Wednesday, January 17, 2018

The Jose Flash Review
All the Money in the World

Ridley Scott dikenal sebagai sutradara Hollywood yang versatile dalam berkarya. Sulit untuk menemukan benang merah kekhasan dari garapannya tapi kerapkali berhasil menghantarkan tujuan-tujuannya. Mulai sci-fi macam Blade Runner atau Alien, thriller seperti Hannibal, drama periode seperti Gladiator, Kingdom of Heaven, Robin Hood, dan Exodus: Gods and Kings, perang macam Black Hawk Down, biopik seperti American Gangster, hingga drama seperti Thelma & Louise, Matchstick Men, dan A Good Year. Tahun 2017 silam beliau tergolong produktif dengan merilis dua film sekaligus. Setelah Alien: Covenant, All the Money in the World (AtMintW) yang diangkat dari kisah nyata sosok orang Amerika paling kaya, pelopor bisnis minyak di Timur Tengah, J. Paul Getty, berdasarkan buku biografi berjudul Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, siap berkompetisi di musim penghargaan dengan jajaran cast papan atas seperti Michelle Williams, Mark Wahlberg, dan Timothy Hutton. 


Sempat menjadi sorotan media internasional karena melakukan syuting ulang senilai (konon) hingga US$ 10 juta setelah kasus pelecehan seksual dari pemeran J. Paul Getty sebelumnya, Kevin Spacey, merebak, dan digantikan oleh aktor veteran, Christopher Plummer. Sebanyak 22 adegan pengganti diambil ulang dengan melibatkan Williams maupun Wahlberg selama 8 hari, hanya sebulan sebelum jadwal rilis resmi. Bagaimanapun, kabar ini tentu menjadi daya tarik tambahan bagi AtMintW selain tentu saja prestasinya di Golden Globe yang dinominasikan di 3 kategori: Best Director - Motion Picture untuk Ridley Scott, Best Performence by an Actress in a Motion Picture untuk Michelle Williams, dan Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture untuk Christopher Plummer. AtMintW tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 17 Januari 2018.
J. Paul Getty boleh saja dinobatkan sebagai orang Amerika terkaya dengan nilai kekayaan lebih dari US$ 1 miliar (pada era ’70-an). Namun harta sebanyak itu membuat banyak aspek kehidupannya tak bisa berjalan wajar. Termasuk urusan keluarga dimana bahkan ia mengabaikan sang putra, John Getty Jr. Baru ketika bangkrut dan memohon pekerjaan pada sang ayah, John dipercayakan posisi penting di Getty Oil Eropa. Namun seperti biasa, kekayaan dan jabatan dadakan membuat John lupa diri. Sang istri, Gail, mengajukan gugatan perceraian sekaligus hak asuh penuh terhadap sang putra yang menjadi cucu kesayangan Getty, Paul (John Paul Getty III). Upaya Gail menghadapi ‘sang kaisar’ semakin berat ketika Paul tiba-tiba diculik oleh kriminal Italia yang mengaku bernama Cinquanta. Getty berusaha keras enggan membayar permintaan tebusan dan mengutus ajudannya, Fletcher Chase untuk menyelidiki keberadaan sang cucu sekaligus menghabisi para pelaku. Bukan tugas yang mudah ternyata ada banyak pihak yang mengklaim sebagai sang penculik demi mendapatkan bagian dari harta Getty.
Secara garis besar plot utama AtMintW terletak pada bagaimana seorang konglomerat seperti Getty menghadapi kasus penculikan yang dialami oleh anggota keluarganya. Alih-alih memilih sudut pandang penceritaan dari sosok Getty sendiri, AtMintW membidik dari kacamata Gail, sang ibu dari korban penculikan yang seolah menjadi ‘penengah’ dari berbagai pihak yang terlibat. Keputusan yang menarik dan membuat film jadi punya sisi-sisi dramatis yang lebih dekat dengan penonton umum. Di satu sisi ada kegundahan seorang ibu yang khawatir dengan kondisi sang putra, sementara di sisi lain harus tegar dan berani berhadapan dengan mantan mertua yang bisa menjadi kunci keselamatan sang putra. Michelle Williams kembali membuktikan kualitas aktingnya dalam menampilkan dimensi-dimensi karakter tersebut secara maksimal. Di banyak kesempatan ia menunjukkan emosi yang cukup dramatis tapi tetap terasa natural.
Tak hanya dilema dari sudut pandang Gail, naskah David Scarpa (The Last Castle, The Day the Earth Stood Still versi 2008) juga memasukkan elemen-elemen pendukung untuk memperkaya film, seperti thriller yang membuat sosok antagonis, Cinquanta, mampu ‘mengancam’ penonton, berbagai pihak yang mengaku-aku sebagai penculik demi mendapatkan bagian dari tebusan, hingga tentu saja yang paling menarik, bagaimana Getty menanggapi kasus yang menimpa sang cucu dengan berbagai pertimbangan menarik dari sudut pandang miliarder yang mungkin belum banyak terpikirkan oleh penonton, termasuk saya. Masing-masing dari kesemuanya berhasil menjadikan AtMintW film yang menarik untuk terus diikuti berkat pengarahan dari Scott. Sayang secara keseluruhan racikan-racikan ini terasa kepalang tanggung dalam mencapai impact emosional ataupun intelektual secara lebih maksimal lagi bagi penonton. Masing-masing seolah berdiri sendiri-sendiri, belum mampu membentuk kesatuan solid yang cukup impactful untuk bisa membekas dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.
Selain Williams yang berhasil menjadi highlight terbesar sepanjang film, Christopher Plummer menunjukkan kharisma yang kuat sebagai sosok miliarder Getty, begitu juga dengan beberapa dimensi karakter yang, entah disengaja atau tidak, agak misterius. Melihat dari penampilan Kevin Spacey yang sempat terlihat di trailer pertama, agaknya saya lebih bisa membayangkan dimensi yang lebih ‘tajam’ dan mencolok daripada Plummer. Nevertheless, penampilan Plummer masih memukau dengan porsi yang dimiliki. Sementara Mark Wahlberg sekedar tampil layak sebagai Fletcher Chase karena porsi karakter yang memang tak banyak berkontribusi penting dan tergolong generik. Begitu juga dengan Charlie Plummer (sama sekali tidak ada hubungan keluarga dengan Christopher Plummer, murni persamaan nama keluarga saja) sebagai John Paul Getty III dengan porsi yang kurang lebih sama terbatasnya. Romain Duris justru tampak lebih mencuri perhatian sebagai Cinquanta terutama lewat gestur dan aksen Italia-nya.
Sebagaimana kebanyakan film Scott, AtMintW didukung teknis yang cukup efektif dalam mencapai tujuan-tujuannya, terutama sebagai crime thriller dan motherhood drama. Mulai sinematografi Dariusz Wolski yang tepat guna lewat pemilihan angle dan camera work, editing Claire Simpson yang membuat durasi 133 menit menjadi terasa padat dan dinamis meski kepaduan antar elemen pendukung sebenarnya masih bisa lebih baik lagi, hingga musical score Daniel Pemberton yang sekali lagi berhasil memompa adrenalin adegan-adegan thriller-nya. Sedikit banyak mengingatkan saya akan score The Man from U.N.C.L.E. dan King Arthur: Legend of the Sword, tapi masih tepat guna dan efektif.
Di antara jajaran karya Scott, AtMintW mungkin belum termasuk yang terbaik. Menarik, terutama dalam menyelipkan berbagai elemen-elemen pendukung yang intriguing dalam membangun ‘permainan’ seputar uang, tapi agaknya bisa jauh lebih solid dan membekas lagi. Beruntung masih ada penampilan prima dari jajaran cast yang bisa jadi merupakan daya tarik utama film, dan itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menyaksikannya di layar lebar. Selain dari itu, tentu saja nikmati ‘permainan’ tricky dan intriguing selama 2 jam lebih yang asyik untuk diikuti.
Lihat data film ini di IMDb.

The 90th Academy Awards Nominee for:

  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Christopher Plummer
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates