Sunday, April 29, 2018

Do(s)a, Original Webseries Indonesia-Malaysia-Singapura
Roy Marten Kepalai Geng Penyelundupan
Indonesia-Malaysia

Geliat film Indonesia sejatinya merupakan salah satu yang terdepan di Asia Tenggara. Maka tak heran jika beberapa negara tetangga melirik insan perfilman Indonesia untuk berkolaborasi. Setelah kolaboraSEA yang digalang oleh aplikasi streaming Tribe lewat Gantung yang dibintangi Randy Pangalila, Brandon Salim, Mentari de Marelle, dan Gita Sucia, satu lagi produksi bersama negara tetangga, Malaysia dan Singapura, menggandeng sineas, bintang, dan kru Indonesia. Kali ini giliran sutradara Ifa Isfansyah kembali bekerja sama dengan penulis naskah Salman Aristo setelah Sang Penari (2011) untuk miniseri orisinil bertajuk DO(S)A. Di jajaran cast ada nama-nama besar dari ketiga negara, mulai Ashraf Sinclair, Remy Ishak, Datuk M. Nasir (Malaysia), Roy Marten, Reuben Elishama, Hannah Al Rashid, Maudy Koesnaedi, Danielle Sya, Hisyam Hamid, hingga Shenty Feliziana (Singapura). Dengan penanganan aksi dari Cecep Arif Rahman (The Raid 2: Berandal), mini seri sepanjang delapan episode ini begitu menggugah untuk disimak.
Ani, istri Jafar, salah satu anggota geng bawah tanah Jakarta, mengutus Aryan ke Malaysia untuk mencari seseorang bernama Latif atas petunjuk dari mendiang sang ayah yang dihabisi oleh geng penyelundup Indonesia-Malaysia bernama Gerbang Utara di bawah pimpinan Marco. Alih-alih bertemu langsung dengan Latif, Arian dihadang oleh ketiga putra kembarnya; Fuad, Farid, dan Fahad. Hanya Fara, sang putri bungsu yang mau membantu karena rasa penasaran dengan masa lalu sang ayah dan karena ingin terbebas dari kekangan keluarganya selama ini. Namun belum sampai niatan tersebut tercapai, Fara malah diculik oleh anak buah Marco. Kedatangan Fuad, Farid, dan Fahad ke Jakarta untuk mencari sang adik justru memperkeruh keadaan. Mau tak mau Latif yang selama ini diketahui publik telah tewas akhirnya turun tangan datang ke Jakarta. Marco dan anak buahnya pun siap menyambut. Sementara itu Michelle, interpol Malaysia yang diutus ke Jakarta untuk menyelidiki tentang geng Gerbang Utara, berusaha meyakinkan mantan interpol yang kini dipindah ke reserse kriminal, Amar, untuk membantunya membongkar bisnis gelap Gerbang Utara. Amar yang kini diprioritaskan fokus pada pengamanan pilkada tergoda untuk menyelesaikan kasus yang sudah menjadi obsesinya sejak menjadi anggota interpol.
Tak banyak film Indonesia yang berani mengangkat tema dunia kriminal underground apalagi melibatkan multi negara. Maka apa yang digagas oleh Astro bersama penulis naskah Salman Aristo dan sutradara Ifa Insfansyah ini sangat menarik untuk disimak. Seperti yang sudah menjadi rahasia umum, bisnis barang selundupan antara Indonesia dan Malaysia adalah salah satu yang terbesar. Penggambaran kekejaman dan saling sikut yang ditampilkan di sini pun cukup realistis tanpa harus terkesan kelewat eksploitatif. Memang kepingan-kepingan puzzle yang disebar dan melibatkan cukup banyak karakter di awal-awal sempat agak membingungkan untuk terkoneksi satu sama lain. Namun seiring dengan perkembangan plot yang dijahit oleh editor Andhy Pulung, kepingan-kepingan tersebut mulai terlihat bentuk jadinya. Konsep besar yang ingin diusung Salman pun terlihat semakin menarik, apalagi terkait judulnya, yakni perbedaan tipis antara doa’ dan dosa’ yang menjadi dua sisi berbeda dari manusia.
Penampilan para aktor bisa dikatakan merata dan sesuai porsi serta kebutuhan peran masing-masing. Seperti Reuben Elishama sebagai Arya yang berada di lini utama, bersama Ashraf Sinclair sebagai Fuad yang juga mampu tampil seimbang di layar. Roy Marten yang memang cocok dengan peran-peran bos kriminal kembali menampilkan sosok Marco yang bengis dan licik dengan sangat meyakinkan. Namun dari semuanya, aktris Singapura yang berakhir menikah dengan Reuben Elishama, Shenty Feliziana, lah yang menjadi scene stealer, baik karena faktor keberhasilannya menghidupkan karakter yang memang ditulis dengan menarik, tapi juga aksi bela dirinya yang impresif. Terakhir, tak boleh mengabaikan dukungan yang tak kalah menarik dari Datuk M. Nasir, Hannah Al Rashid, Daniella Sya, Hisyam Hamid, Remy Ishak, Maudy Koesnaedi, dan Tegar Satrya yang mengingatkan saya akan sosok Ario Bayu.
Meski tak sampai pada level eksepsional, tapi tata aksi dari Cecep Arif Rahman lebih dari cukup untuk menjadikannya tontonan yang seru untuk diikuti. Ditambah penanganan kamera Yadi Sugandi yang juga cukup baik menangkap adegan-adegan laganya dan editing Andhy Pulung yang mampu menaikkan intensitas. Theme song Aku Bukan Dewa dari Hazama dan Altimet yang cukup mewakili cerita dijamin akan terus terngiang-ngiang selama mengikuti keseluruhan episode. Berikut juga Aku Juga Manusia dari Amir Jahari dan Selagi Ada Waktu dari Monoloque yang terasa begitu kontemplatif di beberapa adegan.
Dengan berbagai keunikannya DO(S)A adalah suguhan yang menarik untuk diikuti. Apalagi tak perlu sulit untuk mengaksesnya. Kedelapan episodenya bisa disaksikan langsung dari gawai Anda secara gratis lewat aplikasi streaming Tribe yang bisa diunduh secara gratis di sini bagi pengguna Telkomsel dengan paket VideoMAX. Untuk info lebih lanjut tentang miniseri ini, follow saja akun @Tribe_ID di Facebook, Twitter, dan Instagram.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates