Tuesday, July 24, 2018

The Jose Flash Review
Dhadak
[धड़क]

India dan sistem kasta dalam tatanan sosialnya sejak dulu memang sudah mendarah daging. Bahkan agaknya hingga kini ketika India sudah menjadi salah satu raksasa IT di dunia. Ketika tema cinta beda kasta sudah terlalu generik untuk diangkat di ranah sinema manapun, film India berbahasa Marathi (bahasa dengan penutur terbanyak ketiga di India setelah Hindi dan Bengali, banyak digunakan di Barat India seperti Maharashtra dan Goa) berjudul Sairat (2016) masih bisa menarik perhatian dunia. Selain sukses meraup box office sebanyak 110 crore (dengan budget ‘hanya’ 4 crore), yang artinya menjadi film berbahasa Marathi dengan penghasilan tertinggi, juga terpilih mewakili India untuk Berlin International Film Festival ke-66. Bahkan mendapatkan penghormatan standing ovation ketika diputar. Sairat lantas menjadi titik balik bagi industri film Marathi yang kembali mendapatkan kepercayaan untuk dipasarkan secara regional. Begitu juga kehidupan para aktor yang menjadi selebriti dadakan dan angka kunjungan wisatawan ke Kota Karmala yang menjadi setting film melonjak. Kesuksesan besar Sairat membuat para produser melirik untuk di-remake dengan berbagai bahasa. Seperti versi bahasa Punjabi, Channa Mereya, versi Kannada, Manasu Mallige, versi Odia, Laila O Laila, versi Bengali, Noor Jahaan, dan yang terbaru adalah dalam bahasa Hindi yang punya potensi pasar terluas (bahkan di seluruh dunia), Dhadak. Diproduksi Karan Johar di bawah bendera Dharma Pictures yang begitu legendaris, Dhadak yang berarti ‘Heartbeat’ dipercayakan kepada sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang sukses melahirkan duologi Humpty Sharma Ki Dulhania dan Badrinath Ki Dulhania. Sementara peran pasangan utama jatuh kepada Ishaan Khatter yang baru saja kita lihat di Beyond the Clouds dan penampilan perdana dari putri sulung Sri Devi, Janhvi Kapoor. Mungkin harapannya, Dhadak bisa membawa kesegaran baru di sinema Hindi sekaligus batu loncatan yang berarti bagi keduanya.

Sejak pertama kali menatap saat penyerahan hadiah lomba makan, Madhukar Bhagla sudah jatuh hati setengah mati terhadap Parthavi Singh, putri politikus yang sedang berkampanye dari kasta di atasnya. Awalnya baik Madhukar maupun Parthavi yang berkuliah di kampus yang sama tak ambil pusing urusan perbedaan kasta ini. Namun ketika sang ayah memperingatkan akan resiko terburuk yang bisa diperbuat keluarga Parthavi kepada keluarganya, Madhukar perlahan menjauhi Parthavi. Merasa ada perubahan sikap Madhukar kepadanya, Parthavi bersikeras meyakinkan Madhukar bahwa semua akan baik-baik saja. Hingga akhirnya keluarga Parthavi membuat laporan palsu bahwa Madhukar memperkosa Parthavi dan menyerang rumah keluarga Madhukar. Parthavi dan Madhukar memilih lari ke kota lain untuk tinggal bersama. Tak mudah memang, terutama Parthavi yang terbiasa hidup mewah mendadak harus serba sederhana, tapi keduanya mampu melewati semua kesulitan dan hidup dalam damai. Setidaknya, sampai Roop Singh, kakak Parthavi tiba-tiba muncul di rumah mereka.
Sebagaimana film-film bertemakan cinta beda kasta dan kawin lari, Dhadak membuka kisah lewat pertemuan dan proses jatuh cinta yang terasa manis dan indah. Meski bagi saya pribadi tak ada yang istimewa dan terasa berkesan, setidaknya upaya menghadirkan kisah asmara yang manis masih tergolong meyakinkan, terutama berkat chemistry antara Khatter dan Kapoor. Tak ada  pula nomor musikal yang asyik apalagi memorable. Semua berjalan bak kisah asmara biasa tanpa bumbu-bumbu khusus yang menarik. Plot menjadi lebih menarik setelah intermission pasangan Madhukar-Parthavi harus menghadapi realita kehidupan sebagai pasangan pelarian. Parthavi yang terbiasa hidup serba berkecukupan sekarang harus tinggal di ruangan kos kecil sederhana dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga yang belum pernah dilakoninya sebelumnya, sementara Madhukar harus mengendalikan kecemburuannya ketika Parthavi terlihat akrab dengan rekan kerjanya di kantor. Upaya untuk menampilkan ‘reality bites’ merupakan langkah baik untuk memberikan gambaran tentang realita hidup sebagai pasangan yang pasti terjadi paska bunga-bunga asmara dan bahkan paska perjuangan cinta yang tak mudah. Begitu juga rekonsiliasi paska konflik demi konflik yang terasa jauh lebih manis dan berkesan dibandingkan bunga-bunga asmara sebelum intermission.
Namun yang menjadi daya tarik utama Dhadak ternyata terletak di bagaimana Shashank Khaitan bersama-sama dengan camera work Vishnu Rao menyusun adegan penutupnya. Berbeda dari versi aslinya, Sairat, ending Dhadak mungkin terasa lebih ‘kejam’ (meski sebenarnya sama-sama kejam dengan argumennya sendiri-sendiri). Lihat bagaimana kamera Rao men-tracking langkah seorang karakter untuk membuat penonton berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi. Begitu juga ketika ingin menampilkan siapa yang dijadikan korban, pergerakan kamera lagi-lagi dimanfaatkan, bersamaan dengan audio yang sengaja dibuat hening sepenuhnya, untuk mempermainkan emosi penonton. Menjadikan ending Dhadak begitu emotionally powerful, thoughtful, bahkan mungkin menimbulkan trauma. Saya spontan terdiam, tertegun, dan sedikit merinding dengan ending demikian. Dilanjutkan sebuah title card fakta tentang korban permusuhan antar kasta yang kian menimbulkan emotional impact terhadap kasus sejenis yang konon masih marak terjadi di India.
Sebagai pendatang baru di industri hiburan India, Ishaan Khatter jelas semakin menunjukkan kharisma dan aura kebintangannya di ranah sinema yang lebih luas setelah di Beyond the Clouds yang terasa lebih ‘festival’. Sementara Janhvi Kapoor mungkin secara fisik tak terlalu menonjol (baca: khas) tapi masih menampilkan kharisma serta pesona akting yang cukup memadai. Belum memberikan performa terkuatnya tapi cukup menarik sebagai debut. Penampilan komikal dari Shridhar Watsar sebagai sahabat mini Madhukar, Purshottam, cukup mencuri perhatian dan menjadi penyeimbang yang menyegarkan suasana di antara dominasi nuansa serius dan kelam. Terakhir, Godaan Kumar juga boleh dikatakan berkesan lewat karakter Roop Singh yang bengis, meneror, dan menyebalkan.
Sebagai roman Hindi, sayang sekali Dhadak tak menawarkan nomor musikal yang manis apalagi berkesan. Ada beberapa kesempatan menyelipkan nomor musikal, seperti ketika Madhukar ditantang bernyanyi dalam bahasa Inggris, tapi sama sekali tak dimanfaatkan. Bagi saya pribadi, hanya track Zingaat yang paling memorable berkat refrein yang catchy dan dance performance yang asyik. 
Di balik gelaran romansa yang secara keseluruhan tergolong biasa saja, tak punya banyak elemen yang menarik untuk diikuti, setidaknya Dhadak masih bisa jadi sajian yang menghibur sekaligus reflektif sebagai pasangan. Kekuatan terbesarnya terletak pada bagaimana adegan ending-nya di-handle dengan teknis tertentu untuk menghasilkan impresi serta emotional impact yang kuat. Setidaknya ending bisa membantu keseluruhan film menjadi lebih memorable.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates