Tuesday, July 24, 2018

The Jose Flash Review
Inuyashiki
[いぬやしき‬]

Bukan. Ini bukan live action dari manga Inuyasha seperti yang banyak disalah-pahami oleh banyak publik. Ini merupakan live action dari manga sci-fi karya Hiroya Oku berjudul sama, Inuyashiki, yang pertama kali dipublikasikan Januari 2014 dan hingga kini telah terbit sebanyak sepuluh volume kompilasi. Setelah diadaptasi ke dalam format anime yang disiarkan sejak Oktober 2017, giliran adaptasi live action-nya meluncur Juli 2018 di bawah komando sutradara Shinsuke Sato (The Princess Blade, Gantz, The Time of Death, I Am a Hero, Death Note: Light Up the New World, dan baru-baru ini, Bleach) dengan bintang-bintang macam aktor veteran sekaligus anggota duo lawak Tunnels, Noritake Kinashi, Takeru Satoh (Ryotaro Nogami di franchise Kamen Rider Den-O dan Himura Kenshin di Rurouni Kenshin versi live action), dan Kanata Hongô (Attack on Titan dan Envy di live action Fullmetal Alchemist). Dikonsep sebagai sebuah trilogy, bagian pertama sudah bisa dinikmati di layar lebar Indonesia sejak 25 Juli 2018.

Di usianya yang sudah 58 tahun, Ichirō Inuyashiki merasakan kehidupan yang semakin menurun. Semua anggota keluarganya mengabaikan dan bahkan terkesan membencinya. Karirnya di kantor produsen produk makanan dan minuman pun di ujung tanduk karena penjualan minuman khusus olah raga yang dipegangnya tak laku di pasaran. Lebih parah lagi, dokter mendiagnosisnya mengidap kanker stadium empat dan diprediksi hidupnya hanya tersisa beberapa bulan saja. Membahas penyakit ini kepada keluarganya terasa sia-sia karena tak ada yang akan peduli. Di saat sedang merenung di sebuah taman, ia tak sengaja melihat kilatan cahaya dan benda asing yang jatuh ke arahnya. Ketika tersadar di pagi hari, ia merasakan perubahan drastis pada tubuhnya. Tak lagi bisa menyantap sup miso, tiba-tiba mesin mekanik robot muncul dari dalam tubuhnya. Ajaibnya lagi, kankernya menghilang dan dia punya kemampuan untuk menyembuhkan penyakit orang lain lewat sentuhan tangannya. Maka ia memulai misi mulianya untuk diam-diam menyembuhkan penyakit parah orang lain. 
Namun ternyata bukan hanya dirinya yang menerima kondisi serupa. Diketahui seorang pemuda bernama Hiro Shishigami yang menggunakan kekuatannya untuk membunuhi orang-orang hanya dengan gestur tangan kosong seolah menembakkan pistol tapi benar-benar menyebabkan luka tembakan. Ketika polisi dan warga Shinjuku memburunya, amarahnya semakin memuncak. Ia meng-hack komputer dan smartphone seluruh penjuru kota dan membunuh secara membabi-buta. Suara hati sahabatnya, Ando, yang berharap suatu hari Shishigami bisa kembali seperti dulu lagi terdengar oleh Inuyashiki. Berdua mereka bahu-membahu mencoba menyadarkan Shishigami atau kalau tidak bisa, mengalahkannya demi keselamatan seisi kota.
Secara keseluruhan Inuyashiki masih terasa seperti kebanyakan versi live action dari manga. Alhasil di awal, terutama ketika introduksi para karakter dan konflik-konfliknya, film terasa berjalan datar, dengan naik-turun emosi adegan yang terkesan terbata-bata, dan kurang nyaman dinikmati (termasuk iringan musik ilustrasi yang kelewat grandeur di beberapa bagian emosional sedang). Untung saja masih ada beberapa gimmick komikal dan komedi situasional yang tak sampai kelewat berlebihan tapi lebih dari cukup untuk sedikit menyegarkan film dengan senyuman atau gelak tawa kecil. Gambaran kondisi sosial masyarakat Jepang yang individualis dan kurang menghormati orang tua sebagai latar belakang sekaligus trigger cerita terasa realistis dengan bumbu dramatisasi secukupnya yang setidaknya masih mampu mengundang simpati penonton kepada karakter (terutama Ichirō). 
Daya tarik utama Inuyashiki baru terasa maksimal ketika masuk ke babak-babak aksi pertarungan yang terasa fantastis. Shinsuke Sato jelas punya sense aksi yang luar biasa dalama menata adegan-adegan pertarungan, terutama ketika sambil terbang melesat di antara gedung-gedung pencakar langit. Camera work dengan kedinamisan dan timing yang tepat, didukung editing yang tepat, dan visual effect yang memikat membuat adegan-adegan aksinya tampak mengagumkan. Tak kalah dengan blockbuster Hollywood. Perhatikan pula bagaimana Sato menangani kekacauan warga kota yang mendadak tewas satu per satu. Sebuah ancaman yang terasa masif  tapi tak terkesan kelewat kacau hingga membingungkan.
Memegang peran utama, Noritake Kinashi mungkin awalnya terlihat kelewat komikal untuk peran Ichiro Inuyashiki. Namun jika Anda mengikuti manga aslinya, secara fisik tak terlihat jauh berbeda. Yang penting ternyata di momen-momen emosional dan juga dalam melakoni adegan aksi, Kinashi mampu tampil sesuai porsi yang dibutuhkan dan meninggalkan kesan komikal. Sementara tak perlu meragukan kharisma Takeru Satoh yang memang pas dengan karakter Hiro Shishigami. Lihat saja tiap kali dia memeragakan gestur menembak dengan tangan kosong yang terasa mengancam, sebagaimana seharusnya. Pemilihan aktor dengan kharisma yang salah gestur ini akan terasa konyol dan bodoh. Kanata Hongô menunjukkan performa kemisteriusan, ketulusan, serta ketertarikan terhadap Hiro Shishigami yang jelas terasa meski tak sampai terlihat secara eksplisit ke dalam karakter Naoyuki Ando. Sementara Ayaka Miyoshi sedikit mencuri perhatian di beberapa adegan ayah-putri emosional yang penting lewat karakter Mari. 
Bagi yang belum familiar dengan versi manga atau animenya, Inuyashiki menyuguhkan kisah origin yang mudah diikuti, dengan kondisi masyarakat Jepang sebagai latar belakang yang punya relevansi kuat dengan plot, dan konsistensi tema kepribadian tertindas yang tidak selalu mendorong individu melakukan kejahatan. Justru bisa juga memotivasi untuk melakukan kebaikan, tergantung pilihan masing-masing. Bersabarlah menantikan adegan-adegan aksi yang seru, menegangkan, dan mencengangkan di paruh kedua film. Tak perlu khawatir jika malas mengikuti bagian kedua dan ketiganya kelak. Anda masih bisa menikmati installment pertama ini sebagai film yang berdiri sendiri saja. Menurut saya, Inuyashiki ini salah satu pengalaman sinematik dari Jepang yang sangat sayang jika harus dilewatkan di layar lebar dengan kualitas fasilitas audio-visual yang layak. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates