Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Sunday, August 31, 2014

The Jose Movie Review
Lucy



Overview

Luc Besson dikenal sebagai sineas Perancis yang konsisten di jalur mainstream ala Hollywood di saat sinema Perancis kebanyakan punya signatural sendiri yang cenderung mengarah ke art house. Maka tak heran jika karirnya di Amerika Serikat lebih bersinar ketimbang sineas-sineas Eropa lainnya. Meski style film-filmnya (terutama dari segi pola storyline) sangat Hollywood dan dapat dengan mudah dinikmati,  tiap filmnya tetap punya konsep yang unik. Sebut saja Arthur & the Invisibles, La Femme Nikita, The Fifth Element, Leon: The Professional, dan Malavita. Bahkan di film-film dimana ia hanya bertindak sebagai produser pun juga termasuk punya tema unik, seperti Taxi, District B13, franchise Transporter, dan Taken. Simple namun unik dan menarik kan?

Maka ketika trailer Lucy dirilis, siapapun yang menikmati film-film aksi khas Besson langsung antusias. Bahkan yang tidak mengenal nama Luc Besson, setidaknya bisa mengharapkan perpaduan non-stop action dari kick-ass chick ala Salt dipadukan dengan cerita sci-fi ala Limitless. Hasil akhirnya memang benar punya perpaduan kedua elemen tersebut, namun ternyata Besson masih mengaduknya dengan elemen-elemen lain yang membuat Lucy menjadi bukan sekedar film aksi semata. Efeknya bisa beragam, tergantung ekspektasi dan preferensi penonton.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan perpaduan mindless action yang seru dengan elemen sci-fi sebagai bumbu, jika takarannya sama-sama pas. Sayangnya, Lucy termasuk yang perpaduannya saling tumpang tindih, kurang mampu menyatu menjadi hasil akhir yang nyaman untuk dinikmati dan juga gagal untuk mempertahankan konsistensi racikan. Awal hingga pertengahan film, Lucy menjadi film action simple yang seru khas Besson. Storyline-nya pun masih mampu membuat saya tertarik dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi di awal-awal film, Besson menyisipkan stock-stock wildlife ala Animal Planet secara bergantian, seolah alegori dari adegan present time yang dialami karakter Lucy. Namun mulai pertengahan, terutama setelah kemampuan karakter Lucy semakin bertambah, film berubah menjadi semakin mengada-ada dan terlalu banyak menghabiskan durasi untuk menjelaskan aspek sci-fi-nya.

Seperti headline yang saya tulis di atas, Besson yang duduk sebagai penulis naskah sekaligus sutradara di sini, membiarkan fantasi liarnya melambung terlalu tinggi sehingga terkesan super khayal dan at some point, silly. Berbeda dengan Limitless dimana juga sama-sama memakai konsep “what will happen when someone uses 100% of his/her brain capacity when average person only use 10%?” dan sama-sama punya status sebagai “fantasi”, namun masih memvisualisasikannya secara wajar dan logis. Saya masih dibikin penasaran dengan apa saja kemampuan yang dimiliki Lucy di setiap fase efek kerja obatnya, tapi sudah tidak begitu peduli lagi dengan nasib Lucy selanjutnya sebagai manusia. Karakter Lucy yang awalnya menarik dan bikin penasaran, hingga puncaknya mampu membuat saya tersentuh saat adegan menelepon sang ibu, berubah menjadi melelahkan dan semakin jauh dari sisi manusiawi. Siapapun akan berpikir, siapa yang peduli lagi dengan nasib Lucy, toh dia menjadi tak terkalahkan? Once again, menarik bagi beberapa penonton, namun unsur fantasinya jelas terasa berlebihan. Eventually, bukannya penonton bakal lebih memilih untuk menyaksikan Scarlett Johansson menghajar bajingan-bajingan sampai babak belur dan berdarah-darah ketimbang berubah menjadi… ah sudahlah, lebih baik tonton saja sendiri kalau penasaran.

The Casts

Eksistensi Scarlett Johansson sebagai hot kick-ass chick semakin kukuh dengan peran Lucy yang cukup remarkable, sejajar dengan karakter Black Widow di franchise The Avengers yang sudah lebih dulu melekat pada dirinya. Kemampuan aktingnya pun terasa semakin terasah dengan baik. Beragam fase karakternya di sini; mulai gadis naif yang kebingungan, smart and powerful kick-ass chick, hingga touching moment ketika menelepon sang ibu di meja operasi. Kesemuanya berhasil memainkan emosi saya sesuai porsinya. A very cool performance.

Sementara Morgan Freeman dan Amr Waked yang sebenarnya punya porsi tampil yang cukup besar, masih kalah dalam hal menarik perhatian penonton. Justru penampilan Choi Min-Sik (pemeran Oh Dae-su di Oldboy versi asli Korea) sebagai bos mafia Mr. Jang, dan Analeigh Tipton (salah satu kontestan America’s Next Top Model), lebih mencuri layar ketika tampil, meski masing-masing punya durasi yang tergolong minim.

Technical

Seperti film-film Besson sebelumnya, tata kamera dan editing yang dinamis menjadi aspek utama yang menggerakkan keseruan film. Ditambah visual effect yang beberapa tampak keren, meski ada juga CGI yang terlihat kasar, seperti saat adegan fisik Lucy yang mulai hancur dan CGI efek obat di dalam tubuh Lucy yang mengingatkan saya akan visualisasi Crank.

Tata suara cenderung biasa saja. Sesuai dengan kebutuhan adegan namun tak ada yang istimewa, termasuk dalam pemanfaatan efek surround yang tidak terdengar begitu mencolok. Scoring dari Eric Serra cukup mampu memberikan energi sesuai dengan mood film keseluruhan yang dinamis. Ditambah sumbangan track Sister Rust dari frontman Blur dan Gorillaz, Damon Albarn yang dengan kerennya mampu merepresentasikan film secara keseluruhan.

The Essence

Manusia boleh saja terus berevolusi dalam perkembangannya dari generasi ke generasi. Namun tujuannya masih sama dengan tujuan sebuah sel sederhana yang membelah diri: to pass it on to others.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang terbuka atas aspek sci-fi-nya
  • They who don’t opppose Darwin’s evolution theory
  • Penonton yang mencari hiburan film action seru (dan brainless) tanpa mempedulikan logika
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Guardians of the Galaxy



Overview

Marvel Enterprise terus melebarkan sayapnya di dunia sinema, terutama setelah dibeli oleh Disney, dan selalu meraup keuntungan yang luar biasa di setiap installment-nya. Salah satu faktornya bisa jadi adalah konsep besar yang mana mengindikasikan bahwa cerita dan karakter-karakter di dalamnya berada di dalam sebuah universe yang sama, dan saling “mempromosikan” dalam bentuk after credit scene. Mungkin sebenarnya tak secara langsung berkaitan, tapi berada dalam sebuah universe yang sama bisa jadi keuntungan. Setidaknya penonton akan selalu penasaran. Terbukti strategi ini sangat berhasil. Di samping tentu saja kualitas per film yang memang digarap dengan sangat baik.

Teaser Guardians of the Galaxy (GotG) sendiri sempat muncul di after credit Thor: The Dark World tahun lalu. Namun tak banyak informasi jelas saat itu, apalagi bagi penonton yang belum mengenal kisah GotG. Jawaban jelas baru muncul ketika GotG akhirnya dirilis ke pasaran. Sedikit berbeda dengan kisah-kisah superhero Marvel yang tergabung dalam The Avengers, GotG lebih berfokus pada kisah luar angkasa seperti Star Wars. Tiga perempat film bersettingkan di luar angkasa dan planet-planet lain yang mau tidak mau mengingatkan saya akan planet Naboo dan Tatooine dari seri Star Wars, serta kota masa depan yang pernah ditunjukkan di Star Trek versi J. J. Abrams. Begitu juga dengan desain-desain karakter yang jelas-jelas bak perpaduan dari dua franchise luar angkasa akbar itu. Yang membedakan adalah nuansa cerita yang lebih mendekati kebanyakan cerita Marvel lainnya; fun, tidak terlalu serius, dan seru. Jadilah GotG hiburan yang fresh di genre fantasy-sci-fi- adventure.

Cerita GotG sendiri sebenarnya tergolong sederhana dan cukup cliché di genre sci-fi adventure. Sekelompok bounty hunter yang masing-masing punya kepentingan sendiri, harus bekerja sama agar bisa mendapatkan sebuah orb yang juga menjadi rebutan banyak pihak. Belum lagi ternyata ada sosok villain yang ikut memburu dan tak segan-segan menghabisi siapa saja yang menghalangi, dengan tujuan utama, apalagi kalau bukan menguasai alam semesta. Jelas cerita yang sudah berkali-kali diangkat dan merupakan campur-aduk dari berbagai cerita yang sudah ada, bisa jadi biasa saja jika treatment-nya tidak istimewa. Untungnya tim penulis GotG mampu meramu kisah sederhana tersebut menjadi kisah yang menarik untuk diikuti. Kekuatan utama jelas pada desain karakter-karakter yang kuat, unik, punya porsi yang pas, dan mampu dihidupkan dengan sangat baik oleh tiap cast-nya.

James Gunn pun mampu memvisualisasikan konsep besar cerita dengan segar, seru, menyenangkan, dan jauh dari kesan membosankan meski punya durasi yang lumayan panjang untuk tipe film sejenis. Belum lagi pemilihan soundtrack lagu-lagu dari era 70-80’an yang nge-blend dengan nuansa film secara keseluruhan, dan menjadikannya ke-khas-an tersendiri bagi franchise GotG.

The Casts

Sebagai karakter utama, Chris Pratt yang sebelumnya tidak terlalu populer dan hanya mengisi peran-peran pendukung, tak disangka-sangka mampu tampil remarkable. Karakter Peter Quill yang komikal tapi juga kick-ass berhasil dihidupkannya dengan sempurna. Begitu juga dengan Zoe Saldana yang sekali lagi harus berada di balik kulit berwarna (dari biru di James Cameron’s Avatar menjadi hijau di sini), membuktikan diri bahwa dia memang bagus dalam memerankan karakter kick-ass chick. Bradley Cooper meski hanya melalui suara juga berhasil mencuri perhatian lewat karakter Rocket. Sementara karakter Groot jelas banyak menjadi favorit penonton berkat karakteristiknya, ditambah suara Vin Diesel yang meski hanya melafalkan dua kata: “I’m Groot”.

Strategi yang bagus untuk mengisi peran-peran pendukung dengan nama-nama terkenal. Dengan mudah penampilan mereka menarik perhatian meski porsinya sangat sedikit. Sebut saja Benecio Del Toro, Glenn Close, dan John C. Reilly. Alhasil kehadiran karakter-karakter mereka juga ikut diingat dengan mudah oleh penonton.

Technical

Sebagai sebuah fantasy sci-fi, GotG jelas butuh desain produksi yang mumpuni. Meski mengingatkan akan berbagai universe sci-fi fantasy lainnya, Charles Wood mampu membangun universe GotG tetap menjadi unik dengan warna-warni yang lebih cerah. Didukung pula sinematografi Ben Davis yang mampu merekam semuanya dengan cantik dan sesuai dengan kebutuhan. Tata suara yang mendukung keseruan adegan juga turut memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam menghidupkan film. Termasuk efek surround yang dimanfaatkan secara maksimal.

Gimmick 3D yang ditawarkan pun termasuk impressive. Depth-nya sangat terasa dengan beberapa adegan pop-out yang memanjakan mata. Namun trik 3D yang paling berhasil adalah adegan-adegan yang di-shot begitu dekat dengan objek sehingga seringkali memberikan efek pop-out ke arah penonton. Sangat worth to try.

Pemilihan musik era 70-80’an sangat tepat untuk mengiringi cerita yang ceria dan “berwarna-warni”. Hasilnya sebuah paket hiburan yang segar. Di sisi lain, lagu-lagu yang sempat populer di eranya seperti Hooked on a Feeling, Cherry Bomb, Ain’t No Mountain High Enough, dan I Want You Back jadi populer lagi dan tak terasa seperti lagu-lagu jadul.

The Essence

Selalu ada tujuan tertentu lainnya yang jauh lebih besar dan hanya bisa dicapai jika bersatu dan saling bekerja sama, ketimbang hanya memprioritaskan motif pribadi masing-masing.

They who will enjoy this the most

  • Sci-fi fantasy adventure’s fans
  • Marvel Universe’s fans
  • The original comic book’s fans
  • General audiences who seek for an exciting entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling
  • Best Achievement in Visual Effects

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 29, 2014

The Jose Movie Review
Journey to Jah



Kita mengenal ada cukup banyak frase yang menggambarkan musik. Ada yang mengatakan musik adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh berbagai bangsa meski memiliki bahasa yang berbeda-beda. Ada pula yang mengatakan musik adalah salah satu bentuk ekspresi jiwa, yang tentu saja erat kaitannya dengan spiritualisme. Tentu saja setiap orang punya impresi dan referensi masing-masing tentang musik dan berbagai jenis aliran dan genre yang disukainya, terlepas dari apa pun teorema-teorema tentang hubungan musik dengan manusia.

Journey to Jah (JtJ) adalah salah satu film dokumenter yang berusaha menelusuri seberapa jauh pengaruh musik, dalam konteks ini musik reggae, terhadap berbagai aspek manusia, salah satunya spiritualitas, serta bagaimana musik bisa menjadi ekspresi budaya suatu masyarakat. Bukan tanpa alasan mengapa dipilih judul Journey to Jah yang juga merupakan judul single dari Gentleman, salah satu tokoh utama di film. Jah pada judul adalah istilah kaum Rastafari untuk menyebut kata Tuhan. Berasal dari kata Yahwe atau bisa juga kependekan dari istilah “Halelluyah”. Di Indonesia, paham Rastafari dan musik reggae memang bukan termasuk hal populer. Oke, kita mungkin punya beberapa nama artis reggae yang sempat populer, namun jumlahnya sangat sedikit dibandingkan genre-genre lainnya. Maka nama tokoh-tokoh utama yang diperkenalkan di JtJ; Tilman Otto alias Gentleman dan Alberto D’Ascola alias Alborosie, masih terdengar asing di telinga penonton Indonesia. Tak masalah, untungnya JtJ cukup jelas memperkenalkan keduanya di awal film.

Rupanya sebagai sebuah dokumenter, JtJ tak mau hanya berfokus dari kacamata perjalanan Gentleman dan Alborosie saja. Atas nama memberikan gambaran yang konkret tentang musik reggae dan Rastafari, serta sejarahnya yang akurat, muncul pula Prof. Dr. Carolyn Cooper, yang menjelaskan dengan detail keadaan sosial masyarakat Jamaika dan kaitannya dengan musik reggae serta ajaran Rastafari. Menarik dan sangat memperkaya wawasan penontonnya, bahkan bagi yang benar-benar awam tentang musik reggae.
Film dokumenter bergaya reportase, lengkap dengan interview-interview seperti ini bisa jadi lebih membosankan ketimbang mengambil salah satu karakter sebagai sudut pandang dan dengan satu fokus subjek. Namun rupanya duet sutradara Noël Dernesch dan Moritz Springer tak ingin hanya memberikan sepotong-sepotong informasi tentang subjeknya. Hasil kerja keras selama 7 tahun demi memberikan gambaran lengkap tentang kultur Jamaika, terutama reggae dan kaitannya dengan berbagai variabel kondisi sosial asal negaranya.

Awalnya penonton seolah diajak untuk berpikir bahwa musik tidak mengenal batasan wilayah dan kultur, lewat sosok Gentleman. Pemuda Jerman yang memiliki “kelebihan” dalam berbicara dengan bahasa dan logat Jamaika, padahal ia asli kaukasian Jerman. Keajaiban inilah yang menjadi modal kesuksesannya di scene musik reggae. Masyarakat Jamaika pun mengelu-elukannya. Di Jamaika, dengan bantuan produser musik Jack Radics dan sopirnya, Natty, Gentleman mengenal lebih dalam makna di balik musik reggae dan dogma Rastafari. Kemudian penonton diajak untuk mengenal Rastafari sebagai spiritual atau semacam “agama” seperti yang dirasakan oleh Alborosie. Serupa dengan Gentleman, Alborosie adalah pemuda Italia yang besar di lingkungan mafia dan juga sukses sebagai artis reggae. Bedanya, di satu titik Alborosie memutuskan untuk meninggalkan Italia untuk lebih mendalami akar musik yang ia bawakan di kampung halamannya: Jamaika. Alborosie justru menemukan spiritualitas lewat musik reggae dan Rastafari di Jamaika setelah bertahun-tahun mempertanyakan berbagai hal dalam hidupnya lewat agama.

Lantas keberadaan Gentleman dan Alborosie dikontraskan dengan kehadiran Terry Lynn, artis wanita yang dibesarkan di lingkungan ghetto di Kingston, kota terbesar di Jamaika. Uniknya, meski lahir dan besar di Jamaika, ia justru jauh dari musik reggae maupun ajaran Rastafari. Aliran musik yang dibawakan nya pun beragam, mulai pop rock hingga techno-dance. Namun lirik-liriknya berisi tentang kritik sosial, kekerasan, dan seks. Tiga hal yang tak jauh-jauh dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Dalam satu adegan Terry digambarkan sedang mengadakan konser di Berlin. Seolah Gentleman dan Terry Lynn ‘bertukar’ ruang namun memiliki kultur yang sama.

Kemudian satu per satu, Jack Radics dan Prof. Dr. Carolyn Cooper, seorang profesor asli Jamaika yang menjelaskan pengalamannya serta sejarah kultur dan sosial masyarakat Jamaika. Bahkan sampai menjelaskan sejarah bagaimana tari erotis menjadi bagian dari musik mereka. Unik, namun terkesan acak dan rakus ingin menceritakan semua tentang musik reggae, dari A sampai Z. Bisa jadi literatur yang komprehensif dan akurat, namun potensinya adalah membuat penonton bosan.

Untung saja kemasan JtJ sangat indah, baik secara visual maupun audio. Malah untuk ukuran sebuah dokumenter, kualitas gambar JtJ setara dengan film feature fiksi narasi Hollywood. Belum lagi dukungan shot-shot cantik, termasuk untuk stock-stock footage yang hanya digunakan sebagai filler, dan juga color grading yang warm khas Jamaika, bak filter Instagram. Tak ada yang istimewa di editing. Cukup mampu membuat flow yang enak dinikmati meski strukturnya agak random dan terkesan jumbled. Sementara secara audio, beruntung ia punya ‘koleksi’ lagu-lagu reggae yang tak hanya asyik didengarkan, namun lirik-liriknya juga mampu memberikan narasi tersendiri di setiap adegan.

JtJ sungguh bak sajian lengkap from A to Z tentang musik pada umumnya, dan reggae pada khususnya. Saya mendapatkan cukup banyak hal baru dan semangat-semangat positif darinya, baik itu dari segi spiritualitas maupun segi sosial. Saya yakin siapa pun yang menonton juga punya kesempatan menemukan hal yang sama.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 25, 2014

The Jose Movie Review
Yasmine

Overview

Jika mendengar nama Brunei Darussalam, yang langsung muncul di benak kita adalah negara tetangga yang kaya raya berkat sumber daya alam minyaknya. Tapi untuk urusan perfilman, ternyata Brunei masih jauh tertinggal. Maka ketika muncul sebuah film yang mengklaim diri sebagai tonggak kebangkitan perfilman mereka (meski tidak bisa juga dikatakan film layar lebar pertama mereka) yang dibuat dengan kualitas teknis mumpuni, Yasmine menjadi menarik. Apalagi kita yang di Indonesia boleh berbangga karena menyumbangkan beberapa tenaga terbaik kita untuk mengisi departemen-departemen penting dalam produksinya.

Memilih tema seni bela diri pencak silat dan coming of age merupakan pilihan yang menarik, meski bukan lagi blend yang benar-benar baru. Di Hollywood sendiri sudah ada Karate Kid yang begitu fenomenal. Namun untungnya Yasmine berhasil menjadi identitasnya sendiri, dengan aspek-aspek local content yang unik. Naskah Yasmine ditulis oleh salah satu penulis naskah terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini, Salman Aristo. Seperti biasa, Salman menuliskan naskahnya dengan rapi, terutama dari segi alur dan perkembangan karakter. Tapi kali ini naskah Salman tak sampai terperosok menjadi kisah yang terlampau mulus dan tanpa rintangan yang berarti, seperti yang sering terjadi pada naskahnya. Meski plotnya termasuk generik, Salman mampu menjadikannya tetap menarik dan terasa segar, dengan karakter-karakter yang dikembangkan dengan baik pula.

Penyajian dari sutradara wanita baru, Siti Kamaluddin, pun turut memberikan nafas yang segar dan sangat menghibur bagi Yasmine. Tak ada kisah remaja yang serba menggurui meski negaranya termasuk negara yang menerapkan syariat Islam. Karakter-karakternya digambarkan manusiawi seperti remaja yang memberontak sesuai dengan jamannya, bukan serba alim dan sempurna. Tak hanya karakter-karakter remajanya, tetapi juga karakter-karakter dewasa yang biasanya diwajibkan menjadi teladan yang serba sempurna pula. Itulah salah satu aspek yang membuat Yasmine karya yang menyenangkan dan menghibur, di samping nuansa segar dan ceria yang sudah diusung sejak awal film. Sedikit twist cerita di menjelang akhir film, juga cukup patut diapresiasi dan juga memberikan essence value yang lebih dari cerita.

Jika ada yang terasa minus, mungkin dari segi logika cerita. Misalnya yang paling mencolok adalah bagaimana mungkin ayah Yasmine tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah internasional, sementara Yasmine sendiri diberi mobil Mini Cooper untuk dipakai sehari-hari. Well kalau mau berpikir positif, mungkin saja di Brunei harga Mini Cooper termasuk terjangkau dibandingkan biaya menuntut ilmu di sekolah internasional. Lagipula, atas nama membuat tampilan visualnya tampak lebih fancy dan keren, saya masih bisa memakluminya.

The Casts

Beruntung naskah memberikan perkembangan-perkembangan karakter yang baik untuk aktor-aktornya. Beruntung pula ternyata hampir semua pengisi karakter utama maupun pendukung mampu tampil memikat, termasuk juga dalam menjalin chemistry antar karakter. Terutama sekali Liyana Yus yang meski mendapatkan beban sebagai karakter utama dan porsinya sangat mendominasi, ternyata mampu menghidupkan karakter Yasmine dengan sangat baik. Perubahan-perubahan emosi dapat ditampilkan dengan wajar namun tetap menarik. Begitu juga Roy Sungkono dan Nadiah Wahid yang memerankan karakter sahabat-sahabat Yasmine, cukup memorable sesuai dengan porsinya, serta memberikan chemistry persahabatan yang terasa solid dan mengalir dengan segala ups and downs-nya. Sementara karakter antagonis Dewi yang diperankan oleh Mentari De Marelle menjadi pencuri layar tersendiri berkat kecantikan fisik serta aktingnya yang cukup menarik. Anda bisa sekali lagi menyaksikan aktingnya di Malam Minggu Miko Movie.

Di jajaran cast pendukung yang diisi oleh aktor-aktor senior, menjadikan Yasmine lebih menarik lagi. Tak usah diragukan lagi kekuatan akting Reza Rahadian yang tetap saja menarik perhatian seberapa kecil pun perannya. Dwi Sasono juga memberikan performa komedik yang pas, tak sampai mengganggu nuansa film secara keseluruhan dengan karakternya yang nyentrik. Agus Kuncoro yang baru muncul menjelang pertengahan film, seperti biasa memberikan performa terbaik sebagai karakter wise dan serius. Sedikit berbeda dengan kebanyakan peran yang dilakoninya selama ini. In the end, tentu saja tak perlu mengomentari aksen Melayu dari ketiga aktor senior Indonesia ini yang teredengar sangat fasih dan tanpa terasa dibuat-buat. Pantaslah reputasi mereka di tanah air hingga dipercaya di produksi negara tetangga.

Technical

Bukan tanpa tujuan, Yasmine menyewa tenaga profesional asing dari berbagai negara untuk menyusun komponen-komponen teknisnya. Terutama sekali adalah sinematografi dari James Teh (Australia) yang berhasil menangkap berbagai aspek local content dengan cantik lewat adegan-adegan landscape, maupun juga menangkap emosi dengan pas dengan shot-shot close up-nya. Nuansa ceria khas remaja, keseruan pertandingan silat, emosional hubungan antar karakter, mampu ditampilkan secara maksimal melalui sinematografi. Begitu juga editing Cesa David Lukmansyah yang bisa merangkai segala emosi yang ada menjadi sebuah satu sajian roller coaster yang mengalir dan enak diikuti.

Scoring dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti semakin mengukuhkan diri sebagai penata musik yang serba bisa dalam menghidupkan adegan. Diimbangi tata suara yang mantap dari Khikmawan Sentosa dan theme song signatural dari  Nidji, menjadikan audio Yasmine terdengar sangat pas dan nyaman untuk didengarkan.

The Essence

Masa peralihan dari remaja ke dewasa bukanlah masa yang mudah. Tapi justru melalui berbagai proses yang tidak mudah dan punya banyak halangan serta tantangan lah yang biasanya menemukan jati diri yang sebenarnya. Tak hanya soal apa yang menjadi passion, tetapi juga menemukan esensi yang tepat dari passion tersebut, sehingga tidak sampai meniti jalan yang salah.

They who will enjoy this the most

  • Teenagers, especially around 11-18 years old
  • Martial art enthusiast
  • Audiences who like father-daughter relationship story
  • General audiences who seek for light and fun entertainment

Lihat data film ini di IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 19, 2014

The Jose Movie Review
The Expendables 3

Overview

Di atas kertas, ide mengumpulkan bintang-bintang film action legendaris lawas ke dalam satu layar adalah ide yang menarik. Sayang konsep besar installment The Expendables pertama kurang digarap dengang kuat, ditambah dengan style serta nuansa ala film action 80-an yang sudah tidak begitu relevan dengan selera penonton saat ini. Beruntung installment ke-dua memiliki style yang lebih ‘ramah’ dengan selera penonton saat ini sehingga lebih bisa dinikmati lebih banyak penonton, meski secara keseluruhan masih terasa seperti film action kelas B (straight to video) karena belum punya pijakan konsep dasar yang cukup kuat. Maka installment ke-tiga (seharusnya) menjadi kesempatan untuk menyempurnakan elemen-elemen yang disukai dari installment-installment sebelumnya. Dan rupanya PR besar itu cukup mampu dipenuhi oleh hampir seluruh tim yang terlibat.

Sejak adegan pembuka, saya cukup terkesan dengan improvement yang dibuat di The Expendables 3 (Ex3) ini. Hampir semua elemen-nya digarap dengan treatment yang selayaknya didapatkan dari konsep semenarik all-action-stars-packed seperti The Expendables ini. Dimulai dari pijakan konsep besar yang akhirnya cukup matang: action heroes’ post-power syndrome. Plotnya pun dikembangkan secara menarik dengan memasukkan karakter-karakter baru yang secara generasi memang lebih muda, persiapan sebagai bridging ke installment-installment berikutnya jika berniat dibuat. Skrip pun diperkuat dengan koneksi antar karakter yang jauh terasa lebih nyata dan berkembang ketimbang installment-installment sebelumnya, terutama karakter Barney Ross dan Lee Christmas. Klise sih, tapi siapa yang peduli? Franchise pop seperti ini tak butuh skrip yang orisinal atau rumit. Konsep besar yang matang, jelas, dan terarah sudah lebih dari cukup untuk membangun elemen-elemen hiburannya menjadi renyah di atasnya, bukan? Toh, skrip juga menyelipkan cukup banyak dialog yang quotable dan punchline humor yang masih mempan.

Adegan-adegan action yang digelar, baik yang hanya dengan tangan kosong, senjata api, maupun ledakan, pun semuanya ditata dengan rapi, pace yang tepat, serta takaran yang pas. Menjadikan saya merasakan excitement yang cukup membuat beberapa kali berteriak “gila” secara spontan. Mulai aksi penyelamatan Doc sebagai pembuka film, hingga pertarungan one-on-one tanpa senjata Sylvester Stallone vs Mel Gibson yang mungkin menjadi impian penggemar film action pop-corn sejak lama. Kelonggaran rating dari R (Restricted) menjadi PG-13 agaknya hanya untuk menjaring penonton muda yang lebih banyak. Toh Ex3 masih menyisakan adegan-adegan sadis khasnya. Hanya minus darah yang bermuncratan dan detail adegan yang diambil secara longshot saja. Sound effect-nya masih tetap dimunculkan untuk tetap memberikan kesan ‘greget’. Tak ketinggalan karakterisasi tokoh-tokoh yang sengaja dibuat mirip dengan karakter legendaris yang pernah diperankan si aktor sebelumnya, seperti gesture dan signatural quote, untuk menambah sisi fun bagi yang familiar.

In the end tentu semuanya kembali kepada selera penonton masing-masing yang impresinya bisa berbeda-beda, tergantung dari seberapa jauh elemen-elemen yang ada relate dengan penonton. Tapi dengan dukungan yang serba mumpuni, serta hasil akhir yang jelas tampak digarap dengan treatment kelas A, The Expendables akhirnya menemukan ‘identitas’ yang pas dan setara dengan jajaran cast-nya. That’s why sayang sekali jika faktor-faktor luar (seperti kasus kebocoran copy di internet sebelum rilis di bioskop) sampai merusak hasil box office dan menghambat penggarapan kelanjutan franchise. Tentu Anda berharap melihat lebih banyak aktor-aktor action di satu layar kan seperti ini kan?

The Casts

Meski mendapatkan koneksi antar karakter yang lebih baik, penampilan gang asli Expendable masih tak beda dengan installment-installment sebelumnya. Stallone masih dingin meski kadang sisi kesepian dan lemahnya terlihat cukup jelas, sesuai dengan kebutuhan cerita. Lee Christmas masih yang paling bad-ass. Dolph Lundgren masih saja tampak dungu dan menyebalkan. Untung saja porsinya sudah jauh berkurang. Jet Li juga masih saja diberi porsi yang super minim jika tak ingin disebut sebagai sekedar kubu “penghibur”.

Di jajaran cast baru namun masih dari kubu ‘tua’, penampilan Harrison Ford (yang mengingatkan karakter Han Solo), Wesley Snipes (bak Simon Phoenix dari Demolition Man), Antonio Banderas (seperti gabungan karakter Puss in Boots dan Miguel dari Assassins), dan tentu saja Mel Gibson yang berkontribusi cukup banyak dalam menaikkan ‘kelas’ franchise The Expendables. Setidaknya Mel tampak menarik memerankan karakter villain.

Sayangnya di jajaran cast baru generasi muda, hanya nama Kellan Lutz dan Ronda Rousey yang punya nama. Sisanya tidak begitu dikenal sekaligus tidak begitu memorable. Meski memberikan performa akting yang tak jauh beda dari sebelumnya, setidaknya tampilan Kellan terlihat sedikit lebih berkelas. Sementara Ronda yang populer lewat ajang UFC jelas sosok yang pas untuk mengisi karakter wanita perkasa pun juga punya daya tarik seksual cukup tinggi.

Technical

Sebagai sebuah film action pop-corn, Ex3 punya tingkat keindahan sinematografi di atas rata-rata berkat angle-angle menarik dan komposisi frame yang cantik dari Peter Menzies Jr. Kredit berikutnya yang menonjol adalah score Brian Tyler yang membuat adegan-adegan aksi terasa lebih seru dan tetap terkesan elegan.

Pilihan soundtrack-soundtrack pengiring yang lebih bervariatif dalam hal genre sehingga mampu memberi warna yang juga beragam, terutama pada adegan perkenalan karakter-karakter muda.
Untuk tata suara tidak perlu diragukan lagi. Semuanya terdengar cukup detail dan juga memanfaatkan fasilitas surround dengan cukup maksimal.

The Essence

Post power syndrome jelas menjadi garis besar cerita franchise The Expendables. Jika yang pertama para jagoan-jagoan tua ini masih ‘hidup dalam fantasi’ mereka sebagai badass, maka di installment ke-dua, mereka mulai realistis dan mengolok-olok diri sendiri. Di installment ke-tiga ini, Barney sebagai ketua tim akhirnya membuka diri untuk meregenerasi timnya demi tercapainya tujuan. Well, in this case, mengkolaborasikan kekuatan dari kedua generasi, lebih tepatnya. Seperti salah satu dialog Barney Ross, “Nothing lasts forever. We're part of the past. If we keep this up, the only way this ends for any of us is in a hole in the ground, and no one will give a shit.”

They who will enjoy this the most

  • Fans of each legendary action hero played in this installment
  • Those who are familiar with previous iconic roles of  each action hero
  • General audiences who seek for an exciting and fun pop-corn action movie
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates