Sunday, March 4, 2018

The Jose Flash Review
Death Wish [2018]

Tema vigilante di era sekarang memang sudah bukan menjadi sesuatu yang baru di perfilman dunia. Sudah puluhan bahkan ratusan kisah dan tokoh vigilante coba dihadirkan. Mulai dari kaum ‘kecil’ seperti seorang supir taxi di Taxi Driver, ayah yang berniat membalaskan dendam keluarganya di Taken atau John Wick, hingga superhero wannabe seperti Kick-Ass. Jauh sebelum kaum vigilante yang ada, sosok Charles Bronson sebagai arsitek bernama Paul Kersey yang menjadi salah satu ikon vigilante paling populer dan dihormati hingga saat ini sejak pertama kali film bertajuk Death Wish dirilis tahun 1974. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Brian Garfield ini kemudian berkembang menjadi franchise dengan lima seri dan kini mendapatkan kesempatan untuk di-remake di bawah arahan Eli Roth yang kita kenal lewat film-film kental dengan kekerasan, kesadisan, dan darah seperti Cabin Fever, Hostel, The Green Inferno, dan terakhir, Knock Knock. Aktor laga veteran, Bruce Willis, dipercaya menggantikan sosok legendaris Charles Bronson. Didukung Vincent D’Onofrio, Elisabeth Shue, Dean Norris, dan debut menjanjikan dari Camila Morrone. Tentu dengan adanya nama Roth dan Willis, Death Wish (DW) versi 2018 menjadi remake yang menjanjikan. 

Meski banyak waktunya tersita untuk pekerjaan sebagai dokter bedah di rumah sakit Chicago, Paul Kersey sebisa mungkin menyisakan waktu untuk keluarganya. Sang istri, Lucy, dan seorang putri yang akan masuk kuliah, Jordan. Kehidupan yang terkesan bahagia dan tentram berubah menjadi mimpi buruk ketika sekelompok perampok menginvasi rumah mereka. Lucy tak sengaja terbunuh sementara Jordan koma. Mengetahui kinerja polisi sulit untuk menemukan siapa pelakunya, Paul mulai tertarik untuk memiliki dan belajar menggunakan senjata api. Berlatih dengan menjadi penegak hukum jalanan berjuluk Grim Reaper, popularitasnya di Chicago kian berkembang seturut dengan kontroversi yang mendukungnya sebagai jagoan yang dibutuhkan untuk menumpas kejahatan di saat polisi tak mampu, tapi tak sedikit pula yang menganggapnya main hakim sendiri dan membahayakan. Tentu saja puncaknya adalah berhadapan langsung satu per satu dengan para pelaku perampok sekaligus pembunuh istrinya.
Secara garis besar plot yang ditawarkan, DW versi 2018 memang tergolong standar untuk tema vigilante di era ini. Semua formula yang digunakan, mulai setup latar belakang karakter utama, titik balik karakter, hingga penyelesaiannya. Bahkan ia tak berusaha memasukkan dilema tentang pro-kontra terhadap sosok vigilante seperti yang kerap dilakukan di film bertema serupa beberapa tahun terakhir. Namun semua disusun dengan runtutan plot yang tertata baik, rasional, dan porsi yang seimbang. Sedikit yang terasa agak mengganjal adalah relevansi dengan kondisi Amerika Serikat saat ini tentang isu kepemilikan senjata api yang seolah diabaikan begitu saja sensitivitasnya. Selain dari itu, tak ada masalah. Justru pengubahan dari versi aslinya, terutama profesi Kersey dari arsitek menjadi dokter bedah merupakan langkah baik yang membuat plotnya lebih berwarna dan menarik. Ada pemanfaatan pilihan profesi ini dalam salah satu adegan yang menjadi salah satu paling berkesan bagi saya. Itu artinya pilihan profesi tersebut tidak asal, ada tujuannya.
Lantas daya tarik utama dari DW versi 2018 adalah bagaimana jadinya di tangan Eli Roth. Bagi yang mengenal atau bahkan penggemar berat karya-karyanya seperti saya, tentu tahu betul apa yang bisa diharapkan untuk didapatkan. Adegan-adegan sadis, brutal, berdarah-darah yang inovatif, bikin meringis sekaligus bersorak-sorai, sense of humor yang witty, pilihan iringan musik yang menghentak spirit film (Back in Black dari AC/DC sebagai main theme!), serta terlibatnya wanita-wanita berambut pirang cantik menggoda bak waitress Hooters seperti Camila Morrone dan Kirby Bliss Blanton (Project X, The Green Inferno). Semunya menjadi paket memikat khas Eli Roth yang lebih dari cukup untuk membuat saya menyaksikannya, bahkan untuk kesekian kalinya.
Bruce Willis memang mustahil menandingi sosok ikonik Charles Bronson. Malahan mungkin tak berbeda dari sosok jagoan cool yang selama ini kerap dibawakannya, tapi setidaknya ia memang cocok untuk memerankan sosok demikian. Bahkan di beberapa momen menampilkan emosi yang cukup mengundang simpati penonton. Sementara sisanya tak diberi porsi lebih untuk tampil menonjol ataupun mencuri perhatian. Mulai Vincent D’Onofrio sebagai Frank Kersey, Dean Norris dan Kimberly Elise sebagai pasangan detektif Kevin Raines dan Leonore Jackson, Elisabeth Shue sebagai Lucy, hingga Beau Knapp sebagai Knox. Kesemuanya hanya sekedar mengisi peran sesuai kapasitas dan porsi masing-masing.
Dukungan teknis seperti biasa mampu menerjemahkan visi khas Roth dengan sangat baik. Mulai sinematografi Rogier Stoffers, editing Mark Goldblatt yang dinamis di adegan-adegan aksi tapi tetap terasa laid-back di banyak kesempatan sehingga film terkesan enjoyable untuk diikuti, hingga ilustrasi musik Ludwig Göransson yang menghadirkan suara-suara haunting klasik penggedor adrenalin yang sangat pas untuk membangun mood genre action thriller.
DW versi 2018 memang bukan untuk menyaingi atau menggantikan kelegendarisan DW versi asli, apalagi sosok Charles Bronson. Mungkin benar sekedar remake untuk meraup keuntungan semata, tapi di tangan Eli Roth dengan segala kekhasannya, ia tetap layak untuk dialami di layar lebar dengan fasilitas audio-visual mumpuni. Sama seperti film-film Roth sebelumnya, saya tak keberatan sama sekali untuk mengalami ulang beberapa kali. It’s that fun.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates