5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Thursday, October 29, 2015

The Jose Flash Review
Cai Lan Gong

Jelangkung adalah sleeper hit indie tahun 2001 yang tak terduga sebelumnya. Film ‘kecil’ namun memberi efek besar terhadap film Indonesia saat itu langsung melambungkan hampir semua yang terlibat. Mulai Winky Wiryawan sebagai aktor, Rony Dozer, Harry Panca, Jose Purnomo, dan juga PH Rexinema. Berangkat dari latar belakang itu, Rexinema yang sudah cukup lama vacuum (terakhir Jakarta Undercover tahun 2007), mencoba untuk menggali lagi fenomena Jelangkung, setelah dua sekuel yang belum bisa mengulang kesuksesan versi orisinilnya. David Poernomo yang di Jelangkung bertindak sebagai penata suara dan musik, kali ini mengambil alih bangku sutradara sekaligus penulisan naskah yang dibantu Ilya Sigma dan timnya; Priesnanda Dwisatria dan Dewi Piay. David sendiri setelah Jelangkung sudah berpengalaman menggarap beberapa film seperti Pocong vs Kuntilanak, Kutukan Suster Ngesot, dan Glitch: Tersesat dalam Waktu.

Cai Lan Gong (CLG) mengeksplorasi legenda Jelangkung jauh ke belakang, yaitu di daratan Cina beratus-ratus tahun lalu. Seorang pria bernama Chen Jun secara ajaib mengalami apa yang dialami oleh Benjamin Button: tubuhnya semakin menyusut hingga akhirnya harus hidup dengan bantuan sebuah keranjang buah agar bisa bermigrasi dengan mudah. Sejak itu keranjang buah tersebut dipercaya punya kekuatan magis. Cerita beralih ke An Yi, seorang wanita yang tetap cantik dan muda di usianya yang sudah menginjak 60 tahun. Ia dituduh sebagai penyihir karena anugerahnya ini. Penduduk desa yang khawatir memutuskan untuk membakar An Yi. Seorang shifu bernama Xian Min memanfaatkan roh An Yi yang penasaran ke dalam keranjang buah Chen Jun. Secara turun temurun keranjang buah ber-roh itu dijaga oleh Xian Min hingga bermigrasi ke Indonesia.

Setting beralih lagi ke masa kini di mana keranjang roh itu dijaga oleh A Kung. Tepat tanggal 15 bulan 8 menurut penanggalan Cina, A Kung berniat mewariskan keranjang ini kepada cucunya, Aileen lewat sebuah ritual yang diklaim berbahaya. Untuk itu, A Kung dibantu oleh anak buahnya, Chandra. Aileen pun mengajak Mary dan Rama, teman yang baru dikenalnya karena tertarik dengan ritual-ritual Konghucu. Namun ritual tidak berjalan mulus karena tentu selalu saja ada yang berniat memperebutkan hak warisan keranjang buah ber-roh tersebut.

Jujur, CLG membuka film dengan tampilan yang begitu menarik. Lewat visualisasi lukisan Cina jaman dulu, cerita sejarahnya benar-benar terkesan menarik dan masuk akal. Nuansa etnis Tionghoa dan bahasa Mandarin menjadi sesuatu yang masih jarang di sinema kita. Namun ternyata rasa ketertarikan saya harus sampai di titik itu saja. Ketika memasuki babak masa kini, CLG berubah menjadi tak lebih dari sekedar film amatir buatan anak sekolahan. Saya tidak akan terlebih dulu membahas teknis yang menggaungkan ‘film layar lebar Indonesia pertama yang dishot dengan smartphone beresolusi 4K’. Mulai dari penulisan dialog dengan koherensi dan kontinuiti yang kacau balau serta ngaco sengaco-ngaconya, sampai visualisasi yang masih jauh dari kata sinematis. Kalau ada teman saya yang mengucapkan dialog-dialog seperti di sini, pasti sudah saya tampar. Agak aneh juga melihat hasilnya seperti ini, secara tim penulis naskahnya (terutama Ilya Sigma) punya reputasi yang termasuk baik (salah satu yang terbaik di bidangnya, malah).

Banyak shot detail adegan yang terkesan tidak penting, selain hanya akan menghambat pace cerita menjadi terkesan lebih dinamis. Belum lagi subtitle yang menjelaskan istilah-istilah bahasa Mandarin yang jujur saya, mengganggu dan tidak efektif. Ketika menikmati sebuah film, penonton hanya akan membaca subtitle sebagai terjemahan langsung dari dialog. Maka subtitle yang sekedar memberikan arti satu kata menjadi tidak efektif dan terkesan menganggap penonton bodoh. Padahal istilah-istilah bahasa Mandarin dalam film ini sudah disebut beberapa kali, tak perlu juga untuk memberikan subtitle penjelasan tiap kali kata itu disebutkan.

Secara horor, sebenarnya CLG masih tergolong lumayan. Masih bermain di jump scare yang menjadi favorit penonton Indonesia, tapi setidaknya masih ditempatkan dengan baik. Ada pula horor yang dibangun secara atmosferik, namun tidak tergali maksimal gara-gara timing dan sinematografi yang kurang pas. Ini juga terjadi pada adegan klimaks yang harus kehilangan energi thrill-nya gara-gara cukup banyak jeda beberapa detik di momen-momen gentingnya. Belum lagi ditambah logika cerita di part ini yang seolah-olah semakin kehabisan ide.

Dari jajaran cast yang rata-rata tergolong pendatang baru (kecuali, tentu saja Ronny P. Tjandra), sebenarnya tak buruk-buruk amat. Memang masih banyak awkward moment dan kekakuan di sana-sini, serta kharisma akting yang masing sangat lemah, namun masih bisa ditolerir. Misalnya Anthony Xie sebagai Chandra, Ineke Valentina sebagai Aileen, Rezca Syam sebagai Rama, dan Putri Ariani sebagai Mary. Sementara Ronny P. Tjandra sendiri terkesan begitu laid-back dalam membawakan peran A Kung. Bukan peran terbaiknya (saya masih akan menyebutkan 3Sum – Rawa Kucing sebagai peran terbaiknya so far), namun dari jajaran cast lainnya, Ronny jelas menunjukkan performa yang terbaik.

Saya tidak akan banyak protes dengan kualitas gambar yang dihasilkan dari smartphone beresolusi 4K. Meski menghasilkan gambar yang lebih ke smooth ketimbang sharp, warna-warni yang jauh dari kesan sinematik, dan fokus jadi kacau pada wide shot dan kondisi gelap, overall tidak jadi masalah yang begitu krusial bagi saya. Untuk shot-shot menggunakan drone ternyata bisa menghasilkan gambar yang cukup tajam meski ada beberapa bagian yang di-slowmo sehingga terkesan sedikit mengganggu. Tata suara terdengar sangat mantap dan memanfaatkan fasilitas surround dengan cukup maksimal, terutama dalam pembagian tiap kanal. Sayangnya, scoring masih banyak yang amburadul. Mulai sound yang pecah, sampai yang paling mengganggu adalah peletakan dan pemenggalan scoring yang ala-ala FTV. Terutama untuk scoring yang sifatnya ceria. Norak dan pemenggalannya tidak pas momen jika tak mau disebut kasar. Sebaliknya, scoring horror dan thrilling moment masih tergolong aman.


Dengan storytelling dan visualisasi yang seperti ini, CLG terasa seperti proyek yang mubazir. Padahal menurut saya, sebenarnya CLG punya konsep cerita (terutama part sejarah) yang sangat menarik dan berpotensi menjadi horor yang tak hanya menegangkan, tapi juga punya materi cerita yang bagus. Sayang sekali dengan eksekusi seperti ini, CLG harus jatuh menjadi just another cheap Indonesian horror, meski tanpa adegan esek-esek atau nudity.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Runner

Here comes another Nicolas Cage’s… Menyedihkan sebenarnya melihat karir Cage beberapa tahun terakhir ini yang seolah-olah hanya kejar setoran tanpa mempertimbangkan faktor prestisius suatu peran. Bermain di film-film kelas B atau malah direct-to-video macam The Frozen Ground, Tokarev, Outcast, Left Behind, dan Dying of the Light, padahal kita ingat betul betapa ia pernah bersinar terang, bahkan sampai masuk bursa Oscar lewat Leaving Las Vegas dan Adaptation. Tahun 2015 ini rupanya Cage masih enggan untuk memperbaiki karirnya dengan membintangi (lagi-lagi) film yang tergolong kelas B, The Runner dan Pay the Ghost. The Runner sendiri disutradarai dan ditulis naskahnya oleh seorang debutant untuk film panjang, Austin Stark.

Pasca kebocoran tambang minyak yang menjadi bencana nasional tahun 2010, seorang anggota konggres dari Louisiana, Colin Pryce, menyuarakan perjuangan agar warga negara bagiannya mendapatkan keadilan. Colin pun menjadi pahlawan dan kandidat anggota Senat terkuat. Seperti biasa, kesuksesannya dimanfaatkan oleh seorang businessman di bidang pengeboran minyak yang merasa punya kepentingan, Mark Lavin. Logikanya, perekonomian Amerika Serikat dan khususnya, Louisiana, membutuhkan minyak. Colin yang sangat idealis menolak mentah-mentah pinangan Mark. Hubungannya dengan sang istri, Deborah, pun semakin merenggang karena Deborah memilih untuk mendukung Colin menerima pinangan Mark. Tak lama kemudian, reputasi Colin runtuh setelah beredar video affair dengan istri salah satu nelayan yang diperjuangkannya, Lucy. Colin memutuskan untuk mengundurkan diri dan satu per satu hidupnya mulai hancur. Colin pun diuji untuk terus mempertahankan idealismenya atau berkompromi demi kebaikan bersama.

Dengan sinopsis demikian, The Runner sebenarnya berpotensi menjadi sebuah drama thriller politik yang gripping, atau setidaknya drama perkembangan diri yang menyentuh atau inspiratif. Namun sayangnya kapasitas Austin Stark (baik sebagai penulis naskah maupun sutradara) belum sampai ke situ. The Runner justru jatuh menjadi drama yang superflat, terlalu dalam terjerumus nuansa desperation berkepanjangan, hingga pada satu titik, penonton akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan karakter Colin sebagai tokoh sentral. Keputusannya karakter Colin untuk menjalin hubungan asmara dengan mantan direktur kampanyenya, Kate Haber, bukan mencoba memperbaiki hubungan dengan Deborah yang selalu mendukungnya bahkan di saat Colin sedang berada di bawah. Baik secara logika, moralitas, dan emosional, ini jelas bukan sikap yang bisa mengundang simpati penonton. Sebaliknya, penonton dibuat sebal dengan karakter Colin yang terlalu larut dalam kegagalannya, ditambah did a lot of dumb things instead. Maka ketika di bagian penghujung, ketika Mark harus mengkompromikan idealismenya dengan realitas (which is actually a good point), penonton tak merasakan apa-apa selain buru-buru beranjak dari kursi saking bosannya.

Nicolas Cage, Connie Nielsen, dan Peter Fonda, masing-masing sebenarnya diberi satu momen yang benar-benar menunjukkan akting yang powerful. Sayangnya, masing-masing momen itulah semua yang mereka punya di sini. Cage lagi-lagi harus menelan pil pahit memerankan karakter yang jauh dari simpati penonton. Sebaliknya, Connie Nielsen dan Peter Fonda dengan porsi yang tak terlalu banyak, justru lebih menarik perhatian dan mengundang simpati penonton. Sarah Paulson pun sebenarnya cukup menarik perhatian. Sayang karakternya tidak dikembangkan menjadi lebih menarik lagi.

Lebih parah lagi, tidak ada yang benar-benar menarik pula di teknis. Mulai sinematografi, desain produksi, hingga tata suara, semuanya sekedar biasa saja. Tidak ada yang benar-benar memanjakan panca indra.

I didn’t know how to describe The Runner other than ‘filled with desperation and things we didn’t care at all’. Stark benar-benar harus belajar banyak untuk mengembangkan potensi cerita menjadi sajian yang menarik untuk diikuti. And looking at this, I think it’s still far far away. Otherwise he does not have any talents in storytelling at all, and he just have to let it go.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 27, 2015

The Jose Flash Review
Shaandaar

Di sinema Hindi, nama Vikas Bahl menjadi salah satu sutradara yang dianggap punya kualitas di atas rata-rata. Dua karya sebelumnya, Chillar Party dan Queen mendapatkan pujian di mana-mana karena selain punya esensi cerita yang cerdas, juga punya presentasi yang menghibur. Masih di bawah Phantom Films miliknya, tahun 2015 ini Bahl kembali bekerja sama dengan penulis naskah Chaitally Parmar dan Anvita Dutt memproduksi sebuah film berjudul Shaandaar yang kalau dalam Bahasa Inggris punya makna fabulous atau grand. Kali ini Bahl menggandeng Dharma Productions-nya Karan Johar yang sering mencetak film-film hits.

Alia adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga kaya. Sang nenek dan ibu tiri sangat membenci Alia, sementara yang paling menyayanginya adalah sang ayah, Vipin, dan adik tirinya, Isha. Supaya bahagia dan bisa mengobati Alia yang insomnia, Vipin selalu memberikan kertas mimpi kepada Alia tiap malam. Ketika dewasa, Alia tumbuh menjadi gadis muda yang luar biasa mempesona, sementara Isha ‘sedikit’ chubby. Demi bisnis dan membayar hutang-hutang keluarga, Isha dinikahkan dengan Robin, putra konglomerat yang suka merendahkan wanita dan hanya mementingkan bentuk tubuhnya. Berangkatlah mereka semua ke sebuah kastil mewah di Inggris untuk mempersiapkan pesta pernikahan besar-besaran. Siapa sangka sang wedding organizer adalah seorang pria muda tampan yang juga insomnia, Jagjinder Joginder alias JJ. Segeralah Alia dan JJ sama-sama jatuh cinta. Vipin yang protektif terus mencoba untuk menghalang-halangi hubungan mereka. Namun ternyata ada satu konflik yang sudah berjalan antar generasi yang mengancam kebahagiaan Isha. Maka keputusan Vipin, Alia, dan keluarganya untuk membuat keputusan baru atas keluarga mereka.

Dari berbagai materi promo, jelas bahwa komoditas utama Shaandaar adalah sebuah komedi romantis antara JJ dan Alia. Oh yes, memang ada cukup banyak adegan yang memvisualisasikan hubungan asmara mereka. Entah disengaja atau tidak, rupanya porsi hubungan asmara ini tidak dikembangkan sedemikian rupa. Hubungan asmara JJ-Alia dibuat semanis mungkin, tanpa hambatan yang berarti, selain Vipin yang terus-menerus bersiasat untuk memisahkan mereka. Tapi apapun yang dilakukan Vipin ini terasa sekedar sebagai pemancing tawa, bukan sesuatu yang serius. Untung saja ada satu adegan yang “mempersatukan” Alia-JJ-Vipin dan cameo yang menarik dari Karan Johar himself. I love this heartwarming scene!

Porsi asmara JJ-Alia harus mengalah dengan aspek-aspek yang lebih esensial pada kisah Shaandaar. Dari sini, akhirnya saya teringat film-film Vikas sebelumnya yang memang kental dengan kritik sosial. Jika Queen membidik feminisme dalam budaya India, maka Shandaar berbicara tentang battle of sexes (digambarkan dengan begitu menghibur sekaligus ironis lewat lagu Senti Wali Mental di salah satu adegan) dan above all, kebahagiaan yang sebenarnya atau kebutuhan realitas yang mau tidak mau mengarah pada materi. Sebuah bentuk kritik sosial yang mungkin terdengar klise namun disadari atau tidak, masih sering terjadi. Meski harus berbenturan dengan mish-mash kisah asmara JJ-Alia, aspek cerita ini nyatanya mampu disampaikan dengan sangat menghibur lewat chaotic comedy namun tanpa kehilangan hati.

Sayangnya (lagi), chaotic comedy yang memang cukup banyak yang menggelitik, namun secara keseluruhan terasa overdone. Paling fatal, chaotic comedy yang berlebihan ini diletakkan pada bagian klimaks, yang mana justru menutupi heart-factor yang sudah terlanjur terbentuk sebelumnya. Sayang sekali.

Di balik porsinya yang harus berbagi dengan kisah Isha, Shahid Kapoor sebagai JJ dan Alia Bhatt sebagai Alia tetap saja mendominasi layar sebagai pasangan yang begitu manis dan seperti punya chemistry yang sangat alami. Love Shahid and Alia’s spontaneity here. Manis dan loveable. I’ve already fallen for Alia Bhatt since her appearance in Student of the Year.

Pankaj Kapur yang selama ini kita kenal sebagai Inspector P.K. juga bermain dengan penuh kharisma dan mengundang simpati penonton lewat karakter Vipin, sang ayah. Ketika memainkan part comedic-nya pun, Kapur bisa juga memancing tawa tanpa terkesan dibuat-buat. Sanah Kappor sebagai Isha turut mengundang simpati penonton, terutama di bagian klimaks. Terakhir, sang nenek yang diperankan Sushma Seth jelas menjadi pencuri perhatian penonton berkat karakternya yang menyebalkan namun menjadi sumber comedic yang sangat menghibur.

Kekuatan teknis utama dari Shaandaar tentu saja desain produksinya yang tergambarkan lewat judulnya; megah dan cantik. Naskah pun memanfaatkan setting  Kozlówka Palace, Polandia dengan berbagai pesta bertema yang masing-masing ditata sama luar biasanya. Favorit saya ketika adegan Gulaabo dan Black-White party (Nazdeekiyaan). I guess any wedding or party organizers should see this as  wonderful references. Pilihan lagu-lagunya cukup menarik, apalagi lirik-liriknya yang berkaitan dengan cerita. Tak sampai terus-terusan terngiang di telinga, tapi mengikuti lirik dan visualnya, sudah menjadi pengalaman yang serba enjoyable.

Shaandaar mungkin bukan menjadi karya Vikas Bahl yang paling kuat, namun upayanya untuk menyampaikan kritik sosial dengan sajian humor-humor menggelitik, romansa manis, music performance yang sangat menghibur dan megah, serta hati untuk beberapa kali menyentuh penonton, Shaandaar masih jadi salah satu film Hindi yang cukup impressive tahun ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Last Witch Hunter

Jika tema penyihir sudah cukup sering diangkat di layar lebar, termasuk yang paling populer, Harry Potter, maka peran witch hunter atau pemburu penyihir baru populer beberapa dekade terakhir ini sebagai modifikasi dari peran pemburu vampire yang sudah lebih lama ada, seperti Van Helsing dan Buffy the Vampire Slayer. Tahun 2013 lalu dongeng klasik Hansel & Gretel ‘dipelintir’ sedemikian rupa menjadi Hansel & Gretel: Witch Hunters dan tahun 2014 lalu ada pula Seventh Son. Sayangnya tak banyak penonton menyukai ide ini, selain karena memang hanya sekedar modifikasi dari template pemburu vampire. Jatuhnya malah menjadi film action adventure bercita rasa kelas B. Apalagi dengan desain produksi yang cenderung itu-itu saja. The Last Witch Hunter (TLWH) adalah upaya terbaru untuk memberikan nafas lebih kepada genre witch hunter. Meski ditulis oleh tiga orang penulis yang berpengalaman menulis naskah bertema tema serupa namun hasilnya tergolong mediocre; Cory Goodman (Priest), Matt Sazama dan Burk Sharpless (Dracula Untold), TLWH mencoba peruntungan dengan menggandeng Vin Diesel dan sutradara Breck Eisner (Sahara dan The Crazies yang tergolong menarik). Sayang sutradara bervisi unik, Timur Bekmambetov (Night Watch, Wanted, Abraham Lincoln: Vampire Hunter) batal menyutradarai. Padahal bisa dibayangkan betapa kerennya TLWH could have been di tangan dinginnya. But it’s okay, let’s give Eisner a shot.

Kaulder adalah salah seorang pemburu penyihir yang dikutuk hidup abadi oleh Sang Ratu Penyihir ketika hendak memusnahkannya. Dengan bantuan perkumpulan Gereja bernama Kapak dan Salib, Kaulder punya kaki tangan setia dari generasi ke generasi bernama Dolan. Di dunia modern keadaan sudah berubah. Para penyihir punya dewan sendiri yang mengatur kehidupan para penyihir sehingga bisa hidup berdampingan dengan manusia biasa. Ancaman muncul pasca upacara serah jabatan Dolan ke-36 kepada Dolan ke-37. Dolan ke-36 ditemukan tewas. Dari penyelidikan Kaulder, kematiannya tidak alami. Benar saja, dalang di balik pembunuhan itu adalah seorang penyihir bernama Ellic. Ditangkapnya Ellic ternyata merupakan awal dari rencana besar yang mengancam keberadaan umat manusia.

Dengan template dari film bertema serupa, TLWH memang tak menawarkan sesuatu yang baru. Begitu pula dengan elemen-elemen berkaitan dengan penyihir yang mungkin masih bisa menarik bagi beberapa penonton. Namun untungnya Breck Eisner mampu menerjemahkan naskah Goodman-Sazama-Sharpless yang biasa-biasa saja menjadi sebuah tontonan yang masih enjoyable. Terutama berkat pace yang tergolong efektif dan fantasi penonton tentang apa yang mungkin bisa terjadi selanjutnya, yang bisa membuat penonton terus tertarik untuk mengikuti alurnya. Meski rasa penasaran cukup terasa kuat di 1st act namun menurun di act-act berikutnya, setidaknya TLWH menawarkan visual yang menghibur dan jauh dari kesan kelas B.

Sayangnya yang cukup mengganggu dari alur cerita TLWH adalah cukup seringnya terjadi elemen-elemen cerita yang tiba-tiba terselip di sana-sini tanpa setup yang cukup kuat. Alhasil, alih-alih narasi cerita terkesan rapi, saya seringkali secara spontan berujar, “lah, kok jadi gini sih? Kok gitu sih?”. Contoh yang paling mudah dirasakan adalah ketika Kaulder bertarung di klimaks, tiba-tiba di-cut ke adegan serangan serangga. Saya jadi bertanya-tanya apakah itu pertanda baik atau buruk. Baru kemudia disambung lagi ke adegan pertarungan Kaulder. Atau ketika klimaksnya, bukannya Kaulder mengalahkan musuh utama dengan senjata andalan, justru menggunakan sesuatu yang tak terduga di awal film. Penonton butuh waktu sekian detik untuk mengingat-ingat sebelum memahami benda apa yang digunakan Kaulder itu. Meski pada akhirnya penonton dibuat paham juga korelasinya, namun tetap saja ada momen di mana seringkali terjadi lompatan-lompatan adegan yang terasa tidak rapi dan tidak runtut. Other than that, TLWH was still quite entertaining.

Sebenarnya Vin Diesel tampil kharismatik di sini. Tapi saya tidak bisa bohong, ada beberapa momen yang membuat saya tertawa padahal adegannya cukup serius. Misalnya tiap kali Kaulder dari era 800 tahun lalu atau ketika Kaulder memeluk Chloe. It just looked awkward. Sorry, maybe because of Diesel’s tough image all this time that just didn’t fit with such scenes. Elijah Wood pada act pertama cukup banyak diberi porsi, lantas harus puas dengan porsi terpinggirkan di act-act berikutnya, hingga sebuah twist yang meruntuhkan penokohannya menjadi berkeping-keping. Sayang penulisan karakternya yang tidak konsisten harus membuatnya kehilangan simpati penonton. Rose Leslie boleh sedikit lebih berbangga karena karakternya diberi porsi lebih. Meski tak sampai memorable, namun karakter Chloe yang diperankannya cukup kuat di benak penonton setidaknya sampai film berakhir. Sementara aktor pendukung yang karakternya terasa paling kuat dan memorable, meski porsinya lebih banyak di awal dan akhir, tentu saja Michael Caine.

Meski tak ada yang terlalu istimewa dari desain produksinya, namun beberapa desain harus diakui terlihat indah. Misalnya bar Chloe dan ruang dewan penyihir. Tak ketinggalan CGI yang ternyata sangat memuaskan, memanjakan mata, dan jauh dari kesan murahan. Sinematografi Dean Semler cukup baik meng-capture kesemuanya, meski ada satu-dua shot close up sekian detik untuk adegan pertarungan yang terlalu dekat sehingga terlihat tidak begitu jelas. Sebaliknya, tata suara berperan maksimal dalam mendukung semua elemen ceritanya. Crisp dan full of detail. Termasuk juga fasilitas 7.1 surround yang dimanfaatkan dengan sangat maksimal di tiap kanalnya. Scoring Steve Jablonsky cukup mendukung nuansa adventure, walau tak sampai jadi memorable. Tak ketinggalan, Ciara yang menyumbangkan recycle hit milik The Rolling Stones, Paint It, Black, yang sangat sesuai dengan filmnya.

Dengan elemen-elemen yang familiar dan tak ada yang benar-benar baru dari sub-genre sejenis, TLWH ternyata mampu menjadi sajian yang setidaknya menghibur. Sedikit di atas rata-rata tipikal film sejenis and overall, still quite enjoyable. Open ending membuatnya memungkinkan untuk menjadi sebuah franchise baru. Namun tentu saja kita harus melihat hasil box office dari film berbudget US$ 90 juta ini nanti untuk memastikannya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bridge of Spies

Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet sering diangkat ke cerita layar lebar, baik yang memang berasal dari kejadian nyata maupun materi fiktif. Beberapa judul populer beberapa tahun belakangan ini antara lain Tinker Tailor Soldier Spy (2011) dan bahkan yang terbaru, The Man from U.N.C.L.E. Maraknya kemunculan mata-mata dari kedua pihak membuatnya jadi menarik sebagai latar belakang cerita. Tahun ini Steven Spielberg tertarik untuk mengangkat kisah salah satu karakter penting yang berperan besar dalam Perang Dingin, James B. Donovan, ke layar lebar. Tak main-main, Spielberg menggandeng Ethan & Joel Coen yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya sebagai penulis naskah (sekaligus sutradara), mendampingi Matt Charman. Spielberg pun turun tangan langsung di bangku sutradara. Tom Hanks lagi-lagi didapuk mengisi peran utama, menandai kerjasama Hanks-Spielberg keempat setelah Saving Private Ryan, Catch Me If You Can, dan The Terminal.

Seorang pelukis tua yang tinggal sendirian di Amerika Serikat bernama Rudolph Abel ditangkap oleh FBI dengan tuduhan mata-mata Uni Soviet. Berniat menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat tetap memberikan hak penuh bahkan kepada narapidana asing, ditunjuklah James Donovan sebagai pengacara. Donovan sendiri sebenarnya pengacara asuransi yang belum pernah menangani kasus semacam ini. Ia tahu bakal kalah dan kehadirannya hanya untuk formalitas, namun Donovan menemukan sisi lain dari kasus ini yang mungkin bisa menguntungkan bagi negaranya di kemudian hari. Benar saja, ramalannya tepat dan Donovan akhirnya ditunjuk untuk melakukan negosiasi dengan pihak Rusia. Hanya saja, Donovan maju sebagai warga sipil biasa, bukan mewakili pemerintahan Amerika Serikat yang enggan mengakui dirinya.

Baik Spielberg maupun Coen Brothers sama-sama berpengalaman dalam mengemas cerita yang berasal dari kejadian nyata. Coen Brothers dengan Unbroken, sementara Spielberg dengan Schindler’s List, Amistad, Saving Private Ryan, Catch Me if You Can,  dan Munich. Jadi sebenarnya Bridge of Spies (BoS) adalah proyek jaminan mutu. Benar saja, BoS memang menjelma menjadi sebuah drama politik yang begitu mengalir. Meski mengangkat tema yang serius dan terkesan berat, Coen Brothers-Charman-Spielberg mampu menyajikannya menjadi sangat mudah dipahami sekaligus seru untuk diikuti, bahkan untuk penonton yang asing dengan Perang Dingin. Memang tak ada adegan aksi yang ditampilkan, namun hampir semua adegan dialog memiliki kekuatan yang luar biasa, terutama sifatnya yang witty sehingga menjadikan alurnya selalu asyik untuk diikuti.

Meski berpotensi menjadi sebuah drama investigasi yang mungkin juga bisa jadi menarik, namun BoS memilih untuk lebih fokus pada karakter Donovan, mulai bagaimana perasaannya terhadap kasus Rudolph Abel, ide-ide untuk membawa kasus ini ke depannya, sepak terjangnya beradu wibawa dengan pihak Rusia lewat perundingan, hingga kesannya terhadap pihak pemerintah kedua belah pihak pasca kasus selesai yang menjadi highlight utama BoS. In the end, keputusan ini punya impact yang luar biasa bagi saya, ketimbang misalnya menjadikannya hanya sekedar drama investigasi. Apalagi kita tahu bersama kasus Rudolph Abel mustahil dimenangkan karena bukti-bukti yang sudah jelas. Dengan bentuk seperti ini, saya jadi mempertanyakan kepedulian negara terhadap warga negaranya di kala kita sebagai warga negara sudah mati-matian mengabdi kepada negara. Atau bagaimana kita selalu dengan mudah menilai sebuah kasus politis dari luarnya saja. Padahal mungkin ada sisi-sisi politis lain yang lebih bermanfaat ketimbang mengikuti emosional semata yang seringkali justru sifatnya delusional, tidak berimbas secara langsung dengan kehidupan kita. In other words, because of BoS, I now learn to see things differently than it looked from the outside.

‘Keajaiban’ lainnya yang ditampilkan BoS adalah relasi antara Donovan dan Abel yang dari luar terkesan biasa saja. Tak banyak adegan yang menunjukkan keduanya jadi saling mengenal lebih dalam. Namun berkat sedikit bercerita, kita bisa dengan mudah merasakan kedekatan antara keduanya, hingga pada ending kita bisa merasakan emosional yang begitu mendalam dari keduanya, hanya lewat beberapa baris dialog yang begitu kuat. Seketika kita seolah sudah begitu mengenal Donovan, dan lebih lagi, Abel. Sungguh sebuah metode storytelling yang luar biasa efektif namun punya impact emosional yang begitu kuat.

Mungkin Donovan bukan performa terbaik Tom Hanks dari daftar filmografinya yang begitu impresif selama ini, namun ia jelas memberikan performa terbaik dalam memerankan karakter James B. Donovan. Di tengah pergulatan batin dan keragu-raguannya, kharismanya tetap terasa begitu kuat sebagai karakter utama. Pada porsi berikutnya, jelas penonton dengan mudah bersimpati terhadap karakter Rudolf Abel yang dimainkan dengan sangat heartful oleh Mark Rylance. Amy Ryan sebagai Mary, istri James Donovan pun mampu mengimbangi kharisma Tom Hanks sesuai dengan porsinya.

Di jajaran pemain pendukung muda, Austin Stowell sebagai Francis Gary Powers, Will Rogers sebagai Frederic Pryor, dan Billy Magnussen (yang tahun lalu kita lihat sebagai Pangeran Rapunzel di Into the Woods) mampu mencuri perhatian berkat kharisma yang cukup kuat sesuai porsinya, selain faktor fisik yang memang menjanjikan aura bintang. Eve Hewson yang merupakan putri dari Bono ‘U2’ dan Noah Schnapp sebagai putra-putri James Donovan juga memberikan performa yang tak kalah mencuri perhatian.

Seperti layaknya proyek Spielberg lainnya, BoS juga tak mau kompromi di teknis. Janusz Kaminski masih didapuk menjadi DoP yang menambah daftar panjang kerjasama keduanya sejak Schindler’s List. Hasilnya, tak hanya adegan-adegan yang begitu efektif dalam bercerita, namun juga mencetak begitu banyak perfect shot, termasuk yang tak hanya berupa still shot, namun juga yang melibatkan pergerakan kamera. Luar biasa indah. Favorit saya dan saya yakin menjadi favorit kebanyakan penonton, tentu saja adegan pertukaran di Glienicke Bridge yang bersejarah dan menjadi klimaks di sini.

Scoring dari Thomas Newman juga menjadi aspek terkuat BoS yang mampu menghantarkan emosi terdalamnya kepada penonton. Ini menandai babak baru kerjasama Spielberg-Newman setelah biasanya berlangganan dengan komposer John Williams yang seolah sudah blending menjadi satu jiwa lewat karya, konon karena faktor kesehatan. Namun tak perlu khawatir, karena Thomas Newman pun sudah terbiasa memberikan nyawa yang luar biasa hidup, emosional, dan tentu saja, megah, ke berbagai judul-judul film high profile.


Seperti karya-karya Coen Brothers dan Spielberg lainnya, BoS menawarkan sebuah biografi yang mungkin belum banyak dilirik dan bahkan hanya menjadi footnote dalam sejarah, dengan storytelling yang mudah dipahami dan melalui sudut pandang yang begitu kuat serta relevan hingga saat ini. Tak ketinggalan faktor heart yang begitu besar hingga membuat penonton begitu hormat dan salut terhadap karakter Donovan dan juga bersimpati kepada Rudolf Abel. Truly, another beautiful piece from Spielberg, and of course, Coen Brothers.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards Nominees for:


  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Mark Rylance
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - Matt Charman, Ethan Coen, and Joel Coen 
  • Best Achievement in Production Design - Adam Stockhausen, Rena DeAngelo, Bernhard Henrich
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Thomas Newman
  • Best Achievement in Sound Mixing - Andy Nelson, Gary Rydstrom, Drew Kunin 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, October 21, 2015

The Jose Flash Review
Knock Knock

Nama Eli Roth mulai diperhitungkan ketika horor indie-nya, Cabin Fever dianggap sebagai film horor paling profitable di tahun 2002. Bagaimana tidak, dengan budget ‘hanya’ US$ 1.5 juta, Cabin Fever berhasil mencetak box office sebesar US$ 22 juta. Bakatnya kontak dilirik sutradara-sutradara besar lainnya, seperti Quentin Tarantino dan Peter Jackson. Bahkan Quentin setuju untuk menjadi eksekutif produser karya berikutnya yang juga tak kalah fenomenalnya, Hostel. Bahkan Eli digandeng Quentin untuk muncul di Inglourious Basterds sebagai Sgt. Donny Donnowitz. Reputasinya sebagai sutradara spesialis ‘cult horor’ terus dipertahankan hingga di tahun 2015 ini ia menelurkan 2 karyanya, Knock Knock dan Green Inferno. Keduanya masih dengan relatively low budget. Namun Knock Knock (KK) yang bertema home invasion macam The Strangers atau Funny Games, jelas memanfaatkan ruang sempit dan otomatis menghemat budget. Diadaptasi dari film berjudul Death Game tahun 1977, daya tarik utama KK jelas terletak pada genre thriller dengan sedikit bumbu erotic.

Evan Webber adalah seorang suami yang begitu dicintai dan mencintai keluarganya. Tepat saat Father’s Day, istrinya, Karen, dan kedua anaknya memutuskan untuk pergi berlibur. Karena harus menyelesaikan proyek yang sedang dikerjakannya, Evan memutuskan untuk tidak ikut dan sendirian di rumah. Tak lama kemudian muncul dua wanita muda, Genesis dan Bel, yang mengaku tersesat dan kehujanan, meminta bantuan. Tanpa curiga macam-macam, Evan membuat Genesis dan Bel merasa senyaman di rumah. Mulai mengeringkan pakaian mereka sampai meng-order-kan ubertaxi untuk mereka. Sembari menanti, mereka bertiga mulai saling mengenal. Siapa sangka ternyata Genesis dan Bel punya rencana yang keji untuk Evan.

Sebelum the main show dimulai, KK menawarkan perkenalan yang lebih dari cukup untuk membuat penonton bersimpati pada karakter Evan. Ketika masuk ke menu utamanya, barulah kita dibawa ke thriller kucing-kucingan yang membuat penonton khawatir apa yang akan dilakukan Genesis dan Bel kepada Evan. Tentu saja keberhasilan ini didukung oleh penampilan Genesis dan Bel yang memang menggoda sekaligus mengerikan. Namun alih-alih menjadi thriller yang super gripping lewat adegan hide-and-seek, Roth justru lebih memperkuat sisi komikalnya. Alhasil, yang lebih terasa adalah creepily funny. Not bad, tapi sebagai penggemar gripping thriller ala Roth, ini bisa jadi sebuah let down. Faktor minimnya darah (dan mungkin juga nudity?) yang sudah menjadi signatural Roth semakin membuat penggemar Roth kecewa.

Genesis dan Bel sendiri dikembangkan dengan porsi yang serba pas, mulai perkenalan, main action yang bikin geleng-geleng, hingga ending yang revealing serta membuat penonton memahami konsep besar ceritanya (dan geleng-geleng lagi).

Sebagai tokoh sentral, Keanu Reeves sebenarnya cukup mampu mengundang simpati penonton. Meski harus diakui, penampilannya di sini masih jauh dari kata kuat dan berkharisma. Apalagi jika Anda membayangkan Keanu dengan peran-peran jagoan tough sebelumnya, macam The Matrix dan John Wick. Lorenza Izzo yang adalah istri Eli Roth sendiri mampu menjadi pencuri perhatian dengan fisiknya yang exotically sensual dan permainan watak psychotic yang cukup kuat. Ana de Armas sebagai Bel pun masih bisa mengimbangi Izzo meski pada porsi yang sedikit di bawahnya.

Memanfaatkan ruang sempit dan interior rumah yang itu-itu saja, KK bisa dikatakan cukup berhasil mengeksplorasinya sehingga tak terkesan monoton sekaligus memberikan penonton atmosfer yang pas, lewat sinematografi Antonio Quercia yang juga bekerja sama dengan Roth di Green Inferno. Tak istimewa maupun remarkable, tapi setidaknya cukup berhasil. Editing Diego Macho Gómez juga terasa memberikan pace yang pas untuk performa thriller-nya. Sementara yang menjadi aspek favorit saya adalah score Manuel Riveiro dan pemilihan soundtrack yang mewarnai atmosfer erotic thriller-nya dengan bumbu techno, selaras dengan karakter Evan yang digambarkan juga seorang DJ.

Bagi penggemar Eli Roth, KK mungkin bisa jadi sebuah let down. Dengan konsep besar cerita yang sebenarnya tergolong menarik, KK bisa sebenarnya bisa jadi karya yang jauh lebih menarik jika aspek thriller dan sedikit bumbu bloody gore turut diperkuat. Namun setidaknya Roth masih menyisakan sisi komikal dan creepy funny feel yang juga sering dihadirkan Roth di film-filmnya, dan hasil akhirnya cukup enjoyable, meski mungkin dengan bergumam, “ah kok cuma begitu saja sih?”. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 20, 2015

The Jose Flash Review
American Ultra

Meski menjadi kontroversi dan bahkan dilarang di banyak negara, marijuana sering menjadi ‘elemen’ yang menarik sebagai bahan cerita film. Bahkan ada beberapa judul yang memvisualisasikan petualangan dari sudut pandang karakter yang sedang stoned (teler), seperti Pineapple Express, Harold & Kumar, dan favorit saya, This is the End. Jangan salah, stoned state yang bisa membuat fantasi melayang-layang setinggi-tingginya justru menghasilkan adegan-adegan fantastis dan hilarious. Sutradara asal Iran, Nima Nourizadeh yang pernah dikenal gara-gara mockumentary fenomenalnya, Project X, mengangkat tema ‘stoner’ lewat American Ultra (AU) dengan memasangkan Kristen Stewart dengan Jesse Eisenberg. Naskahnya ditulis oleh Max Landis yang pernah membantu Josh Trank di Chronicle, AU menjanjikan tontonan yang menghibur.

Meski hidup tak jelas, Mike Howell merasakan hidupnya sudah lengkap dengan kehadiran sang kekasih, Phoebe Larson. Bahkan ia mengakui tidak ingat sekali kehidupannya sebelum bersama Phoebe. Meski Mike terkesan seorang loser dan sering melakukan hal-hal bodoh, plus seorang pecandu marijuana, Phoebe tidak pernah sedikitpun kecewa atau komplain. Kehidupan Mike berubah ketika muncul seorang wanita yang meracau ketika ia menjaga sebuah supermarket suatu malam. Tak lama setelah itu, Mike diserang oleh dua orang yang berniat merampok mobilnya. Ajaibnya, Mike mampu menghabisi mereka berdua dengan keahlian bela dirinya. Padahal Mike tidak ingat pernah belajar beladiri. Namun semenjak kejadian itu, Mike seperti diburu oleh banyak pihak. Maka Mike dan Phoebe melarikan diri sekaligus mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Premise ini mungkin terdengar menarik, namun sebenarnya cukup familiar. Tak salah jika ada yang mengatakan AU sebagai ‘stoner Bourne’ yang jelas merujuk pada Jason Bourne. Sejak awal kita diperkenalkan oleh pasangan Mike-Phoebe dan gaya hubungan mereka, saya teringat pasangan ala Bonny & Clyde atau Natural Born Killers. Cerita menjadi lebih menarik ketika Mike mulai menunjukkan skill beladirinya lewat adegan gory yang kickass. Barulah kita diperkenalkan cerita di balik Mike yang sebenarnya cukup bisa diterka oleh penonton yang akrab dengan tema serupa.

Sayangnya naskah (dan juga penyutradaraan) AU ternyata tak lebih dari sekedar proyek just for fun. Tak ada yang lebih menarik ketimbang momen-momen Mike meladeni musuh-musuhnya. Sedikit seru, menegangkan, terkadang hilarious, dan yang paling memuaskan, quite gory and bloody. Namun tetap saja, kesemuanya masih tergolong serba tanggung, termasuk ketika mencapai klimaksnya.  Intrik di dalam tubuh CIA yang melatari petualangan Mike hanya sekedar dijadikan penjelasan, padahal sebenarnya bisa dikembangkan menjadi lebih bold dan menarik lagi. Perkembangan cerita hubungan antara Mike dan Phoebe juga terkesan agak dikesampingkan di paruh terakhir cerita karena porsi petualangan Mike yang dibuat mendominasi. Alhasil penonton gagal menaruh simpati lebih pada hubungan antara Mike dan Phoebe sekuat, sebut saja, Mickey dan Mallory dari Natural Born Killers atau Clarence dan Alabama dari True Romance.

Tak ada yang istimewa dari penampilan Jesse Eisenberg, secara dia sendiri cukup sering memerankan karakter tipikal Mike. Misalnya James Brennan di Adventureland atau di 30 Minutes or Less. Namun kepiawaiannya ketika menghabisi musuh-musuhnya tergolong impresif dan memang layak menjadi wow-factor. Kristen Stewart did good tapi tetap tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk menjadikan AU lebih menarik. Topher Grace, Connie Britton, dan Bill Pullman, memainkan karakter yang seimbang porsinya. Padahal Topher dipasang sebagai main villain. Yang paling menarik perhatian justru John Leguizamo sebagai Rose.

Di teknis tak ada yang terlalu istimewa pula. Mulai sinematografi, tata suara, sampai pemilihan soundtrack untuk mengiringi, sekedar tergolong pas dalam mendukung nuansa ‘stoned’. Satu yang patut saya paling apresiasi adalah animated end title yang keren.


Punya premise yang sebenarnya menarik jika digali lebih dalam dengan budget yang mungkin lebih besar, sayangnya AU hanya menjadi proyek just for fun dengan penggarapan yang serba tanggung, termasuk dalam visualisasi violence sebagai modal jualan utamanya. But hell yeah, boleh lah dijadikan tontonan ringan buat yang memang suka adegan aksi tangan kosong yang gory atau penikmat black comedy.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Crimson Peak

Karya-karya sineas Guillermo del Toro sering dituding style over substance. Ini wajar, melihat film-film yang ditulis dan disutradarai (bahkan juga termasuk yang ia produseri), jelas del Toro punya signatural visual yang cukup kuat. Tak hanya itu, del Toro juga dikenal sebagai salah satu sineas visioner yang ‘peduli’ untuk bercerita melalui karya-karyanya. Tak heran jika film-filmnya yang kebanyakan memang adalah produk horor, sering menjadi semacam cult meski secara komersial tak selalu menggembirakan. Bukan berarti del Toro menghindari film komersial. Buktinya dia juga menggarap duologi Hellboy, Blade II, dan yang paling ambisius, Pacific Rim. Kembali ke jalurnya di horor dengan signatural khasnya setelah Cronos, Mimic, The Devil’s Backbone, dan Pan’s Labyrinth, del Toro menggarap Crimson Peak (CP). Menggandeng Matthew Robbins yang pernah bekerja sama dengannya lewat Mimic dan Don’t be Afraid of the Dark, CP mencampur adukkan genre horor dengan drama romance berbumbu intrik manipulatif.

Kemunculan Thomas Sharpe di Amerika Serikat yang misterius membuat industrialis, Carter Cushing, menolak proposal investasi pembuatan mesin penambang ultisol (semacam lumpur merah) yang menenggelamkan kastil milik keluarganya di Allerdale Hall, Inggris. Siapa sangka Thomas jatuh cinta pada putri Carter, Edith dan berbalas pula. Mendapati latar belakang keluarga Sharpe, Carter semakin menghindarkan Thomas dan Edith dengan mengancam agar Thomas dan kakak perempuannya, Lucille, kembali pulang ke negaranya. Merasa terancam, Thomas dan Lucille memutuskan pulang ke Allerdale Hall. Di saat yang nyaris bersamaan, Carter ditemukan tewas di kamar mandi dengan kondisi yang mengenaskan. Tak punya pilihan lain, Edith memutuskan untuk menikahi Thomas dan pindah ke Allerdale Hall. Horor pun dimulai ketika Edith menemukan semakin banyak rahasia mengerikan terjadi di kastil yang dijuluki Crimson Peak itu.

Percampuran genre horor dan romance drama membuat CP terasa sedikit berbeda, terutama bagi penggemar pure horror. Alih-alih intens menghadirkan nuansa creepy atau jumpscare, del Toro tetap konsisten dengan kepeduliannya untuk bercerita. Maka jangan kaget jika CP menggunakan 45 menit pertamanya untuk membangun cerita yang melatari kepindahan Edith ke kastil Crimson Peak. Namun tetap saja ada satu-dua elemen horor yang diselipkan di paruh ini, sekedar untuk membuat penonton penasaran.

Ketika masuk ke paruh berikutnya, cerita berjalan semakin jelas untuk sedikit demi sedikit membuka rahasia cerita, seiring dengan “penampakan” yang semakin intens terjadi. Bagi penonton yang sering menonton film dengan tema serupa, agaknya tidak akan kesulitan untuk sekedar menebak rahasia film ini. Namun tetap saja CP membuat saya, setidaknya, menantikan konfirmasi dari dugaan-dugaan saya sendiri di klimaksnya. In short, CP berhasil membuat faktor misteri tetap menarik untuk disimak perkembangannya. Hingga ketika semua sudah terkuak dan saya berpikir tidak ada lagi yang menarik, CP men-treat penonton dengan bloody final showdown yang seru dan menegangkan.

Namun bukan berarti CP tanpa celah. Bukan, bukan faktor alur ceritanya yang seperti menggabungkan berbagai elemen dari Bram Stoker’s Dracula, Cruel Intentions, dan Jane Eyre, tapi penggunaan karakter untuk menggerakkan cerita. Penonton diletakkan pada sudut pandang Edith untuk menguak misterinya. Sayangnya, karakter Edith sendiri tidak dibuat lebih menarik ketimbang, let’s say, Thomas dan Lucille Sharpe. Karakter Edith yang kelewat naif membuat penonton sulit untuk benar-benar bersimpati kepadanya. Sebaliknya, Thomas dan lebih lagi, Lucille, menampilkan performa yang begitu kuat untuk mencuri perhatian penonton. Sayangnya, Lucille tak diberi porsi yang lebih banyak untuk mendominasi cerita dan membuat feel keseluruhan film terasa lebih menarik. Meski screen presence-nya di sini sebenarnya sudah cukup untuk mencuri perhatian penonton. Konklusi yang disampaikan lewat epilog Edith di ending pun di telinga saya terdengar ‘ngaco’. I mean, after all what happened on screen, that’s your conclusion? Sorry to say, but it’s really laughable, even more it’s coming out from del Toro’s movie. Untung saja visualisasinya ketika epilog itu masih bisa menyelamatkan ending CP dari kekonyolan.

Mia Wasikowska tampak begitu cocok memerankan karakter Edith yang naif, namun masih punya cukup daya untuk menemukan kebenaran. Karakternya agak tipikal, terutama dengan karakter yang ia mainkan di Jane Eyre atau Stoker. Tak buruk, namun juga jelas bukan presentasti terbaiknya. Bukan kesalahannya, tapi lebih ke penulisan karakter yang tak membuatnya jadi lebih menarik. Sebaliknya, Jessica Chastain justru menunjukkan salah satu performa terbaiknya sebagai Lucille. Sayang screen presence-nya kurang, kendati lebih dari cukup untuk menjadi penarik perhatian terkuat sepanjang film. Tom Hiddleston memberikan penampilan yang moderate dengan kapasitas yang pas untuk perannya. Sedangkan Charlie Hunnam sebenarnya memainkan karakter Dr. Alan McMichael yang menarik untuk digali lebih dalam (setidaknya lewat adegan-adegan investigasi yang lebih banyak dan mendalam, misalnya). Sayang peran karakternya sangat minim sehingga terkesan sekedar untuk save the day.

Satu kekuatan terbesar CP adalah visualnya. Terutama sekali desain produksi yang begitu detail dan remarkable. Tak heran, del Toro memang sangat teliti dan peduli untuk urusan desain. Lihat saja desain set kastil Crimson Peak yang luar biasa detail. Sayang pasca syuting, set yang dibangun dari nol ini harus dirubuhkan karena kendala space di studio. Del Toro sendiri mengakui bahwa set untuk CP adalah yang terbaik yang pernah ia buat, and I have to agree to that. Tentu saja costume design oleh Kate Hawley serta visual effect hantu-hanti yang semakin melengkapi detail dan keindahan setnya. Sinematografi Dan Laustsen yang pernah bekerja sama dengan del Toro di Mimic, turut membingkai tiap detail desain dengan sempurna, berikut menyampaikan ceritanya dengan efektif.

Tata suara tergolong cukup memuaskan, terutama karena penggunaan fasilitas surround untuk memberi kesan dimensi dan tentu saja kesan semakin hidup. Dengarkan saja misalnya ketika adegan Edith melemparkan bola untuk ditangkap anjingnya, Papillon atau ketika lolongan hantu-hantu. Terakhir, score oleh Fernando Velázquez jelas berpadu dengan semua desain dan nuansa yang ingin dibangun oleh del Toro.


Meski mungkin agak di luar ekspektasi terutama bagi penggemar pure horror dan cerita yang terkesan hanya ‘campur-campur’, namun kepedulian del Toro untuk bercerita dan kepiawaiannya mempertahankan excitement dari misteri yang ia bangun, membuat CP layak untuk disimak. Memang bukan del Toro’s best piece (setidaknya dari segi storytelling. Sebaliknya dari segi desain, mungkin malah jadi yang terbaik), tapi bagi penggemar yang sudah sangat cocok dengan seleranya, CP jelas tak boleh dilewatkan.

Lihat data IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Goosebumps

Siapapun yang pernah mencicipi era 90-an pasti mengenal seri novel anak dan remaja Goosebumps. Pada eranya, seri novel karya R.L. Stine ini memang mencetak banyak sjearah. Dari 62 judul dan beberapa seri lepas yang sudah beredar dan diterjemahkan ke dalam 32 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, berhasil terjual sebanyak 350 juta eksemplar di seluruh dunia. Tentu bukan angka yang main-main, hingga akhirnya menjadi franchise yang termasuk besar. Mulai serial TV yang berjalan selama 4 season, audiobook, games, komik, berbagai merchandise, sampai wahana taman bermain.

Rencana pembuatan versi layar lebarnya sendiri sudah terdengar sejak tahun 90-an, mulai dari George A. Romero yang bahkan sudah sampai merampungkan naskah, sampai Tim Burton yang kabarnya juga akan memproduksi di tahun 1998 bersama Fox. Semuanya batal hingga Sony Pictures mengambil alih haknya tahun 2008 dengan produser Neal H. Moritz (yang dikenal lewat franchise Fast & Furious dan xXx) dan Deborah Forte dari versi serialnya. Darren Lemke (Shrek Forever After, Jack the Giant Slayer, dan Turbo) ditunjuk untuk menuliskan naskahnya, sedangkan bangku sutradara diisi oleh Rob Letterman yang sebelumnya pernah mengarahkan Jack Black di Gulliver’s Travels. Tak mau sekedar mengadaptasi versi novelnya, Goosebumps versi layar lebar mencoba untuk menyatukan semua karakter signaturalnya ke dalam satu layar. Genre horor pun diubah menjadi petualangan bak Jumanji atau Zathura.

Zach Cooper harus pindah ke sebuah kota kecil bernama Madison, Georgia, karena sang ibu, Gale, memangku jabatan baru sebagai wakil kepala sekolah di SMA setempat. Tak sengaja Zach mengenal tetangga sebayanya, Hannah yang tampak ramah dan menyenangkan, tapi dikekang oleh sang ayah. Kecurigaan membawa Zach dan temannya, Champ, untuk menyelinap masuk ke rumah Hannah. Siapa sangka ternyata ayah Hannah adalah sang penulis novel horor anak fenomenal, R.L. Stine. Dan Mr. Stine menutup diri dari lingkungan bukan tanpa alasan. Tak sengaja mereka membawa semua monster dan makhluk gaib ciptaan Stine lewat novel Goosebumps yang tak sengaja keluar ke dunia nyata. Kota Madison pun terancam sebelum mereka menemukan solusi untuk membawa semua makhluk itu kembali ke dalam buku.

Meski menggabungkan kesemua karakter signatural ala Cabin in the Woods bukan ide yang benar-benar baru, termasuk premise ala Jumanji, Zathura, atau Inkheart, Goosebumps versi layar lebar tetap terdengar menarik. Apalagi kehadiran karakter R.L. Stine yang membuat filmya bak biopic yang di-twist menyatu dengan cerita di dalam novelnya. Saya rasa tak ada yang keberatan dengan perubahan genre dari horor ke adventure, mengingat sumbernya adalah horor untuk target audience yang jelas susah untuk menarik range penonton lebih luas. Toh bagi penggemar novelnya, melihat karakter-karakter yang selama ini hanya ada dalam imajinasi benar-benar hidup dan dijadikan dalam 1 layar, sudah menjadi sebuah treat tersendiri.

Ekspektasi yang tak terlalu tinggi selain sekedar tontonan petualangan seru yang menghibur, ternyata membuat saya merasakan sesuatu yang lebih dari Goosebumps. Saya benar-benar tak menyangka Lemke dan Letterman memasukkan unsur-unsur esensi cerita, terutama tentang imajinasi dan move on yang cukup bold, relevan, dan divisualisasikan dengan begitu terasa. Ada beberapa adegan sederhana namun berhasil membuat saya sekedar tersenyum karena heart factor yang cukup besar dihadirkan di sini.

Faktor menarik lain dari Goosebumps adalah selipan-selipan jokes yang mungkin memang terkesan silly, campy, dan slapstick, namun most of them really worked. Jauh dari kesan ‘mengganggu’. Secara cerdas pula, trivia dan humor bereferensi pada pop culture, seperti tentang Stephen King dan The Shinning, Gulliver’s Travels yang merupakan kolaborasi Jack Black dan Rob Letterman sebelumnya, bahkan karakter figuran yang mengingatkan kita akan seri novel R.L. Stine lainnya, Fear Street. Tentu humor-humor ini yang memperkaya petualangan seru ala Goosebumps. Tak lupa pula cameo R.L. Stine himself di penghujung film yang if you blink, you’ll miss.

Sayangnya Goosebumps memvisualisasikan alur petualangannya dengan pace yang terlalu cepat. Memang masih ada beberapa momen yang bikin breathtaking, namun dengan pace yang serba dinamis membuat penonton tak merasakan excitement yang begitu maksimal. Well dengan kemasan komedi yang lebih mendominasi (dan berhasil), untungnya tak sampai menjadikan Goosebumps sebuah petualangan yang hambar dan flat.

Tak semua orang bisa memahami dan cocok dengan style kelakar Jack Black, namun kali ini ia lebih banyak bermain sesuai dengan naskahnya ketimbang ‘menjadi diri sendiri’ dengan joke-joke tipikalnya. Alhasil karakter R.L. Stine yang ia perankan pun berhasil menjadi karakter yang unik dan masih mampu memancing tawa lewat karakteristiknya, tanpa harus menjadi terlalu ‘Jack Black-ish’. Termasuk juga ketika mengisi suara Slappy dari Boneka Hidup Beraksi (Night of the Living Dummy) dan the Invisible dari Manusia Siluman (My Best Friend is Invisible) yang creepily funny. Dylan Minnette yang sebenarnya terlihat all-american-boy ternyata cukup mampu menarik perhatian. Ryan Lee sebagai Champ yang sebenarnya terkesan menjengkelkan di mata saya ternyata masih bisa menjadi sumber joke yang menghibur. Begitu juga Jillian Bell sebagai Aunt Lorraine, Amy Ryan sebagai Gale, serta Timothy Simons dan Amanda Lund sebagai sepasang polisi yang tingkahnya tak kalah menggelitik. Terakhir, tentu saja Odeya Rush sebagai Hannah yang jelas mencuri perhatian sejak awal kemunculannya hingga ending yang membuatnya begitu loveable. Odeya menunjukkan aura yang menjanjikannya karir cemerlang ke depan.

Petualangan yang terasa begitu fun dan mengasyikkan berasal dari sinematografi Javier Aguirresarobe (The Others, The Twilight Saga, dan Warm Bodies). Begitu juga desain produksi yang cukup istimewa, terutama desain FunHouse. Tak ketinggalan tata suara yang cukup sering memanfaatkan fasilitas surround untuk menghidupkan atmosfer banyak adegan. Sayangnya beberapa suara dialog masih terdengar tenggelam, terutama dialog Jack Black. But overall masih tidak terlalu mengganggu atau membuat dialognya menjadi tidak jelas terdengar.

Aspek juara lainnya tentu saja score dari Danny Elfman yang memang sudah maestro untuk film bertemakan sejenis. Playful dan creepily fun, tanpa kehilangan kemegahannya.

Sebagai sebuah sajian pure hiburan, Goosebumps memang menyuguhkan petualangan yang seru dan humor yang berhasil memancing tawa, pun juga blended dengan sangat baik. Aman untuk ditonton seluruh anggota keluarga, dilengkapi dengan naskah, karakteristik yang cukup kuat dan menarik meski tak cukup banyak dikembangkan, penyebaran trivia yang dijadikan joke, serta tentu saja hati yang cukup besar, Goosebumps berhasil melebihi ekspektasi saya yang memang sudah dekat dengan novelnya ketika pertama kali rilis di Indonesia. Review yang rata-rata positif, hasil box office yang termasuk tinggi, dan open ending, siap-siap Sony Pictures merencanakan sekuelnya. Semoga saja dengan naskah dan semua aspek yang setidaknya sama kuat seperti installment yang ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, October 15, 2015

The Jose Flash Review
Pan

Sejak pertama kali muncul di novel dewasa The Little White Bird karya J. M. Barrie tahun 1902, karakter Peter Pan sudah menarik perhatian banyak pihak. Hingga kahirnya J. M. Barrie sendiri menuliskan novel sendiri berjudul Peter and Wendy tahun 1911 dan sampai sekarang sudah menjelma menjadi puluhan versi, termasuk yang paling populer, animasi klasik Disney tahun 1953. Bahkan seorang Steven Spielberg tahun 1991 pernah menggarap Hook yang bisa dianggap sebagai sekuel cerita Peter Pan yang selama ini kita kenal dengan bintang Robin Williams. Terakhir, Universal Pictures bekerja sama dengan Columbia Pictures mencoba mengdaptasi sebuah live action tahun 2003, yang meski rata-rata mendapatkan review positif, namun hasil box office-nya tak terlalu menggembirakan. Kini giliran Warner Bros. yang mencoba peruntungan dengan konsep ‘the beginning’ seperti yang pernah dilakukan beberapa franchise dengan hasil beragam. Menggandeng Jason Fuchs (Ice Age: Continental Drift) sebagai penulis naskah dan sutradara Joe Wright yang sebenarnya populer di scene tipikal film festival macam Pride & Prejudice, Atonement, The Soloist, Hanna, dan Anna Karenina, proyek Pan sebenarnya menarik untuk disimak.

Tinggal di sebuah panti asuhan milik biarawati sejak bayi membuat Peter berharap akan hidup yang lebih baik. Ketika Perang Dunia II meletus dan keadaan memburuk, Peter mendapati anak-anak di panti asuhannya satu per satu hilang tiap malam. Ketika menyelidiki, Peter dan sahabatnya, Nibs, malah menemukan rahasia sang suster biara, Mother Barnabas, termasuk surat terakhir yang ditinggalkan ibu Peter untuknya. Hingga akhirnya Peter sendiri menjadi ‘korban’ penculikan yang ternyata membawa anak-anak panti asuhan ke Neverland, sebuah negeri antah berantah yang gersang. Dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik daripada menjadi anak yatim piatu, anak-anak ini dipekerjakan untuk menggali tiap jengkal tanah di Neverland untuk menemukan serbuk peri oleh Kapten Blackbeard. Karena sifat rebel-nya, Peter mencoba melawan. Tidak sendiri, upaya melarikan diri Peter dibantu oleh seorang rebel lainnya, Hook, dan salah satu karyawan Blackbeard, Mr. Smee. Tak sengaja mereka menemukan suku pribumi, Pan, dengan seorang putrinya, Tigerlily, yang menyebut Peter sebagai messiah mereka. Tapi Peter harus membuktikan diri dulu bahwa memang benar ia lah yang diramalkan akan datang menjadi penyelamat suku dari Blackbeard. Krisis kepercayaan diri sekaligus dikejar-kejar kaki tangan Blackbeard, menjadi highlight petualangan mereka.

Dengan premise yang demikian, sebenarnya tak ada elemen cerita yang benar-benar baru untuk konsep ‘the beginning’-nya. Mulai kemunculan bajak laut legendaris Blackbeard yang pernah dimasukkan ke dalam franchise Pirates of the Caribbean, persahabatan yang nantinya kita tahu bersama akan menjadi musuh, sampai konsep cerita secara keseluruhan yang seolah terinspirasi dari kisah Yesus Kristus (come on… mulai prophecy Peter akan menjadi semacam Messiah bahkan sampai nama ibu kandungnya pun Mary!), atau cerita Nabi Musa (? - bisa jadi clue lewat adegan bersembunyi di dalam keranjang yang mengapung di sungai). Namun semua elemen cerita yang di-mash up di sini membentuk kesatuan konsep besar yang tak hanya sekedar bisa divisualisasikan menjadi petualangan seru, namun juga punya korelasi yang sangat kuat dengan cerita utama yang sudah kita kenal bersama, terutama pada karakter Hook yang secara brilian digambarkan identik dengan karakter Hook yang kita kenal selama ini. Sedikit terasa terlalu gelap dan serius untuk penonton cilik di awal-awal film, Pan menebusnya dengan nuansa yang lebih ceria dan punya rangkaian petualangan yang seru serta enjoyable untuk range usia yang lebih luas mulai pertengahan hingga penghujung film. Tentu saja yang terpenting, Pan masih mengusung nuansa innocent magic yang selalu menjadi highlight cerita Peter Pan selama ini, terutama menjelang klimaks hingga bagian penutupnya. Tak ketinggalan, line-line bagus, meaningful, dan terkadang merujuk pada cerita aslinya, tersebar rata di sepanjang film. Love it so much I’m sharing some of those with you.

Mengisi peran utama menjadi beban tersendiri bagi Levi Miller yang selama ini hanya mengisi peran pendukung dengan screentime terbatas. Untungnya, Levi Miller mampu menghidupkan karakter Peter dengan begitu hidup. Tiap perkembangan karakternya terasa kuat, meski tak se-memorable Jeremy Sumpter misalnya. Namun bisa jadi ini bukan kesalahannya, karena harus berbagi layar dengan aktor sekuat Hugh Jackman sebagai Blackbeard dan terutama sekali, Garrett Hedlund. Jackman memang terlihat dan terasa berbeda dibandingkan sosok yang kita kenal selama ini, bahkan suaranya pun nyaris terasa asing bagi saya. Namun penulisan karakternya belum terlalu membuat karakter Blackbeard menjadi villain yang memorable ataupun signatural. Sementara Hedlund harus saya akui, terasa yang paling menonjol dari jajaran cast lainnya. Faktor penulisan karakter yang menurut saya, paling kuat, faktor kontinuiti karakteristik di cerita utama aslinya, dan ternyata berhasil dibawakan dengan sangat baik oleh Hedlund, membuat karakter Hook yang paling menarik sepanjang film.

Tapi tunggu dulu, Adeel Akhtar sebagai Smiegel layak menjadi scene stealer yang cukup menarik selain Hook. Tiger Lily yang secara kontroversial diperankan oleh Rooney Mara (mengingat karakter aslinya adalah native American atau suku Indian, namun diperankan oleh Mara yang American Caucasian) ternyata juga berhasil mempesona dan mencuri hati saya. Karakternya yang cerdas dan pemberani menjadi begitu loveable oleh Mara. Sementara di jajaran figuran, Cara Delevigne sebagai putri duyung (tak hanya satu tapi banyak!) dan Amanda Seyfried yang secara fisik juga tidak saya kenali sebagai ibu Peter, Mary.

Selain mashup cerita yang solid, Pan juga tak main-main dengan teknisnya. Terutama sekali desain produksi yang meski sedikit berbeda dengan nuansa Peter Pan yang selama ini kita kenal, namun masih dengan color palette yang warna-warni dan cerah. Lihat saja desain setting suku pribumi dengan kostum-kostumnya yang begitu memanjakan mata, atau adegan klimaks menuju sarang peri yang membuat mata saya terbelalak. Kesemuanya terekam dengan sempurna lewat sinematografi John Mathieson dan Seamus McGarvey. Koreografi beberapa adegan pertarungan, terutama Hook vs Kwahu, yang terlihat indah dan keren, juga patut mendapatkan kredit lebih. Dukungan tata suara turut membuat tiap adegan serunya terasa lebih nyata dan hidup. Sayang saya tidak menikmatinya di studio Dolby Atmos yang bisa saya bayangkan, bakal punya banyak gimmick-gimmick yang lebih menarik lagi.

Score gubahan John Powell sekaligus mendukung petualangan Pan menjadi lebih seru, megah, dan berkelas. Mencampur adukkan nuansa wild west, tribal, epic battle ala Star Wars dan Pirates of the Caribbean, playful ala animasi Disney, sampai children choir yang luar biasa mengaduk-aduk emosi, bahkan juga penggunaan Smells Like Teen Spirit dari Nirvana yang digunakan sebagai chant hingga membuat saya bersorak, score Pan boleh jadi salah satu yang terbaik tahun ini. Lily Allen yang menyumbangkan Little Soldier juga menjadi theme song representatif, baik secara lirik maupun nuansa secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, sebenarnya Pan adalah suguhan cerita ‘the beginning’ yang cukup solid, meski merupakan hasil mashup dari berbagai elemen yang sudah pernah kenal sebelumnya. Dukungan teknis yang serba menonjol dan beberapa justru menurut saya, termasuk terbaik tahun ini, Pan jelas sayang untuk dilewatkan di layar lebar. I know resepsi secara internasional tergolong flop. Salah satu penyebabnya adalah review yang rata-rata negatif. Memang, ada beberapa part yang membuat Pan terasa terlalu gelap dan serius untuk penonton anak-anak, namun selain dari itu, Pan masih merupakan pengalaman berkualitas yang sangat menghibur serta pastinya, memanjakan panca penglihatan dan pendengaran. Apalagi jika Anda termasuk yang pernah terpukau oleh cerita Peter Pan lewat pesona innocence magic-nya, setidaknya Pan akan membawa Anda ke memori-memori indah itu beserta cerita prekuel yang sangat relate dengan cerita aslinya. Fuck what most reviewers said, you deserve to experience it yourself!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 12, 2015

The Jose Flash Review
The Wedding & Bebek Betutu

Siapapun yang pernah melewati tahun 2004-2009 di Indonesia, pasti pernah mengenal sebuah acara sketsa komedi ala Saturday Night Live bertajuk Extravaganza. Atau bukan tidak mungkin, Anda menjadi salah satu penggemar yang tak mau ketinggalan satu episode pun. Well, Extravaganza memang sempat menjadi acara TV paling top di Indonesia ketika disiarkan yang sekaligus melambungkan aktor-aktrisnya, seperti Tora Sudiro, Indra Birowo, Amink, Ronal Surapradja, Rony Dozer, Virnie Ismail, Sogi Indra Dhuaja, Omesh, Tike Priatnakusumah, Edric Tjandra, Mieke Amalia, dan TJ. Setelah melewati beberapa generasi dan rotasi aktor dan aktris, bahkan beberapa spin-off show, maka tak ada salahnya menghadirkan kembali Extravaganza ke layar lebar. Dengan akumulasi fans masing-masing aktor dan demand penonton Indonesia saat ini yang sepertinya sedang membutuhkan (baca: menggemari) film komedi (lihat saja, tahun ini sudah ada Comic 8: Casino Kings yang sudah sukses melewati angka sakral 1 juta penonton, Komedi Moderen Gokil dengan niat membawa kembali film komedi ala Warkop yang sampai sekarang sudah ditonton sebanyak 282.000 penonton, dan 3 Dara yang juga sudah melewati angka 348.000 penonton dan masih terus bertambah), jelas reuni para pendukung Extravaganza terdengar seperti proyek yang menjanjikan kesuksesan.

Tora dan Mieke yang duduk di bangku produser lantas menggandeng Hilman Mutasi, yang sempat menjabat head writer untuk program Extravaganza. Sebagai penulis skenario, Hilman sendiri punya filmografi yang cukup panjang dan variatif, baik dari segi genre maupun kualitas. Misalnya duologi The Tarix Jabrix, 5 cm, Coboy Junior the Movie, Mama Cake, Potong Bebek Angsa, Sehidup (Tak) Semati, KM 97, Check in Bangkok, Air & Api, dan terakhir awal tahun ini, Kacaunya Dunia Persilatan yang merupakan parodi film-film kolosal Indonesia. Tentu saja berbeda dengan Komedi Moderen Gokil yang konsepnya memang ala Warkop dan tak perlu storyline yang solid, The Wedding & Bebek Betutu (WeBek) menawarkan sebuah film dengan naskah yang sama pentingnya dengan jokes-nya.

WeBek menyorot kehidupan di sebuah hotel mewah yang dimanajeri oleh Angga. Reputasi dan karirnya dipertaruhkan ketika hotel itu didaulat untuk mengurus semua persiapan pernikahan Lana, putri sang owner, Rama Sastranegara. Tingtong dengan wedding organizer Double Rose yang ternama, ditunjuk untuk mengatur semuanya. Namun pernikahan Lana dan Bagas, yang merupakan putra ningrat Jawa, Edo Wicaksono, terancam batal setelah masing-masing di-blackmail. Lana dengan foto-foto mesranya dengan mantan pacarnya, Alex, dan Bagas dengan rekaman video bachelor party bersama sexy dancers. Keadaan menjadi semakin genting ketika Edo meminta dimasakkan Bebek Betutu terbaik di Bandung. Pasalnya, sang chef hotel, Janu, punya trauma dengan bebek. Maka Angga mengutus The Crew supaya pernikahan tetap berjalan lancar. Tim yang pertama, seorang housekeeping bernama Kokom dan tukang reparasi, Buluk, bertugas menyelidiki siapa yang mem-blackmail Lana dan Rama. Sedangkan Janu, ditemani petugas concierge, Mayo, dan bellboy, Noby, bertugas mencari juru masak Bebek Betutu terbaik se-Bandung.

Membaca premise dan menonton trailernya, mungkin Anda melihat pengaruh The Grand Budapest Hotel (TGBH) karya Wes Anderson di WeBek. Harus diakui, inspirasi dari TGBH terasa begitu kental di sini, baik dari segi desain produksi, sinematografi, penulisan karakter-karakter, bahkan sampai formula-formula storytelling-nya. Namun untungnya tak sampai pada storyline-nya. Di awal, Hilman memperkenalkan satu per satu karakter serta konfliknya dengan begitu menarik dan asyik untuk diikuti. Namun sayang, ketika cerita bergerak mendekati klimaks, excitement-nya sedikit menurun. Begitu juga dengan kadar jokes yang semakin jarang muncul, dan itu pun tak semuanya berhasil memancing tawa. Sampai pada satu titik, naskah mulai ‘ngaco’ dan kehilangan energi, terutama ketika adegan Janu-Mayo-Noby bertemu si nenek misterius yang seperti bingung mau dibawa ke mana. Potensi komedi dan ‘fantasi’-nya ada, tapi sayang tak dimanfaatkan.

Naskah mengalami kedodoran terbesarnya ketika menampilkan resolusi utamanya terlebih dahulu sebelum revealing the main case. Selain melangkahi excitement timing-nya, logika cerita pun menjadi timpang. I mean, sebenarnya cerita bisa selesai ketika Lana dan Bagas menyadari hal terpenting dalam hubungan mereka, maka sebenarnya menemukan siapa dalang blackmail tentu tidak menjadi hal yang penting lagi. Sayang, penonton tetap harus di-treat dengan revealing yang layak, setelah mengikuti perjalanan investigasi yang cukup lama (meski dengan logika yang sebenarnya main-main) bukan? Maka Lana-Bagas dibuat berkonflik lagi demi bisa diselamatkan (lagi) oleh penemuan siapa sebenarnya dalang di balik blackmail. Agak memusingkan? Well, that’s what happened in WeBek.

Namun yang membuat WeBek masih layak untuk disimak, tentu saja adalah penampilan para cast yang sudah dekat dengan penonton. Di sini saya patut menyebut nama TJ – Mieke Amalia sebagai pasangan yang menghadirkan konflik paling menarik dan paling lucu sepanjang film. Di urutan berikutnya, saya menyukai salah satu adegan paling lucu sepanjang durasi, yang dibawakan oleh Indra Birowo-Ronal Surapradja. Sementara tim Tora Sudiro-Edric Tjandra-Ibob Tarigan dan Tike Priatnakusumah-Ence Bagus, menurut saya masih gagal untuk memberikan comedic moment yang berkesan maupun sekedar memancing tawa. Selebihnya, Aming dan Rony Dozer, seperti biasa, tetap berhasil menjadi karakter signatural (diri sendiri) yang sudah lucu dari sananya.

Banyak terinspirasi dari TGBH, desain produksi WeBek memang patut diacungi jempol. Terutama sekali tiap sudut GH Universal Hotel yang memang luar biasa indah dan megahnya. Sinematografi Yunus Pasolang lagi-lagi mem-framing tiap adegan dan keindahan settingnya dengan maksimal. Tak hanya hotel, tapi juga desa tempat trio Janu-Mayo-Noby mencari si nenek misterius dan jalanan Kota Bandung. Pergerakan kamera ala Wes Anderson pun diadopsi dengan cukup rapih. Sementara tata suara tak begitu istimewa dan dialognya masih terdengar kurang clear & crisp, scoring Emil Husein terdengar begitu pas dengan nuansa komedik yang dihadirkan WeBek.


Meski masih sedikit kedodoran di naskah (apalagi dengan durasi 110 menit yang tergolong panjang untuk genre komedi) dan persebaran joke yang kurang merata dan masih banyak yang belum berhasil memancing tawa, secara keseluruhan WeBek masih lebih dari layak untuk disimak sebagai tontonan komedi yang segar, menyenangkan, dan menghibur. Apalagi jika Anda termasuk penggemar atau pernah menyukai program Extravaganza, pantang untuk melewatkannya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates