The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Read more.

Monday, December 31, 2012

The Jose Movie Review
Jack Reacher

Overview

Hanya dengan melihat trailer dan poster Jack Reacher (JR) siapa saja tentu akan mengira bahwa ini adalah film non-stop action ala Mission: Impossible. Tak hanya aura materi promosinya, Tom Cruise memang sudah sangat melekat dengan image action hero bak Ethan Hunt. Setidaknya hampir semua filmnya berformula kurang lebih sama : non-stop action. Jujur dengan asumsi demikian awalnya, saya tidak begitu tertarik untuk menyaksikan JR. Just another Tom Cruise’s action hero movie, begitu pikir saya.

Ternyata saya salah. Jack Reacher adalah karakter fiksi dari novel karya Lee Child yang pertama kali rilis tahun 1997 dan hingga kini sudah memiliki 17 seri. Versi film layar lebar pertamanya ini sendiri diangkat dari seri One Shot yang dirilis tahun 2005. Tidak heran karena novelnya sendiri tidak begitu populer di Indonesia. Sekedar pembanding, novel seri The Bourne Identity karya Robert Ludlum juga tidak sepopuler setelah filmnya rilis. Judul film yang diambil dari nama karakter utama jelas menunjukkan intensi untuk menjadikannya franchise seperti James Bond dan Jason Bourne. Tetapi tentu saja semua tergantung dari penghasilan film pertamanya ini yang saya rasa tidak akan sulit untuk mengumpulkan keuntungan berlimpah di musim libur pergantian tahun kali ini.

Alih-alih sebuah film non-stop action, JR menawarkan sebuah kisah crime suspense klasik ala serial CSI atau Criminal Minds. Karakter Jack Reacher sendiri digambarkan sebagai sosok yang misterius. Backgroundnya yang mantan anggota militer di berbagai misi di luar negeri dan terhitung bersih agak aneh dengan kerahasiaan identitas serta kebiasannya kerap menggunakan nama samaran. Keterlibatan secara tiba-tiba dan keunikannya dalam menganalisa kasus menjadikan JR semakin menarik dan membuat penasaran seiring dengan alurnya. Alurnya lambat? Ah tidak juga, masih standard film crime suspense kok. Terasa demikian mungkin karena Anda salah ekspektasi dan/atau sudah terbiasa dengan pace film non-stop action Hollywood dewasa ini. Toh di balik alurnya itu, penonton kalau tidak diajak untuk ikut menganalisa, akan dibuat berdebar-debar. Sudut pandang yang terhitung baru dan out-of-the-box dalam menganalisa kasus dimana ia lebih memilih untuk mewawancarai keluarga dan kolega korban ketimbang si pelaku memberikan kesegaran tersendiri. Tipe film seperti ini yang saya sukai karena melatih untuk berpikir out-of-the-box dan menjadikan lebih cerdas.

Memang JR juga tidak menawarkan twist-ending yang mencengangkan atau mind-blowing, tetapi dengan perpaduan bumbu crime suspense ala Dirty Harry dan adegan aksi yang tidak terlalu mengandalkan CGI, secara keseluruhan JR adalah tontonan cerdas yang segar. Sekedar catatan, JR punya adegan kejar-kejaran mobil yang seru dan cukup memorable. Senang rasanya melihat film yang diproduseri dan dibintangi Tom Cruise berbeda dan jauh dari kesan action hero. Meski saya tetap meletakkannya di bawah karakter antagonis di Collateral.

The Casts

Membandingkan dengan versi novelnya jelas fisik Tom Cruise berbeda jauh. Namun seperti biasa, versi film seharusnya bisa berdiri sendiri dengan dunianya sendiri dari versi aslinya (dalam kasus ini, novel). Toh di film, karakter Jack Reacher yang diperankan Tom Cruise dapat menjadi karakter yang hidup dan menarik, terlepas dari mirip-tidaknya dengan gambaran di novel. Jika benar franchise ini berjalan, maka Jack Reacher bisa menjadi salah satu karakter paling memorable bagi Tom Cruise yang ia mulai ketika menginjak usia 50 tahun (!).

Rosamund Pike yang kerap mengisi peran pembelot atau peran pendukung yang porsinya tidak terlalu banyak, kali ini mendapatkan porsi yang cukup banyak dan ia mampu mengisinya dengan baik. Karakter pengacara yang (berusaha) adil, bersih, dan idealis, berhasil dihidupkan dan memberikan impresi positif bagi karir aktingnya selama ini.

Pemeran pendukung yang meliputi Richard Jenkins, David Oyelowo, Jai Courtney, dan Alexia Fast turut mengisi peran masing-masing dengan sangat baik dan jauh dari kesan tempelan atau hiasan semata. Terima kasih kepada skrip yang memberikan porsi yang cukup berarti dan penting bagi kesemua karakter pendukung.

Technical

Di tengah efek CGI yang minim, JR menyuguhkan sound effect yang menggelegar, terutama suara tembakan yang sering terdengar. Begitu pula efek suara ketika adegan car-chase yang mendebarkan dan menghadirkan suara mesin mobil begitu hidup. Efek surround pun termanfaatkan dengan cukup maksimal.

Dukungan score yang turut membangun aura suspense patut mendapatkan apresiasi. Terasa seperti film suspense era 70-80an, score nya mengingatkan saya akan Dirty Harry atau Death Wish. It’s blended very well with the film.

The Essence

Selain plot utama yang mengajak penonton untuk think outside the box, karakter misterius Jack Reacher menjadi esensi yang lebih menarik perhatian saya. Latar belakang bekas anggota militer yang membuatnya sering bertugas di garis depan medan perang dan memperjuangkan kebebasan, menjadikannya sosok yang benar-benar “bebas” ketika sudah tidak bertugas. Sebuah perenungan menarik di sebuah adegan ketika ia menjelaskan “pilihan hidupnya”. But you have to watch and think for yourself.

They who will enjoy this the most

  • Penonton penggemar film crime yang membangun cerita melalui investigasi dan analisis
  • Tom Cruise’s fans
  • Thrilling-action enthusiasts
Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Man with the Iron Fists


Overview

Saya yakin setidaknya ada dua tipe penonton yang "tertipu" oleh materi promosi The Man with the Iron Fists (TMwtIF). Yang pertama adalah yang mengira ini adalah film Mandarin produksi Cina asli. Yang kedua adalah yang tertarik karena embel-embel “Quentin Tarantion presents”.  Saya termasuk yang tipe kedua meski saya tahu ini hanyalah sekedar trik promosi agar lebih menjual, seperti yang pernah dilakukan Hostel 2005 silam. Quentin Tarantino bahkan sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan film ini, kecuali hanya memberikan saran dan masukan untuk sang penggagas (penulis, sutradara, sekaligus aktor di TMwtIF), RZA. Namun saya mengharapkan setidaknya gaya dan kegilaan yang setipe dengan film-film Quentin Tarantino.

Bagi RZA yang lebih dikenal sebagai anggota band rap Wu Tang Clan, ini adalah kali pertamanya ia menulis sekaligus menyutradarai sebuah film. Dibantu Eli Roth (sutradara Hostel), inilah proyek ambisius pertamanya yang dibuat berdasarkan kecintaannya terhadap film kungfu Mandarin ala Shaw Brothers.

Nuansa tribute jelas terasa sejak opening title yang bergaya vintage Shaw Brothers. Selebihnya, RZA menghadirkan adegan-adegan aksi kungfu yang dipenuhi darah dan organ tubuh berhamburan kemana-mana. Fun? Jelas. Meski tidak se-exciting dan tidak se-remarkable Kill Bill, setidaknya TMwtIF sedikit memuaskan kerinduan saya akan adegan-adegan aksi sejenis. Tema blaxploitation (film yang mengeksploitasi etnis kulit hitam) turut diselipkan dalam sebuah adegan flashback.

Aura film yang berusaha serius dan kelam menjadi bumerang bagi RZA. Seandainya TMwtIF dibuat lebih dinamis dengan aura film yang lebih gokil seperti Kill Bill volume 1, saya yakin hasilnya akan jauh lebih enjoyable.

Lupakan sejenak berbagai logika terutama dari segi kehadiran etnis tertentu yang janggal untuk tinggal di sebuah teritori. Secara cerita, RZA memang terasa berusaha sekeras mungkin untuk menghadirkan cerita yang dipenuhi konflik dari berbagai karakter yang sama banyaknya dengan di film-film Guy Ritchie. Meski jika mau digaris bawahi, plotnya hanyalah sebuah perebutan emas oleh berbagai pihak dengan macam-macam kepentingan. Namun RZA bukanlah Quentin Tarantino maupun Guy Ritchie. Kemampuan menulisnya masih jauh dari bagus. Alih-alih tampak keren, cerita hasil tulisannya terasa bertele-tele, cheesy, dan dalam berbagai kesempatan terasa boring. Terutama sekali ia harus belajar merangkai alur dengan pace yang tepat dan memilah-milah adegan serta dialog yang perlu agar tidak mengganggu keseluruhan cerita. Saya justru masih bisa memaklumi cerita yang sederhana dan klise untuk film-film sejenis ini ketimbang penuh konflik tapi sangat terasa dibuat-buat. Toh, saya yakin bagi penonton jenis film seperti ini orisinalitas cerita tidak lah begitu penting. Yang penting adegan-adegan aksi penuh darah yang remarkable dan breath-taking. Seandainya ceritanya juga bagus dan orisinal, then it’s a bonus.

The Casts

Meski karakter Blacksmith yang diperankan RZA menjadi karakter utama (bahkan dijadikan titel film), namun di mata saya perannya tidak begitu menonjol maupun mencuri layar. Porsinya sama rata dengan karakter yang diperankan Russell Crowe (Jack Knife), Lucy Liu (Madam Blossom), maupun Rick Yune (Zen Yi). Karakter yang lebih menonjol berkat kecantikan dan kemampuannya dalam bela diri adalah Lady Silk (Jamie Chung) dan Gemini Female (Grace Huang). Sementara kehadiran pegulat WWE David Bautista bisa dibilang hanya penghias cerita, seperti halnya The Rock (Dwayne Johnson) ketika mengisi peran The Scorpion King di The Mummy Returns.

Technical

Adegan kungfu yang dipenuhi organ-organ tubuh terlepas dari letaknya dan aneka adegan berdarah-darah lainnya ditampilkan dengan sangat meyakinkan dan keren. Begitu juga beberapa CGI yang menghadirkan perubahan tubuh David Bautista pun tampak keren. Sayang penggunaan multi-panel framing terkesan hanya untuk gaya-gayaan. Terbukti setiap kali kemunculannya tidak memberikan efek apa-apa. Gambar di tiap panel tidak memberikan informasi yang berbeda. Dengan kata lain, penggunaan multi-panel framing-nya mubazir.

Dari segi score dan music tentu saja dihadirkan oleh RZA sendiri. Saya pribadi tidak masalah dengan fusion antara music rap hip-hop dan cerita berlatar Cina jaman kungfu. Namun pemilihan tune yang sesuai agaknya tetap harus diperhatikan. Ini berkaitan dengan aura film secara keseluruhan.

The Essence

Hmmm… kali ini persetan dengan esensi. Nikmati saja adegan-adegan kungfu sadis yang bertebaran di sepanjang film.

They who will enjoy this the most

  • Shaw Brothers style kungfu film fans
  • Actio-gore enthusiasts
Lihat data film ini di IMDb.



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Habibie & Ainun

Overview
Tahun 2012 menjadi tahun yang unik bagi perfilman Indonesia. Meski akhirnya The Raid yang “menggemparkan dunia” dirilis dan menuai sukses baik dari segi penghasilan maupun pujian dari berbagai pihak, nyatanya secara keseluruhan penonton film Indonesia terus menurun. Padahal dari segi varian plot dan genre sebenarnya mengalami perkembangan yang cukup baik. Sebelumnya, praktis hanya The Raid yang berhasil meraih lebih dari satu juta penonton di dalam negeri. Kabar baik terhembus di akhir tahun ketika dua film yang dirilis dalam waktu yang berdekatan, saling kejar-mengejar dalam hal pencapaian jumlah penonton, 5cm. dan Habibie dan Ainun. Hingga tulisan ini dibuat, keduanya sudah jauh melewati satu juta penonton dan masih terus bergulir. Luar biasa mengejutkan!

Seperti halnya yang pernah saya tulis di review 5cm., memang keberhasilan dalam meraih jumlah penonton bukan menjadi jaminan kualitas sebuah film. Teori yang sama saya terapkan ketika menyaksikan Habibie dan Ainun (H&A). Melihat dari siapa-siapa saja yang berada di baliknya, saya masih menaruh kepercayaan yang lebih besar secara kualitas. Dan ternyata benar dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, H&A patut diapresiasi lebih.

Skrip H&A diadaptasi dengan sangat baik sehingga terasa efektif dan enak untuk dinikmati. Meski dari titelnya jelas lebih berfokus pada plot perjalanan cinta serta rumah tangga mantan presiden Indonesia ketiga dan mendiang istrinya, skrip masih menyelipkan berbagai sub plot yang menarik dan memberi lebih banyak warna mulai pertengahan hingga akhir film. Terutama sisi kepribadian serta pemikiran-pemikiran B.J. Habibie sendiri. Dari sini penonton diajak untuk melihat keadaan bangsa ini dari kacamata B. J. Habibie. Inspiratif? Mungkin. Menyindir? Tentu saja. Namun skrip menyampaikan semuanya (termasuk kritik-kritik sosial yang sempat terlontarkan melalui beberapa adegan, misalnya tentang keminderan  rakyat Indonesia akan bangsanya sendiri) dengan sangat halus sehingga tidak terasa menohok, justru mungkin malah membuat penonton “tergerak” seiring dengan aura cerita yang semakin memyentuh penonton.

Sebagai sebuah film biografi, tentu sulit untuk menyampaikan berbagai aspek kehidupan seorang tokoh yang beragam agar tetap terasa fokus. Aspek yang bercabang kemana-mana justru membuat rancu arah film itu sendiri. Tim Dapur Film yang diasuh Hanung Bramantyo jelas sudah berpengalaman menangani berbagai film biografi, seperti Sang Pencerah. Untuk H&A ini, tidak banyak perbedaan secara struktur dan gaya penceritaan dengan karya-karya sebelumnya. Tidak sampai kehilangan fokus cerita, namun seringkali masih terasa lompatan-lompatan yang kurang halus dalam beberapa perpindahan rentang waktu adegan. Untung saja secara keseluruhan masih dalam kategori aman dan mampu mengalir nyaman untuk dinikmati.

Yes I know MD masih melakukan tradisi mengganggu-nya dalam peletakan iklan produk. Bukan sesuatu yang sehat untuk bisa terus ditolerir sebenarnya, tetapi tidak adil pula jika vonis buruk harus teralamatkan pada H&A mengingat berbagai upaya serius dalam penggarapannya.

The Casts

Harus diakui salah satu kekuatan utama yang menghidupkan H&A adalah performa akting para aktornya, terutama sekali Reza Rahadian yang berhasil menghidupkan kepribadian B. J. Habibie secara nyata dan persis tanpa harus terasa komikal atau dibuat-buat. Lupakan perbedaan fisik antara Reza dan B. J. Habibie yang asli. Awalnya memang terasa lucu dan aneh terutama bagi kita yang sangat mengenal seperti apa sosok B. J. Habibie yang sebenarnya. Tetapi ikuti saja alurnya maka perlahan Anda akan semakin yakin bahwa yang ada di layar adalah B. J. Habibie sendiri, bukan lagi Reza Rahadian.  A very remarkable performance for Reza Rahadian.

Sementara Bunga Citra Lestari (BCL) setidaknya masih bisa mengimbangi berkat chemistry yang terbangun dengan baik serta meyakinkan dengan Reza. Kasihan juga BCL tidak memiliki pijakan yang pas akan sosok Ainun yang sudah meninggal dan tidak punya banyak rekaman arsip sebagai referensi. Jika BCL masih menjadi tipikal karakter yang selama ini ia perankan, saya masih bisa memaklumi dan tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang minus.

Selain dari dua karakter utama tersebut, tidak ada pemeran pendukung yang tampil lebih menonjol satu sama lain karena memang porsinya yang sangat terbatas. Kalaupun ada, semata karena sosok-sosok terkenal yang mengisi peran-peran cameo, misalnya Tio Pakusadewo yang memerankan Soeharto dan Hanung Bramantyo sebagai seorang calo proyek pembangunan.

Technical

Detail produksi untuk menyesuaikan dengan setting waktu dikerjakan dengan sangat baik, mulai dari setting lokasi, properti, hingga kostum. Baik untuk setting Indonesia maupun Jerman. Tampilan visual effect di tanah bersalju mungkin masih sedikit tampak palsu namun jauh dari kesan murahan.

Yang membuat saya kurang nyaman adalah kehadiran score dan lagu-lagu pengiring yang kurang variatif sesuai setting waktunya. Seandainya misalnya diselipkan lagu-lagu yang populer di era 60-70’an, seperti yang terjadi pada Gie, saya yakin H&A akan terasa jauh lebih hidup dan menarik lagi.

Divisi make-up juga terasa sedikit effortless terutama tampilan Ainun tua. Saya tidak mengharapkan make-up luar biasa layaknya Curious Case of Benjamin Button, tetapi setidaknya bisa lebih meyakinkan ketimbang ala sinetron seperti yang tampak di layar.

The Essence

Behind every great man, there always is a great woman. Sebagai sepasang suami-istri, banyak sekali kejadian yang terasa seolah-olah menghalangi momen-momen kebersamaan. Apalagi sosok B. J. Habibie dengan mimpi-mimpinya untuk bisa membanggakan dan membangun Indonesia. Penyesalan sempat terbersit ketika apa yang diupayakan dan setelah semua pengorbanan yang dilakukan demi bangsa selama ini tidak dihargai dengan pantas. Malahan tuduhan negatif tertuding padanya. Tetapi sadar sebagai cinta sejati yang harus saling mendukung, segala kepentingan, tantangan, serta cobaan dapat terlampaui dengan baik.

They who will enjoy this the most

  • Romance story enthusiasts
  • Biographical film enthusiasts

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 20, 2012

The Jose Movie Review
5cm.

Overview

2012 boleh jadi tahun yang cukup penting bagi perfilman Indonesia. Meski tren angka penontonnya menurun, namun jumlah judul dan varian genrenya bolehlah dianggap sebagai kemajuan. Setelah tak ada judul lain yang berhasil meraih 1 juta penonton selain The Raid, bisa jadi inilah film Indonesia yang setidaknya bisa duduk di posisi kedua terlaris tahun ini. Bagaimana tidak, di 5 hari pertama penayangannya saja sudah berhasil mengumpulkan 500.000 penonton. Rasanya tidak mustahil untuk meraih 1 juta penonton, meski harus bersaing dengan Habibie & Ainun yang juga berpotensi mendulang banyak penonton.
Akan tetapi saya tetap berpijak pada teori, “angka penonton yang tinggi bukan jaminan kualitas sebuah film”. Berkali-kali teori ini terbukti bagi saya. Apalagi penonton Indonesia rata-rata nonton film di bioskop karena faktor tulisan “based on best seller book”, atau bagian dari franchise, atau asal ada gambar orang membawa pistol di posternya. Tak terkecuali kasus 5cm. dimana sebelum nonton filmnya saja saya sudah diwarning oleh seorang teman yang membaca versi novel grafisnya (film 5cm. diangkat dari novel dan pernah juga diangkat dalam format novel grafis) bahwa ini bukanlah karya yang bagus secara rangkaian plot meski memiliki esensi yang menarik. Oke baiklah, saya menurunkan ekspektasi saya yang sempat tinggi berkat trailernya.
Ternyata apa yang saya saksikan di layar masih jauh di bawah ekspektasi yang sudah saya turunkan tersebut. Keganjilan paling mengganggu yang saya rasakan adalah logisme runtutan alur yang seolah dipaksakan dan tidak tahu arah hendak ke mana. Kita mulai saja dari titik tolak petualangan lima sahabat ini yang memutuskan untuk tidak bertemu sementara waktu. Tiba-tiba saja karakter Genta mencuatkan uneg-unegnya yang merasa bosan dengan persahabatan mereka. Akan terasa lebih wajar jika ada satu masalah yang spesifik mengarah ke isu kebosanan tersebut. Misalnya ada salah satu karakter yang kesusahan mendapatkan koneksi karena tidak pernah bergaul dengan orang lain selain mereka berlima. Tak hanya sampai di situ, menjelang akhir cerita ketika mereka berlima tiba di puncak Mahameru, tiba-tiba saja isu menggapai cita-cita dan cinta tanah air menyelinap begitu saja tanpa ada indikasi apa-apa sebelumnya. Sampai titik ini saya merasa 5cm. terlalu ambisius menyampaikan pesan ini-itu tanpa tahu bagaimana caranya yang efektif. Bahkan Cita-Citaku Setinggi Tanah atau Tanah Surga... Katanya yang secara nilai produksi jauh lebih simpel memiliki cara yang jauh lebih baik dan halus dalam menyampaikan esensinya. Alhasil, pesan-pesan tersebut hanya seperti ucapan verbal saja tanpa dapat dirasakan secara emosional oleh penonton.
Konflik yang terasa sangat dipaksakan untuk ada tersebut diperparah oleh perkembangan cerita yang kalau mau dipikir-pikir lagi, sama sekali tidak berkembang. Kalaupun ketika adegan kelima sahabat ini sampai di puncak Mahameru dianggap sebagai klimaksnya, maka 5cm. masih mengalami kendala post-climax yang terlalu bertele-tele dan menjadikan keseluruhan alur tidak enak untuk dinikmati. I mean, perlukah isu persahabatan, penggapaian cita-cita, dan “nasionalisme” masih ditambah isu perjodohan yang semakin jauh menyesatkan alur cerita? Baiklah, cukup. Sebagai film yang memiliki alur cerita, 5cm. sangat buruk. Ada yang berpendapat bahwa dari novelnya memang sudah seperti itu ceritanya. Well jika sudah menyadari buruk, kenapa tidak ada usaha untuk memperbaikinya di film? Yah rupanya faktor kepuasan fans novel yang sudah terlanjur fanatik lagi-lagi (masih) harus lebih diutamakan.
Tak hanya sampai di situ, masih ada banyak sekali awkward moment di beberapa perpindahan adegan. Yang paling terasa adalah akhir adegan pertemuan terakhir lima sahabat sebelum berjanji untuk lost contact. Beruntung beberapa komedi yang sangat khas Hilman (salah satu penulis naskahnya) berhasil menyegarkan suasana, kecuali guyonan-guyonan yang melecehkan fisik Saykoji.
Maka dengan kesuksesan secara angka box office dan kualitas naskah 5cm., saya senang sekaligus sedih. Senang karena ada film nasional yang mampu menjadi tuan di rumah sendiri. Begitu pula dengan antusiasme penonton yang nyatanya maish punya kepercayaan pada film nasional. Tetapi sekaligus sedih dengan selera dan pola pikir penonton kita yang masih sedalam mata memandang. Semoga saja kesuksesan 5cm. hanya sekedar menjadi batu loncatan akan kepercayaan penonton, tidak dijadikan patokan para produser untuk membuat film dengan kualitas skrip serupa.

The Casts

Sebagai lima orang yang sudah bersahabat lama, chemistry antara Herjunot Ali, Fedi Nuril, Igor Saykoji, Denny Sumargo, dan Raline Shah terbangun dengan sangat baik. Semuanya mengalir dengan natural. Sayangnya, akting sebagai personal masing-masing karakter masih tidak merata. Fedi Nuril dan Igor Saykoji bisa dibilang tampil yang paling wajar dan sesuai dengan karakternya (mungkin karena memang tak jauh-jauh dengan kepribadian aslinya). Denny Sumargo pun masih tergolong baik sebagai pendatang baru meski dalam berbagai kesempatan tatapan matanya masih “bingung” dalam berakting. Raline Shah pun tampil memikat lengkap dengan persona kecantikan fisiknya.
Yang paling saya sayangkan adalah Herjunot Ali yang biasanya mampu tampil baik dalam berperan. Meski pernah memerankan karakter yang sama-sama poetic di Di Bawah Lingkungan Ka'bah yang saya rasa jauh lebih natural, di sini tingkahnya terasa terlalu dibuat-buat dan slapstick. Aktor mengganggu berikutnya adalah karakter Pevita Pearce yang biasanya juga tampil menarik (termasuk terakhir di Dilema). Bukan sepenuhnya kesalahan ia karena karakter yang cantik, hot, namun agak bodoh dan manja memang sudah ada di skrip. Tetapi cara ia membawakan karakter tersebut membuat saya semakin sebal dengan karakternya. Semenyebalkan karakter-karakter yang diperankan Sandy Aulia di film-film produksi Soraya Intercine Films seperti Eiffel I'm in Love.

Technical

Production value menjadi satu-satunya penyelamat yang mampu membutakan mata penonton. Excuse my language, tetapi siapapun bahkan yang menyadari cacat besar dari 5cm. akan setuju luar biasanya keindahan panoramik (khususnya alam Gunung Semeru) yang berhasil terekam oleh sang director of photography (DOP) Yudi Datau. Begitu pula score megah yang memberi sentuhan epic di beberapa adegan. Art directing yang merangkai indah “markas” berkumpulnya gank 5cm di rumah Arial, kamar Zafran (papan tulisnya itu juara!), dan kantor Genta di akhir film juga patut mendapat apresiasi.

The Essence

Any friendship has its ups and downs. Jika selalu diisi hanya senang-senang saja, di satu titik pasti sampai pada titik kebosanan. Justru dengan hadirnya permasalahan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya akan semakin memperkokoh dinding persahabatan.

Those who will enjoy this the most

  • Audiences who love magnificent panoramic scenery
  • A bunch of friendship members 
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 17, 2012

The Jose Movie Review
The Hobbit: An Unexpected Journey

Overview

Bagi beberapa orang The Lord of the Rings (LOTR) adalah salah satu trilogy epic terbesar sepanjang sejarah perfilman. Tak heran jika sudah punya fanbase fanatik yang jumlahnya tidak sedikit. Dengan dukungan artistik, special effect, dan naskah adaptasi yang terasa paling pas (bahkan tidak sedikit yang menganggap versi filmnya lebih baik dan lebih nyaman diikuti dibanding versi novel yang terlalu detail menggambarkan “dunia”-nya), segala kesuksesan LOTR jelas sayang untuk disudahi begitu saja. Apalagi J.R.R. Tolkien, sang penulis novel jelas-jelas pernah menulis novel prekuel (atau lebih tepat disebut spin-off) bertajuk The Hobbit.
Mengikuti tren adaptasi sebuah novel menjadi lebih dari satu bagian film seperti seri terakhir Harry Potter dan Twilight Saga, The Hobbit malah membagi novelnya ke dalam tiga judul film. Entah bagaimana jadinya kelak karena saya sendiri bukan pembaca novelnya dan yang sudah dilepas ke pasaran baru satu judul. Akan lebih fair jika kita tidak men-judge terlebih dahulu. Kita lihat saja dulu bagaimana bagian pertamanya ini.
Bagi yang pernah membaca versi novel atau setidaknya pernah mendengar premise dasar spin-off ini, tentu menyadari bahwa The Hobbit memiliki cerita dengan skala yang lebih kecil ketimbang trilogi utamanya. Jadi saya rasa adalah hal bodoh jika membandingkan keduanya dari sudut ke-epic-an cerita. At some point, saya justru menghargai cerita yang berbeda namun masih memiliki logisme yang runtut dengan trilogi utamanya meski tidak sama epik, ketimbang dipaksakan untuk lebih epik namun malah timpang di mana-mana. Bukannya apa, penonton dan kebanyakan kritikus jaman sekarang kan lebih suka kadar yang lebih ketimbang pendahulunya untuk memberikan label “lebih baik” kepada sebuah film dan mengabaikan aspek lain yang lebih penting. Misalnya aksi yang lebih brutal, efek yang lebih banyak, dan lain-lain. So, sebelum cerewet mengomentari The Hobbit selepas menyaksikannya, ada baiknya Anda memahami konsep cerita The Hobbit yang jelas-jelas tidak memiliki kaitan cerita secara langsung dengan trilogi utama LOTR. That's why menurut saya istilah “spin-off” lebih tepat disematkan untuk The Hobbit ketimbang “prekuel” yang semata-mata hanya berdasarkan urutan timeline cerita.
So yes, The Hobbit memang punya skala cerita yang lebih kecil. Jika trilogi utama LOTR melibatkan (serta mempengaruhi) semua kerajaan yang ada di Middle-Earth, maka The Hobbit terfokus pada perebutan kembali kerajaan kurcaci (dwarf) bernama Erebor yang dikuasai oleh seekor naga tamak bernama Smaug. Dari peristiwa inilah kita diperkenalkan oleh karakter kunci yang menghubungkan cerita The Hobbit dengan trilogi utama LOTR : Bilbo Baggins. He's the Frodo of these new trilogy. Selain karakter-karakter baru, saya merasakan aroma nostalgia yang menyenangkan ketika pertama kali terpana oleh visualisasi LOTR terutama Kerajaan Rivendell yang menjadi favorit saya, lengkap dengan Elrond dan Galadriel. Kehadiran Gollum/Smeagol pun semakin menambah kegirangan saya akan trilogi yang ini.
Mengadopsi gaya penceritaan yang tidak jauh berbeda dengan trilogi utama LOTR, sutradara Peter Jackson meng-improve alur The Hobbit menjadi lebih lugas dan lebih enak dinikmati tanpa mengabaikan pengembangan karakter-karakter yang jumlahnya tidak sedikit. Kalaupun ada adegan-adegan yang kurang relevan dengan alur utama, jatuhnya masih menghibur. Contohnya nyanyian Things Bilbo Hates yang menjadi adegan favorit saya. At the end, memang hanya beberapa karakter yang terasa menonjol dan berkesan, seperti Bilbo Baggins, Gandalf, Thorin, serta tentu saja si kembar Fili dan Kili. Sisanya tampaknya harus menantikan kemunculan mereka di installment-installment berikutnya untuk bisa se-memorable karakter-karakter pendukung LOTR lainnya. Durasi 169 menit yang jelas lebih pendek ketimbang installment-installment trilogi utama LOTR pun tidak terasa melelahkan sama sekali. A very well done, Peter Jackson!

The Casts

Aktor Inggris Martin Freeman, pemeran Dr. Watson di serial TV Sherlock, berhasil menghidupkan karakter utama, Bilbo Baggins sehingga tampak menarik, melebihi Frodo di trilogi utama LOTR. Sir Ian McKellen masih melanjutkan kualitas akting yang sama sebagai Gandalf. Begitu pula dengan Cate Blanchett (Galadriel), Hugo Weaving (Elrond), dan Christopher Lee (Saruman) yang tampil kembali.
Di lini pemain baru, Richard Armitage (Thorin) mampu menghadirkan karakter hero (sekaligus pemimpin) yang cukup kharismatik, meski masih belum setingkat karakter Faramir. Masih ada banyak waktu untuk menancapkan image yang kuat di installment-installment selanjutnya. Semoga saja.

Technical

Masih perlukah saya mengisi segmen ini? Semuanya tampil semaksimal mungkin. Desain produksi yang meliputi set lokasi, kostum, dan prop, masih sekualitas LOTR yang sangat detail dan memanjakan mata. Sementara special effect yang terasa sekali mengalami banyak perkembangan, terutama animasi motion capture yang digunakan untuk menghidupkan karakter Gollum/Smeagol, jauh lebih banyak “pamer” ekspresi wajah.
Jika Anda tertarik dengan versi 3D maupun IMAX 3D-nya (gaya, mentang-mentang nonton di IMAX 3D... :p), go for it. IMAX menampilkan dunia yang lebih hidup dan nyata. Efek depth of field-nya lumayan terasa dan beberapa gimmick pop-out yang menghibur, seperti burung-burung dan kelelawar yang beterbangan, bebatuan yang berjatuhan, serta serangan Orc dan Warg yang melaju.
Teknologi HFR (High Frame Rate) yang menghadirkan 48 gambar perdetik (bandingkan frame rate standard selama ini yang antara 24.97 atau 30 fps) menimbulkan berbagai pendapat, sama seperti ketika teknologi 3D mulai merebak beberapa tahun lalu. Ada mata penonton yang bisa bertahan, ada pula yang lantas pusing karena terasa terlalu tajam. Bagi saya yang termasuk mata rata-rata sih sudah fine-fine saja dengan frame rate 24.97.

Ternyata 48 fps memberikan keunikan pengalaman visual tersendiri. Memang awalnya agak aneh, seperti melihat cuplikan clip di display toko LED yang warnanya serba tajam. Beberapa adegan juga terasa bergerak terlalu cepat seolah diputar dengan speed 2x-4x. Jika Anda merasa mengantuk, itu bukan karena filmnya yang membosankan, tetapi mungkin saja efek dari 48 fps yang jujur memang lebih melelahkan mata, tetapi setelah mata mulai terbiasa, efek tersebut sedikit demi sedikit berkurang. Pengalaman sinematik klasik tidak begitu terasa, namun tergantikan oleh pengalaman visualisasi real yang berbeda. HFR 48 fps sangat membantu improve efek 3D-nya yang jadi semakin hidup dan lebih eye-popping. Kedua format, IMAX dan 3D HFR menawarkan sensasi visual yang berbeda dan memiliki keunggulan masing-masing. Namun jika saya disuruh memilih salah satu yang lebih saya sukai, saya akan memilih 3D HFR. Toh, The Hobbit tidak dishoot dengan kamera IMAX.

The Essence

Menarik sekali masing-masing bangsa yang terlibat di sini memiliki esensi dari cerita The Hobbit. Bangsa yang selama ini dipandang sebelah mata dan lemah akhirnya berhasil keluar dari zona nyamannya untuk bertualang dan membuktikan ketulusan hatinya. Sosok yang kuat, bijak, dan berkharisma pernah juga menggantungkan harapan pada orang lain dan justru menemukan harapan tersebut dari makhluk yang selama ini dianggap lemah. Begitu pula kaum yang merasa superior dan meremehkan/membenci kaum lainnya harus menyadari betapa salah pendapatnya selama ini.

Those who will enjoy this the most

  • Lord of the Rings fans who miss the Middle-Earth universe so much
  • General audiences who seek for a fantasy adventure film

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling
  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Visual Effects
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 14, 2012

The Jose Movie Review
Talaash

Overview

Sinema India sangat jarang sekali menyambangi bioskop di kota saya. Oleh sebab itu ketika ada judul film tanah Hindustan yang mendapat banyak pujian internasional tayang, tidak perlu berpikir dua kali untuk menyempatkan waktu menyaksikannya di layar bioskop. Memang masyarakat urban kita, terutama yang merasa berasal dari kalangan menengah ke atas, masih menganggap film (dan juga lagu serta bahasanya) India kampungan dan norak. Ya mereka nonton film India yang salah saja dan belum tahu bahwa sinema India saat ini sangat jauh berbeda bahkan ketika dibandingkan sepuluh tahun lalu. Semakin banyak mengadopsi gaya Hollywood, gaya asli Bollywood seperti nomor-nomor music yang dibawakan (meski lipsync) oleh aktor-aktornya hingga durasinya yang rata-rata mencapai tiga jam lebih, semakin lama semakin terkikis.
Agak saya sayangkan sebenarnya gaya-gaya khas Bollywood hilang begitu saja, dengan nomor-nomor music yang hanya dijadikan pengiring adegan bak music video dan durasi yang hanya berkisar dua jam lebih. Namun beruntung masih ada yang tersisa dan  kebetulan merupakan the best thing in Bollywood cinema, yaitu perkembangan plot dan karakter yang membuat penonton merasa dekat dengan karakter-karakter yang ada. Pun dengan demikian, fokus cerita masih terjaga sehingga tidak terasa tumpang tindih. Tak terkecuali produksi teranyar Aamir Khan ini, Talaash.
Film dibuka dengan gambaran sudut sebuah kota yang lekat dengan prostitusi dan dunia malam. Berwarna-warni dengan diiringi Muskaanein Jhooti Hai yang beraliran jazz, jelas aroma film noir terasa sangat kuat. Yah, seperti itulah gambaran besar Talaash. Film crime detective (khususnya pembunuhan) bernuansa noir. Gaya yang sangat jarang diangkat oleh sinema Bollywood, tidak hanya dari segi nuansa tetapi juga penceritaannya.
Kekuatan utama Talaash jelas terletak pada kerapihan script-nya yang tak hanya mampu menyampaikan plot utama dengan menarik, berkembang secara bertahap, serta terus-menerus membuat penasaran, tetapi berhasil pula menaut sub-plot menjadi kesatuan yang padu dan relevan. Mungkin bagi beberapa penonton, sebuah twist menjelang akhir terasa “murahan” dan desperate. Namun jika Anda memperhatikan adegan-adegan sebelumnya, sebenarnya ada banyak clue disebar di sana-sini yang mendukung bahwa twist tersebut memang sudah direncanakan sejak awal, bukan sesuatu yang dipaksakan. Apalagi ternyata twist tersebut memiliki pengaruh kuat terhadap sub-plot perkembangan psikologis karakter utama (Surjan Singh Sekhawat yang diperankan Aamir Khan) dan disajikan dengan visualisasi yang tidak cheesy. So yes, Talaash has a very neat script yet very intriguing which will keep sparking audiences' curiosity. Didukung presentasi yang menerjemahkan skrip dengan sangat baik, pace yang berjalan santai, tidak menggebu-gebu atau meledak-ledak pun juga tidak pula terlalu lambat dengan plot yang berat dan susah dicerna, it's a pure entertainment and its thrilling drama is fun.

The Casts

Tidak ada cast yang tampil buruk di sini. Tentu saja Kareena Kapoor masih menarik perhatian sepanjang durasi. Meski tidak lagi muda dan bentuk tubuhnya juga sudah mulai “membesar”, namun aura bintang serta kecantikannya masih terang bersinar. Berperan sebagai PSK yang membantu karakter utama kita, baik dalam menangani kasus pembunuhan maupun kehidupan pribadinya, she's dazzling! Aamir Khan sendiri tampil baik meski tidak sememorable ketika di Ghajini misalnya.
Di lini pemeran pendukung, Nawazuddin Siddiqui yang memerankan Tehmur tampil paling menonjol berkat karakteristiknya yang memang sudah unik dan dimainkan dengan sangat baik pula.

Technical

Production design menjadi kekuatan yang menghidupkan setting gelap, kumuh, namun gemerlap tiap adegan. Sangat India sekaligus imajinatif. Didukung sinematografi yang mampu merangkai gambar-gambar sinematik indah, secara visual it's stunning.
Divisi audio pun tidak memiliki kendala yang menonjol. Suara music, dialog, dan sound fx terjaga dengan seimbang sehingga tidak ada yang terdengar tumpang tindih. Meski tak banyak efek surround terasa dan tidak terdengar begitu dahsyat, secara keseluruhan masih mampu menghidupkan adegan-adegan yang ada dengan baik.

The Essence

Ada dua esensi yang menarik perhatian saya di sini. Yang pertama efek psikologis dari kematian seseorang yang berbeda-beda. Jika sang istri masih mampu hidup dengan psikis yang stabil meski masih memendam duka, Surjan diam-diam menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang putra. Efeknya meski sudah berusaha mengalihkan perhatian ke pekerjaan, ia tidak mampu untuk menyingkirkan trauma tersebut.
Yang kedua, kehadiran PSK yang di sisi hukum termasuk ilegal seolah keberadaannya tidak dianggap sebagai manusia dalam masyarakat. Unik melihat dua sisi yang sangat bertentangan. Secara moralitas PSK dianggap sampah masyarakat yang jika hilang atau mati satu tidak akan berpengaruh apa-apa. Tetapi apakah dengan demikian hukum tidak bisa melindungi mereka? Apakah warga sipil manapun berhak bebas membunuh para PSK ini tanpa tersentuh hukum? Persinggungan sisi moralitas dan kemanusiaan yang menarik untuk diangkat dan dipertanyakan dalam tata sosial manapun.

Those who will enjoy this the most

  • Bollywood fans
  • Neo-noir movie enthusiasts
  • Puzzling crime detective plot fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 2, 2012

The Jose Movie Review
Life of Pi 3D

Overview

Ang Lee, salah satu sutradara Asia (berasal dari Taiwan) yang berhasil konsisten berkarir di Hollywood, terutama film-film yang lebih menonjolkan sisi seninya. Terbukti Crouching Tiger Hidden Dragon, Sense and Sensibility, dan Brokeback Mountain diganjar penghargaan di mana-mana, termasuk Academy Awards. Meski pernah gagal menangani proyek blockbuster Hulk, namun namanya tetap diperhitungkan sebagai salah satu sutradara terbaik Hollywood. Kini setelah menyingkirkan berbagai kandidat seperti M. Night Shyamalan dan Alfonso Cuaron untuk mengarahkan adaptasi novel karya Yann Martel ini, Ang Lee dengan percaya diri menahkodai proyek yang sarat CGI dan visual effect bertajuk Life of Pi (LoP).
LoP terbukti menjadi perpaduan paling seimbang antara skrip adaptasi yang kuat hasil tangan David Magee yang pernah mendapatkan nominasi Oscar untuk skrip Finding Neverland, sense directional sinematik yang luar biasa dari Ang Lee, visualisasi yang imajinatif, serta teknologi 3D dengan efektivitas maksimal. Jadilah LoP sebuah film dengan pengalaman visual, emosional, serta spiritual yang luar biasa, yang sangat jarang ditampilkan oleh film, apalagi jaman sekarang dimana film seringkali hanya bertindak sebagai sarana hiburan mata dan telinga semata.
Plot pencarian jati diri berupa pertanyaan spiritual seperti eksistensi Tuhan dan berbagai pengalaman hidup manusia melalui sebuah petualangan ala Noah's Ark dan Cast Away, disampaikan dengan cara yang sederhana tapi sangat menarik, breathtaking, membelalakkan mata, dan menguras emosi. Anda akan dibuat tertawa oleh tingkah laku polos karakter Piscine Molitor Patel atau Pi yang “mencari Tuhan” melalui berbagai agama yang ada di sekitarnya. Anda juga akan dibuat menahan nafas tiap kali harimau Bengal bernama Richard Parker muncul di layar seolah Anda adalah Pi Patel sendiri. Ang Lee memang piawai membawa penontonnya ikut terlibat dalam visualisasinya hingga durasi yang dua jam lebih tujuh menit tidak terasa sama sekali. India yang kaya filosofis, spiritual, serta memiliki keragaman agama dalam masyarakatnya terasa pas sekali menjadi latar lokasi dan sosial cerita.
I have nothing else to say but just go watch it in 3D for the whole experience Ang Lee has set for us all. No matter what your religions is, including an atheist or an agnostic. It has left me thinking and reflecting about my faith long after the movie ends. Surely, I want to experience this movie again and again!

The Casts

Ini memang merupakan pengalaman Suraj Sharma bermain dalam sebuah film. Namun penampilannya yang sama sekali belum dikenal justru merasuk dengan sangat baik dengan karakter Pi tanpa terdistraksi oleh image karakter apapun sebelumnya. Toh dengan porsi yang paling mendominasi sepanjang durasi, ia mampu bertransformasi menjadi Pi dengan sangat meyakinkan. Begitu pula dengan pemeran Pi dewasa, Irrfan Khan yang mampu menunjukkan emosi yang sinkron dengan pemeran Pi muda seolah semua yang terjadi di layar memang dialami oleh aktor yang sama.
Pemeran pendukung lainnya seperti Gerard Depardieu dan Raff Spall mampu mengisi peran masing-masing dengan baik sesuai porsinya yang memang tidak begitu banyak.
Terakhir, kredit khusus untuk si harimau Bengal, Richard Parker yang meski kebanyakan hanya berupa animatronic dan CGI, mampu berakting dengan sangat baik seolah memang memiliki emosi dan ikatan batin dengan karakter Pi. Outstanding!

Technical

Tak perlu diragukan lagi, inilah visual fest bagi siapa saja. Selain special visual effect gila-gilaan yang berhasil menghidupkan ombak dahsyat, air jernih yang mampu merefleksikan bintang-bintang, dan cahaya bak fluorescent yang berasal dari ubur-ubur, efek 3D-nya adalah yang terbaik untuk film live-action, setingkat (atau malah di atas) James Cameron's Avatar. Bahkan ada dua adegan yang ditampilkan dalam aspect ratio yang berbeda (misalnya adegan serbuan ikan terbang) sehingga efek 3D-nya lebih terasa, terutama untuk efek pop-out. Tak hanya untuk ajang pamer, efek 3D LoP berhasil dimanfaatkan maksmial untuk menghidupkan keterlibatan penonton dalam adegan. Hal yang sering diabaikan oleh film-film dengan format 3D.
Editing menjadi aspek favorit saya sepanjang film. Penyatuan tulisan-tulisan opening credit dengan gambar adegan terasa atraktif dan sangat menonjolkan efek 3D-nya. Transisi adegan yang unik juga tak luput dihadirkan untuk menambah kemenarikan gambar-gambar yang ditampilkan.
Kedahsyatan visual diimbangi pula oleh sound effect yang tak kalah megahnya. Suara badai, ombak besar yang menggulung, ikan terbang yang menyerang, munculnya ikan paus, semuanya tampak begitu nyata, hidup, crisp, dan jernih.
Budaya India yang kaya warna turut diperhatikan tiap detailnya, seperti arsitektur, kostum, hingga make up. It's a very wonderful and personal trip to India through film.

The Essence

Inilah film yang dengan sukses menjelaskan pandangan religius saya yang enggan untuk terlalu fanatis terhadap salah satu agama dan cenderung tertarik untuk mengenal berbagai agama serta aliran kepercayaan. Saya sangat menghargai orang yang mengalami berbagai pergulatan spiritual sebelum memutuskan salah satu agama ketimbang orang yang sejak lahir telah memeluk agama tertentu. Pandangan kita soal Tuhan dan kehidupan adalah hal yang personal yang tidak bisa diutak-atik oleh siapapun. Tuhan sendirilah yang berkomunikasi secara langsung kepada tiap manusia melalui pengalaman-pengalaman hidup. Sebuah punchline dari Pi dewasa bisa jadi adalah twist di menjelang akhir film menjelaskan itu semua. So, which "story" do you prefer to believe in, that's your decision. That's the point from the life story of Pi.

They who will enjoy this the most

  • General audiences, from any religions, even an atheist or agnostic
  • General audiences, who seek for a breathtaking adventure
  • Those who has interest in spiritualism search

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Cinematography
  • Best Achievement in Directing
  • Best Achievement in Editing
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Achievement in Visual Effects
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates