Wednesday, January 24, 2018

The Jose Flash Review
Maze Runner: The Death Cure

Trend film yang diadaptasi dari novel young-adult dystopian satu per satu berakhir. Setelah The Hunger Games yang dianggap paling sukses secara pendapatan box office dan Divergent yang bernasib kurang baik setelah terakhir dikabarkan seri terakhirnya akan dibuat hanya untuk konsumsi televisi (disusul aktris utama, Shailene Woodley yang menyatakan mundur dengan keputusan ini), kini tinggal tersisa Maze Runner (MR) yang meski installment kedua, The Scorch Trial (TST) mengalami sedikit penurunan penghasilan, masih bisa dianggap stabil di atas US$ 300 juta. Maka installment pamungkas, The Death Cure (TDC) masih dengan mudah mendapatkan lampu hijau dari Gotham Group, Temple Hill Entertainment, TSG Entertainment, dan tentu saja 20th Century Fox selaku distributor. Berjarak rilis paling lama dari seri terakhir (3 tahun), TDC awalnya sempat dijadwalkan rilis Februari 2017 tapi harus mengalami kemunduran selama setahun setelah aktor utama, Dylan O’Brien mengalami cidera fisik ketika pengambilan gambar. Setidaknya keputusan tetap menjadikan seri terakhir sebagai satu film saja, tak mengikuti trend yang memecahnya menjadi dua bagian, merupakan keputusan bijak dari sutradara Wes Ball mengingat pergerakan plot di dua seri sebelumnya yang sebenarnya sudah terasa terseok-seok. 

Setelah lolos dari WCKD, Thomas, Newt, dan Frypan bergabung dengan kelompok The Right Arm yang dipimpin oleh Vince. Ketiganya kekeuh ingin menyelamatkan sahabat mereka, Minho, yang gagal lolos dan sedang dalam perjalanan dibawa ke markas WCKD yang dipercaya berada di ‘Kota Terakhir’, meski mendapat pertentangan dari Vince yang menganggapnya tak sebanding dengan resikonya. Maka ketiganya berangkat sendiri, dibantu Brenda dan Jorge. Perjalanan menuju ‘Kota Terakhir’ yang secara wajar perlu waktu 6 bulan diwarnai oleh berbagai rintangan. Mulai serangan sejenis zombie bernama Cranks, pasukan WCKD yang memburu mereka, hingga kembalinya salah seorang glader yang selama ini dikira telah tewas. Sementara itu Thomas ternyata masih punya tujuan tersendiri terhadap Teresa ketika sesampainya di ‘Kota Terakhir’. Tanpa mereka sadari perjalanan mereka menuju klimaks yang tak hanya menentukan nasib mereka sendiri tapi juga kemanusiaan secara keseluruhan karena salah satu dari mereka adalah penawar virus Flare yang paling mujarab.
Meski harus diakui sejak seri pertama punya perkembangan plot yang tergolong tak banyak perkembangan berarti, MR sebenarnya punya potensi menjadi sebuah kisah young adult dystopian dengan value pengorbanan demi kemanusiaan yang menarik dan mendalam. Bukan konsep yang baru tapi setidaknya menawarkan nilai lebih. Setelah terlewatkan di dua seri sebelumnya (seri pertama menurut saya hanya berupa introduksi yang bikin penasaran sementara seri kedua merupakan transisi titik balik konsep secara keseluruhan), maka seri ketiga sekaligus penutup ini yang menjadi satu-satunya harapan saya mendapatkan konklusi tersebut. Sempat ada petunjuk-petunjuk yang mengarah ke tujuan ‘mulia’ tersebut, terutama salah satu tokoh utama yang sempat dijadikan semacam pancingan, tapi ternyata konsep yang saya harap-harapkan tersebut sama sekali bukan pilihan bagi TDC. Alhasil, TDC tak lebih dari sekedar another young-adult dystopian yang mengedepankan sisi ‘young adult’ yang belum berpikir jauh dan menyeluruh, inklusif terhadap kepentingan golongannya saja (tidak pernah dijelaskan kenapa menyelamatkan keseluruhan umat manusia tidak pernah menjadi pilihan bagi para glader), serta sisi adegan-adegan aksi yang menjadi komoditas utamanya.
Untung saja di TDC ini skill Ball dalam menghadirkan gelaran adegan-adegan aksinya terlihat semakin mengalami improvisasi. Sejak adegan pembuka yang mau tak mau mengingatkan saya dengan adegan pembuka Fast Five hingga klimaks, TDC menawarkan banyak adegan aksi yang begitu mendebarkan, lengkap dengan momen-momen ‘nyaris’ yang membuat saya secara spontan berteriak ‘whoa whoa whoa whoa!’, dan di banyak kesempatan boleh dikatakan termasuk ‘gila’ dalam konteks nekad. Secara keseluruhan, TDC menawarkan rangkaian adegan aksi yang jauh lebih seru, intens, gila, dan jauh lebih memorable di antara ketiga seri MR. Tentu saja dukungan sinematografi Gyula Pados, musical score John Paesano (yang terdengar generik tapi masih lebih dari cukup dalam mengiringi kebutuhan-kebutuhan adegan), dan editing Dan Zimmerman menjadi faktor terpenting keberhasilan upaya tersebut. Durasi yang mencapai 142 menit pun tak begitu terasa terlalui.
Selain dari itu, skill dramatisasi Ball tampaknya juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ini terbukti di beberapa adegan yang memang butuh dramatisasi yang seimbang untuk menyentuh emosi penonton ternyata cukup berhasil meski tak sampai menguras air mata. Setidaknya mampu membuat penonton tersentuh dan bersimpati meski tanpa punya alasan yang cukup kuat sebagai sebuah konklusi, sudah merupakan prestasi tersendiri. Keberhasilan secara emosi tentu tak lepas dari penampilan akting dari para cast-nya. Mulai Dylan O’Brien sebagai Thomas, Thomas Brodie-Sangster sebagai Newt, Ki Hong Lee sebagai Minho, Rosa Salazar sebagai Brenda, dan Kaya Scodelario sebagai Teresa. Meski secara keseluruhan mungkin masih tak berbeda jauh dari dua installment sebelumnya, setidaknya sedikit lebih banyak porsi emosional masih mampu termanfaatkan dengan baik. Sementara Dexter Darden sebagai Frypan, Giancarlo Esposito sebagai Jorge, Walton Goggins sebagai Lawrence, Barry Pepper sebagai Vince, dan kembalinya Will Poulter sebagai Gally tak diberi porsi lebih untuk menarik perhatian lebih besar di benak penonton. 
Secara konseptual keseluruhan, TDC mungkin masih belum memenuhi ekspektasi saya dalam mencapai potensi terbesarnya sebagai sebuah young-adult dystopian dengan essential value lebih. Namun sebagai sebuah instant entertainment, TDC merupakan sajian aksi petualangan yang paling seru, intens, dan ‘gila’ dari ketiga seri. Mungkin juga belum sampai level eksepsional, tapi jauh lebih enjoyable dan memorable dibandingkan kedua seri sebelumnya. Mengalaminya berulang-ulang dengan berbagai format berbeda, seperti Dolby Atmos, IMAX, dan 4DX? Kenapa tidak?
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates