Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
Truth or Dare


Jason Blum lewat bendera Blumhouse terus mewujudkan berbagai ide-ide horor/thriller liar dengan budget kecil tapi berhasil mencetak angka box office berlipat-lipat. Sebut saja Insidious, Sinister, The Purge, Get Out, dan Happy Death Day. Upaya terbarunya adalah Truth or Dare (ToD). Berawal dari ide Jeff Wadlow (Cry Wolf, Prey, Kick-Ass 2) yang langsung mendapatkan lampu hijau produksi dari Jason Blum setelah hanya mem-pitch judul dan adegan pembuka, ToD memadukan permainan klasik ‘truth or dare’ dengan elemen horor supranatural ala Final Destination dan Wishmaster (terakhir elemen serupa digunakan juga oleh Wish Upon). Perpaduan yang cukup menarik bukan? Apalagi sudah lama kita tidak dibuat tegang oleh perburuan malaikat maut yang bisa terjadi kapan saja seperti di Final Destination. Naskahnya disusun Wadlow bersama Christopher Roach (Non-Stop), Michael Reisz (serial Boston Legal dan Shadowhunters: The Mortal Instruments), dan Jillian Jacobs, ToD didukung performa dari bintang-bintang muda seperti Lucy Hale yang kita kenal lewat Scream 4, Tyler Posey dari serial Teen Wolf, Violett Beane dari serial The Flash, dan Nolan Gerard Funk dari serial Glee dan Arrow.

Markie memaksa sahabatnya, Olivia, untuk bergabung bersama geng mereka menghabiskan libur musim semi di Maksiko; Lucas, sang kekasih, Bard, serta Penelope bersama pacarnya, Tyson. Ketika sedang sendiri, Olivia didatangi pria asing, Ronnie, yang mengajaknya ke sebuah gereja tua setelah bar tutup. Di sana Carter mengajak mereka bermain ‘truth or dare’. Awalnya tak ada yang terasa aneh, tapi ketika kembali ke rutinitas masing-masing, Olivia mulai merasakan kehadiran halusinasi kalimat ‘truth or dare’ yang memaksanya memilih dan melakukan yang diperintahkan. Tak hanya dirinya, ada seorang teman yang sudah terlebih dahulu mengalami halusinasi serupa dan berakhir dengan kematian. Olivia panik dan memperingatkan teman-teman segengnya yang kemungkinan menjadi korban berikutnya, sambil menemukan misteri permainan maut yanga aneh ini dan bagaimana cara menyudahinya.
Secara struktural, ToD memang masih memanfaatkan formula klasik di genrenya. Yang menjadi daya tariknya kemudian adalah bagaimana ide menarik ini membangun aturan demi aturan sebagai pengembangan cerita dan penyampaiannya supaya tetap terkesan natural dan riil. Selain itu yang tak boleh dilupakan adalah bagaimana ia membangun atmosfer teror tak terlihat (maut yang bisa datang kapan saja lewat cara apa saja) hingga adegan-adegan kematian ‘kreatif’ yang sayangnya harus berkompromi dengan kebutuhan rating PG-13 (artinya tak bisa mengeksplor visualisasi kematian yang terlihat kelewat sadis). Namun dengan penanganan yang tepat, horror/thriller PG-13 masih bisa terasa mencekam tanpa harus terlihat sadis. Happy Death Day adalah salah satu contoh yang tepat.
Sayangnya, potensi ToD yang sebenarnya bagus masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Pertama-tama, penanganan Wadlow masih jauh dari kata baik dalam membangun atmosfer ketegangan maksimal seperti yang berhasil dicapai Happy Death Day (apalagi jika dibandingkan Final Destination, jauh!). Terutama sekali faktor timing yang secara keseluruhan kelewat cepat. Ini bisa jadi upaya ‘penyelamatan’ pace lewat editing Sean Albertson untuk menjaga kedinamisan keseluruhan film yang justru menjadi bumerang di momentum-momentum daya tarik utamanya. Pengembangan konsep yang menarik pun semakin ke belakang semakin terasa lemah dengan dimasukkannya pengubahan-pengubahan aturan dan petunjuk yang seolah-olah kebingungan bagaimana cara menyampaikannya atau mau dibawa ke mana lagi. Kelemahan yang seharusnya tidak perlu terlalu dipikirkan jika daya tarik utama lewat teror kematian berhasil, seperti yang terjadi pada seri manapun dari Final Destination. Sayang, ToD masih tergolong kurang berhasil dalam hal upaya-upaya ini. Upaya untuk memasukkan value soal persahabatan dan kejujuran yang sebenarnya di atas kertas punya relevansi kuat dengan konsepnya pun menjadi terasa dipaksakan  ada gara-gara penanganan yang ‘kacau’ ini. Menjadikannya sekedar tontonan thriller/horror remaja yang cukup menghibur tapi meninggalkan kernyit dahi di banyak kesempatan, hingga pada akhirnya dengan mudah segera terlupakan.
Meski menghadirkan bintang-bintang muda yang tergolong baru (atau jarang tampil) di layar lebar, tapi performanya cukup berkesan. Setidaknya karakter-karakter yang dibawakan dapat dengan mudah dikenali dan dibedakan. Mulai Lucy Hale sebagai Olivia di lini terdepan, Tyler Posey sebagai Lucas yang terlihat semakin kharismatik, dan Violett Beane sebagai Markie yang mempesona  bak the next Emma Stone. Hayden Szeto sebagai Brad pun cukup menjanjikan untuk menjadi aktor berdarah Asia Timur yang berkiprah di film-film Hollywood. Begitu pula Sophia Ali sebagai Penelope Amari yang bisa jadi the next Jordana Brewster dan Nolan Gerard Funk sebagai Tyson yang mengingatkan saya akan sosok Kevin Bacon di Flatliners
Kamera Jacques Jouffret mungkin tak ada yang eksepsional, tapi sebenarnya sudah cukup mengakomodasi kebutuhan adegan. Meski sebenarnya pergerakan kamera bisa lebih dieksplorasi lagi untuk menghasilkan adegan-adegan thriller yang lebih mencekam. Musik dari Matthew Margeson masih terdengar generik di genrenya. Sementara pemilihan daftar soundtrack-nya cukup menarik dengan memasukkan Champion of Love dari NYSSA, Order dari MODERNS, dan World Keeps Turning dari Sylvia Tosun. Sayang penggunaannya dalam adegan menjadi kurang berkesan dibandingkan kebanyakan thriller/horror remaja lainnya.

Dengan berbagai potensi yang serba tanggung, ToD sayangnya harus jatuh menjadi just another teenage thriller/horror. Bahkan termasuk salah satu yang terlemah. Namun jika Anda masih penasaran dengan konsepnya, setidaknya masih berharap ingin sedikit dibuat merasakan ketegangan, tanpa ekspektasi tinggi, ia masih bisa menjadi sajian hiburan instan yang menarik.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates