Friday, February 2, 2018

The Jose Flash Review
Downsizing

Tema mengkerdilkan tubuh manusia selama ini lebih sering diangkat sebagai fantasi semata, seperti misalnya di The Incredible Shrinking Woman, Honey, I Shrunk the Kids atau serial kartun Doraemon. Atau film-film bertemakan manusia-manusia kerdil seperti The Borrowers dan Gulliver’s Travels. Mungkin pemikiran kenapa tidak mengaplikasikan ide cemerlang ini ke dalam konteks realita kondisi sosial global saat ini lah yang terbersit dalam benak Alexander Payne (Sideways, The Descendants, Nebraska) lewat Downsizing. Sebuah perpaduan antara drama sosial, romansa, fiksi ilmiah, filosofi hidup, dan sedikit bumbu komedi witty khas Payne. Tak tanggung-tanggung, ada aktor sekaliber Matt Damon, Christoph Waltz, Kristen Wiig, Udo Kier, Rolf Lassgård, hingga aktris asal Thailand yang diganjar nominasi Golden Globe untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik, Hong Chau, digaet untuk mengisi ‘panggung fantasi’ Payne kali ini. 

Dr. Jorgen Asbjørnsen menemukan cara agar tubuh manusia bisa disusutkan hingga setinggi lima inci saja. Penemuan ini dipercaya menjadi jawaban atas masalah ledakan penduduk yang tak lagi dapat ditampung oleh bumi dan finansial yang dialami banyak orang. Lima belas tahun kemudian koloni manusia mini semakin berkembang dan tersebar di berbagai penjuru dunia. 
Adalah Paul dan Audrey Safranek, pasangan muda yang sedang mengalami masalah finansial, tergoda untuk mencoba prosedur ‘penyusutan’ dan pindah ke Leisureland setelah ada sahabat lama yang terlihat hidup sukses sebagai manusia mini selama bertahun-tahun. Naas, ketika Paul sudah sukses menyusut, Audrey berubah pikiran dan meninggalkannya. Jadilah Paul sebatang kara di Leisureland dan mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Mulai tetangga nyentrik asal Serbia yang gemar berpesta, Dušan Mirković, hingga Hong Chau, aktivis Vietnam berkaki satu yang dihukum mengikuti prosedur ‘penyusutan’. Perlahan hidup Paul mulai menemukan makna baru akan hidupnya tapi tetap saja dihadapkan pada pilihan-pilihan penting sebagaimana hidup sebagai manusia berukuran normal.
Awalnya Downsizing tampak sebagai sebuah drama fiksi ilmiah dengan pendekatan sosial yang relevan dengan kondisi (perekonomian dan finansial) global saat ini. Kemudian Payne segera membawanya ke ranah yang lebih personal lewat karakter Paul Safranek dan perkembangan karakternya yang berjalan santai, serta seringkali menggelitik. Bagi penonton yang lebih menyukai film dengan laju dinamis bisa jadi ini membosankan, sebagaimana juga Sideways atau The Descendants. Payne masih dengan gaya berceritanya yang khas dengan detail plot runtut yang sekilas mungkin terkesan tidak penting, tapi sebenarnya punya andil yang cukup penting bagi perkembangan-perkembangan karakternya. Namun jika Anda cukup sabar mengikuti plotnya dengan santai dan mencoba menikmati tiap menitnya, ada beberapa konflik dasar manusia yang diangkat dan bisa jadi punya kedekatan dengan Anda sendiri. Kesannya mungkin kelewat menjejalkan terlalu banyak konflik menjadi satu, tapi jika dipikir-pikir lagi kesemuanya bisa saja terjadi sebagai satu hubungan sebab-akibat dan datang bertubi-tubi sebagaimana hidup itu sendiri. Pada akhirnya Payne mengajak penontonnya untuk kembali merefleksikan apa hal terpenting yang akan selalu relevan pada apapun pilihan hidup yang diambil. Dalam konteks ini, sebagai manusia berukuran normal maupun kerdil. Konklusinya pun menjadi sebuah keputusan penting berkaitan dengan konflik awal karakter Paul. Di atas semua konsep besarnya, ia punya esensi sederhana tapi sering terlupakan manusia tentang cinta.
Diletakkan di lini terdepan sebagai karakter Paul Safranek, Matt Damon mungkin tak tampil kelewat menonjol. Bahkan bisa dikatakan generik jika melihat tipikal peran yang kerap dibawakannya. Namun setidaknya masih cukup mampu menarik simpati dan merepresentasikan emosi penonton. Christoph Waltz pun masih tak beranjak jauh dari tipikal perannya selama ini lewat karakter Dušan Mirković. Penampilan Hong Chau memang layak diganjar nominasi Golden Globe lewat peran Ngoc Lan Tran dengan keseimbangan tepat antara keluguan, menggelitik, dan emosional. Beberapa pemeran pendukung yang masih tampak cukup mencuri perhatian meski memainkan karakter tipikal masing-masing pula dan porsi terbatas antara lain Kristen Wiig sebagai Audrey Safranek, Jason Sudeikis sebagai Dave Johnson, dan James Van Der Beek (masih ingat serial Dawson’s Creek?) yang akan membuat para remaja era ’90-an terkejut. Terakhir, Udo Kier tak kalah mencuri perhatian di balik karakter Konrad yang misterius. 
Dengan konsep yang dibangun begitu detail, salah satu daya tarik utama Downsizing adalah desain produksi Stefania Cella yang tetap mampu membuat saya terkagum-kagum sekaligus penasaran meski bukan hal yang baru lagi. Sinematografi Phedon Papamichael mungkin tergolong standard sesuai kebutuhan tiap adegan, tapi kesan film 35mm yang terlihat grainy membawa feel ‘klasik’ tersendiri. Sementara editing Kevin Tent dan score music Rolfe Kent yang sudah kesekian kali bekerja sama dengan Payne tahu betul bagaimana menyajikan segala kekhasan-nya, sebagaimana Sideways dan The Descendants

Agak susah bagi saya untuk merekomendasikan Downsizing since it might not be everybody’s cup of tea. Let’s say Anda akan menikmatinya jika juga menyukai Sideways atau The Descendants sebagai bentuk terdekatnya. Namun jika Anda penasaran, nikmati saja perguliran plotnya dengan santai, tanpa berusaha mempertanyakan segala hal atau mengeluh terlebih dahulu. Beruntung jika memang punya kedekatan personal dengan Anda. Jika tidak, siapa tahu bisa jadi bekal bahan refleksi ke depannya ketika dihadapkan pada konflik yang serupa tapi tak sama, atau setidaknya sebuah hiburan ringan yang masih mampu mengundang tawa di banyak kesempatan jika Anda kesulitan untuk menikmati gaya bertutur Payne. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates