Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Monday, January 27, 2014

The Jose Movie Review
Jai Ho



Overview

Salman Khan adalah seorang aktor legendaries Bollywood era ini, sama seperti SRK di era 90-an. Jika SRK punya image spesialis drama romantis, Salman Khan lebih dikenal karena film-film action yang pure for entertainment only dan konon menurut beberapa orang, brainless. Tak salah jika ada dua kubu yang punya jumlah sama banyaknya, bahkan di India sendiri: fans dan haters. Tidak ada yang salah dengan film-film jenis ini, selama masih mampu menghibur penonton. Setidaknya masih memiliki alur cerita yang masih tertata baik, meski repetitif ataupun klise, sah-sah saja. Di mata saya, meski memiliki premise yang sudah sering diangkat terutama oleh Hollywood dan kebanyakan adegan yang comot sana-sini, film-film Bollywood, yang bergenre brainless action sekalipun, tetap memiliki kedalaman tersendiri. Baik dari segi esensi cerita maupun keberhasilannya dalam menggugah emosi penonton. Tak terkecuali dengan filmografi Salman terbaru, Jai Ho yang disutradarai oleh adik kandungnya sendiri, Sohail Khan.
Bukan, Jai Ho sama sekali tidak ada hubungannya dengan soundtrack dari film Slumdog Millionaire yang versi Bahasa Inggris-nya dibawakan oleh Pussycat Dolls. Dalam dunia hiburan Bollywood, adalah hal yang biasa jika sebuah film memiliki judul yang sama dengan judul lagu dari film lain. Contoh kasus sebelumnya adalah Koi Mil Gaya, film tahun 2003 yang juga merupakan salah satu judul lagu dari soundtrack film Hindi fenomenal, Kuch Kuch Hota Hai (1998). Tak berbeda dengan film-film aksi Salman sebelumnya seperti Dabangg, Readyy, dan Bodyguard, Jai Ho juga menyajikan aksi yang beberapa terkesan mustahil (terutama karena aksi one-man-show Salman Khan yang seolah-olah die hard) sebagai porsi terbesarnya. Hanya saja kali ini didominasi oleh adegan aksi tangan kosong dan beberapa dengan senjata seadanya. Brutal, diedit dengan rapi sehingga menimbulkan efek empati tersendiri bagi penonton, fast-paced, dan memicu adrenalin penonton dengan cukup maksimal.
Soal cerita, Jai Ho mengusung premise yang sangat simple, sesuai dengan tujuannya agar bisa dinikmati segala lapisan masyarakat (India, khususnya). Diangkat dari film berbahasa Telugu, Stalin: Man for the Society, Jai Ho sedikit mengingatkan akan premise film Hollywood Pay It Forward tahun 2000 yang dibintangi Kevin Spacey dan Haley Joel Osment, ditambah bumbu-bumbu politik otoriter, serta sosial yang luckily memiliki persamaan dengan kondisi di Indonesia, jadilah Jai Ho sajian lengkap seperti film-film Bollywood lainnya. Tak ketinggalan tentu saja humor-humor slapstick dan tarian-nyanyian yang sering dikeluhkan penonton umum (di Indonesia). Bagi yang tak keberatan atau malah sangat menikmatinya, seperti saya sendiri, maka Jai Ho bisa jadi sajian penyentil isu politik dan sosial dengan cara yang sangat sangat menghibur. Bayangkan Anda dihidangkan adegan-adegan brutal melawan pejabat yang selalu membuat Anda sebal setiap hari. Seperti itulah fun dan gregetnya menonton Jai Ho.
Durasinya yang tergolong di bawah standar durasi film Bollywood kebanyakan, yaitu ‘hanya’ 145 menit, membuatnya tak begitu terasa, meski harus diakui ada beberapa adegan repetisi meski disampaikan oleh karakter-karakter yang berbeda. Lagu-lagu yang ditampilkan memang terasa biasa saja, tidak begitu memikat, namun tarian-tariannya tetap indah untuk disaksikan.

The Casts

Sekali lagi Salman Khan memerankan karakter bad-ass namun berhati mulia. Di satu saat dia tampak beringas bak hewan buas, di saat yang lain ia mampu membuat penonton tersentuh oleh perbuatan-perbuatan mulia atau quote-quote yang dilontarkan karakternya. Tak istimewa, namun juga tidak bisa dikatakan buruk. He’s just becoming the way he used to be.
Pendatang baru, Daisy Shah dengan fisik yang luar biasa mempesona dan kemampuan tarian yang membius pandangan mata, jelas tidak bisa diremehkan begitu saja. Meski belum menunjukkan performa terbaik dan tergolong bermain aman, Daisy menunjukkan bakat yang bersinar. Begitu juga dengan Haroon Qazi yang menampilkan pertarungan one-on-one dengan Salman di menjelang klimaks film dalam kondisi bare-chested.
Tabu yang pernah kita saksikan aktingnya di Life of Pi sekali lagi memerankan wanita matang yang bijaksana. Jangan lupakan banyaknya wajah-wajah populer pengisi karakter figuran yang menjadi hiburan tersendiri bagi yang mengenalnya. Sebut saja Genelia D’Souza, Vikas Bhalla, Mahesh Manjrekar, Mohnish Behl, Danny Denzogpa, Mukul, Tulip Joshi, Varun Badola, Aditya Pancholi, Pulkit Samrat, Sudesh Lehri dan tentu saja, Suniel Shetty.

Technical

Adegan-adegan aksi tangan kosong yang brutal diedit dengan ketepatan timing dan sound effect yang dahsyat sehingga menghasilkan adegan-adegan thrilling pemicu adrenalin. Sinematografi pun memikat dengan membidik setting-setting indah, seperti latar adegan-adegan tari dan kejar-kejaran di tengah hiruk pikuk kota dan latar adegan pertarungan.
Kalaupun ada kekurangan, mungkin datangnya dari tone warna yang kurang terasa sinematik jika tidak ingin dikatakan bernuansa FTV.

The Essence

Tak perlu cara yang muluk-muluk untuk mengabdi pada masyarakat dan membuat perubahan. Hal sekecil menularkan semangat kebaikan saja sudah lebih dari cukup. Seperti reaksi obat, mungkin hasilnya tidak bisa dirasakan secepat penyakit yang menyebar, tapi sekecil apapun itu pasti menimbulkan efek. Sooner or later.

They who will enjoy this the most

  • Hindi movie audiences
  • Salman Khan’s fans
  • Penonton yang memendam kekesalan terhadap pejabat otoriter yang memperburuk kondisi sosial masyarakat

 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 22, 2014

The Jose Movie Review
Jack Ryan: Shadow Recruit



Overview

Jack Ryan sebenarnya adalah sosok yang cukup populer, terutama bagi penggemar novel. Karakter karangan Alm. Tom Clancy (meninggal Oktober 2013 lalu) ini dikenal sebagai analis CIA yang cerdas lewat novel-novel yang jadi Best Seller. Di media film pun, karakter ini pernah diperankan oleh Alec Baldwin, Harrison Ford, dan terakhir Ben Affleck. Hampir kesemuanya mencapai sukses yang cukup baik untuk pasar US, namun tidak di luar US. Mulai dari The Hunt for the Red October, Patriot Games, Clear and Present Danger, dan terakhirThe Sum of All Fears. Maklum, cerita yang lebih banyak berisi tentang intrik politik tidak begitu familiar bagi penonton di luar US. Apalagi film yang hanya membangun ketegangan melalui dialog juga kurang begitu diminati dibandingkan film sejenis yang lebih mengandalkan adegan aksi. Bisa juga menarik jika dituangkan dalam media novel, namun menjadi “segmented” ketika diterjemahkan dalam bahasa film.
Melihat “kawan-kawan” sejawatnya seperti James Bond milik Sony Pictures dan Jason Bourne milik Universal yang sangat berhasil di seluruh dunia, Paramount tentu ingin investasinya dengan membeli hak cipta Jack Ryan tidak sia-sia. Maka meski sudah tidak berpijak pada novel Tom Clancy, dibuatlah sebuah re-boot (atau reborn?) dari karakter Jack Ryan. Konon awalnya, skenario film ini berjudul Dubai karya Adam Cozad dengan bintang Eric Bana. Paramount akhirnya memutuskan untuk me-rewrite skenario ini dengan bantuan David Koepp dan mengganti karakter utamanya dengan Jack Ryan.
Maka hasilnya cukup beragam. Bagi penggemar setia baik novel maupun film-film Jack Ryan sebelumnya, kebanyakan akan kecewa dan beranggapan bahwa ini sama sekali bukan film tentang Jack Ryan. Banyak unsur-unsur khas, terutama ketegangan analisis yang rumit dan cerdas, disederhanakan di sini dan seolah menjadi komoditas nomor sekian di bawah adegan-adegan aksinya. Di sisi lain, Jack Ryan – Shadow Recruit (JRSR) akhirnya bisa dinikmati oleh penonton yang lebih luas, berasal dari latar belakang budaya dan negara manapun.
As for me, saya masih bisa menerima dan memaklumi alasan perubahan ini. Toh hasilnya juga sama sekali tidak buruk. Kenneth Branagh yang terakhir bisa dibilang cukup sukses mengarahkan Thor, sangat berhasil menjadikan JRSR film espionage yang seru, lengkap dengan adegan baku hantam, baku tembak, dan kejar-kejaran. Setidaknya ia mampu menjaga tensi ketegangan menjadi sangat enjoyable hingga sama sekali tidak terasa membosankan.
Minusnya, JRSR jatuh menjadi just another thrilling espionage action movie. Exciting, but that’s all. Bagi yang baru mengenal Jack Ryan susah untuk mencintainya sebesar Jason Bourne atau James Bond karena memang tidak begitu berbeda jauh. Apalagi penggemar lama yang bakal merasa asing dengan karakter yang mereka kenal selama ini. Apabila porsi ‘Jack Ryan’ seperti yang selama ini dikenal ditambah, mungkin bakal menjadi keseimbangan yang baik dan ideal untuk franchise Jack Ryan. Strutktur cerita yang menurut saya terlalu standard dan cenderung terlalu cepat untuk disudahi turut menjadikan JRSR menjadi aksi espionage yang biasa saja. Seru, memikat, mengagumkan, namun terlalu cepat disudahi. Sayang sekali. Semoga saja franchise Jack Ryan masih terus berlanjut, dengan style action seperti ini namun penokohan yang sekuat cerita aslinya. Barulah Tom Clancy, penggemar asli, dan penggemar barunya bisa sama-sama tersenyum puas.

The Casts

Pemilihan Chris Pine sebagai Jack Ryan baru menurut saya adalah keputusan yang sangat pas. Di saat karirnya sedang naik berkat franchise baru Star Trek, Chris Pine bisa menggaet banyak penggemar baru yang sudah terlebih dahulu menjadi fans sang aktor. Toh, Pine bisa membawakan karakter Jack Ryan dengan kharisma yang setara pemeran-pemeran sebelumnya, bahkan di atas Ben Affleck. Image cerdas, analitik, dan bad-ass namun berkelas berhasil dihidupkan dalam pribadi Jack Ryan. Bahkan di beberapa adegan, seperti saat tangannya bergetar setelah aksi pembunuhan pertamanya, berhasil mengundang simpati penonton.
Selain mengarahkan, Kenneth Branagh turut mengisi karakter villain, Viktor Cherevin dan dibawakan dengan sangat baik. Elegan namun bengis. Seperti biasa, Kevin Costner masih mampu menunjukkan wibawanya sebagai seorang petinggi CIA. Sebagai bonus, Alec Utgoff yang memerankan karakter Aleksandr Borovsky, berhasil mencuri perhatian meski porsinya tak begitu banyak.
Sementara Keira Knightley masih belum mampu tampil memikat secara maksimal. Terutama sekali gara-gara skenario yang tidak banyak memberinya ruang untuk terlihat lebih menonjol.

Technical

Secara keseluruhan tidak ada kendala, pun tak ada juga yang terlalu istimewa sebagai sebuah film espionage. Mungkin hanya kecanggihan teknologi yang dimiliki CIA dan gedung kantor Cherevin yang cukup membuat takjub. Penoramic kota Moskow juga terlihat memikat berkat sinematografinya.
Editing yang dinamis dan tepat momen sangat membantu menjaga intensitas ketegangan sepanjang film. Serta tentu saja sound effect yang renyah dan mampu memaksimalkan fasilitas surround.

The Essence

Keterampilan bela diri dan menggunakan senjata memang penting, namun tak ada gunanya jika tidak disertai kemampuan analisis yang tajam.

They who will enjoy this the most


  • General audiences who seek for thrilling and exciting action movie
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Wolf of Wall Street



Overview

Who the hell is Jordan Belfort? Pertanyaan itu sangat mungkin keluar dari masyarakat kita. Mungkin hanya praktisi bursa saham yang pernah mendengar namanya. Dunia bursa saham memang tidak begitu familiar bagi masyarakat luas, terutama di Indonesia. Maka tak heran jika film-film yang berkaitan, seperti Wall Street karya Oliver Stone, tidak begitu diminati oleh penonton kita. Namun sutradara kaliber Oscar lainnya, Martin Scorsese mencoba mengangkat dunia bursa saham dengan pendekatan yang lebih populer: biografi.
Film biografi sendiri biasanya dibuat dengan pendekatan yang semirip mungkin dengan aslinya, sehingga seringkali jatuhnya adalah film yang super serius. Hanya sedikit yang berani membuat biografi dengan pendekatan yang berbeda. Saya hanya bisa mengingat Walk Hard: The Dewey Cox Story-nya Judd Apatow yang berani menyajikan biografi dengan begitu gokilnya. Maka The Wolf of Wall Street (WoWS) saya nobatkan sebagai salah satu film biografi yang menyenangkan dan sangat enjoyable, tanpa kehilangan esensinya.
Sepanjang film diisi narasi dari suara karakter Jordan Belfort sendiri yang sengaja dibuat tidak lurus-lurus saja, terkadang diselingi komentar atas adegan yang sedang ada di layar, dan jelas menimbulkan tawa tersendiri. Durasinya yang sekitar 3 jam (konon di bioskop Indonesia dipangkas hingga hanya tersisa 165 menit) sama sekali tidak terasa membosankan. Meski saya sudah tahu bagaimana film ini akan berakhir, saya sangat menikmati tiap menit adegannya yang penuh dengan pesta seks, kokain, dan inspirasi-inspirasi yang disampaikan dengan gokil oleh Leonardo DiCaprio.
Pesta seks dan kokain? Yup, it’s so full of them. Tapi jangan salah, meski demikian WoWS sama sekali tidak pernah jatuh terlampau vulgar atau norak. Hanya sekedar ilustrasi kehidupan Jordan, namun ditampilkan dengan elegan dan tidak berlebihan. Anda mungkin akan dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan kegilaan-kegilannya, tetapi di saat yang sama Anda juga akan tersenyum. Menghibur, tanpa membuat Anda ingin mencobanya ataupun terangsang.
Meski dengan pendekatan-pendekatan komedik dan nuansa yang serba fun, ia tetap mampu menyampaikan ceritanya sebagai misi utama dengan baik. Bagi penonton yang awam akan dunia bursa saham, seperti saya sendiri, tidak akan dibuat pusing atau bingung sedikit pun. Narator akan dengan senang hati menjelaskan istilah-istilah saham. Bahkan melihat metode dan semangat yang ditunjukkan Leo, bukan tidak mungkin Anda akan menganggap bursa saham terlihat serta terdengar menarik.
Penonton akan mengenal dan bahkan kagum pada sosok Jordan Belfort di balik segala kegilaan gaya hidupnya. Di bagian ending pun ia tidak memberikan konklusi yang begitu berarti. In short, WoWS hanya akan membuat Anda mengenal sosok Belfort, namun tidak akan melibatkan emosi Anda secara berlebihan. Anda tidak akan serta merta dibuat membenci atau mencintai sosoknya. Anda juga tidak akan dibuat kelewat sedih, sebal, atau senang atas segala yang terjadi pada Belfort. You will just enjoy the ride of his rollercoaster rise and fall dengan senyum dan perasaan kagum atas sepak terjangnya menaklukkan rimba Wall Street.

The Casts

Seperti biasa, Leonardo DiCaprio tidak pernah mengecewakan. Tak heran Scorsese rajin memakai jasanya untuk mengisi peran-peran utama di film-film high profile-nya. Meski sebenarnya penonton sulit untuk tidak merasakan image peran-peran sebelumnya pada sosok Belfort, namun Leo berhasil menghidupkan karakter tersebut dengan meyakinkan dan kharismatik.Begitu pula Jonah Hill yang kali ini pun tak berbeda jauh dengan karakter-karakter yang penah ia perankan sebelumnya, namun kehadirannya terasa sangat pas di layar dengan konsep seperti ini.
Kecantikan dan keseksian Margot Robbie sebagai Naomi tentu menjadi pemanis yang mempesona dan mengalihkan perhatian sepanjang penampilannya. Sementara yang paling sukses mencari perhatian penonton meski porsinya sangat sedikit adalah Matthew McConaughey sebagai Mark Hanna, mentor Belfort ketika masih memulai karir di Wall Street.

Technical

Editing memainkan peran yang cukup penting untuk tipe film seperti ini, sehingga ritmenya yang dinamis terjaga tanpa mengurangi esensi yang ingin disampaikan oleh gambar. Penggunaan slow motion yang tepat guna juga menjadi penentu, di samping fungsi dramatisasi yang gokil.
Tak ada yang begitu istimewa sebenarnya untuk tata artistik dan properti, sementara costume design terlihat lebih menonjol.
Pemilihan soundtrack pengiring adegan juga patut diacungi jempol dengan memilih lagu-lagu yang populer di telinga penonton sekaligus blend-in dengan adegan.

The Essence

Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia. Kesuksesan yang besar membutuhkan pengorbanan yang juga besar untuk bisa survive dengan ganasnya dunia kerja (dalam hal ini: rimba bursa saham). Jatuh-bangun itu biasa, punya sisi negatif pun juga biasa, yang penting tidak pernah kehilangan semangat untuk bangkit lagi di saat jatuh.

They who will enjoy this the most

  • Mature audience who enjoy high lifestyle
  • They who work in stock market

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Leonardo DiCaprio
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Jonah Hill
  • Best Achievement in Directing - Martin Scorsese
  • Best Writing, Adapted Screenplay - Terence Winter
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 20, 2014

The Jose Movie Review
American Hustle

Overview

Nama David O. Russell beberapa tahun terakhir mencuri perhatian terutama di ajang Oscar. Bagaimana tidak, tiga karya terakhirnya berturut-turut mendominasi ajang tertinggi insan perfilman dunia tersebut. Mulai dari The Fighter di tahun 2010, Silver Linings Playbook tahun lalu, dan tahun ini amunisinya adalah American Hustle (AH) dengan perolehan rekor nominasi terbanyak, yaitu 10 nominasi. Termasuk Best Picture, Best Directing, dan masing-masing 1 nominasi di tiap kategori akting. Luar biasa bukan? Anyway, sebagus apakah AH?
Dari kacamata saya, sebenarnya tidak banyak yang istimewa dari AH. Premise-nya yang tentang conman yang diancam oleh FBI untuk membantu penyelidikan dengan imbalan kebebasan sudah bukan barang baru lagi. Tapi bukan di situ letak kekuatan AH. Skrip yang dikerjakan pula oleh Russell, bersama-sama dengan Eric Warren Singer, bernyawakan karakter-karakter yang sudah sangat menarik di dalamnya. Mulai dari Irving yang sukses mentransformasi fisik Christian Bale, sampai yang paling menarik perhatian, tentu saja Rosalyn yang diperankan dengan sangat menggelitik oleh the shinning star, Jennifer Lawrence. Lantas plot yang mengikuti ke mana perkembangan tiap karakter mengarah. Konon kabarnya, banyak bagian dari dialog di layar yang merupakan improvisasi dari para aktornya dan tidak tercantum di script. So, layaklah jika pujian sebesar-besarnya atas keberhasilan AH disematkan kepada para aktornya. It has a good script, but the actors have made it even greater. Menurut saya pribadi, plotnya masih bisa dibuat lebih menarik lagi. Tetapi apa yang ada di layar sudah lebih dari cukup untuk menghibur.
Bagi Anda yang menyukai twist-twist kecil yang kerap menjadi bagian paling menarik dari film tentang conman, tentu AH punya itu. Tidak begitu bombastis memang, tapi sanggup membuat saya tersenyum licik di menjelang akhir film. Oh ya, jangan salah asumsi. AH bukanlah tipikal film serius yang membuat Anda harus mempersiapkan otak baik-baik. Yes it’s an award type movie, but trust me, it’s much much more entertaining than you think. Ikuti saja alurnya yang mengalir. Persetan jika Anda tidak begitu mengerti tentang detail pekerjaan Irving-Edith di London Associates. Itu  tidak akan menjadi masalah besar, karena Anda akan tetap bisa menikmatinya hingga akhir dan dengan senyum lebar.

The Casts

Like I said before, kekuatan AH terbesar adalah akting para aktornya yang luar biasa. Jika Anda menganggap transformasi fisik Christian Bale belum cukup layak untuk benar-benar diganjar Oscar, maka performa Jennifer Lawrence sulit untuk bisa Anda tolak. She’s the scene stealer who did the best here. Di posisi selanjutnya tentu saja Amy Adams yang kualitas aktingnya semakin hari semakin terasah dan karakter menarik yang dipercayakan kepadanya. Di jajaran aktor, saya tidak menganggap penampilan Christian Bale dan Bradley Cooper adalah istimewa. Bagus, tapi tidak istimewa. Bukan salah mereka, karena seperti itulah karakter yang sudah dituliskan untuk mereka. Bagi saya pribadi, penampilan dan karakter Jeremy Renner masih lebih mencuri perhatian daripada mereka berdua.
Terakhir, jangan sampai Anda terlewatkan penampilan uncredited dari sang legendaris Robert DeNiro, lengkap dengan dialog berbahasa Arab yang diberikan kepadanya.

Technical

Hal utama yang menjadi perhatian pertama, bahkan saat hanya melihat poster atau trailernya, pasti tata rias dari para cast AH, terutama tata rambut. Yes, mungkin Anda dan banyak orang lain menjadikan tata rambut yang ‘unik’ ini sebagai bahan bercandaan. Tetapi memang di situlah letak salah satu daya tariknya. Along with  costume design dan art directing ala 70-an-nya yang elegan serta super fabolous. Tak heran jika dua kategori ini diganjar nominasi Oscar.
Pemilihan soundtrack yang seru dan populer sesuai dengan era-nya membuat adegan-adegan yang ditampilkan terasa lebih gokil. Mulai dari Frank Sinatra, The Temptations, Donna Summer, Chicago, Tom Jones, The Carpenters, hingga sing-a-long seru Live and Let Die ala Jennifer Lawrence.
Editing yang cukup dinamis, terutama dalam menyampaikan flashback, berpadu dengan voice over sebagai narasi dari berbagai sudut pandang, menjadikan AH lebih groovy untuk diikuti.

The Essence

Seperti yang tertulis sebagai tagline dan disampaikan oleh beberapa karekternya dalam dialog, everybody hustles just to survive.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menyukai kisah penipuan penuh trik gokil
  • Penonton yang menyukai dialog-based drama yang menggelitik
  • General audiences yang mencari hiburan ringan dan cerdas

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Christian Bale
  • Best Performance by an Actress in a Leading Role - Amy Adams
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Bradley Cooper
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role - Jennifer Lawrence
  • Best Achievement in Costume Design - Michael Wilkinson
  • Best Achievement in Directing - David O. Russell
  • Best Achievement in Film Editing - Jay Cassidy, Crispin Struthers, and Alan Baumgarten
  • Best Achievement in Production Design - Judy Becker (production design) and Heather Loeffler (set decoration)
  • Best Writing, Original Screenplay - Eric Warren Singer and David O. Russell
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 19, 2014

The Jose Movie Review
Princess, Bajak Laut, dan Alien


Overview

Selama beberapa tahun belakangan, trend yang cukup menarik di film Indonesia adalah omnibus. Sebuah perkembangan yang bagus karena tak hanya melibatkan orang-orang yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi di perfilman, tetapi juga bakat-bakat baru yang nantinya menjadi generasi penerus perfilman kita. Sempat mengalami penurunan jumlah film omnibus, awal tahun 2014 digebrak oleh omnibus untuk audience yang masih sangat jarang dilirik: anak-anak. Selain sulit untuk membuat racikan yang pas dan sesuai untuk audience anak-anak, terutama karena sudah terlanjur dicekoki materi-materi yang lebih dewasa, orang tua jaman sekarang juga semakin malas untuk mengajak anak-anaknya menonton film yang sesuai dengan mereka. Sebuah fenomena menyedihkan, sebenarnya. Namun keberanian empat sutradara; Eko Kristianto, Alfani Wiryawan, Rizal Mantovani, dan Upi ini patut mendapatkan apresiasi lebih. Apalagi ternyata secara keseluruhan hasilnya sangat layak untuk disaksikan oleh penonton anak-anak, pun juga penonton dewasa yang bakal dibawa bernostalgia dengan pengalaman-pengalaman masa kecil dulu.

Dari 4 cerita yang disodorkan, memang tidak semua memiliki kualitas yang sama. Namun effort untuk menampilkan tontonan anak yang berbeda, membuat saya memberikan kredit lebih untuk film ini. Jika rata-rata film anak Indonesia dibuat se-aman mungkin, dengan pesan moral yang secara gamblang ditunjukkan, klise, dan cenderung hanya menampilkan kesempurnaan keadaan atas nama “mendidik”, Princess, Bajak Laut, dan Alien (PBA) berani mendobrak kebiasaan tersebut. Jika diamati, ketiga cerita pertama PBA menampilkan background keluarga anak-anak yang tidak sempurna menurut tatanan masyarakat kita (baca: single parent). Pada cerita keempat, justru keadaannya yang dibalik. Seorang anak dengan background keluarga yang sempurna menurut tatanan masyarakat, namun dirinya sendirilah yang dianggap “aneh: oleh teman-teman sebayanya (“berbeda” oleh para orang tua). Sebuah konsep yang entah disengaja atau tidak, memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak dalam menerima keadaan sehari-hari yang realistis dan tidak selalu sempurna. That’s one good point itself.

Mari melihat tiap segmen lebih detail. PBA dimulai dengan Misteri Rumah Nenek (MRN) yang bergenre horor. Dibandingkan 3 cerita lainnya, jelas MRN terasa menjadi segmen yang paling lemah kedua. Namun sebagai pembuka, apalagi bergenre horor, MRN sama sekali tidak buruk. Sutradara Eko Kristianto cukup piawai dalam merangkai serta menjaga ketegangan cerita, bahkan jika dibandingkan dengan film-film horor Indonesia umum belakangan ini. Memang beberapa logika cerita membuat saya mengernyitkan dahi, terutama tentang tindakan karakter-karakter anaknya. Namun menjelang ending, ia menyajikan side story yang memang dibuat tidak begitu jelas tetapi memberikan nilai plus tersendiri. Sengaja dibuat tidak begitu jelas, sesuai dengan sudut pandang anak-anak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Namun bagi kita penonton dewasa, jelas bahwa ada suatu konflik antara kedua orang tua mereka dan sang nenek. Anak-anak tidak dibuat kepo untuk mengetahui permasalahan orang dewasa, namun resolusi sang ibu dan sang nenek yang dicapai di ending sudah cukup di mata mereka. Sekali lagi, tidak sempurna namun sebagai pembuka sama sekali tidak buruk.

Lanjut ke segmen kedua, Babeh Oh Babeh (BOB) oleh sutradara Alfani Wiryawan. Ini dia segmen favorit saya. Tidak hanya memiliki konsep cerita yang menurut saya simple tetapi bagus sekali, BOB dihiasi akting comedic spontanitas yang sangat menghibur dan segar. Terutama datang dari Tora Sudiro dan Aming. Kisahnya yang hearty dibidik dengan sinematografi yang cantik dalam menampilkan suasana perkampungan. Tak hanya dari sudut pandang anak-anak, karakter sang ayah pun juga dibuat belajar dari kesalahannya. Realita ketidak sempurnaan ini yang menjadikannya aktual dan juga dialami oleh banyak anak-anak yang malu dengan profesi sang ayah.

Kamu Bully, Aku B-Boy (KBAB) yang digarap oleh sutradara dengan jam terbang cukup tinggi, Rizal Mantovani, menjadi segmen ketiga. Di mata saya, segmen ini adalah yang paling lemah di antara empat segmen yang ada. Terutama sekali adalah logika korelasi antara menjadi korban bully dengan mulai mempelajari breakdance. Agak nggak nyambung aja kenapa sesaat setelah menjadi korban bully dan diperkenalkan dengan break dance dengan sang ibu, kemuduian seketika memutuskan mempelajarinya. Alangkah jauh lebih baik jika ada sedikit bridging penjelasan, misalnya sang ibu mengetahui kalau anaknya menjadi korban bully sehingga ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memperkenalkan dengan koleksi breakdance milik ayahnya. Semacam ada lompatan korelasi cerita di situ. Untung menjelang akhir, ada sedikit korelasi cerita yang diperbaiki antara bully dan battle meski tidak bisa memperbaiki gap yang ada sebelumnya. Anyway, kelucuan serta aksi breakdance dari Mika menjadi kredit tersendiri.

Terakhir menampilkan segmen dengan judul yang dipakai sebagai judul film secara keseluruhan, Princess, Bajak Lau, dan Alien (PBA) oleh Upi. Dengan mengusung nama besar Upi, jelas PBA memiliki ekspektasi lebih. Tak heran secara konsep cerita, konsep visual, dan style artistik yang ‘Upi banget’, PBA adalah segmen yang paling kuat dan matang. Dengan gaya penceritaan dan gaya gambar yang sangat sinematis, didukung akting para pemerannya, baik anak-anak maupun dewasa, serta jelas artistik yang cantik dan seperti karya Upi lainnya, seperti berada di universe-nya sendiri, PBA adalah penutup yang manis. Battle of wits antara anak-anak dan orang dewasa mungkin menjadi sedikit lebih cocok untuk remaja atau dewasa, namun secara keseluruhan memiliki esensi yang bisa dipahami kedua pihak dengan mudah dan pastinya, jauh dari kesan menggurui.

The Casts

Secara keseluruhan, cast anak-anak bermain sangat baik. Meski rata-rata adalah pendatang baru dan banyak penonton yang kurang familiar sebelumnya, kesemuanya tampil natural dan berkat penampilan fisik mereka yang menggemaskan.

Kehadiran aktor-aktor papan atas untuk meramaikan jelas menjadi kesegeran dan gem tersendiri. Terutama Tora Sudiro, Luna Maya, Ade Irawan, Sophia Latjuba, Masayu Anastasia, Aming, Lukman Sardi, Aida Nurmala, dan bahkan sutradara film pendek, Ismail Basbeth.

Technical

Sinematografi menjadi keunggulan utama dari PBA, terutama sekali Yunus Pasolang di BOB dan Ical Tanjung di PBA. Artistik juga memegang peranan penting di tiap segmen yang kualitasnya bisa dibilang cukup merata. Terutama sekali tata artistik PBA yang ala vintage 70-an. Begitu detail dan cantik.

Score pun turut menjadi perhatian utama yang cukup membangun suasana setiap segmen dengan baik. Terakhir, editing Cesa David dan dibantu Ryan Purwoko yang dengan rapi menjalin empat cerita menjadi kesatuan karya yang halus dan berkelas.

The Essence

Tidak ada yang sempurna di dunia. Setiap segmen di PBA mengajak anak-anak untuk menerima apapun yang terjadi dalam hidup mereka dan yang terpenting, mencari solusi untuk menjadikan segalanya terasa lebih baik. A good point yang membuat saya jatuh cinta dengan PBA.

They who will enjoy this the most

  • Semua anak-anak, terutama usia SD-SMP
  • Penonton dewasa secara umum yang ingin bernostalgia dengan masa kecil
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates