Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
102 Not Out

Amitabh Bachchan dan Rishi Kapoor sama-sama merupakan aktor legendaris di tanah Hindustan. Bagaimana tidak, sama-sama memulai karir akting sejak era ’70-an, punya daftar filmografi yang panjang, dan masih eksis hingga kini. Kini keduanya disatukan kembali dalam satu layar (sebelumnya di Ajooba tahun 1991) lewat peran yang keduanya sama-sama unik. Amitabh yang berusia asli 75 tahun memerankan pria berusia 102 tahun, sementara Rishi yang aslinya 65 tahun memerankan sang putra yang berusia 75 tahun. Film unik bertajuk 102 Not Out (102NO) ini merupakan karya debut layar lebar dari penulis puisi, Saumya Joshi, yang mana ini merupakan adaptasi dari drama panggung sukses karyanya sendiri berjudul sama, dan disutradarai oleh Umesh Shukla (OMG: Oh My God!). Sebelum jatuh ke tangan Rishi, perannya tersebut sebenarnya akan diperankan aktor Paresh Rawal tapi kemudian mengundurkan diri karena kesibukannya setelah terpilih sebagai anggota parlemen India dari partai Bharatiya Janata Party asal Lok Sabha. Namun menurut saya Rishi adalah pilihan yang jauh lebih tepat dalam membawakan peran tersebut. Apalagi status kelegendarisan Rishi yang jelas menaikkan daya tarik 102NO.

Dattatraya, pria berusia 102 tahun tapi punya jiwa bak pemuda berusia 26 tahun, berambisi untuk mengalahkan pria pemegang rekor tertua di dunia yang berasal dari Cina. Ia butuh hidup 16 tahun lagi untuk menggapainya. Namun ia berpikir tidak akan bisa punya semangat hidup begitu lama jika terus tinggal bersama putranya yang berusia 75 tahun, Babu. Berkebalikan dengan dirinya, Babu pemurung, selalu khawatir akan segala hal, menikmati rutinitas sehari-hari yang membosankan, dan merasa terlalu tua untuk menikmati hidup. Maka Dattatraya memutuskan untuk memasukkan sang putra ke panti jompo. Babu yang menolak keputusan sang ayah mau tak mau menyanggupi mengikuti semua syarat-syarat yang diajukan Dattatraya. Syarat-syarat yang kesannya ringan bagi orang lain tapi ternyata susah karena membawa Babu ke hal-hal yang membuatnya seperti saat ini. Siapa sangka Dattatraya punya maksud dan tujuan lain lewat syarat-syarat tersebut.
Menyandingkan dua karakter dengan kepribadian berkebalikan, apalagi yang sangat menikmati hidup dengan yang pesimistis, memang bukan lagi formula yang baru. Namun 102NO memasukkannya ke dalam ‘kemasan’ yang unik, yaitu dua pria lanjut usia. Apalagi dengan membuat sang ayah yang justru berniat memasukkan sang putra ke panti jompo, yang mana pada kenyataannya lebih lazim berlaku sebaliknya. Perjalanan ‘syarat-syarat’ yang dihadirkan pun ditulis dengan menarik dan relevan dengan konsep keseluruhan, pun juga berfungsi maksimal sebagai ‘driver’ dalam menyampaikan latar belakang karakter Babu, konflik yang sesungguhnya, hingga ke konklusinya kemudian. Mungkin di syarat ke-sekian beberapa penonton sudah bisa menebak arah plot, tapi untungnya masih ada penanganan visualisasi yang tetap membuatnya terjaga tetap menarik dari Shukla. Begitu juga elemen-elemen pendukungnya yang mendukung baik dari segi drama dan komedi.
Di atas semua penanganan tepat guna, akting dan chemistry yang dibangun oleh Amitabh dan Rishi lah yang menjadi highlight daya tarik terbesar sepanjang durasi film. Menggelitik ketika dibutuhkan, sekaligus menyentuh di momen-momen terpentingnya tanpa harus terkesan berlebihan. Porsi antara komedi dan drama pun terjaga dengan sangat baik. Penampilan komikal dari Jimit Trivedi sebagai Dhiru di lini pendukung juga punya keseimbangan antara drama dan komedi yang setara. 

Sebagaimana kebanyakan film bertema ‘live life to the fullest’ dan pertemuan dua kepribadian berkebalikan, 102NO terasa sebagai sebuah feel-good movie yang tak hanya menghibur tapi juga menggugah. Membuat penontonnya menjadi semakin bersemangat dan feel-good about life. Mungkin beberapa penonton dibuat berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih melainkan tangis bahagia saking feel-good-nya. Ya, sebegitu powerful-nya 102NO lewat sajian ringan yang jauh dari kesan ambisius ataupun pretensius. Dengan mudah saya memasukkannya ke dalam daftar film yang akan saya tonton berulang-ulang tiap kali saya membutuhkan untuk feel good about life, bersama-sama dengan Eat, Pray, Love, A Good Year, dan Dear Zindagi. Sangat saya rekomendasikan untuk dialami sendirian maupun bersama orang-orang terkasih.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates