Tuesday, May 15, 2018

The Jose Flash Review
Raazi

Meski selalu diwarnai oleh kontroversi dan pemboikotan, perang antara India dan Pakistan selalu menjadi tema yang menarik di sinema Hindi. Jangankan yang terang-terangan bertema perang India-Pakistan, tampilnya aktor atau aktris Pakistan di sinema Hindi saja selalu menjadi kontroversi. Maka apa yang dihadirkan Junglee Pictures dan Dharma Productions lewat Raazi bisa dikatakan sebagai suatu langkah yang sangat berani. Diangkat dari novel bertajuk Calling Sehmat karya Harinder Sikka yang juga diinspirasi oleh kejadian nyata, Raazi mempercayakan karakter utamanya yang seorang mata-mata India di tanah Pakistan diisi oleh aktris muda yang mulai populer sejak Student of the Year, Alia Bhatt. Vicky Kaushal ynag pernah kita lihat di Bombay Velvet, Masaan, dan Raman Raghav 2.0 dipasangkan dengan Bhatt sebagai sang suami, Iqbal Syed. Sementara bangku penyutradaraan diduduki oleh Meghna Gulzar, sutradara wanita yang juga merupakan putri dari penulis lirik, Gulzar. Meghna sendiri tahun 2015 lalu pernah sukses mengarahkan film investigasi pembunuhan, Talvar. Dengan pengalaman dan nama-nama tersebut, Raazi terdengar sebagai sajian thriller espionase yang menjanjikan.

Di tengah berkecamuknya perang India-Pakistan, Hidayat Khan, seorang pejuang kemerdekaan India menyadari kanker paru-paru yang dideritanya tak mengijinkannya untuk berjuang lebih lama lagi sementara India membutuhkan informan di tanah Pakistan. Maka ia meminta sang putri yang masih duduk di bangku kuliah, Sehmat, untuk menjadi mata-mata India dengan menikahi Iqbal Syed, putra jenderal tentara Pakistan yang sekaligus merupakan teman lamanya. Meski berat, Sehmat akhirnya menyetujui permintaan tersebut dan segera menjalani pelatihan kilat menjadi seorang mata-mata. Setelah siap, misi pun dimulai. Seperti biasa, berbagai kejadian seperti kegiatan espionase yang sudah tersusun rapi dan identitasnya yang nyaris terbongkar tak terelakkan. Kemanusiaan sekaligus patriotisme Sehmat benar-benar diuji ketika ia terpaksa harus membunuh. Puncaknya ketika ia dihadapkan pada dilema dengan Iqbal sendiri.
Raazi memasukkan kesemua formula dasar genre thriller espionase. Mulai dari setup cerita, proses pelatihan, hingga kejadian-kejadian mendebarkan saat beraksi. Kesemuanya sudah tergolong formulaik di genrenya. Namun yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana menangani kesemua formula ini menjadi sajian yang berhasil membuat penonton bersimpati dan peduli terhadap karakter sentral, serta bagaimana menyajikan adegan-adegan penggedor adrenalin yang benar-benar berhasil, termasuk dalam memasukkan momen-momen ‘nyaris’-nya. Raazi beruntung dibekali naskah Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar sendiri yang berhasil merangkum kejadian dan detail penting sebagai bekal penyusunan keseluruhan plot. Tak perlu terasa kelewat ribet, justru sederhana sehingga mudah dipahami dan dinikmati oleh penonton terawam sekalipun. Kekuatannya masih ditambah penyutradaraan Meghna yang terlihat tahu betul bagaimana menyusun adegan-adegan thriller dengan timing yang tepat, bersinergi dengan tata kamera Jay I. Patel dan editing Nitin Baid. 
Selain penanganan yang tepat guna, tentu tak bisa mengabaikan performa akting Alia Bhatt yang luar biasa dan menjadi daya tarik utama sepanjang durasi film. Tak hanya berhasil menghidupkan berbagai kebutuhan karakter dengan emosi yang kuat, tapi juga dilematis di momen-momen terpenting yang bisa dirasakan dengan jelas, berikut juga layer-layernya, tanpa perlu diucapkan secara verbal. Terutama sekali dilema moral tiap kali terpaksa harus membunuh dan konklusi yang menjadi titik balik karakter terpenting berkaitan dengan beban moral kemanusiaan seorang mata-mata. Tak berlebihan jika menyebutkan perannya di sini sebagai penampilan terbaik Alia hingga saat ini. Vicky Kaushal pun cukup mampu mengimbangi performa Alia dengan kharisma tertentu sesuai kebutuhan peran maupun porsi. Di lini berikutnya ada Jaideep Ahlawat sebagai Khalid Mir yang dingin dan punya kharisma begitu kuat, Arif Zakaria sebagai Abdul, dan Ashwath Bhatt sebagai Mehboob Syed yang terasa bengis tanpa harus melakukan aksi ekstrim.
Semakin memperkuat Raazi sebagai sajian sinematik, musik skor dari trio Shankar-Ehsaan-Loy (Kal Ho Naa Ho, My Name is Khan, Bhaag Milkha Bhaag) yang menandai come-back setelah vakum selama satu setengah tahun, mengiringi adegan-adegan thriller menjadi lebih breath-taking dan adegan-adegan dramatis lebih ‘menyayat’. Lirik dari Gulzar terdengar sangat relevan dengan adegan-adegan yang disuguhkan, termasuk bait dari puisi Lab Pe Aati Hai Dua (lagu nasional anak-anak sekolah dasar sebelum memulai pelajaran di Pakistan dan beberapa wilayah India) karya Allama di lagu Ae Watan yang terdengar sangat patriotik hingga nyaris bak sebuah himne atau lagu nasional. 

Sebagai sebuah sajian thriller espionase, guliran plot Raazi tergolong solid, dengan penanganan thriller dan dramatisasi yang tepat, serta performa akting yang serba kuat. Konklusi tentang beban mental kemanusiaan seorang mata-mata di balik segala kemampuan di atas rata-rata dan tujuan patriotisme-nya menjadikannya punya daya tarik tersendiri di antara film-film bertema serupa. Emotionally thoughtful. Tak berlebihan jika saya menobatkannya sebagai salah satu film Hindi terbaik tahun ini so far.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates