Tuesday, July 3, 2018

The Jose Flash Review
Sanju

Mengangkat biografi seseorang ke medium film tidak pernah menjadi pekerjaan yang mudah. Ada banyak pilihan treatment yang bisa digunakan untuk mengangkat rentang periode hidup seseorang yang panjang menjadi ringkasan berdurasi hanya beberapa jam. Penyusun naskah, sutradara, dan tim harus menentukan konsep yang jelas dan solid agar hasilnya tak sekedar meruntut secara kronologis tanpa kesan berarti. Bisa jadi hanya bisa mengangkat salah satu aspek dari sang tokoh. Ketika terdengar kabar bahwa Rajkumar Hirani (3 Idiots, PK) akan menggarap biopic dari aktor Bollywood legendaris paling kontroversial, Sanjay Dutt, mereka yang akrab dengan sinema Bollywood langsung tertarik. Menyusun naskahnya bersama partnernya sejak Lage Raho Munna Bhai, Abhijat Joshi, biopic bertajuk Sanju, nama panggilan akrab Sanjay Dutt, ini semakin menarik dengan masuknya nama Ranbir Kapoor sebagai Sanjay, didukung Paresh Rawal, Vicky Kaushal (Bombay Velvet, Masaan, Raman Raghav 2.0, Raazi), Anushka Sharma, Jim Sarbh (Neerja, Raabta, Padmaavat), dan Sonam Kapoor.

Sanjay Dutt sedang bingung. Hukuman bui atas tuduhan aksi terorisme menantinya dalam hitungan hari. Untuk itu ia mencari seseorang yang bersedia menuliskan buku biografinya untuk menyampaikan kejadian yang sebenarnya menurut versinya kepada dunia. Meski awalnya menolak, seorang penulis biografi terkenal, Winnie Dias, mulai tertarik terhadap kisah Sanju. Dilahirkan dari keluarga perfilman, terutama sang ayah yang sutradara terkenal membuat Sanju merasa tertekan oleh berbagai ekspektasi, terutama sebagai aktor muda berbakat. Karena sudah berusaha keras tapi tidak pernah memuaskan atau menghasilkan pujian dari sang ayah, Sanju jadi mudah terhasut oleh pergaulan yang tidak sehat, terutama narkoba yang menghancukan hubungannya dengan sang kekasih, Ruby, karirnya, dan kesempatan membahagiakan ibunya yang sedang sekarat. Hanya seorang sahabat yang ditemukan tanpa diduga-duga, Kamlesh, yang setia mendampingi Sanju menemukan hidup yang lebih baik. Namun sebuah kasus yang lebih serius membuat Kamlesh pun memutuskan untuk mengakhiri persahabatan mereka. Winnie semakin penasaran dengan teka-teki dalam hidup Sanju yang bahkan masih belum terpecahkan oleh dirinya sendiri. Apalagi muncul sosok misterius, Zubin Mistry yang seolah terus menghalangi Winnie menerima tawaran Sanju.

Jika Anda mengikuti perkembangan kisah hidup Sanjay Dutt mulai awal karir hingga saat ini, tentu tahu ada begitu banyak kejadian yang mewarnai hidupnya. Mau diangkat ke dalam serial sekalipun tetap akan memakan masa tayang bertahun-tahun. Namun tentu saja Rajkumar Hirani menemukan treatment khusus untuk meringkasnya menjadi film berdurasi sekitar dua setengah jam. Secara garis besar dengan jelas Hirani mengangkat dua aspek terpenting yang memberikan paling banyak pengaruh terhadap hidup (baca: konflik) Sanju; hubungan dengan sang ayah dan sang sahabat, Kamlesh. Baru kemudian ia memasukkan episode-episode kehidupan Sanju sebagai konflik; narkoba, sang kekasih, tuduhan teroris, dan media. Di tangan Hirani, kesemuanya terangkai dengan korelasi yang sangat solid dan tentu saja, punya banyak momen emosional yang seperti biasa, sangat menyentuh. Tak lupa pula balutan komedi di berbagai kesempatan sehingga drama kisah hidup Sanju tak melulu terkesan serius. Kesemuanya tertata apik berkat sinematografi S. Ravi Varman, editing Rajkumar sendiri yang menjaga porsi tiap babak dengan pace yang berjalan lancar sekaligus emotionally impactful, serta musik ilustrasi tim Rohan Gokhale (termasuk komposer tamu, A.R. Rahman) yang indah, emosional, tapi terkadang playful.

Menganalisis lebih dalam bagaimana Hirani meringkas kisah hidup Sanju menjadi efektif memperkenalkan sekaligus menjelaskan kepribadiannya bahkan bagi penonton yang belum pernah mengenal sosoknya sebelumnya, ternyata ada metode unik lainnya yang lebih mengagumkan. Alih-alih melibatkan karakter yang jumlahnya banyak sekali sebagaimana di kehidupan nyata yang berpotensi membuat plot menjadi kelewat bertele-tele dan penonton kebingungan, Hirani menggabungkan beberapa karakter asli menjadi satu karakter fiktif. Ini terlihat pada karakter Kamlesh dan Ruby yang diakui Sanju maupun Hirani merupakan gabungan dari beberapa tokoh asli sekaligus menyamarkan sosok-sosok asli yang menolak untuk dibeberkan keterlibatannya dalam plot. Sebuah metode dalam mengangkat biopic yang masih teramat sangat jarang dilakukan, bahkan di sinema Hollywood atau Eropa sekalipun. 

Kesolidan naskah dan kepiawaian pengarahan masih diperkuat oleh penampilan luar biasa dari para cast. Tak hanya Ranbir Kapoor yang dengan sangat gemilang menjelma menjadi sosok Sanjay Dutt, mulai dari segi detail gestur, suara, hingga keseimbangan antara keseriusan yang emosional dan sosok komikal yang tepat momen, tapi juga Paresh Rawal sebagai sang ayah, Sunil Dutt, dan Vicky Kaushal sebagai Kamlesh yang sama-sama punya momen emosional tak terlupakan. Jim Sarbh lagi-lagi berhasil menjadi sosok antagonis yang licik setelah di Padmaavat. Sementara Anushka Sharma dan penampilan singkat Somam Kapoor tetap mampu menunjukkan pesona kharismatik yang mencuri perhatian.

Dengan segala kelebihan yang ditawarkan, tak salah jika Sanju merupakan sajian biopic yang unik, one of a kind, disusun dengan begitu cerdas dalam mencapai tujuannya, serta yang terpenting, punya emotional impact yang luar biasa bagi penonton. Sebuah kisah persahabatan dan father-and-son yang hangat pun menyentuh, sekaligus pengaruh media pada masyarakat yang menggugah. Terasa begitu personal tapi tak sampai jatuh menjadi sebuah hagiografi. Sebuah pencapaian yang jarang bisa dicapai sehingga wajib dialami sebanyak mungkin penonton, tak hanya di ranah Bollywood tapi juga sinema dunia. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates