Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
Based on a True Story
[D'après une histoire vraie]

Kehidupan penulis novel, terutama dalam proses kreatifnya, serta hubungan antara penulis dan penggemarnya sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Bagi penonton umum tentu akan selalu mengingat film yang diangkat dari novel karya Stephen Kings, Misery (1990) dengan menghadirkan penampilan dari James Caan dan Kathy Bates. Tahun 2017 penulis naskah/sutradara Roman Polanski (Rosemary’s Baby, Chinatown, The Pianist, Carnage) bekerja sama dengan Olivier Assayas (Demonlover, Something in the Air, Clouds of Sils Maria, Personal Shopper) mengadaptasi naskah sebuah novel thriller psikologis karya Delphine de Vigan berjudul D'après une histoire vraie atau dengan judul internasional Based on a True Story (BoaTS). Roman kembali menggandeng sang istri, Emmanuelle Seigner, untuk mengisi peran utama yang mana ini merupakan kali kelima keduanya berkolaborasi sejai Frantic (1988). Didukung pula aktris Perancis yang selama tiga belas tahun terakhir sibuk berkarir di Hollywood, Eva Green untuk mengisi peran pendukung. Tak hanya itu, nama besar Alexandre Desplat didapuk untuk menggarap komposisi musik, sinematografer Pawel Edelman untuk keenam kalinya setelah The Pianist, Oliver Twist, The Ghost Writer, Carnage, dan Venus in Fur, serta editor Margot Meynier setelah berkolaborasi bersama di The Pianist, Oliver Twist, an Venus in Fur. Nama-nama kolaborator yang tentu menambah daya tarik penonton, terutama pengagum Roman Polanski dan sinema Eropa. Kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikannya sebagai bagian dari Europe on Screen 2018 dan tayang di bioskop komersial umum pertengahan Mei 2018.

Delphine Dayrieux adalah seorang penulis yang novel pertamanya meledak. Namun kesuksesan mendadak membuatnya pusing dan stres. Dikelilingi penggemar yang selalu meminta tanda tangan, acara demi acara yang harus dihadiri, dan tekanan tentang novel berikutnya. Apalagi setelah ia mulai menerima surat ancaman anonim yang meminta bagian dari kesuksesannya. Di tengah masalah demi masalah yang dihadapinya, muncul seorang penggemar misterius tapi ‘menggoda’, Elle. Mengaku sebagai penulis hantu dari berbagai tokoh politik dan selebriti, Elle seolah memahami semua yang dialami Delphine. Bahayanya, perlahan Elle semakin mengambil alih hidup Delphine, termasuk dalam proses kreatif novel berikutnya. Meski merasa semakin terancam, Delphine sendiri mulai tertarik dengan kisah hidup Elle untuk dijadikan ide cerita novel berikutnya. Tentu Delphine melakukannya secara diam-diam karena entah apa yang akan dilakukan Elle kepadanya jika sampai ketahuan.
Awalnya BoaTS diarahkan untuk menjadi sekedar drama thriller penulis-penggemar sebagaimana Misery. Namun pengembangan plotnya digulirkan dengan mulus, slow-burn, tapi bukan berarti kelewat lambat atau lama. Justru menurut saya tak sedikitpun pengembangan plot yang terasa sia-sia. Mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai calm-burn lewat pengembangan hubungan antara Delphine dan Elle. Perlahan penonton dibuat mulai merasakan kengerian dari tingkah Elle yang disusun bertingkat. Tak sampai meledak-ledak seperti Kathy Bates di Misery tapi penonton masih bisa merasakan kengerian (atas berbagai kemungkinan ke depannya). Apalagi dengan sudut pandang kamera orang pertama beserta dengan pergerakan kamera yang sering dimanfaatkan Edelman untuk membangun ketegangan, serta iringan musik suspense Desplat yang mengingatkan saya akan film-film thriller Stephen King era ’90-an.
Sebagaiman kebanyakan karya Assayas, BoaTS pun menyimpan konklusi yang tergolong twisted di tema sejenis, tapi sebenarnya cukup bisa ditebak jika mengikuti karya-karya populer Assayas. Twisted tapi bukan berarti come out of nowhere karena jika penonton menganalisis kembali detail-detail visual dan kejadian sebelum-sebelumnya, konsistensi plot cukup terjaga. 
Mengisi peran utama, Delphine Dayrieux tentu tampil memikat terutama di momen-momen terpenting yang membutuhkan layer-layer emosi tertentu dan juga transformasi yang natural. Namun pencuri perhatian penonton yang terbesar tentu ada pada penampilan Eva Green yang seperti biasa, berwatak tajam, kuat, sekaligus ‘menggoda’ lewat pesona keseksian tersendiri. Saya sulit membayangkan karakter Elle dimainkan aktris lain selain Green. Sementara aktor-aktris di lini berikutnya tak punya cukup porsi untuk tampak lebih ‘terlihat’ selain sekedar karakter pendukung, seperti Vincent Perez sebagai François, Dominique Pinon sebagai Raymond, dan Camille Chamoux sebagai Oriane.

Bagi penggemar suspense thriller Eropa atau karya-karya Polanski maupun Assayas, BoaTS bisa jadi sebuah obat rindu yang cukup memuaskan. Mungkin tak sampai menjadi karya paling mengesankan dari masing-masing variabel, tapi dengan pengembangan plot yang tersusun baik dengan konsistensi yang terjaga, ditambah penampilan Seigner dan Green yang ‘menggoda’ BoaTS masih mampu menjadi karya yang mengikat perhatian penonton sepanjang film dan bisa jadi memorable untuk jangka waktu yang lama.
Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates