Monday, April 9, 2018

The Jose Flash Review
Blackmail
[Blackमेल]

Tak banyak genre komedi gelap atau black comedy hadir di sinema Hindi. Maka apa yang ditawarkan Abhinay Deo lewat Delhi Belly (2011) membawa kesegaran tersendiri. Terbukti tak hanya dihujani pujian dari para kritikus tapi juga mencetak box office yang tergolong super hit (menghasilkan ₹100 crore dari budget ‘hanya’ ₹25 crore). Setelah bermain-main dengan genre action thrillre lewat Game dan Force 2, tahun 2018 ini Deo kembali ke akarnya lewat Blackmail. Didukung aktor sekaliber Irrfan Khan (Life of Pi, Jurassic World, Slumdog Millionaire, dan The Lunchbox), Kirti Kulhari (Shaitan, Pink), Arunoday Singh (Jism 2, Mohenjo Daro), Omi Vaidya (3 Idiots), hingga Anuja Sathe (Bajirao Mastani), Blackmail lagi-lagi menjanjikan ide cerita yang sederhana tapi menarik.

Dev, pria paruh baya yang lebih memilih bermain game Pac-Man di kantor daripada buru-buru pulang ke rumah menemui istrinya setelah jam kantor berakhir. Seorang teman menyarankannya sesekali pulang lebih cepat dan membawakan kejutan, seperti rangkaian bunga. Naas, ketika akhirnya mengikuti saran temannya itu, Dev justru mendapati istrinya, Reena, tengah bermesraan dengan pria yang lebih muda. Menyingkirkan pikiran untuk menghabisi salah satu dari mereka, Dev memilih untuk mencari tahu identitas pria tersebut. Adalah Ranjit Arora alias Tommy yang menikahi Dolly Verma, putri pengusaha kaya raya, hanya demi harta. Merasa mendapatkan kesempatan emas di tengah himpitan tunggakan cicilan dan berbagai tagihan lainnya, Dev memberanikan diri memeras Ranjit akan memberitahukan perselingkuhannya kepada Dolly. Panik, Ranjit terpaksa berbohong untuk mendapatkan uang perasan dari Dolly tanpa memikirkan konsekuensinya. Keluarga Dolly mengetahui kebohongan Ranjit dan memaksanya mengembalikan uang tersebut secepatnya. Lagi-lagi panik, Ranjit kemudian diam-diam memeras Reena. Kemudian Reena berbohong demi mendapatkan uang tutup mulut tersebut kepada Dev. Begitu seterusnya terbentuk sebuah lingkaran pemerasan dan perputaran uang. Belum cukup sampai di situ, masuklah Prabhas, karyawati baru di kantor Dev yang sedang diincar oleh Anand, yang tak mau kalah masuk dalam pusaran pemerasan tersebut sebelum semuanya menyadari ada ancaman maut di dalamnya.
Dari premise di atas tentu sudah bisa dibayangkan betapa menggelitiknya Blackmail. Ide cerita yang segar dan membuka begitu banyak kemungkinan arah menjadikannya sangat menarik dan terus-terusan bikin penasaran untuk diikuti hingga akhir film. Menggelitik, tak terduga, tapi juga cerdas. Arahan dari Deo pun membawa plot melaju dengan pace yang lancar. Tak terkesan terlalu terburu-buru tapi juga jauh dari kesan kelewat lambat. Daya tariknya bertambah oleh elemen-elemen visual yang mendukung plot utama, seperti properti yang secara relevan dan witty menyimbolkan sesuatu, misalnya tong sampah berbentuk pinguin bertuliskan ‘use me’ atau signage-signage yang seolah menggambarkan arah atau perasaan karakter. Ada pula sinkronisasi antara pergerakan karakter, pergerakan kamera Jay Oza, dan iringan-iringan musik Amit Trivedi yang semakin mempertajam cinematic signatural style dari Deo. Genre dan warna musik yang digunakan pun beragam. Mulai jazz dan blues khas black comedy, hingga tradisional Hindi yang berpadu dengan sangat baik dengan adegan-adegan yang diiringi.
Di balik penulisan alur plot yang tertata rapi dan baik (meski ada repetisi tapi jelas sengaja dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang menggelitik), penulisan karakter pun sebenarnya tergolong konsisten kendati tak ditunjukkan secara blak-blakan. Ini terlihat jelas pada karakter Dev dengan berbagai pilihan sikap dan visualisasi khayalan-khayalannya. Apalagi dengan penampilan Irrfan Khan yang tahu betul bagaimana menampilkan berbagai layer karakter Dev dengan jelas tanpa harus selalu lewat dialog. 
Penampilan para pemeran pendukung pun termasuk berhasil memberikan kesan yang ditujukan. Misalnya Kirti Kulhari dalam membawakan peran Reena yang lugu dan mudah panik, atau Arunoday Singh yang mampu menyeimbangkan sisi keseriusan dan menggelitik dalam karakter Ranjit. Begitu pula Omi Vaidya sebagai DK, Divya Dutta sebagai Dolly Verma, Pradhuman Singh sebagai Anand, dan Gajraj Rao sebagai Detektif Chawla, yang masing-masing menyumbangkan momen menggelitik tersendiri.
Sayangnya secara keseluruhan karakter Dev yang sebenarnya bisa dikatakan tamak dan sama sekali tidak diperlihatkan sisi positif, dibuat berhasil lolos begitu saja, tanpa konsekuensi yang relevan dan logis. Morally, it’s definitely wrong. Namun jika Anda memilih untuk mengabaikan sisi ini, Blackmail adalah sajian black comedy yang begitu segar di ranah perfilman Hindi selama beberapa tahun terakhir. Bahkan mungkin juga di ranah black comedy secara internasional. Sayang jika harus dilewatkan begitu saja.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates