Sunday, April 8, 2018

The Jose Flash Review
A Quiet Place


Selama ini kita mengenal nama John Krasinski sebagai aktor dari serial TV populer, The Office, atau berbagai film drama romantis seperti It’s Complicated dan Something Borrowed. Siapa sangka ternyata sebenarnya ia pernah duduk di bangku penyutradaraan meski untuk film-film kecil dengan peredaran terbatas, yaitu Brief Interviews with Hideous Men (2009) dan The Hollars (2016). Namun statusnya sebagai sutradara agaknya naik kelas di tahun 2018 ini lewat film mayor pertamanya, A Quiet Place (AQP), sebuah thriller hasil ide dari Bryan Woods dan Scott Beck yang sempat dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh naskah terbaik tahun 2017 versi daftar Tracking Board. Krasinski lantas menulis ulang naskah yang tadinya hanya punya satu kalimat dialog tersebut dan menggandeng sang istri di kehidupan nyata, Emily Blunt untuk mengisi peran utama bersama dengan dirinya, didukung aktris cilik tuna rungu, Millicent Simmonds yang belum lama ini kita lihat di Wonderstruck dan Noah Jupe yang sempat kita lihat penampilannya di Wonder. Ditambah Michael Bay yang ada di jajaran produser, AQP menjadi sebuah sajian original (non-franchise) yang menarik perhatian para penggemar genre horor maupun thriller.

Konon di tahun 2020 bumi diteror oleh sosok makhluk pemangsa manusia yang tak bisa melihat tapi bisa merasakan keberadaan mangsa lewat suara. Keluarga Abbott yang terdiri dari Lee, istrinya, Evelyn, putri tuna rungu, Regan, dan dua putra, Marcus dan Beau, mungkin menjadi satu-satunya penyitas yang hidup dalam serba keheningan dan tiap hari menyusuri sisa-sisa kota untuk mencari bahan-bahan kebutuhan sehari-hari sambil terus awas terhadap kemunculan sang makhluk pemangsa. Keluarga mereka berubah ketika si bungsu, Beau, termangsa gara-gara tak sengaja menyalakan mainan bersuara. Evelyn merasa bersalah dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan keluarganya. Apalagi ia merasa sang ayah lebih menyayangi Marcus ketimbang dirinya. Marcus diajari bertahan hidup di alam luar meski ketakutan, sementara Evelyn dilarang ikut padahal merasa jauh lebih perlu untuk belajar. Keadaan mendesak membuat masing-masing dari mereka harus menghadapi langsung sang makhluk pemangsa. Pilihan untuk merelakan siapa dan melawan balik harus segera diputuskan di saat-saat yang semakin genting.
AQP adalah tipikal film yang sengaja bercerita lewat kejadian demi kejadian, termasuk dalam memperkenalkan keluarga Abbott sebagai karakter-karakter sentralnya dan menjelaskan tentang latar belakang cerita. Fokusnya terjaga pada upaya survival dengan beberapa bumbu korelasi antar-karakter yang dimaksudkan untuk membuat penonton peduli dan bersimpati kepada mereka. Upaya yang tergolong berhasil berkat pengarahan adegan-adegan penting yang meski cepat dan tak terlalu tenggelam dalam melodramatik, tapi punya impact yang cukup membuat penonton merasakan kehilangan. Namun daya tarik utamanya adalah bagaimana Krasinski mampu membangun ketegangan meski tanpa hingar-bingar score music atau sound effect yang biasanya menjadi tumpuan utama film horor pada umumnya untuk memberi daya kejut terhadap penonton. Lewat eksplorasi pergerakan kamera Charlotte Bruus Christensen, akting para aktor yang kurang lebih tampil dengan kualitas setara, momentum yang serba pas dalam membangun ketegangan sekaligus menggedor adrenalin penonton, dan tata suara yang terjaga konsisten dan seimbang (tahu kapan harus menghadirkan momen keheningan yang benar-benar hening, sampai penonton pun takut untuk menghasilkan suara, dan kapan diperlukan suara-suara efek dan musik dari Marco Beltrami).
Perkembangan plot sebenarnya tak banyak terjadi (itulah mengapa durasi 95 menit saja sudah lebih dari cukup dengan mayoritas porsi untuk membangun ketegangan dalam keheningan) dan tergolong sangat sederhana. Bahkan jika dianalisis lebih detail, strukturnya hanya tersusun dari beberapa adegan pembangunan ketegangan yang berdiri sendiri-sendiri kemudian dirangkai menjadi kesatuan kerangka plot utama. Namun justru itulah yang membuat penonton tak perlu bersusah-susah mencerna. Hanya perlu mengikuti pergerakan plot, hanyut dalam atmosfer ketegangan serta ketakutannya, dan merasakan ikatan emosi dengan para karakternya. Sebuah kisah survival dan fight back yang tak perlu terlalu detail menjelaskan tapi mampu menghasilkan impact emosional yang sangat kuat bagi penonton. 

Memang ada beberapa pilihan elemen cerita yang patut dipertanyakan dan mungkin menjurus ke arah plothole (seperti ‘ngapain memutuskan untuk hamil di saat memerlukan keheningan?’, atau -spoiler alert- ‘jika bisa dibunuh dengan senjata api laras panjang, kenapa selama ini harus bersusah payah menghindari kehadiran sang makhluk pemangsa?’), tapi tak akan begitu mengganggu jika Anda merasa apa yang disuguhkan di permukaan terluar sudah lebih dari cukup. Mungkin perkembangan plotnya tak semenarik dan sebaik, sebut saja Don’t Breathe (2017) yang punya plot twist mengejutkan dengan pembangunan intensitas superior dan camerawork yang inovatif sekaligus efektif, ataupun semisterius (iya, sosok makhluknya yang bak perpaduan xenomorph dari franchise Alien dan demogorgon dari serial The Strangest Things terlihat jelas sejak adegan pembuka), sebut saja The Village (2004) maupun The Happening (2008) dari M. Night Shyamalan, tapi apa yang sudah dicapai dan disuguhkan AQP tetap layak menjadikannya salah satu film horor thriller original  terbaik di era 2000-an ini.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates