Sunday, June 3, 2018

The Jose Flash Review
Tully

Motherhood sudah sering diangkat ke medium film dengan berbagai tanggung jawab, tekanan, dan pengorbanannya. Terakhir yang kita ingat dengan baik adalah Bad Moms dengan kemasan komedi gila-gilaan yang mungkin bagi beberapa penonton terasa kelewatan dan tak pantas meski pada akhirnya menyuguhkan hati yang begitu besar sebagai bentuk penghormatan terhadap para ibu. Jika belum bisa menerima kemasan yang demikian, tak ada salahnya mencoba Tully. Sebuah drama komedi terbaru dari Jason Reitman yang begitu dikenal lewat Juno dan Up in the Air. Kembali bekerja sama dengan penulis naskah Diablo Cody setelah Juno dan Young Adult, penonton yang cocok atau bahkan terkesan dengan gaya penceritaan khas mereka bisa mengharapkan kehangatan sekaligus tawa dari Tully. Charlize Theron lagi-lagi didapuk mengisi peran utama setelah sempat bekerja sama dengan Reitman dan Cody lewat Young Adult. Didukung pula oleh Mackanzie Davis (The Martian, Blade Runner 2049), Mark Duplass, Ron Livingston, dan Elaine Tan.

Tak cukup dibuat repot oleh Sarah, putrinya yang menginjak remaja dan Jonah, putranya yang berkebutuhan khusus, Marlo sedang menantikan kelahiran anak ketiganya. Drew, sang suami yang sedang sibuk meningkatkan karirnya dan lebih sering menghabiskan waktu luang untuk main game, tak banyak membantu. Melihat kondisi ini, sang saudara yang keluarganya lebih mapan, Craig, menyarankannya untuk menyewa pengasuh anak malam hari. Awalnya merasa tak perlu dan malah tersinggung, kerepotan dan tingkat stres yang semakin meningkat membuat Marlo akhirnya memutuskan untuk menerima saran tersebut. Adalah Tully, gadis muda yang tampak hidup bebas tapi juga piawai dalam mengasuh bayi. Perlahan kehidupan Marlo pun semakin membaik, tertata, dan menyenangkan. Apalagi perlahan Tully menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik. Ketika Tully memutuskan untuk berhenti bekerja, Marlo berusaha keras untuk menahannya.
Plot tentang pengasuh kerap kali dijadikan setup untuk film thriller. Kehadiran Tully yang dibuat misterius di awal pun juga sempat membuat saya khawatir akan dibawa ke ranah thriller. Untungnya tidak. Karakter Tully yang sampai dijadikan titel pun menjadi sosok ideal yang menyenangkan dan mengundang simpati yang besar dari penonton. Namun daya tarik terbesarnya adalah naskah Cody yang seperti biasa, menggulirkan perkembangan plot secara mengalir dan tepat guna, sesekali diwarnai adegan maupun dialog menggelitik sekaligus cerdas, terkadang sedikit ‘nakal’, tapi tertata baik dan punya impact yang besar di balik serba kesederhanaannya. Di awal kita diajak melihat betapa stresnya Marlo dengan berbagai kondisi dan kejadiannya sebagai seorang ibu. Tak sampai ikut dibuat stres, apalagi dengan bumbu komedi  gelap di sana-sini yang tetap membuat penonton turut bersimpati. Kemudian suasana dibuat makin menghangat dengan sedikit rasa ‘awkward’ sebagai bumbu demi menjaga konsistensi komedinya, lewat kemunculan karakter Tully. Hingga akhirnya penonton dibawa pada klimaks yang menyingkap betapa cerdas naskah yang disusun Cody kali ini. Bukan sesuatu yang baru tapi dimanfaatkan sebagai elemen yang berkorelasi sangat kuat terhadap temanya. Menjadikan Tully sebuah kesatuan plot yang tertata baik, menggelitik, dan ditangani dengan serba tepat pula oleh pengarahan Reitman.
Sebagai aktris yang sudah kerap membuktikan kualitas aktingnya, karakter Marlo kali ini layak mendapatkan predikat salah satu peran paling menantang bagi Charlize Theron setelah di Monster, tentu saja. Tak hanya transformasi bentuk badan yang mencengangkan meski tak sampai kelewat ekstrim, tapi juga menjaga keseimbangan tampilan ibu yang sangat stres dengan berbagai tekanan yang dialami dengan sedikit bumbu komikal dan sarkas. Tak mudah membuat penonton bersimpati sekaligus tergelitik oleh penampilan dan celetukan-celetukan karakter, tapi Theron membawakannya dengan sangat baik. Mackenzie Davis pun mengimbanginya dengan tampil luwes menyuntikkan sosok gadis bebas, bijak, dan piawai dalam menunaikan berbagai pekerjaan rumah tangga ke dalam karakter Tully. Tak berlebihan jika ini menjadi karakter paling mempesona dan berkesan dari daftar filmografinya yang masih belum banyak. Sementara Mark Duplass dan Ron Livingston sekedar tampil sesuai porsi masing-masing sebagai Craig dan Drew. 
Sinematografi Eric Steelberg memang tak terlalu banyak menawarkan angle maupun camera work yang beragam di balik konsep kemasan film yang memang serba sederhana sebagaimana film-film Reitman-Cody sebelumnya. Sederhana, malah sangat konvensional, tapi tepat guna dan tetap terasa sinematik. Editing Stefan Grube membuat pergerakan plot Tully mengalir lancar dengan beberapa cut-to-cut yang membuatnya makin menarik, fun, dan dinamis. Sementara musik Rob Simonson yang juga cenderung sederhana, ringan, tapi mampu menambah ‘rasa’ menyentuh, hangat, dan fun di berbagai adegan. Begitu pula pilihan soundtrack easy listening yang ringan dan sederhana dari segi instrumen yang dipakai maupun komposisi nada, seperti Let You Go dan aransemen ulang You Only Live Twice dari Beulahbelle, Blue dari The Jayhawks, In a Black Out dari Hamilton Leithauser, Ride Into the Sun dari The Velvet Underground, dan Tiergarten dari Rufus Wainwright.
Sebagaimana sajian Reitman-Cody sebelumnya, Tully pun menawarkan kehangatan yang menggelitik sekaligus cerdas ke dalam sajian penghormatan terhadap para ibu yang serba sederhana. Saya begitu menyukai dan mengaguminya hingga tak segan-segan menobatkannya sebagai salah satu film terbaik tahun 2018 sejauh ini. Ajak ibu tercinta atau jika Anda sudah menjadi ibu, ajak suami tercinta, untuk menyaksikannya di bioskop. Feel the warmth and love it spread and impressed by its smart and powerful impact behing all of its simplicity.  

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates