Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Friday, July 31, 2015

The Jose Flash Review
Wer

Dibandingkan monster ‘seangkatan’-nya, vampire, werewolf masih tergolong jauh lebih jarang disentuh untuk diangkat ke media film (yang berdiri sendiri, tanpa disandingkan dengan monster lain seperti vampire). Itupun tak banyak modifikasi elemen cerita. Yang kita tahu hanyalah seseorang yang bisa berubah menjadi manusia serigala jadi-jadian buas ketika malam bulan purnama. That’s it. Tak banyak gimmick-gimmick lain yang ditambahkan di film-film. Maka apa yang dilakukan William Brent Bell, yang pernah sukses dengan horor berbudget rendah, Stay Alive dan The Devil Inside, serta partner setianya, Matthew Peterman, ini patut mendapatkan perhatian lebih lewat karya mereka yang juga diproduksi secara indie, Wer.

Wer bermula dari sebuah kasus pembantaian sekeluarga yang sedang berkemah di sebuah hutan di Perancis. Meski dari mayat terlihat seperti diserang oleh binatang buas, polisi menangkap penduduk lokal bernama Talan. Merasa tak mungkin seorang manusia bisa melakukan serangan ini, Kate tertarik untuk menjadi pengacara Talan dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan kasus ini. Investigasi Kate yang dibantu pakar binatang buas yang juga mantan Kate, Gavin, dan Eric ini ternyata membawa mereka ke fakta yang mengerikan.

Dengan teknik kamera found footage dari berbagai sumber, Wer memulai introduksinya dengan cepat dan efektif. Segeralah penonton dibawa ke investigasi kasus Talan. Namun patut diingat, meski tata kameranya bergaya found footage, namun narasinya tetap disampaikan seperti film biasa, sehingga pace dan alurnya tetap nyaman untuk diikuti, sekaligus bikin penasaran. Mungkin bagi pecinta horor, apalagi tema werewolf, Wer tidak tergolong punya cerita yang unik. Bahkan mungkin banyak yang bisa menerka-nerka akan dibawa ke mana Wer ini hingga ending. Namun yang membuat Wer menarik adalah memasukkan unsur medis ke dalam fenomena werewolf.  Fiktif, seperti halnya virus yang bisa mengubah manusia menjadi zombie, namun karena (seingat dan setahu saya) belum pernah ada di film werewolf lain, maka ini jadi menarik. Anyway, it’s not a virus here. Watch it if you want to know what has caused it.

Penggabungan berbagai genre juga yang menjadikan Wer tontonan yang menarik dan cukup mengejutkan. Ketika paruh awal kita diajak untuk mengikuti perkembangan kasus dengan kemasan thriller investigasi, paruh berikutnya kita langsung diajak terhenyak dengan action thrillernya yang brutal. Malahan menurut saya, Wer adalah salah satu film werewolf yang paling brutal yang pernah dibuat. Beberapa memang terasa karikatural, namun tetap saja mengerikan, terkadang bikin ikut tersugesti, namun tentu saja, seru.

Tak sempurna memang. Ada beberapa part yang membuat ia terasa seperti frame-frame tersendiri yang terpisah. Terutama sekali menjelang klimaksnya. Namun overall, Wer masih lebih dari layak untuk dinikmati.

Penampilan A.J. Cook, Vik Sahay, dan Simon Quarterman di lini depan cukup menarik dan pas dengan karakter masing-masing. Sementara yang paling menarik adalah Brian Scott O’Connor sebagai sosok Talan yang misterius.

Tak ada yang istimewa maupun mengganggu di divisi teknis, seperti pada tata kamera dan tata suara. Namun prop dan makeup patut mendapatkan kredit lebih lewat desain mayat-mayat yang keadaannya mengenaskan.

Wer mungkin adalah film indie yang kurang terekspose, tapi I have to admit, it is a very interesting one, with its medical take and of course, its graphic gore. Bahkan di ensiklopedia werewolf sekalipun, Wer sangat patut diperhitungkan untuk masuk dan menjadi bahan pembahasan tersendiri.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Loft

Salah satu genre favorit saya tapi sudah sangat jarang ada saat ini adalah puzzled murder investigation. Terakhir kali yang menurut saya paling menarik dan masih saya ingat sampai sekarang adalah Identity (2003). Keasikannya tak hanya terletak pada jawaban siapakah pembunuhnya, tapi juga kelokan-kelokan cerita yang sering memanipulasi jawabannya. Tak jarang juga, twist ending yang mencengangkan. Tahun 2008 ada satu film Belgia berjudul Loft karya sutradara Erik Van Looy dan penulis naskah Brat De Bouw, yang konon berhasil menjadi film Belgia yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah sinema mereka, yaitu sebanyak 1.186.072 juta penonton. Kesuksesan ini yang akhirnya diikuti remake versi Belanda berjudul sama di tahun 2010, disusul Hollywood yang mulai diproduksi tahun 2011 yang juga disutradarai oleh Erik Van Looy. Entah bagaimana ceritanya baru dirilis di negara asalnya awal 2015 ini. Hasilnya buruk sehingga studio tidak percaya diri dan terus memundurkan jadwalnya? Kebanyakan kasus penundaan selama itu sih alasannya demikian. Tapi jangan skeptis dulu, ternyata surprisingly memang menarik.

The Loft versi Hollywood nyatanya sangat persis dengan versi aslinya (Belgia). Mulai dari susunan adegan yang persis hingga dialog yang identik, kalau tidak mau dibilang sekedar penerjemahan dari versi aslinya. Bedanya, versi Belgia punya pace yang sedikit lebih santai (baca: lambat), sementara versi Hollywood-nya jauh lebih dinamis. Versi Belgia punya adegan-adegan telanjang yang sedikit lebih frontal daripada versi Hollywood. Serta, tentu saja, versi Hollywood dibintangi aktor-aktris yang lebih populer, muda, dan good looking daripada versi Belgia (kecuali, tentu saja, Eric Stonestreet).

Let’s talking about the Hollywood version, which I watched first before the Belgian and the Dutch’s. Masih bercerita tentang 5 orang pria beristri yang sepakat berbagi sebuah loft (semacam apartemen) sebagai tempat untuk berselingkuh. “The right place to do wrong” berubah menjadi neraka ketika suatu hari ditemukan mayat wanita di atas ranjang loft mereka.

Sebagai pecinta puzzle murder investigation, saya sangat menikmati tiap adegan yang disusun oleh The Loft. Ia membawa penonton ke rollercoaster cerita yang disusun dengan sangat rapi, mulai kasus paling sederhana yang terlihat di permukaan, hingga satu per satu fakta yang diungkap, yang mengarahkan penonton untuk menuduh tiap karakter utama, namun kemudian dipatahkan dengan fakta yang berikutnya. Semuanya ditampilkan dengan mudah dicerna, tanpa perlu berpikir terlalu keras. Alur yang maju-mundur juga sama sekali tidak membingungkan penonton untuk mengikuti perkembangan kasusnya, karena disusun sesuai kebutuhan kontinuitas cerita. Sexual affair, friendship betrayal, dengan dialog-dialog yang cerdas dan sering terdengar seksis (well, ini memang dibutuhkan, sesuai dengan gambaran karakter-karakter prianya yang memang seksis), mewarnai rollercoaster ride ini. I have to say, a very fun and exciting ride!

Kelima aktor utamanya; Karl Urban, James Marsden, Wentworth Miller, Eric Stonestreet, dan Matthias Schoenaerts (satu-satunya aktor versi Belgia yang juga bermain di versi Hollywood), berhasil mengisi peran masing-masing dengan cukup kuat dan porsi yang seimbang. Well, Urban, Marsden, dan Miller mungkin terasa lebih menonjol karena popularitas yang lebih ketimbang Stonestreet dan Schoenaerts, dan juga peran dalam cerita yang lebih vital, namun kelimanya tampil maksimal sesuai kebutuhan cerita, meski tak terlalu istimewa juga. Pun juga Isabel Lucas dan Rachael Taylor yang meski scene presence-nya tak banyak, namun berhasil mencuri perhatian berkat keindahan fisik, sekaligus kharisma sensualitas yang lebih dari cukup untuk mewarnai cerita menjadi lebih menarik. Di deretan para istri karakter utama, jelas Kali Rocha sebagai Mimi, istri Marty, yang paling menonjol.

Divisi production design dan art directing patut mendapatkan kredit terbesar di teknis. Terutama sekali desain loft sebagai set utama yang jauh lebih luxury dan sophisticated ketimbang versi Belgia. Sinematografi dan editing yang dinamis juga patut mendapatkan kredit dalam membangun adegan-adegan yang cantik sekaligus dinamis. Sementara tak ada yang istimewa di divisi tata suara dan scoring, selain cukup dalam membangun atmosfernya.


In the end, it’s your choice to see which version you want to see. Tak ada yang benar-benar signifikan berbeda. Tergantung mana yang lebih cocok dengan Anda, terutama dari segi pace dan aktor-aktrisnya. Yang pasti jika Anda sudah menyaksikan salah satu versi, keseruan mengikuti ceritanya bakal hilang atau setidaknya berkurang ketika menonton versi yang ditonton selanjutnya, mau versi manapun yang ditonton duluan. Karena yang sedang tayang di bioskop adalah versi Hollywood, maka tak ada salahnya Anda menikmati versi yang ini. It’s a fun and exciting puzzled murder investigation we haven’t experienced for quite a long time.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 30, 2015

The Jose Flash Review
Bajrangi Bhaijaan

Beberapa filmografi terakhir Salman Khan berhasil menciptakan image action hero bagi dirinya. Apalagi film-filmnya rajin dirilis dalam rangka Idul Fitri. Kalau Lebaran tahun lalu kita disuguhi aksinya di Kick, maka Lebaran tahun ini Salman lagi-lagi menghiasi layar, bukan dengan film aksi, namun justru drama komedi yang melibatkan anak-anak, Bajrangi Bhaijaan (BB). Kabir Khan duduk di bangku sutradara, yang mana menandai kedua kalinya mengarahkan Salman setelah sebelumnya sukses dengan film aksi fenomenal, Ekh Tha Tiger.

BB berkisah seputar Pawan Kumar Chaturvedi atau yang akrab dipanggil Bajrangi Bhaijaan, pemuda lugu yang selalu berusaha jujur dan berbuat baik kepada siapa saja. Dia tidak keterbelakangan mental seperti yang sering digambarkan sinema Hindi (misalnya Koi Mil Gaya dan Barfi!), hanya saja dia memang tidak cakap dalam banyak hal, terutama akademis dan olahraga. Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa the foolish is the most obedient one, begitulah Pawan yang sangat patuh, tak hanya kepada Dewa Hanoman, tapi juga mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hubungannya dengan seorang wanita cantik bernama Rasika diuji ketika Pawan dibuntuti seorang gadis kecil bisu yang terpisah dari keluarganya. Maka dimulailah petualangan Pawan membawa pulang gadis yang diberi nama Munni ini ke orang tuanya. Plot ini sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru. Malahan seperti gabungan dari berbagai plot tipikal film Hindi. Tapi seperti biasa, film Hindi mampu mengundang simpati dan emosi penonton secarama maksimal.

Jangan salah, BB bukanlah tipe film Hindi yang menguras air mata penonton karena peristiwa-peristiwa malang yang menimpa karakter-karakternya. Tidak ada pula anak-anak penyakitan yang menunggu kematian untuk memancing air mata. Narasi BB disusun oleh kejadian-kejadian sederhana sehari-hari dengan bumbu komedi ringan dan manis. Namun ketika sampai pada titik puncaknya… Oh yes, there will be tears, tapi lebih karena merasakan betapa feel good perasaan yang dibawa olehnya. Latar belakang pertikaian antara India-Pakistan menjadi latar yang sempurna untuk menghantarkan drama humanity-nya. Pun juga perbedaan reliji (Hindu dan Muslim) disampaikan dengan cara yang begitu halus, tak memihak salah satu, bahkan komedi tanpa embel-embel ofensif. Sounds cheesy and dreamy, but somehow has made me believe in humanity over hatred again and that the world is still beautiful.

Memerankan karakter yang berbeda dari tipikalnya, Salman ternyata mampu tampil memukau dan mencuri simpati penonton. Karakter Pawan menjadi begitu loveable di tangannya. Kareena Kapoor tetap saja mempesona meski screen presence-nya tak begitu banyak. Nawarzuddin Siddiqui sebagai Chand Nawab juga dengan mudah mencuri hati penonton berkat karakternya yang awalnya agak komikal namun berubah menjadi mudah menarik simpati penonton berkat aksinya. Terakhir, tentu saja pendatang baru cilik, Harshaali Malhotra yang jadi scene stealer paling kuat. Melihatnya tersenyum saja sudah bisa membuat penonton mencintai karakternya.

Sinematografi berhasil merekam berbagai set indah, mulai Kurukshetra yang meriah dengan warna-warni cerah, pegunungan di desa Sultanpur, sampai Karachi yang terasa tandus. Kamera juga berhasil meng-capture emosi dari tiap momen tanpa dramatisasi yang terasa berlebihan. Slow-mo masih ada di berbagai adegan, bahkan di adegan-adegan yang terasa tidak butuh di-slowmo, namun secara keseluruhan tak sampai mengganggu pace cerita. Tak ada yang istimewa dengan tata suara, selain cukup menghidupkan berbagai adegan sebagaimana mestinya, terdengar megah di adegan tarian dan begitu menggetarkan hati ketika adegan klimaks. Lagu-lagu yang menghiasi sepanjang durasi 2 ½ jamnya memang tak banyak, namun cukup memorable dan menyatu dengan film. My favorite, Selfie Le Le Re dan The Chicken Song.

BB memang punya cerita yang cheesy dan dreamy, tapi working at its best. Toh sesekali kita perlu sajian manis untuk mengingatkan kita kalau kemanusiaan itu masih ada dan dunia masih indah. Feels good, doesn’t it?

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ant-Man

Langkah Marvel di medium film semakin tak terhenti. Semenjak dipegang oleh Disney, satu demi satu konsep raksasa disusun untuk membangun Marvel Cinematic Universe (MCU). Tak hanya mengembangkan franchise-franchise raksasanya seperti superhero-superhero The Avengers; Iron-Man, Thor, Captain America, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye saja, tapi juga mulai melirik ‘database superhero’ yang selama ini kurang begitu dikenal. Tahun lalu Marvel sukses besar mempopulerkan (lagi, dan even more) The Guardians of the Galaxy (GotG) dengan konsep penceritaan dan atmosfer yang fun. Tahun ini giliran Ant-Man (AM) yang diperkenalkan kembali dan siap untuk menyusul kesuksesan GotG. Dengan dukungan penulis-penulis naskah yang selama ini dikenal sukses komedi generasi Jude Apatow, seperti Edgar Wright (Shaun of the Dead, Hot Fuzz, dan The World’s End atau yang lebih dikenal dengan The Cornetto Trilogy),  Joe Cornish (Attack the Block dan The Adventures of Tintin), Adam McKay (dengan film-film komedi sukses Will Ferrell sejak Anchorman), dan Paul Rudd (bintang di kebanyakan film-film komedi Jude Apatow) yang menjadi sang Ant-Man sendiri, bisa dengan mudah diterka seperti apa Marvel akan membuat AM ini. Apalagi Peyton Reed (Bring It On, Yes Man) yang ditunjuk sebagai sutradaranya.

Benar saja, AM tampil dengan kemasan yang terasa begitu jauh dari film-film superhero Marvel lainnya. Meski film-film superhero Marvel lainnya memang masih tergolong fun dan ceria (ketimbang misalnya, film-film superhero DC Comic yang cenderung kelam), jelas sekali perbedaan konsep dan atmosfer fun dan komedi yang dibawa Marvel untuk AM. ‘The Jude Apatow’ feel jelas terasa, ditambah lagi elemen cerita heist yang bisa dengan mudah disusupi berbagai komedi khasnya. Ini jelas menjadi sebuah konsep yang terasa begitu fresh dan menarik di tengah gempuran film superhero yang kemasannya ‘gitu-gitu aja’. Jokes gokil bereferensi ke pop culture menjadi highlight utama, seperti yang melibatkan Baskin Robbins, fasilitas Siri di iPhone, dan Thomas si kereta api.

AM juga punya konsep cerita yang begitu kuat terasa dan belum pernah dieksplor (Marvel) sebelumnya, yaitu relasi antara seorang ayah dan putrinya, secara selama ini belum ada superhero di layar lebar yang diceritakan sudah punya anak. Tak hanya antara karakter Scott Lang, sang Ant-Man dengan putrinya, Cassie, tapi juga karakter sang ilmuwan, Dr. Hank Pym dan putrinya, Hope. Kedua sub-plot ini tak hanya sekedar sengaja asal dihadirkan, namun mampu menyatu dengan begitu smooth dengan konsep cerita secara keseluruhan. Even better, AM punya cukup banyak momen father-daughter yang begitu hangat dan berhati besar untuk mencuri hati penontonnya. Kudos to Reed, Rudd, Douglas, Lilly, dan Fortson yang berhasil menghidupkannya.

But above all, yang paling dinanti-nantikan penonton dari film superhero adalah action and adventure experience yang memanjakan indera penglihatan dan pendengaran. For that, AM juga menawarkan banyak adegan-adegan aksi dan petualangan yang tak kalah fresh, unik, dan tentu saja seru. Mulai petualangan Ant-Man ketika menciut yang dari sudut pandangnya, environment yang biasa-biasa saja jadi begitu seru, pengalaman menunggangi seekor semut terbang bernama Anthony, dan tentu saja pertarungan dengan berkali-kali mengubah ukuran tubuh yang menambah keseruan pengalaman menonton AM.

Sebagai lead character, Paul Rudd ternyata punya kharisma lebih dari cukup, di balik wajahnya yang mirip Ben Affleck dan otomatis mau tidak mau mengingatkan saya akan sosok Daredevil dulu. But hey, keseimbangan antara sosok ayah penuh cinta yang depresif sekaligus komikal bisa dijaga dengan porsi yang benar-benar pas oleh Rudd. Michael Douglas pun menjadi supporting actor yang tak kalah kuatnya sebagai Dr. Hank Pym. Evangeline Lilly yang seperti biasa, mempesona, juga berhasil mengimbangi Rudd dan Douglas, tak hanya sebagai pemanis semata, tapi sebagai karakter yang punya peran penting dalam cerita. Si cilik Abby Rider Fortson sebagai Cassie dengan mudah mencuri hati penonton. Tapi tentu saja yang paling diingat penonton adalah trio Michael Peña, T.I., dan David Dastmalchian. Terutama sekali Peña yang seolah menghembuskan most of comedy breathe to AM. Sementara Corey Stoll sebagai karakter antagonis Darren Cross, tampil cukup baik meski karkaternya tak begitu di-‘perdalam’.

Seperti biasa, tampilan visual film-film Marvel selalu marvelous. Meski visual effect untuk menghidupkan adegan ‘petualangan sebagai liliput’ bukan hal baru (masih ingat Honey, I Shrunk the Kid?), tapi AM berhasil menampilkan level yang lebih tinggi, termasuk pertarungan dengan kerap mengubah-ubah ukuran tubuh. Begitu juga dengan tata suara yang dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bahkan gimmick Dolby Atmos-nya begitu terasa hidup. Dengarkan suara lesatan ketika Ant-Man berlari, lesatan Anthony yang sedang terbang, dan banyak gimmick-gimmick surround yang sangat maksimal dimanfaatkan.

So yes, seperti yang sudah diinfokan oleh Marvel sendiri, AM memang menjadi penutup MCU phase 2. Tidak spektakuler, memang (well, kalau mau jujur, The Avengers: Age of Ultron adalah klimaks spektakuler dari phase 2), tapi ini bisa disebut sebagi effort yang fresh dan ditangani dengan sangat baik pula. Sekaligus menjadi semacam ‘teaser’ sekaligus penghubung yang menarik ke MCU phase 3.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 28, 2015

The Jose Flash Review
Maggie

Tema zombie sudah tak terhitung banyaknya diangkat ke layar lebar, terutama dengan genre horor. Berbagai teori tentang zombie sampai berbagai pendekatan dalam penyampaian cerita juga sudah dicoba. Tak sedikit pula yang berhasil menyandang gelar cult classic, mulai karya-karya sang maestro, George A. Romero,  sampai yang modern pop seperti Shaun of the Dead, 28 Days Later,  Zombieland, dan World War Z. Maggie rupanya ingin bermain-main di ranah yang berbeda dengan tema zombie: father and daughter relationship.

Maggie membidik cerita pada seorang gadis remaja bernama Maggie yang harus apes digigit zombie. Dia punya waktu sekitar 6-8 minggu sebelum berubah menjadi benar-benar buas dan harus dikarantina. Maka sang ayah, Wade, menjemput Maggie untuk menghabiskan sisa waktu bersama sambil menimbang-nimbang keputusan yang paling tepat ketimbang mengantarkan Maggie ke karantina. Sebuah premise cerita yang menarik sebenarnya jika ditulis dan divisualisasi secara tepat. Namun yang terjadi pada Maggie ternyata jauh dari menarik.

Jauh berbeda dengan film zombie kebanyakan yang mengumbar adegan kekerasan sadis, horor yang mencekam, dan thriller yang bikin sport jantung, Maggie lebih menampilkan drama depresif yang dibangun melalui hubungan seorang ayah dan putrinya. Beberapa menit pertama Maggie masih menampilkan adegan-adegan yang menarik untuk disimak. Termasuk juga ketika ditampilkan tetangga keluarga Vogel yang masih anak-anak harus dibunuh karena terinfeksi dan sudah berubah menjadi tak terkontrol. Sebuah setup yang seharusnya membuat Wade dan Maggie semakin sulit mengambil keputusan. Pun juga chemistry antara Arnold Schwarzenegger (Wade) dan Abigail Breslin (Maggie) dibangun dengan bagus. Namun nampaknya naskah tak memanfaatkan itu semua untuk dikembangkan menjadi adegan yang lebih menarik lagi. Penonton seolah dibiarkan hanya ikut menghitung waktu hingga Maggie benar-benar berubah menjadi zombie.

Ending-nya pun termasuk biasa saja. Tak ada resolusi yang menarik ataupun memuaskan, padahal keputusan final di ending menjadi satu-satunya alasan mengapa penonton merasa harus stay. Secara keseluruhan pun Maggie juga gagal menjadi drama depresif yang mengundang simpati maupun menguras emosi penonton. Faktor utamanya, sekali lagi adalah tak ada detail cerita maupun adegan yang membangun simpati penonton pada Wade dan Maggie. That’s it. That’s the ending, and all of us feeling like just had the most wasted one and half hour.

Menarik sebenarnya menyaksikan Arnie bermain di pure drama sebagai seorang ayah, tanpa embel-embel action hero. Ternyata ia bisa berakting cukup baik pula di ranah itu. Sayangnya naskah tidak memberikan kedalaman lebih jauh lagi untuk membuat karakternya semakin menarik simpati penonton. Begitu juga dengan Abigail Breslin yang berakting paling memikat sepanjang film. Ketakutan, ketegaran, dan putus asa, berhasil dihidupkan dengan sangat convincing dan pas oleh Breslin.

Sementara di teknis juga tak ada yang begitu istimewa. Sinematografi dan tata suara tergolong biasa saja. Editing ala arthouse yang sangat slow-paced sebenarnya bisa mendukung suasana depresif dan kelam, namun hasilnya justru jatuh menjadi lebih membosankan.

In the end, Maggie sebenarnya punya premise yang menarik jika dikembangkan dengan benar. Sayang penyutradaraan yang belum terlalu berpengalaman dari Henry Hobson (sebelumnya lebih sering bertindak sebagai opening/main/closing title film-film besar seperti The Help, The Lone Ranger, dan Snow White and the Huntsman), ditambah naskah John Scott (juga baru pertama kali menulis naskah) yang lemah, menjadikannya sajian yang tanpa greget dan mudah dilupakan. Syukur-syukur kalau penontonnya tidak keburu ketiduran atau walk out sebelum filmnya berakhir.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, July 27, 2015

The Jose Flash Review
Comic 8: Casino Kings Part 1

Di ranah perfilman Indonesia, Anggy Umbara adalah nama yang telah menunjukkan keunikan lewat karya-karyanya. Dimulai dengan Mama Cake yang membungkus ‘dakwah’ dengan kemasan yang begitu pop, warna-warni vibrant dan imajinatif ketimbang natural, dan jalinan cerita yang seru. Begitu juga dengan Coboy Junior The Movie dan Comic 8 yang dengan jelas menunjukkan betapa ‘unik’-nya karya-karya dari Anggy. Meski jelas, terlepas dari kenyataan unik bisa berarti bagus maupun buruk, juga pasti menimbulkan gap fans berat dan haters yang semakin lebar. As for me, I still appreciate the uniqueness. Khusus untuk Comic 8 (C8), terlepas dari selera humor yang cocok dengan penontonnya atau tidak, menurut saya berhasil memanfaatkan para komika yang memang sedang sangat diminati, namun dengan naskah, pencitraan, dan konsep fantasi yang tidak main-main. Twist di ending harus diakui menarik, tak sekedar asal twist, dan yang pasti bisa dikembangkan lebih jauh menjadi sebuah franchise. Dari story base itulah Comic 8: Casino Kings Part 1 (CK1) dibangun.
Kali ini para komika yang ternyata pasien rumah sakit jiwa yang dicuci otaknya dan dimanfaatkan sebagai agen rahasia, kembali ‘dicuci otaknya’ untuk mengemban misi yang lebih berat, kompleks, dan berbahaya. Secara garis besar, premise-nya seperti gabungan spoof dari The Hunger Games dan The Raid. Tentu saja tujuan utamanya cuma satu, menampilkan adegan-adegan big bang boom yang lebih banyak dan dahsyat seperti yang dijanjikan di trailernya. And yes, CK1 memang menepati janji-janji yang diumbar di trailernya. Adegan big bang boom digeber di tiap cut-nya, apalagi dengan editing super dinamis yang dilakukan Andi Mamo.

CK1 masih mengusung alur cerita yang back and forth dan memakai judul bab bak buku seperti C8. Bedanya, jika di C8 kebanyakan alur back and forth-nya dimanfaatkan untuk perkenalan karakter dan penjelasan di ending, di sini terasa lebih random. Mungkin ingin sedikit memberikan penonton rasa penasaran dengan tiap kejadian adegan, namun karena adegan-adegannya tak begitu ‘mengundang penasaran’, konsep back and forth ini lebih untuk men-create efek big bang boom yang lebih non-stop. Bagi penonton yang sudah familiar dan suka C8, maka tak ada kesulitan untuk mengikuti alurnya, pun juga menyukai gaya penceritaannya. Namun bagi yang tidak menonton C8 ataupun membencinya, kemungkinan besar akan dibuat bingung dan bahkan semakin membencinya.
Tapi tidak bisa dipungkiri, faktor kesuksesan yang membuat penonton berbondong-bondong ke bioskop bukanlah naskah yang brilian maupun efek big bang boom-nya, tapi penampilan para komika dengan kekhasan guyonan masing-masing. And for that term, meski lagi-lagi on and off, masing-masing komika cukup memuaskan penggemarnya. Apalagi kali ini dengan pembagian part yang cukup adil dan merata. Sementara Anggy juga tak lupa menambahkan sangat banyak all-star, baik yang populer di masa kini maupun aktor-aktirs lawas, untuk mendukung. Masing-masing pun juga diberi part yang sama kuatnya dan bekal joke-joke bereferensi pop culture Indonesia untuk men-serve lebih banyak kalangan. Saya yang tergolong cukup cocok dengan joke-joke C8, juga masih bisa tertawa terbahak-bahak di beberapa joke-nya, baik yang dibawakan komika maupun aktor-aktris pendukungnya.

Para komika berhasil tampil semakin luwes di depan kamera, mulai Ernest, Arie Kriting, Bintang Timur, Kemal, Ge Pamungkas, Fico, dan tentu saja terutama sekali Mongol Stres dan Babe Cabiita. Deretan pemeran pendukungnya juga tak kalah menariknya. Mulai Boy William yang juga kemampuannya mulai kelihatan, Dhea Ananda yang menggantikan Nirina Zubir,  Pandji Pragiwaksono, Indro Warkop. Hannah Al Rashid dan Donny Alamsyah yang biasanya serius pun kali ini mampu membuat terbahak-bahak tanpa kehilangan kesan kerennya dengan ability masing-masing. Sophia Latjuba seperti biasa, mempesona. Dan let’s not forget Prisia Nasution dengan aksen Melayu Singapore yang begitu luwes dan menarik untuk disimak.

Sinematografi dari Dicky R Maland yang sudah menjadi langganan Anggy sejak Mama Cake, masih memamerkan berbagai shot yang mendukung konsep serba grande, epic, luxury, dan cool. Efek visual menjadi ‘komoditas’ utama yang cukup kuat untuk teknis CK1. Meski tak semua tampak sepenuhnya rapi, namun tetap saja berada sedikit di atas efek visual rata-rata sinema kita. Sementara di divisi tata suara, meski tak ada yang begitu istimewa, pun juga tak begitu memanfaatkan gimmick efek surround, sudah lebih dari cukup untuk menghidupkan adegan-adegan serunya. Tata musik yang memanfaatkan daur ulang lagu-lagu milik Rhoma Irama dan Benyamin S. dengan aransemen yang cukup kreatif dan unik, turut mendukung cerita, adegan-adegan, serta konsep secara keseluruhan.

Pembagian CK menjadi 2 bagian dengan rentang waktu yang cukup lama (6 bulan, CK2 dijadwalkan rilis Februari 2016) mungkin memang faktor komersial, namun dengan desain produksi yang begitu megah, jauh lebih megah, niat, dan tentu saja cost more ketimbang C8, wajar jika produser ingin menggali potensial sedalam-dalamnya. Efeknya, secara keseluruhan CK1 terasa seperti sebuah potongan-potongan adegan dan teaser setup-setup ketimbang satu cerita yang utuh. Apalagi dengan konsep alur back and forth yang semakin menguatkan kesan itu. Tapi tak mengapa, dengan ending yang begitu ‘mengundang’ dan sedikit cuplikan dari part 2-nya, bisa diduga menyimpan cerita, lebih banyak nama-nama terkenal di lini pendukung, serta adegan-adegan yang semakin seru. Well, let’s just not judging CK from its first part only. Let’s wait until part 2 and then judge as one whole movie.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, July 18, 2015

The Jose Flash Review
Lamaran

Meski sudah mencoba berbagai genre film, baik sebagai penulis naskah maupun sutradara, Monty Tiwa agaknya melahirkan karya-karya remarkable-nya di genre komedi, romantis, maupun gabungan keduanya. Begitu juga dengan Cassandra Massardi, penulis naskah yang seolah sudah klop dengan ‘selera’ Monty. Keduanya pernah berkolaborasi lewat Get Married 3, Get M4rried, serta Aku, Kau, dan KUA yang kesemuanya diproduksi di bawah bendera Starvision Plus. Rapi Films pun tertarik untuk ‘mempersatukan’ keduanya sekali lagi dalam sebuah komedi romantis berjudul Lamaran.

Pasangan yang kali ini dipertemukan di layar adalah Acha Septriasa yang aktingnya semakin diperhitungkan dengan peran-peran yang lebih dewasa, dan Reza Nangin yang mulai dikenal lewat Cinta tapi Beda dan ikon jaringan bioskop XXI. Dengan background thriller hukum, sebenarnya Lamaran berpotensi menjadi sebuah blend rom-com yang unik dan menarik. Benar saja, cerita ‘pacar pura-pura’ yang sebenarnya sudah sering diangkat, menjadi lebih menarik. Belum lagi gimmick benturan budaya Batak dan Sunda yang dijadikan sumber kelucuan. Di tangan Cassandra-Monty yang memang piawai di ranah ini, Lamaran bisa dikatakan berhasil menjadi tontonan yang menghibur.

Sayangnya, secara keseluruhan Lamaran tak lebih dari sekedar sajian komedi romantis. Ada cukup banyak minus di sana-sini yang membuatnya terasa tidak begitu solid dan menyia-nyiakan potensi yang ada. Pertama, background thriller law yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan tersendiri dan unik, ternyata hanya ditampilkan sebagai tempelan semata. Jangankan menjadi blend yang bersinergi dengan plot utama, di sini sama sekali tidak ada detail kasus yang ditangani karakter utama kita, pengacara Tiar (Acha), sehingga mengharuskannya pura-pura menjadi tunangan Aan (Reza), mulai sebab hingga bagaimana akhirnya kasus itu bisa dimenangkan oleh Tiar dan menjebloskan karakter antagonis yang diperankan Dwi Sasono menjadi tersangka. Mungkin saja alasannya untuk menjaga fokus pada hubungan Tiar-Aan, namun ketika harus berani memasukkan materi sepenting itu dalam cerita dan cukup krusial, setidaknya harus mau juga memberikan penjelasan sebab dan penyelesaiannya. Lebih baik lagi jika menyatu dengan plot utama. Tapi di sini… tidak ada sama sekali.

Ada pula beberapa potensi adegan yang seharusnya bisa jadi lebih ‘heboh’ terlewatkan menjadi biasa saja. Yang paling  terasa disayangkan adalah adegan klimaks di mana seharusnya ketika subplot thriller hukumnya mulai menyatu dengan komedi romantisnya bisa jadi komedi chaotic yang heboh dan mengundang tawa sebesar-besarnya, di sini justru terasa kurang maksimal. Lucu sih, tapi seharusnya bisa lebih ‘pecah’. Apalagi dengan penampilan bintang tamu (yang sebenarnya sudah hampir pasti bisa ditebak kemunculannya) dengan image seheboh itu. Saya (dan saya yakin kebanyakan dari penonton lainnya juga) sebenarnya mengharapkan adegan klimaks yang jauh lebih memorable, meriah, dan grande.

Sebagai karakter utama, Acha sebenarnya tak buruk. Memang dialek Batak-nya masih jauh dari sempurna, namun setidaknya di telinga penonton yang awam dengan dialek Batak, tidak terasa seperti dibuat-buat. Terasa sedikit komikal (mengingat ini adalah sebuah komedi), namun sama sekali tidak terkesan terlalu dibuat-buat. Sementara Reza meski kharisma-nya sebagai lead masih kurang terasa kuat, harus diakui cukup mampu mengundang tawa sebagai karakter awkward.

Deretan pemeran pendukungnya justru tampil lebih menarik dan mencuri perhatian, terutama Mak Gondut yang penampilannya selalu ditunggu-tunggu sebagai pengundang tawa sejak Demi Ucok, serta duet komika Arie Kriting dan artis YouTube bule, Sacha Stevenson yang tak kalah mengocok perut. Kehadiran Mongol Stres yang masih memerankan karakter tipikalnya seperti di Comic 8, sedikit meramaikan suasana meski tak begitu menonjol. Sementara kehadiran Marwoto, Dwi Sasono, dan Tora Sudiro seolah hanya sekedar cameo yang tak begitu berkontribusi banyak, baik dalam cerita maupun sebagai objek pengocok perut.

Tak ada yang terlalu istimewa di divisi teknis. Sinematografi dan tata suara termasuk biasa saja, namun cukup mendukung adegan. Begitu juga desain produksi, tak ada yang begitu menarik perhatian, selain budaya-budaya Batak yang kebanyakan diimplementasikan pada kostum.

But again, in the end setidaknya Monty-Cassandra masih punya cukup banyak guyonan-guyonan yang berhasil membuat saya tertawa lepas, meski tak sampai terbahak-bahak juga. Tak ketinggalan pula momen-momen romantis yang klise sih, tapi tetap dengan mudahnya membuat penonton terharu (apalagi jika relate dengan kehidupan asamara Anda sendiri). As usual, untuk urusan kedua aspek ini, mereka juaranya, dan ini sudah cukup menjadi alasan untuk menyimak Lamaran.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mencari Hilal

Di berbagai scene festival film dalam negeri dan internasional, nama Ismail Basbeth sudah bukan nama yang asing lagi. Apalagi film pendeknya, Shelter, yang berjaya di mana-mana. Terakhir, ia menyelesaikan film panjang pertamanya, Another Trip to the Moon (Menuju Rembulan) yang masuk nominasi Tiger Awards Competition di International Film Festival Rotterdam 2015. Siapapun yang mengenal Basbeth dan karya-karyanya, pasti tak asing dengan image absurd (baca: eksperimental). Kemudian sebuah tantangan datang dari Hanung Bramantyo untuk membuat film yang bisa dipahami dan dinikmati dengan mudah oleh penonton Indonesia yang lebih luas dan umum. Tantangan itu pun diterima dengan Mencari Hilal (MH) yang menggandeng nama-nama berkualitas di baliknya. Terutama penulis skenario Salman Aristo yang dibantu Bagus Bramanti (Love & Faith, Pintu Harmonika), dan Basbeth sendiri.

Kisah MH bergulir ketika Mahmud, seorang uztad yang merasa paling tahu tentang agamanya dan cara hidup yang dianutnya selama ini sudah yang paling benar. Tak jarang ia harus berkonfrontasi dengan orang-orang di sekitarnya yang punya pandangan yang berbeda. Tak terkecuali sang putra, Heli, yang sekarang jadi jarang pulang karena menjadi aktivis. Suatu kejadian mengharuskan Mahmud dan Heli melakukan perjalanan mencari hilal, sebuah tradisi yang sudah lama hilang. Dari premise ini dan melihat hasil akhirnya, MH sekilas seperti mengingatkan kita akan film Perancis, Le Grand Voyage (LGV). Memang ada perbedaan di mana LGV bercerita tentang sang ayah yang ingin naik haji ke Mekkah dengan jalan darat dari Perancis ketika si anak harus menjalani ujian. Sementara di MH, sang ayah mencari hilal yang diyakini menjadi patokan hari raya Idul Fitri, padahal si anak sedang mengejar jadwal menjadi aktivis di Nikaragua. Basically sama, generation gap yang menyebabkan perbedaan pola pikir antara ayah dan anak, yang akhirnya dipersatukan dalam sebuah perjalanan.

Namun jika ditelaah lebih dalam, MH melakukan pelokalan yang sangat baik. Tak hanya relevan, motivasi karakter utama, Mahmud dan Heli ditulis dengan lebih rasional ketimbang LGV. Seiring dengan perjalanannya, MH dipenuhi berbagai kejadian yang mungkin bagi banyak penonton, terlalu sengaja dijejalkan sebagi protes sosial, seperti yang sering dilakukan Hanung di film-filmnya, namun bagi saya ini sah-sah saja. Tak hanya menjadi sebuah relevansi bagi keadaan negara kita saat ini yang sebenarnya, namun yang lebih penting, bisa mendukung perkembangan karakter-karakter utama, yang mau tak mau men-drive cerita pula. Lihat misalnya ketika bagaimana Mahmud dan Heli ternyata bisa saling mendukung ketika menyelesaikan masalah pertikaian warga dengan umat Kristen di sebuah kampung, atau ketika akhirnya Heli  bisa memanfaatkan sahabat lama ayahnya yang pola pikirnya bergeser setelah berpolitik, Arifin. Kesemua kejadian yang mengalir dengan natural di layar punya peran yang signifikan bagi perkembangan karakter Mahmud dan Heli, sekaligus mempersatukan pola pikir mereka yang berbeda. Ending yang mengusung formula 'ternyata', khas film pendek Jogja, ternyata juga cukup menarik dengan metafora dari judulnya (nonton sendiri supaya lebih menarik). Naskah yang begitu solid ini juga tak ketinggalan dihiasi dialog-dialog yang witty di sana-sini, sehingga MH masih tampil sebagai sebuah sajian yang sangat menghibur. 

Naskah yang begitu solid didukung pula oleh penyutradaraan yang tak kalah baiknya oleh Basbeth. Tak sampai jatuh menjadi melodrama yang berlebihan, di tangan Basbeth MH menjadi tontonan hiburan yang mengalir dan hidup. Kalaupun sampai membuat Anda menitikkan air mata, itu tidak berasal dari adegan-adegan yang didramatisir, tapi karena memang relate dengan kehidupan nyata. Protes sosial yang diselipkan tak sampai pula jatuh menjadi terlalu karikatur seperti yang sering dilakukan Hanung, malahan alur MH tetap mengalir dengan elegan. Alur cerita yang berbobot pun menjadi terasa begitu sederhana dan mudah untuk diikuti sekaligus dinikmati.

Tak ketinggalan pula performa akting yang rata-rata prima. Terutama sekali Deddy Sutomo yang sangat berhasil menghidupkan karakternya, seorang ayah keras kepala dengan pendiriannya. Tampak begitu bijaksana dan berkharisma ketika menyampaikan keberatannya dengan tenang, tampak keras sekaligus lembut, hingga perasaaan damai, semua ditampilkan dengan begitu maksimal oleh Deddy. Pun juga chemistry father-son yang sangat baik dengan Oka Antara. Sementara Oka sendiri meski tak terlalu terasa istimewa, setidaknya masih memerankan karakternya dengan pas dan mampu mengimbangi kharisma Deddy Sutomo.

Keunggulan lain yang patut diapresiasi dari MH adalah berbagai keunggulan teknis, seperti sinematofrafi Satria Kurnianto yang pernah berkolaborasi dengan Basbeth di Another Trip to the Moon. Berbgai framing-framing cantik membingkai adegan-adegan penting MH menjadi lebih bermakna dan dalam. Musik yang ditata oleh Charlie Meliala juga mengiringi adegan-adegan MH menjadi lebih emosional.

Di tengah film-film Lebaran tahun ini, MH sebenarnya menjadi pilihan yang paling menarik. Dengan kemasan yang serba menarik dan cantik, ia juga menyajikan sebuah kontemplasi sederhana tentang berbagai perbedaan yang ternyata bisa dipersatukan dan malah saling mendukung. Sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana namun masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia sampai sekarang. Sangat sayang jika kenyataannya menjadi film Lebaran yang paling sedikit perolehan penontonnya. Go see it in cinema, this one is one of the best Indonesian films this year, and probably also in recent years.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Gallows

Found footage bukan barang baru, apalagi di ranah horor. Mulai dari jaman dulu ketika penonton horor masih terbagi dalam kategori yang bisa accept konsep ini dan ada pula yang sama sekali tidak suka, sampai sekarang found footage sudah mulai banyak diterima karena ternyata punya penceritaan yang tak beda jauh dengan film narasi biasa. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang membuat kualitas gambar kamera rumahan semakin mendekati kamera profesional, found footage sudah bukan menjadi sesuatu yang unik lagi. Metode ini sudah menjadi sekedar pilihan dalam keefektifan menyampaikan cerita. Apakah penonton bisa merasa yang disaksikan di layar lebih nyata dengan metode penceritaan itu? Intinya, tidak semua cerita cocok dieksekusi dengan konsep ini.

The Gallows lahir dari duo penulis naskah-sutradara, Travis Cluff dan Chris Lofing, yang namanya masih belum begitu terdengar karena selama ini baru membuat beberapa film pendek dan satu film panjang indie, Gold Fools. Masih merupakan proyek indie yang kebetulan dibeli hak distribusinya oleh Warner Bros. (lewat New Line Cinema), aktor-aktris yang dipasang pun bukan nama-nama populer. Uniknya, nama depan karakter yang ditampilkan  menggunakan nama depan asli pemerannya. Dengan mengusung tema urban legend, penonton dibuat mengira cerita yanga disampaikan The Gallows adalah kisah nyata, padahal totally fiktif.

The Gallows membuka ceritanya dengan sebuah kejadian mengerikan di tahun 1993, di mana sebuah pementasan drama berjudul The Gallows (= tali gantungan) memakan korban salah satu aktornya tewas tergantung sungguhan di atas panggung. 20 tahun kemudian, kelompok drama sekolah berniat mementaskan lagi drama tersebut. Maka cerita pun bergulir di antara pemain-pemain barunya.

Meski menggunakan konsep found footage, The Gallows ternyata menyampaikan ceritanya seperti film biasa. Di awal-awal kesannya mungkin tidak begitu penting, namun di situlah ia membangun latar belakang ceritanya dan juga karakter-karakternya. Tak masalah bagi saya, karena ternyata dibungkus dengan cukup menarik, apalagi mendengar celetukan-celetukan si perekam, Ryan, yang kadang menggelitik. Kengerian baru digelar kemudian dengan timing dan kadar yang pas. Didukung set sekolah di malam hari yang memang creepy, suasana pun otomatis menjadi semakin mencekam. Yes, jumpscare di sana-sini juga tak lupa ditampilkan sebagai hiburan. Namun kebanyakan berasal dari nuansa creepy yang berhasil dibangun secara simultan. Sayangnya, menjelang klimaks intensitasnya semakin menurun dan sebagai sebuah found footage, The Gallows terlalu bertele-tele menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Oh yes, saya tidak keberatan dengan logika “ngapain masih nyalain kamera di saat segenting itu”, toh jelas kalau para karakter kita juga butuh cahaya lampu (dan juga fungsi night vision) dari kamera untuk melihat di kegelapan. Tapi detail yang menampilkan terlalu banyak penjelasan jelas tidak perlu dan semakin jauh dari logika found footage. Maka tak heran jika kemudian muncul pertanyaan, “Siapa yang merekam? Buat apa merekam itu?”. That’s why jelas bahwa The Gallows punya materi cerita yang menarik untuk disampaikan, namun tak sepenuhnya perlu konsep found footage dalam penyampaiannya.

Yang patut disayangkan juga, karena faktor konsep found footage dalam menyampaikan begitu banyak detail penjelasan, efeknya justru serba tanggung. Oke, mungkin penjelasan berhasil tersampaikan, tapi “spirit” yang menjadi momok sepanjang film menjadi abstrak dan tak punya “roh”. And for me, this has made the whole horror was such a waste. Momen-momen mengerikan yang ditampilkan menjadi sia-sia dan sekedar potongan-potongan kejadian mengerikan, karena in the end, sosoknya tidak terasa benar-benar nyata.

Para aktor-aktris yang namanya masih asing di telinga sebenarnya tak tampil buruk, namun memang tak perlu juga penampilan yang luar biasa. Di antara keempat pemain utama, Ryan Shoos dan Pfeifer Brown terasa paling menarik perhatian. Cassidy Gifford pun tampil menarik dengan sex appeal yang entah bagaimana bisa mencuri layar padahal fisiknya biasa-biasa saja. Sementara Reese Mishler juga tak terlalu gemilang, kebanyakan justru cenderung canggung, di balik wajah yang sebenarnya memang menjual.

Sebagai sebuah found footage, The Gallows punya sinematografi yang layak dan sama sekali tidak mengganggu. Tata suara juga patut dihargai lebih. Meski fasilitas Dolby Atmos sebenarnya tak terlalu mutlak dibutuhkan, namun beberapa adegan terasa lebih berdimensi berkat fasilitas ini.


Di balik kekurangan di sana-sini, The Gallows memang tak lantas menjadi sajian found footage maupun horor yang remarkable. Namun dengan cerita yang menarik dan beberapa momen horor yang berhasil dicapai, ia masih layak disimak sebagai hiburan ringan di waktu senggang atau sekedar have a horror fun.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 9, 2015

The Jose Flash Review
Barely Lethal

Genre teenage di era 2010-an ini termasuk jarang. Baru-baru ini kita disuguhi The DUFF yang seperti update dari komedi remaja legendaris, Mean Girls. Meski masih sama cerdasnya, namun masih belum mampu tampil se-fresh film-film remaja era 90 hingga awal 2000-an. Maka kehadiran Barely Lethal (BL) mungkin saja bisa jadi pilihan yang lebih menarik. Jangan salah, meski tidak diproduksi oleh studio major, namun ada nama Brett Ratner (sutradara X-Men: The Last Stand, Red Dragon, dan  ketiga installment Rush Hour) di salah satu bangku produser. Meski di bioskop sini nama Jessica Alba dan Samuel L. Jackson dipasang besar-besar, namun sebenarnya pemeran utamanya adalah Hailee Steinfeld yang baru saja memukau kita sebagai putri Mark Ruffalo di Begin Again dan si gadis Barden Bella yang baru, Emily, di Pitch Perfect 2. Ada pula Sophie Turner yang selama ini kita kenal sebagai Sansa Stark di serial Game of Thrones, dan disutradarai Kyle Newman yang sebelumnya dikenal lewat Fanboy dan music video Style dari Taylor Swift serta Summertime Sadness dari Lana Del Rey. So, meski statusnya film indie studio, BL sebenarnya menarik untuk disimak.

Meski masih mengedepankan kehidupan sosial remaja (baca: anak SMA), BL berani membungkusnya dengan tema spionase dan tentu saja membuat genrenya bertambah satu: action. Formula yang cukup menarik dan rupanya juga ditulis dengan menarik pula. Kehidupan sosial remaja yang menjadi sajian utama, tetap mendominasi fokus cerita. Yes, teenage movie cliché masih saja disajikan di sana-sini, mulai mean girls clique, geek clique, persaingan menarik perhatian cowok, sampai prom night. Namun menariknya, BL berani menjadikannya sebagai gimmick tersendiri. So it’s like they understand that it’s cliché, but they put it anyway and make it as a mocking gimmick. Apalagi hal-hal cliché di sini masih mampu dikemas secara menggelitik dan segar, termasuk dalam memberikan istilah-istilah slang baru, macam totem pole. Satu poin komedik berhasil disajikan. Kecerdasannya menyandingkan sulitnya kehidupan sosial remaja di SMA dengan kehidupan sebagai assassin, turut membuatnya menjadi lebih menarik.

Namun jika Anda mengharapkan BL tampil sebagai film spionase yang full action, mungkin Anda salah ekspektasi. Cerita spionase dan berbagai elemen aksinya hanyalah kendaraan untuk menyampaikan sajian utama. Maka tak perlu lah, misalnya mengharapkan karakter villain, Victoria Knox yang diperankan oleh Jessica Alba, ditulis dengan perkembangan karakter yang baik ataupun porsi yang menjadikan karakternya jadi menarik. Tak perlu pula mengharapkan adegan-adegan aksi yang begitu bombastis karena nyatanya chick fight antara Hailee Steinfeld dan Sophie Turner sudah bisa jadi bonus yang cukup memanjakan mata. It’s basically a comedy anyway. Come on, don’t be too serious!

Hailee Steinfeld di sini semakin memantapkan langkahnya sebagai bintang remaja yang menjanjikan. Apalagi dengan kepiawaian di action yang ditunjukkan dengan cukup meyakinkan di sini. Sophie Turner pun mampu mengimbangi Hailee dengan watak arogan khas teenage movie, namun tanpa meninggalkan sex appeal-nya yang elegant. Samuel L. Jackson, masih memerankan karakter khas Nick Fury di Marvel Universe maupun Agent Augustus di franchise xXx. Sementara kehadiran Jessica Alba lebih menarik karena dia adalah ‘seorang Jessica Alba sebagai seorang villain’, ketimbang karena faktor karakter yang berhasil ia perankan.

Di deretan pemeran pendukung, hampir merata dengan karakter masing-masing yang memang pas sesuai dengan porsinya, sehingga tetap menarik perhatian penonton, tanpa mengganggu porsi pemeran-pemeran utamanya. Mulai Dove Cameron, Rachael Harris, Jason Ian Drucker, Thomas Mann, Toby Sebastian, dan Gabriel Basso.

Keceriaan teenage movie tak lengkap tanpa dukungan soundtrack yang keren. Meski kebanyakan berasal dari nama-nama yang belum begitu populer (mugnkin hanya Get Free dari Major Lazer feat. Amber Coffman saja yang paling populer), namun secara keseluruhan sudah mampu mewarnai nuansa BL yang warna-warni ceria.

Anyway, dengan ekspektasi yang tepat (atau tanpa ekspektasi sama sekali), BL bisa jadi tontonan ringan yang fun dan menghibur. Mungkin tak terlalu istimewa atau menawarkan sesuatu yang baru, namun bagi Anda yang selalu merasa forever young in heart atau kangen masa-masa remaja sambil meng-update kehidupan sosial remaja masa kini, BL jelas sajian yang menarik dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.




Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Last Knights

47 Ronin adalah cerita legenda asal Jepang tentang para ronin, ksatria samurai tanpa pemimpin, yang membalaskan dendam sang master. Legenda yang mengedepankan kode kehormatan para samurai, ini sudah ada sejak abad ke-18 dan berkali-kali diangkat ke berbagai medium, terutama di Jepang. Untuk peredaran internasional, Hollywood belum lama ini (tahun 2013) mengangkat kisah 47 Ronin lewat film berjudul sama yang dibintangi Keanu Reeves, tapi ternyata hasilnya flop. Kali ini hasil patungan Korea Selatan dan Republik Ceko mencoba untuk mengadaptasi kisah 47 Ronin menjadi lebih bebas, dengan dukungan sutradara Jepang, Kazuaki Kiriya (Casshern dan Goemon), serta bintang Clive Owen dan Morgan Freeman.

Dengan kemasan fantasi yang tidak terikat oleh keotentikan kisah aslinya, Last Knights (LK) seharusnya bisa bebas berfantasi, mulai dari karakter-karakter, desain produksi, hingga mungkin jalan ceritanya sendiri. Namun rupanya kebebasan ini tak begitu dimanfaatkan maksimal. Memang, dengan setting yang tak disebutkan, pun juga tak begitu jelas di mana dan kapan, kita diajak melihat manusia-manusia dari berbagai latar belakang budaya (mulai Caucasian, Asian, dan bahkan pemimpinnya Negroid) bercampur dalam satu melting pot, yang kalau dilihat dari pakaian dan armornya berasal dari abad Medieval. Kejadian yang mustahil terjadi pada abad itu, namun in the name of fantasy, masih sah-sah saja.

As I said before, LK hanya memanfaatkan kebebasannya hanya sampai sebatas itu. Sisanya, tak banyak yang menarik. Ceritanya masih banyak berpatok pada kisah 47 Ronin, hanya saja porsi sebelum kematian sang master yang lebih banyak daripada aslinya. Porsi masa transisi dari kematian sang master sampai pelaksanaan rencana balas dendamnya juga cukup panjang namun dieksekusi dengan sangat plain dan draggy. Well wait, actually kalau Anda sudah mengetahui kisah 47 Ronin yang sebenarnya, sepanjang durasi film ini sebenarnya memang plain dan draggy. Naskah yang ‘biasa-biasa saja’ dan tanpa inovasi ini masih diperparah dengan penyutradaraan Kiriya yang gagal untuk menjadikannya lebih menarik. Tak hanya adegan-adegan ‘tak bernyawa’ dan tanpa emosi, fighting scenes-nya pun tampak (dan memang terasa) seperti sudah dikoreografi dengan rapi. Seperti melihat sebuah atraksi, bukan pertarungan yang sebenarnya.

Untung saja LK masih punya Morgran Freeman dan Clive Owen yang bisa sedikit membuat saya bertahan untuk mengikuti kisahnya. Morgran Freeman sebagai sang master, Bartok, as usual, tampil dengan kharisma yang begitu kuat meski porsinya tak sampai separuh film. Clive Owen masih patut dihargai effortnya untuk tampil serius dan ‘hidup’ di balik karakternya, Raiden, yang ditulis dengan lame.

Selain dari kedua nama itu, tak banyak membantu menyelamatkan LK. Aksel Hennie sebagai Gezza Mott mungkin berhasil menghidupkan karakter menteri yang serakah dan licik, namun tak cukup kuat untuk jadi villain yang patut diperhitungkan. Lagi-lagi, faktor penulisan karakter yang sudah lemah duluan. Sementara Peyman Moaadi yang dulu pernah tampil memukau di film Iran, A Seperation, kali ini sangat terasa miscast sebagai sang Emperor. Ah come on, dari suaranya saja sudah tidak cocok sebagai seorang Kaisar yang harusnya punya wibawa besar.

Tak ada yang begitu istimewa pula di divisi teknis. Mulai sinematografi yang biasa-biasa saja, namun cukup efektif dalam bercerita, sampai tata suara yang hanya sampai tahap ‘aman’. Belum begitu berhasil menghidupkan atmosfer, termasuk di adegan-adegan peperangan. Malah cenderung seperti film TV atau video.

Well, LK mungkin masih menyisakan inti cerita legenda 47 Ronin yang bagus, terutama bagi penonton yang belum mengenal kisah aslinya. Namun selain dari itu, tak ada yang istimewa dari berbagai aspeknya. Kebebasan yang dimiliki, sayangnya tak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Maybe next time.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 1, 2015

The Jose Flash Review
Careful What You Wish For

Salah satu genre yang sempat booming di era 90-an adalah erotic thriller. Rata-rata formulanya sama: affair yang berujung teror dan tak jarang berakhir tragis. Salah satu produser yang sering bermain dan pernah menelurkan judul-judul legendaris di area genre ini adalah Ashok Amritraj dengan franchise Night Eyes dan Scorned (A Woman’s Scorned). Setelah trend genre ini semakin berkurang, Amritraj dengan studionya, Hyde Park Entertainment, lebih banyak memproduksi genre lain yang lebih populer seperti horor dan action. Terakhir, film erotic thriller yang diproduksinya mungkin Original Sin yang dibintangi Antonio Banderas dan Angelina Jolie. Tahun ini rupanya erotic thriller nampaknya mulai dilirik lagi. Ditandai dengan The Boy Next Door­­-nya Rob Cohen yang dibintangi Jennifer Lopez dan Ryan Guzman. Maka tak heran jika Amritraj melihat peluang untuk kembali bermain-main di area yang sama. Mantan artis Disney, Nick Jonas pun dimanfaatkan untuk menarik perhatian.

Careful What You Wish For (CWYWF) nyatanya punya premise yang tak jauh berbeda dengan Night Eyes dan kebanyakan erotic thriller 90-an lainnya. Kalau mau referensi yang rentang waktunya yang lebih dekat, CWYWF seperti The Boy Next Door hanya saja dari sudut pandang si brondong (meski sang woman interest di sini, Isabel Lucas, tak setua Jennifer Lopez juga). Maka lebih tepatlah CWYWF membidik pasar yang lebih muda (baca: remaja). Tak heran jika penceritannya pun lebih naif ketimbang erotic thriller lain (well, erotic thriller yang lebih dewasa pun sebenarnya menghadirkan karakter pria yang nggak kalah naif-nya sih), namun bukan berarti buruk. Chris Frisina yang mana ini merupakan naskah film panjang pertamanya, ternyata cukup baik dan cermat dalam menyusun detail karakter yang logis dan relevan, terutama si brondong, Doug yang diperankan oleh Nick Jonas. Timing dalam membangun ketegangan dan ceritanya pun termasuk pas sehingga secara keseluruhan masih nyaman diikuti, meski mungkin penonton sudah familiar dengan tipikal film seperti ini. Turning over cerita yang lagi-lagi, sebenarnya sudah cukup familiar, juga mampu dihadirkan dengan menarik. Ketika saya mengira fokus cerita terletak pada bagaimana Doug berhadapan dengan resiko jika suami sang love interest mengetahui affairnya, ternyata ada fokus cerita yang lebih jauh lagi. Twist ala Wild Things di menjelang akhir cerita pun tidak asal ada, tapi relevan dengan hint dan clue yang tersebar di sepanjang cerita meski tidak terlalu obvious.

Naskah yang perpaduan Night Eyes dan Wild Things ini juga cukup baik digarap oleh sutradara Elizabeth Allen (Aquamarine dan Ramona and Beezus). Dengan pengalamannya menyutradarai beberapa episode serial remaja yang bernuansa serupa, seperti 90210 dan Gossip Girl, Elizabeth tak punya kendala berarti dalam menerjemahkan naskah Frisina. Hanya saja beberapa joke yang diletakkan tidak pada momen yang pas, sedikit merusak nuansa investigation thriller yang dibangun. But other than that, it’s still enjoyable to follow.

Melebihi ekspektasi saya, Nick Jonas rupanya tampil cukup baik. Tak hanya berhasil melepaskan image remaja manis, Nick mampu dengan luwes menerjemahkan karakter Doug yang aslinya geek namun harus berhadapan dengan kasus seberat itu. Chemistry yang dibangunnya bersama Isabel Lucas pun termasuk convincing. Hanya saja beberapa adegannya bersama Carson (Graham Rogers) maupun Paul Sorvino masih terasa canggung. Isabel Lucas, masih menjadi karakter tipikalnya, wanita ber-sex appeal tinggi yang misterius dan manipulatif. Tidak terlalu kuat karena faktor naskah yang memang tidak memberikan porsi yang cukup, namun tak buruk pula. Sebaliknya, Dermot Mulroney sebagai sang suami, terasa lebih kuat karena kharisma yang mengintimidasi meski screen presence-nya tak begitu banyak. Sementara Kandyse McClure sebagai Angie Alvarez yang screen presence-nya baru mendominasi di paruh kedua film, cukup kuat untuk menarik perhatian penonton, melebihi Isabel Lucas.


CWYWF memang tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru maupun cukup kuat untuk bertahan lama dalam benak penonton. Apalagi sebagai erotic thriller, ia masih sangat sangat halus dan sopan (apalagi jika dibandingkan softcore-softcore era 90-an). Mungkin faktor target market utama yang lebih muda (baca: remaja), but I don’t know why saya merasa film-film erotic thriller yang dirilis akhir-akhir ini tak seberani dan sepanas era 90-an. Padahal sebenarnya sex scene atau minimal nudity yang menjadi daya tarik utama. Tanpa kedua aspek tersebut yang cukup kental, tak banyak yang bisa membuat penonton tertarik untuk nonton.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
SPL 2: A Time for Consequences (殺破狼2)

Semua tahu perfilman Hong Kong identik dengan film action, apalagi dengan premise dasar cops vs crooks. Beberapa ada yang terdengar gaungnya secara internasional, seperti Infernal Affairs yang bahkan sampai di-remake oleh seorang Martin Scorsese. Film cops vs crooks lainnya yang juga sempat ramai dibicarakan adalah SPL – Sha Po Long (2005) atau Kill Zone di Amerika Serikat. Meski punya premise dasar yang tak beda jauh dari cops vs crooks lainnya, SPL mendasarkan ceritanya pada kepercayaan astrologi Cina akan tiga bintang yang mempengaruhi nasib manusia; Qi Sha simbol kekuasaan, Po Jun simbol penghancuran, dan Tan Lang simbol ketamakan. Namun tentu saja komoditas utamanya adalah adegan-adegan martial art brutal, apalagi dengan bintang-bintang seperti Donnie Yen, Simon Yam, Sammo Hung, dan Jing Wu. Sekuelnya pun sempat direncanakan sejak lama, bahkan naskah yang sudah disiapkan sebagai sekuel bertransformasi jadi film lain berjudul Fatal Move (2008). Akhirnya tahun 2014, barulah terealisasi produksi sekuelnya yang resmi. Tak main-main, SPL 2 ternyata sempat berhasil menjadi box office nomer 2 di Cina, di belakang Jurassic World, dan nomer 3 worldwide box office di belakang Jurassic World dan Inside Out.

Tak perlu ragu atau takut untuk menyaksikan SPL 2: A Time for Consequences tanpa menonton SPL pertama, karena SPL 2 punya storyline yang berbeda jauh meski Simon Yam dan Wu Jin kembali di sekuelnya. Mereka berdua memerankan karakter yang berbeda dengan di SPL pertama. Masih bermain-main di lingkup cops vs crooks, hanya saja kali ini Lai-yin Leung memasukkan cukup banyak bumbu yang lebih menggigit di naskahnya. Jing Wu yang di seri pertama memerankan karakter villain, kali ini memegang karakter polisi utama, Kit, yang memburu sindikat penjualan organ tubuh illegal, di bawah supervisi pamannya, Wah (Simon Yam). Sementara itu di Thailand, seorang petugas penjara, Chai (Tony Jaa) yang bingung karena putrinya harus segera menemukan donor sumsum tulang belakang karena leukemia, ditakdirkan untuk bertemu dengan Kit dan masuk dalam pusaran kasus kejahatan internasional yang melibatkan polisi korup dan bos sindikat, Hung (Louis Koo). Plot ini jadi menarik karena konsep fate yang mau tak mau mengharuskan banyak faktor kebetulan. Well, in this case, saya tidak pernah mengeluh dengan faktor kebetulan dalam film, karena saya sendiri percaya kebetulan itu memang selalu terjadi dalam kehidupan, as it has already designed by someone. Pun, plot serba terkait dan kebetulan ini juga memperkuat serta memperjelas konsep Sha Po Long atau tiga bintang yang filosofinya menjadi judul.

Namun yang terbaik dari SPL 2 tidak hanya dari naskahnya yang mampu mengait-ngatikan berbagai peristiwa namun masih dalam logika yang masuk akal, tapi juga bagaimana sutradara Cheang Pou-Soi (Dog Bite Dog, Shamo, dan The Monkey King versi 2014) mampu menjahit kesemuanya dengan porsi yang serba pas serta keseimbangan antara aksi adrenaline tinggi dan drama yang menguras emosi. Tak usah mempertanyakan adegan-adegan aksi martial art brutal yang porsi dan tingkat keseruannya meningkat cukup drastis. Bahkan beberapa adegan aksinya termasuk never before seen dan ikonik. Apalagi ada beberapa adegan aksi yang diiringi lagu yang calming dan (bahkan) musik klasik Vivaldi. Epic!

Tak hanya itu, tanpa mengurangi intensitas adegan-adegan aksinya, Pou-Soi mampu menyelipkan adegan-adegan drama yang berhasil menyentuh secara maksimal tanpa terasa terlalu menye-menye pula. Mungkin ‘jahitannya’ terasa agak kasar, namun masing-masing aspek yang dihadirkan sama-sama berhasil dengan maksimal. Hasilnya, SPL2 seperti perkawinan yang harmonis antara martial art brutal dengan drama kemanusiaan yang sangat menyentuh. Toh ‘jahitan’ yang agak kasar punya tujuan untuk tidak menurunkan intensitas adegan-adegan aksinya sebagai sajian utama. Pou-Soi juga berhasil mengatasi kendala bahasa (Thai dan Cantonese) dengan memanfaatkan emoji yang bikin tersenyum.

Sebagai dua karakter utama, Tony Jaa dan Wu Jing mampu memainkan perannya dengan sangat baik. Tak hanya saat adegan-adegan baku hantam, tapi juga drama menyentuhnya. Louis Koo memainkan peran villain dengan begitu kharismatik dan bengis di balik fisiknya yang tampak rapuh. Simon Yam meski tak begitu terasa menonjol karena kekuatan 2 karakter utamanya, masih mampu menarik simpati penonton. Zhang Jin sebagai kepala penjara pun tak kalah bengisnya ketimbang Louis Koo.

Kekuatan teknis terutama terletak pada sinematografi yang merekam tiap koreografi dan latar dengan sangat indah, termasuk long take adegan prison riot yang dengan 'liar' mengajak penonton keliling penjara, serta tentu saja editing yang cekatan namun cermat menjahit adegan-adegan menjadi kesatuan yang seimbang. Tak ketinggalan tata suara yang terdengar mantap tanpa terasa berlebihan seperti SPL pertama, serta musik yang banyak menggunakan score klasik untuk menambah feel epic adegan-adegannya, tanpa (lagi-lagi) terasa berlebihan bak sinetron seperti SPL pertama.

So buat yang suka film aksi martial art brutal seperti The Raid, SPL 2 jelas haram untuk melewatkannya di layar lebar. As for me, ia sudah masuk daftar saya untuk salah satu film aksi terbaik tahun ini, worldwide.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Terminator Genisys

The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1990) memang jadi titik penting bagi perfilman Hollywood, terutama untuk genre action dan sci-fi. Tak hanya sukses secara komersial, keduanya juga masuk berbagai daftar terbaik sepanjang masa. Namun sayangnya franchise yang satu ini tak membawa banyak keberuntungan bagi production company yang memproduksinya, sehingga haknya harus berkali-kali pindah tangan, begitu juga dengan distributor yang berganti-ganti. Installment ketiga, Terminator 3: Rise of the Machins (2003) mungkin tak punya banyak signifikasi cerita yang berjalan, selain sekedar mengulang premise. Tapi setidaknya ia menampilkan Teriminator wanita, TX, yang diperankan dengan cukup ikonik oleh Kristanna Loken, yang menurut saya menjadikannya cukup memorable. Dilanjutkan installment keempat, Terminator Salvation (2009) yang secara cerita sebenarnya cukup menarik dan punya kontinuiti yang baik dengan kedua seri pertamanya. Sayang, atmosfer post-apocalypse yang gelap melenyapkan ciri khas action thriller ala franchise Terminator sehingga menjadi tak begitu memorable, selain sekedar another post-apocalypse movie. Secara penghasilan, keempatnya sebenarnya masih menghasilkan ratusan juta dolar dan kalau dibandingkan dengan budget masing-masing installment, masih untung. Tapi bongkar-pasang hak, kontroversi review dan di belakang layar, menjadikan franchise Terminator tak berjalan semulus franchise-franchise besar lainnya. Secara storyline, keempatnya sudah mengobrak-abrik timeline sedemikian rupa hingga penonton yang mengikuti pun sudah pasti bingung, apalagi dengan melibatkan time travel. Ini masih belum termasuk serial Sarah Connor Chronicle.

Maka upaya installment kelimanya, Terminator Genisys (TG) masih menjadi sebuah pertaruhan. Di tangan production company baru, Skydance Productions milik Paramount yang pernah sukses dengan franchise Mission: Impossible, TG berusaha untuk meyakinkan penggemar aslinya sekaligus mencoba mengenalkan pada penonton generasi baru, seperti yang juga dilakukan oleh franchise-franchise besar berusia di atas 20 tahun lainnya. Apalagi ada gimmick, TG adalah installment yang mendapatkan restu dari James Cameron, sang kreator, sebagai sekuel yang paling pas untuk The Terminator dan T2.

Berbagai upaya dilakukan, termasuk yang paling utama menghadirkan kembali adegan-adegan dan elemen-elemen dari kedua seri pertamanya. Tujuannya, apalagi kalau bukan membawa nostalgia kepada para penggemar aslinya. Kesemuanya ditampilkan dalam konteks cerita yang masih logis, yaitu membawa Kyle Reese ke masa lalu ketika pertama kali T-800 model 101 dikirim untuk menghabisi Sarah Connor sebelum mengandung John Connor. Muncul pula T-1000 meski kini harus berwajah Korea. Bedanya, kali ini TG mengobrak-abrik kejadian demi kejadian dari kedua seri pertama itu, dengan dalih mereset timeline dan memperbaiki banyak kesalahan yang pernah dibuat di installment-installment sebelumnya. Sedikit mengingatkan kita dengan upaya yang dilakukan oleh franchise X-Men lewat Days of Future Past. Namun TG rupanya gagal melakukan upaya yang sama. Penyebabnya cukup banyak. Mulai motivasai yang sudah usang karena diulang-ulang di setiap installment, karakteristik keseluruhan karakter utama yang berubah drastis, plot yang seperti berusaha twist di mana-mana tapi justru jatuhnya jadi berlebihan dan bikin capek untuk diikuti. Well come on, menalar logika secara timeline di setiap installment saja sudah bikin pusing dan capek, penonton (terutama saya) masih harus diajak untuk menerima kenyataan-kenyataan yang pahit dalam plot cerita. Serius, saya merasa kelelahan dan mulai muak untuk mengikuti plot ceritanya.

Jika Anda bukan termasuk penggemar slash penonton kedua installment pertamanya, dan memilih untuk mengacuhkan pusaran plotnya serta membiarkan plotnya mengalir begitu saja, tenang saja. Setidaknya Anda masih bisa dihibur dengan gelaran adegan-adegan aksi yang spektakuler, khas summer blockbuster. Namun jika Anda mengharapkan adegan aksi dengan thrill ala T2, maka Anda juga akan kecewa. Alih-alih menghadirkan thrill intensitas tinggi seperti T2, TG memilih untuk mengubah semua atmosfernya menjadi fun. Sarah Connor yang aslinya depresif dan tangguh, pun berubah menjadi fun badass, Arnie (baca: Arnold Schwarzenegger) yang biasanya selalu tampil garang, kali ini juga harus berubah drastis jadi orang tua yang tampak kelelahan, berusaha senyum, meski masih belum kehilangan kharisma seorang action hero. As for me, saya sudah terlalu lelah untuk bisa menikmati adegan-adegan aksinya.

Dengan ‘kacamata baru’ ketika menonton TG, terlepas dari perubahan karakteristik karakter yang diperankannya, Emilia Clarke sebenarnya tampil cukup menarik perhatian sebagai seorang kickass female lead. Apalagi secara fisik punya kemiripan dengan Linda Hamilton. Jai Courtney mungkin tidak sekharismatik Michael Biehn sebagai Kyle Reese, namun setidaknya ia mampu membuat penonton bersimpati pada karakternya. Sementara Jason Clarke meski tak tampil buruk, namun perubahan drastis karakter John Connor yang diperankannya membuat saya kurang menyukai penampilannya. Di jajaran pemeran pendukung, J.K. Simmons mampu mencuri perhatian meski screen presence-nya tak banyak. Lee Byung-hun terasa aneh memerankan T-100 yang dulunya diperankan oleh Robert Patrick, tapi masih acceptable.

Tak usah diragukan untuk visual effect yang semakin tampak real meski tak ada yang benar-benar baru. Sementara divisi sound cukup memberikan energi dalam membangun adegan-adegan aksinya. Fasilitas Dolby Atmos beberapa kali terasa dimanfaatkan dengan cukup, namun juga tak terlalu spektakuler maupun hidup.

Shortly, dengan treatment ala another summer blockbuster action movie, TG mungkin lebih ditujukan untuk penonton awam maupun yang tidak begitu familiar dengan installment-installment sebelumnya. Fun dan eye-candy. Tentu penonton ataupun penggemar kedua installment pertama yang setidaknya sekedar mengharapkan atmosfer yang serupa, harus keluar dari teater dengan kecewa.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates