ultraman X. Bagi fans versi game, film layar lebar versi animasi 3D ini jelas menjadi fan-service yang lebih ditunggu-tunggu ketimbang versi live action Hollywood-nya. Beruntung CBI Pictures mendistribusikan REV di bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia, bersamaan dengan rilis di bioskop-bioskop negara aslinya, Jepang, yaitu pada 27 Mei 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 25, 2017

The Jose Flash Review
Pirates of the Caribbean:
Salazar's Revenge
[Dead Men Tell No Tales]

Berawal dari sebuah wahana di Disneyland, Pirates of the Caribbean (PotC) menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan bagi Disney. Begitu pula dengan image Johnny Depp, Orlando Bloom, dan Keira Knightley yang pada akhirnya begitu melekat dengan franchise PotC. Seri demi seri mulai The Curse of the Black Pearl (2003) hingga On Stranger Tides (2011) mencetak angka yang fantastis, bahkan Dead Man’s Chest dan On Stranger Tides tembus angka 1 milyar dolar di seluruh dunia, membuat Disney terus berupaya untuk menjaga kelangsungan franchise ini. Installment kelima (sekaligus keenam secara back to back seperti installment pertama dan kedua) pun bahkan segera direncanakan sesaat sebelum seri keempat dirilis. Rob Marshall yang menyutradarai seri keempat kembali dipercaya tapi mengundurkan diri demi Into the Woods dan The Thin Man. Pilihan kemudian jatuh kepada duo asal Norwegia, Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Bandidas dan Kon-Tiki). Kendati demikian Disney belum memberikan lampu hijau hingga dirasa menemukan naskah yang tepat hasil karya Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull) pada 2014. Tak hanya sutradara, kru-kru baru pun bergabung, mulai DoP, editor, hingga komposer. Sementara di lini cast selain Johnny Depp dan Geoffrey Rush, didukung pula Javier Bardem (Skyfall), Brenton Thwaites (Maleficent, The Giver), Kaya Scodelario (franchise The Maze Runner), serta kembalinya Orlando Bloom dan Keira Knightley setelah sempat absen di On Stranger Tides. Rentang waktu selama 6 tahun menjadi pertaruhan apakah penonton akan merindukan karakter-karakter ikoniknya di Salazar’s Revenge (SR) atau judul asli, Dead Men Tell No Tales ini atau malah sudah kehilangan daya tarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 22, 2017

The Jose Flash Review
Ziarah

Selain industri film nasional yang meski belum punya pondasi sistem yang kuat tapi setidaknya cukup ‘hidup’, Indonesia ternyata punya ‘industri’ film-film daerah yang tak kalah punya massa, setidaknya di region masing-masing. Ada film Makassar yang sedang berkembang cukup menggembirakan dengan hasil box office yang tergolong fantastis bahkan untuk ukuran peredaran nasional (meski sebagian besar pendapatannya berasal dari daerah sendiri), ada juga perfilman Yogyakarta yang memilih style ‘alternatif’ yang cenderung mengarah ke gaya art-house alternatif internasional. Dengan sering diikut-sertakannya ke festival-festival film internasional yang lebih bersifat arthouse, mungkin ada alasan mengapa form seperti itu yang mereka pilih. Toh jika punya pencapaian internasional, setidaknya bisa menjadi modal promosi yang cost-nya tak perlu terlalu tinggi dan lebih mudah meyakinkan jaringan bioskop untuk memutar di layar-layarnya. Media pun akan berbondong-bondong meliput tanpa dibayar. Beberapa tahun terakhir ‘industri’ (atau mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai ‘komunitas’) film Yogyakarta menjadi perhatian karena prestasinya. FFI sebagai ajang penghargaan film nasional tertinggi pun mengapresiasinya dengan menganugerahkan Siti karya Eddie Cahyono, sebagai Film Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Penata music Terbaik di FFI 2015 silam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 21, 2017

The Jose Flash Review
Before I Fall

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 20, 2017

The Jose Flash Review
Alien: Covenant

Di antara film bergenre sci-fi horror, judul Alien jelas menjadi yang terdepan. Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1979, meski bukan film pertama di genrenya, tapi berhasil mempopulerkan tema alien, bahkan menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan hingga saat ini. Kesuksesan dilanjutkan Aliens di tahun 1986 yang banyak dianggap lebih baik dari prekuelnya. Alien 3 (1992) dan Alien: Resurrection (1997) dianggap penurunan baik dari segi box office maupun kualitas, tapi tetap saja untung. Kemudian sempat ‘dipertemukan’ dengan franchise populer lainnya, Predator, lewat Alien vs Predator (2004) dan sekuelnya, Alien vs. Predator: Requiem (2007) yang semakin ‘melorot’. Ridley Scott yang merupakan salah satu kreator franchise Alien memutuskan untuk membuat seri-seri prekuel, dimulai dengan Prometheus (2012) yang awalnya sama sekali tak disebutkan sebagai prekuel Alien. Minat penonton, baik penggemar seri-seri aslinya maupun dari generasi baru, pun kembali meningkat. Maka rencana sekuelnya yang sempat direncanakan berjudul Alien: Paradise Lost, berjalan lebih lancar. Tahun 2017 ini, installment kedua dari prekuel franchise Alien ini resmi berjudul Alien: Covenant (AC) dengan masih melibatkan Michael Fassbender meski dengan karakter baru, Katherine Waterston (Tina di Fantastic Beasts and Where to Find Them), Billy Crudup, Danny McBride (Pineapple Express, Tropic Thunder, Due Date, Up in the Air, This is the End), Demian Bichir (Fidel Castro di Che dan Bob di The Hateful Eight), dan Jussie Smollett (yang kita kenal sebagai Jamal Lyon di serial Empire). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 17, 2017

The Jose Flash Review
The Autopsy of Jane Doe


Horror mungkin adalah genre yang paling sering dibuat selain drama. Tak hanya yang digarap dengan budget ‘layak’, tapi juga film-film horror low budget dan indie yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Tentu kualitas film-film horror low budget dan indie lebih banyak yang mengecewakan, tapi once in a while selalu ada saja hidden gem yang layak simak. Bahkan mungkin menjadi cult movie yang legendaris. The Autopsy of Jane Doe (TaoJD) bisa jadi salah satunya. Debut film berbahasa Inggris pertama dari sutradara Norwegia, André Øvredal (Trollhunter) ini memanfaatkan keterbatasan ruang untuk menjadi panggung horror yang efektivitasnya maksimal. Dari naskah racikan Ian Goldberg (penulis beberapa episode serial-serial populer seperti Once Upon A Time, Criminal Minds,  dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles) dan Richard Naing (ia dan Gold pernah bekerja sama untuk naskah Dead of Summer), pemilihan cast-nya pun bukan aktor-aktris tak dikenal. Ada aktor veteran yang pernah memerankan sosok Hannibal Lecter sebelum Anthony Hopkins di Manhunter (1986) dan membintangi sejumlah proyek blockbuster, di antaranya di dua installment Jason Bourne dan X-Men 2, Brian Cox, Emile Hirsch yang kita kenal lewat komedi remaja, The Girl Next Door dan biopic Christopher McCandless, Into the Wild, Ophelia Lovibond (Carina di Guardians of the Galaxy), serta pendatang baru yang tak boleh diremehkan, Olwen Catherine Kelly, sebagai sosok Sang Jane Doe. Dengan pujian dari salah satu master of horror, Stephen King, yang menyebutnya sebagai visceral horror, menandingi Alien dan film-film awal Cronenberg, daya tarik TAoJD menjadi semakin berlipat-lipat. Terbukti juga dari sambutan penonton ketika diputar perdana di Toronto Internasional Film Festival, September 2016 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 16, 2017

The Jose Flash Review
Unforgettable

Anda pernah atau justru sampai sekarang masih menggemari seri novel roman Harlequin? Atau Anda sempat menggemari film-film erotic thriller drama yang cukup booming di era 80-90’an hingga melahirkan beberapa nama sexbomb, seperti Shannon Tweed dan Naveen Andrews? Trend genre ini memang sudah lewat, tapi sesekali masih ada satu-dua yang mencoba untuk ‘mengobati kerinduan’ bagi para penikmatnya. Beberapa tahun terakhir ada Obsessed (2009), The Boy Next Door (2015), dan Careful What You Wish For (2015). Memang tak pernah dibuat sebagai film ambisius dengan budget melimpah. Cukup premise daur ulang yang basically tak jauh-jauh dari tema rumah tangga, revenge, dan bitch fight. Daya tariknya kemudian terletak pada pemilihan cast yang bikin penonton penasaran jika dimasukkan dalam formula tersebut. Tahun 2017 ini ada upaya terbaru dari Warner Bros. lewat Unforgettable dengan mempercayakan produser Denise Di Novi (Little Women, Practical Magic, Original Sin, A Walk to Remember, Catwoman, The Sisterhood of the Traveling Pants 2, Nights in Rodanthe, Life as We Know It, Crazy, Stupid Love, The Lucky One, If I Stay, Focus) yang mencoba debut penyutradaraan, dari naskah yang disusun Christina Hodson (Shut In) bersama David Johnson (Orphan, Wrath of the Titans, The Conjuring 2). Cast yang ‘dipasang’ untuk menjadi daya tarik adalah Katherine Heigl dan Rosario Dawson, beserta aktris veteran yang kita kenal lewat serial Charlie’s Angels, Cheryl Ladd.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
King Arthur:
Legend of the Sword


King Arthur dan berbagai atributnya sudah menjadi legenda yang dikenal di seluruh penjuru dunia. Batas antara sejarah dan legenda pun semakin kabur dengan diperkenalkannya berbagai versi, terutama versi Geoffrey of Monmouth, Historia Regum Britanniae di abad ke-12 yang memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Uther Pendragon, penyihir Merlin, sang istri, Guinevere, pedang Excalibur. Selain itu ada pula versi penulis Perancis, Chrétien de Troyes yang memasukkan karakter Lancelot dan legenda Holy Grail serta Knights of the Round Table yang memulai genre baru yang diberi nama roman Arthurian. Dengan versi yang berbeda-beda, tak heran jika kemudian muncul berbagai versi dengan modifikasi dan tambal-sulam di sana-sini. Apalagi memang tak ada bukti sejarah otentik tentang keberadaan legenda King Arthur yang sebenarnya membuat siapa saja bebas menginterpretasi maupun memodifikasi kisahnya. Tak hanya untuk literatur, tapi juga drama panggung dan tentu saja, film. Di era 2000-an, ada King Arthur (2004) versi Antoine Fuqua yang mengedepankan sisi akurasi historis ketimbang fantasi, The Last Legion (2007) yang ‘mempertemukan’ King Arthur dengan legenda Kerajaan Romawi era Romulus Augustulus, mini seri Merlin (2008) produksi BBC One, dan Camelot (2011) produksi stasiun TV berbayar, Starz.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Critical Eleven

Adaptasi novel masih menjadi salah satu pilihan utama untuk produksi film layar lebar, tak terkecuali di Indonesia. Di tengah dominasi novel remaja yang memang masih merupakan pasar terbesar, sesekali ada pula novel (roman) dewasa yang berhasil menggaet penggemar tak kalah banyak. Salah satu yang terdepan adalah Critical Eleven (CE) karya Ika Natassa yang pertama kali rilis tahun 2015. Tak hanya menjadi best seller, CE yang mengangkat tema mature relationship, pernikahan, dan kehilangan juga menjadi fenomena tersendiri di ranah literatur Indonesia. Potensi besar ditambah target audience spesifik yang masih jarang ‘dijamah’, StarVision dan Legacy Pictures sama-sama tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan kelebihan produksi masing-masing, pilihan keduanya untuk bekerja sama, dengan melibatkan nama-nama jaminan mutu, mulai penulisan naskah yang disusun oleh Ika sendiri bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi), Monty Tiwa, dan Robert Ronny (kedua nama terakhir merangkap sutradara), pemilihan pasangan Reza Rahadian-Adinia Wirasti untuk ketiga kalinya (setelah Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin?), serta cast lainnya yang tak kalah populer, CE versi layar lebar bak dikerjakan oleh the dream team. Namun kepuasan fanbase yang jumlahnya begitu banyak lah yang akhirnya menentukan keberhasilannya kelak, di balik kemustahilan untuk menuangkan semua part di novel ke dalam film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 8, 2017

The Jose Flash Review
Siam Square
[สยามสแควร์ ]


Di mata internasional, Asia memang kaya akan urban legend mistis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu negara produsen yang paling produktif untuk tema ini adalah Thailand. Tahun 2017 ini Sahamongkol Film, salah satu PH Thailand yang banyak melahirkan film-film populer di kancah internasional, termasuk The Legend of Suriyothai, Love of Siam, dan seri Ong-Bak, memproduksi sebuah horror fiktif yang membahas salah satu kawasan paling populer di Bangkok (disebut-sebut sebagai Shibuya-nya Bangkok), Siam Square (SS). Pairach Khumwan yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer untuk film 36 (2012), Mary is Happy, Marry is Happy (2013), dan Hand in the Glove  (2015), serta pernah menyutradarai salah satu segmen berjudul Samet di omnibus Love, Not Yet (2011), dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. SS juga didukung banyak bintang muda yang menyemarakkan film, seperti model dan bintang TV yang akan membintangi film thriller Bad Genius, Eisaya Hosuwan, Peem Thanabodee (serial Hormones dan Halfworlds), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13 Rak Kan Ja Thai dan #Grace), Morakot Liu (Heart Attack), dan Ploy Sornarin (Single Lady).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 6, 2017

The Jose Flash Review
Free Fire

Reservoir Dogs (RD) dari Quentin Tarantino yang rilis tahun 1992 memberikan angin segar di genre crime dan tema mafia yang sebelumnya dibuat bak biopic seperti yang yang dilakukan The Godfather, Scarface, dan The Untouchables. Fokus cerita dipersempit menjadi satu kejadian fucked-up dengan bumbu komedi di sela-sela kesadisan, menjadikan tema crime lebih menghibur. Ketika Tarantino kemudian mencoba berbagai pendekatan lain yang variatif di film-film selanjutnya, Guy Ritchie dari Inggris muncul dengan berbagai elemen-elemen dasar dari RD, ditambah storytelling dan visual style khas yang ia ciptakan sendiri lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrels (LSTSB - 1998), disusul Snatch (2000), Revolver (2005), dan RocknRolla (2008). Bahkan ketika dipercaya menangani proyek-proyek yang lebih major, seperti Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E., style-style khasnya masih dipertahankan meski banyak juga yang berkompromi dengan selera mainstream. Sesekali style-style khas Ritchie ini coba di-copy dan dimodif di sana-sini, seperti pada Smokin’ Aces (2006) dan Shoot ‘Em Up (2007). Hasilnya sama sekali tak buruk, justru berkali-kali terbukti berhasil ‘mengangkat’ film aksi menjadi lebih bergaya dengan energi oktan tinggi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 5, 2017

The Jose Flash Review
Unlocked


Espionage dan kick-ass chick selalu menjadi paduan yang menarik perhatian. Whether you’re a male or a female, aksi keren dari wanita cantik dan seksi dengan mudah menjadi eye-candy, bukan? Along with the male, kehadiran female agent pun sudah banyak yang memorable. Let’s say La Femme Nikita, Salt, Haywire, Colombiana, dan Hanna. Effort terbaru adalah Unlocked yang mengedepankan aktris Noomi Rapace (franchise The Girl with the Dragon Tattoo versi orisinil dan Prometheus) sebagai sosok kick-ass chick. Diproduksi Lorenzo di Bonaventura (mantan eksekutif Warner Bros. yang menemukan franchise The Matrix dan berjasa atas pembelian franchise Harry Potter, tapi juga berada di balik franchise Transformers ketika PH-nya berada di bawah bendera Paramount Pictures), Unlocked didasarkan dari naskah 2008 Blacklist karya Peter O’Brien (game Halo: Reach). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Michael Apted yang punya track record bagus di genre action, seperti The World is Not Enough, Enough, The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, dan Chasing Mavericks. Selain Rapace, Unlocked didukung pula oleh Orlando Bloom, Toni Collette, Michael Douglas, dan John Malkovich. Nama-nama ini tentu membuat Unlocked layak dilirik kendati statusnya yang bukan termasuk proyek major.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 3, 2017

The Jose Flash Review
The Circle

‘Horror’ masa depan yang disebabkan oleh teknologi sudah sejak lama menjadi topik dalam film. Bahkan mungkin sejak ‘bapak’ dari segala film sci-fi, Metropolis (1927). Setelah era internet, ‘horor’ teknologi menjadi semakin spesifik. Secara umum, ‘momok’ utamanya kurang lebih sama, yaitu ruang privasi yang makin terkikis. Kini dengan maraknya media sosial dengan layanan yang makin beragam dan menjangkau berbagai sendi kehidupan, apa yang digambarkan, let’s say, di Antitrust (2001) atau Transcendence (2014) semakin mendekati kenyataan. Ironisnya, ‘momok’ yang menghantui ketika film tersebut pertama kali muncul sudah menjadi tak lagi mengerikan ketika sudah menjadi kenyataan. Kini ketika trend teknologi bergeser ke era Snapchat, diikuti InstaStory, apa yang digambarkan di novel The Circle karya Dave Eggers yang dirilis pertama kali tahun 2013, seharusnya menjadi ‘momok’ yang relevan. James Ponsoldt (The Spectacular Now) tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Diproduseri Anthony Bregman lewat Likely Story dan Tom Hanks lewat Playtone, The Circle mendapatkan pembiayaan penuh dari Image Nation Abu Dhabi. Selain Tom Hanks yang juga turut mengisi peran, aktris muda yang dikenal lewat franchise Harry Potter dan baru-baru ini, Beauty and the Beast, Emma Watson, aktor kulit hitam yang populer lewat Star Wars: The Force Awakens, John Boyega, Patton Oswalt, serta mendiang Bill Paxton yang mana merupakan penampilan terakhirnya di film sebelum meninggal dunia 25 Februari 2017 silam. Dengan budget yang ‘hanya’ US$ 18 juta padahal harus meng-create desain produksi futuristik, jelas The Circle bukanlah proyek raksasa yang ambisius. Namun bukan berarti tidak bisa jadi menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 30, 2017

The Jose Flash Review
Be Afraid

Film horror dengan pendekatan family drama akhir-akhir ini agaknya menjadi trend. Most notably franchise Insidious dan The Conjuring. Satu lagi film horror supranatural yang mencoba menggunakan pendekatan family drama dirilis di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia. Disutradarai oleh Drew Gabreski yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sinematografer, dari naskah yang disusun Gerald Nott, Be Afraid (BA) mencoba menarik perhatian lewat misteri di balik fenomena sleep paralyzed atau di budaya kita dikenal sebagai ‘ketindihan’.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Seteru

Di peta perfilman Indonesia, nama Hanung Bramantyo seolah sudah menjadi semacam jaminan mutu. Tak hanya menangani proyek-proyek komersial yang ambisius dari PH-PH besar dan karya-karya idealis yang kerap diselipi kegundahan-kegundahan personal, Hanung bersama Dapur Film-nya tak  menolak tawaran proyek-proyek daerah maupun instansi tertentu. Di tangan Hanung (dan tim Dapur Film-nya), proyek-proyek yang kerap dianggap sebagai ‘pesanan’ tersebut terbukti menjadi karya yang tetap tergarap serius, baik dari segi penyusunan naskah, konsep, sampai teknis eksekusi. Pengejar Angin (2011 - Hanung sebagai produser sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Hestu Saputra) dan Gending Sriwijaya (2013) menjadi salah satu buktinya. Di tahun 2017 dimana hanya berselang seminggu dari perilisan film biopic ambisius-nya, Kartini, Hanung juga merilis Seteru, sebuah drama aksi remaja yang bertujuan mengkampanyekan program Bela Negara dari Kementrian Pertahanan. Dibantu oleh Senoaji Julius (asisten sutradara Hanung di Kartini yang pernah menangani Turis Romantis) sebagai co-director, Seteru didukung pula oleh aktor senior, Mathias Muchus, Alfie Alfandy (Hijrah Cinta), serta aktor-aktris muda pendatang baru yang potensial, seperti Bio One (Sule Ay Need You), Yusuf Mahardika, atlet renang peraih medali emas di SEA Games 2013 dan medali perunggu di SEA Games 2015, Triady Fauzi Sidiq, serta atlet timnas voli di SEA Games 2013, Yolla Yuliana.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surau dan Silek

Dibandingkan untuk audience remaja dan dewasa, film anak Indonesia agaknya masih tergolong sangat jarang. Apalagi yang digarap dengan baik. Bagi penonton awam mungkin masih ada Petualangan Sherina dan seri Laskar Pelangi yang paling diingat. Sementara untuk kalangan yang lebih terbatas, ada Cita-Cita Setinggi Tanah yang cukup memorable hingga saat ini. Mungkin keterbatasan itu pula yang menggugah Arief Malinmudo membuat film anak-anak sebagai karya untuk meraih gelar S2 di program Pascasarjana Institut Seni Indonesia, Surakarta. Berkat film anak bertajuk Surau & Silek (SS), ia menjadi lulusan cum laude. Selain pemain-pemain cilik pendatang baru, SS juga didukung oleh aktris senior, Dewi Irawan, seniman teater Sumatra Barat, Yusril Katir, aktor dan presenter, Gilang Dirga (Rumah Kentang, 308), serta Dato’ A Tamimi Arman yang merupakan mantan Menteri Kebudayaan, Seni, dan Warisan Malaysia, yang saat ini menjadi salah satu penasihat pemerintahan Malaysia sekaligus Ketua YIRMI (Yayasan Ikatan Rakyat Indonesia Malaysia). Meski merupakan karya tugas akhir dan tergolong film daerah (yaitu dari Minangkabau), SS jelas punya daya tarik yang tak main-main. Setidaknya jika menargetkan penonton asal Minangkabau (yang notabene banyak sekali tersebar di seluruh penjuru negeri) saja, SS punya potensi untuk meraih kesuksesan secara komersial. Selain tentu saja, sebagai upayanya melestarikan budaya serta kearifan lokal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Baahubali 2: The Conclusion

Masyarakat awam internasional, tak terkecuali Indonesia, mungkin hanya mengenal industri film India sebagai Bollywood. Padahal selain Bollywood yang berpusat di India Utara, masih ada industri film lainnya di bagian Selatan India yang juga berpengaruh, yaitu Telugu (disebut Tollywood), Tamil (Kollywood), Malayalam (Mollywood), Kannada (Sandalwood), dan Tulu (Coastalwood). Masing-masing punya ciri khas dan bahasa daerah sendiri. Meski Bollywood masih menguasai pasar, tak sedikit produksi Tollywood yang berhasil menembus pasar nasional, bahkan internasional. Sering pula film Tollywood yang di-remake oleh Bollywood. Fasilitas produksi film di Tollywood pun sudah memegang rekor Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia dan pusatnya, Hyperabad, punya layar IMAX 3D yang menjadi salah satu terbesar di dunia. Seringkali penonton awam cenderung menyamaratakan produksi film India dengan sebutan Bollywood. Misalnya saja cuplikan adegan-adegan film yang non-sensical sebagai bahan becandaan (meme) yang sebenarnya banyak berasal dari Tollywood, bukan Bollywood. Benar, salah satu ciri khas produksi Tollywood adalah adegan-adegan (biasanya aksi) yang non-sensical. Seringkali menggelikan memang, tapi harus diakui, inovatif dan kerap menginspirasi adegan-adegan fantastikal lainnya di berbagai industri film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 27, 2017

The Jose Flash Review
Guardians of the Galaxy Vol. 2


Meski baru punya satu installment di Marvel Cinematic Universe (MCU) dan belum sepopuler superhero-superhero The Avengers, Guardians of the Galaxy (GotG) ternyata mampu menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya fans komiknya, tapi juga mengundang fans-fans baru berkat keunikan formulanya. Petualangan luar angkasa bak gabungan Star Trek dan Star Wars dengan bumbu musik-musik populer era 70-80’an yang membuat adegan-adegan aksinya terasa lebih groovy. Kelanjutan franchise-nya sebagai bagian dari MCU sudah bisa dengan mudah dipastikan. Spekulasi selanjutnya adalah bagaimana kisah GotG bersimpangan dengan timeline The Avengers. Maka sekuelnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 (GotGV2) yang masih didukung oleh hampir semua cast dan crew dari film pertamanya ditambah aktor-aktris, membuatnya makin ditunggu-tunggu. Tak ketinggalan tracklist soundtrack di installment ini yang sudah menjadi salah satu perhatian utama penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 26, 2017

The Jose Flash Review
Stip & Pensil

Sukses lewat Ngenest dan Cek Toko Sebelah membuat Ernest Prakasa semakin keranjingan berkecimpung di layar lebar. Proyek berikutnya adalah sebuah komedi satir remaja yang diproduksi oleh MD Pictures dan naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Speaking of satire comedy, tentu reputasi Joko tak perlu diragukan lagi. Arisan! menjadi salah satu buktinya. Namun untuk ‘menyesuaikan’ dengan selera humor remaja kekinian, sejalan dengan setting cerita, Ernest sendiri, dibantu Beno Raja Gukguk dan Arie Kriting ikut men-develop naskah Joko tersebut, terutama untuk guyonan-guyonannya. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Ardy Octaviand yang cukup berpengalaman di genrenya, seperti Coklat Stroberi dan 3 Dara. Barisan cast-nya pun menarik. Mulai Ernest sendiri (iya, dia ‘kembali’ ke bangku sekolah di sini!), Tatjana Saphira, Indah Permatasari, dan komika yang akhirnya mendapat giliran berakting di layar lebar, Ardit Erwandha. Mengusung judul Stip & Pensil (S&P) yang begitu dekat dengan dunia pendidikan, ia mencoba menyentil banyak pihak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 23, 2017

The Jose Flash Review
The Last Word

Kisah persahabatan lintas generasi yang justru membuat masing-masing menemukan diri sendiri termasuk sering diangkat. Mulai era Harold & Maude (1971) hingga yang terakhir yang meninggalkan kesan cukup mendalam, The Intern (2015). Belum lagi dengan embel-embel romance seperti An Education (2009) dan karya klasik Bertolucci, Last Tango in Paris (1972). Sutradara Mark Pellington (Arlington Road, The Mothman Prophecy) pun tahun 2017 ini mencoba memasangkan aktris senior, Shirley MacLaine (The Apartment, Terms of Endearment) dengan Amanda Seyfried (Mamma Mia, Les Miserables), dari naskah yang disusun oleh Stuart Ross Fink. The Last Word (TLW) mungkin memang sebuah film kecil tapi menjadi sajian persahabatan dan self-discovery yang menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates