Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Thursday, March 30, 2017

The Jose State of Mind
VOD Streaming Service:
A Substitute or a Complement
on How People Watching Movies?

How come people enjoy streaming movies to the max?

Sebagai seorang moviegoers sejak kecil, bioskop dan home video selalu menjadi pilihan utama saya untuk menonton film. Bioskop sebagai format yang menawarkan pengalaman terbaik dalam menikmati film, yang sampai sekarang pun masih menjadi tujuan pembuatan film yang utama. Teknis-teknis pembuatan film termaksimal dimaksudkan untuk bisa dinikmati di layar bioskop dengan fasilitas mumpuni. Sementara home video menjadi alternatif ketika suatu film tak dirilis di bioskop lokal atau koleksi untuk binge-watch film-film paling favorit kapan saja. Apalagi dengan dukungan perangkat home theatre yang cukup mendukung (setidaknya ada LCD 42" dan tata suara 5.1). Meski tak sedahsyat di bioskop, tetapi tetap terasa maksimal dengan perbandingan ukuran ruangan. Channel khusus movie di TV berbayar pun tak pernah membuat saya berpikir untuk berlangganan, karena toh kebanyakan sudah saya tonton di bioskop. Yang belum ditonton pun saya lebih memilih format DVD karena faktor fleksibelitas waktu. Dua pilihan format ini saya pegang teguh bahkan setelah era digital dimana film-film bisa dinikmati secara streaming ataupun digital download.

Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Bid'ah Cinta


Jika tema cinta beda agama masih menjadi isu sensitif kendati sudah sering diangkat (dengan ending serta konklusi yang masih lebih sering ‘main aman’), bagaiman dengan cinta sesame agama tapi beda aliran? Dilema, bahkan konflik yang tak kalah pelik itulah yang coba dihadirkan oleh Nurman Hakim (3 Doa 3 Cinta, Khalifah, dan The Window) lewat Bid’ah Cinta (BC) yang diproduksi di bawah bendera Kaninga Pictures. Dengan naskah yang disusunnya sendiri bersama Zaim Rofiqi dan Ben Sohib, BC menghadirkan Ayushita, Dimas Anggara, dan Ibnu Jamil, dengan dukungan dari Dewi Irawan, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Fuad Idris, Ade Firman Hakim, Jajang C. Noer, Tanta Ginting ,Khiva Iskak, dan mantan bintang cilik yang melanjutkan kerjasama dengan Nurman setelah The Window, Yoga Pratama.

The Jose Flash Review
Trinity, The Nekad Traveler


Traveling yang dulunya dianggap sebagai hobi eksklusif kian hari kian me-‘rakyat’, terutama setelah ada blog, low-cost carrier, dan social media. Salah satu ikon traveling asal Indonesia yang paling populer saat ini adalah Trinity, seorang traveling blogger yang sudah menelurkan delapan buku bertemakan traveling best seller, termasuk lima di antaranya seri The Naked Traveler. Buku-buku ini dianggap informatif, menghibur, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk turut menjadi traveler, bukan sekedar wisatawan (perbedaan keduanya sudah sering dibahas di berbagai media bertemakan traveling). Tinggal menunggu waktu saja hingga ada PH yang tertarik mengangkatnya ke layar lebar. Adalah Tujuh Bintang Sinema yang pernah memproduksi Air Mata Surga tahun 2015 lalu yang berhasil mendapatkan hak adaptasi ke layar lebar dengan judul Trinity, The Nekad Traveler (TTNT) sebagai karya keduanya. Rahabi Mandra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga, Hijab, 2014: Siapa di Atas Presiden, Senjakala di Manado, From London to Bali, dan upcoming, Night Bus) ditunjuk untuk mengadaptasi naskah, sementara Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak Trilogy, Air Terjun Pengantin, 5 cm, Supernoba: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Aktris muda yang pernah mempesona kita di Perahu Kertas, Maudy Ayunda, dipasang untuk memerankan sosok Trinity, didukung Hamish Daud Wyllie, Babe Cabiita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, dan cameo dari Tompi.

The Jose Flash Review
Badrinath Ki Dulhania
[बद्रीनाथ की दुल्हनिया]


Jika memperhatikan tema sinema Hindi beberapa tahun terakhir, Anda akan kerap menemukan tema feminisme atau women empowerment. Selain tingginya kasus pelecehan terhadap wanita yang sempat menjadi isu internasional yang hangat, masyarakat India tampaknya masih banyak yang menganut budaya tradisional yang cenderung memposisikan wanita di bawah kaum pria. Sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang tahun 2014 lalu sukes menghantarkan film komedi romantis, Humpty Sharma Ki Dulhania (HSKD), menjadi box office besar dan semakin melambungkan pasangan Varun Dhawan dan Alia Bhatt setelah breathrough performance di Student of the Year, turut mengikuti jejak trend ini. Produser Karan Johar memberikan lampu hijau kepada Khaitan untuk mengembangkan HSKD menjadi sebuah franchise. Badrinath Ki Dulhania (BKD – yang dalam bahasa Inggris punya arti harafiah ‘The Bride of Badrinath’) bukanlah sebuah sekuel langsung dari HSKD meski masih mengusung Dhawan-Bhatt sebagai pasangan utama. Lebih merupakan kesatuan franchise dengan persamaan tema tapi cerita yang sama sekali berbeda, seperti halnya Kahaani dan Jolly LLB.

Sunday, March 19, 2017

The Jose Flash Review
Hidden Figures


Oscar 2016 yang dicap ‘OscarSoWhite’ membuat studio-studio Hollywood berlomba-lomba mengangkat tema anti-racism, khususnya terhadap kaum kulit hitam, dengan harapan dilirik Oscar 2017 yang seolah disengaja mengusung tema diversity. Selain Moonlight yang dengan masif dipromosikan oleh distributornya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional, sebenarnya masih ada Hidden Figures (HF) yang mengangkat kisah nyata tiga wanita kulit hitam pertama yang punya andil besar di tahun-tahun awal NASA. Diadaptasi dari novel biografi berjudul sama yang disusun oleh Margot Lee Shetterly, naskahnya disusun oleh Allison Schroeder dan Theodore Melfi yang juga merangkap bangku sutradara. Keduanya tergolong ‘baru’ di layar lebar (mainstream). Melfi sendiri baru dikenal lewat Winding Roads (1999) dan St. Vincent (2014). Namun kualitas mereka tak boleh diremehkan. Terbukti dari nominasi Oscar untuk naskah adaptasi yang mereka susun bersama. Ditambah jajaran aktor-aktris yang menarik, mulai Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, hingga Mahershala Ali yang tahun ini benar-benar angkat nama berkat Moonlight.

Saturday, March 11, 2017

The Jose Flash Review
Silence

Sejak lama saya percaya bahwa agama apa saja awalnya disebarkan bukan dengan pengkotak-kotakan atau pelabelan seperti saat ini. Pengalaman pribadi akan tumbuh menjadi iman yang jauh lebih kuat ketimbang sekedar 'mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya'. Gereja Katolik Roma yang punya sejarah panjang berkali-kali mengalami pergolakan, mulai ajaran yang dijalankan secara puritan hingga fleksibel mengikuti perkembangan jaman seperti saat ini. Salah satu episode yang menjadi 'pelajaran' penting dalam penyebaran agama tertuang dalam novel fiksi historis berjudul Silence (沈黙 / Chinmoku) karya Shūzaku Endō yang pertama kali dipublikasikan tahun 1966. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul sama di tahun 1971 oleh sutradara Masahiro Shinoda. Meski mendapatkan apresiasi kritik internasional, versi Shinoda ini tidak disukai oleh Endō karena perubahan ending yang dianggap mempengaruhi esensi keseluruhan.

Wednesday, March 8, 2017

The Jose Flash Review
Kong: Skull Island


Dalam sejarah perfilman Hollywood, King Kong bisa jadi salah satu sosok monster raksasa tertua. Pertama kali muncul tahun 1933, kemudian di-remake tahun 1976, dan terakhir versi Peter Jackson di tahun 2005. Dari sekian banyak seri dan spin-off, ada satu yang paling menarik; versi versus dengan monster raksasa asal Jepang, Godzilla di King Kong vs Godzilla pada tahun 1962 yang diproduksi oleh Jepang-Amerika Serikat. Versi itulah yang menginspirasi Legendary Pictures untuk kembali mempersatukan keduanya dalam sebuah franchise universe; MonsterVerse. Dimulai dari remake (atau reboot) Godzilla tahun 2014 lalu, installment keduanya siap tayang 2017 ini; Kong: Skull Island (KSI). Rencananya, installment berikut akan tayang tahun 2019 sebagai sekuel dari Godzilla, Godzilla: King of the Monsters dan tahun 2020 lewat Godzilla vs Kong. Dengan penghasilan Godzilla (2014) yang mencapai US$ 529.1 juta di seluruh dunia, Warner Bros. tak ragu untuk menginvestasikan hingga US$ 190 juta untuk KSI (di atas Godzilla yang berbudget US$ 160 juta). Dari naskah yang disusun Dan Gilroy (The Bourne Legacy, Nightcrawler), Max Borenstein (Godzilla 2014), dan Derek Connolly (Jurassic World, Monster Trucks), bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Jordan Vogt-Roberts yang mana ini baru kali keduanya menangani film layar lebar setelah The Kings of Summer. Lini bintangnya meliputi Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John C. Reilly, John Goodman, Toby Kebbell, hingga bintang muda Cina yang baru saja kita lihat aksinya di The Great Wall, Jing Tian.

Tuesday, March 7, 2017

The Jose Flash Review
Galih & Ratna


Cinta adalah universal. Merujuk pada ungkapan tersebut, maka tiap negara dan budaya memiliki sosok pasangan asmara yang mewakili dan melegenda. Jika Inggris punya Romeo dan Juliet yang diadaptasi ke berbagai variasi nama di berbagai negara, Cina punya Sampek-Engtay, maka Indonesia punya Galih dan Ratna, di samping Ramadhan & Ramona, dan era 2000-an, Cinta dan Rangga. Namun sosok Galih dan Ratna yang diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman di film Gita Cinta dari SMA (1979) sudah melekat begitu kuat hingga kini. Maka tinggal menunggu momen yang tepat untuk melanjutkan warisan ke generasi selanjutnya, seperti yang sudah dilakukan Putrama Tuta di Catatan Harian Si Boy untuk franchise klasik Catatan Si Boy. Adalah Lucky Kuswandi, sutradara muda yang kita kenal lewat Madame X (2010) dan Selamat Pagi, Malam (2014) yang beruntung ditunjuk untuk menggarap Galih dan Ratna versi generasi milenial bertajuk Galih & Ratna (G&R). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lucky juga menyusun naskahnya bersama Fathan Todjon. Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter acara musik di salah satu stasiun TV nasional dan sempat menunjukkan kemampuan aktingnya di Koala Kumal bersama Raditya Dhika, ditunjuk untuk mewakili sosok Ratna, sementara Refal Hady yang dikenal lewat serial TV dipercaya menghidupkan karakter Galih. Tak hanya film, G&R juga mencoba mempopulerkan kembali lagu tema yang sempat begitu populer dengan mempercayakannya kepada trio GAC.

Monday, March 6, 2017

The Jose Flash Review
Museum
[ミュージアム]

Tokyo Metropolitan Police sedang digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai sadis yang meninggalkan petunjuk surat berisi ‘hukuman’ yang diterima oleh para korban. Detektif Hisashi Sawamura dan partnernya yang masih muda dan baru, Junichi Nishino yang menyelidiki kasus ini menemukan pola pada korban yang mengarah kepada kasus pembunuhan seorang gadis cilik beberapa tahun yang lalu. Dari pola tersebut, Detektif Hisashi baru sadar bahwa sang istri, Haruka, bisa jadi korban berikutnya. Semakin dipicu oleh waktu, Detektif Hisashi nekad menangkap sang pelaku dengan caranya sendiri.

Friday, March 3, 2017

The Jose Flash Review
Interchange

Untuk urusan kualitas film layar lebar, Indonesia boleh sedikit lebih berbangga karena masih berada di atas rata-rata sinema Malaysia yang lebih banyak dibanjiri film-film drama, komedi, dan horror yang dibuat dengan standard FTV (or even worse). Ini bisa jadi merupakan imbas dari peraturan pemerintah Malaysia yang menentukan kuota layar lebih banyak dan hari tayang minimum untuk film-film lokal mereka, sehingga ada kesan sekedar kejar kuantiti ketimbang kualitas. Namun sesekali tetap ada film yang layak diperhitungkan. Tak hanya dikerjakan dengan teknis sinematik yang layak, tapi juga eksplorasi tema yang tergolong berani untuk industri film yang statusnya masih ‘berkembang’. Setelah horror reliji Munafik yang masuk Indonesia tahun lalu, satu lagi sinema Malaysia yang menyambangi layar lebar kita. Interchange, sebuah thriller investigatif bergaya noir dengan bumbu fantasi yang merupakan joint-venture antara Malaysia (Seeing Eye Films, Sonneratia Capital, APPARAT, MDEC) dan Indonesia (Cinesurya – Fiksi dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love).

The Jose Flash Review
London Love Story 2


Ekspansi Screenplay dari FTV ke layar lebar sejak 2015 lalu patut mendapatkan apresiasi dan layak dianalisis. Bagaimana tidak, kesemua film yang mereka produksi selalu sukses mengundang di atas 500.000 penonton berbondong-bondong. Satu, aktor-aktris andalan mereka terbukti punya fanbase yang kuat dan besar di seluruh penjuru Indonesia. Dua, mereka tahu betul bagaimana selera pasarnya dan bagaimana menjual tepat pada sasarannya. Persetan dengan apa pendapat kritik dan kalangan yang memang bukan target audience, dari produksi ke produksi berikutnya terbukti mengalami perkembangan dan peningkatan di banyak aspek, terutama teknis yang makin sinematis. Produktivitas mereka yang tahun 2016 lalu saja mampu memproduksi tiga judul film (dan kesemuanya sukses secara box office sekaligus berhasil menciptakan istilah-istilah gaul menjadi viral) juga patut diacungi jempol. Tak heran jika di tahun 2017 ini mereka semakin gencar memproduksi film. Baru Januari lalu menelurkan Promise yang sampai saat ini sudah mencatat angka 655.805 penonton, di awal Maret ini mereka sudah meluncurkan sekuel dari salah satu film box office mereka tahun lalu, London Love Story (LLS – mencatat angka 1.124.876 penonton). Bertajuk London Love Story 2 (LLS2), winning team masih tetap dipertahankan; sutradara Asep Kusdinar, penulis naskah Tisa TS, serta primadona mereka; Michelle Ziudith, Dimas Anggara, dan kini diramaikan pula oleh primadona mereka lainnya, Rizky Nazar.

Thursday, March 2, 2017

The Jose Flash Review
Logan

Di antara mutan-mutan di universe X-Men, Wolverine tampaknya menjadi karakter yang paling menarik untuk digali lebih dalam. Apalagi sejak awal sosoknya sudah dihidupkan dengan begitu kuat oleh Hugh Jackman. Tak heran jika Marvel dan 20th Century Fox kemudian membuatkan film stand-alone, tak hanya satu tapi dua sekaligus: X-Men Origins: Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013). Keduanya mengambil setting sekaligus treatment style yang sama sekali berbeda, sejalan dengan rentang hidup karakter Wolverine sendiri yang memang panjang. Kendati banyak kritik yang tidak menyukai kedua versi ini, saya pribadi cukup menikmati dan bahkan banyak adegan-adegan yang memorable dalam ingatan saya sampai saat ini. Saya yakin I'm not the only one. That means that both were not bad attempts at all.

Wednesday, March 1, 2017

The Jose Flash Review
Fabricated City
[조작된 도시]


Varian genre sinema Korea Selatan semakin beragam seiring dengan perkembangan dan penghasilan film-film mereka yang memang signfikan. Bahkan termasuk genre sci-fi yang punya tingkat kerumitan sekaligus kesulitan teknis sehingga sebisa mungkin dihindari sinema-sinema non-Hollywood. Korea Selatan seolah membuktikan level kapasitas mereka kepada penonton dunia. Fabricated City (FC) yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Park Kwang-hyun (dikenal lewat adaptasi drama panggung Welcome to Dongmakgol – 2005 yang sukses besar secara komersial maupun oleh kritik), mencoba menggabungkan tema investigasi pembunuhan, kritik sosial terhadap hukum dan persepsi masyarakat, dengan kecanggihan teknologi cyber. Menggandeng aktor K-drama muda (populer lewat Smile Again), Ji Chang-wook, bintang Miss Granny, Shim Eun-kyung, dan Oh Jung-se (The King of Pigs, How to Use Guys with Secret Tips, dan Petty Romance), FC berhasil melewati angka satu juta penonton di weekend pembukaannya. Di Indonesia FC diimpor oleh CBI Pictures (sebelumnya bernama Jive!) dan tayang mulai 1 Maret 2017 di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates