Wednesday, March 14, 2018

The Jose Flash Review
Winchester

Nama Winchester Mystery House yang berdiri di San Jose, California sudah menjadi salah satu rumah hantu paling populer di Amerika Serikat. Dimiliki oleh Sarah Winchester, janda bos pabrik senjata William Wirt Winchester, rumah tersebut konon sudah dihantui oleh arwah-arwah korban tewas dari senjata produksi Winchester sejak pertama kali dibangun pada era 1880-an. Keunikannya terletak pada bentuk yang bak labirin dengan berbagai ruangan rahasia. Pembangunannya pun terus dikerjakan siang-malam selama 38 tahun dan baru berhenti tepat pada hari kematian Sarah Winchester tahun 1922. Hingga kini dibuka untuk umum sebagai atraksi rumah berhantu, rumah Winchester telah menjadi inspirasi banyak budaya pop seperti komik Swamp Thing karya Alan Moore, serial TV Superboy, hingga video game The Evil Within. Namun selama ini belum ada satu pun film yang secara resmi mengambil kisah asli Sarah Winchester hingga hak yang dipegang oleh Hammer Films lewat divisi Exclusive Media memutuskan untuk memproduksinya bersama Imagination Design Works. Peter dan Michael Spierig atau yang lebih dikenal sebagai The Spierig Brothers (Daybreakers, Predestination, Jigsaw) ditunjuk untuk menyusun naskahnya bersama Tom Vaughan sekaligus menyutradarai. Jajaran cast-nya tak main-main. Mulai aktris veteran pemenang Oscar, Helen Mirren (The Queen, RED), Jason Clarke (The Great Gatsby, Terminator Genisys, Dawn of the Planet of the Apes), dan Sarah Snook (Predestination, The Dressmaker). Dari sumber materi dan nama-nama tersebut, Winchester sebenarnya menjanjikan sebuah sajian horor berkualitas.

Eric Price, seorang dokter yang mengandalkan narkoba untuk menyembuhkan depresinya paska kematian sang istri, diundang oleh Winchester Company ke rumah Sarah Winchester. Tujuannya untuk memberikan evaluasi terhadap kondisi kesehatan Sarah yang nantinya menentukan kelayakannya memimpin perusahaan atau tidak. Meski Sarah menyambutnya dengan sangat terbuka, Eric terus-menerus diganggu oleh penampakan mengerikan. Awalnya ia mengira ini adalah efek dari narkoba yang selama ini ia konsumsi. Hingga Sarah menceritakan dugaan-dugaannya tentang para roh yang menghantui rumahnya, Eric perlahan mulai percaya. Serangan para roh terhadap Sarah, sang keponakan, Marion bersama putranya, Henry, membuat Eric mau tak mau menolong mereka.
Kendati setup cerita dan plot yang diusung Winchester sebagai sebuah sajian horor sejatinya tergolong generik tapi tetap saja punya daya tarik tersendiri. Setidaknya saya masih dibuat penasaran akan seperti apa visualisasinya. Benar saja, ia memang punya konsep yang amat menarik di balik segala misteri yang menyelimuti Sarah Winchester yang asli dan rumahnya. Bisa jadi hanya berupa fantasi dan reka-reka fiktif tapi harus saya akui, menarik dan relevan dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Hanya saja hampir kesemuanya disampaikan secara verbal, terutama lewat karakter Sarah dalam dialognya kepada Eric Price. Alhasil, alih-alih menyuguhkan banyak adegan horor yang menegangkan atau mencekam, ia justru terlalu banyak menghabiskan durasinya untuk menyampaikan konsep tersebut lewat dialog. Porsi ‘horor’-nya mungkin hanya sekitar 30% dari durasi keseluruhan. Cukup mampu membangun nuansa mencekam dan beberapa jumpscare standar yang juga tergolong berhasil, tapi peletakannya di dalam struktur film seringkali kurang menguntungkan. Ada yang klimaks yang terhambat oleh konsep interwoven adegan, ada pula yang terletak ketika penonton sudah terlanjur kelelahan bersabar melewati rangkaian adegan dialog dan penggalian karakter Eric Price yang sejatinya tidak begitu urgent untuk disampaikan. Singkatnya, Winchester berusaha untuk membangun backstory dan perkembangan karakter yang menarik dan cukup mendalam tapi pada eksekusinya justru menjadi bumerang sebagai sebuah sajian horor.
Seperti biasa, tak perlu meragukan kharisma dan kemampuan Helen Mirren dalam menghidupkan peran. Karakter Sarah Winchester nyatanya bukan merupakan sosok horor sebagaimana materi-materi promonya. Ada penulisan karakter yang cukup jelas dan berkat penampilan Mirren menjadikannya semakin mengundang simpati penonton. Begitu juga karakter Eric Price yang terasa begitu cocok dibawakan oleh Jason Clarke. Sarah Snook mungkin tak punya porsi yang cukup untuk berkesan di mata penonton lewat karakter Marian. Namun penampilannya tak bisa diabaikan begitu saja. Begitu juga Finn Scicluna-O’Prey sebagai Henry yang mungkin tak se-signatural Haley Joel Osment di The Sixth Sense ataupun Harvey Stephens di The Omen, tapi jelas cukup berhasil membawakan sosok horor sekaligus tetap mengundang simpati penonton. 
Desain produksi Matthew Putland dan timnya yang sampai harus membangun ulang interior rumah Winchester (karena ruang-ruang sempit dan membingungkan dari rumah aslinya tak memungkinkan sebagai lokasi syuting) memang harus diapresiasi lebih. Jelas desain produksi membangun berdasarkan konsep adegan-adegan yang akan diambil. Berbagai ‘jebakan’ berhasil ‘menipu’ penonton dan berfungsi sebagai subjek horor. Sinematografi Ben Nott cukup baik pula memanfaatkan set untuk kepentingan bercerita lewat adegan maupun membangun atmosfer ketegangan. Editing Matt Villa tak semata-mata menjadi faktor utama mengapa porsi bercerita dan horor dari film terasa kurang seimbang. Terlihat upayanya untuk menyeimbangkan, termasuk lewat dua adegan yang saling interwoven meski sayangnya belum cukup berhasil. Justru memperlemah atmosfer kengerian dan ketegangan yang sejatinya sudah terbangun cukup baik. Musik dari Peter Spierig sendiri yang bereferensi pada horor-horor klasik, terutama ’80-an sebenarnya cukup mampu memperkuat atmosfer eerie dan horor yang ada, meski tak ada yang terdengar signatural.
Dibangun dari plot dan konsep yang menarik, sayang porsinya tak seimbang dengan adegan-adegan horor yang seharusnya menjadi fitrah utama. Alhasil upaya-upaya baik yang disuntikkan ke dalamnya menjadi terkesan biasa saja dan cenderung mudah dilupakan. Tak sampai menjadi sajian yang buruk, tapi masih sangat berpotensi menjadi sebuah sajian horor yang berkualitas sekaligus mampu memompa adrenaline penonton lebih kencang dan dalam ritme yang lebih teratur. Sayang sekali. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates