Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Wednesday, November 30, 2011

The Jose Movie Review - Poconggg Juga Pocong The Movie


Sebagai orang yang tinggal di teritori Indonesia, mungkin kita sudah had enough with a thing called Pocong. Jenis makhluk halus asli Nusantara ini termasuk yang paling sering muncul di film horror lokal, selain tentu saja Kuntilanak. Yang bikin kesel sih, Pocong sebenarnya termasuk jenis hantu yang tidak mengerikan sama sekali. Ia tidak bersuara, tak bisa lari, dan posturnya biasa saja, tapi entah kenapa auranya itu lho yang bikin merinding.
Ada pula seikat pocong yang berjuluk Poconggg yang naik daun berkat akun twitter anonim-nya. Tak heran fenomenal sebuah akun twitter berlanjut pada sebuah buku novel ala Raditya Dhika, dan sama seperti Kambing Jantan, sekarang juga merambah film layar lebar.
Saya bukan follower akun twitternya yang konon hingga saat ini tembus satu juta tiga ratus ribu sekian follower. Tapi saya tahu beberapa twit fenomenalnya yang melegenda. Intinya sih kehidupan “seikat” pocong yang dipadu dengan kehidupan gaul manusia, ya gaul, ya galau. Manusiawi banget lah. Saat novelnya rilis pun, saya sempat under-estimate, “ah apaan sih… paling ya gitu gitu aja…”. Image nya berubah 180 derajat ketika saya mulai membaca isi novelnya ketika nongkrong di sebuah cafĂ©, tepat setelah novel itu dibeli oleh seorang teman kantor. Yep, saya berhasil memperawani novel tersebut sebelum ia sempat membacanya sendiri. Saya harus mengakui… Pocongg Juga Pocong adalah buku humor terlucu setelah era kejayaan Kambing Jantan.
Nah, ketika berhembus kabar bahwa PJP akan diangkat dalam format layar lebar, antusias saya jadi membara-bara. Namun ada juga dua kekhawatiran saya. Yang pertama, mengadaptasi sebuah novel komedi yang lebih berisi sketsa-sketsa cerita humor yang agak jauh berhubungan antara satu bab ke bab lainnya menjadi sebuah sebuah film cerita yang alurnya beruntut dan menarik, bukanlah pekerjaan mudah. Sebelumnya, Kambing Jantan menurut saya tidak begitu berhasil. Apalagi setelah melihat trailernya, comedic-feel-nya agak kurang terasa. Kedua, yang memproduksinya adalah Maxima Pictures yang terkenal dengan film-film horror kacrutnya, ditambah lagi sutradaranya adalah Chiska Dhoepert yang dulunya dikenal sebagai astrada dari Koya Pagayo atau alter-ego-nya Nayato. Filmografi Chiska sendiri sebagai sutradara tidak terlalu bagus karena cenderung mengikuti jejak mentornya. Tidak heran lantas banyak yang mencurigai Chiska sebagai alter-ego lain lagi dari Nayato. Untunglah ternyata bukan.
Setelah menyaksikan, ternyata hasil akhirnya jauh lebih baik daripada yang saya cemaskan ketika melihat trailernya. Guyonan-guyonan yang terlontar di novelnya masih terasa lucu di film, baik berupa celetukan maupun tingkah laku karakter-karakternya. Runtutan kejadiannya memang tidak sama persis seperti di novel, namun justru yang tersaji di layar jauh lebih enak dinikmati karena alurnya menjadi lebih teratur dan rapi. Fokus cerita tidak lagi berkisar kehidupan sehari-hari seikat pocong seperti di novelnya, tapi menyempit ke hubungan asmara antara Dimas (si Poconggg) dan sahabatnya ketika masih hidup, Sheila. Sebuah keputusan yang sangat baik sekali, menurut saya, sehingga film menjadi lebih terarah. Arief Muhammad, si pemilik akun @Poconggg, dibantu Haqi Achmad yang awalnya seorang blogger review film, cukup berhasil mengadaptasi novelnya menjadi sebuah skrip yang rapi dan lebih menarik, sehingga walau dengan dukungan teknis dan cerita cinta ala FTV (shot-nya saja hanya menggunakan kamera Canon full-HD), mampu menghadirkan karya dengan citarasa layar lebar. Chiska sangat beruntung punya skrip yang rapi, sehingga walau sang sutradara tak cukup memberikan kontribusinya, film masih terasa jelas arah alurnya. Ada beberapa adegan komedik yang seharusnya bisa jadi lucu banget, tapi gara-gara penyutradaraan, angle, dan timing yang kurang pas, jadinya terasa kurang greget. Misalnya adegan ketika Poconggg harus melewati tutup portal perumahan. I will blame the director for this.
Namun yang membuat saya cukup kaget sekaligus kagum adalah tampilan sisi drama romantisnya yang menurut saya dapet banget. Ada beberapa adegan yang menurut saya paling romantis untuk film Indonesia tahun ini. Jujur, saya sempat tersentuh, sedikit sembab tapi dengan senyum tersimpul gara-gara satu adegan ini. Treatment adegan serta score pengiringnya, mendukung banget feel romantis bin mengharukan itu. Keren banget. Sama sekali tidak menyangka pencapaiannya bisa sampai sejauh ini. Very good job!
Tentu saja tampilan keseluruhan yang menarik dan menghibur ini bukan tanpa celah. Sangat jelas sekali celah-celah yang terasa terutama dari segi teknis. Yang pertama dan paling simpel adalah banyak sekali kontinuitas adegan antar shot yang kurang sinkron. Jangan kaget kalau pada adegan yang sama tiap ganti angle, ada banyak perubahan baik itu berupa gerakan tangan atau arah kepala. Kedua, di bagian awal-awal film, ada banyak sekali transisi yang kurang enak dinikmati karena hanya main “fade out to black-fade in from black”. Belum lagi jika diiringi lagu soundtrack, pemotongannya seringkali kurang pas, terasa sekali jumping-nya. Untung saja, mulai pertengahan hingga akhir, transisi adegan sudah lebih dinamis, variatif, dan pas dengan kebutuhan.
Untuk akting, saya merasa sebagai pemeran utama, Ajun Perwira kurang bisa menunjukkan sisi komikal dalam dirinya. Beberapa guyonan yang dia lontarkan masih bisa bikin ketawa sih, tapi secara keseluruhan, aura “gokil”-nya masih seperti dibuat-buat, apalagi ketika membawakan narasi. Aktor pendatang baru yang mirip Adly Fairuz ini tampak terlalu alim untuk membawakan peran segokil itu. Geek but gokil, agak susah sih cari orang yang tampilannya seperti itu. Sementara akting Saphira Indah dan Guntur Triyoga masih standard kelas FTV. Untung saja penampilan Nycta Gina dan Rizky Mocil yang sudah lebih berpengalaman di dunia hiburan, sangat membantu meramaikan suasana.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, PJP adalah tipikal film yang dibuat sekedar untuk lucu-lucuan dan hiburan. So, don’t take this movie seriously. Buat yang sedang galau, butuh hiburan segar dan bisa tertawa terbahak-bahak, PJP adalah pilihan yang sangat tepat.
Lihat situs resmi film ini.
Kenali Poconggg lebih dekat.
Follow akun twitter Poconggg.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 27, 2011

The Jose Movie Review - Breaking Dawn Part I


Twilight (so-called) Saga sebenarnya bukan prioritas dalam watch-list saya. Sebaliknya, saya malah ilfil setengah mati dengan premis-nya tepat setelah selesai menyelesaikan seri pertama. Menurut saya, tidak ada satu unsur pun yang membuat Twilight pantas menyandang embel-embel “saga”. Malahan, lebih cocok diangkat sebagai mini seri atau film TV saja. Cheesy dumb love story, with cheesy dialog, plain flat acting, and mediocre visual effects... hanya penampilan fisik (terutama aktor-aktor pria-nya) yang mampu membuat banyak gadis remaja yang tergila-gila dengan franchise ini.
Seri 4.1 ini pun sama sekali tidak ada dalam watch-list saya. Kalau saja tidak ada yang mentraktir, pasti bakal saya lewatkan begitu saja. Lagipula, sebagai seseorang yang gemar me-review film, saya juga harus melihat film yang “minor” di mata saya sehingga bisa menjelaskan mengapa saya tidak menyukainya.
Secara keseluruhan, sebagai sebuah produksi film, Breaking Dawn part 1 jauh di atas seri-seri pendahulunya. Saya sangat menikmati gambar-gambar indah yang disuguhkan sepanjang film, terutama terlihat jelas pada altar pernikahan Edward-Bella, bungalow pulau pribadi di Brazil tempat honeymoon, dan gambar favorit saya : mimpi Bella dimana Edward-Bella di pelaminan dengan tumpukan mayat di bawahnya. Divisi music juga worked very well. Score dan pilihan-pilihan tracknya tepat dan menyatu dengan adegan yang tersaji. Mungkin sengaja kali yah pakai track-track yang alternatif pop untuk merangkul audience di luar ababil. Te-O-Pe lah soundtracknya!
Pun, visual effectnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Transformasi para werewolf menjadi serigala tampak lebih detail dan terutama efek tubuh kurus Bella cukup mengesankan. Lebih penting lagi, no more shining skin from the vampires!
Namun sayang, keindahan Breaking Dawn part 1 hanya cukup sampai di situ. Ceritanya masih se-ababil seri-seri sebelumnya. Padahal Jacob Black sendiri pun pada satu adegan berujar, tidak cukup hanya “Aku cinta kamu”, “Kamu cinta aku” kepada Bella. Akhirnya ada satu karakter yang berpikir rasional tentang cinta. Sayangnya, Bella tetep kekeuh pada pendiriannya, apalagi Edward yang jelas tidak mau melepaskan Bella, satu-satunya wanita yang mau menerima dirinya apa adanya, setelah beratus-ratus tahun mencari. Ya iyalah... mana ada wanita yang dengan bodohnya menyerahkan dirinya jadi vampire, hidup selamanya (hidup selamanya itu boring dan menyiksa lho!) hanya karena cinta, selain Bella Swan? Maaf yah penonton lain kalau saya banyak tertawa sepanjang film :)
Oke, saya tutup mata deh dengan “kebodohan-kebodohan” plotnya. Yang pasti, di seri pamungkas ini (seharusnya) karakter-karakternya menjalani konsekuensi dari “kebodohan-kebodohan” tersebut dan menyelesaikannya di sini. Namun sayang hanya Jacob saja yang mengalami sedikit “pendewasaan” dalam berpikir dan bertindak. Setidaknya ia memperingatkan Bella, dan pada menjelang akhir, ia mengesampingkan egonya dengan mengurungkan niatnya untuk membunuh putri sulung Bella. Sementara Bella dan Edward sendiri? Mereka malah mulai bertengkar tuh, terutama karena Edward yang memikirkan keselamatan Bella (ketika ML maupun melahirkan), sementara Bella yah entah karena seorang masokis atau cinta buta-nya, serasa ngetheg aja. One point I agreed with Edward in a dialogue, “seharusnya bukan hanya keputusanmu, tapi keputusan KITA.” Juga, agak aneh melihat Bella yang kurang bisa membatasi sikapnya terhadap Jacob yang dia sendiri sudah tahu bagaimana perasaan Jacob kepada dia. Kalau yang satu ini mah dari seri pertama sampai sekarang masih belum berubah.
Secara alur, Breaking Dawn terasa terlalu bertele-tele. Durasi dua jam hanya diisi tiga hal : pernikahan, bulan madu (bercumbu melulu, lalu setelah Edward ogah menyakiti Bella ketika bercumbu, jadinya main catur melulu), dan melahirkan dengan masa kehamilan yang dipenuhi perdebatan dan hal-hal tidak penting lainnya. Buat yang berharap adegan aksi, siap-siap kecewa karena tak sampai sepuluh menit, itu pun skalanya biasa saja. Hanya kumpulan serigala melawan keluarga Cullen yang sedang berburu. Saya juga terganggu dengan adegan para serigala yang saling berkomunikasi dengan dubbing ala robot-robot Transformers. Menurut saya bakal lebih menarik jika tidak ada dubbing, hanya subtitle saja atau biarkan penonton menerka-nerka sendiri apa yang sedang diperbincangkan seperti dialog Caesar dengan seekor babon di The Rise of The Planet of The Apes. Untung saja semua itu digarap dengan cukup baik oleh sutradara Bill Condon yang pernah menangani film sekaliber Dreamgirls dan Kinsey, sehingga hasil akhirnya tidak terjerumus lebih buruk lagi.
Akting cast-cast utamanya tidak begitu menunjukkan peningkatan yang berarti sejak seri pertamanya. Ya begitu-begitu saja. Malah saya lebih suka karakter-karakter pendukung seperti Alice Cullen (Ashley Greene) atau Esme (Elizabeth Reaser) yang performance nya lebih mengesankan. Sayang sekali aktris muda favorit saya, Anna Kendrick (yang memerankan karakter Jessica Stanley, teman SMA Bella) tidak banyak diberi porsi. Ia hanya memberikan speech dengan joke garing di pernikahan Bella-Edward. Kesannya hanya sekedar penyambung dari seri sebelumnya.
Secara keseluruhan, terasa banget kalo part 1 ini sengaja dimulur-mulurin agar bisa memenuhi durasi dua jam, jadi masih ada “bahan” tersisa untuk part 2-nya. Saya sependapat dengan banyak orang, andaikata tidak dipotong menjadi dua bagian, mungkin alur bisa mengalir lebih cepat dan secara keseluruhan bisa lebih enak dinikmati. Soal fans novel yang mengatakan di layar sudah banyak yang dipotong dari novelnya, ya emang harusnya begitu. Film dan novel medium yang beda yang tidak mungkin dimasukkan semuanya. Lantas buat apa dibuat versi filmnya lagi kalau hanya mentah-mentah mengangkat persis dari novelnya? Filmnya harus bisa mengakomodasi penonton yang tidak membaca novelnya, namun tetap memiliki intisari yang sama dengan novelnya. Bukan begitu?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Real Steel


Mendengar kata “robot” sama sekali tidak menarik perhatian saya akibat pengaruh Transformers yang installment ketiganya tayang tahun ini. Begitu buruknya film tersebut hingga saya agak alergi mendengar kata “robot”, termasuk ketika pertama kali membaca premise Real Steel. Yah robot lagi, robot lagi, produsernya Steven Spielberg lagi… (Transformers juga diproduseri oleh Spielberg). Tapi saya membaca banyak sekali review positif dari reviewer-reviewer luar negeri, ditambah lagi testimoni dari teman-teman yang turut memberi tanggapan positif. Alhasil saya memutuskan untuk menyaksikannya di saat-saat terakhir tayang di bioskop Surabaya.
Sebagai film hiburan, Real Steel sama sekali tidak mengecewakan. Terutama, adegan-adegan pertarungan yang ditampilkan mampu menghadirkan atmosfer keseruan dan ketegangan tersendiri. Satu hal yang menurut saya jarang dihadirkan di film-film aksi yang diedarkan beberapa belakangan terakhir ini. Karakter robot utama, Atom, yang hanya sekedar sparring robot tidak menunjukkan secara langsung kekuatannya dan terjebak dalam ke-clichĂ©-an: “selalu menang”. Di situlah letak serunya. Kita tidak tahu apakah Atom akan mampu bertahan melawan musuh-musuhnya di ring tinju. Mungkin kita bisa menebak bahwa pada akhirnya Atom pasti menang, tapi prosesnya menuju kemenangan itulah yang membuat menarik untuk diikuti.
Sisi drama yang dicoba digali melalui hubungan ayah-anak juga dihadirkan sesuai dengan porsinya sehingga tidak terjebak ke dalam lembah haru-biru yang menye-menye dari awal hingga akhir. Justru ketidak-akuran di awal hingga pertengahan film, yang sedikit demi sedikit membangun hubungan antara Charlie-Max sehingga pada akhirnya menunjukkan persamaan dan kedekatan antara keduanya. Formula ini berhasil hingga pada saat adegan pamungkas, kita bisa merasakan haru melihat keduanya. Sisi lain yang turut diangkat dan menjadi menarik adalah perkembangan karakter Charlie yang berubah berkat kehadiran Max sehingga pada akhirnya kita menjadi bersimpatik pada karakter Charlie. Durasi dua jam terisi dengan efektif dan dengan alur yang beritme tepat. Well done, Shawn Levy!
Drama antara Charlie-Max berhasil selain karena chemistry dan alur yang dibangun, juga berkat akting keduanya yang memang mendominasi layar. Hugh Jackman sukses membuat saya sebal dengan karakternya yang arogan namun selalu berujung kegagalan. Sedangkan Dakota Goyo yang pernah memerankan Thor kecil juga berhasil memenangkan hati mayoritas penonton berkat kegigihan, kekeras-kepalaannya, dan kelucuannya dalam menari. Pantas lah Goyo digadang-gadang sebagai salah satu aktor muda yang menjanjikan. Kualitas aktingnya boleh lah.
Karakter-karakter robot yang ada memang tidak begitu menyumbangkan kedalaman emosi, namun cukup berkesan berkat desainnya yang menawan. Saya pribadi sangat menyukai bentuk NoisyBoy, tapi kesemuanya, baik protagonis maupun antagonis, tampil memukau. Tidak selalu tampak cemerlang, malah banyak sisi “rongsokan” dari masing-masing robot yang justru memberikan kesan nyata, tidak sekedar CGI. Gerakan-gerakan pertarungan robotnya sangat halus, mirip sekali dengan gerakan pertarungan manusia.
Ada banyak pesan positif yang tersampaikan melalui Real Steel. Jika banyak penonton yang berkesan dengan hubungan antara Charlie-Max, saya justru merasakan sindiran tentang hubungan kita dengan teknologi yang di sini ditampilkan dalam bentu robot. Seringkali kita terpukau oleh teknologi yang menawarkan kemudahan dan kepraktisan dalam kegiatan kita sehari-hari sehingga kemampuan kita sebagai manusia yang hidup semakin lama semakin berkurang. Lihat saja, untuk menjalankan robot yang bertarung saja sampai harus membuat program untuk menganalisa gerakan lawan dan memanfaatkannya untuk menyerang lawan. Berbeda dengan Atom, yang akhirnya dikendalikan langsung oleh gerakan Charlie yang notabene mantan petinju, jelas memiliki daya analisa yang jauh lebih baik serta pengalaman bertarung yang lebih tinggi daripada program komputer. Bagaimana pun, kemampuan manusia (seharusnya) melebihi teknologi (komputer). Jangan sampai kita, manusia, diperbudak oleh teknologi. Setuju?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Paul


Duet Simon Pegg dan Nick Frost naik daun sejak Shaun of The Dead rilis dan lantas menjadi salah satu cult movie modern. Paduan cerita zombie dengan bungkus komedi yang unik menjadi modal utama kesuksesan mereka. Setelah Shaun of The Dead dan Hot Fuzz, tahun ini mereka berdua kembali berperan sekaligus menulis naskah dari film yang disutradarai oleh Greg Mottola ini.
Tema alien dengan bungkus komedi jarang dibuat. Dari daftar saya yang paling mengesankan dan saya ingat dengan baik hanya Mars Attacks! dan Evolution. Maka tak heran jika Paul dengan mudah menjadi penghuni baru list saya tersebut.
Paul menyajikan sebuah cerita alien biasa yang juga punya misi yang sama dengan alien-alien lain di film… kembali ke sebuah pesawat luar angkasa agar bisa kembali ke planet asalnya. Namun yang membuat petualangannya menjadi luar biasa lucu dan seru adalah kehadiran dua sci-fi geek, Graeme dan Clive. Petualangan road trip liar ala Hangover dimulailah. Ditambah lagi dengan kehadiran Ruth, putri seorang religius yang tidak percaya adanya alien dan menganggap Paul, nama alien tersebut, sebagai iblis. Percaya deh, menurut saya, kelucuan Paul berada di level yang sama dengan Hangover pertama. Sangat menghibur dan cerdas. Satu tema guyonan yang paling saya favoritkan adalah guyonan tentang perbedaan pemikiran antara kaum religius dan kaum yang percaya science. Bisa dijadikan refleksi antara keduanya.
Plot yang dihadirkan pun mengalir dengan sangat lancar dan dengan ritme yang pas, tidak tumpang tindih dengan guyonan-guyonan yang diselipkan. Pokoknya enjoyable lah dari awal hingga akhir.
Dari divisi cast, tentu saja duo Pegg-Frost menjadi perhatian utama. Mereka berdua masih sama lucunya dengan Shaun. Mungkin bisa menjadi salah satu dari sekian banyak duo-comedic yang memorable sepanjang sejarah perfilman. Seth Rogen yang mengisi suara Paul juga berhasil menghidupkan karakter Paul dengan maksimal. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain yang cocok untuk mengisi suara karakter alien nyentrik dan slengean ini. Si gadis religius, Ruth, berhasil mengocok perut dengan tingkah-tingkah polos dan naifnya berkat akting Kristen Wiig. Yang paling mengejutkan tentu saja kehadiran icon alien, Sigourney Weaver dan bahkan Steven Spielberg sebagai… ah lihat saja sendiri biar seru J.
Film sci-fi tak lepas dari special effect. Walaupun bergenre utama komedi, namun Paul tidak mengabaikan tampilan visual effect. Yang paling terasa adalah karakter Paul yang tampak realistis baik dari segi tekstur organ hingga gerakan serta ekspresi wajahnya. Salah satu faktor keberhasilan komedi Paul juga neh. Sedangkan visual effect lainnya seperti tampilan pesawat luar angkasa, tampak sekelas film-film sci-fi berbudget mahal lainnya koq.
Sebagai penutup, saya sangat merekomendasikan Paul sebagai suguhan komedi cerdas yang wajib disaksikan tahun ini. Jadi pastikan Anda menyaksikannya di rumah (karena sayangnya tidak tayang di bioskop Indonesia).
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Bad Teacher


Cameron Diaz adalah alasan utama saya tertarik dan penasaran untuk menyaksikan film ini. She’s my favorite actress not just because of her physical look, but I think she has a unique charm which is not everybody has. Beside, her performance in most of her movies are remarkable because of her. I don’t know how she did it. Ditambah lagi ada Justin Timberlake yang notabene adalah mantan pacar Diaz.
Bayangan saya ketika pertama kali membaca premise-nya, mungkin Bad Teacher akan menjadi semacam Great Teacher Onizuka dimana ada karakter seorang guru yang nyentrik dalam hal penampilan dan cara mengajar, namun berhasil mendidik para muridnya dengan caranya tersendiri. Tapi ternyata bayangan seperti itu benar-benar sirna setelah menit-menit awal. Agak mengernyitkan dahi sih melihat kelakuan-kelakuan inappropriate dari Elizabeth Halsey. It’s oke lah kalau hanya sekedar melempar bola basket kepada murid jika jawaban yang diberikan si murid salah, tapi smoking pot, stealing, dan bersumpah serapah? Sumpah serapah pun jika dilakukan oleh guru SMA seperti Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds sih masih bisa dimaklumi. Di depan murid-murid SMP kelas 1??? Ini benar-benar sudah kelewatan, pada budaya mana pun.
Yap, karakter Elizabeth Halsey was totally a bad teacher, literally! Awalnya malah ia sama sekali tidak niat untuk mengajar. Setiap kelasnya, ia hanya akan memutar film untuk anak-anak didiknya sementara ia tertidur dengan kaki naik di atas meja. Film-film yang ia putar pun beragam, hingga yang terekstrim… Scream-nya Wes Craven! Niat mengajarnya pun baru muncul ketika diiming-imingi hadiah ribuan dollar jika murid-muridnya sukses menjadi juara umum ujian akhir tingkat negara bagian. Masih banyak lah motif dan tindakan busuk Elizabeth selanjutnya yang mungkin akan membuat Anda semakin muak untuk menontonnya sendiri jika saya jabarkan di sini semua. Intinya, tidak ada pesan positif sama sekali dari karakter Elizabeth Halsey.
Tidak ada yang salah dengan para aktornya. Semuanya bermain dengan sangat baik, terutama Cameron Diaz yang menjadi karakter utama. Kredit tersendiri pantas disematkan untuk Justin Timberlake yang semakin hari semakin nyaman berakting. Karakter konyolnya di sini berhasil menjadi hiburan tersendiri. Lucy Punch sebagai Ibu Guru Tupai yang sebenarnya tergolong antagonis namun berhasil menjadi sumber kelucuan utama sepanjang film berkat akting komedik-nya.
Memang, Bad Teacher dibuat dengan maksud hanya untuk menghibur dengan aneka guyonan-guyonan yang ditawarkan. Beberapa memang manjur sih, terutama berkat kelakuan-kelakuan konyol karakternya, seperti Elizabeth sendiri, Miss Squirrel, Carl Halabi, Kirk, dan tentu saja Scott Delacorte dengan perilaku seksualnya. Tapi setelah sadar bahwa beberapa guyonannya sangat tidak senonoh secara moral pada level dewasa sekalipun, hasrat ingin tertawa pun seperti tertahan. Saya pribadi seperti merasakan sebuah ironi. Tidak salah jika Anda mungkin akan tidak merasa nyaman dan tidak tahan dengan adegan-adegan yang semakin lama semakin keterlaluan hingga harus menghentikan film di tengah-tengah. Jika Anda tidak keberatan dengan hal-hal inappropriate yang disodorkan, ya nikmati saja sekedar sebagai hiburan ringan di kala Anda butuh untuk tidak berpikir dan tertawa lepas.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 13, 2011

The Jose Movie Review - The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn

Ini dia film yang sejatinya paling saya tunggu-tunggu di tahun 2011. Pertama, karena saya menyukai petualangan seri Tintin, baik dalam bentuk komik maupun serial animasi klasiknya yang gayanya persis dengan komiknya. Kedua, tentu saja nama Steven Spielberg yang selama ini merupakan salah satu sutradara yang memiliki konsistensi kualitas, baik dalam menggarap film serius macam Saving Private Ryan, maupun film murni hiburan macam Jurassic Park. Ketiga, tentu saja siapa yang tidak penasaran menyaksikan petualangan Tintin dan karakter-karakter legendarisnya dalam bentuk motion-capture-animation? So, wajar jika saya sangat antusias dan memiliki ekspektasi yang cukup tinggi untuk film ini.
First of all, tentu saja saya sangat terpukau oleh desain produksinya. Motion-capture animation-nya sangat-sangat luar biasa, melebihi kerealistisan Beowulf, The Polar Express, maupun A Christmas Carol. Bahkan jika kita hanya melihat salah satu adegan saja, sekilas seperti the real live-action movie, bukan animasi. Perhatikan saja detail tekstur kulit, dinding puri Omar Ben Salaad, bahkan air dan pasir yang muncul di layar. Terlihat seperti asli! Lantas kenapa tidak dibuat live-action saja? Katanya sih, awalnya Spielberg menginginkan membuat versi live-action, tapi lantas Peter Jackson berpendapat bahwa dunia Tintin tidak mungkin bisa terealisasikan dengan baik dalam bentuk live-action. Saya sependapat dengan Jackson. Apa jadinya ciri khas karakter-karakternya, misalnya bentuk hidungnya yang unik-unik, dibuat live action? Biasa banget, aura dunia Tintin tidak bisa tergambarkan dengan penuh. Belum lagi adegan-adegan kekerasannya, termasuk melibatkan booze dan cigarette, yang menurut saya kurang pantas untuk konsumsi Semua Umur (G/PG). Jika memaksa dibuat versi live-action, bisa-bisa ratingnya di Amerika Utara jadi PG-13. Tentu saja Spielberg tidak menginginkan rating PG-13 untuk Tintin yang bisa mengurangi calon penontonnya.
Saya juga sangat menikmati editingnya dimana transisi-transisi adegannya dibuat dengan sangat indah. Jarang saya melihat film dengan gaya transisi seperti ini. Pergerakan kameranya yang smooth namun dinamis sangat stylish menurut saya. Ada keuntungan dan kerugian dari gaya pergerakan kamera seperti ini, menurut saya. Keuntungannya adegan tampak halus bergerak dan tentu saja ini menghasilkan keindahan tersendiri. Kerugiannya, jika terlalu banyak digunakan dalam satu film, bisa menyebabkan kebosanan. Dua-duanya terjadi dalam film ini.
Semua keunggulan ini sayangnya belum mampu memenuhi ekspektasi saya akan film ini sebagai sebuah film petualangan yang utuh (bukan secara teknis yang menurut saya topnotch). Saya merasa seperti alurnya berjalan terlalu cepat dan pada suatu titik menyebabkan kebosanan. Ada kalanya sih petualangan menjadi menarik, misalnya ketika di kapal Karaboudjan dan padang pasir Maroko. Namun saya tidak bisa menikmati dan akhirnya merasakan kebosanan ketika adegan kejar-kejaran di kota Bagghar (yang menurut saya terlalu berlebihan dan tidak masuk akal) dan satu adegan pamungkas ketika Sakharine hendak kabur. Dua adegan petualangan pamungkas yang menurut saya mempengaruhi petualangan secara keseluruhan yang terasa plain dan tidak memiliki emosi sama sekali. Jujur, menurut saya pribadi, cerita petualangan di versi serial kartunnya era 90-an masih jauh lebih seru untuk diikuti. Mungkin karena Spielberg terlalu fokus untuk menampilkan adegan aksi spektakuler ketimbang memberikan nyawa petualangan itu sendiri. Jangan tanya lagi soal perkembangan karakter. Mungkin hanya karakter Haddock saja yang terasa diberikan perkembangan yang berarti.
Akhirnya, kebosanan pada adegan-adegan terakhir tersebut justru membuat saya semakin tidak tertarik ketika Tintin bertanya kepada Haddock, “How’s your thirst for adventure, Captain?” dan Haddock menjawab, “Excellent!”. Oh no… jika film dilanjutkan maka mungkin saya akan langsung walk out. Untung saja itu hanya sebuah pertanda bahwa franchise Tintin dalam bentuk motion-capture animation akan dilanjutkan dengan sequel. Well, semoga saja sequelnya tidak keluar dalam waktu terlalu dekat sehingga saya bisa melepaskan image buruk Tintin yang ini dan tertarik untuk menyaksikan sequelnya kelak. Two or three years will do, I think.
Karakter Tintin bisa dihidupkan dengan segala image dari komiknya berkat si Billy Elliott, Jamie Bell. Kemiripan fisik dimanfaatkan oleh Bell dengan sangat baik dengan kemampuan aktingnya. Captain Haddock juga tampil memikat dan jenaka di tangan maestro aktor motion-capture, Andy Serkis (yang juga pernah menjadi aktor motion-capture untuk karakter Gollum di seri LOTR, KingKong di King Kong, dan Caesar di The Rise of The Planet of The Apes). Duo kocak Simon Pegg-Nick Frost yang tahun ini juga berhasil lewat Paul memberikan warna tersendiri walau terkesan hanya pemanis atau tempelan dalam film. Padahal menurut saya film bakal menjadi lebih menarik jika porsi keduanya sebagai kembar Thompson-Thomson ditambah. Daniel Craig menyumbangkan suara yang berbeda untuk Sakharine. Entah bagaimana caranya saya sampai tidak begitu mengenali suaranya di sini. Good one, anyway. Kemunculan karakter iconic yang cukup membuat saya kaget sekaligus excited adalah Bianca Castafiore, si penyanyi opera yang lengkingan suaranya mampu meretakkan bahkan memecahkan kaca di sekitarnya. Kim Stengel berhasil menghidupkan karakter ini dengan baik.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tentu saja The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn tetap merupakan film yang wajib ditonton karena ini adalah pertama kalinya petualangan Tintin diangkat dalam kemasan modern dan dengan teknik termutakhir. Soal apakah masih tertarik menyaksikan kelanjutannya, ya terserah Anda… :)
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Sang Penari


Saya ingat pertama kali jatuh cinta dan penasaran setengah mati dengan film ini adalah ketika menonton trailernya di loket bioskop. Gambaran budaya yang ditampilkan dalam trailer sungguh memikat; kostum, setting lokasi, akting, dan liuk tarian dari Prisia Nasution cukup mewakili bagaimana film ini nantinya. 10 November 2011 menjadi tanggal yang paling saya tunggu-tunggu untuk menyaksikannya di hari pertama pemutaran. Belum lagi komentar-komentar yang saya dengar dari petinggi-petinggi perfilman negeri ini yang tak henti-hentinya menghujani pujian kepada film ini.
Well, yeah… penantian saya terbayar sudah. Sang Penari adalah salah satu film Indonesia terbaik 2011, bahkan masih layak dimasukkan jajaran film (lokal dan internasional, termasuk di dalamnya Hollywood) terbaik yang tayang di bisokop Indonesia.
Patut dicatat, Sang Penari adalah tipikal film seni yang mengedepankan sisi drama dan manusiawi, bukan tipikal film hiburan semata yang melulu tentang cinta dan perang seperti layaknya Pearl Harbor. Jadi jika Anda susah menikmati tipikal film seni, maka besar kemungkinan Anda akan merasa bosan menyaksikannya. Tapi jika Anda sabar dan gemar mengamati perkembangan cerita beserta segala detail elemennya, maka Sang Penari adalah pilihan tepat untuk memuaskan dahaga Anda akan film seni yang bermutu, khususnya dalam konteks film nasional.
Cerita cinta mungkin menjadi sajian utama dari film. Namun lebih dari itu, ada banyak sekali hal yang disodorkan Sang Penari. Yang utama adalah bagaimana keadaan sosio-kultural Dusun Dukuh Paruk yang merepresentasi kebanyakan desa pedalaman di Indonesia saat itu. Di tengah maraknya modernisasi di kota dan propaganda PKI saat itu, warga desa yang menjadi “korban” atau lebih tepatnya “tumbal” karena keluguan dan kebodohan mereka. Miris menyaksikan adegan-adegan yang merepresentasikan keadaan ini. Keadaan sosio-kultural juga ditunjukkan bagaimana istri-istri malah bangga jika suaminya bisa meniduri Ronggeng yang dipercaya pilihan Dewa untuk melayani agar desa dapat tetap makmur. Padahal keadaan ekonomi warga desa di situ sangat parah. Bahkan untuk makan nasi saja susah. Semua wacana yang diangkat tidak lantas menjadi sebuah alat propaganda untuk membela salah satu pihak (PKI ataupun tentara), namun lebih menekankan sisi kemanusiaan dari orang-orang yang tak berdosa. Di situlah letak kekuatan utama dari Sang Penari : tema yang kuat, yang jarang diangkat karena hingga sekarang masih menjadi topik yang sensitif.
Sang Penari punya banyak sekali kelebihan yang memang digarap dengan sangat serius. Yang paling terlihat adalah kesiapan setting lokasi dan kostum. Tak mudah menghadirkan suasana ’50-’60-an apalagi suasana dusun seperti Dukuh Paruk. Untuk itu two thumbs up layak disematkan kepada Production Designer-nya. Aksan dan Titi Sjuman yang mengisi score sepanjang film juga menambah magisnya suasana Dusun Dukuh Paruk. Kombinasi setting lokasi, kostum, dan score berhasil membangun suasana magis sepanjang film. Sumpah, saya masih terbayang terus suasana Dukuh Paruk dan rasa simpati terhadap apa yang dialami oleh warga di situ terus menghantui higga lama setelah saya menyaksikannya. Good job for Ifa Isfansyah dan timnya!
Kekuatan akting turut andil dalam menambah poin, terutama Prisia Nasution yang sukses menghidupkan karakter Srintil. Tak banyak dialog, namun emosinya sangat terlihat jelas dari raut wajah dan gerak tubuhnya. Ditambah kemampuan tarian khas Ronggeng yang semakin menonjolkan dirinya sepanjang film. Oka Antara pun tampil menonjol ketimbang peran-peran yang pernah dilakoni sebelumnya. Transformasi dari Rasus yang awalnya pemuda desa yang melankolis, penakut, dan serba susah, menjadi anggota tentara yang tegas, berani, dan terdidik, tampak sangat meyakinkan. Chemistry antara Prisia dan Oka terbangun dengan sangat bagus. Tak perlu kata-kata romantis, “Aku cinta kamu” atau kata-kata sejenis untuk menunjukkannya. Sorot mata dan sikap antara keduanya cukup untuk menggambarkan chemistry mereka. Sayang, beberapa adegan intim antara keduanya harus disensor, padahal saya yakin bisa semakin memperkuat chemistry antara Rasus-Srintil. Di jajaran pemeran pembantu, Slamet Rahardjo tampil paling menonjol sebagai dukun Ronggeng, melebihi Lukman Sardi dan Tyo Pakusadewo. Happy Salma yang hanya muncul beberapa detik di layar pun tak kalah memberikan pesona Ronggeng yang cukup kuat. Bahkan jika porsinya diberi lebih banyak, bisa-bisa karakter Srintil kalah kuat.
Dari segala kelebihannya, Sang Penari pun tak luput dari kekurangan walau tak begitu mengganggu keseluruhan film. Ada beberapa bagian yang terasa kurang jelas, apalagi bagi penonton yang belum pernah membaca novelnya sebelumnya seperti saya. Misalnya ketika tiba-tiba Bakar (karakter yang diperankan Lukman Sardi) menghasut beberapa pemuda desa untuk melakukan aksi pembakaran beberapa rumah. Positifnya sih, saya jadi penasaran dan tertarik untuk membaca novelnya juga. Tak mudah memang meringkas novel (apalagi sebuah trilogi) menjadi satu film berdurasi 2 jam, tapi Salman Artisto dan Shanty Harmayn cukup baiklah dalam mengadaptasinya. Setidaknya elemen-elemen penting dan jiwanya masih sama. Lah Ahmad Tohari, penulis novelnya sendiri sampai menangis terharu ketika menyaksikan filmnya.
Sang Penari adalah karya film nasional yang patut diapresiasi setinggi-tingginya dan saya percaya andaikan didaftarkan untuk Academy Awards kategori Best Foreign Feature, karya Ifa Isfansyah yang satu ini mampu berbicara banyak, melebihi Di Bawah Lindungan Ka’bah yang telah didaftarkan terlebih dahulu.
Lihat data film ini di IMDB.
Lihat Official Website film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates