Thursday, May 17, 2018

The Jose Flash Review
Anon

Fiksi ilmiah yang memberikan gambaran kondisi dunia di masa depan dengan berbagai teknologi canggih dan konsep tatanan sosial memang selalu menarik untuk disimak. Selain fantasi sejauh mana teknologi bisa dicapai juga kondisi sosial yang bisa jadi bahan refleksi dan/atau kontemplasi pribadi. Namun tak semua konsep fiksi ilmiah futuristik yang menarik (bahkan brilian) bisa diterjemahkan dalam bahasa visual (baca: film) dengan baik. Sudah cukup banyak contoh film fiksi ilmiah futuristik yang ‘terjerumus’ ke dalam lembah ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah Transcendence (2014), sebuah fiksi ilmiah dimana seorang ilmuwan bisa menggabungkan kecerdasan kolektif dari semua yang pernah ada dengan emosi manusia. Tema yang brilian tapi ditangani dengan skill directing Wally Pfister yang masih teramat sangat kurang, membuatnya menjadi drama sci-fi membosankan dan memusingkan karena kebingungan sendiri bagaimana menyampaikan dan mengakhiri kisahnya. Tahun ini satu lagi fiksi ilmiah futuristik menarik dipersembahkan oleh Andrew Niccol yang selama ini kita kenal lewat karya-karya fiksi ilmiah seperti Gattaca, S1m0ne, In Time, dan The Host. Beberapa memang berhasil menjadi karya fiksi ilmiah klasik tapi juga tak sedikit yang dikenal sebagai film fiksi ilmiah membosankan dan bahkan buruk. Niccol kembali bekerja sama dengan sinematografer berdarah Iran, Amir Mokri (Bad Boys II, Vantage Point, Fast & Furious, franchise Transformers sejak Dark of the Moon, dan Man of Steel) setelah Lord of War dan Good Kill. Begitu juga dengan aktris Amanda Seyfried yang kembali digandeng setelah di In Time untuk mendampingi Clive Owen. Tayang eksklusif di Netflix, film bertajuk Anon ini berkesempatan tayang terbatas di layar lebar beberapa negara, termasuk Indonesia.

Konon di dunia masa depan data dan informasi semua orang tersedia dalam bentuk visual stream yang disebut sebagai ‘Mata Pikiran’ atau ‘Mind’s Eye’. Tak ada lagi yang namanya privasi atau manusia tanpa identitas. Kesemua info ini terkumpul dalam sebuah basis data bernama ‘The Ether’ yang bisa diakses oleh pihak berwenang. Sal Frieland, seorang detektif kelas satu dibuat bingung ketika ia tak sengaja melihat seorang wanita yang identitas dan datanya tak muncul secara visual. Tak lama kemudian mencuat kasus pembunuhan misterius dimana data si pembunuh ternyata hasil kopi dari data visual si korban sesaat sebelum tewas. Ternyata kasus bermodus sama tak hanya terjadi sekali. Awalnya dikira sebagai kesalahan sistem tapi kemudian mulai dianggap serius ketika terjadi berkali-kali. Sal pun memutuskan untuk menjadikan dirinya sendiri umpan untuk memancing kemunculan si pembunuh misterius.
Di atas kertas konsep futuristik dengan kasus investigasi pembunuhan sebagai kemasan terluarnya jelas menjadi perpaduan yang terkesan mengasyikkan. Sayangnya Anon gagal untuk memenuhi potensi maksimum dari elemen-elemen menariknya. Dari bangunan konsep futuristik saja sudah mengandung ‘glitch’ yang membuatnya jauh dari kesan solid. Misalnya di awal karakter Sal tampak memanipulasi kliennya dengan menyembunyikan beberapa footage Mind’s Eye. Dengan demikian sejak awal penonton sudah ditunjukkan bahwa konsep futuristik ini jauh dari aman dan jujur. Dengan kata lain, tak bisa diandalkan. Tak heran jika sejak awal penonton sudah tak mempercayai dan bahkan meremehkan sistem ‘bobrok’ yang disodorkan kemudian. Bayangkan jika sejak awal penonton sudah dibuat percaya akan sistem keamanan yang ketat, maka penonton bisa terus penasaran dan bertanya-tanya ‘kok bisa akhirnya kebobolan juga? Bagaimana caranya?’, bukan? 
Rasa ketertarikan saya untuk mengikuti plotnya semakin memudar gara-gara cara menjelaskan konsep yang sudah mengandung celah di mana-mana yang terkesan kelewat ribet, terutama tentang bagaimana modus operandi yang digunakan oleh sang pembunuh. Bisa jadi malah modus operandi ini terlalu khayal dan tak masuk akal sehingga harus ‘dibungkus’ sedemikian rumit dan terdengar saintifik untuk mengelabui penonton. Belum lagi ditambah arahan Niccol yang terlalu lambat dan ‘lembek’ untuk sebuah film bertemakan investigasi pembunuhan. Tema yang seharusnya lebih cocok dengan kemasan thriller atau action, tapi di sini jatuhnya malah lebih ke drama. Beberapa adegan telanjang dan intim yang nyatanya tak punya signifikansi apa-apa terhadap keseluruhan plot justru terkesan pretensius dan eksploitasi semata. 
Sinematografi Amir Mokri memang terlihat futuristik dan elegan, tapi untuk tujuan memompa energi pergerakan film, masih jauh dari kata berhasil. Editing Álex Rodríguez juga tak banyak membantu selain sekedar menggerakkan laju plot selancar mungkin di balik pengembangan plot yang memang sudah tak terlalu lancar. Bagitu juga musik bernuansa elektronik Christophe Beck yang terdengar berusaha menghadirkan suspense dan tensi secara futuristik tapi nyatanya tak berpengaruh banyak dalam membangun emosi-emosi adegan yang ada.
Penampilan jajaran cast yang ada sebenarnya tampak serius dan berusaha keras memberikan  performa yang terbaik di layar. Misalnya Clive Owen sebagai detektif Sal Frieland dengan beberapa layer masa lalu yang cukup menarik tapi sayangnya tak dimanfaatkan untuk mengembangkan karakter sehingga punya relevansi dengan kasus yang ditangani. Begitu pula sosok wanita tanpa identitas misterius yang diperankan Amanda Seyfried. Ada sedikit clue tentang masa lalu dan alasan kenapa memilih untuk tak beridentitas dan tak meninggalkan jejak digital sama sekali, tapi sama sekali tak dimanfaatkan untuk menyajikan konklusi film ataupun sekedar menghadirkan adegan yang emosional (dan/atau cukup punya makna lebih). Sisanya seperti Colm Feore sebagai Detektif Charles Gattis dan Mark O’Brien sebagai Cyrus Frear, tampak cukup kharismatik tapi tak diberikan cukup porsi, baik secara screentime maupun peran karakter dalam plot, sehingga berakhir begitu saja tanpa meninggalkan kesan berarti.

Di balik tema dan konsep yang menarik, sayangnya Anon harus jatuh menjadi fiksi ilmiah investigatif yang teramat sangat lemah dari berbagai aspek. Mulai dari bangunan konsep yang jauh dari kesan solid dan tidak menguntungkan terhadap keseluruhan pengembangan plot, penulisan karakter yang potensial menarik tapi tak dikembangkan cukup, hingga energi film yang kelewat lembek untuk tema investigatif. Jika Anda masih penasaran, setidaknya untuk mencoba memahami konsep saintifik-nya yang (terkesan) rumit, tak ada salahnya menyaksikannya di layar lebar. Namun jika ternyata gagal juga, saya sudah memperingatkan sejak awal.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates