Monday, April 9, 2018

The Jose Flash Review
Jelita Sejuba:
Mencintai Kesatria Negara

Mungkin banyak dari kita yang pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi istri seorang prajurit negara. Harus sering ditinggal dinas di berbagai lokasi yang jauh dalam jangka waktu lama, belum lagi ditambah tidak ada jaminan pasti akan pulang dalam kondisi selamat atau tidak. Namun agaknya belum banyak yang benar-benar mengetahui yang sesungguhnya selain mereka yang pernah menjalani sendiri atau punya kenalan keluarga prajurit. Pemikiran inilah yang membuat produser eksekutif Krisnawati tergerak untuk mengangkatnya ke sebuah film. 

Mengambil latar Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan kepulauan paling utara di Selat Karimata dimana sering kedatangan anggota TNI yang bertugas menjaga keutuhan NKRI, film pertama produksi Drelin Amagra Pictures di bawah produser Marlian Nurdiyani ini mempercayakan Ray Nayoan (sutradara salah satu segmen di omnibus Takut: Faces of Fear dan Sinema Purnama) sebagai sutradara untuk pertama kalinya di film panjang. Penulis naskah yang ditunjuk pun tak main-main. Adalah Jujur Prananto yang reputasinya terjaga baik selama ini di perfilman Indonesia. Mulai era Gairah Malam, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta?, Doa yang Mengancam, Haji Backpacker, dan Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara. Putri Marino yang baru saja mendulang prestasi sekaligus banyak pujian di film pertamanya, Posesif, dipercaya untuk mengisi peran utama dengan dukungan Yayu Unru yang lagi-lagi berperan sebagai sang ayah, Wafda Saifan Lubis yang dikenal sebagai vokalis Volume Band, Aldy Maldini eks CJR, dan aktris senior yang populer di era ’80-an, Nena Rosier. Meski tergolong underrated, film bertajuk Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (JSMKN) ini didukung oleh nama-nama yang tak boleh dianggap remeh.
Sharifah yang hidup sederhana di Pesisir Sejuba, Kepulauan Natuna bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai nelayan dan pemilik warung ikan asap, serta seorang adik laki-laki, Farhan, tak pernah mengira bahwa ia akan jatuh hati kepada seorang anggota TNI yang ditugaskan di wilayahnya. Adalah Jaka, pria asal Batam yang lahir dan dibesarkan di Bandung, yang memberanikan diri mendekatinya dan Sharifah pun membalas perasaan tersebut. Sempat putus asa ketika menjalani serangkaian prosedur resmi dari kesatuan meski sudah meyakinkan diri, Sharifah akhirnya berhasil melaluinya. Namun perjalanan panjang nan terjal sebagai istri TNI baru dimulai. Seperti yang kerap terjadi, Jaka terpaksa meninggalkan Sharifah yang sedang hamil anak pertama karena ditugaskan di Afrika. Tentu saja dengan ketidak-pastian apakah sang suami bisa kembali dalam keadaan selamat atau tidak. Ujian sesungguhnya bagi Sharifah satu per satu harus dihadapi.
Menyadari konsep cerita maupun pengembangan plot yang sudah tergolong klise, generik, dan sudah banyak diketahui masyarakat luas, baik Jujur Prananto dan Ray Nayoan mencoba untuk ‘bermain-main’ dalam mengemasnya. Bukan berarti tak serius digarap, tapi menjadikan JSMKN seringan dan semenghibur mungkin. Alhasil berbagai variasi gaya visualisasi dimanfaatkan seperti transisi flash untuk adegan prosedur pengurusan pengajuan pernikahan, termasuk juga beberapa elemen humor diselipkan di sana-sini untuk menghilangkan kesan film yang terlalu serius sebagaimana citra film bertemakan ketentaraan selama ini. Di sisi lain kemasan seperti ini justru membuat kesan yang lebih manusiawi bagi karakter-karakter prajurit, terutama sekali TNI. Apalagi penampilan Wafda Saifan Lubis lebih dari cukup untuk meyakinkan dan natural sebagai Lettu Jaka. Tidak sampai menjadi istimewa karena faktor porsi yang juga tak banyak, tapi sebagai debut ini termasuk sangat layak.
Meski tergolong debut film panjang, Ray menunjukkan talenta yang luar biasa dalam hal sensitivitas emosi, style visual, serta sense sinematis dan timing. Di banyak momen adegan yang terkesan biasa jadi memiliki kedalaman emosi lebih yang berhasil merengkuh simpati maupun emosi penonton. Elemen-elemen pendukung adegan pun dimanfaatkan dengan sangat baik dan tepat, bukan sekedar tempelan semata. Misalnya latar panorama unggulan Natuna, Alifstone Park, kuliner khas ikan asap, hingga tata musik Ricky Surya Virgana (personel White Shoes & the Couples Company) yang terdengar sangat khas etnik tapi berfusi baik dengan suara-suara modern, serta beberapa tari-tarian yang sempat menghiasi layar. Lihat juga adegan Jaka melamar Sharifah yang harus saya akui salah satu yang paling inovatif di sinema kita, bahkan mungkin juga di sinema dunia. Tak asal manis dan romantis tapi juga melibatkan latar geografis dan profesi.
Kekuatan terbesar lain yang tak bisa luput dari perhatian adalah akting Putri Marino yang terasa paling menonjol sepanjang durasi. Selain berkat porsi karakter yang memang mendominasi, penampilan Putri memang layak mendapatkan apresiasi. Tak sekedar lewat ekspresi wajah dan pelafalan dialog berdialek Melayu Natuna yang khas, tapi juga lewat transisi perkembangan karakter antar rentang waktu yang mulus tapi sangat jelas terasa. Kedalaman lapis emosi pun ditunjukkan di salah satu adegan terpenting yang membuat saya langsung menobatkannya sebagai aktris pendatang baru Indonesia yang paling berbakat saat ini. Dibandingkan penampilannya di Posesif, jelas sekali perkembangan kualitas aktingnya yang signifikan. 
Yayu Unru dan Nena Rosier mendukung sesuai dengan porsi masing-masing. Tak terlalu istimewa karena memang tak ada momen yang benar-benar menonjolkan kapasitas mereka, tapi juga tidak bisa dianggap biasa-biasa saja karena terlihat jelas upaya untuk tampil maksimal. Yukio yang memerankan sosok Andika, putra Sharifah pun tampil luwes dan natural. Sementara Aldi Maldini yang selama ini menyandang image remaja pria baik-baik kali ini menunjukkan kecocokannya mengisi peran remaja nakal. Pelafalan bahasa dan dialek Melayunya di beberapa kesempatan memang terdengar kurang konsisten, tapi overall masih tergolong tampil baik. Terakhir, tidak boleh melupakan penampilan singkat berkesan dari aktor lokal, Harlan Kasman yang punya pembawaan yang khas.
Kualitas gambar di beberapa shot memang masih terlihat perbedaan ketajaman dan resolusi, terutama untuk stok-stok footage ketentaraan dan aerial shot. Selain dari itu tata kamera Yoyok Budi Santoso mempresentasikan ketajaman gambar serta pencahayaan yang konsisten, juga pergerakan kamera dan pilihan shot yang sinematik.

Sebagai sebuah proyek layar lebar pertama, terutama bagi PH, sutradara, dan juga sebagian besar aktornya, JSMKN tergolong di atas rata-rata. Bahkan di berbagai aspek utama punya keunggulan tersendiri. Jujur, ia menjadi sebuah kejutan hidden gem yang underrated. 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates