Monday, June 25, 2018

The Jose Flash Review
Insya Allah Sah 2

Hari Raya Lebaran seharusnya identik dengan sajian yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga dengan nuansa ‘meriah’ dan alangkah lebih baik lagi jika memuat nilai-nilai Islami. Maka apa yang coba dihadirkan MD Pictures untuk memeriahkan Lebaran 2017 silam lewat Insya Allah Sah (IAS) sebenarnya sudah pada koridor yang tepat. Diangkat dari novel Achi TM berjudul sama, film yang dibintangi Pandji Pragiwaksono, Titi Kamal, dan Richard Kyle ini berhasil menarik perhatian 833.010 penonton. Pengubahan konsep karakter sentral, Raka, di versi film jelas menambah daya tarik ketimbang versi novel yang sebenarnya tergolong klise dan dangkal. Setidaknya karakter Raka menjadi lebih ikonik dengan berbagai kekhasannya meski bagi beberapa orang dianggap kelewat ‘mengganggu’. MD Pictures lantas mengembangakn karakter Raka menjadi sebuah franchise yang mungkin akan dihadirkan tiap Hari Raya Lebaran. Tahun ini, Insya Allah Sah 2 (IAS2) menghadirkan kisah (baca: kasus) baru dengan melibatkan Donny Alamsyah, Luna Maya, Miller Khan, dan Nirina Zubir. Sementara aktor dari installment pertama yang kembali lagi di sini hanya Pandji dan Tanta Ginting. Proyek pun kali ini dipercayakan kepada Anggy Umbara (franchise Comic 8 dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!) yang duduk sebagai sutradara bersama sang adik, Bounty Umbara, sekaligus penyusun naskah bersama Herry B Arissa (Selebgram, Generasi Kocak: 90-an vs Komika). Di tangan Anggy, IAS2 menjanjikan aksi dan petualangan yang lebih menghebohkan daripada installment pertama yang digarap oleh Benni Setiawan.

Ketika sedang dalam perjalanan menuju kota, sebuah kejadian membuat Raka terjebak dalam sebuah mobil online bersama Gani, buronan polisi yang sedang dikejar-kejar oleh geng bersenjata anak buah bos mafia, Freddy Coughar. Di tengah porak poranda dan kepanikan, Gani meminta Raka untuk membantunya menghindari kejaran. Raka bersedia asal Gani mau bernazar untuk bertobat setelah semuanya beres. Gani yang terdesak pun menyanggupi. Setelah berhasil lolos, keluguan Raka membuat Gani kehilangan sejumlah besar uang. Raka harus terus mengikuti Gani sampai mendapatkan kembali uang tersebut. Ternyata uang tersebut akan digunakan Gani untuk menikahi sang kekasih, Mutia yang sedang dalam kondisi hamil. Raka pun semakin bersimpati terhadap niat baik Gani. Namun nazar tetap lah nazar yang harus dipenuhi. Sementara kejaran anak buah Freddy Coughar masih memburu mereka bertiga.
IAS pertama masih mampu menghibur penonton berkat sajian komedinya yang menggelitik berkat kejadian-kejadian yang memang ditulis sebagai humor maupun penampilan Pandji dan Titi Kamal, di balik temanya yang terasa sangat ‘berdakwah’ dan menggurui. Maka bagaimana pun komponen komedi tak bisa dilepaskan begitu saja dari franchise. IAS2 memang tak melupakan komponen komedinya meski di tangan Anggy dan Bounty, tentu adegan aksi menjadi porsi yang lebih mendominasi. Sayangnya tingkat kelucuan IAS2 masih belum pada kadar yang setara dengan installment pertama, setidaknya menurut selera humor saya pribadi. Bukan karena penanganan Anggy yang sebenarnya sudah terbukti lewat franchise Comic 8 ataupun Warkop DKI Reborn, tapi faktor penulisan komedi yang harus diakui kali ini tak semenggelitik IAS pertama maupun komedi-komedi garapan Anggy sebelumnya. Terlihat beberapa kali upaya menghadirkan jenis komedi sejenis dari dua referensi tersebut, tapi harus lebih sering terasa miss ketimbang hit-nya. Sementara untuk gelaran adegan aksi, Anggy dan Bounty masih terlihat piawai menangani adegan tembak-tembakan, ledakan, dan kejar-kejaran mobil menjadi seru. Keporak-porandaan yang tertata baik sehingga masih bisa dengan jelas diikuti dan dinikmati berkat sinergi sinematografi Yadi Sugandi, editing Bounty Umbara dan Bagus Iman, serta musik dari AL.
Di tangan Anggy dan Herry B Arissa, naskah IAS2 tersusun lebih baik dengan pengembangan plot yang berjalan mulus dan natural, dengan titik balik karakter sentral yang lebih manusiawi dan tak semenggurui IAS pertama. Satu kelebihan penting yang paling mencolok dari IAS2 dibandingkan installment sebelumnya. 
Penampilan Pandji dalam menghidupkan karakter Raka masih setara film pertama. Bisa jadi terasa tak semengganggu di IAS pertama, tapi sebenarnya secara garis besar masih sama. Donny Alamsyah dan Luna Maya mungkin tak bisa tampil semenggelitik Titi Kamal, tapi keduanya menggantinya dengan presentasi drama serius yang layak. Pun di momen-momen komedi, keduanya tak terlihat canggung untuk get along. Elemen-elemen komedi kemudian dibebankan kepada para pemeran pendukung, seperti Tanta Ginting yang masih melanjutkan peran yang sama, Nirina Zubir, Tarsan, dan Ence Bagus. Meski masing-masing cukup berhasil membawakan materi humor dengan baik, secara keseluruhan masih terasa kurang dibandingkan installment sebelumnya. Terakhir, tak boleh mengabaikan penampilan singkat Dewi Yull di momen paling emosional yang menjadi pencuri perhatian tersendiri.
Pada akhirnya keputusan ada di tangan Anda. Bisa jadi komedi yang disajikan di IAS2 masih berhasil membuat Anda terbahak-bahak. Yang pasti upaya perbaikan penyusunan naskah dan berbagai komponennya, serta masuknya elemen aksi, membuat presentasi secara keseluruhan lebih baik daripada installment pertama. Meski agaknya sulit untuk menjadi jawara persaingan sengit Hari Raya Lebaran tahun 2018 ini yang sudah dikuasai dua brand horor kuat, Jailangkung dan Kuntilanak, IAS2 sebenarnya merupakan sajian yang secara tema dan festivity paling cocok untuk disaksikan bersama keluarga atau teman-teman segeng di Hari Raya Lebaran. 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates