Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Wednesday, August 31, 2016

The Jose Flash Review
Don't Breathe

Sebelum memulai debut menggarap remake Evil Dead (ED - 2013), nama Fede Alvarez dikenal sebagai sineas film pendek Ataque de Pánico! (Panic Attack! - 2009) yang membuatnya dilirik Ghost House Pictures untuk menggarap remake film klasik Sam Raimi tersebut. Nasib sineas asal Uruguay ini pun berubah seketika. Kesuksesan ED baik secara kualitas maupun angka penonton membuatnya dilirik banyak studio untuk menggarap franchise-franchise besar, bahkan Marvel Studios yang konon menawarinya menggarap salah satu film mereka tapi ditolak mentah-mentah oleh Alvarez karena khawatir tidak punya banyak kontrol kreatif dalam penggarapan. Alvarez justru menggarap film horor berbudget kecil (‘hanya’ US$ 9.9 juta) bertajuk Don’t Breathe (DB). Berikutnya, Alvarez dikabarkan akan menggawangi adaptasi video game Dante’s Inferno. DB melanjutkan kerjasamanya dengan penulis naskah Rodo Sayagues setelah El cojonudo, Panic Attack!, dan Evil Dead, composer Roque Baños, produser Sam Raimi dan Rob Tapert, serta aktris Jane Levy dari ED. Jika kebanyakan trend tema home invasion di genre thriller/horror beberapa tahun belakangan ini lebih sering dari sudut pandang pemilik rumah, maka kali ini Alvarez mencoba membalikkan keadaan, yaitu dari sudut pandang sang home invader dan ancamannya berasal dari pemilik rumah yang ternyata jauh lebih beringas.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Train to Busan [부산행]

Zombie adalah salah satu sub-genre horor yang sejarahnya sudah cukup panjang. Tak hanya di Hollywood dan Eropa, tapi juga Asia bahkan Afrika yang menyumbangkan Last Ones Out tahun 2015 lalu. Indonesia tahun lalu juga punya ‘start-up’ lewat Kampung Zombie setelah sebelumnya ada beberapa segmen dari omnibus Takut: Face of Fears (2009) dan Fisfic Vol.1 (2011). Sebagai salah satu industri film besar di Asia, Korea Selatan juga pernah membuat beberapa judul film zombie, seperti A Monstrous Corpse (1981), Zombie School (2014), dan segmen I Saw You di omnibus Mad Sad Bad (2014). Tahun 2016 ini giliran sutradara/penulis naskah Sang-ho Yeon mencoba kembali menghadirkan sub-genre zombie. Ini merupakan debutnya menggarap live-action feature setelah selama ini dikenal sebagai sineas animated feature dewasa yang sarat dengan tema-tema sosial maupun humanity, seperti The King of Pigs (2011) yang menjadi film animasi Korea Selatan pertama yang diundang di Cannes Film Festival dan The Fake (2013) yang world premiere di Toronto International Film Festival serta memenangkan kategori Best Animated Feature Film di Sitges Film Festival. Tak hanya film live action panjang bertajuk Train to Busan (TtB), tapi juga sebuah prekuel berformat animasi bertajuk Seoul Station yang dirilis sekitar sebulan setelah TtB di Korea Selatan. TtB sendiri mencetak pendapatan fantastis. US$ 80.2 juta dari peredaran seluruh dunia dan rekor film Korea Selatan dengan penonton terbanyak, yaitu 10 juta penonton berhasil diraih oleh TtB. Beruntung penonton Indonesia punya kesempatan mengalami TtB di layar bioskop, bahkan di Premium Large Format dan 4DX.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 29, 2016

The Jose Flash Review
Mechanic: Resurrection

The Mechanic (TM) yang dirilis tahun 2011 mungkin bukan merupakan film rilisan studio besar dengan budget yang besar pula, tapi ia cukup menarik perhatian karena merupakan remake dari film berjudul sama tahun 1972 yang dibintangi sang legendaris action, Charles Bronson dan disutradarai Michael Winner (trilogi Death Wish). Di tangan sutradara Simon West (Con Air, The General’s Daughter, dan Lara Croft: Tomb Raider), TM versi 2011 menjelma menjadi drama-action-thriller tentang assassin yang mengalir bekelas serta terasa begitu ‘bersahaja’, sedikit berbeda dengan tipikal film Jason Statham, sang (more to) B-class pure-action icon era 2000-an yang terkesan asal punya banyak adegan aksi baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata api, tanpa mengindahkan plot maupun acting performance. Hasil box office-nya sebenarnya biasa saja (total di seluruh dunia ‘hanya’ US$ 76 juta, dengan budget US$ 40 juta), tapi sosok Jason Statham sebagai icon action era 2000-an, terutama di Asia dan Eropa, masih mampu jadi daya tarik. Maka Millenium Films memberikan lampu hijau untuk penggarapan sekuel yang meski masih mengusung nama Jason Statham di garda terdepan, tapi punya penulis naskah dan sutradara yang berbeda. Bangku sutradara kali ini dipercayakan kepada sineas Jerman, Dennis Gansel yang pernah menggarap Napola - Elite für den Führer (2004) dan Die Welle (2008), sementara naskahnya disusun oleh duo Philip Shelby (Survivor - 2015) dan debutant di layar lebar, Tony Mosher. Sementara di barisan cast, didukung aktor senior Tommy Lee Jones, Jessica Alba, dan Michelle Yeoh. Filmografi dari penulis naskah serta tanggal rilis yang terus mengalami perubahan sebenarnya membuat saya agak sangsi dengan hasil akhir dari sekuel yang diberi tajuk Mechanic: Resurrection (MR) ini. Maka saya mencoba untuk tetap menonton dengan ekspektasi serendah-rendahnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 28, 2016

The Jose Flash Review
The Secret Life of Pets

Illumination Entertainment di bawah Universal Studios semakin percaya diri memproduksi franchise-franchise baru setelah kesuksesan luar biasa franchise Despicable Me (DM) dan spin-off-nya, Minions yang sukses melewati angka US$ 1 milyar. Salah satunya adalah The Secret Life of Pets (TSLoP) yang digarap oleh Chris Renaud (DM 1-2 dan The Lorax). Masih dengan tim yang tak jauh beda dari produksi DM, seperti tim penulis naskah terdiri dari Cinco Paul, Ken Daurio, dan Brian Lynch, TSLoP sudah berhasil menarik perhatian berkat desain karakter-karakter yang menggemaskan begitu trailernya dirilis. Tak heran jika TSLoP lantas berhasil membukukan US$ 724.4 juta di seluruh dunia sampai tulisan ini dibuat dan akan terus bertambah mengingat masih ada negara-negara yang masih belum memutar. Tentu rencana sekuel segera diumumkan dan kedigdayaan Illumination Entertainment makin kokoh bersaing dengan Walt Disney, Pixar, DreamWorks, maupun BlueSky.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Alice Through the Looking Glass (2016)

Alice in Wonderland (AiW - 2010) menandai salah satu prestasi besar dari kegemaran Walt Disney Pictures mengangkat animasi-animasi klasiknya ke format live action. Bagaimana tidak, sebanyak US$ 1.025 milyar berhasil dibukukan dari peredaran di seluruh dunia. Maka pembuatan sekuel dan menjadikannya salah satu franchise paling berharga jelas sebuah opsi. Apalagi sumber aslinya, novel karya Lewis Carroll memang punya sekuel bertajuk Alice Through the Looking Glass (ATtLG). Selama ini sebenarnya novel sekuel ini sudah beberapa kali diangkat ke film, meski hanya berupa film TV (terakhir versi tahun 2008 dengan bintang Kate Beckinsale) maupun yang dijadikan satu dengan materi cerita dari novel pertamanya. Ada alasan mengapa Disney selama ini belum pernah mengangkat ATtLG ke dalam format animasi seperti prekuelnya yang menjadi sebuah karya klasik. ATtLG punya materi cerita yang jauh lebih gelap dan rumit untuk target audience utama anak-anak. Apalagi jika dicermati, Carroll menggunakan pendekatan semacam permainan catur untuk menyusun narasi ATtLG. Maka ketika dirasa dunia sudah siap dengan kisah gelap dan rumit, Walt Disney Pictures akhirnya berani mengangkatnya ke layar lebar untuk pertama kali. Itu pun dengan melakukan perombakan cerita besar-besaran sehingga hanya menyisakan beberapa elemen minor dari cerita aslinya serta, tentu saja, titel yang masih dipertahankan. Tim Burton tak lagi duduk sebagai sutradara dan mempercayakannya kepada James Bobin yang sebelumnya sukses mengangkat kembali The Muppets versi 2011 dan sekuelnya, Muppets Most Wanted (2014), dengan naskah yang masih disusun oleh Linda Woolverton. Sementara para cast utama kembali melanjutkan peran masing-masing yang sudah termasuk ikonik.

Tiga tahun terakhir setelah meninggalkan Underland, Alice Kingsleigh mengikuti jejak sang ayah menjadi kapten kapal menjelajahi dunia. Ketika kembali ke London, ia mendapati perusahaan pelayaran sang ayah jatuh ke tangan mantan tunangannya, Hamish Ascot, termasuk kapal peninggalan dari sang ayah sebagai ganti dari rumah keluarganya. Meski sama sekali tak menyetujuinya, Alice tak punya pilihan lain. Di saat gundah, ia menemukan sebuah cermin yang ditunjukkan oleh Absolem dan membawanya kembali ke Underland. Sekali lagi ia bertemu kawan-kawan lamanya, seperti White Queen, White Rabbit, Cheshire Cat, dan si kembar Tweedles.

Mereka menyambut kunjungan Alice dengan gundah juga. Penyebabnya adalah Mad Hatter yang beberapa hari belakangan mengurung diri di rumah. Benar, hanya Alice yang bisa disambut oleh Mad Hatter. Mad Hatter baru saja menemukan sesuatu yang membuatnya yakin bahwa seluruh keluarganya masih hidup. Karena kondisi Mad Hatter yang terus memburuk, Alice bertekad untuk mencari keluarga Mad Hatter. White Queen menunjukkan portal menuju Sang Waktu (Time) untuk meminjam semacam mesin waktu bernama Chronosphere yang bisa membawa Alice kembali ke momen dimana terakhir kali keluarga Mad Hatter diketahui. Petualangan Alice pun dimulai sekali lagi.

Membandingkan materi cerita dari novel dengan versi live-action, ATtLG versi 2016 jelas lebih mencoba untuk menyambung secara langsung kisah dari AiW. Bahkan ada konflik dari AiW, terutama tentang relasi antara White Queen dan Red Queen yang diangkat dan diselesaikan di installment ini. Dengan setup cerita yang masih serupa AiW, ATtLG ternyata menyuguhkan kisah petualangan yang lebih terasa ketimbang sebelumnya. Tentu ini juga merupakan kesempatan untuk membawa penonton menjelajahi lebih jauh universe ajaib nan penuh warna yang sudah dipamerkan di installment sebelumnya. For that purpose, ATtLG bagi saya jauh lebih impressive sebagai sebuah tontonan petualangan seru yang mengasyikkan. Ditambah value yang lebih banyak, tak hanya menyoroti emansipasi wanita di tengah budaya patriarki, pun juga berhasil menyatu dengan konsep besar cerita, terutama tentang waktu dan makna sebuah kata ‘maaf’, konsep yang ditawarkan ATtLG tergolong pengembangan yang bagus dan solid. Secara keseluruhan, konsep ATtLG terasa kaya value, solid, seimbang, dan tak ada yang terasa tumpang tindih.

Speaking of Burton’s legacy, adegan-adegan serta elemen-elemen ATtLG mungkin tidak se-signatural AiW, tapi bukan berarti buruk pula. Bobin masih menjalankan perannya sebagai sutradara sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, terutama dalam menggarap kisah petualangan yang tetap menarik untuk diikuti dan aman (serta mudah dipahami) untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga.
Most of the returning original cast masih memberikan kualitas performa yang tak jauh berbeda dari installment sebelumnya. Terutama Mia Wasikowska yang tetap memikat sebagai Alice Kingsleigh yang tangguh dan lovable. Anne Hathaway sebagai Mirana alias White Queen punya momen yang heartbreaking di klimaks. Helena Bonham Carter sebagai Red Queen alias Iracebeth kali ini juga diberi kedalaman lebih yang memberikannya kesempatan menarik simpati penonton. Begitu pula Johnny Depp sebagai Mad Hatter yang turut kebagian emotional part yang cukup menyentuh. Sacha Baron Cohen sebagai karakter baru, Time (Sang Waktu), seperti biasa berhasil mencuri perhatian lewat performa eksentriknya. Tak ada aktor yang lebih tepat memerankan karakter Time selain Cohen. Terakhir, tak boleh ketinggalan voice performance terakhir mendiang Alan Rickman sebagai Absolem yang kali ini sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.

Seperti halnya AiW, ATtLG masih memberikan visual spectacle yang luar biasa, terutama dari desain produksi universe yang begitu memanjakan mata. Penyutradaraan Bobin ditambah sinematografi Stuart Dryburgh yang secara efektif mengeksplorasi desain produksinya bersinergi dengan plot adventure menjadi menarik serta seru untuk diikuti. Experience di layar IMAX jelas menjadi opsi terbaik untuk memaksimalkan segala visual spectacle-nya. Apalagi aspect ratio 1.85:1 yang memaksimalkan fasilitas layar IMAX. Efek 3D-nya menurut saya tergolong biasa-biasa saja. Depth of field yang cukup dan tak banyak gimmick pop-out yang ‘mencolok’. Experience 3D mungkin berbeda dengan versi Large Picture Format lainnya, seperti Sphere-X yang konon punya efek 3D yang lebih memanjakan. Editing Andrew Weisblum turut andil dalam menjaga pace serta porsi menjadi serba pas. Scoring Danny Elfman masih se-‘magis’ di AiW, membawa kembali feel adventurous yang serupa. Sayangnya ATtLG hanya punya Just Like Fire dari P!nk sebagai soundtrack. Tak se-‘meriah’ AiW yang sampai punya satu album khusus kumpulan lagu-lagu inspired by the movie yang dihiasi musisi-musisi bergengsi.


However flop-nya ATtLG (‘hanya’ berhasil mengumpulkan sekitar US$ 76 juta di Amerika Utara saja dan US$ 287 juta di seluruh dunia which is tak sampai sepertiga penghasilan AiW) dan review negatif dari media luar negeri sempat menurunkan minat saya untuk menonton. Nyatanya ketika menyaksikannya, I have to say I love ATtLG way more than AiW. Baik sebagai sajian petualangan seru yang sangat menghibur dan memanjakan panca indera, maupun konsep dengan values yang bersinergi dengan solid. Jika Anda suka dengan AiW dan tertarik akan tawaran ATtLG, I suggest to go for it. Abaikan review negatif dan penghasilan box office-nya. Siapa tahu Anda termasuk yang setuju dengan pendapat saya atas ATtLG.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 19, 2016

The Jose Flash Review
The Nice Guys

Dikenal sebagai penulis naskah buddy-cop yang kemudian berkembang menjadi salah satu all-time franchise, Lethal Weapon, Shane Black punya deretan filmografi yang impressive baik sebagai penulis naskah maupun sutradara. The Last Boy Scout (1991), Last Action Hero (1993), The Long Kiss Goodnight (1996), hingga yang mendapatkan rekoknisi paling tinggi, Kiss Kiss Bang Bang (2005), dan dipercaya menggarap Iron Man 3 serta konon kabarnya upcoming, The Predator yang direncanakan rilis 2018. Ia punya ciri khas baik dari naskah dengan bubuhan komentar pribadi maupun signatural-signatural lainnya di layar. Menilik dari karya-karya terbaiknya, Black punya kekuatan lebih di action-comedy dengan dua karakter utama (baca: buddy-cop). Untuk itu ia kembali menyusun sebuah naskah yang sudah ia garap bersama Anthony Bagarozzi (the upcoming Death Note) sejak 2001  tapi ternyata tidak menarik minat siapapun untuk mewujudkannya. Sempat pula naskah ini dirombak untuk menjadi serial TV, tapi akhirnya di tahun 2014 menemukan titik terang produksi. Dalam sebuah wawancara, Black mengakui peran duo aktor utama; Russell Crowe dan Ryan Gosling yang membuat Joel Silver dan WarnerBros. tertarik memproduksi film bertajuk The Nice Guys (TNG) ini.

Seorang tukang pukul yang lebih sering menerima job untuk menghajar penggoda gadis-gadis remaja di bawah umur, Jackson Healy, menerima job dari seorang gadis muda bernama Amelia untuk menghajar pria bernama Holland March dan memperingatkan untuk berhenti mencari dirinya. Holland March ternyata seorang detektif swasta berlisensi yang diutus oleh seorang nenek bernama Mrs. Glenn untuk mencari keponakannya, bintang porno terkenal, Misty Mountains yang ditemukan tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas beberapa hari sebelumnya. Mrs. Glenn yakin Misty belum meninggal karena ia melihat sendiri keponakannya muncul di rumahnya dan Amelia adalah petunjuk penting. Setelah diserang oleh dua pria di rumahnya yang mencari keberadaan Amelia, Healy memutuskan untuk bekerja sama dengan March untuk mencari Amelia sebelum dua pria yang menyerangnya. Dibantu Holly, putri March yang sangat tertarik dengan pekerjaan sang ayah tapi membenci sosoknya, pencarian mereka akan Amelia berujung pada kaitan kematian Misty Mountains, sutradara film amatir eksperimental sekaligus pacar Amelia, Dean, dan produser film porno, Sid Shattack. Tentu kesemuanya membawa mereka ke sebuah konspirasi yang lebih serius dan membahayakan.

Mengambil setting 1977, Black memang sengaja membawa TNG ke atmosfer psikadelik yang penuh warna dan groovy. Apalagi cerita detektif semacam ini memang populer di era tersebut. Konsep ini jelas membawa nostalgia film-film bertema serupa di eranya. Namun yang patut mendapatkan highlight lebih besar adalah ini film Black dengan berbagai kelebihan serta signatural-nya. Terutama kepiawaian-nya dalam menyelipkan joke-joke hilarious lewat penulisan karakter-karakter (utama)-nya. Ditambah lagi dengan kepiawaian Black menyusun plot mulai adegan pembuka yang ‘eye-catchy’ yet inviting curiosity, kemudian perkenalan karakter utama, Healy dan March dengan sudut pandang masing-masing serta identikal keduanya, pengembangan clue demi clue yang terkuak, hingga aksi penyelesaian yang seru sekaligus menggelitik. Keseluruhan menghasilkan tontonan yang bikin penasaran untuk diikuti dan sangat menghibur dengan berbagai joke-joke yang lebih banyak bertumpu pada tingkah slapstick karakter (terutama March) dan kebetulan demi kebetulan dalam menggerakkan plot. Bagi penonton yang terlampau serius mungkin akan menganggap ini something stupid atau ‘maksa’, tapi sebenarnya ini disengaja sebagai konsepnya yang memang black comedy.  Sebaliknya, penonton yang ingin bersenang-senang dan paham guyonannya akan menemukan kebetulan demi kebetulan ini sebagai hiburan yang menggelitik. Juga berbagai sindiran sosial sesuai setting-nya, seperti tentang gaya hidup remaja dan demonstrasi massa, serta guyonan-guyonan bereferensi pada pop culture sesuai eranya, seperti serial The Waltons, The Comedy Store, dan Baryshnikov. Tak ketinggalan signatural Black, seperti penculikan sebagai plot device dan adegan di momen Natal.

Menjadi daya tarik terbesar TNG, duet Russell Crowe dan Ryan Gosling mampu membangun chemistry love-hate yang groovy dan sparkling. Sebagai masing-masing karakter, keduanya pun mampu menyeimbangkan antara keseriusan dan comedic-character dengan amat baik. Terutama sekali Gosling yang ternyata lucu juga untuk peran agak pinpinbo (pintar-pintar bodoh). Sementara Crowe seperti biasa, menampilkan kharisma kuat dan toughness tanpa sedikitpun meninggalkan kesan fun. Jangan lupakan penampilan aktris muda, Angourie Rice sebagai Holly yang di setiap kemunculannya selalu berhasil mencuri perhatian, terutama ketika beradu akting dengan Gosling. Kim Basinger dengan porsinya yang tak banyak (mungkin juga disengaja hanya semacam bentuk homage) masih mampu punya daya tarik untuk membuat penonton menunggu kemunculannya. Margaret Qualley sebagai Amelia tampil menarik meski masih belum menunjukkan sesuatu yang cukup berkesan. Notable performances di balik porsi yang tak begitu banyak lainnya, ada Matt Bomer sebagai pembunuh bayaran dingin yang dandanannya mengingatkan saya akan Tom Cruise muda, Yaya DaCosta sebagai Tally yang mewakili simbol cewek kulit hitam seksi sesuai eranya, Lois Smith sebagai Mrs. Glenn, dan putra Val Kilmer, Jack Kilmer, sebagai Chet. Buat penggemar cewek yang menggoda, penampilan singkat Murielle Telio sebagai Misty Mountains bisa jadi bonus tersendiri.

Menggunakan setting 70-an, tentu desain produksi Richard Bridgland punya peran yang paling penting. Ditambah sinematografi Philippe Rousselot yang mem-framing segala elemen dengan angle-angle yang mendukung keseruan banyak adegan dan sinematis. Editing Joel Negron juga berhasil menyusun adegan-adegannya menjadi plot investigatif yang bikin penasaran tanpa kesan membingungkan, pun menjelaskan tiap karakter secara serba seimbang. Scoring David Buckley dan John Ottman mungkin memang tak sampai memorable ataupun hummable, tapi mendukung atmosfer witty dengan cukup maksimal. Terakhir, pemilihan soundtrack-soundtrack populer yang meski beberapa out of time, sangat mewakili semangat psikadelik sesuai energi filmnya sendiri. Mulai Papa was a Rollin’ Stone dari The Temptations, Rock and Roll All Nite dari KISS, Boogie Wonderland dan September dari Earth Wind & Fire, Jive Talkin’ dari The Bee Gees, hingga Get Down on It dari Kool & The Gang.

Memadukan black comedy, buddy cop, investigatif, father-and-daughter, political conspiracy, porn industry, dan atmosfer 70’s groovy psychadelic, TNG menjadi sajian hiburan yang tak hanya sangat menghibur, tapi juga dirangkai dari berbagai elemen secara rapi. Bahkan mungkin duet Healy-March nantinya dikembangkan menjadi franchise tersendiri, karena menurut saya punya perpaduan karakteristik yang menarik. Siapa tau, bukan?


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Lights Out

Tahun 2013 lalu penggemar horor disuguhi sebuah film pendek berjudul Lights Out garapan sutradara David F. Sandberg yang sedianya dibuat untuk diikutsertakan dalam sebuah kompetisi. Video berdurasi kurang dari 3 menit ini (bisa ditonton di sini) memang tak menang kompetisi tersebut tapi segera menjadi viral. Para agen pun berlomba-lomba mengontak Sandberg, termasuk Lawrence Grey dan James Wan yang tertarik untuk mengembangkannya menjadi film layar lebar panjang. Maka Sandberg bekerja keras untuk meyakinkan Wan bahwa ia punya treatment yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Melibatkan penulis naskah Eric Heisserer (remake A Night on Elm Street dan The Thing, Final Destination 5, Hours, serta upcoming film Denis Villeneuve, Arrival), Lights Out (LO) versi layar lebar pun diproduksi dengan budget ‘hanya’ US$ 4.9 juta. Aktris Teresa Palmer dan Maria Bello ditunjuk untuk mengisi peran-peran utama. Ini menandai debut Sandberg (dan juga istrinya, Lotta Losten yang tampil lagi setelah di versi film pendeknya) di layar lebar.

Film dibuka dengan terbunuhnya seorang pengusaha bernama Paul secara misterius. Penonton kemudian diperkenalkan pada Rebecca, seorang tattoo artist yang sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seorang pria bernama Bret. Mendadak Rebecca dipanggil oleh pihak sekolah karena sang adik tiri, Martin, sering tertidur saat pelajaran. Setelah menginterogasi Martin, Rebecca semakin penasaran dengan kondisi sang ibu, Sophie yang terlihat kondisi jiwanya makin mengkhawatirkan setelah menjanda. Ternyata ada sosok supranatural di rumah  yang mempengaruhi kejiwaan Sophie dan berkaitan dengan masa lalunya. Rebecca pun memutuskan untuk mengabaikan keretakan hubungan dirinya dengan sang ibu demi menyelamatkan keluarganya dari cengkraman sosok supranatural yang diketahui bernama Diana.

Mengembangkan plot dari sebuah film pendek yang sejatinya hanya peristiwa matikan-nyalakan lampu sampai sosok misterius yang hanya muncul ketika gelap terlihat, menjadi sebuah plot film panjang sebenarnya adalah sebuah tantangan terbesar yang dihadapi oleh Sandberg. Ia memilih treatment plot sederhana yang bahkan tak melibatkan terlalu banyak karakter maupun set. Klise dan penggunaan pendekatan keluarga untuk membangun ikatan emosi serta simpati dari penonton juga sudah menjadi formula standard di film horor beberapa tahun terakhir. Namun somehow, saya merasa pengembangan plot, terutama konsep serta latar belakang sosok supranatural yang diperkenalkan sebagai Diana di sini sangat menarik. Plot kemudian disusun dengan runtutan yang tak kalah menariknya. Sebagai adegan pembuka, penonton seolah sudah di-warning bahwa sosok Diana ini berbahaya. Ia mampu membunuh. Tak seperti kebanyakan horor yang membuka dengan adegan jumpscare semata. Dengan demikian penonton menjadi semakin awas dengan ancaman kematian yang bisa datang kapan saja. Bagi saya, ini adalah modal yang efektif untuk menebarkan teror sepanjang film.

Kemudian bagaimana ia mulai memperkenalkan karakter-karakter sentral satu per satu, lengkap bersama koneksi mereka dengan karakter yang terbunuh di adegan pembuka,  dikembangkan dengan tak kalah bikin penasarannya. At some point, sempat mengaburkan persepsi penonton (dan sebenarnya bisa mempengarahui fantasi penonton tentang kelanjutan plot), berhasil membuat saya semakin penasaran sambil terus bermain tebak-tebakan akan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana latar belakang sosok Diana. Hingga ketika satu per satu misterinya terungkap, LO membombardir penonton dengan adegan-adegan mencekam, kejar-kejaran dengan sosok Diana yang sengaja dibuat misterius sampai satu titik tertentu di klimaks. Menggabungkan silent moment, jump-scare, dan kejar-kejaran (dengan sosok yang hanya muncul ketika gelap) yang ditampilkan secara bergantian, paruh ketiga LO adalah rangkaian sport jantung yang sebenarnya. Cliché and repetitive, but a lot of heart-pumping fun. Jika mau dipikir-pikir dan dianalisis lagi, sejak awal hingga akhir, LO adalah sajian yang memang sengaja dibuat se-simple mungkin. (Latar belakang) sosok Diana dan relasi kekeluargaan antar karakter secukupnya, tak ada yang memperlihatkan kedalaman lebih. Namun somehow, overall, sangat efektif di berbagai upayanya, baik sebagai horor maupun drama keluarga. 

Dipasang sebagai karakter utama, Rebecca, Teresa Palmer mungkin tak beda dengan tipikal ‘final girl’ di berbagai film horor. Benar-benar tak ada yang istimewa. Namun kharismanya di layar, terutama faktor kecantikan fisik yang semakin terpancar dibandingkan sebelum-sebelumnya, tetap berhasil mengundang simpati penonton. Kemudian Maria Bello sebagai Sophie yang lebih dari cukup untuk menggambarkan kondisi kejiwaan yang tak stabil. Mengundang rasa iba tapi juga bikin ngeri di sisi lain. Alexander DiPersia sebagai Bret tak terlalu istimewa meski ia punya momen di klimaks yang (akhirnya) bisa menarik simpati penonton setelah hanya bisa bikin penonton iba dengan kondisinya sebagai korban PHP (Pemberi Harapan Palsu). Above all, si cilik Gabriel Bateman sebagai Martin tampil mencuri perhatian bagi saya pribadi.

LO mengeksplor berbagai penggunaan teknis untuk membangun nuansa horornya, seperti sinematografi Marc Spicer yang seolah mengajak penonton mengikuti plot sesuai yang diinginkan lewat bidikan gambar. Pun juga memanfaatkan sinematografi untuk berbagai adegan jump-scare secara efektif, tentu saja permainan lighting yang menjadi salah satu elemen terkuat dari LO. Editing Michael Aller semakin mempertegas nuansa-nuansa seram yang ingin dibangun lewat momentum-momentum yang serba tepat. Begitu juga desain dan tata suara yang terasa memainkan peranan yang tak kalah pentingm termasuk permainan silent moment yang mencekam. Bahkan saya mendengar ada efek suara yang begitu samar antara suara sungguhan atau hanya efek suara dari kanal rear (belakang). Terakhir, scoring Benjamin Wallfisch mungkin tak semencekam garapan-garapan Joseph Bishara di film-film Wan, tapi lebih dari cukup untuk mendukung adegan-adegan menegangkannya.


So, LO memang menawarkan sajian horor yang berjalan teramat sangat sederhana tapi efektif dalam berbagai kepentingan yang menjadi ekspektasi Anda dari sebuah film horor supranatural, terutama sebagai pemicu adrenalin. Jauh dari kesan hingar-bignar seperti yang ditawarkan The Conjuring 2. Kendati demikian, plotnya tetap asyik untuk diikuti dan buat main tebak-tebakan meski sadar bakal cliché. Bagi penggemar horor, LO jelas pantang untuk dilewatkan. Siap-siap juga siapa tahu Anda jadi parno tidur dengan lampu padam selama beberapa hari setelah menyaksikan filmnya. Lagian WarnerBros., New Line Cinema, dan Attomic Monster milik Wan, sudah memberi lampu hijau pembuatan sekuel setelah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali modal hanya pada weekend pertama (sampai tulisan ini dibuat sudah melewati angka US$ 99 juta!). This definitely would be another Wan’s hitmaker franchise.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Shallows

Sub-genre creature sebenarnya sudah ada sejak sejarah perfilman dimulai. Hanya saja keberadaannya yang terkesan monoton dan hanya mengandalkan adegan-adegan sadis semata membuat genre ini lebih akrab sebagai film TV atau direct-to-video. Akhir 90-an genre ini sempat kembali populer dengan judul-judul seperti Anaconda (1997), Lake Placid (1999), dan Deep Blue Sea (1999). Sayang, setelahnya genre ini kembali ke ‘habitat’-nya sebagai film direct-to-video. Jangan salah, sebagai produk film TV, ada Sharknado (2013) yang sempat heboh dan sudah sampai installment keempat. Salah satu sub-sub-genre yang sempat populer adalah shark attack yang mencapai titik puncaknya lewat Jaws (1975). Setelah itu, mungkin hanya Deep Blue Sea yang dengan mudah diingat oleh kebanyakan penonton. Padahal sebenarnya ada Open Water (2003), Shark Night (2011), Soul Surfer (2011), Bait (2012), Dark Tide (2012), dan film Australia, The Reef (2010). Tahun 2016, Sony Pictures kembali menghadirkan tema survival/one (wo)-man show/creature lewat The Shallows. Berdasarkan naskah Anthony Jaswinski (Vanishing on 7th Street) yang masuk daftar Blacklist 2014, ditunjuklah sutradara Spanyol, Jaume Collet-Serra, yang sudah berpengalaman mengarahkan Liam Neeson di tiga film action thriller; Unknown, Non-Stop, dan Run All Night, serta salah satu thriller paling ikonik era 2000-an, Orphan. Dengan memasang Blake Lively sebagai aktris utama sekaligus sosok one (wo)-man show, The Shallows mencoba menaikkan kembali reputasi film bertemakan shark attack maupun creature.

Nancy Adams memutuskan mencari sebuah pantai rahasia di pedalaman Meksiko, dimana sang ibu yang juga seorang surfer pernah berkunjung. Nancy pun menyebutnya sebagai ‘mom’s beach’. Perjalanannya tak sia-sia ketika sampai di pantai yang masih perawan tersebut. Selain dirinya, hanya ada dua surfer pria yang sedang menjajal ombak dengan bekal sebuah kamera Go-Pro. It’s all a paradise, sampai ketika Nancy memutuskan untuk tinggal lebih lama bersama ombak sementara dua surfer pria lainnya meninggalkan dirinya sendiri. Setelah menemukan bangkai paus bungkuk, Nancy sadar bahwa ada sesosok hiu putih yang ganas dan siap menyerang menghuni pantai tersebut. Tak hanya pahanya yang sempat tergigit, Nancy harus mengandalkan kepiawaiannya sebagai mahasiswi kedokteran, logika dan perhitungan yang matang, serta keberanian lebih untuk bertahan hidup sampai ada pengunjung lain yang datang menolong.

Ketimbang sebagai film bergenre shark attack ataupun creature, The Shallows sebenarnya lebih cenderung menggunakan treatment sebagai film one (wo)-man show survival. Sedikit mengingatkan saya akan perjuangan Tom Hanks untuk bertahan hidup di Cast Away, bahkan dengan menampilkan sosok burung camar yang diberi nama Steven Seagull yang jelas-jelas mengingatkan kita akan sosok bola voli bernama Wilson. Hanya saja, The Shallows punya elemen-elemen pembangun konflik yang jauh lebih menegangkan dan membuat saya berkali-kali memicingkan mata dan jump-off-the-seat. Tentu saja semua berasal dari serangan hiu yang ditata dengan timing dan framing serba tepat sehingga berhasil menjadi sajian shark attack di atas rata-rata. Kepiawaian dan kejelian Collet-Serra dalam menghadirkan thriller yang gripping menjadi faktor terbesar keberhasilan The Shallows. Durasinya memang ‘hanya’ 86 menit, tapi mampu membuatnya serba efektif dalam memompa adrenaline dan memikat penonton lewat karakter Nancy yang cerdas dan pemberani. Naskah pun memasukkan latar belakang Nancy dengan begitu efektif, tak membuang-buang durasi, dan lebih dari cukup untuk membuat penonton memahami serta bersimpati kepadanya. Perjuangan survival Nancy sepanjang film pun menjadi medium yang lebih ampuh lagi untuk menarik simpati penonton, termasuk membuat penonton ikut merasakan perasaan was-was dan ketakutan yang dialami oleh Nancy sendiri. Yang patut dicatat pula, tak ada kesan eksploitasi gore yang berlebihan di sini  (eksploitasi kemolekan tubuh Lively sedikit terasa sih, tapi masih dalam koridor estetis dan tak ada kesan vulgar sama sekali).

Tampil sebagai karakter one (wo)-man show utama, performa Blake Lively tentu menjadi salah satu sorotan terbesar. Untung saja, Blake yang sebelumnya punya image karakter wanita kalem dan lemah lembut, berhasil menghidupkan karakter Nancy Adams dengan amat baik. Tak hanya menjadi screen sweetheart berkat kharisma (dan tentu saja fisiknya), tapi juga menghidupkan berbagai emosi ‘kesendirian’ dengan sangat convincing. Terutama ketika ia harus mempraktekkan ilmu kedokterannya pada diri sendiri dengan peralatan seadanya. Penonton seolah bisa ikut merasakan betapa perih dan menyakitkannya momen itu. Tak ketinggalan struggle yang bikin penonton ikut semangat mendukung dirinya, Lively definitely has won any audiences’ hearts.

Mengandalkan atmosfer, The Shallows dibekali teknis-teknis yang serba mumpuni dan mendukung keberhasilannya sebagai sebuah horror thriller bertema creature. Mulai sinematografi Flavio Labiano yang berhasil menampilkan keutuhan emosi Nancy lewat berbagai angle, editing Joel Negron yang menyusun segalanya dengan porsi dan momentum yang serba tepat (termasuk adegan surfing dengan iringan Trouble dari Neon Jungle yang membuat adegan terkesan lebih asyik), sampai scoring Marco Beltrami yang selalu berhasil mengaduk-aduk adrenaline penonton. Sedikit visual effect di beberapa elemen yang masih terlihat kasar, tapi keseluruhan masih acceptable. Tak sampai mengganggu atmosfer maupun pompa adrenaline yang coba dihadirkan.

Sebenarnya tak perlu naskah yang unik atau muluk-muluk untuk genre seperti The Shallow ini. Masukkan saja semua elemen yang dibutuhkan dengan proporsi seperlunya, kemudian eksekusi dengan pengarahan yang stylish dan thrilling-skill yang mumpuni, maka hasilnya pun akan berhasil melampaui ekspektasi penonton. The Shallows adalah salah satu buktinya. Bagi saya, ia berhasil menjadi salah satu film creature/shark attack (tentu saja setelah Jaws) sekaligus film one (wo)-man show survival paling memorable so far.


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 12, 2016

The Jose Flash Review
Solace

Se7en (1995) memang menjadi semacam milestone untuk genre serial killer investigation thriller. Tak hanya materi naskah yang memang bagus, kepiawaian sutradara David Fincher dalam memvisualisasikannya pun menjadi faktor terpenting sehingga menjadi sekuat dan se-klasik itu. Ide untuk membuat sekuelnya pun sempat muncul setelah New Line Cinema (anak perusahaan dari Warner Bros.) selaku studio memilih sebuah naskah karya Sean Bailey dan Ted Griffin (Ocean’s Eleven versi 2001 dan Matchstick Men) ditulis ulang dengan judul Ei8ht dan kembalinya karakter Detektif William Somerset. Sayang akhirnya batal karena Fincher tak menyukai ide cerita dari naskah tersebut. Warner Bros. akhirnya memilih untuk tetap memproduksi naskah ini sebagai film yang berdiri sendiri dengan sutradara Brazil, Afonso Poyart (Two Rabbits – 2012) dan aktor Anthony Hopkins. Setelah berhasil diselesaikan pada 2013, jalan film bertajuk Solace ini lagi-lagi sempat mengalami jalan buntu untuk peredarannya. Ia masih harus tersimpan selama hampir dua tahun di ‘bank’ Warner Bros. hingga akhirnya hak distribusi dioper ke Relativity Media yang akhir 2015 lalu mengalami kebangkrutan. Sementara rilis di negara-negara lain terlebih dahulu, Solace baru rilis di negara asalnya, Amerika Serikat, 2 September 2016 nanti. Indonesia termasuk salah satu negara yang mendapatkan jadwal rilis lebih awal.

Agen FBI Joe Merriwether dan Katherine Cowles mengalami jalan buntu ketika harus mengungkap serangkaian kasus pembunuhan dengan modus identik. Mereka menduga pelakunya adalah orang yang sama. Joe meminta bantuan pada kolega lamanya, Dokter John Clancy yang punya intuisi untuk melihat masa lalu sekaligus masa depan seseorang hanya dengan menyentuhnya. John yang sudah dua tahun mengisolasi diri dari dunia luar sejak kematian sang putri karena leukemia, awalnya menolak untuk membantu. Namun ketertarikan membuatnya setuju untuk membantu. John menemukan lebih banyak persamaan dari para korban yang belum disadari FBI sebelumnya. Siapa sangka sang pelaku sebenarnya sudah menyiapkan perangkap berbahaya untuk mereka semua.

Secara premise dan susunan plot, Solace sebenarnya identik dengan Se7en. Bahkan elemen-elemen pendukungnya pun bak comot sana-sini dari berbagai film thriller invetigasi. Misalnya saja, intuisi bisa melihat masa lalu dan masa depan untuk membantu penyelidikan. Sah-sah saja sebenarnya selama masih bisa bikin penonton penasaran. Di awal Solace mungkin masih bisa bikin saya penasaran. Sayangnya setelah satu per satu petunjuk ditemkukan, plot seperti kehilangan arah dan membuat saya tak lagi penasaran apa yang bakal terjadi selanjutnya (baca: revealing moment, klimaks, dan konklusi-nya). Faktor utamanya adalah kegagalan naskah untuk menyatukan elemen-elemen yang dimiliki menjadi kesatuan yang solid dan bold. Ditambah pengarahan adegan dari Poyart yang jangankan memberikan style khas yang unik seperti Fincher, menjaga pace thriller-nya menjadi ‘gripping’ saja masih belum. Banyak momen yang akhirnya jatuh menjadi biasa saja. Padahal sebenarnya Solace membahas konsep moralitas tentang hidup dan mati yang lebih besar serta menarik ketimbang sekedar thriller investigatif biasa. Konsep ini tersampaikan sih, tapi tetap saja terasa masih mentah.

Naskah yang masih jauh dari kesan solid akhirnya mempengaruhi pula performa aktor-aktor utama. Seperti misalnya Anthony Hopkins sebagai Dokter John Clancy yang sebenarnya tampil penuh kharisma seperti biasa, jadi terasa tanggung dan kurang memorable di mata saya. Padahal ia mencoba untuk menjalin chemistry dengan karakter Joe Merriwether yang diperankan Jeffrey Dean Morgan dan Katherine Cowles yang diperankan Abbie Cornish. Sayang koneksi antar karakter ini masih terasa ‘canggung’ dan kurang kuat di layar. Begitu pula penampilan Morgan dan Cornish yang sebenarnya tak buruk dan terlihat mencoba memberikan performa maksimal, tapi ternyata belum cukup untuk menarik simpati penonton. Colin Farrell yang memerankan karakter antagonis sebenarnya punya dilema moral yang menarik. Lagi-lagi faktor naskah yang membuat motif mendalam ini hanya tersampaikan secara verbal, tak sampai ‘mengusik’ benak maupun emosi saya. Screen presence dan pace yang membuat upaya Farrell terkesan sia-sia.

Secara teknis, Solace menawarkan beberapa visualisasi menarik, terutama penglihatan John yang melibatkan dramatic slow motion, one shot dengan kamera yang mengikuti, serta multiplied character sequence. Memang tak benar-benar baru, tapi bagi saya tetap saja menarik untuk dicatat. Editing Lucas Gonzaga yang sudah bekerja sama dengan Poyart sejak Two Rabbits dan film selanjutnya, biografi José Aldo, juara UFC kelas bulu, Mais Forte que o Mundo: A História de José Aldo, mungkin tak ada yang salah karena permasalahan pace sebenarnya berasal dari pengarahan Poyart sendiri. Sementara scoring dari BT mungkin tak sampai jadi sesuatu yang memorable, tapi terdengar cukup unik dan masih mendukung adegan pada level ‘secukupnya’.

Jika Anda termasuk penggemar thriller investigatif, Solace masih bisa jadi pilihan tontonan yang menarik meski punya elemen-elemen yang tentu tak unik lagi. Namun jika juga mengharapkan jalinan cerita yang solid dan bikin penasaran atau momen-momen thriller yang gripping, rasanya Anda akan agak kecewa. So, just enjoy the plotline although you’ve known its flaws.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 7, 2016

The Jose Flash Review
3 Srikandi

Film bertemakan sport terhitung masih jarang di perfilman nasional. Alasan utamanya adalah tak banyak cabang olahraga yang populer sehingga sulit pula untuk menarik minat penonton. So far hanya sepak bola yang paling sering diangkat ke layar nasional karena memang merupakan olahraga paling populer dengan sejuta umat di tanah air. Misalnya Tendangan dari Langit (2011), Hattrick (2012), Hari Ini Pasti Menang (2013), Garuda di Dadaku (2009) dan sekuelnya (2011), serta Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014). Di luar sepak bola, ada biografi legenda bulu tangkis, Liem Swie King lewat King (2009) dan Mari Lari (2014). Tahun 2016 ini Multivision Plus mencoba menghadirkan olahraga yang sebenarnya termasuk eksklusif tapi pernah menorehkan prestasi besar dalam sejarah Indonesia di Olimpiade; panahan. Membidik kiprah tiga pemanah wanita yang berhasil membawa pulang medali Olimpiade pertama bagi Indonesia, 3 Srikandi (3S) dirilis berdekatan dengan event Olimpiade 2016 yang mana sebuah keputusan yang sangat tepat, baik untuk mempromosikan filmnya maupun menggugah masyarakat untuk lebih peduli dan mendukung terhadap kiprah atlet-atletnya di ajang bergengsi tingkat dunia. Menyatukan aktor-aktris papan atas tanah air seperti Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, dan Tara Basro, bangku sutradara dipercayakan kepada Iman Brotoseno (debut layar lebarnya setelah selama ini lebih dikenal di penggarapan TVC) yang sekaligus menulis naskahnya bersama Swastika Nohara yang pernah menulis naskah untuk Hari Ini Pasti Menang dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku.

Tahun 1988, Indonesia berniat mengirimkan wakil-wakilnya di Olimpiade 24 di Seoul. Salah satu cabang olahraga yang menjadi perhatian adalah panahan putri. Di tengah kebingungan memilih pelatih yang layak, Udi berupaya membujuk mantan Robin Hood Indonesia yang dulu gagal berangkat ke Olimpiade Rusia karena urusan politik agar mau menjadi pelatih panahan putri Indonesia. Meski awalnya menolak karena masih sakit hati, Donald Pandiangan akhirnya setuju dengan syarat tidak ada intervensi dari organisasi atas metode yang ia gunakan. Akhir penyaringan menyisakan Nurfitriyana atau yang biasa dipanggil Yana dari Jakarta, Lilies dari Surabaya, dan Kusuma dari Ujung Pandang. Gemblengan keras dari Donald berbenturan dengan problema-problema pribadi serta keluarga masing-masing menjelang keberangkatan ke Seoul. Above all, kiprah ketiganya saat pertandingan lah yang menjadi penentuan atas apa yang telah mereka lalui dan upayakan selama ini.

Meski merupakan sebuah biopic, 3S lebih menggunakan formula-formula film keluarga (dan sport) a la Disney. Alih-alih menjadi tontonan yang berat dan serius, ia lebih memilih menjadi sajian tontonan hiburan yang menyenangkan. Ada momen-momen dramatis yang tak sampai berlebihan tapi lebih dari cukup untuk membuat penonton bersimpati, momen-momen romantis yang manis tanpa jatuh menjadi terasa cheesy, momen-momen keluarga yang hangat, persahabatan dan perjuangan yang seru, menggelitik, sekaligus menyenangkan, sampai momen puncak yang menegangkan. Kesemuanya ditampilkan dengan keseimbangan serta momentum yang serba pas, mengisi durasi yang sekitar dua jam tanpa begitu terasa. Pengalaman Iman di penggarapan TVC yang mewajibkan kemampuan visualisasi dan bercerita dengan lugas dan timing singkat tentu menjadi faktor utama bagaimana 3S bisa bercerita dengan lancar.

Kendati terasa ringan dan menyenangkan, naskah 3S terasa disusun dengan baik, efektif, serta detail di atas rata-rata. Termasuk yang menjadi perhatian utama saya (serta memikat saya) adalah detail latar belakang masing-masing atlet (dan bahkan Donald Pandiangan sendiri) yang bisa mewakili kondisi warna-warni sosiokultural keluarga di Indonesia pada umumnya, termasuk pola pikir masyarakat tentang profesi dan masa depan. Meski bersetting 1988, nyatanya masih sangat relevan sampai saat ini. Bukti bahwa pola pikir masyarakat kita basically belum banyak berkembang? Bisa jadi. Naskah juga melakukan permainan tricky-plot yang mampu membuat penonton penasaran sekaligus memberikan penjelasan yang memuaskan.

Tak perlu meragukan lagi performa Reza Rahadian yang mungkin sampai membuat penonton berujar ‘Reza lagi, Reza lagi’. Mau bagaimana lagi, Reza adalah pilihan dengan kharisma paling tepat untuk peran Donald Pandiangan. Tak hanya ekspresi dan gesture yang dengan sangat kuat menjelaskan watak karakter (favorit saya, trembling hand ketika emosi  setelah ditegur Udi), tapi juga sorot mata dan semua elemen yang memungkinkan mampu membuat penonton memahami karakter Donald. Dari deretan tiga Srikandi, Chelsea Islan sebagai Lilies menjadi highlight paling terang, terutama berkat gesture dan aksen khas Suroboyoan yang begitu kuat. Sesekali masih ada penggunaan bahasa dan aksen yang kelepasan, tapi overall Chelsea lah yang berhasil paling bersinar. Bunga Citra Lestari berada di porsi berikutnya dengan performa yang setara di film-filmnya yang lain. Terakhir, Tara Basro sebagai Kusuma yang tergolong paling pendiam dan kalem terasa punya porsi paling sedikit, tapi ia cukup memanfaatkan porsi yang ada dengan maksimal. Family moment yang manis dan menyentuh melibatkan karakternya. Tak perlu meragukan aksen khas Ujung Pandang (sekarang Makassar) yang dituturkan dengan luwes dan convincing oleh Tara karena ia sendiri memang berasal dari Makassar. Di deretan pemeran pendukung, ada Donny Damara, Mario Irwinsyah, Joshua Pandelaki, Ivanka Suwandi, Detri Warmanto, dan Indra Birowo yang cukup noticeable dalam membawakan peran masing-masing dengan porsi yang terbatas.

Teknis 3S terasa digarap dengan maksimal dan mumpuni pula. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful yang tak hanya mampu mem-framing adegan-adegan dengan efektif dalam bercerita, tapi juga pergerakan kamera yang dinamis terutama untuk adegan musikal Yana, Lilies, dan Kusuma, serta slow-motion dengan detail dan smooth movement luar biasa. Editing Sastha Sunu pun menjaga pace cerita menjadi serba pas. Desain produksi yang cantik, terutama terlihat pada desain kostum dan setting yang so 80’s. Ada kelepasan minor terkait setting waktu, seperti logo KAI dan billboard Smart TV di Korea Selatan, tapi bagi saya masih bisa dimaklumi kesulitannya yang tak sebanding dengan fungsi. Aghi Narottama seperti biasa menghadirkan scoring yang serba sesuai dengan kebutuhan adegan, terutama membawa nuansa grande di banyak kesempatan. Pengiring opening title-nya mungkin sedikit mengingatkan saya akan intro Crazy in Love dari Beyoncé, tetapi ternyata berbeda secara keseluruhan. Tak boleh ketinggalan juga kemunculan lagu-lagu 80-an seperti Ratu Sejagad­-nya Vina Panduwinata, Astaga dari Ruth Sahanaya, dan  Tentang Kita dari KLa Project yang tak hanya menyemarakkan suasana tapi juga berhasil membawa nostalgia bagi penonton yang relate. Terakhir, theme song Tundukkan Dunia yang dibawakan BCL terdengar begitu bersahaja bak sebuah hymne atau lagu nasional.

Secara keseluruhan, 3S merupakan biopic yang digarap dengan keseimbangan yang sangat baik dari hampir seluruh aspeknya. Mulai naskah, teknis, sampai elemen-elemen pendukung setting. All the right moves in the right proportion dalam menyampaikan kisahnya yang klise tetapi jadi tetap menarik untuk diikuti, dengan latar sosiokultural yang relevan sampai saat ini, fun factor yang seimbang, dan yang terpenting, semangat nasionalisme yang jauh dari kesan pretensius. Tak berlebihan sebenarnya jika saya menobatkan 3S sebagai salah satu film bertemakan olahraga sekaligus biopic Indonesia terbaik yang pernah dibuat sampai saat ini. Sayang untuk dilewatkan di layar lebar.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Suicide Squad

Meski di ranah layar lebar usianya jauh lebih ‘tua’ dibandingkan Marvel, DC yang haknya dipegang sepenuhnya oleh WarnerBros tak pernah berhenti mengalami pasang surut. Sementara Marvel Cinematic Universe dikembangkan dengan makin solid dan matang, DC Cinematic Universe yang sejak awal kemunculannya sudah diwarnai kontroversial sampai sekarang masih terus diwarnai hujatan dan kritikan tajam. Setelah Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice yang dirilis Maret 2016 lalu tetap saja mengalami nasib yang tak berbeda jauh. Tentu petinggi-petinggi WarnerBros tak ingin kondisi ini berlarut-larut. Maka proyek Suicide Squad (SS) yang sudah produksi sejak April 2015 lalu ini diselesaikan dengan sangat hati-hati, mulai berita reshot sampai editing dengan berbagai versi yang memakan proses cukup panjang, terutama agar hasilnya tidak terlalu gelap seperti installment-installment sebelumnya. Pengalaman membuktikan reshot dan proses editing yang alot bukanlah pertanda bagus terhadap hasil akhir. Terlepas dari trailer musikal yang terkesan sangat fun dan menjanjikan, terbukti begitu embargo dibuka reviewer-reviewer Amerika Serikat memberondong SS dengan berbagai review negatif. Nama David Ayer yang punya reputasi bagus menggarap berbagai film aksi, seperti Street Kings, End of Watch, Sabotage, dan Fury pun sudah didapuk sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Sebagai penulis naskah, Ayer pun punya track record yang bagus, baik secara kualitas maupun komersial, termasuk The Fast and the Furious, dan Training Day. SS sendiri berkonsep supervillain yang dikumpulkan jadi satu tim untuk dijadikan sosok superhero yang memberantas even bigger villain. Tentu konsep antihero seperti ini memang tidak benar-benar baru, karena masih tahun ini juga ada Deadpool dari Marvel. Bahkan konsep tim supervilain juga dimiliki Marvel dengan nama Sinister Six. Sayang, proyek layar lebar Sinister Six yang sempat diumumkan akhirnya di-pending sampai batas waktu yang belum ditentukan. Speaking of SS, how bad would it be?

Pasa klimaks Batman v Superman, pemerintah Amerika Serikat memutar otak bagaimana menjaga pertahanan keamanan dalam negeri. Petinggi operasi intelijen, Amanda Weller, muncul dengan ide memanfaatkan penjahat-penjahat paling berbahaya untuk dijadikan satu tim pembasmi kejahatan luar biasa. Mulai pembunuh bayaran dengan kemampuan menembak selalu jitu, Deadshot; eks-psikiatris Joker yang justru terpengaruh jadi sinting, Harley Quinn; El Diablo yang punya kemampuan pyrokinetic (mampu menghasilkan api dari tubuhnya sendiri); perampok asal Australia, Captain Boomerang; buaya mutan, Killer Croc; sampai Slipknot. Kesemuanya dikumpulkan di Belle Reve Penitentiary di bawah komando Kolonel Rick Flag. Pasukan ini akhirnya diuji cobakan ketika muncul teror di kereta api bawah tanah Midway City  yang diduga bukan berasal dari sosok manusia. Tak mudah meyakinkan kesemuanya agar mau menjalankan misi ini. Namun dengan kepentingan sendiri-sendiri, akhirnya mereka bersedia menumpas sosok monster ini.

Di atas kertas, SS adalah proyek yang sangat menarik. Terutama karena jajaran supervillain yang sudah dikenal luas, terutama Joker dan pasangannya, Harley Quinn. Dengan mengedepankan jajaran karakter sentral (yang jumlahnya sampai sebelas!) sebagai komoditas dan daya tarik utama, sudah seharusnya itulah yang menjadi porsi utama dalam film pula. Tentu tak mudah membuat kesebelas-sebelasnya punya porsi yang sama dengan durasi yang terbatas. SS cukup jeli memilih karakter-karakter populer sebagai lini depan untuk digali lebih banyak dan menarik perhatian penonton. Harley Quinn dan Deadshot menjadi yang paling digali secara emosi, sementara Joker masih ‘disimpan’ untuk installment-installment berikutnya. Tapi jangan salah, karakter Joker di sini dimanfaatkan untuk ‘memperkeruh’ keadaan dan itu sukses menjadi pencuri perhatian yang efektif. El Diablo juga mendapatkan latar belakang yang jelas, tapi mungkin karena terlalu klise sehingga porsinya dibatasi. Sekedar memberi tahu penonton semata. Sementara Captain Boomerang, Killer Croc, Slipknot, dan Katana tampaknya hanya diberi porsi peran lewat keunikan ciri masing-masing. Buat saya tak masalah. Masih ada kesempatan lain untuk mendalami. Sementara ini biarlah menjadi semacam teaser untuk membuat penonton tertarik dan penasaran.

Sebenarnya bukan urusan porsi tiap karakter yang menjadi masalah terbesar SS. Ia sudah memberikan porsi pas dengan alasan serta tujuan yang cukup reasonable. Kendala terbesarnya bagaimana merangkai kesemuanya menjadi satu kesatuan yang runtut dan enak diikuti. Plotline padat yang ditawarkan SS terasa tidak tersampaikan dengan mulus. Storytelling-nya membuat tiap adegan bak fragmen-fragmen terpisah yang berdiri sendiri, tidak menyatu dengan ups and downs yang mulus. Ini lantas memunculkan banyak pertanyaan dalam benak saya yang bahkan sampai akhir belum mendapatkan jawaban memuaskan. Terutama sekali motivasi utama Weller membentuk SS yang jelas punya resiko sangat berbahaya. How bad of WW III threat that made her feeling in an urgency to build the team? Toh jika meruntut urutan plotline, sang monster yang berasal dari badan tim sendiri muncul setelah SS dibentuk. Menurut saya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk mengambil resiko sebesar itu. Taktik licik Weller yang coba dibuat twisting pun menjadi membingungkan gara-gara susunan adegan (dan juga etalase keunikan karakter yang ditebar di sana-sini) yang mendistraksi. In short, secara storytelling termasuk kacau.

Untung saja tampilan SS yang membombardir dengan adegan-adegan aksi spektakuler dan iringan soundtrack-soundtrack lintas era yang semakin membuat adegan-adegannya terkesan lebih gokil. Setidaknya, dua aspek inilah yang membungkus keseluruhan SS menjadi tontonan yang super fun, sangat menghibur dan memanjakan panca indera.

Dengan mengedepankan ensamble karakter, ensamble cast pun menjadi daya tarik yang krusial. WB-DC termasuk jeli dalam memilih. Mengisi lini terdepan, Margot Robbie dan Will Smith jelas tampil paling menonjol. Robbie dengan attitude centil tapi masih punya kesan mengerikan, menggelitik tapi juga bisa menyentuh, sementara Will Smith dengan keseimbangan pas antara villainous charisma dan hearty factor. Jared Leto yang memerankan Joker mungkin tak se-membius mendiang Heath Ledger, tapi sangat berhasil sebagai pencuri perhatian sebagaimana fungsinya di film. ‘Belum’ terkesan begitu beringas, tapi ekpresi ‘sakit jiwa’-nya sudah lebih dari cukup. Viola Davis sebagai Amanda Waller juga berhasil menunjukkan kemisteriusan sekaligus kebengisan karakternya di balik keanggunan. Joel Kinnaman sebagai Rick Flag meski belum berhasil memberikan action hero charisma yang membuat kagum, tapi setidaknya memperlihatkan moral dilemma yang cukup membuat saya bersimpati.  Begitu pula dengan Jay Hernandez sebagai El Diablo yang menunjukkan kualitas akting setara. Pesona fisik serta aura sensual Cara Delevingne cukup menghidupkan kerapuhan karakter Dr. June Moone pada  porsi terbatas, sekaligus cool-factor (tentu saja dengan polesan CGI) saat bertransformasi menjadi Enchantress. Sementara Karen Fukuhara sebagai Katana, Jai Courtney sebagai Captain Boomerang, Adewale Akinnuoye-Agbaje sebagai Killer Croc, dan Adam Beach sebagai Slipknot belum punya porsi yang cukup untuk menarik simpat penonton, tapi cukup untuk memperlihatkan action ability masing-masing.

Menjadi langganan Ayer, Roman Vasyanov mempersembahkan kualitas sinematografi yang mumpuni untuk film action blockbuster. Adegan-adegan yang ditata dengan cantik oleh Ayer dan desainer produksi Oliver Scholl berhasil dibidik olehnya dengan pergerakan kamera yang sedinamis adegan-adegannya. Editing John Gilroy (yang tentu mendapatkan intervensi banyak pihak hingga menghasilkan hasil akhir di layar) mungkin terasa kurang baik dalam merangkai kesemuanya menjadi satu kemasan film yang utuh, tapi setidaknya adegan-adegan aksi yang ditampilkan masih punya nyawa untuk dinikmati dan mengalir tidak sengaco Batman v Superman. Sound design juga patut mendapatkan kredit lebih dalam menyusun suara-suara dengan begitu detail untuk memberikan kesan keren dan kick-ass sepanjang film, termasuk dalam urusan pembagian kanal surround bahkan  untuk musik pengiringnya. Terakhir, tentu saja pemilihan soundtrack-soundtrack lintas era (serta lintas genre) yang tergolong populer (agar penonton familiar) dan makin memperkuat kesan gokil serta menjadikan adegan-adegannya lebih memorable. Mulai You Don’t Own Me versi asli (Lesley Gore, pemeran Pussycat di serial TV Batman versi 1967) yang begitu pas untuk adegan Harley Quinn, Sympathy for the Devil dari The Rolling Stones, Purple Lamborghini dari Skrillex & Rick Ross, Black Skinhead dari Kanye West, Gangsta dari Kehlani, Paranoid dari Black Sabbath, Seven Nation Army dari The White Stripes, Without Me dari Eminem, Come Baby Come dari K7, Bohemian Rhapsody dari Queen, Heathens dari Twenty One Pilots, dan Sucker for Pain dari Lil Wayne, Whiz Khalifa, serta Imagine Dragons yang membombardir bahkan sampai credit roll selesai. Masih ditambah scoring Steven Price yang tak kalah gokilnya membuat tiap adegan makin terasa secara emosional.

Saya sangat merekomendasikan untuk experience SS di format IMAX 3D. Dibandingkan format reguler 2D, SS di IMAX 3D memberikan ketajaman dan kejernihan gambar yang jauh lebih baik, dengan tata suara yang juga lebih hidup, clear and crisp, perbedaan kanal sumber yang terdengar punya dimensi lebih, serta yang terpenting, all sounds blasting. Untuk format 3D, SS punya kedalaman gambar yang terlihat dengan jelas dan terutama terlihat pada titel-titel adegan. Meski tak ada gimmick pop-out the screen yang mengesankan, tapi masih ada efek kamera yang membuat saya terhenyak off the seat dengan bantuan gimmick 3D. Oya jangan lupa, SS di IMAX juga menghadirkan countdown bumper edisi khusus SS yang sayang untuk dilewatkan.

Tak bisa dipungkiri, kekhawatiran WB-DC untuk SS sampai ada reshot dan proses editing yang panjang mungkin menjadi faktor kekurangan-kekurangan yang saya jabarkan sebelumnya. Nevertheless, SS masih menjadi sajian pure-entertainment yang begitu memuaskan indera penglihatan dan pendengaran. Ditambah performa-performa cast yang lebih dari cukup untuk menjadi remarkable atau bahkan signatural, banyak elemen yang bisa membekas dalam memori untuk jangka waktu yang cukup lama. I enjoyed it a lot, even over and over again. By the way, saya menonton SS dua kali dalam tempo enam jam dengan format Sphere X dan IMAX 3D. Tak ada sedikitpun part yang membosankan bagi saya. Justru lebih banyak detail yang berhasil saya tangkap, meski pada akhirnya masih ada pertanyaan-pertanyaan yang semoga saja terjawab di installment-installment berikutnya. Terakhir, jika Anda termasuk yang kapok dengan Batman v Superman: Dawn of Justice, SS masih lebih enjoyable dan memberikan sedikit harapan keberlangsungan DE Extended Universe ke depan. Setidaknya menurut saya. Jika Anda berpendapat sebaliknya, itu hak Anda. No further debate is necessary until the upcoming installments come and numbers matter more.

Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Makeup and Hairstyling - Alessandro Bertolazzi, Giorgio Gregorini, and Christopher Nelson


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates