Tuesday, June 12, 2018

The Jose Flash Review
Ocean's 8

(Ocean’s Eleven (OE, 2001) yang diproduseri dan disutradarai oleh Steven Soderbergh adalah salah satu film bertemakan heist yang paling menguntungkan secara komersial sekaligus menuai pujian dari para kritikus. Diinspirasi dari Ocean’s 11 dengan ensembel bintang papan atas pada era ’60-an dengan sebutan Rat Pack, OE dilanjutkan sekuelnya, Ocean’s Twelve pada 2004 dan Ocean’s Thirteen pada 2007 yang meski secara penghasilan menurun dari seri pertama tapi tetap saja sangat menguntungkan. Setelah Soderbergh memutuskan tidak akan melanjutkan seri ini lagi, termasuk pernyataan George Clooney selaku aktor utama yang ingin berhenti ketika masih dianggap ‘kuat’, Warner Bros. tak putus asa untuk terus melanjutkan franchise ini. Jalan lain yang masih bisa ditempuh adalah spin-off dengan tetap mempertahankan formula inti dan ‘mengawinkannya’ dengan elemen-elemen menarik lainnya. Di tengah maraknya isu feminisme dan women empowerment, memilih versi all-female dari OE adalah pilihan yang menarik. Ocean’s 8 (O8) kini ditangani sutradara Gary Ross (Seabiscuit, The Hunger Games, Free State of Jones) sekaligus menyusun naskahnya bersama Olivia Milch (upcoming Barbie movie in 2020). Sementara jajaran all-star cast yang sudah menjadi salah satu daya tarik installment-installment sebelumnya kali ini menghadirkan Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anne Hathaway, Mindy Kaling (serial The Office, A Wrinkle in Time), Sarah Paulson (12 Years a Slave, Carol), Awkwafina (Neighbors 2: Sorority Rising, Stork, dan upcoming Crazy Rich Asians), Rihanna, Helena Bonham Carter, serta sederetan cameo dari selebriti-selebriti papan atas mengingat background cerita yang dipilih.

Sekeluarnya dari penjara setelah menjalani hukuman selama lima tahun delapan bulan, Debbie Ocean, adik dari Danny Ocean yang ternyata telah meninggal dunia, berniat mengekseskusi sebuah rencana perampokan yang telah ia susun dengan rapi dan detail. Ia mengajak sang partner-in-crime, Lou yang bekerja sebagai penipu dengan mencampurkan air pada vodka. Meski awalnya menolak tapi Lou penasaran juga dengan rencana Debbie yang berniat merampok sebuah kalung berlian Cartier antik senilai US$ 150 juta, Toussaint, di acara jamuan makan malam Met Gala yang bertabur bintang. Mulai dikumpulkanlah kru sesuai ekspertis masing-masing; Amita, sang pembuat perhiasan, penadah Tammy, pencopet jalanan Constance, hacker komputer Nine Ball, dan perancang busana yang sedang depresi karena reputasinya menurun dan hutang yang menumpuk, Rose Weil. Rencana pun disusun, termasuk memilih seorang selebriti, Daphne Kluger yang akan dijadikan umpan dikeluarkannya Toussaint dari brankas setelah ratusan tahun. Seperti biasa, rencana yang sudah direncanakan masih menyisakan kejutan, bahkan dari dan bagi Debbie maupun Lou.
Secara garis besar O8 sebenarnya semacam pencampuran dari formula dasar OE; perampokan dengan detail rencana mengagumkan (well, meski beberapa ada yang termasuk mustahil sih, sebagaimana tiga installment pertamanya), dilakukan oleh tim yang kesemua anggotanya wanita (dalam film sempat disebutkan alasan yang sebenarnya ironis di tengah maraknya isu women empowerment tapi termanfaatkan dengan baik sesuai kebutuhan cerita; wanita cenderung lebih diabaikan ketimbang pria), ditambah balutan fashion-fashion item fabulous yang menghiasi sepanjang film, bahkan menjadi elemen penting tersendiri dalam film. 
Namun di atas segala elemen-elemen tambahan yang ditawarkan, fokus utama penonton tentu akan tertuju pada bagaimana rencana perampokan yang tak terduga, mendetail, rumit, serta sedikit bumbu khayal yang mustahil tapi menambah sisi fun. Untuk urusan ini, naskah Ross dan Milch menggunakan template yang ada dengan variasi yang tetap menarik untuk disimak meski tak menawarkan konsep yang benar-benar baru. Eksekusi Ross sendiri pun lebih dari cukup untuk menghadirkan adegan-adegan intens yang membuat penonton ikut deg-degan dan menahan nafas. Memang obstacle yang dihadirkan tak terasa terlalu berarti maupun adegan last-second yang tak terlalu tajam untuk mempermainkan emosi penonton, tapi secara keseluruhan eksekusinya masih tergolong berhasil memberikan impact fun tersendiri terhadap penonton, terutama berkat sinematografi dan pergerakan kamera dari Eigil Bryld yang suportif terhadap berbagai kebutuhan detail adegan heist, editing Juliette Welfling dengan timing yang serba pas dan menjaga pace adegan, serta skor musik dari Daniel Pemberton yang bak meracik musik klasik Johann Sebastian Bach, Fugue in D Minor, jazz Petite Fleur, hingga All Over You dari The Speed Freak yang merupakan versi techno dari These Boots Are Made for Walkin’-nya Nancy Sinatra. Asyik tapi berkelas.
Para ensemble cast sebenarnya tak memerlukan karakterstik khusus dalam memerankan para karakter. Bisa dibilang malah more or less menjadi diri sendiri atau para karakter memang sengaja ditulis dengan gambaran para cast yang sudah dipilih. Sebagai formula, ini sama sekali tak salah apabila memang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. O8 termasuk salah satu yang bisa dikatakan berhasil. Interaksi antar karakter terasa begitu menyenangkan untuk diikuti dan dinikmati. Mulai Sandra Bullock dengan tipikal peran yang biasa ia bawakan (lengkap dengan cengiran khas-nya), Cate Blanchett dengan kharisma yang selalu terpancar tanpa perlu berusaha apa-apa, Anne Hathaway dengan kecantikan yang terpancar kuat sekaligus aura komedi yang menjadi hiburan tersendiri, Mindy Kaling dengan mocking humor-nya, Sarah Paulson dengan sosok keibuan yang anggun, Rihanna dengan daya keseksian sekaligus kecerdasan, Helena Bonham Carter dengan tingkah weirdo khas-nya yang konyol, hingga Awkwafina dengan sepak terjang trik mencurinya yang menjadi daya tarik tersendiri. Kesemuanya bak gabungan individu-individu dengan daya tarik masing-masing yang sangat kuat, menjadikan O8 satu kemasan yang asyik dinikmati. Bahkan tidak mungkin, bikin ketagihan untuk disaksikan berulang kali. 
In my opinion, gabungan formula-formula yang digunakan O8 lebih berhasil untuk menghasilkan tontonan yang lebih menarik ketimbang O12 dan O13 yang sebenarnya juga sekedar pengulangan konsep dengan variasi semata. Setidaknya ada suatu kesegaran yang ditawarkan meski harus diakui sebenarnya di atas kertas cuma sekedar gender-swap di atas kertas. Namun pilihan dan penampilan para cast yang kemudian mengambil alih serta menjadikannya jauh lebih menarik lagi. Potensial untuk melanjutkan konsep gender-swap ini? Bisa saja selama punya alasan yang kuat kenapa mereka harus kembali melakukan perampokan. Oh, jangan lupa untuk membawa kembali Danny Ocean. Saya menolak percaya bahwa ia telah tewas. Semoga saja harapan saya (dan saya yakin banyak juga penonton yang lain) benar-benar terwujud.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates