Wednesday, February 21, 2018

The Jose Flash Review
Peter Rabbit

Meski usianya termasuk yang paling uzur (pertama kali muncul taun 1902), Peter Rabbit rupanya tidak seberuntung karakter-karakter dari buku cerita anak-anak klasik lainnya seperti Smurfs dan Paddington. Sempat dipinang oleh Disney pada 1936 tapi ditolak oleh sang kreator sendiri, Beatrix Potter. Bahkan setelah biopik Beatrix sendiri dibuat, Miss Potter (2006) dengan bintang Renée Zellweger dan Ewan McGregor, barulah sang kelinci dengan pakaian manusia ini mendapatkan kesempatan menyambangi layar lebar di tangan Sony Pictures Animation. Adalah Will Gluck (Easy A, Friends with Benefits, dan remake Annie) yang dipilih untuk menggarapnya sebagai sutradara sekaligus penyusun naskah adaptasi bersama Rob Lieber (Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day). Didukung oleh Rose Byrne (Renai Lambert di franchise Insidious dan Moira MacTaggert di franchise X-Men), Domhnall Gleeson (Bill Weasley di franchise Harry Potter, Ex-Machina, dan General Hux di franchise Star Wars), voice talent mulai host kondang, James Corden, Sia, Margot Robbie, Elizabeth Debicki, hingga Daisy Ridley, versi layar lebar Peter Rabbit (PR) sempat dikritik habis-habisan ketika baru merilis trailer tapi justru mendapatkan sambutan baik ketika filmnya benar-benar dirilis. Maka pengembangan franchise ini bak Paddington dan Smurfs masih punya harapan yang cukup cerah.

Sejak ‘kampung halaman’-nya digunakan sebagai lahan pemukiman manusia, Peter Rabbit bersama adik kembar tiganya; Flopsy, Mopsy, Cottontail, dan sepupu mereka, Benjamin, nekad untuk menjarah sayur-sayuran dari perkebunan milik Pak McGregor yang tak pernah kehabisan akal untuk memerangi keberadaan mereka. Pembela Peter Rabbit dan keluarganya adalah Bea, tetangga Pak McGregor yang gemar melukis para kelinci dan alam sekitarnya. Bea bak seorang ibu yang telah lama meninggalkan mereka. Ketika sebuah ‘kecelakaan’ menewaskan Pak McGregor, Peter, adik-adiknya, dan para binatang liar sekitar bersorak-sorai karena bisa bebas menikmati hasil perkebunan peninggalan Pak McGregor. Bahkan mereka bisa berpesta di rumah yang sudah tak berpenghuni lagi itu.
Keriaan mereka tak berlangsung lama. Thomas, keponakan Pak McGregor datang untuk meninjau rumah yang diwariskan kepadanya tersebut. Peter, adik-adik, dan teman-teman binatangnya lagi-lagi harus ‘berperang’. Apalagi diam-diam Bea dan Thomas ternyata saling jatuh cinta. Tak hanya mengancam sumber pangan mereka sehari-hari, Thomas juga dianggap mengancam kasih sayang Bea terhadap para kelinci. 
PR sejatinya tak berbeda jauh dari adaptasi campuran antara animasi CGI dan live animation seperti Smurfs dan Paddington. Daya tariknya tentu saja tetap berada pada karakter-karakter yang sudah lama menjadi bagian dari budaya pop dunia. Kabar baiknya, PR termasuk dalam adaptasi yang berhasil membawa karakter-karakter klasik dengan nafas modern tanpa kehilangan esensi aslinya. Lebih baik lagi ia tetap bisa menyampaikan moral value tanpa harus terasa berusaha terlalu keras. Di permukaan terluarnya, ia tetaplah sebuah kisah perebutan antara kaum kelinci dan manusia yang seru dan kocak. Ini berkat kepiawaian Gluck dalam menyajikan adegan-adegan ‘kucing-kucingan’ yang seru dan mendebarkan tanpa harus menakutkan (tentu saja didukung tangan dingin sinematografi Peter Menzies Jr. dan editing Christian Gazal serta Jonathan Tappin), serta selera humor dari naskah racikan Gluck-Lieber yang beragam tapi kesemuanya tergolong berhasil mengocok perut, mulai yang cerdas, sarkas, bereferensi pada pop culture, hingga slapstick yang ternyata masih bisa berhasil di era ini jika ditangani dengan tepat. Tak ketinggalan pula iringan playlist soundtrack  populer yang punya spirit sejalan sehingga menaikkan taste sepanjang film. Mulai Feel It Still dari Portugal. The Man, Steal My Sunshine dari Len, We No Speak Americano dari Yolanda Be Cool & DCUP, The Kids Don’t Stand A Chance dari Vampire Weekend, Love Love Love dari Avalanche City, Fight Song dari Rachel Platten, Rather Be versi cover dari Marc Scibilia, hingga original song, I Promise You yang dibawakan James Corden sendiri, dan Small As Your Dreams.
Meski meletakkan kisah petualangan dan ‘kucing-kucingan’ yang seru dan gokil, tentu saja PR tak melupakan fitrahnya sebagai film keluarga dengan target utama anak-anak yang punya ‘hati’. Mungkin masih lebih sederhana dan tak sebesar Paddington, tapi lebih dari cukup untuk membuatnya terasa hangat. Setidaknya bagi penonton dewasa sekalipun, ia menjadi pengingat untuk memahami permasalahan yang sebenarnya dihadapi, terutama yang disebabkan oleh diri sendiri. Sebuah refleksi yang begitu dewasa tapi disampaikan dengan begitu sederhana sehingga masih mampu dipahami oleh penonton cilik. Iringan ilustrasi musik dari Dominic Lewis semakin memperkuat momen-momen dramatis meski belum terdengar punya signatural tersendiri.
Pemilihan voice talent secara keseluruhan terasa tepat mengisi karakter masing-masing. Mulai James Corden sebagai Peter, Margot Robbie sebagai Flopsy, Elizabeth Debicki sebagai Mopsy, Daisy Ridley sebagai Cotton-Tail, Colin Moody sebagai Benjamin Bunny, serta Ewen Leslie sebagai Pigling Bland. Sementara untuk aktor live-action, Domhnall Gleeson tampak paling menonjol lewat peran Thomas McGregor yang eksentrik. Menyebalkan, menggelikan, tapi juga bisa mengundang simpati. Penampilan Rose Byrne sebagai Bea pun berhasil menghangatkan sekaligus memeriahkan suasana berkat keluguannya. Terakhir, tentu saja tak boleh melupakan penampilan singkat dari Sam Neill yang nyaris tak saya kenali sebagai Pak McGregor.

Menambah daftar panjang adaptasi dari buku cerita anak-anak ke layar lebar, upaya Sony Pictures Animation, Will Gluck, beserta tim kali ini berhasil memuaskan. Peter Rabbit dan karakter-karakter ikonik lainnya bak berhasil beradaptasi dengan dunia modern dengan sangat lancar tanpa meninggalkan keluguan dan kekocakan khas aslinya. Seseru dan sehangat Paddington tapi dengan selera humor segokil Alvin and the Chipmunk. Memang hasilnya belum sampai seklasik Paddington, tapi jelas merupakan karya terbaik Sony Pictures Animation hingga saat ini. Saya sangat antusias menantikan pengembangan franchise dari versi layar lebar ini. Semoga saja berlanjut. Ajak adik, anak, atau keponakan dari berbagai range usia untuk seru-seruan sambil belajar berintrospeksi diri bersama PR dan saudara-saudaranya!
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates