Friday, July 20, 2018

The Jose Flash Review
Buffalo Boys

Bicara soal film Indonesia di mata dunia internasional mustahil untuk mengabaikan peran Mike Wiluan dan studio soundstage yang didirikannya di Batam, Infinite Framework Studio. Setelah mendukung untuk proyek-proyek internasional seperti film animasi Singapura-Indonesia, Sing to the Dawn (Meraih Mimpi), Dead Mine, dan serial HBO Asia, Serangoon Road, Beyond Skyline, dan bahkan melakukan efek visual tambahan di Hitman: Agent 47, Mike Wiluan akhirnya berani menggarap proyek ambisiusnya, Buffalo Boys (BB), sebuah wild wild west fantasy bersetting jaman penjajahan Belanda di tanah Jawa. Bekerja sama dengan Zhao Wei Films dan Bert Pictures dari Singapura, serta Screenplay Infinite Films dari Indonesia, BB melibatkan cast dan kru dari berbagai negara. Di lini cast terdepan saja ada Ario Bayu, Pevita Pearce, Sunny Pang, Zack Lee, Alex Abbad, Tio Pakusadewo, Happy Salma, Mikha Tambayong, Donny Damara, El Manik, Hannah Al Rashid, Donny Alamsyah, dan Mike Lucock. Sementara dari luar ada aktor asal Australia, Conan Stevens (Game of Thrones, Brothers), aktor asal Belanda, Reinout Bussemaker, dan tentu saja daya tarik utamanya, aktor serial Power Rangers berdarah Indonesia, Yoshi Sudarso. BB juga memperkenalkan Daniel Adnan, pendatang baru asal Republik Ceko yang sebelumnya dikenal sebagai model iklan. 

Dari trailernya BB terlihat menawarkan variasi genre yang belum ada di film Indonesia meski adaptasi spaghetti western di budaya non-Amerika sebenarnya sudah sering dilakukan seperti Sholay di India, Tampopo dan Sukiyaki Western Django di Jepang, dan The Good The Bad The Weird di Korea Selatan. Di Indonesia sendiri tahun 2017 lalu ada Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang sedikit memanfaatkan tema spaghetti western untuk dipadukan dengan budaya Sumba dengan istilah ‘satay western’. Namun apa yang ditawarkan BB harus diakui jauh lebih kental dalam mengadopsi tema spaghetti western. Bahkan Mike sendiri menyebut istilah ‘nasi goreng western’ untuk film garapannya ini.
Setelah sekian lama diasingkan di California, Amerika Serikat, seorang adik Sultan bernama Arana membawa kedua putra mendiang sang kakak, Jamar dan Suwo kembali ke tanah Jawa untuk mencari keadilan dari tangan penjajah Belanda, Kapten Van Trach yang kini menjabat gubernur di sebuah kota kecil. Dalam perjalanan mereka bertemu seorang jagoan panah wanita bernama Kiona, yang ternyata anak kepala desa, Sakar. Kebetulan mereka bertiga juga menyelamatkan adik Kiona, Sri dari tangan anak buah Van Trach, Fakar. Ketika keluarga Kiona terancam menjadi korban kesewenang-wenangan Van Trach terhadap rakyat, tekad Arana, Jamar, dan Suwo untuk memburu Van Trach beserta antek-anteknya semakin berapi-api.
Menganalisis BB ada baiknya kesampingkan dulu premis standard spaghetti western yang ditawarkan. Menurut saya premis sestandard apapun masih bisa jadi sajian yang tetap asyik diikuti jika dibangun dan dijalankan dengan menarik pula. Singkatnya, saya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan premis yang standard. Namun permasalahan sebenarnya dari BB adalah bagaimana menggerakkan plot tersebut melalui rangkaian adegan di layar. Entah kenapa adegan-adegan yang ditampilkan tidak membuat saya bergairah apalagi peduli dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya atau bagaimana nasib para karakternya. Mungkin pemilihan kejadian yang tidak menarik untuk diangkat menjadi adegan, atau transisi antar adegan yang kurang koheren dan masih sangat canggung (kaku), atau pemilihan kata maupun kalimat dalam dialog yang teramat sangat kaku sebagai hasil terjemahan naskah asli berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia, atau justru perpaduan dari kesemuanya. Alhasil plot terasa bergerak terlalu cepat untuk membuat saya peduli terhadap apa yang terjadi ataupun bersimpati terhadap para karakter utama. 
Jangan salah, para aktor sebenarnya terlihat sudah cukup memberikan performa yang maksimal di balik pengucapan dialog dengan pemilihan kata yang sangat kaku. Lihat saja bagaimana seriusnya Tio Pakusadewo, Happy Salma, Donny Damara, dan El Manik dalam memberikan nyawa serta emosi lebih ke dalam adegan-adegan yang melibatkan karakter mereka. Namun kesemuanya menjadi hambar dan sia-sia gara-gara pengadeganan yang boleh dibilang nyaris tanpa nyawa. Sedikit nyawa mungkin terasa pada adegan-adegan aksi yang ternyata tak banyak di antara durasi yang mencapai 102 menit. Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, dan bahkan Hannah Al Rashid sudah menampilkan aksi yang cukup seru, badass, dan asyik untuk dinikmati. Memang masih terasa sedikit kurang tepat dalam framing serta pergerakan kamera John Radel maupun editing Sean Albertson (Rocky Balboa, Rambo, Warrior, The Expandables 3, Beyond Skyline, Truth or Dare) yang sebenarnya berpotensi jauh lebih dahsyat, tapi secara keseluruhan masih mampu mengelevasi energi film. Terutama sekali adegan final showdown yang secara tensi boleh dianggap sangat layak sebagai klimaks.
Daya tarik teknis yang paling mencolok tentu saja desain produksi Pawas Sawatchaiyamet yang bisa dikatakan ‘wah’ untuk ukuran produksi film Indonesia. Gambaran kota yang dengan seimbang menggabungkan western style dengan bangunan lokal menjadi terlihat wajar patut diapresiasi. Begitu juga tata kostum Preeyanan Suwannathada yang meski tak sampai eksepsional tapi berhasil mengawinkan kedua budaya yang berbeda menjadi terlihat wajar dan sedap dipandang. Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani memanfaatkan suara-suara khas western untuk memperkuat citarasa keseluruhan film dengan variasi-variasi yang terdengar fresh. Melodi dan tune-nya tak terdengar kelewat mirip dengan musik-musik pengiring spaghetti western lainnya. Cukup baik dalam upaya memberikan emosi lebih dalam adegan meski tak sepenuhnya berhasil. Sayang sound mixing masih terdengar kurang maksimal, apalagi untuk genre action. Meski efek suara dan efek surround tertata baik, sayang suara dialog sepanjang film masih terdengar tenggelam. Menurut saya minus ini cukup berpengaruh terhadap feel dan atmosfer film. Terakhir, visual effect untuk berbagai adegan sadis terlihat just okay. Di banyak kesempatan darah terlihat kelewat cerah dan sering menghindari detail off-screen, entah faktor menghindari penggunaan visual effect atau sensor.
Ya, dibandingkan dengan apa yang dipromosikan di trailernya, hasil akhir BB cukup signifikan. Masih memukau lewat tampilan visual tapi tak begitu membangkitkan semangat untuk mengikuti hingga akhir. Well setidaknya tunggu sampai final showdown yang menurut saya cukup mengobati kekecewaan. Above all, bagaimanapun upaya BB yang tak main-main terutama dalam menghadirkan variasi genre dan tema di film Indonesia tetap layak untuk dinikmati dan diapresiasi di layar lebar dengan dukungan audio-visual yang baik.
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates