Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Thursday, August 8, 2013

The Jose Movie Review
The Smurfs 2


Overview

Smurfs adalah legenda. Komik dan film animasinya sudah lima puluh tahun lebih men-smurf dunia. Versi CGI-nya pertama kali diangkat ke layar lebar oleh Sony Pictures di tahun 2011 dan dengan keuntungan yang cukup, kehadiran sekuelnya takelakkan. Jelas, like I always say, franchise yang bagus harus terus diestafetkan dari generasi ke generasi. So, dengan ekspektasi yang tak terlalu besar, here’s The Smurfs 2.

Menonton film sejenis The Smurfs 2 memang harus dengan kacamata anak-anak, yang jelas merupakan target utamanya. Jika Anda penonton dewasa dan tak berniat menontonnya bersama anak-anak, big chance tak akan begitu menikmatinya. Kecuali Anda siap untuk menyederhanakan pola pikir Anda selama menonton dan kembali menyelami keceriaan petualangan masa kecil, maka inilah tontonan yang tak hanya menghibur tapi juga punya value yang digarap dengan baik. Jauh lebih baik ketimbang installment pertamanya.

Guyonan-guyonannya masih banyak mengandalkan slapstick. Mungkin Anda tidak akan terbahak-bahak seperti halnya penonton anak-anak. Namun dengan pola pikir polos ala anak-anak, saya masih bisa tersenyum melihat keseruan makhluk-makhluk kecil berwarna biru bertualang menjelajahi dunia manusia yang ukurannya jauh di atas mereka. Tersenyum pula menyaksikan tingkah polos para smurf yang lebih menggemaskan dan jauh dari kesan annoying. Kehadiran Azrael, si kucing dengan aksen bahasa yang sama-sama tidak begitu jelas, tapi masih lebih menyenangkan ketimbang bahasa tak jelas para minion.

Kelebihan yang tak dimiliki seri sebelumnya adalah value yang diangkat dan disajikan dengan sangat baik. Tipikal film keluarga sejenis, tapi seberapa seringnya diangkat, dengan kadar yang pas, tetap saja menciptakan keharuan tersendiri, apalagi Anda menyaksikannya bersama seluruh anggota keluarga tercinta. Raja Gosnell memang termasuk sutradara yang piawai meramu film komedi keluarga yang tak hanya fun namun hangat, seperti franchise Scooby-Doo dan Big Momma’s House, and this time he did it again.

Plot utama yang terjadi di “komunitas smurf” lantas disandingkan dengan sub-plot serupa tetapi terjadi pada universe manusia, yaitu konflik di dalam keluarga karakter yang juga muncul di seri sebelumnya, Patrick dan ayah tirinya, Victor. Relevansi keduanya tak terasa dipaksakan, mengalir dengan mulus, serta mudah dipahami, oleh anak-anak sekalipun.

The Cast

Porsi para smurf terasa lebih banyak di sini, apalagi Smurfette yang voice talent-nya masih dipercayakan pada Katy Perry. She’s improved quite well, along with the character’s portion. Ada beberapa smurf yang lebih ditonjolkan karakteristiknya, seperti Clumsy, Gutsy, Vanity, Brainy, dan Grouchy. Hal yang juga absen di seri pertamanya dimana para smurf ditampilkan secara general. Tidak ada pengenalan secara khusus kekhasan masing-masing karakter. Kehadiran karakter baru, Vexy yang disuarakan oleh Christina Ricci (masih ingat Kat di versi layar lebar Casper atau putri Kevin Spacey-Annette Bening di American Beauty?) dan Hackus, turut meramaikan installment kedua ini.

Di universe manusia, Neil Patrick Harris masih menonjol seperti sebelumnya berkat karakter yang lebih dewasa dan menyentuh. Brendan Gleeson (Moody Mad-Eye di franchise Harry Potter) sebagai Victor, ayah tiri Patrick, juga mencuri perhatian. Tak hanya mampu berakting serius, ternyata juga bagus tampil komikal. Jayma Mays sebagai Grace semakin menggemaskan. Hank Azaria yang karakternya ditulis semakin menarik juga mampu mengimbangi meski tak ada perkembangan karakter yang berarti. Komplain saya hanya pada pemilihan Jacob Tremblay sebagai Blue, putra tunggal Patrick yang nyaris tak bisa akting sama sekali. Untung karakternya tak begitu berpengaruh pada plot.

Technical

Tampilan CGI terasa sedikit lebih halus dan lebih baik ketimbang sebelumnya. Tata suara dan pemanfaatan efek surround-nya pas. Pemilihan soundtrack juga sangat mendukung keseruan dan keasyikan film.

The Essence

Like Papa Smurf said, “it doesn’t matter where you came from. What matter is who you choose to be”. Sama halnya dengan relevansi pengaruh orang tua kandung atau orang tua tiri yang ditunjukkan Papa Smurf-Smurfette dan Victor-Patrick. Smurfs 2 menggambarkan semuanya dengan sangat baik.

They who will enjoy this the most

  • Smurf’s fans
  • Kids, especially below 10 years old
  • The whole family member
  • General audiences who seek for light but valuable entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Get M4rried


Overview

Sejak 2007, tiap dua kali lebaran, franchise Get Married (GM) selalu menemani penonton Indonesia. Seperti sebuah tradisi silaturahmi, kehadirannya seperti bertemu geng lama dan seru-seruan bareng lagi. Saya sendiri (dan mungkin juga Anda) tak menyangka jika cerita sesederhana seri pertamanya bisa menjadi salah satu franchise komedi yang sukses dan jadi tambang emas tetap bagi Starvision Plus. Hanung Bramantyo memberikan start-mile yang cukup tinggi untuk GM. Kursi sutradara lalu diestafet ke Iqbal Rais dan berikutnya Monty Tiwa yang terbukti bisa memberikan kesegaran cerita (dan juga humor) tersendiri. Ok, Get Married 3 mendapatkan kritikan keras setelah peran suami Mae, Rendy, tidak lagi diperankan oleh Nino Fernadez seperti yang sudah-sudah, dan digantikan oleh Fedi Nuril. Tetapi sekarang di Get M4rried (GM4), Nino akhirnya kembali menjadi Rendy, dan the story is back to track.

Masih ditangani oleh Monty Tiwa, GM4 membawa pada penyegaran plot yang cukup jauh. Tak hanya berkutat pada konflik Mae, tetapi juga pada karakter baru, Sophie, adik Rendy, yang masih punya relevansi dengan tema “get married”. Seperti biasa, Tiwa bisa membungkus cerita berbobot dengan balutan guyonan-guyonan yang cerdas dan berkelas. Sangat khas Tiwa. Sementara konflik karakter utama, Mae, dikembangkan dengan baik dan realistis.

Seperti biasa pula, Tiwa menyelipkan banyak sindiran-sindiran sosial sepanjang film dan baiknya, cukup mampu menyatu (bahkan membangun) dengan plot utama yang ia sodorkan. Misalnya bagaimana remaja-remaja jaman sekarang bisa terlalu cepat merengkuh semua pengalaman di usia muda, pengaruh sosial media yang membentuk kepribadian narsisme tak jelas pada generasi muda, hingga seabreg gejala-gejala sosial terupdate saat ini.

Namun bukan berarti tanpa celah sama sekali. Harus saya akui, secara keseluruhan GM4 masih belum mampu menjadi satu karya yang utuh. Kehadiran plot utama tentang pernikahan Sophie dan sub-plot syndrome yang dialami Mae masing-masing diangkat dengan baik, tetapi gagal disatukan dengan rapi.  Misalnya ketika sub-plot syndrome Mae berjalan, plot utama pernikahan Sophie seolah dikesampingkan sama sekali. Baru kemudian disatukan lagi menjelang akhir secara apa adanya dan diberi penyelesaian yang terlalu bertele-tele pula.

Well, in the end, GM4 tetaplah sajian liburan Lebaran yang tak hanya sangat menghibur, akrab, tetapi juga cerdas dan membagikan esensi penting terutama tentang pernikahan kepada penonton untuk dipikirkan.

The Casts

Nirina Zubir, Amink, Desta Mahendra, dan Ringgo Agus Rahman yang masing-masing bisa dibilang memerankan diri sendiri, masih tampil sama gemilangnya seperti seri-seri sebelumnya. Karakter Nirina mungkin terasa tidak segokil dulu karena faktor kedewasaan karakter, tetapi di banyak adegan karakteristik utamanya tidak berubah. Dandanan Amink juga mengalami update menjadi mirip karakter kartun Wally, tetapi tidak kehilangan ciri khas komikal-nya.

Kehadiran karakter-karakter baru memberikan kesegaran tersendiri, terutama pendatang baru Tatjana Saphira yang loveable. Begitu juga Ajun Perwira yang kualitas aktingnya semakin meningkat. Ricky Harun masih begitu-begitu saja, tak ada peningkatan.  Sementara Math Wang Kie jelas hanya menjadi pemanis yang porsinya tak banyak.

Tiwa tak ketinggalan mengajak bintang-bintang yang pernah bermain di film-filmnya, seperti Renata Kusmanto dan bahkan Oon Project Pop yang memerankan karakter yang sama seperti di Test Pack.

Technical

Sinematografi dan tone color yang cantik mendukung tema film yang ceria. Tak ada kendala yang berarti pada sound, kecuali dialog yang terdengar sedikit terlalu pelan tetapi masih jelas terdengar. Hanya agak kedodoran ketika disandingkan dengan music atau sound effect yang cukup mumpuni memanfaatkan efek surround.

Editing juga sangat sesuai dengan kedinamisan cerita. Meski menurut saya ada banyak adegan yang terasa kepanjangan, terlalu “sayang dibuang” tetapi jatuhnya malah seperti diulur-ulur. But overall, masih enjoyable.

The Essence

Pernikahan adalah lembaran baru dimana ada banyak hal yang harus dikorbankan jika sudah memasuki fase tersebut. So are you really ready to give up many things you can’t do anymore after marriage? In return, you will find more reasons to sacrifice those things. But you can’t have it all.

They who will enjoy this the most

  • Get Married’ s franchise fans
  • General audiences who seek for hilarious entertainment
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id 
Lihat situs resmi film ini.  Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Conjuring

Overview

Tak banyak variasi horor yang diproduksi Hollywood. Jika bukan rumah berhantu, maka kerasukan yang dijadikan tema. Di antara jumlah yang tak banyak itu, semakin sedikit pula film horor (yang mengangkat tema spiritual, bukan gore) yang benar-benar stand out. Di era 2010-an ini nama James Wan, sutradara asal Malaysia menjadi semacam jaminan mutu untuk film horor klasik. Filmografinya di Hollywood masih tak banyak. Angkat nama lewat film indie Saw yang tak disangka meledak secara internasional, berturut-turut ia menangani film Hollywood kecil, seperti Dead Sentence dan Dead Silence. Namanya kembali berkibar lewat Insidious yang juga akhirnya menobatkannya sebagai salah satu master of horror di Hollywood.

Sukses Insidious mengantarkannya pada proyek sejenis dengan skala produksi yang lebih besar. Tak berbeda jauh dengan tema-tema horor Hollywood lainnya, The Conjuring masih melibatkan rumah berhantu dan kerasukan. Tetapi tentu saja ini tak menjadi masalah bagi penggemar horor karena yang terpenting adalah bagaimana film mampu menghanyutkan penontonnya ke dalam kengerian atau keseraman yang ditampilkan. And for that purpose, Wan did it once again.

Dari The Conjuring saya berhasil merangkum kekuatan James Wan yang berhasil menjadikannya salah satu master of horor. Yang pertama adalah kepiawaiannya dalam merangkai pace yang tepat. Ia tahu kapan harus "menahan" adegan dan kapan harus "menampakkan" kengerian yang sudah disiapkan. Kedua, astmospheric yang ia bangun sangat mendukung. Malah bisa dibilang kehadiran setting lokasi dan properti menjadi aspek teror yang lebih kuat ketimbang penampakan makhluk ghaib-nya. More classy way to scare. Ketiga, ia tak hanya mengandalkan emosi ketakutan, tapi juga mengundang simpati penonton akan karakter-karakter yang terlibat. Koneksi yang cukup kuat antara karakter-karakter dan penonton menjadikan nilai plus tersendiri sekaligus membuatnya menjadi film yang memorable. Hal inilah yang masih jarang dilakukan oleh film-film horor modern.

So yes, let's not talk about how scary it will be, because it may be vary to every person. Since everybody has different scare endurance rate, personal experiences, and also references. But let's look at it objectively. Bagaimana ia membangun ketegangan, bagaimana ia menakut-nakuti secara efektif dan punya efek emosional yang cukup lama. To me, it might be not the most psychological disturbing horror I've ever seen (because I think Sinister is still unbeatable in my mind), but it's beyond average.

The Casts

Vera Farmiga tidak pernah kehilangan pesona, apapun peran yang dimainkan. Tak terkecuali sebagai Lorraine Warren di sini. I darely said that she's the soul of the movie. Lili Taylor pun tak kalah mengundang simpati penonton berkat karakter Carolyn Perron yang ia perankan. Meski di banyak adegan bagi saya suaranya agak mengganggu, tetapi di momen-momen penting ia tampil prima.

Kelima putri Perron masing-masing juga tampil baik. Jumlah anak yang terlalu banyak memang membuatnya susah untuk diingat satu per satu, tetapi sama seperti Carolyn, ada momen-momen yang bakal diingat penonton karena akting yang begitu mengundang ketakutan yang sama untuk penonton.

Technical

The Conjuring tak begitu mengandalkan special effect dalam menghadirkan kengerian. Like I said, it's more to atmospheric. Kendati demikian, efek-efek sederhana seperti kursi terbang, terbalik, sprei beterbangan, dan tentu saja make-up, justru memberikan efek ngeri sekaligus efek kejut yang natural. 

Di paruh awal tak begitu banyak score demonic yang dimunculkan. Sempat saya berujar, kok tumben tidak ada sound effect dan score ngeri yang sebelumnya sering dipakai oleh Wan. Penantian saya terjawab ketika akhirnya ia tak ketinggalan menyertakan salah satu aspek yang paling mendukung suasana. Good job, once again.

The Essence

The family bond can resist any disturbance.

They who will enjoy this the most

  • Classic horror fans
  • General audiences who seek for a fun terrifying entertainment
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Pacific Rim

Overview

Nama Guillermo del Toro sudah melekat pada image monster, mitologi, dan horor. Apa jadinya jika kali ini ia mencoba untuk bermain-main dengan robot, seperti yang dilakukan Michael Bay? Referensi utama untuk menjelaskan Pacific Rim (PR) adalah film-film robot vs monster raksasa seperti Ultraman dan Power Rangers. Selama ini tayangan sejenis sangat jarang sekali diangkat ke layar lebar dengan layak. Itu pun lebih sering dengan kualitas seperti film televisi (masih ingat Mighty Morphin' Power Rangers the Movie?). Maka inilah saatnya pertarungan robot vs monster raksasa diangkat ke layar lebar dengan sangat layak.

Sebenarnya saya kurang antusias menyambut PR karena jujur, trauma atas apa yang dilakukan Michael Bay pada franchise Transformers (TF) belum mampu memulihkan image buruk film robot dari pikiran saya. But I still believe in del Toro. Lagipula banyak kritikus yang memberikan tanggapan positif. So, yes I finally watched it with no expectation at all, but to be entertained.

Well, comparing to TF, PR masih tampak jauh lebih elegan dalam menuturkan narasinya meski tidak bisa ditampik bahwa jualan utama yang mendominasi tentu saja adegan-adegan aksi menegangkan sepanjang durasi. Tidak ada yang baru dari narasinya, namun digarap cukup baik untuk tipikal film sejenis. Drama humanity yang ditampilkan, misalnya tentang masa lalu karakter Mako Mori atau perkembangan chemistry antara Mako-Raleigh, tergarap dengan baik meski tak begitu memorable.

Sementara untuk jualan utamanya, yakni adegan-adegan pertarungan menegangkan, del Toro menyuntikkan nyaris tiga perempat durasinya dengan tata adegan yang tak terasa membosankan dan mampu menjaga intensitas ketegangan dengan sangat baik. Tidak begitu megah, namun very enjoyable.

Hal yang patut saya apresiasi adalah beberapa unsur konsep universe yang benar-benar baru, seperti istilah istilah Jaeger dan Kaiju, atau robot Jaeger yang harus dikendalikan oleh dua pilot yang kompak secara pikiran. It's cool dan sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi franchise baru yang menjual. Other than that, just enjoy the show (if it's your cup of tea).

The Casts

Tak perlu akting yang bagus untuk berperan di film semacam PR ini. Kendati demikian, terutama penampilan Charlie Hunnam dan Rinko Kikuchi mampu mencuri layar serta mendominasi sepanjang durasi. If you can't remember the Jaegers or the Kaijus, you'll probably remember both of them, as the icon of PR, just like Shia LaBeouf and Megan Fox.

Di lini pemeran pendukung, tentu saja penampilan Ron Perlman yang memerankan karakter nyentrik Hannibal Chau sangat memorable. Sementara Idris Elba, dan mungkin juga Charlie Day (yang menurut saya sih lebih ke annoying berkat caranya berbicara), mampu menarik perhatian Anda.

Technical

Tata adegan dan sinematografi yang pas membuat adegan-adegan pertarungan antara Jaeger-Kaiju tampak megah tapi masih nyaman ditonton. Konon versi 3D-nya meski hasil convert-an ternyata hasilnya luar biasa dan memanjakan mata. Ada yang malah mengatakan PR was made to be watched in 3D. Well, sayang saya tak sempat menyaksikan versi 3D-nya.

Tata suara yang menggelegar wajib diperhitungkan untuk film semacam ini and it worked quite well. Namun sayang sekali tak ada score yang begitu memorable. Padahal salah satu unsur yang mampu mengingatkan penonton akan sebuah franchise yang kuat adalah score-nya. Semoga saja jika ada sekuelnya, aspek score yang hummable turut diperhitungkan.

The Essence

In near apocalypse situation, all mankind finally have the same purpose.

They who will enjoy this the most

  • Robot fans
  • Giant monster fans
  • General audiences who seek for a light entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates