Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
Ghost Stories

Jeremy Dyson selama ini dikenal sebagai penulis naskah untuk serial Inggris Psychobitches dan The League of Gentlemen. Ia juga pernah populer lewat kolaborasinya bersama Andy Nyman (dikenal lewat acara ilusionis Derren Brown) untuk pertunjukan drama panggung bertajuk Ghost Stories (GS) yang tak hanya sukses dipentaskan selama bertahun-tahun sejak 2010 di Inggris tapi juga merambah Australia. Drama panggung ini kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar bertajuk sama oleh Dyson-Nyman sendiri dan rata-rata mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Kita di Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu fenomena horor Inggris terbesar era 2000-an ini di layar lebar melalui distributor CBI Pictures mulai 9 Mei 2018.

Profesor Phillip Goodman memilih spesialisasi membongkar tipuan praktik-praktik supranatural lewat acara TV-nya. Tujuannya adalah untuk menghentikan upaya merusak hidup manusia lewat hal-hal klenik sebagaimana keluarganya dulu. Suatu ketika ia mendapatkan tantangan dari Charles Cameron yang dulu pernah menginspirasi dirinya waktu kecil tapi sudah puluhan tahun menghilang ternyata masih hidup meski sekarat. Charles memintanya untuk menyelidiki tiga kasus yang melibatkan penampakan makhluk halus. Yang pertama kasus Tony Matthews, hansip yang berhenti mengunjungi sang putri yang mengidap locked-in syndrome di rumah sakit jiwa setelah sang istri meninggal dunia karena kanker.  Kasus kedua adalah Simon Rifkind yang terobsesi oleh dengan hal-hal okultisme dan punya hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya setelah mengaku menabrak Setan di hutan dengan mobilnya. Ketiga, pengusaha kaya raya bernama Mike Priddle yang percaya anak yang dilahirkan istrinya hingga mengakibatkan sang istri meninggal dunia adalah makhluk halus. Ketiga kasus ini menggoyahkan pendiriannya selama ini akan keberadaan makhluk halus. 
Sekilas GS bak sebuah omnibus atau antologi horor, tapi ternyata tidak. Ia masih berupa satu film yang berjalan linear dan terkoneksi menjadi satu kesatuan utuh. Penonton memang diajak mengalami langsung per kasus tapi lebih sebagai sebuah pemaparan kasus semata. Tanpa ada pengembangan sub-plot per kasus tapi tetap membuat penonton penasaran ada apa di balik tiap kasusnya. Begitu juga beberapa jumpscare yang tergolong mengejutkan tanpa diduga-duga dan berhasil berkat timing dan penanganan yang jitu di balik segala keganjilan (bizarre) visualisasinya (baca: desain produksi). Awalnya saya menganggap ini sebagai sebuah kelemahan karena tidak ada pengembangan, apalagi kesimpulan yang memuaskan di tiap kasus. Namun begitu ketiganya selesai dipaparkan, barulah ketahuan bahwa plot utama masih memegang peranan penting dalam mengikat ketiga kasus dan merujuk kepada satu kesimpulan di akhir. Bukan revealing yang baru, bahkan sudah ada film Indonesia yang menggunakan twist serupa. Namun tetap harus diakui sebagai sebuah kesimpulan yang relevan dengan bangunan-bangunan plot sebelumnya.
Penampilan para aktornya mungkin sekedar tampil sesuai porsi peran masing-masing tapi beberapa cukup stand out sepanjang durasi film. Mulai Andy Nyman yang kembali memerankan Professor Phillip Goodman sebagaimana di versi drama panggungnya, Martin Freeman sebagai Mike Priddle yang cukup memorable dari semua aktor pendukung di dalam kasus, Alex Lawther sebagai Simon Rifkind yang tampak paling mengerikan, dan tentu saja Leonard Byrne sebagai Charles Cameron yang tampak tak kalah ‘sakit jiwa’.
Desain produksi yang serba bizarre tentu menjadi daya tarik utama, didukung pula tata kamera Ole Bratt Birkeland yang cukup baik dalam membangun rasa penasaran penonton maupun timing jumpscare yang jitu berkat kerjasama dengan editing Billy Sneddon. Haim Frank Ilfman pun menambah pekat suasana bizarre lewat musik-musik pengiring yang bak membawa penonton ke alam bawah sadar.

Secara keseluruhan GS mungkin bukan sajian horor eksepsional yang kelewat istimewa. Konsep dan formulanya juga tidak ada yang baru. Namun sebagai sebuah hiburan ringan, terutama bagi penggemar horor, GS bisa jadi pilihan yang seru dan mengasyikkan. Pun konsep serta pengembangan plotnya juga disusun dengan baik dan visualisasinya digarap dengan cukup impactful pula.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates