Thursday, March 8, 2018

The Jose Flash Review
Early Man

Animasi dengan teknik stop-motion memang punya pesonanya tersendiri. Dibuat dari ‘boneka-boneka’ asli yang digerakkan secara manual per frame membuatnya tampak nyata sekaligus indah. Prosesnya yang relatif lebih rumit dan memakan waktu lebih lama dari animasi 3D komputer membuatnya terkesan jarang dibuat. Mungkin hanya Aardman Animations dari Inggris yang secara konsisten melahirkan karya animasi stop-motion. Bahkan beberapa di antaranya mampu mewakili pop culture pada eranya, seperti Wallace & Gromit dan Shaun the Sheep. Setelah terakhir tahun 2015 silam sukses dengan Shaun the Sheep Movie, baik secara komersial maupun resepsi kritikus, tahun 2018 ini mereka kembali mencoba peruntungan lewat materi baru yang mengangkat tema kehidupan prasejarah dan ‘mengawinkannya’ dengan olah raga sepak bola. Film bertajuk Early Man (EM) kembali dipercayakan kepada Nick Park (Chicken Run dan film-film Wallace & Gromit) dengan menggandeng nama-nama populer seperti Eddie Redmayne, Tom Hiddleston, Maisie Williams, Timothy Spall, dan Richard Ayoade. 

Konon saat Jaman Batu tinggallah sebuah suku yang dikepalai oleh Bobnar dan punya kebiasaan berburu kelinci sebagai bahan makanan utama. Seorang pemuda bernama Dug berusaha meyakinkan seisi suku bahwa mereka sebenarnya bisa berburu mammoth sebagai binatang  buruan yang lebih besar dan bisa menjadi bahan pangan lebih lama. Namun upaya tersebut selalu diabaikan dan dianggap bualan saja. Hingga suatu ketika mereka kedatangan suku dari Jaman Perunggu yang berniat menggusur tanah mereka dan menjadikannya tanah tandus. Sang kepala yang tamak, Lord Nooth bahkan memplokamirkan bahwa Jaman Batu telah berakhir. Dug diam-diam menguntit pasukan Lord Nooth hingga ke pusat kota Jaman Perunggu. Melihat kebiasaan suku Jaman Perunggu yang gemar memainkan permainan bola sepak di stadion bak arena gladiator, Dug nekad menantang suku Jaman Perunggu untuk bertanding bola sepak. Jika kalah, suku Jaman Batu akan bekerja secara sukarela sebagai buruh tambang seumur hidup. Sebaliknya jika menang, suku Jaman Batu akan mendapatkan tanahnya kembali. Sekali lagi Dug harus meyakinkan sukunya bahwa nenek moyang mereka lah yang menemukan permainan bola sepak sehingga bakat tersebut sudah ada dalam diri mereka. Namun tentu bukan pilihan yang mudah dengan resiko pertaruhan yang demikian.
Menggabungkan tema kehidupan prasejarah dengan sejarah sepak bola terdengar seperti ide  konsep fantasi yang sangat menarik. Apalagi ternyata naskah racikan Mark Burton dan James Higginson mampu menjalankannya dengan laju plot yang lancar (tentu berkat editing Sim Evan-Jones yang cekatan menggerakkan plot sekaligus mempertajam energi film secara keseluruhan) dan humor-humor segar menggelitik. Mulai yang sekedar bersifat slapstick, plesetan bahasa Inggris, hingga plesetan nama-nama populer modern yang diimplementasikan secara cerdas di sana-sini. Dengan durasi 89 menit, skala cerita yang ditawarkan EM mungkin terasa terlalu sederhana untuk konsumsi layar lebar. Bahkan masih kalah besar dibandingkan Wallace & Gromit atau Shaun the Sheep Movie. Namun dari skala produksi, terutama lewat detail set yang luar biasa (lihat saja detail arena ‘gladiator’ tempat bermain sepak bola!) ditambah tata kamera Dave Alex Riddett yang tahu betul bagaimana mengeksplorasi segala kelebihan visual membuatnya sayang untuk dialami selain di layar lebar dengan fasilitas mumpuni. Pun juga pergerakan yang jauh lebih natural dan mulus dibandingkan animasi stop-motion yang ada sebelumnya, berkat penggabungan teknologi komputer dengan stop-motion tradisional.
Para voice talent yang dihadirkan juga berhasil menghidupkan tiap karakter dengan daya tarik masing-masing. Mulai Eddie Redmayne sebagai Dug yang lugu tapi kharismatik, Tom Hiddleston sebagai Lord Nooth dengan aksen Jerman-nya, Maisie Williams sebagai Goona yang energik, hingga Timothy Spall sebagai Chief Bobnar yang effortlessly menggelitik.
Tak boleh dilupakan juga faktor iringan musik dari Harry Gregson-Williams dan Tom Howe yang menambah energi ceria ke dalam mood film. Termasuk juga beberapa track asyik seperti Hope dari The Vamps, I Predict a Riot dari Kaiser Chiefs, dan dari band Inggris pendatang baru yang  tak kalah asyik sekaligus menjanjikan, New Hope Club; Good Day serta Tiger Feet.
Bagi penggemar yang merindukan animasi stop-motion, EM tentu sajian yang pantang dilewatkan untuk dialami di layar lebar. Sementara bagi penonton umum, EM menawarkan hiburan ringan yang secara konsisten menggelitik lewat berbagai jenis humor cerdasnya, sedikit pengetahuan tentang jaman batu dan jaman perunggu (meski lewat banyak sekali sisipan imajinasi fiktifnya), serta mood yang asyik. Just enjoy the show, simply to cheer your day up!
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates