Deadpool 2

Deadpool to face his long time love-hate relationship with Cable.
Read more.

Solo: A Star Wars Story

Young Han Solo to be the lates Star Wars' side story.
Read more.

Jurassic World: Fallen Kingdom

What will happen to the dinosaurs after Jurassic World has fallen?
Opens June 6.

The Avengers: Infinity War

The Avengers gank to face the almighty, Thanos.
Read now.

Incredibles 2

Elastigirl to save the world when Mr. Incredible has to stay at home to take care the kids.
Opens June.

Tuesday, June 12, 2018

The Jose Flash Review
Ocean's 8

(Ocean’s Eleven (OE, 2001) yang diproduseri dan disutradarai oleh Steven Soderbergh adalah salah satu film bertemakan heist yang paling menguntungkan secara komersial sekaligus menuai pujian dari para kritikus. Diinspirasi dari Ocean’s 11 dengan ensembel bintang papan atas pada era ’60-an dengan sebutan Rat Pack, OE dilanjutkan sekuelnya, Ocean’s Twelve pada 2004 dan Ocean’s Thirteen pada 2007 yang meski secara penghasilan menurun dari seri pertama tapi tetap saja sangat menguntungkan. Setelah Soderbergh memutuskan tidak akan melanjutkan seri ini lagi, termasuk pernyataan George Clooney selaku aktor utama yang ingin berhenti ketika masih dianggap ‘kuat’, Warner Bros. tak putus asa untuk terus melanjutkan franchise ini. Jalan lain yang masih bisa ditempuh adalah spin-off dengan tetap mempertahankan formula inti dan ‘mengawinkannya’ dengan elemen-elemen menarik lainnya. Di tengah maraknya isu feminisme dan women empowerment, memilih versi all-female dari OE adalah pilihan yang menarik. Ocean’s 8 (O8) kini ditangani sutradara Gary Ross (Seabiscuit, The Hunger Games, Free State of Jones) sekaligus menyusun naskahnya bersama Olivia Milch (upcoming Barbie movie in 2020). Sementara jajaran all-star cast yang sudah menjadi salah satu daya tarik installment-installment sebelumnya kali ini menghadirkan Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anne Hathaway, Mindy Kaling (serial The Office, A Wrinkle in Time), Sarah Paulson (12 Years a Slave, Carol), Awkwafina (Neighbors 2: Sorority Rising, Stork, dan upcoming Crazy Rich Asians), Rihanna, Helena Bonham Carter, serta sederetan cameo dari selebriti-selebriti papan atas mengingat background cerita yang dipilih.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 5, 2018

The Jose Flash Review
Jurassic World:
Fallen Kingdom

Jurassic World (2015) yang ditujukan untuk meneruskan warisan salah satu franchise paling ikonik sepanjang sejarah perfilman dunia, Jurassic Park, terbukti merupakan upaya yang berhasil dengan membukukan US$ 1.672 miliar di seluruh dunia. Maka konsep pengembangan yang digagas oleh Colin Trevorrow (The Book of Henry) segera mendapatkan lampu hijau dari Universal Pictures. Namun memenuhi janjinya, Trevorrow tak lagi duduk di bangku penyutradaraan yang kali ini ia operkan kepada sutradara Spanyol, J. A. Bayona yang dikenal sekaligus menuai pujian berkat The Orphanage, The Impossible, dan A Monster Calls. Sementara ia sendiri duduk di jajaran produser sekaligus penyusunan naskah yang kembali dibantu oleh Derek Connolly (Safety Not Guaranteed, Kong: Skull Island). Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, dan bahkan Jeff Goldblum kembali mengisi peran-peran ikonik mereka. Didukung Rafe Spall (Life of Pi, Prometheus, The BFG), Ted Levine, James Cromwell, Toby Jones, bintang muda dari The Vampire Diaries, Daniella Pineda, Justice Smith (Paper Towns), hingga pendatang baru cilik yang menjanjikan, Isabella Sermon. Mengisi slot musim panas 2018, Jurassic World: Fallen Kingdom (JWFK) jelas menjadi salah satu blockbuster yang paling ditunggu-tunggu penggemarnya di seluruh dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 3, 2018

The Jose Flash Review
Tully

Motherhood sudah sering diangkat ke medium film dengan berbagai tanggung jawab, tekanan, dan pengorbanannya. Terakhir yang kita ingat dengan baik adalah Bad Moms dengan kemasan komedi gila-gilaan yang mungkin bagi beberapa penonton terasa kelewatan dan tak pantas meski pada akhirnya menyuguhkan hati yang begitu besar sebagai bentuk penghormatan terhadap para ibu. Jika belum bisa menerima kemasan yang demikian, tak ada salahnya mencoba Tully. Sebuah drama komedi terbaru dari Jason Reitman yang begitu dikenal lewat Juno dan Up in the Air. Kembali bekerja sama dengan penulis naskah Diablo Cody setelah Juno dan Young Adult, penonton yang cocok atau bahkan terkesan dengan gaya penceritaan khas mereka bisa mengharapkan kehangatan sekaligus tawa dari Tully. Charlize Theron lagi-lagi didapuk mengisi peran utama setelah sempat bekerja sama dengan Reitman dan Cody lewat Young Adult. Didukung pula oleh Mackanzie Davis (The Martian, Blade Runner 2049), Mark Duplass, Ron Livingston, dan Elaine Tan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Parmanu:
The Story of Pokhran

Salah satu ironi terbesar dunia adalah bom nuklir. Semua negara sepakat bahwa bom nuklir adalah eksperimen berbahaya yang mungkin bisa membumi-hanguskan peradaban manusia dalam skala besar hanya dalam hitungan menit hingga kemudian penelitian dan penggunannya dilarang. Namun di sisi lain percobaan dan pengembangan teknologi bom nuklir juga menjadi simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara. Setidaknya itu yang terjadi di era ’90-an dan setidaknya lagi, menurut India. Mereka pernah diam-diam melakukan percobaan bom nuklir tahun 1998 dan berhasil lolos dari pengawasan CIA. Kisah yang membelalakkan mata dunia terhadap India, terutama dari segi iptek ini kini diangkat ke layar lebar oleh sutradara/penulis naskah Abhishek Sharma (Tere Bin Laden dan sekuelnya, Tere Bin Laden Dead or Alive), dibantu oleh Sanyukta Shaikh Chawla dan Saiwyn Quadras (keduanya pernah bekerja sama menyusun naskah Neerja). Daya tarik terbesar dari film bertajuk Parmanu: The Story of Pokhran ini terletak pada keterlibatan John Abraham yang biasanya dikenal sebagai aktor film aksi blockbuster yang sering kali mindless, didukung Diana Penty yang tampil semakin memikat setelah muncul di Cocktail dan Lucknow Central
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 29, 2018

The Jose Flash Review
The Gift

Seven Sunday Films selama ini dikenal sebagai production house yang melahirkan banyak TVC (TV Commercial) berkelas dari para klien bergengsi pula. Sukses di TVC rupanya membuat mereka penasaran untuk juga memproduksi film layar lebar. Tidak tanggung-tanggung, sebagai karya perdananya mereka menggandeng sutradara papan atas Indonesia yang sudah melahirkan puluhan film dari berbagai genre dan skala produksi, mulai dari yang indie hingga mega blockbuster selama empat belas tahun, Hanung Bramantyo. Aktor-aktris yang ditawarkan pun tak main-main. Ada aktor yang digadang-gadang bisa memerankan karakter apapun, Reza Rahadian, aktris muda yang kualitasnya aktingnya terlihat makin matang dari film ke film, Ayushita Nugraha, aktor muda yang akhir-akhir ini juga mulai diperhitungkan untuk peran-peran serius, Dion Wiyoko, serta aktris legendaris, Christine Hakim. Yogyakarta dan Italia dijadikan latar belakang kisah dari film bertajuk The Gift ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 22, 2018

The Jose Flash Review
Solo: A Star Wars Story

Sejak dibeli Disney tahun 2012, Lucasfilm semakin semakin gencar mengeksplorasi berbagai potensi yang layak diangkat ke layar lebar. Tak hanya sebagai seri induk tapi juga berbagai kisah sampingan yang masih punya benang merah ke seri induknya, seperti Rogue One (RO) tahun 2016 silam. Dirilis bergantian dengan seri induk, praktis setiap tahun mereka bisa merilis satu film Star Wars. Apalagi meski skalanya memang tak sebesar seri induk, RO berhasil melewati angka penghasilan US$ 1 milyar di seluruh dunia. Pilihan kedua untuk spin-off bertajuk A Star Wars Story adalah Solo yang jelas-jelas merupakan origin story dari salah satu karakter seri induk yang paling ikonik, Han Solo. Sempat diwarnai beberapa kontroversi seperti pemilihan Alden Ehrenreich sebagai Han serta keluarnya sutradara Phil Lord dan Christopher Miller (Cloudy with a Chance of Meatballs, 21 Jump Street, The Lego Movie) karena perbedaan pendapat tentang tone keseluruhan film dengan penulis Lawrence Kasdan dan produser Kathleen Kennedy hanya tiga minggu menjelang jadwal syuting berakhir , kemudian digantikan Ron Howard (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code - kabarnya Howard melakukan pengambilan gambar ulang sebanyak sekitar 80% adegan), Disney masih percaya bahwa origin story Han Solo masih menarik untuk diangkat dan mampu menarik minat penonton di bursa persaingan musim panas tahun 2018 ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 17, 2018

The Jose Flash Review
Anon

Fiksi ilmiah yang memberikan gambaran kondisi dunia di masa depan dengan berbagai teknologi canggih dan konsep tatanan sosial memang selalu menarik untuk disimak. Selain fantasi sejauh mana teknologi bisa dicapai juga kondisi sosial yang bisa jadi bahan refleksi dan/atau kontemplasi pribadi. Namun tak semua konsep fiksi ilmiah futuristik yang menarik (bahkan brilian) bisa diterjemahkan dalam bahasa visual (baca: film) dengan baik. Sudah cukup banyak contoh film fiksi ilmiah futuristik yang ‘terjerumus’ ke dalam lembah ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah Transcendence (2014), sebuah fiksi ilmiah dimana seorang ilmuwan bisa menggabungkan kecerdasan kolektif dari semua yang pernah ada dengan emosi manusia. Tema yang brilian tapi ditangani dengan skill directing Wally Pfister yang masih teramat sangat kurang, membuatnya menjadi drama sci-fi membosankan dan memusingkan karena kebingungan sendiri bagaimana menyampaikan dan mengakhiri kisahnya. Tahun ini satu lagi fiksi ilmiah futuristik menarik dipersembahkan oleh Andrew Niccol yang selama ini kita kenal lewat karya-karya fiksi ilmiah seperti Gattaca, S1m0ne, In Time, dan The Host. Beberapa memang berhasil menjadi karya fiksi ilmiah klasik tapi juga tak sedikit yang dikenal sebagai film fiksi ilmiah membosankan dan bahkan buruk. Niccol kembali bekerja sama dengan sinematografer berdarah Iran, Amir Mokri (Bad Boys II, Vantage Point, Fast & Furious, franchise Transformers sejak Dark of the Moon, dan Man of Steel) setelah Lord of War dan Good Kill. Begitu juga dengan aktris Amanda Seyfried yang kembali digandeng setelah di In Time untuk mendampingi Clive Owen. Tayang eksklusif di Netflix, film bertajuk Anon ini berkesempatan tayang terbatas di layar lebar beberapa negara, termasuk Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 16, 2018

The Jose Flash Review
Deadpool 2

Kesuksesan Deadpool (2016) yang berhasil mengumpulkan US$ 783.1 juta di seluruh dunia di balik kenekadannya sebagai film superhero (atau anti-hero?) dengan rating R (Restricted - di bawah usia 17 tahun harus dengan dampingan orang tua karena mengandung banyak muatan khusus dewasa) tentu saja membuat rencana sekuelnya dengan mudah mendapatkan lampu hijau. Sayang di saat nyaris semua tim utama setuju untuk kembali, termasuk penyusun naskah Rhett Reese dan Paul Wernick, di tengah-tengah pengembangan sutradara Tim Miller mengundurkan diri (gosipnya sih karena banyak terjadi perbedaan pendapat dengan Ryan Reynolds). Sebagai penggantinya masuklah David Leitch, stuntman yang beruntung dipercaya (sekaligus berhasil) menyutradarai John Wick dan Atomic Blonde. Tentu saja sekuel film superhero menampilkan musuh baru dan karakter-karakter superhero baru. Namun Deadpool 2 (D2) ternyata menawarkan lebih dari sekedar formula dasar sekuel film superhero tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 15, 2018

The Jose Flash Review
Status Update

Salah satu formula paling generik dari genre remaja adalah ‘wish come true’ dan ‘be yourself’. Bisa dimaklumi mengingat masa remaja adalah masa dimana selalu mengharapkan semua keinginan yang menyenangkan bisa terwujud dengan mudah, juga konflik yang paling sering terjadi adalah pencarian jati diri. Sisanya tinggal modifikasi menyesuaikan dengan kondisi jaman. Formula yang sama juga digunakan untuk film remaja Status Update (SU) yang disutradarai oleh Scott Speer (sutradara berbagai video musik yang mulai dikenal di layar lebar lewat Step Up Revolution dan baru saja kita lihat karya terbarunya, Midnight Sun) berdasarkan naskah Jason Filardi (Bringing Down the House, 17 Again). Didukung para mantan bintang Disney Channel; Ross Lynch, Olivia Holt, Gregg Sulkin, SU menawarkan formula-formula dasar film remaja tersebut dengan kemasan fantasi dari media sosial yang menjadi highlight terbesar fenomena kekinian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Raazi

Meski selalu diwarnai oleh kontroversi dan pemboikotan, perang antara India dan Pakistan selalu menjadi tema yang menarik di sinema Hindi. Jangankan yang terang-terangan bertema perang India-Pakistan, tampilnya aktor atau aktris Pakistan di sinema Hindi saja selalu menjadi kontroversi. Maka apa yang dihadirkan Junglee Pictures dan Dharma Productions lewat Raazi bisa dikatakan sebagai suatu langkah yang sangat berani. Diangkat dari novel bertajuk Calling Sehmat karya Harinder Sikka yang juga diinspirasi oleh kejadian nyata, Raazi mempercayakan karakter utamanya yang seorang mata-mata India di tanah Pakistan diisi oleh aktris muda yang mulai populer sejak Student of the Year, Alia Bhatt. Vicky Kaushal ynag pernah kita lihat di Bombay Velvet, Masaan, dan Raman Raghav 2.0 dipasangkan dengan Bhatt sebagai sang suami, Iqbal Syed. Sementara bangku penyutradaraan diduduki oleh Meghna Gulzar, sutradara wanita yang juga merupakan putri dari penulis lirik, Gulzar. Meghna sendiri tahun 2015 lalu pernah sukses mengarahkan film investigasi pembunuhan, Talvar. Dengan pengalaman dan nama-nama tersebut, Raazi terdengar sebagai sajian thriller espionase yang menjanjikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 12, 2018

The Jose Special Review
The Gift:
Reza dan Ayushita Memaknai Rasa Melampaui Panca Indra

Empat belas tahun berkarir di perfilman nasional dan telah melahirkan puluhan judul film dari berbagai genre membuat reputasi seorang Hanung Bramantyo sebagai sineas masuk dalam daftar jajaran teratas film Indonesia. Setelah menangani berbagai proyek besar dan ambisius beberapa tahun terakhir, ada sedikit kerinduan akan karya idealis orisinil dari seorang Hanung yang sederhana tapi terasa ‘sangat Hanung’. Saya rasa kerinduan ini tak hanya berasal dari pecinta film Indonesia yang sudah sekian lama mengikuti perjalanan karirnya, tapi juga dari Hanung sendiri. Maka The Gift agaknya lahir dari kerinduan tersebut. Didukung aktor-aktris papan atas Indonesia, Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko, dan Christine Hakim, The Gift sempat diputar di Jogja-Netpac Asian Films Festival 2017 lalu. Namun penonton umum di seluruh Nusantara bisa menyaksikannya di bioskop-bioskop komersial mulai 24 Mei 2018. Sambil menantikan filmnya rilis, ada baiknya terlebih dahulu menyimak trailer berdurasi 2 menit ini agar setidaknya punya gambaran tema dan daya tarik apa yang ditawarkan Hanung di film yang bekerja sama dengan Seven Sunday Films ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
Based on a True Story
[D'après une histoire vraie]

Kehidupan penulis novel, terutama dalam proses kreatifnya, serta hubungan antara penulis dan penggemarnya sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Bagi penonton umum tentu akan selalu mengingat film yang diangkat dari novel karya Stephen Kings, Misery (1990) dengan menghadirkan penampilan dari James Caan dan Kathy Bates. Tahun 2017 penulis naskah/sutradara Roman Polanski (Rosemary’s Baby, Chinatown, The Pianist, Carnage) bekerja sama dengan Olivier Assayas (Demonlover, Something in the Air, Clouds of Sils Maria, Personal Shopper) mengadaptasi naskah sebuah novel thriller psikologis karya Delphine de Vigan berjudul D'après une histoire vraie atau dengan judul internasional Based on a True Story (BoaTS). Roman kembali menggandeng sang istri, Emmanuelle Seigner, untuk mengisi peran utama yang mana ini merupakan kali kelima keduanya berkolaborasi sejai Frantic (1988). Didukung pula aktris Perancis yang selama tiga belas tahun terakhir sibuk berkarir di Hollywood, Eva Green untuk mengisi peran pendukung. Tak hanya itu, nama besar Alexandre Desplat didapuk untuk menggarap komposisi musik, sinematografer Pawel Edelman untuk keenam kalinya setelah The Pianist, Oliver Twist, The Ghost Writer, Carnage, dan Venus in Fur, serta editor Margot Meynier setelah berkolaborasi bersama di The Pianist, Oliver Twist, an Venus in Fur. Nama-nama kolaborator yang tentu menambah daya tarik penonton, terutama pengagum Roman Polanski dan sinema Eropa. Kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikannya sebagai bagian dari Europe on Screen 2018 dan tayang di bioskop komersial umum pertengahan Mei 2018.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ghost Stories

Jeremy Dyson selama ini dikenal sebagai penulis naskah untuk serial Inggris Psychobitches dan The League of Gentlemen. Ia juga pernah populer lewat kolaborasinya bersama Andy Nyman (dikenal lewat acara ilusionis Derren Brown) untuk pertunjukan drama panggung bertajuk Ghost Stories (GS) yang tak hanya sukses dipentaskan selama bertahun-tahun sejak 2010 di Inggris tapi juga merambah Australia. Drama panggung ini kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar bertajuk sama oleh Dyson-Nyman sendiri dan rata-rata mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Kita di Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu fenomena horor Inggris terbesar era 2000-an ini di layar lebar melalui distributor CBI Pictures mulai 9 Mei 2018.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
102 Not Out

Amitabh Bachchan dan Rishi Kapoor sama-sama merupakan aktor legendaris di tanah Hindustan. Bagaimana tidak, sama-sama memulai karir akting sejak era ’70-an, punya daftar filmografi yang panjang, dan masih eksis hingga kini. Kini keduanya disatukan kembali dalam satu layar (sebelumnya di Ajooba tahun 1991) lewat peran yang keduanya sama-sama unik. Amitabh yang berusia asli 75 tahun memerankan pria berusia 102 tahun, sementara Rishi yang aslinya 65 tahun memerankan sang putra yang berusia 75 tahun. Film unik bertajuk 102 Not Out (102NO) ini merupakan karya debut layar lebar dari penulis puisi, Saumya Joshi, yang mana ini merupakan adaptasi dari drama panggung sukses karyanya sendiri berjudul sama, dan disutradarai oleh Umesh Shukla (OMG: Oh My God!). Sebelum jatuh ke tangan Rishi, perannya tersebut sebenarnya akan diperankan aktor Paresh Rawal tapi kemudian mengundurkan diri karena kesibukannya setelah terpilih sebagai anggota parlemen India dari partai Bharatiya Janata Party asal Lok Sabha. Namun menurut saya Rishi adalah pilihan yang jauh lebih tepat dalam membawakan peran tersebut. Apalagi status kelegendarisan Rishi yang jelas menaikkan daya tarik 102NO.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Truth or Dare


Jason Blum lewat bendera Blumhouse terus mewujudkan berbagai ide-ide horor/thriller liar dengan budget kecil tapi berhasil mencetak angka box office berlipat-lipat. Sebut saja Insidious, Sinister, The Purge, Get Out, dan Happy Death Day. Upaya terbarunya adalah Truth or Dare (ToD). Berawal dari ide Jeff Wadlow (Cry Wolf, Prey, Kick-Ass 2) yang langsung mendapatkan lampu hijau produksi dari Jason Blum setelah hanya mem-pitch judul dan adegan pembuka, ToD memadukan permainan klasik ‘truth or dare’ dengan elemen horor supranatural ala Final Destination dan Wishmaster (terakhir elemen serupa digunakan juga oleh Wish Upon). Perpaduan yang cukup menarik bukan? Apalagi sudah lama kita tidak dibuat tegang oleh perburuan malaikat maut yang bisa terjadi kapan saja seperti di Final Destination. Naskahnya disusun Wadlow bersama Christopher Roach (Non-Stop), Michael Reisz (serial Boston Legal dan Shadowhunters: The Mortal Instruments), dan Jillian Jacobs, ToD didukung performa dari bintang-bintang muda seperti Lucy Hale yang kita kenal lewat Scream 4, Tyler Posey dari serial Teen Wolf, Violett Beane dari serial The Flash, dan Nolan Gerard Funk dari serial Glee dan Arrow.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 29, 2018

Do(s)a, Original Webseries Indonesia-Malaysia-Singapura
Roy Marten Kepalai Geng Penyelundupan
Indonesia-Malaysia

Geliat film Indonesia sejatinya merupakan salah satu yang terdepan di Asia Tenggara. Maka tak heran jika beberapa negara tetangga melirik insan perfilman Indonesia untuk berkolaborasi. Setelah kolaboraSEA yang digalang oleh aplikasi streaming Tribe lewat Gantung yang dibintangi Randy Pangalila, Brandon Salim, Mentari de Marelle, dan Gita Sucia, satu lagi produksi bersama negara tetangga, Malaysia dan Singapura, menggandeng sineas, bintang, dan kru Indonesia. Kali ini giliran sutradara Ifa Isfansyah kembali bekerja sama dengan penulis naskah Salman Aristo setelah Sang Penari (2011) untuk miniseri orisinil bertajuk DO(S)A. Di jajaran cast ada nama-nama besar dari ketiga negara, mulai Ashraf Sinclair, Remy Ishak, Datuk M. Nasir (Malaysia), Roy Marten, Reuben Elishama, Hannah Al Rashid, Maudy Koesnaedi, Danielle Sya, Hisyam Hamid, hingga Shenty Feliziana (Singapura). Dengan penanganan aksi dari Cecep Arif Rahman (The Raid 2: Berandal), mini seri sepanjang delapan episode ini begitu menggugah untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 26, 2018

The Jose Flash Review
Avengers: Infinity War

Perjalanan delapan belas judul film Marvel Cinematic Universe (MCU) selama 10 tahun terakhir akhirnya sampai pada satu titik yang dilabeli sebagai akhir dari fase ketiga. Avengers: Infinity War (AIW) yang menyatukan dua puluh karakter superhero ke dalam satu layar ini dinobatkan sebagai crossover paling ambisius sepanjang sejarah perfilman. Dengan bangunan konsep besar yang perlahan terkuak dari film ke film, penobatan ini sama sekali tidak berlebihan. Penonton dan terutama para fans setia tentu sangat menantikan grand desain seperti apa yang sesungguhnya di balik delapan belas film yang sudah menghibur dan mengundang decak kagum dengan berbagai variasi karakteristik masing-masing. Tak heran jika AIW menjadi film yang paling diantisipasi di tahun 2018 ini, bahkan belum sampai hari pertama perilisan saja sudah memecahkan rekor sold-out untuk ribuan pertunjukan di seluruh dunia. Masa depan franchise pun sangat bergantung pada satu film ini, baik faktor semua keputusan yang diambil untuk ditampilkan di film ini maupun angka penghasilannya kelak. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 12, 2018

The Jose Flash Review
Rampage

Masih ingat video game berjudul Rampage di konsol Atari, Nintendo, Sega, atau komputer PC era ’80-an? Ya, pemain bisa memilih memainkan karakter George, King Kong raksasa, Lizzie, kadal raksasa, atau Ralph, serigala raksasa, untuk menghancurkan kota demi naik level. Game yang terus berevolusi hingga era 2000-an ini akhirnya berhasil diyakinkan oleh Warner Bros. untuk difilmkan sejak 2009, seiring dengan akuisisi sang produsen, Midway Games oleh mereka senilai US$ 33 juta. Tahun 2011 rencana pengembangan film layar lebarnya pun diumumkan dengan Dwayne ‘The Rock’ Johnson dipilih sebagai pemeran utama, sementara Brad Peyton dipinang untuk duduk di bangku sutradara. Adapun ini merupakan kali ketiga Johnson bekerja sama dengan Peyton setelah Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas. Lini pemeran pendukung pun kemudian diisi oleh nominee Oscar 2017 untuk kategori Best Supporting Actress di Moonlight sekaligus salah satu Bond girl di Skyfall, Naomie Harris, Malin Akerman (Watchmen, Rock of Ages), Jake Lacy (Carol, Miss Sloane), dan Joe Manganiello (Magic Mike). Dengan jadwal rilis hanya beberapa minggu setelah Pacific Rim: Uprising yang bertema serupa, Rampage punya lebih banyak ‘daya jual’ yang sebenarnya cukup menjanjikan tontonan blockbuster yang dahsyat di balik tipikal film Dwayne Johnson yang mungkin bisa menyebabkan antipati dari beberapa penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 9, 2018

The Jose Flash Review
Jelita Sejuba:
Mencintai Kesatria Negara

Mungkin banyak dari kita yang pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi istri seorang prajurit negara. Harus sering ditinggal dinas di berbagai lokasi yang jauh dalam jangka waktu lama, belum lagi ditambah tidak ada jaminan pasti akan pulang dalam kondisi selamat atau tidak. Namun agaknya belum banyak yang benar-benar mengetahui yang sesungguhnya selain mereka yang pernah menjalani sendiri atau punya kenalan keluarga prajurit. Pemikiran inilah yang membuat produser eksekutif Krisnawati tergerak untuk mengangkatnya ke sebuah film. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Blackmail
[Blackमेल]

Tak banyak genre komedi gelap atau black comedy hadir di sinema Hindi. Maka apa yang ditawarkan Abhinay Deo lewat Delhi Belly (2011) membawa kesegaran tersendiri. Terbukti tak hanya dihujani pujian dari para kritikus tapi juga mencetak box office yang tergolong super hit (menghasilkan ₹100 crore dari budget ‘hanya’ ₹25 crore). Setelah bermain-main dengan genre action thrillre lewat Game dan Force 2, tahun 2018 ini Deo kembali ke akarnya lewat Blackmail. Didukung aktor sekaliber Irrfan Khan (Life of Pi, Jurassic World, Slumdog Millionaire, dan The Lunchbox), Kirti Kulhari (Shaitan, Pink), Arunoday Singh (Jism 2, Mohenjo Daro), Omi Vaidya (3 Idiots), hingga Anuja Sathe (Bajirao Mastani), Blackmail lagi-lagi menjanjikan ide cerita yang sederhana tapi menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 8, 2018

The Jose Flash Review
A Quiet Place


Selama ini kita mengenal nama John Krasinski sebagai aktor dari serial TV populer, The Office, atau berbagai film drama romantis seperti It’s Complicated dan Something Borrowed. Siapa sangka ternyata sebenarnya ia pernah duduk di bangku penyutradaraan meski untuk film-film kecil dengan peredaran terbatas, yaitu Brief Interviews with Hideous Men (2009) dan The Hollars (2016). Namun statusnya sebagai sutradara agaknya naik kelas di tahun 2018 ini lewat film mayor pertamanya, A Quiet Place (AQP), sebuah thriller hasil ide dari Bryan Woods dan Scott Beck yang sempat dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh naskah terbaik tahun 2017 versi daftar Tracking Board. Krasinski lantas menulis ulang naskah yang tadinya hanya punya satu kalimat dialog tersebut dan menggandeng sang istri di kehidupan nyata, Emily Blunt untuk mengisi peran utama bersama dengan dirinya, didukung aktris cilik tuna rungu, Millicent Simmonds yang belum lama ini kita lihat di Wonderstruck dan Noah Jupe yang sempat kita lihat penampilannya di Wonder. Ditambah Michael Bay yang ada di jajaran produser, AQP menjadi sebuah sajian original (non-franchise) yang menarik perhatian para penggemar genre horor maupun thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 21, 2018

The Jose Flash Review
Pacific Rim: Uprising

Meski Hollywood tergolong terdepan dalam hal visual effect, tapi tema mecha (robot) dan kaiju (monster raksasa) agaknya kurang begitu populer di Amerika Utara jika dibandingkan negara-negara Asia, terutama Jepang. Di saat Jepang punya puluhan judul franchise di tema tersebut, Amerika hanya punya Transformers (itupun sebenarnya hasil kerjasama Amerika dan Jepang) yang benar-benar bisa dianggap punya pengaruh besar selama beberapa dekade dan sukses secara komersial. Maka sebenarnya adalah langkah berani ketika Legendary Pictures memberi lampu hijau atas konsep franchise baru yang disusun oleh Travis Beacham dan kemudian diperkuat oleh Guillermo del Toro yang dikenal sebagai master of creature modern untuk menantang kedigdayaan Transformers dengan budget mencapai US$ 190 juta. Pendapatannya di Amerika Utara saja mungkin memang ‘hanya’ US$ 101.8 juta, tapi siapa sangka mampu mencapai US$ 309.2 juta di pasar internasional, termasuk Cina yang menyumbangkan box office terbesar, yaitu mencapai US$ 114.3 juta sendiri. Sebuah kasus langka yang tidak boleh dianggap remeh begitu saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 20, 2018

The Jose Flash Review
Sherlock Gnomes

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Raid

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Wrinkle in Time

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, March 18, 2018

The Jose Flash Review
The Strangers: Prey at Night

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 14, 2018

The Jose Flash Review
Love for Sale

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Game Night

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Winchester

Nama Winchester Mystery House yang berdiri di San Jose, California sudah menjadi salah satu rumah hantu paling populer di Amerika Serikat. Dimiliki oleh Sarah Winchester, janda bos pabrik senjata William Wirt Winchester, rumah tersebut konon sudah dihantui oleh arwah-arwah korban tewas dari senjata produksi Winchester sejak pertama kali dibangun pada era 1880-an. Keunikannya terletak pada bentuk yang bak labirin dengan berbagai ruangan rahasia. Pembangunannya pun terus dikerjakan siang-malam selama 38 tahun dan baru berhenti tepat pada hari kematian Sarah Winchester tahun 1922. Hingga kini dibuka untuk umum sebagai atraksi rumah berhantu, rumah Winchester telah menjadi inspirasi banyak budaya pop seperti komik Swamp Thing karya Alan Moore, serial TV Superboy, hingga video game The Evil Within. Namun selama ini belum ada satu pun film yang secara resmi mengambil kisah asli Sarah Winchester hingga hak yang dipegang oleh Hammer Films lewat divisi Exclusive Media memutuskan untuk memproduksinya bersama Imagination Design Works. Peter dan Michael Spierig atau yang lebih dikenal sebagai The Spierig Brothers (Daybreakers, Predestination, Jigsaw) ditunjuk untuk menyusun naskahnya bersama Tom Vaughan sekaligus menyutradarai. Jajaran cast-nya tak main-main. Mulai aktris veteran pemenang Oscar, Helen Mirren (The Queen, RED), Jason Clarke (The Great Gatsby, Terminator Genisys, Dawn of the Planet of the Apes), dan Sarah Snook (Predestination, The Dressmaker). Dari sumber materi dan nama-nama tersebut, Winchester sebenarnya menjanjikan sebuah sajian horor berkualitas.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 10, 2018

The Jose Flash Review
Sekala Niskala
[The Seen and Unseen]

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 9, 2018

The Jose Flash Review
Tomb Raider

Adaptasi video game ke layar lebar sudah punya reputasi yang kurang baik. Maka kesuksesan komersial Lara Croft: Tomb Raider (2001) yang direpresentasikan dengan sempurna oleh Angelina Jolie dan mengumpulkan lebih dari US$ 274 juta di seluruh dunia membawa titik cerah tersendiri. Sayang sekuelnya, Lara Croft: Tomb Raider: The Cradle of Life (2003) dianggap gagal secara box office meski sebenarnya masih menghasilkan US$ 156.5 juta di seluruh dunia dari budget sebesar US$ 95 juta. Installment ketiga yang sebenarnya masih bisa dilakukan dengan penghasilan demikian akhirnya benar-benar dibatalkan ketika Angelina Jolie menyatakan tidak lagi tertarik untuk memerankan sosok Lara Croft. Setelah hak adaptasinya berpindah dari Paramount ke MGM, rencana reboot menjadi pilihan yang tepat. Apalagi versi video game-nya juga mengalami reboot pada tahun 2013 silam yang lantas menjadi pijakan dari versi tahun 2018 dengan judul Tomb Raider (TR). Sutradara asal Norwegia, Roar Uthaug (The Wave) dipercaya untuk menangani, sementara aktris Swedia, Alicia Vikander (Ex Machina, The Danish Girl) dipilih untuk merepresentasikan sosok sang penjarah makam yang baru. Pemilihan Alicia pun tak lepas dari kontroversi mengingat jelas berbeda jauh dari Angelina Jolie. Namun bagaimana pun tak adil rasanya jika tak menyaksikan terlebih dahulu aksinya secara langsung baru memutuskan mana yang lebih cocok menghidupkan sosok Lara Croft.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 8, 2018

The Jose Flash Review
Early Man

Animasi dengan teknik stop-motion memang punya pesonanya tersendiri. Dibuat dari ‘boneka-boneka’ asli yang digerakkan secara manual per frame membuatnya tampak nyata sekaligus indah. Prosesnya yang relatif lebih rumit dan memakan waktu lebih lama dari animasi 3D komputer membuatnya terkesan jarang dibuat. Mungkin hanya Aardman Animations dari Inggris yang secara konsisten melahirkan karya animasi stop-motion. Bahkan beberapa di antaranya mampu mewakili pop culture pada eranya, seperti Wallace & Gromit dan Shaun the Sheep. Setelah terakhir tahun 2015 silam sukses dengan Shaun the Sheep Movie, baik secara komersial maupun resepsi kritikus, tahun 2018 ini mereka kembali mencoba peruntungan lewat materi baru yang mengangkat tema kehidupan prasejarah dan ‘mengawinkannya’ dengan olah raga sepak bola. Film bertajuk Early Man (EM) kembali dipercayakan kepada Nick Park (Chicken Run dan film-film Wallace & Gromit) dengan menggandeng nama-nama populer seperti Eddie Redmayne, Tom Hiddleston, Maisie Williams, Timothy Spall, dan Richard Ayoade. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, March 4, 2018

The Jose Flash Review
Death Wish [2018]

Tema vigilante di era sekarang memang sudah bukan menjadi sesuatu yang baru di perfilman dunia. Sudah puluhan bahkan ratusan kisah dan tokoh vigilante coba dihadirkan. Mulai dari kaum ‘kecil’ seperti seorang supir taxi di Taxi Driver, ayah yang berniat membalaskan dendam keluarganya di Taken atau John Wick, hingga superhero wannabe seperti Kick-Ass. Jauh sebelum kaum vigilante yang ada, sosok Charles Bronson sebagai arsitek bernama Paul Kersey yang menjadi salah satu ikon vigilante paling populer dan dihormati hingga saat ini sejak pertama kali film bertajuk Death Wish dirilis tahun 1974. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Brian Garfield ini kemudian berkembang menjadi franchise dengan lima seri dan kini mendapatkan kesempatan untuk di-remake di bawah arahan Eli Roth yang kita kenal lewat film-film kental dengan kekerasan, kesadisan, dan darah seperti Cabin Fever, Hostel, The Green Inferno, dan terakhir, Knock Knock. Aktor laga veteran, Bruce Willis, dipercaya menggantikan sosok legendaris Charles Bronson. Didukung Vincent D’Onofrio, Elisabeth Shue, Dean Norris, dan debut menjanjikan dari Camila Morrone. Tentu dengan adanya nama Roth dan Willis, Death Wish (DW) versi 2018 menjadi remake yang menjanjikan. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 3, 2018

The Jose Flash Review
Loving Vincent

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 2, 2018

The Jose Flash Review
Benyamin Biang Kerok

Sukses melahirkan kembali grup lawak Indonesia legendaris Warkop lewat Warkop DKI Reborn, membuat Falcon Pictures melirik legenda-legenda Indonesia lainnya untuk di-‘lestarikan’. Pilihan berikutnya jatuh kepada komedian yang kental dengan budaya Betawi sekaligus penyanyi, Benyamin S. Dengan konsep yang tak berbeda jauh dari yang dilakukan lewat Warkop DKI Reborn, dipilihlah judul Benyamin Biang Kerok (BBK) yang juga merupakan judul salah satu film paling ikonik Alm. Benyamin S. pada tahun 1972. Aktor watak nomor satu saat ini di Indonesia, Reza Rahadian, ditunjuk untuk memerankan sosok titular alias Pengki, didukung model muda, Delia Husein yang mana ini merupakan debut aktingnya, Meriam Bellina, komika Adjis Doaibu, Aci Resti, Rano Karno, Qomar, Billa Barbie, Lydia Kandou, dan banyak lagi bintang-bintang yang dihadirkan untuk meramaikan. Dari naskah yang disusun Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Talak 3, Kartini, Dear Nathan, Yowis Ben), Senoaji Julius (sutradara Turis Romantis), dan Hilman Mutasi (5 cm, Mama Cake, Coboy Junior The Movie), giliran Hanung Bramantyo yang dipercaya mengerjakan genre dan konsep yang selama ini menjadi spesialisasi Anggy Umbara.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 1, 2018

The Jose Flash Review
Red Sparrow

Jauh sebelum isu women empowerment menjadi trend di Hollywood selain diversity, genre spionase sebenarnya sudah sering memberikan ruang bagi wanita untuk beraksi. Mulai dari yang klasik macam Mata Hari yang diperankan oleh Greta Garbo, hingga modern seperti trio Charlie’s Angels, Salt yang dibintangi Angelina Jolie, hingga yang belum lama ini beredar, Atomic Blonde yang dibintangi Charlize Theron. Belum lagi jika memperhitungkan tema yang lebih luas, femme fatale yang mana termasuk Anne Parillaud di La Femme Nikita, Bridget Fonda di The Assassin, Charlize Theron di Aeon Flux, Scarlett Johansson di seri-seri MCU, Ghost in the Shell, dan Lucy. Namun memanfaatkan tema women empowerment yang kian marak, satu lagi sosok mata-mata wanita seksi tapi berbahaya dihadirkan, Red Sparrow (RS). Diangkat dari novel karya Jason Matthews berjudul sama yang dirilis tahun 2013 silam, hak diangkat ke film sudah dikantongi sebelum novelnya dirilis di pasaran. Bahkan kontrak untuk sekuel bukunya sudah dikantongi oleh Matthews. Francis Lawrence (sutradara spesialis music video yang lantas dikenal di layar lebar lewat Constantine, I Am Legend, Water for Elephants, The Hunger Games: Catching Fire, serta Mockingjay - Part 1 dan 2) yang dipercaya duduk di bangku sutradara langsung menggandeng Jennifer Lawrence yang dianggap cocok mewakili sosok Dominika Egorova alias sang Red Sparrow setelah sukses bekerja sama di seri-seri The Hunger Games. Didukung pula oleh Joel Edgerton (The Great Gatsby), Matthias Schoenaerts (The Danish Girl), Charlotte Rampling (45 Years, Assassins Creed), Ciarán Hinds (Tinker Tailor Soldier Spy), hingga Jeremy Irons.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 26, 2018

The Jose Flash Review
Yowis Ben

Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam kebudayaan, karakteristik suku bangsa, dan bahasa tentu menjadikan kita juga kaya akan potensi untuk diangkat ke dalam medium film. Setelah Makassar terbukti punya loyalitas terhadap karya-karya asli daerahnya dengan kesuksesan komersial di wilayahnya sendiri, seperti Uang Panai, Jawa sebagai salah satu suku terbanyak di Indonesia seharusnya juga punya antusiasme karya daerah yang besar. Setelah beberapa tahun lalu ada Punk in Love (2009) yang cukup kental menggunakan Bahasa Jawa Timuran, tahun ini Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak, komika dan YouTubers asal Malang, mendapatkan kesempatan dari Kharisma StarVision untuk kembali mencoba peruntungan mengangkat lokalitas Jawa Timur ke kancah perfilman nasional. Didampingi oleh Fajar Nugros, sutradara yang sudah melahirkan Cinta di Saku Celana, Cinta Brontosaurus, Cinta Selamanya, dan Moammar Emka’s Jakarta Undercover, dari naskah yang disusun oleh Gea Rexy (Dear Nathan) dan Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Love and Faith, Talak 3, Naura & Genk Juara the Movie, Kartini, Dear Nathan, dan Benyamin Biang Kerok), Yo Wis Ben (bahasa Indonesia: Ya Sudah Biarkan - YWB) diramaikan oleh mantan penyanyi cilik Joshua Suherman, Brandon Salim, Tutus Thomson, Cut Meyriska, dan Richard Oh. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Post

Salah satu skandal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat adalah skandal Watergate di era pemerintahan Nixon. Saking populernya, ada beberapa judul film yang berkaitan dengan skandal tersebut dari berbagai angle. Mulai yang sifatnya serius dengan keakuratan sejarah seperti All the President’s Men (1978) yang diganjar 8 nominasi Oscar dan memenangkan 4 di antaranya, hingga yang sekedar hiburan ringan dengan latar belakang Gedung Putih era pemerintahan Nixon lewat Dick (1999). Paska syuting Ready Player One, Steven Spielberg sangat antusias untuk menggarap naskah dari Liz Hannah (yang kemudian ditulis ulang oleh Josh Singer - The Fifth Estate, Spotlight) tentang peranan pers dalam membongkar skandal besar Amerika tersebut. Film bertajuk The Post ini tergolong kilat. Pengambilan gambar hanya dilakukan selama 2 bulan saja. Bahkan Spielberg sudah punya first cut hanya dalam tempo 2 minggu setelahnya. Antusias Spielberg begitu besar mengingat topiknya yang dianggap relevan dengan kondisi pemerintahan dan media Amerika Serikat saat ini. Didukung aktor-aktris sekaliber Meryl Streep, Tom Hanks, dan Sarah Paulson, agaknya The Post juga mengejar untuk masuk bursa musim award 2018. Hasilnya tak sia-sia. Ia berhasil mendapatkan enam nominasi Golden Globes dan dua nominasi Oscar, yaitu untuk kategori Best Motion Picture of the Year dan nominasi Best Actress in a Leading Role ketujuh belas kalinya bagi Meryl Streep.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 23, 2018

The Jose Flash Review
Lady Bird

Selama ini kita mengenal sosok Greta Gerwig sebagai aktris saja, seperti di film yang melambungkan namanya, Frances Ha (dimana dia juga menyusun naskahnya sendiri), disusul Jackie dan 20th Century Women. Siapa sangka ia ternyata punya bakat sebagai sutradara. Dimulai dari film kecil yang beredar terbatas bersama Joe Swanberg, Nights and Weekends (2008), langkahnya semakin melaju lewat film keduanya sebagai sutradara yang sekaligus ia susun sendiri naskahnya, Lady Bird (LB). Sebuah drama komedi coming-of-age yang sempat diduga semi-otobiografi dari dirinya, terutama gara-gara setting ibukota negara bagian California, Sacramento yang memang menjadi kota kelahiran Gerwig, tapi ditepis oleh dirinya sendiri. Dibintangi nominee Oscar, Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Odeya Rush, Lucas Hedges, dan Timothée Chalamet, siapa sangka kali ini menjadi keberuntungan bagi Gerwig. Dipuji banyak pihak, laris secara komersial (konon rekor pendapatan rilisan A24 tertinggi), dan bahkan masuk berbagai bursa ajang penghargaan. Tak terkecuali Oscar 2018 dimana ia dinominasikan untuk 5 kategori utama, termasuk Best Motion Picture of the Year. Setelah penantian yang cukup lama akhirnya LB secara resmi rilis di bioskop-bioskop Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, February 21, 2018

The Jose Flash Review
Peter Rabbit

Meski usianya termasuk yang paling uzur (pertama kali muncul taun 1902), Peter Rabbit rupanya tidak seberuntung karakter-karakter dari buku cerita anak-anak klasik lainnya seperti Smurfs dan Paddington. Sempat dipinang oleh Disney pada 1936 tapi ditolak oleh sang kreator sendiri, Beatrix Potter. Bahkan setelah biopik Beatrix sendiri dibuat, Miss Potter (2006) dengan bintang Renée Zellweger dan Ewan McGregor, barulah sang kelinci dengan pakaian manusia ini mendapatkan kesempatan menyambangi layar lebar di tangan Sony Pictures Animation. Adalah Will Gluck (Easy A, Friends with Benefits, dan remake Annie) yang dipilih untuk menggarapnya sebagai sutradara sekaligus penyusun naskah adaptasi bersama Rob Lieber (Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day). Didukung oleh Rose Byrne (Renai Lambert di franchise Insidious dan Moira MacTaggert di franchise X-Men), Domhnall Gleeson (Bill Weasley di franchise Harry Potter, Ex-Machina, dan General Hux di franchise Star Wars), voice talent mulai host kondang, James Corden, Sia, Margot Robbie, Elizabeth Debicki, hingga Daisy Ridley, versi layar lebar Peter Rabbit (PR) sempat dikritik habis-habisan ketika baru merilis trailer tapi justru mendapatkan sambutan baik ketika filmnya benar-benar dirilis. Maka pengembangan franchise ini bak Paddington dan Smurfs masih punya harapan yang cukup cerah.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 19, 2018

The Jose Flash Review
Aiyaary
[अय्यारी]

Neeraj Pandey tergolong sutradara, produser, sekaligus penulis naskah yang berbakat dan beruntung. Film debutnya sebagai sutradara, A Wednesday!, dihujani pujian, diikuti Special 26, Baby, dan M.S. Dhoni: The Untold Story yang juga menuai pujian sekaligus sukses secara komersial. Sebagai film layar lebar kelimanya, Pandey memilih sebuah drama thriller spionase beraroma politik yang konon diinspirasi dari skandal perumahan Adarsh Ghotla, bangunan setinggi 31 lantai untuk janda korban perang dan anggota Kementerian Pertahanan India di Mumbai. Sebuah skandal yang terbongkar tahun 2010 silam dan memaksa Ashok Chavan, Kepala Menteri Maharashtra, mundur dari jabatannya. Dibintangi Sidharth Malhotra, Manoj Bajpayee (Gangs of Wasseypur, Sarkar 3), Rakul Preet Singh (aktris Telugu yang dikenal lewat Nannaku Prematho, Spyder, dan Venkatadri Exrpress), Anupam Kher (aktor veteran Hindi yang pernah tampil di beberapa film Hollywood seperti Silver Lining Playbook dan The Big Sick), Adil Hussain (English Vinglish, Life of Pi), hingga Kumud Mishra (Badlapur, Airlift, Sultan, Rustom, M.S. Dhoni: The Untold Story, dan terakhir di Tiger Zinda Hai), film yang diberi tajuk Aiyaary (samaran/tipuan) ini akhirnya resmi dilempar ke pasaran setelah dua kali mengalami penundaan untuk menghindari persaingan dengan film-film Bollywood high-profile, Padmaavat dan Padman.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 13, 2018

The Jose Flash Review
Black Panther

Meski sudah tampil sejak pertama kali tahun 1966 di komik Fantastic Four Vol. 1 issue 52, rupanya jalan Black Panther untuk mendapatkan film layar lebar sendiri cukup panjang. Sempat ada rencana tahun 1992 dengan bintang Wesley Snipes (bahkan sebelum namanya identik dengan karakter Blade), tapi tak pernah benar-benar membuahkan hasil berarti, kemudian sempat diumumkan sebagai salah satu dari sepuluh film Marvel yang dikembangkan ketika masih bersama Paramount Pictures tahun 2005. Baru ketika MCU (Marvel Cinematic Universe) benar-benar terbangun dengan solid, ia mendapatkan lampu hijau untuk punya film sendiri. Tentu saja setelah perkenalan di Captain America: Civil War (2016) yang bertujuan memperkenalkan sang pangeran Wakanda sehingga tak sulit untuk mempromosikan film berdiri sendirinya kelak. Ini merupakan salah satu bukti bagaimana di tangan Disney, MCU sudah didesain dan direncanakan dengan begitu matang serta solid. Sebagaimana film-film ‘tunggal’ MCU lainnya, Black Panther (BP) pun menawarkan keunikan gaya tersendiri. Apalagi dengan isu diversity yang semakin gencar didengungkan di negara asalnya dan juga seluruh dunia, membuatnya terasa dirilis pada era yang tepat untuk menemukan relevansinya. Ryan Coogler (Fruitvale Station, Creed) jelas pilihan yang tak main-main untuk dipercayakan di bangku penyutradaraan dan penyusun naskah, bersama Joe Robert Cole (dua episode American Crime Story: O.J. Simpson) yang juga membuktikan keseriusan Marvel Studios menggarap MCU sesuai dengan relevansi isu global yang seolah menjadi misi Disney secara keseluruhan beberapa tahun terakhir lewat karya-karyanya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 3, 2018

The Jose Flash Review
Hoax

Lahir dari film-film indie membuat seorang Ifa Isfansyah tak serta-merta berhenti menggarap film-film indie yang idealis di tengah perjalanan karirnya sebagai sutradara film-film komersial. Tahun 2012 lalu ia sempat menggarap Rumah dan Musim Hujan, sebuah omnibus multi genre, racikan antara drama keluarga, thriller, dan mistis. Jajaran cast pendukungnya tak main-main. Ada Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Tara Basro, Jajang C. Noer, Aulia Sarah, Permata Sari Harahap, dan Landung Simatupang. Baru sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun 2012, International Film Festival Rotterdam 2013 silam, dan beberapa festival film internasional lainnya, butuh enam tahun bagi Rumah dan Musim Hujan untuk bisa diputar untuk umum secara luas di jaringan-jaringan bioskop Indonesia. Itu pun dengan versi sunting ulang yang dimaksudkan agar lebih relevan dengan penonton saat ini dan menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Lembaga Sensor Film yang akhir-akhir ini sedikit lebih sensitif, termasuk untuk urusan judul yang juga ikut menyesuaikan isu kekinian, Hoax.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 2, 2018

The Jose Flash Review
Downsizing

Tema mengkerdilkan tubuh manusia selama ini lebih sering diangkat sebagai fantasi semata, seperti misalnya di The Incredible Shrinking Woman, Honey, I Shrunk the Kids atau serial kartun Doraemon. Atau film-film bertemakan manusia-manusia kerdil seperti The Borrowers dan Gulliver’s Travels. Mungkin pemikiran kenapa tidak mengaplikasikan ide cemerlang ini ke dalam konteks realita kondisi sosial global saat ini lah yang terbersit dalam benak Alexander Payne (Sideways, The Descendants, Nebraska) lewat Downsizing. Sebuah perpaduan antara drama sosial, romansa, fiksi ilmiah, filosofi hidup, dan sedikit bumbu komedi witty khas Payne. Tak tanggung-tanggung, ada aktor sekaliber Matt Damon, Christoph Waltz, Kristen Wiig, Udo Kier, Rolf Lassgård, hingga aktris asal Thailand yang diganjar nominasi Golden Globe untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik, Hong Chau, digaet untuk mengisi ‘panggung fantasi’ Payne kali ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 27, 2018

The Jose Flash Review
Dilan 1990

Setelah memulai debut penyutradaraan di Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara tahun 2017 lalu, Pidi Baiq tahun ini berkesempatan untuk mengangkat novel terlarisnya, Dilan 1990 ke layar lebar dengan bantuan dari Titien Wattimena di naskah dan Fajar Bustomi di penyutradaraan. Sempat menuai kontroversi ketika Iqbaal Ramadhan dipilih untuk memerankan sosok Dilan, tapi proyek terus berjalan hingga akhirnya siap menyapa para penggemarnya di layar lebar. Didukung pendatang baru Vanesha Prescilla yang menjanjikan, Giulio Parengkuan, Debo Andrios ‘ex Idola Cilik’, Brandon Salim, Refal Hady, Zara JKT48, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan, dan Teuku Rifnu Wikana, Dilan 1990 masih terlihat menjanjikan sajian yang menarik. Tak hanya bagi penonton remaja saat ini tapi juga mereka yang pernah mengalami masa remaja di era ’90-an.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 24, 2018

The Jose Flash Review
Maze Runner: The Death Cure

Trend film yang diadaptasi dari novel young-adult dystopian satu per satu berakhir. Setelah The Hunger Games yang dianggap paling sukses secara pendapatan box office dan Divergent yang bernasib kurang baik setelah terakhir dikabarkan seri terakhirnya akan dibuat hanya untuk konsumsi televisi (disusul aktris utama, Shailene Woodley yang menyatakan mundur dengan keputusan ini), kini tinggal tersisa Maze Runner (MR) yang meski installment kedua, The Scorch Trial (TST) mengalami sedikit penurunan penghasilan, masih bisa dianggap stabil di atas US$ 300 juta. Maka installment pamungkas, The Death Cure (TDC) masih dengan mudah mendapatkan lampu hijau dari Gotham Group, Temple Hill Entertainment, TSG Entertainment, dan tentu saja 20th Century Fox selaku distributor. Berjarak rilis paling lama dari seri terakhir (3 tahun), TDC awalnya sempat dijadwalkan rilis Februari 2017 tapi harus mengalami kemunduran selama setahun setelah aktor utama, Dylan O’Brien mengalami cidera fisik ketika pengambilan gambar. Setidaknya keputusan tetap menjadikan seri terakhir sebagai satu film saja, tak mengikuti trend yang memecahnya menjadi dua bagian, merupakan keputusan bijak dari sutradara Wes Ball mengingat pergerakan plot di dua seri sebelumnya yang sebenarnya sudah terasa terseok-seok. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, January 18, 2018

The Jose Flash Review
Darkest Hour

Ada alasan mengapa Sir Winston Churchill menjadi salah satu tokoh dunia paling penting di era Perang Dunia II. Selain menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris yang kontroversi pada masanya, beliau juga yang membawa Inggris memenangkan Perang Dunia II melawan NAZI Jerman. Jika pertengahan 2017 lalu kita disuguhi kisah penyelamatan tentara Sekutu bersandi Operation Dynamo di film karya Christopher Nolan, Dunkirk, maka kali ini penonton diajak mengenal tokoh yang bertanggung jawab di balik operasi penyelamatan tersebut. Diperankan oleh salah satu aktor paling versatile tapi jarang mendapatkan rekoknisi yang layak, Gary Oldman, kisah Sir Winston Churchill versi Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, The Soloist, Hanna, Anna Karenina, Pan) ini disusun oleh penulis naskah Anthony McCarten (The Theory of Everything). Lily James, Kristin Scott Thomas, dan Ben Mandelsohn turut mendukung performa prima Oldman yang baru saja diganjar piala Golden Globe pertamanya lewat film bertajuk Darkest Hour (DH) ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 17, 2018

The Jose Flash Review
All the Money in the World

Ridley Scott dikenal sebagai sutradara Hollywood yang versatile dalam berkarya. Sulit untuk menemukan benang merah kekhasan dari garapannya tapi kerapkali berhasil menghantarkan tujuan-tujuannya. Mulai sci-fi macam Blade Runner atau Alien, thriller seperti Hannibal, drama periode seperti Gladiator, Kingdom of Heaven, Robin Hood, dan Exodus: Gods and Kings, perang macam Black Hawk Down, biopik seperti American Gangster, hingga drama seperti Thelma & Louise, Matchstick Men, dan A Good Year. Tahun 2017 silam beliau tergolong produktif dengan merilis dua film sekaligus. Setelah Alien: Covenant, All the Money in the World (AtMintW) yang diangkat dari kisah nyata sosok orang Amerika paling kaya, pelopor bisnis minyak di Timur Tengah, J. Paul Getty, berdasarkan buku biografi berjudul Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, siap berkompetisi di musim penghargaan dengan jajaran cast papan atas seperti Michelle Williams, Mark Wahlberg, dan Timothy Hutton. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 16, 2018

The Jose Flash Review
The Commuter

Meski sempat buka suara yang menimbulkan spekulasi akan rencana pensiun dari film aksi, Liam Neeson tampaknya masih bersemangat untuk beraksi di layar lebar. Di usianya yang sudah menjelang 66 tahun, kiprah action hero-nya tergolong terlambat, yaitu sejak film aksi ikonik, Taken (2008) setelah puluhan tahun lebih memilih sebagai aktor watak. Namun Neeson agaknya tidak mau membuang-buang masa keemasan sebagai action hero. Berturut-turut ada The A-Team, Unknown, The Grey, Non-Stop, A Walk Among the Tombstones, Run All Night, serta dua sekuel Taken. Di awal 2018 ini pun ia menggebrak lagi lewat The Commuter yang menandai kolaborasi keempatnya bersama sutradara Jaume Collet-Serra setelah Unknown, Non-Stop, dan Run All Night. Naskahnya disusun bersama Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle (Non-Stop dan upcoming, Rampage), Liam Neeson didampingi oleh Vera Farmiga (The Conjuring), Patrick Wilson (Insidious dan The Conjuring), serta Sam Neill (Jurassic Park). Dari trailer dan materi-materi promosinya, The Commuter yang sudah didevelop sejak tahun 2010 ini menjanjikan aksi-aksi seru khas Neeson dengan bumbu thriller misteri yang bikin penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 15, 2018

The Jose Flash Review
Insidious: The Last Key

Insidious bisa jadi bukti yang paling valid bahwa film horor murah bisa menghasilkan pendapatan box office yang luar biasa besar. Dimulai tahun 2011 sebagai film horor indie berbudget ‘hanya’ US$ 1.5 juta tapi berhasil meraup US$ 97 juta lebih di seluruh dunia, ia segera berkembang menjadi franchise dengan penghasilan yang kian meningkat. Insidious: Chapter 2 yang dirilis tahun 2013 meraup US$ 161.9 juta dari budget US$ 5 juta saja dan Insidious: Chapter 3 pada tahun 2015 masih mampu mengumpulkan US$ 113 juta di seluruh dunia dari budget sekitar US$ 10 juta. Tak perlu waktu lama untuk terus melanjutkan franchise ini sebagaimana The Conjuring yang juga sama-sama menjadi pemimpin pasar franchise horor berbudget rendah di era 2010-an ini. Insidious: The Last Key (ITLK) yang awalnya direncanakan rilis pada Oktober 2017 harus menerima kemunduran perilisan 5 Januari 2018 yang termasuk masa-masa sepi persaingan. Entah strategi apa yang dilancarkan, tapi terbukti sekali lagi ITLK sukses besar memimpin box office di berbagai negara, termasuk Indonesia yang notabene penggemar berat horor. Naskah ITLK masih disusun oleh Leigh Whannell sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Adam Robitel yang pernah cukup memukau pecinta horor lewat The Taking of Deborah Logan dan menuyusun naskah Paranormal Activity: The Ghost Dimension. Karakter ikonik Elise Rainier kembali diperankan oleh Lin Shaye, begitu pula dengan kedua ‘anak buahnya’, Specs yang diperankan Leigh Whannell sendiri dan Tucker yang masih diisi oleh Angus Sampson.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates