Tuesday, May 15, 2018

The Jose Flash Review
Status Update

Salah satu formula paling generik dari genre remaja adalah ‘wish come true’ dan ‘be yourself’. Bisa dimaklumi mengingat masa remaja adalah masa dimana selalu mengharapkan semua keinginan yang menyenangkan bisa terwujud dengan mudah, juga konflik yang paling sering terjadi adalah pencarian jati diri. Sisanya tinggal modifikasi menyesuaikan dengan kondisi jaman. Formula yang sama juga digunakan untuk film remaja Status Update (SU) yang disutradarai oleh Scott Speer (sutradara berbagai video musik yang mulai dikenal di layar lebar lewat Step Up Revolution dan baru saja kita lihat karya terbarunya, Midnight Sun) berdasarkan naskah Jason Filardi (Bringing Down the House, 17 Again). Didukung para mantan bintang Disney Channel; Ross Lynch, Olivia Holt, Gregg Sulkin, SU menawarkan formula-formula dasar film remaja tersebut dengan kemasan fantasi dari media sosial yang menjadi highlight terbesar fenomena kekinian.

Kyle Moore harus beradaptasi dengan sekolah baru di kota baru yang berbeda sama sekali dengan dunianya yang dulu di California. Maklum, kedua orang tuanya baru saja memutuskan berpisah sementara kedua anaknya ikut dengan sang ibu. Kyle sebenarnya bukan tipikal cowok pecundang, tapi tetap saja mendapatkan sambutan yang tidak baik di sekolah barunya. Menjadi bulan-bulanan geng hockey Derek yang populer, hanya Lonnie, seorang siswa penyendiri yang mau mendekatinya. Ketika kekesalannya terhadap perilaku geng Derek sudah mencapai puncak, tak sengaja Kyle bertemu pria misterius berkedok servis smartphone. Ia mendapatkan aplikasi media sosial yang secara ajaib bisa menjadikan status update yang ditulis menjadi kenyataan. Awalnya ia menggunakan aplikasi tersebut untuk membalas dendam kepada geng Derek. Namun popularitas membuatnya lupa diri dan mengandalkan aplikasi tersebut untuk berbagai keperluan. Persahabatannya dengan Lonnie maupun kisah asmaranya dengan gadis paduan suara, Dani McKenzie pun terancam oleh ambisi Kyle.
Dari premise jelas sebenarnya bahwa SU memang masih memanfaatkan formula dasar film remaja. Singkatnya, bak Mean Girls versi cowok dengan sedikit sentuhan ajaib ‘wish come true’ a laVirtual Sexuality atau yang terbaru, Wish Upon lewat medium media sosial. Hasilnya bisa jadi medioker jika tidak ditangani dengan tepat. Untungnya Scott Speer memang tahu betul bagaimana menggarap film remaja dengan spirit youth yang tepat sehingga nuansa ceria, seru, dan mengasayikkan terasa sepanjang durasi meski di balik pengembangan plot yang generik. Sedikit sentuhan musikal pun menambah semarak film. 
Secara keseluruhan sebenarnya SU terasa agak bak FTV atau film direct-to-video. Untung saja Russ T. Alsobrook masih menghadirkan pergerakan kamera sinematik yang mengasyikkan di beberapa momen, seperti penampilan musikal Kyle membawakan lagu Locked Out of Heaven. Editing Sean Valla pun mampu menjaga pace dengan kedinamisan yang sesuai dengan nuansa dan spirit keseluruhan film. Musik skor Jeff Cardoni di luar nomor-nomor musikal mungkin masih terdengar kelewat generik di genrenya tapi tergolong cukup mengakomodasi kebutuhan film. 
Daya tarik lain yang tak bisa diremehkan adalah penampilan para cast-nya, terutama yang berada di lini terdepan. Ross Lynch punya pesona dan kharisma yang cukup sebagai lead. Bahkan mengingatkan saya akan sosok Asthon Kutcher di awal karirnya dulu. Olivia Holt pun jelas punya pesona fisik dan aura yang terpancar jelas di layar sebagai Dani McKenzie. Masih ada faktor suara dimana ia membawakan beberapa lagu yang menjadi nilai tambahnya. Harvey Guillen mungkin tak berbeda jauh dari tipikal peran siswa pecundang sebagai Lonnie, tapi setidaknya julukan Grimace yang sempat terlontar di film memang cocok dengan beberapa ekspresi wajahnya. Sementara Courtney Eaton sebagai Charlotte, Gregg Sulkin sebagai Derek, dan Markian Tarasiuk sebagai Brian Massey masih butuh screentime lebih dan karakter yang lebih menarik untuk lebih mampu mencuri perhatian. Above all, penampilan singkat berkesan dari Famke Janssen jelas menjadi daya tarik tersendiri yang tak terlupakan.

Ya, SU memang masih menawarkan formula generik di genre remaja yang sebenarnya tak lekang oleh jaman untuk didaur ulang di tiap generasi. Namun berkat tangan dingin Speer yang tahu betul bagaimana menghadirkan youth spirit yang asyik serta penampilan para aktor muda yang segar, setidaknya ia masih mampu menjadi sajian remaja ringan yang menghibur. Masih jauh dari kesan eksepsional, apalagi klasik, tapi tak ada salahnya dicoba. Apalagi genre remaja dewasa ini sudah semakin jarang muncul di layar lebar, bukan? 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates