Saturday, January 27, 2018

The Jose Flash Review
Dilan 1990

Setelah memulai debut penyutradaraan di Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara tahun 2017 lalu, Pidi Baiq tahun ini berkesempatan untuk mengangkat novel terlarisnya, Dilan 1990 ke layar lebar dengan bantuan dari Titien Wattimena di naskah dan Fajar Bustomi di penyutradaraan. Sempat menuai kontroversi ketika Iqbaal Ramadhan dipilih untuk memerankan sosok Dilan, tapi proyek terus berjalan hingga akhirnya siap menyapa para penggemarnya di layar lebar. Didukung pendatang baru Vanesha Prescilla yang menjanjikan, Giulio Parengkuan, Debo Andrios ‘ex Idola Cilik’, Brandon Salim, Refal Hady, Zara JKT48, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan, dan Teuku Rifnu Wikana, Dilan 1990 masih terlihat menjanjikan sajian yang menarik. Tak hanya bagi penonton remaja saat ini tapi juga mereka yang pernah mengalami masa remaja di era ’90-an.

Bandung, 1990. SMA kedatangan siswi baru pindahan dari Jakarta, Milea. Dilan langsung dibuat jatuh hati. Seiring dengan gencarnya rayuan dan gombalan Dilan yang puitis, Milea pun semakin penasaran dengan sosok Dilan. Tak mempedulikan pacarnya yang masih tinggal di Jakarta, Beni, ataupun siswa-siswa lain di sekolahnya yang baru yang seolah berebut mencari perhatian Milea, termasuk Nandan. Di luar sekolah pun Milea juga diincar Kang Adi, guru les privat yang ditunjuk mengajari Milea di rumah oleh sang ibu. Ketika hubungan keduanya makin dekat dan mulai saling mengenal, ada sisi lain Dilan yang kurang disukai Milea. Maka Milea pun berupaya untuk mendistraksi Dilan supaya tak terpengaruh oleh teman-teman segenk-nya seperti Anhar. Sementara itu status hubungan antara Dilan dan Milea belum juga benar-benar diresmikan ataupun sekedar terucap.
Tak berbeda jauh dari versi novel, plot Dilan 1990 sebenarnya hanyalah rangkaian bujuk rayu dan gombalan khas Pidi Baiq yang menurut saya sangat cheesy dan trying too hard to be funny or witty, tapi jatuhnya garing, bahkan untuk ukuran era ’90-an sekalipun. Yang membuat versi filmnya terasa lebih baik adalah struktur yang lebih jelas meski masih sama-sama nyaris tak punya konflik berarti selain sekedar proses PDKT (pendekatan) sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar jadian secara resmi. Naskah Titien Wattimena menyusun jalannya plot dengan begitu baik, runtut, berkembang, ditambah masuknya dinamika-dinamika dengan timing yang terasa begitu pas. Penyutradaraan Fajar Bustomi pun mampu mengeksekusinya dengan flow dan pembangunan nuansa film yang manis dan romantis secara tepat sehingga masih sangat enjoyable untuk diikuti kendati mungkin sudah muak dengan gaya rayuan Dilan yang cheesy. Pemilihan angle yang beberapa tergolong tak biasa (terutama low angle) serta camera-work yang sesuai dengan kebutuhan nuansa yang ingin dicapai membuat sinematografi Dimas Imam Subhono layak mendapatkan apresiasi tersendiri, sebagaimana desain produksi Angie Halim dan tata kostum Quartini Sari yang sangat detail dan signatural tanpa harus berusaha terlalu keras untuk terlihat ’90-an sebagai menu utamanya. Begitu juga editing Ryan Purwoko yang membuat flow plot tanpa konflik mengalir lancar dan musik pengiring dari Andhika Triyadi lewat petikan gitar sederhana tapi ear-catchy untuk disenandungkan serta yang paling penting, memperkuat adegan-adegan yang diiringi.
Kontroversi pemilihan Iqbaal Ramadhan untuk mengisi peran Dilan berhasil dijawab dengan sangat baik olehnya. Saya jadi memahami mengapa Iqbaal yang dipilih, bukannya aktor muda berwajah dan/atau beraura playboy yang seharusnya identik dengan rayuan-rayuan gombal khas Dilan. Saya bisa membayangkan betapa tipikal karakter yang demikian saat ini sudah tak lagi memikat hati. Sebaliknya, justru terkesan negatif. Dengan tampilan fisik Iqbaal, rayuan gombal tersebut lebih terasa manis dan lugu sehingga lebih bisa ‘mengena’ bagi penonton luas. Iqbaal sendiri tak menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. Di tangannya, karakter Dilan punya keseimbangan yang baik antara innocent cuteness dan kharisma remaja pria pada porsi yang pas serta meyakinkan. Tak lupa pula chemistry yang terjalin sangat kuat dan manis bersama pendatang baru, Vanesha Prescilla. Vanesha sendiri tampil sangat memikat sebagai debut sekaligus porsi yang banyak. Penampilannya menjanjikan karir akting yang cemerlang ke depannya. Sisanya pemilihan aktor-aktris yang cukup dikenal untuk mengisi karakter-karakter yang jumlahnya tergolong banyak juga bisa dikatakan jitu. Masing-masing tampil noticeable, bahkan beberapa termasuk berkesan, seperti Debo Andrios (juga dari Idola Cilik) sebagai Nandan, Brandon Salim sebagai Beni, Zara JKT48 sebagai Disa, Giulio Parengkuan (masih ingat si bungsu di Pertaruhan?) sebagai Anhar, hingga  dukungan bintang-bintang senior macam Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, dan Farhan.

Bagaimanapun pendapat Anda tentang Dilan 1990, baik dari novel maupun filmnya, tak bisa dipungkiri bahwa prestasi pendapatan box office-nya sangat luar biasa. Melewati angka dua juta penonton dalam tempo satu minggu mencatatkannya sebagai film Indonesia terlaris di awal tahun 2018 ini. Ya, saya pun tak memungkiri bahwa novel Dilan 1990 hanya sekedar berisi rayuan-rayuan yang mungkin bisa menghibur bagi mereka yang cocok dengan gaya bercanda Pidi Baiq dan minim konflik berarti. Namun kesemuanya mampu disusun dalam flow yang enak untuk diikuti, dramatisasi yang pas dan mengena, serta dukungan akting maupun teknis yang tertata baik, menjadikannya setidaknya masih layak untuk dinikmati di layar lebar. Itu sama sekali bukan tugas yang mudah. Bahkan bukan tidak mungkin jika Anda termasuk salah satu yang terkena secara kuat oleh impact-nya. Bagaimanapun juga menjadikan quote-quote gombalan menjadi viral bukan perkara mudah dan Dilan 1990 mampu melakukannya dengan cukup gemilang. Tinggal menantikan saja kehadiran sekuelnya sesuai novel, Dilan 1991, dan Milea, atau pengembangan khusus universe sinematik yang tanpa batas.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates