Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Tuesday, February 28, 2017

The Jose Flash Review
Guardians
[Защитники / Zaschitniki]


Di Hollywood, tema superheroes memang masih cukup mendominasi. Terutama pertarungan dua raksasa Marvel dan DC yang berlomba-lomba menggarap konsep besar universe masing-masing yang membuat tema superhero seolah-olah dibawa ke level superserius, bukan lagi film dengan anak-anak dan remaja sebagai target utama audiens-nya. Tak hanya Hollywood, industri perfilman negara-negara lain juga ada yang coba-coba menggarap film bertemakan superhero. Secara konsep dan budget mungkin sulit untuk menyamai apalagi mengalahkan superhero Hollywood, tapi apapun yang coba ditawarkan tetap harus dihargai, apalagi jika hasilnya terlihat tak main-main. Rusia adalah salah satu yang mencoba peruntungan di ranah ini. Dari sutradara berdarah Armenia, Sarik Andreasyan yang baru saja kita lihat karyanya di The Earthquake dan penulis naskah Andrey Gavrilov (Mafiya: Igra na vyzhivanie), lahirlah Zashchitniki atau dengan judul internasional Guardians. Hasilnya mungkin mendapatkan kritik negatif dari hampir seluruh media Rusia, tapi dengan tampilan trailer yang keren, membuat saya tetap tertarik untuk ‘mencoba’ taste superhero Rusia. Beruntung Feat Pictures membawa film ini ke layar lebar non-XXI Indonesia dan tayang mulai 24 Februari 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 25, 2017

The Jose Flash Review
Rangoon [रंगून]


Kisah-kisah historik bisa di-‘warnai’ dengan berbagai treatment. Salah satu yang paling sering digunakan adalah memasukkan kisah romance fiktif ke dalam latar kejadian historik. Hollywood sudah sangat sering menggunakannya. Let’s say Titanic, Pearl Harbor, sampai Australia. Selain alasan cinta adalah salah satu peristiwa humanis paling umum terjadi dan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari semua orang, juga menjangkau range penonton dengan jenis kelamin dan strata sosial yang lebih luas. Awal tahun 2017 ini Bollywood mencoba menggunakan formula ini untuk menyampaikan peristiwa bersejarah tentang gerakan Ahimsa Mahatma Gandhi di era Perang Dunia II untuk membebaskan diri dari kolonialisme Inggris. Digabungkan pula oleh karakter yang terinspirasi dari sosok Mary Ann Evans atau yang sering dikenal sebagai Fearless Nadia, stunt-woman asli Bollywood pertama. Disutradarai oleh Vishal Bhardwaj (Omkara), sementara naskahnya disusun bersama Matthew Robbins (Mimic, Crimson Peak) dan Sabrina Dhawan (Monsoon Wedding, Ishqiya). Sejatinya proyek ini akan digarap Vishal tepat setelah Omkara tapi terus tertunda tanpa alasan jelas hingga akhirnya produksi baru terlaksana akhir 2015. Aktris yang tergolong selektif peran, Kangana Ranaut, digandeng untuk mengisi peran utama, bersama Saif Ali Khan dan Shahid Kapoor. Digadang-gadang menjadi film yang digarap epic, Rangoon dirilis bertepatan dengan akhir pekan Maha Shivaratri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Doraemon the Movie:
Nobita and the Birth of Japan
[ドラえもん 新
のび太の日本誕生]


Di antara manga Jepang, Doraemon bisa jadi adalah yang paling populer. Sejak muncul pertama kali tahun 1969, manga ini sudah mencapai 1.345 cerita dengan versi anime layar kaca mencapai 1.787 episode sejak 1973 hingga 2005. Versi layar lebarnya pun sampai sekarang sudah ada 37 film, tak termasuk Stand by Me Doraemon (2014) yang menjadi film spesial dan meledak di mana-mana, tak terkecuali Indonesia. Film layar lebar animasi 2D Doraemon sebenarnya cukup rajin menyambangi bioskop nasional Indonesia. Awal 2017 ini kita kembali disuguhi anime ke-36 yang sejatinya rilis Maret 2016 lalu di negara asalnya. Bertajuk Doraemon: Nobita and the Birth of Japan (BoJ), ini sebenarnya merupakan adaptasi dari seri komik Doraemon Petualangan seri 9 untuk versi Bahasa Indonesia dan pernah diangkat ke versi film panjang pada tahun 1988 dengan judul sama. Well, update teknologi animasi sekaligus pass-on ke generasi yang bebeda memang perlu dilakukan untuk menjaga legacy-nya yang sudah terbukti tak lekang oleh jaman.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Rings

Bagaimanapun, di teritori manapun, sampai kapanpun, horror merupakan genre yang selalu diminati. Tak heran jika ada banyak sekali franchise horror yang sudah menyandang status ‘klasik’. Hollywood pun me-remake horror-horror Jepang yang sempat menjadi trend, termasuk yang digarap paling serius dan paling berhasil adalah The Ring (2002) dan sekuelnya, The Ring Two (2005). Tentu ini tak lepas dari tangan dingin sutradara Gore Verbinski dan naskah Ehren Krueger yang punya visi tersendiri untuk versi Hollywood-nya. Horror murah tapi keuntungan yang lumayan tentu akan terus dipertahankan. Meski penghasilan The Ring Two mengalami penurunan tapi masih tergolong menguntungkan. Seiring dengan bergantinya trend horror, Paramount mengambil alih rights adaptasi The Ring dari DreamWorks dan merencanakan installment baru sejak 2014. Sutradara Spanyol, F. Javier Gutiérrez (yang lebih dulu dikenal di berbagai ajang penghargaan internasional lewat Tres días atau Before the Fall) dipercaya untuk menggarapnya dengan naskah yang disusun oleh David Loucka (Dream House, House at the End of the Street), Jacob Estes, dan Akiva Goldsman (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code, I Am Legend).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Salawaku

Salawaku, seorang anak laki-laki asal Pulau Seram, Maluku, bersikeras ingin mencari sang kakak, Binaiya yang tiba-tiba menghilang, meninggalkannya sebatang kara. Ia memutuskan mencarinya di Kota Piru, kota yang sempati ingin ditinggali oleh sang kakak. Perjalannya ditemani oleh seorang wisatawan asal Jakarta, wanita muda bernama Saras yang tak sengaja ditemuinya ketika tersesat di tengah-tengah laut. Di tengah perjalanan, keduanya bertemu Kawanua, sahabat Binaiya yang awalnya mengatakan juga ingin mencari Binaiya, tapi justru terkesan menghalang-halangi perjalanan Salawaku dan Saras. Ternyata bukan tanpa alasan. Kawanua punya rahasia tentang keberadaan dan hubungannya dengan Binaiya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Moammar Emka's
Jakarta Undercover


Sejak pertama kali diterbitkan tahun 2003, novel Jakarta Undercover (JU) karya Moammar Emka sudah menjadi fenomena budaya pop Indonesia. Bagaima tidak, topik seks dan segala jenis dunia malam yang sebelumnya lebih sering dianggap tabu tiba-tiba menjadi domain publik luas. Tak heran jika Rexinema dan Velvet Silver sempat mengadaptasinya ke layar lebar berjudul sama di tahun 2007. Karena format novelnya yang hanya memberikan deskripsi sebuah fenomena esek-esek di tiap babnya, maka perlu modifikasi bentuk narasi utama untuk kemudian baru dimasukkan fenomena esek-esek sebagai latarnya. Tahun 2017 ini Moammar Emka sendiri yang berinisiatif untuk sekali lagi mengangkat novelnya ke layar lebar. Lewat Graffent Pictures, Emka menggandeng sutradara Fajar Nugros dan istrinya yang selama ini sering bertindak sebagai produser, Susanti Dewi, di bawah bendera Demi Istri Production. Naskahnya disusun bersama oleh Emka, Nugros, dan Piu Syarief (Pintu Harmonika, Cinta Selamanya, dan upcoming, Trinity: The Nekad Traveler). Jika versi 2007 menyuguhkan kisah thriller tentang seorang wanita yang menyamar menjadi stripper waria dikejar-kejar oleh oknum setelah menjadi saksi pembunuhan, maka versi 2017 dengan tajuk Moammar Emka’s Jakarta Undercover (MKJU) ini bak sebuah biopic dari Emka sendiri dengan bumbu-bumbu tambahan di sana-sini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Buka'an 8


Tuntutan sosial di negara kita (dan bisa jadi di nyaris seluruh wilayah yang mengaku menganut budaya ketimuran) tak pernah ada habisnya. Setelah ‘kapan kawin’, masih ada tuntutan lain menjelang fase berikutnya: punya anak. Tak kalah ribet dan hebohnya dengan pernikahan, persiapan menantikan kelahiran anak pertama menjadi salah satu fase kehidupan yang tak kalah menarik untuk diangkat ke medium film. Adalah pasangan salah satu sineas berkualitas tanah air, Angga Dwimas Sasongko, dan istrinya yang selalu bertindak sebagai produser di film-film sang suami, Anggia Kharisma, yang kebetulan baru saja dikaruniai anak pertama, Angkasa Rigel, di akhir 2015 lalu, mengabadikan momen penting tersebut dalam sebuah film. Masih diproduksi di bawah bendera Visinema Pictures dengan menggandeng Chanex Ridhall Pictures dan Kaninga Pictures, film bertajuk Buka'an 8 (B8) ini naskahnya dipercayakan kepada Salman Aristo yang tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menyusun naskah cerdas sekaligus menggelitik. Chicco Jerikho mengisi peran utama sekaligus salah satu produser, didukung nama-nama populer seperti Lala Karmela yang terakhir kita lihat di Ngenest, Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, Dayu Wijanto, dan berbagai cameo yang kian menyemarakkan suasana sebagai sajian chaotic comedy.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 20, 2017

The Jose Flash Review
Viral

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Man Down

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, February 16, 2017

The Jose Flash Review
The State vs Jolly LL.B 2
[जॉली एलएलबी २]


Ada alasan mengapa film bertema court drama masih jarang diangkat. Pertama, perlu riset dan pemahaman khusus terhadap bidangnya, apalagi tiap regional punya hukum yang berbeda-beda. Kedua, karena tema yang begitu spesifik membuat penonton yang tertarik pun menjadi segmented. Penonton umum cenderung menghindari karena takut akan sulit memahami, kebosanan, dan mungkin tertidur. Ketiga, menulis dan mengembangkan plot berlatar belakang hukum punya tingkat kesulitan yang tinggi. Tak hanya harus jeli memanfaatkan 'celah-celah' untuk dijadikan kasus berdaya tarik, tapi juga kemasan akhir yang tetap bisa meghibur di balik tema yang serius. Drama kemanusiaan dan thriller lebih sering dijadikan treatment. Terakhir yang paling berkesan dalam benak saya adalah The Judge (2014) yang menyentuh sentimentil penonton lewat kisah ayah-anak. Sementara yang dikemas dalam bentuk komedi cerdas harus menarik waktu lebih jauh lagi. Yaitu Legally Blonde (2001) yang dibawakan secara cemerlang oleh Reese Witherspoon. Sayang sekuelnya di tahun 2003 tak sesukses installment pertama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 12, 2017

The Jose Flash Review
Lion

Anak terlantar, human trafficking, dan adopsi adalah kasus yang akrab ditemui terutama di negara dunia ketiga. Speaking of these kinds of cases, nalar kita seringkali dibawa pada what’s the worst that could’ve happened to them, the victims. Sangat jarang kita dibuat berandai-andai, bagaimana jika adopsi justru membuat perubahan positif bagi seorang anak. Well, di dunia yang sangat kejam ini tentu masih bisa kita temukan kebaikan-kebaikan yang membuat kemanusiaan kita sebenarnya masih punya harapan. Saroo, pemuda asal India yang diadopsi keluarga Australia membuktikannya lewat sebuah memoir nyata berjudul A Long Way Home yang dipublikasikan pertama kali tahun 2013. Memoir yang menceritakan perjalanannya menemukan ibu kandung dan keluarga aslinya setelah terpisah tanpa kabar selama 25 tahun ini diangkat ke layar lebar dengan naskah adaptasi yang dikerjakan oleh Luke Davies (Life – 2015, salah satu versi biopic James Dean) dan disutradarai Gareth Davis dimana ini menandai debutnya di layar lebar setelah selama ini dikenal sebagai sutradara serial TV dan iklan komersial di negaranya, Australia. Jajaran cast-nya tergolong ambisius dengan menggandeng Dev Patel (Slumdog Millionaires), Nicole Kidman, Rooney Mara, David Wenham, dan bahkan aktor Bollywood, Nawazuddin Siddiqui (The Lunchbox, Gangs of Wasseypur, Raees). Upayanya tak sia-sia karena terbukti berjaya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional. Puncaknya, 6 nominasi Oscar 2017, termasuk untuk kategori Best Motion Picture of the Year.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Don't Knock Twice


Setelah dititipkan di asrama selama beberapa tahun, Chloe tiba-tiba dijemput oleh sang ibu kandung, Jess. Chloe menolak karena menganggap Jess selama ini tak peduli dan menelantarkannya. Namun ketika salah satu sahabatnya, Danny, menghilang setelah iseng mengetuk pintu rumah Mary Aminov dua kali, sesuai urban legend, Chloe memutuskan untuk tinggal sementara bersama Jess. Sementara penyelidikan terhadap hilangnya Danny terus dilakukan oleh Detektif Boardman yang mantan staf di asrama Chloe ketika masih kecil. Chloe menyebutkan urban legend tentang sosok Mary Aminov yang dituduh seorang penyihir dan menculik salah satu sahabat mereka, Michael dulu. Ia juga berpikir bahwa dirinya adalah sasaran korban berikutnya setelah Danny. Boardman dan Jess tak begitu saja percaya atas tuduhan Chloe sehingga menyebabkan hubungan Jess dan Chloe kembali merenggang. Benar saja, teror Mary Aminov tak hanya kembali menyerang Chloe, tapi juga Jess. Sambil terus berusaha berdamai dengan Chloe, Jess turut menyelidiki siapa pelaku penculikan-penculikan ini dan siapa sosok Mary Aminov sebenarnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 11, 2017

The Jose Flash Review
Journey to the West 2:
The Demons Strike Back
[西遊伏妖篇]

Di ranah literatur legenda Cina, kisah Sun Gokong, siluman-siluman lainnya, dan Bhiksu Tong yang mencari kitab suci ke Barat mungkin jadi yang paling populer dan difavoritkan banyak orang, selain tentu saja legenda Siluman Ular Putih. Entah sudah berapa puluh versi dalam berbagai media, mulai buku, komik, serial, dan tentu saja layar lebar. Di era 2000-an ada versi animasi, Monkey King: Hero is Back (2015), The Monkey King versi Pou-Soi Cheang (2014) yang menghadirkan Donnie Yen, Aaron Kwok, dan Chow Yun-Fat dalam satu layar dan sekuelnya di tahun 2016 lalu, along with A Chinese Odyssey Part III yang di-bash habis-habisan. Terakhir adalah Journey to the West: Conquering the Demons (JttW) versi Stephen Chow yang menghadirkan Wen Zhang dan Shu Qi. Menyambut Tahun Baru Imlek 2017, dirilis sekuelnya dengan tajuk Journey to the West 2: The Demons Strike Back (JttW2). Meski Stephen Chow masih menyusun naskah bersama tim penulis lainnya, tapi kali ini bangku penyutradaraan diserahkan kepada Tsui Hark yang sudah menjadi sutradara legendaris pencetak karya-karya klasik macam A Better Tomorrow, The Swordsman, Kung Fu Master, Time and Tide, hingga era Detective Dee dan Flying Swords of Dragon Gate. Nama-nama ini jelas tidak bisa dianggap remeh. Apalagi di jajaran cast ada personel boyband EXO yang baru saja kita lihat di xXx: Return of Xander Cage, Kris Wu, Lin Gengxin, dan Jelly Lin yang sempat kita temukan di The Mermaid-nya Stephen Chow. Harapannya dengan budget yang konon mencapai US$ 63.9 juta dan hak siar internasional dibeli Sony Pictures (yang artinya punya jaringan tayang yang lebih luas), penghasilan box office-nya bisa melampaui installment pertama yang mencetak angka US$ 215 juta di seluruh dunia. Well, sampai tulisan ini diturunkan JttW2 sudah berhasil mengumpulkan US$ 208 juta dan tentu saja akan terus bertambah seiring dengan jadwal rilis negara-negara lain, termasuk Indonesia yang tayang midnite bertepatan dengan malam Cap Gomeh dan reguler mulai 17 Februari 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Split

Master of horror. Master of thriller. Master of twist-ending. Predikat-predikat itu pernah melekat pada diri M. Night Shyamalan, terutama setelah The Sixth Sense (1999) dinobatkan sebagai salah satu film horror/thriller klasik. Dilanjutkan berturut-turut, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004). Milestone yang telah ditorehkannya lewat The Sixth Sense membuat penggemar film selalu mengharapkan tema thriller/horror dengan twist-ending yang briliant di tiap karyanya. Ekspektasi seperti inilah yang menjadi bumerang ketika Lady in the Water (2006) dan The Happening (2008) dirilis. Ia mulai dianggap kehabisan sentuhan magisnya. Sampai ia harus menggarap ‘proyek pesanan’ (biasanya ia menggarap film dengan ide cerita sendiri, ditulis sendiri, dan disutradarai sendiri) seperti adaptasi live action The Last Airbender dan After Earth yang semakin menenggelamkan reputasinya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The LEGO Batman Movie


Sejak kemunculannya pertama kali tahun 1949 di Denmark, mainan ‘bongkar-pasang’ bernama Lego sudah menjadi salah satu pop culture yang paling berpengaruh. Hollywood sudah sejak lama ‘meminang’ untuk membuatkan versi layar lebarnya tapi selalu ditolak. However ada beberapa serial animasi dan film direct-to-video yang diproduksi seperti Lego Bionicle, Lego Hero Factory, Lego: Ninjago: Masters of Spinjitzu, Legends of Chima, dan Lego: The Adventure of Clutch Powers. Baru pada 2013 Warner Bros. diketahui mengembangkan adaptasi layar lebar LEGO NINJAGO Movie dengan jadwal rilis November 2017. Along the way ternyata Warner Bros. lebih dulu merilis The Lego Movie (TLM) tahun 2014 yang ternyata sukses besar. Baik secara komersial (bayangkan dengan budget ‘hanya’ US$ 60 juta berhasil mengumpulkan pendapatan total seluruh dunia sebesar US$ 469.2 juta) maupun respesi kritikus. Maka rencana spin-off-spin-off lainnya dikerjakan dengan lebih semangat lagi. Film kedua yang dipilih adalah The LEGO Batman Movie (TLBM) dengan jadwal rilis Februari 2017, periode masa tayang yang sama dengan TLM.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 10, 2017

The Jose Flash Review
Pertaruhan

Di antara sineas-sineas papan atas Indonesia, Upi dikenal sebagai sineas wanita yang punya visual style khas, yaitu rebel, rock n’ roll, tapi fashionable. Seorang teman ada yang mengaku tak menyukai film-filmnya karena terasa begitu asing, kebarat-baratan, jauh dari ‘Indonesia’. Bagi saya tak ada yang salah dan sah-sah saja. Sineas berhak menciptakan universe fantasi-nya sendiri yang mungkin tak selalu sejalan dengan kondisi sosial, kultural, dan geografis yang sesungguhnya. Karya-karyanya, baik sebagai sutradara maupun penulis naskah, selalu menarik kendati kerap memadukan inspirasi-inspirasi dari film-film luar yang kelewat kental. Awal tahun ini di bawah bendera IFI (Investasi Film Indonesia) yang kerap memproduksi film-film ‘idealis’-nya, Upi kembali menghadirkan film bertajuk Pertaruhan. Namun Upi hanya bertindak sebagai penulis naskah sekaligus konsultan kreatif, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Krishto Damar Alam yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai editor (seperti di Mendadak Dangdut dan 9 Naga) dan produser (Coklat Stroberi, Love, Tarzan ke Kota). Mengambil tema empat bersaudara yang nekad merampok bank demi mengobati sang ayah yang sedang sakit keras, Pertaruhan mengedepankan aktor-aktor muda yang punya fanbase cukup besar. Mulai Adipati Dolken, Aliando Syarief, serta pendatang baru Jefri Nichols, Giulio Parengkuan, dan Widika Sidmore. Tentu ada tujuan komersial dari pemilihan aktor-aktor ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surga yang Tak Dirindukan 2

Drama romansa dan reliji adalah dua genre yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia, terutama para ibu-ibu dan remaja putri yang sehari-hari begitu akrab dengan tayangan sinetron. Ditambah lagi masyarakat Indonesia dikenal masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan, khususnya Islam sebagai agama dengan penganut terbesar. Maka tak salah jika perpaduan genre ini menjadi salah satu komoditas paling menguntungkan di layar lebar kita. You can’t just underestimate the power of ibu-ibu dan remaja putri. Nama Asma Nadia sebagai penulis novel yang satu per satu karyanya diangkat ke layar lebar adalah salah satu yang bisa dibilang jaminan laris berkat fanbase dan jaringan kepenulisan yang besar. Film adaptasi dari novelnya yang terlaris adalah Surga yang Tak Dirindukan (SyTD – 2015) dengan jumlah penonton  sebanyak 1.5 juta penonton lebih. Angka yang menobatkannya sebagai film Indonesia terlaris tahun 2015. Tentu kesuksesan ini tak lepas dari dukungan MD Pictures yang dikenal ambisius. Mulai pemilihan aktor-aktris sampai penggarapan teknis yang di atas rata-rata film Indonesia. Kesuksesan ini tentu sayang jika tidak dikembangkan lebih besar lagi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
John Wick: Chapter 2


Di tengah gempuran franchise, sekuel, prekuel, spin-off, dan adaptasi buku komik, John Wick (JW – 2014) menawarkan sebuah sosok ‘jagoan’ orisinil yang sebenarnya tergolong formulaic. Seorang assassin yang berniat menuntut balas setelah ada sesama assassin yang menghabisi anjing peninggalan almarhumah sang istri dan mencuri mobil antik-nya. Terdengar konyol memang, tapi siapa sangka premise dasar ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata seorang pria mantan Navy SEAL, Marcus Luttrell yang mengejar pembunuh anjing kesayangannya sepanjang empat county dengan sebuah truk. Tak ada yang menyangka pula proyek berbudget US$ 20 juta ini berhasil menarik perhatian penggemar action-thriller dengan sub-genre gun-fu (istilah plesetan untuk aksi bela diri menggunakan senjata api) sekaligus arthouse enthusiast berkat simbolisme-simbolisme, bangunan universe, dan style neo-noir-nya. Tak pelak penulis naskah Derek Kolstad dan sutradara Chad Stahelski (yang sebelumnya berlatar belakang stunt double, termasuk di film Keanu Reeves yang legendaris, The Matrix) kemudian mengembangkan kemungkinan menjadi sebuah franchise baru. Tak tanggung-tanggung, petualangan John Wick dibangun untuk sebuah trilogy. Bahkan sebelum John Wick: Chapter 2 (JWC2) rilis tahun 2017, Chapter 3 sudah langsung dipersiapkan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, February 9, 2017

The Jose Flash Review
Ok Jaanu

Cinta atau karir? Belum lama ini sebuah film musikal fenomenal yang berjaya di banyak ajang penghargaan bergengsi dunia, La La Land, mengangkat tema klasik yang ternyata sampai sekarang masih sangat relevan. Awal tahun 2017 ini Bollywood juga menawarkan tema serupa tapi dengan fokus dan tentu saja, treatment yang berbeda. Film bertajuk Ok Januu (Bahasa Inggris: Ok, Darling!) yang diproduksi oleh Madras Talkies milik Mani Ratnam dan Dharma Prouctions milik Karan Johar ini merupakan remake dari film Tamil berjudul O Kadhal Kanmani yang juga diproduksi Ratnam tahun 2015 lalu. Dengan sentuhan khas Bollywood, tentu tema universal ini diharapkan bisa menjangkau penonton yang lebih luas di seluruh dunia. Naskahnya masih dikerjakan Ratnam sendiri, tapi bangku penyutradaraan diserahkan kepada Shaad Ali yang pernah mengarahkan Saathiya, Bunty Aur Babli, Jhoom Barabar Jhoom, dan Kill Dil. Aditya Roy Kapoor dan Shraddha Kapoor kembali dipasangkan setelah Aashiqui 2. Seolah nama-nama tersebut belum cukup untuk menjadi daya tarik, masih ada komposer legendaris, A. R. Rahman yang menggarap musiknya, dan Gulzar yang piawai menuliskan dialog-dialog indah.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 7, 2017

The Jose Flash Review
Sleepless

Sudah menjadi rahasia umum bahwa keberadaan oknum polisi korup selalu ada di belahan dunia manapun. Tak terkecuali Amerika Serikat yang notabene paling superior untuk urusan pertahanan keamanan. Maka keberadaan tema good cop-bad cop dalam film akan selalu ada untuk diangkat. Upaya terbaru adalah remake dari film Perancis, Nuit Blanche (2011) yang juga pernah di-remake oleh Tamil dengan judul Thoongaavanam (2015). Mengambil judul Sleepless, adaptasi Hollywood ini mendapuk Jamix Foxx sebagai lini terdepannya, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada sutradara Swiss, Baran bo Odar yang kita kenal lewat Who Am I - Kein System ist sicher, yang mana ini merupakan debutnya di Hollywood. Adaptasi naskahnya disusun oleh Andrea Berloff yang pernah menjadi nominee Oscar untuk naskah Straight Outta Compton. Dengan nama-nama yang menjanjikan ini, Sleepless seharusnya bisa jadi action-thriller yang menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 6, 2017

The Jose Flash Review
Kung Fu Yoga
[功夫瑜伽]

Jika Amerika Serikat punya Natal, Indonesia punya Lebaran, dan India punya Diwali sebagai hari raya yang kerap dijadikan momen paling pas untuk merilis film-film unggulan, maka Cina punya Tahun Baru Imlek. Nama Jackie Chan tentu menjadi salah satu lini terdepan untuk film berbahasa Mandarin. Apalagi setelah Jackie Chan semakin gencar memproduksi film lewat PH-nya sendiri, Sparkle Roll Media. Setelah akhir tahun lalu kita disuguhi petualangan Railroad Tigers (RT), maka momen Tahun Baru Imlek ini giliran Kung Fu Yoga (KFY). Dari judulnya bisa diduga kali ini Jackie ingin menggabungkan budaya Cina dan India yang menurut pengamatan saya, masih tergolong jarang dilakukan dibandingkan tema East-meet-West yang juga sempat ia populerkan. Masih bermain-main di ranah petualangan fantasi dengan elemen-elemen legenda seperti halnya Armour of God (serta sekuel-sekuelnya), The Medallion, Chinese Zodiac, dan yang paling mirip (atau mendekati), The Myth (2005). Jackie kembali menggandeng salah satu sutradara Cina legendaris, Stanley Tong untuk duduk di bangku sutradara sekaligus penyusun naskahnya, setelah bekerjasama di Police Story 3: Supercop, Once a Cop, Rumble in the Bronx, Police Story 4: First Strike, dan The Myth. Jajaran cast-nya pun menarik, mulai personel boyband EXO-M, Yixing Zhang, Miya Muqi, Aarif Rahman yang pernah kita lihat memerankan Bruce Lee muda di Bruce Lee My Brother, bintang Bollywood, Sonu Sood (Dabangg, Jodha Akbar, Happy New Year), Amyra Dastur, hingga Disha Patani yang belum lama ini kita lihat di M.S. Dhoni: The Untold Story.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 3, 2017

The Jose Flash Review
The Chocolate Chance

Menggabungkan tema kuliner dengan drama romantis mungkin bukan barang baru, tapi tergolong jarang. Itulah sebabnya perpaduan keduanya yang dipersatukan lewat sebuah filosofis menarik selalu menarik untuk disimak. Jika Hollywood (produksi bersama Perancis) punya Chocolat (2000), Indonesia mecatat Brownies (2004), Cintapuccino (2007), Saus Kacang (2008), dan Filosofi Kopi (2015). Awal 2017 ini DariHati Films yang tahun 2015 lalu memproduksi Catatan Akhir Kuliah (CAK) mencoba menghadirkan tema serupa yang diangkat dari novel roman remaja berjudul sama karya Yoana Dianika (2013), The Chocolate Chance (TCC). Jay Sukmo yang pernah dipercaya menggarap CAK kembali duduk di bangku sutradara, sementara naskah adaptasinya disusun oleh Johansyah Jumberan yang sekaligus menjabat sebagai produser, seperti layaknya di CAK. Bintang muda yang sedang sering muncul di layar lebar, Pamela Bowie dipasang di lini terdepan bersama degnan Ricky Harun (yang juga sedang high demand. Baru saja muncul di Demi Cinta pekan sebelumnya, pekan ini ada dua filmnya sekaligus yang dirilis bersamaan. Satunya adalah From London to Bali), Miqdad Addausy (Lupus di Bangun Lagi Dong Lupus - 2013), Sheila Dara Aisha yang pernah dipasangkan dengan Deva Mahenra di Sabtu bersama Bapak, didukung Ferry Salim, Karina Suwandi, Donna Harun, Joshua Pandelaki, Ronny P. Tjandra, Roweina Umboh, Muhadkly Acho, dan Abdur Arsyad.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, February 1, 2017

The Jose Flash Review
Raees [रईस]

Sinema Hindi sejatinya sudah akrab dengan tema crime dan mobster. Judul terakhir yang paling berkesan bagi saya adalah Gangs of Wasseypur (2012) yang dibuat bak saga berdurasi total 319 menit dan akhirnya dibagi dua bagian karena tak ada bioskop yang bersedia menayangkan versi sepanjang itu. Awal tahun 2017 ini legenda sinema Bollywood, Shah Rukh Khan (SRK) tertarik untuk memerankan karakter mobster fiktif bernama (sekaligus berjudul) Raees. Kendati mengaku fiktif, cukup banyak indikasi bahwa karakter ini didasarkan pada sosok Abdul Latif, tokoh kriminal bawah tanah di Gujarat. Bahkan sang putra sempat mengajukan tuntutan kepada pihak produser Raees karena memberikan gambaran-gambaran salah tentang sosok asli sang ayah di layar. Karena sejak awal ‘mengaku’ fiktif, maka tuntutan ini pun runtuh begitu saja. Namun ini tak lantas membuat Raees bebas kontroversi. Masih ada ancaman pelarangan tayang karena melibatkan aktris Pakistan pendatang baru, Mahira Khan, senasib dengan film-film Hindi lain yang melibatkan cast atau kru Pakistan pasca serangan Uri tahun 2016 lalu. Ditambah kontroversi pengambilan gambar di kompleks makam dan masjid kuno Sarkhej Roza dan penggunaan simbol-simbol agama Islam yang dianggap tidak pada tempatnya. Belum lagi ketika dirilis, Raees yang dianggap film ‘anti-nasional’ (termasuk sosok SRK sendiri yang selama ini lebih sering memilih diam soal isu-isu nasionalisme) harus head-to-head dengan Kaabil yang dianggap lebih ‘patriotik’. However, nama SRK saja sudah menjadi daya tarik tersendiri di pasar internasional, termasuk Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Dog's Purpose

Dari antara hewan-hewan peliharaan, bisa jadi anjing adalah yang paling sering diangkat menjadi plot utama sebuah film. Ada banyak alasan sih. Selain salah satu binatang peliharaan paling populer yang paling banyak diadopsi manusia, yang artinya punya kedekatan emosional secara kumulatif paling tinggi, anjing juga punya karakteristik yang menarik untuk diangkat ke dalam cerita untuk disampaikan. Seiring dengan waktu dan bergesernya trend, film bertemakan anjing yang benar-benar digarap serius sebagai sajian layar lebar sudah semakin jarang ada. Eksplorasi dan perkembangan yang tergolong stuck di ranah itu-itu saja membuatnya lebih banyak bergeser untuk produksi film TV atau serial (atau animasi). Jika di era saya sempat populer franchise Air Bud, terakhir mungkin hanya Hachiko: A Dog’s Story (HADS – 2009), remake dari film Jepang Hachi-ko (1987), yang bisa dengan mudah diingat oleh penonton. Melihat peluang tersebut, DreamWorks membeli hak atas novel  A Dog’s Purpose (ADP - 2010) karya penulis humor Amerika Serikat, W. Bruce Cameron, yang menjadi New York Times bestseller selama 49 minggu dan menuai pujian di mana-mana. Amblin Entertainment kemudian mulai memproduksinya bersama Walden Media, Reliance Entertainment, Original Pictures, dan Pariah Entertainment Group. Cameron diajak untuk mengadaptasi naskahnya bersama dengan Cathryn Michon, Audrey Wells (The Truth About Cats & Dogs, George of the Jungle, The Kid, Under the Tuscan Sun, Shall We Dance), Maya Forbes (Monsters vs Aliens dan Diary of a Wimpy Kid: Dog Days), dan Wally Wolodarsky. Sementara Lasse Hallström yang pernah sukses menggarap HADS dan tiga kali meraih nominasi Oscar, yaitu untuk Mitt liv som hund dan The Cider House Rules, dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Portfolio mengesankan, mulai What’s Eating Gilbert Grape, Chocolat, Dear John, Salmon Fishing in the Yemen, Safe Haven, sampai The Hundred-Foot Journey, tentu tak bisa diremehkan begitu saja. Aktor yang dipasang pun ada Dennis Quaid, Britt Robertson, K.J. Apa (yang sedang naik daun semenjak bermain di serial Riverdale), dan Josh Gad (pengisi suara Olaf di Frozen) yang menyuarakan karakter si anjing, Bailey.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates