Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Tuesday, January 31, 2017

The Jose Flash Review
Bleed for This


Latar belakang olah raga kerap digunakan untuk melahirkan kisah-kisah inspiratif, baik berdasarkan kisah nyata (biopic) maupun fiktif. Di ranah ring tinju, terakhir kita disuguhi kembalinya tokoh fiktif legendaris Rocky yang di-estafet ke putra mantan lawannya di Creed. Di tahun yang sama juga ada Southpaw yang digarap oleh Antoine Fuqua. Sebelumnya sudah cukup banyak judul yang tergolong notable, seperti Cinderella Man dan Fighter. Akhir tahun 2016 lalu ada satu film bertema serupa yang menarik karena diangkat dari kisah nyata kembalinya sosok juara tinju, Vinny Pazienza pasca kecelakaan yang mengakibatkan tulang belakangnya cidera parah. Film bertajuk Bleed for This (BfT) ini ditangani (penulis naskah sekaligus sutradara) oleh Ben Younger yang juga menandai come back-nya setelah Prime tahun 2005 silam. Aktor muda yang 2014 lalu mencuri perhatian lewat Whiplash, Miles Teller, ditunjuk memerankan sosok Vinny. BfT didukung pula oleh Aaron Eckhart, Ciarán Hinds, dan Katey Sagal. Bukan merupakan proyek ambisius dengan budget tinggi (‘hanya’ US$ 6 juta), tapi tetap punya daya tarik tersendiri terutama dari jajaran cast-nya. Di Indonesia, BfT diimpor oleh Jive! dan siap tayang di bioskop-bioskop non-XXI mulai 1 Februari 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 30, 2017

The Jose Flash Review
Resident Evil: The Final Chapter

Di antara anekdot kutukan game yang diangkat ke layar lebar nyaris mustahil gagal secara komersial dan kualitas (let’s say, gagal memuaskan penggemar versi game-nya), adaptasi game action-horror-survival keluaran Capcom, Resident Evil (RE- 2002) membuktikan bahwa mereka mampu mematahkan kutukan tersebut. Kendati sebagian besar kritikus menghujani tiap installment dengan kritik pedas dan buruk, angka box office-nya tak pernah mengecewakan. Bahkan hingga saat ini pendapatan totalnya dari 6 film nyaris mendekati angka 1 milyar dolar. Padahal per installment budgetnya rata-rata ‘hanya’ US$ 35-65 juta. However, ketika pengembangan cerita sudah dianggap mentok dan bertele-tele, menutup keseluruhan seri adalah keputusan yang paling bijak daripada semakin dijauhi penggemar-penggemarnya dan merusak keseluruhan franchise. RE yang sudah semakin melelahkan akhirnya mencapai ‘the final chapter’-nya di installment ke-enam. Perjalanannya ternyata jauh dari kata mulus. Sempat diumumkan sejak akhir 2012, bahkan sampai seri ketujuh sekaligus reboot dalam format serial, akhirnya baru terealisasi 2015. Apalagi ditambah kehamilan anak kedua Milla Jovovich yang mau tak mau membuat jadwal syuting mundur.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, January 26, 2017

The Jose Flash Review
Kaabil [काबिल]

Tahun 2016 lalu Sinema Hindi seolah menunjukkan kualitas yang maksimal di mata dunia. Begitu banyak film-film yang ditulis dan digarap solid dengan tema-tema yang beragam. Padahal ada beberapa judul yang sebenarnya masih mengangkat tema yang itu-itu saja (misalnya friendzone dan gagal move on). Ada pula tema-tema yang mencoba menggugat kondisi sosial setempat. Contoh yang paling memorable adalah Pink yang mempertanyakan kedudukan wanita dalam tatanan sosial serta hukum. Awal tahun 2017 ini ada satu lagi film yang mencoba menggugat hukum serta kondisi keadilan di negaranya. Diproduseri Rakesh Roshan (Koi... Mil Gaya, franchise Krrish, dan Kites) di bawah bendera Filmkraft Production, salah satu aktor papan atas Bollywood, Hrithik Roshan ditunjuk sebagai lead. Naskahnya disusun oleh Sanjay Masoom dan Vijay Kumar Mishra, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Sanjay Gupta yang kerap menggarap film yang terinspirasi dari film-film populer lain (misalnya Kante yang dianggap terinspirasi dari Reservoir Dogs dan Zinda dari Oldboy). Kaabil sendiri juga dinilai perpaduan film Korea Selatan, Broken (2014) dengan Blind Fury (1989).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 24, 2017

The Jose Flash Review
Monster Trucks

Franchise merupakan aset penting bagi studio film, apalagi major studio Hollywood. Maka tak heran jika major studio selalu berupaya menciptakan dan mengembangkan franchise-franchise baru yang bisa dijadikan komoditas jangka panjang. Upaya itulah yang awalnya hendak dilakukan Paramount Animation bersama salah satu divisi saudaranya, Nickelodeon Movies lewat Monster Trucks (MT). Sebuah film fantasi-aksi-petualangan-komedi dengan target audience utama anak-anak usia 6-12 tahun. Derek Connolly (Jurassic World dan upcoming, Kong: Skull Island) ditunjuk untuk menyusun naskah dari konsep cerita Jonathan Aibel, Glenn Berger, dan Matthew Robinson. Chris Wedge didapuk untuk duduk di bangku sutradara yang mana merupakan debut penyutradraan untuk film live-action (sebelumnya menggarap animasi seperti Ice Age, Robots, dan Epic). Dengan memasang aktor Lucas Till (Havok dari franchise X-Men) dan Jane Levy (Mia di Evil Dead versi 2013 dan Rocky di Don’t Breathe), budget sebesar US$ 125 juta terdengar terlalu berlebihan, apalagi melihat hasil akhirnya (setidaknya dari trailer) yang hanya sampai ‘sejauh’ itu. Namun why don’t we just give it a try?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 23, 2017

The Jose Flash Review
Hacker [Anonymous]

Seiring dengan perkembangan teknologi, kejahatan cyber pun juga semakin canggih. Semaju apapun teknologi yang digunakan oleh pihak berwenang untung mengungkap, selalu saja ada pelaku yang beberapa langkah di depan. Begitu juga kisah cybercrime yang diangkat ke layar lebar. Terakhir, saya cukup dibuat terpukau oleh film Jerman berjudul Who Am I – Kein System ist sicher (2014) yang meski menggunakan treatment penceritaan dan visual ala Fight Club-nya David Fincher, tetap saja merupakan thriller cybercrime yang asyik diikuti sekaligus detail yang convincing. Begitu juga Snowden (2016) lalu yang menjadi biopic intriguing dan thought-provoking dari sosok Edward Snowden. Tahun 2016, satu lagi film bertemakan cybercrime yang tampak menarik untuk disimak. Merupakan produksi joint-venture antara Amerika Serikat, Thailand, Kazakhstan, Hong Kong, dan Kanada, Hacker (atau Anonymous di beberapa negara) merupakan debut film berbahasa Inggris pertama dari Akan Satayev, sutradara asal Kazakhstan yang dikenal lewat Zabludivshiysya (2009) dan Zhauzhürek myng bala (2012). Dibintangi bintang muda Callan McAuliffe (masih ingat pemeran Bryce Loski dari Flipped atau Jay Gatsby muda di The Great Gatsby versi Baz Luhrmann?), Lorraine Nicholson (pemeran putri Adam Sandler dan Kate Beckinsale, Samantha Newman remaja di Click), dan Daniel Eric Gold (Matt di serial Ugly Betty). Filmnya sendiri sebenarnya sudah direncanakan sejak 2013 dan sudah selesai digarap 2014, tapi baru beredar akhir 2016 lalu. Untuk pasar Indonesia, Hacker didistribusikan oleh MVP dan mulai tayang sejak 27 Januari 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 22, 2017

The Jose Flash Review
Ballerina

Meski masih belum sebesar dan sekuat Hollywood, industri animasi Perancis sebenarnya sangat layak untuk dilirik. Terakhir yang cukup mengemuka di pasar internasional adaptasi The Little Prince (Le Petit Prince) yang digarap Mark Osborne. Akhir 2016 lalu, ada satu animasi 3D produksi Perancis-Kanada yang juga tak kalah menarik. Menggabungkan tema struggle to make dream comes true dengan dunia balet, Ballerina jadi semakin menarik karena kehadiran voice talent populer seperti Elle Fanning, Dane DeHaan, dan bahkan penyanyi pop, Carly Rae Japsen. Dari naskah yang disusun oleh Eric Summer, Carol Noble (La père Noël), dan Laurent Zeitoun, Ballerina menjadi debut sutradara Eric Summer dalam menggarap film animasi layar lebar setelah sebelumnya dikenal sebagai sutradara serial TV, dibantu Éric Warin yang pernah berpengalaman dalam penggarapan film animasi peraih nominasi Oscar, Les Triplettes de Belleville. Kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikan Ballerina lebih dulu sebelum tayang resmi di Amerika Serikat 3 Maret mendatang dengan judul Leap!.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 21, 2017

The Jose Flash Review
Istirahatlah Kata-Kata
[Solo, Solitude]

Sebelum memulai review, let me ask you this basic question: apa tujuan pembuatan biopic? Jawaban yang paling mendasar adalah sebagai pengingat. Dengan diangkat ke sebuah medium, baik itu buku maupun film, sesosok menjadi selalu diingat, abadi. Ketika sebagian besar manusia mungkin melupakan, termakan oleh waktu, literatur bisa dibuka-buka kembali dan dipindah-tangankan antar generasi. Maka sebuah biopic layaknya memuat poin-poin penting yang setidaknya memberi gambaran sebuah era, ide-ide atau pemikiran dari subjek sang sosok, dan jika memungkinkan, menunjukkan mengapa sosok tersebut layak menjadi sosok penting yang dicatat sejarah. Apa sumbangsih dan perannya bagi masyarakat? Apa yang membedakannya dari kebanyakan orang-orang di sekitarnya?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 18, 2017

The Jose Flash Review
Demi Cinta

Di tahun 2017 ini MNC Pictures sudah mempersiapkan beberapa judul line-up sekaligus untuk dirilis. Setelah akhir tahun 2016 lalu kita disuguhi drama-action bertemakan heist lewat The Professional, awal tahun 2017 ini mereka menawarkan sebuah komedi farcical (memanfaatkan karakter-karakter eksentrik). Dari kemasan luarnya, sedikit mengingatkan saya akan Skakmat. Dari naskah yang disusun oleh Syamsul Hadi (Pencarian Terakhir, HeartBreak.com: Patah Hati Anda Bisnis Kita, Rock N Love, dan Dreams) dan Fatmaningsih Bustamar (Surat Cinta untuk Kartini), bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Azhar Lubis atau yang lebih dikenal sebagai Kinoi (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini, dan Blusukan Jakarta). Dengan memasang Tora Sudiro dan Ricky Harun di garda depan, didukung Nasya Marcella, Titi Kamal, Verdi Solaiman, dan Barry Prima, komedi bertajuk Demi Cinta (DC) mencoba untuk menawarkan hiburan berupa komedi yang menurut saya, cocok dengan selera humor mayoritas penonton film Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 17, 2017

The Jose Flash Review
xXx: Return of Xander Cage

Tema espionage selalu punya cara untuk menjelma dengan berbagai variasi. Salah satu yang paling populer di era 2000-an adalah Xander Cage, agen rahasia NSA (National Security Agency) berkode sandi xXx dengan spesialisasi stunt-stunt berbahaya serta olahraga ekstrim. Selain The Fast and the Furious, xXx adalah film yang semakin melambungkan popularitas Vin Diesel sebagai action hero. Seperti halnya franchise The Fast and the Furious, awalnya Diesel menolak untuk kembali di sekuelnya. Namun lama-kelamaan, ia tergiur juga untuk mengembangkan franchise-franchise yang membesarkan sekaligus dibesarkan olehnya. Installment kedua, xXx: State of the Union boleh saja digantikan oleh Ice Cube dengan menggunakan xXx sebagai nama tim yang bisa diisi oleh karakter mana saja, tak harus sosok Xander Cage. Sejak 2006 sebenarnya Diesel sudah menyatakan ketertarikan untuk kembali menghidupkan sosok Xander Cage, begitu juga sutradara Rob Cohen. Namun perjalanan waktu yang diwarnai bongkar-pasang tim membuat produksinya berkembang lambat. Baru awal 2014 titel resmi installment ketiga diumumkan: xXx: The Return of Xander Cage (RoXC).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 16, 2017

The Jose Flash Review
Patriots Day

Mengangkat tema tragedi nyata ke medium film bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu ekstra hati-hati karena punya sensitivitas yang tinggi, terutama bagi orang-orang yang terlibat langsung. Tak heran jika banyak film bertemakan real event tragedy menggunakan pendekatan humanity dan menunggu kejelasan vonis peradilannya atau rentang waktu healing yang lebih lama lagi. Tragedi bom marathon Boston pada April 2013 lalu yang menewaskan tiga jiwa dan ratusan korban cidera berat, mungkin masih belum begitu lama terjadi. Namun rupanya semangat warga Boston yang untuk menyebarkan kasih dan keberanian membuatnya tak butuh waktu lama menyetujui pengangkatan kisah tersebut ke format film. Tak tanggung-tanggung, di tahun yang sama (2017) sudah ada tiga film yang mengambil tema tragedi tersebut. Selain Patriots Day (PD) yang digarap oleh Peter Berg (Friday Night Lights, The Kingdom, Lone Survivor, Deepwater Horizon) yang dirilis Januari 2017 ini, masih ada Stronger, besutan David Gordon Green dengan bintang Jake Gyllenhaal dan Miranda Richardson, serta Boston Strong yang rencananya disutradarai oleh Daniel Espinosa. Sambil menunggu dan membandingkan ketiganya, kita nikmati dulu versi Peter Berg yang menandai kolaborasi ketiga bersama Mark Wahlberg setelah Lone Survivor dan Deepwater Horizon).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 14, 2017

The Jose Flash Review
The Bye Bye Man

Mitos dan kutukan rupanya masih menjadi tema horor yang menarik untuk dikembangkan. Tak terkecuali di tengah trend horor yang sedang condong ke arah eksorsisme dan elemen-elemen relijius seperti The Conjuring dan Insidious. Bagi saya pribadi, ada kerinduan tersendiri akan horor yang dibangun berdasarkan misteri mitos (baik yang memang sudah ada sejak dulu maupun karangan baru). Ingat bagaimana video kutukan Sadako di franchise The Ring atau potongan-potongan film di Sinister, atau tiap kali mendengar nama Candyman disebut, mampu mengundang rasa ketakutan tersendiri. Marc D. Evans dan Trevor Macy melalui Intrrepid Pictures yang pernah memproduksi Oculus, menggandeng STX Entertainment untuk mempersembahkan horror yang dikembangkan dari kutukan dan mitos, The Bye Bye Man (TBBM). Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Stacy Title, sementara naskah adaptasi dari cerpen The Bridge to Body Island karya Robert Damon Schneck, dikerjakan oleh sang suami, Jonathan Penner. Keduanya sempat diganjar nominasi Oscar tahun 1994 untuk film pendek Down on the Waterfront. Dengan statusnya sebagai film horor indie berbudget rendah, TBBM menampilkan aktor Douglas Smith (yang pernah kita lihat di Ouija, Terminator Genisys dan upcoming, Miss Sloane), Lucien Laviscount (serial Scream Queens), dan yang paling menarik, Carrie-Anne Moss (masih ingat Trinity dari trilogi The Matrix?) serta aktris veteran, Faye Dunaway. Beruntung kita di Indonesia mendapatkan kesempatan menyaksikannya di layar lebar berbarengan dengan jadwal rilis di Amerika Serikat, 13 Januari 2017, berkat Feat Pictures selaku distributor.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Master [마스터]

Ada alasan mengapa bisnis MLM sempat booming di Indonesia dan di beberapa negara berkembang lainnya. Iming-iming penghasilan sekaligus bonus instan dalam jumlah yang cukup banyak tanpa upaya besar adalah yang utama. Padahal selalu ada ‘sesuatu’ tersembunyi dari tiap hal yang instan, bukan? Tak hanya MLM, moda bisnis piramida pada sektor finansial dan/atau investasi juga punya ‘trik’ yang mungkin tak semua orang tahu (atau tak peduli untuk tahu karena saking rumitnya). Beberapa film baik Hollywood maupun beberapa negara lain sempat mencoba untuk ‘menjelaskannya’, tapi lagi-lagi bukan upaya yang mudah untuk meraih penonton. Sebut saja Wallstreet, atau yang paling akhir, The Big Short. Kendati sudah berupaya menjelaskan semudah dan sedetail mungkin, dunia investasi dan finansial masih terkesan jauh dari jangkauan penonton luas. Dengan kemasan humanis yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari kebanyakan orang, seperti The Wolf of Wallstreet, mungkin baru bisa menjangkau sedikit lebih luas. Sinema Korea Selatan yang makin berani memasuki tema lebih beragam mencoba ‘bermain-main’ di tema finansial. Dengan nama sineas yang pernah sukses dengan Cold Eyes (2013), Cho Ui-Seok, sebagai penulis naskah dan sutradara, film bertajuk Master (마스터) ini menjanjikan kemasan yang pop dan mudah dicerna oleh range penonton lebih luas. Aktor-aktris populer pun digandeng untuk mempertegas kesan pop tersebut. Mulai Lee Byung-Hun (Storm Shadow dari franchise G.I. Joe, dan terakhir tampil di The Magnificent Seven vers Antoine Fuqua), Kim Woo-Bin (The Con Artists dan serial The Heirs), Gang Dong-Won (Kundo: Age of the Rampant, The Priests), dan Oh Dal Soo (Old Boy, Veteran, Ode to My Father). Tak heran jika Master sempat menjadi box office hit di negara asalnya dengan mengumpulkan penjualan tiga juta tiket dalam lima hari pertama!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 10, 2017

The Jose Flash Review
Live by Night

Genre mobster/mafia/gangster akan selalu ada di tiap generasi seiring eksistensinya yang memang tak pernah benar-benar hilang sampai kapanpun. Jika di ranah klasik ada The Godfather Trilogy, Scarface, The Untouchable, Mobsters, dan masih banyak lagi, di era 2000-an lebih banyak yang diangkat dari biopic macam Public Enemies, American Gangster, Black Mass, dan Legend, atau yang diangkat dari buku fiksi seperti Gangster Squad. Yang terbaru, Warner Bros. sejak tahun 2012 lalu telah membeli hak untuk novel Live by Night (LBN) yang ditulis oleh Dennis Lehane (Mystic River, Shutter Island, dan Gone Baby Gone). Ben Affleck yang sudah membuktikan reputasi penyutradaraan lewat Gone Baby Gone, The Town, dan Argo, kembali dipercaya untuk menggawangi proyek keempatnya ini, sekaligus mengadaptasi naskahnya. Leonardo DiCaprio sempat didapuk mengisi peran utama hingga akhirnya mundur dan hanya bertindak sebagai salah satu produser lewat Appian Way. Proyek pun tak lantas berjalan mulus karena komitmen Affleck di Gone Girldan Batman v Superman: Dawn of Justice. Praktis, produksi baru dimulai menjelang akhir 2015. Affleck menggandeng cukup banyak aktor berkualitas, seperti Elle Fanning, Breandan Gleeson, Chris Messina, Sienna Miller, Chris Cooper, dan Zoe Saldana ke dalam jajaran cast, yang membuat LBN punya daya tarik tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Gift
[Pohn Jak Fah / พรจากฟ้า]

Kepala negara sejatinya menjadi salah satu representasi sebuah negara di mata internasional sekaligus panutan di mata rakyatnya. Tak ada yang salah jika ada kepala negara dengan bakat tertentu menyumbangkan karyanya untuk rakyat. Tak hanya mantan presiden kita, SBY, yang menelurkan album musik, ternyata mendiang raja Thailand, Bhumibol Adulyadej yang mangkat Oktober 2016 silam juga menciptakan puluhan lagu yang dipersembahkan untuk rakyatnya sejak 1946 silam. Total, ia telah menulis 49 komposisi, termasuk mars, waltz, musik patriotic, dan swing jazz. Sebagai sebuah tribute untuk mendiang Sang Raja, GDH (Gross Domestic Happiness) yang baru menelurkan One Day [ดูหนัง Fanday] September 2016 lalu, bekerja sama dengan Singha Corporation memproduksi sebuah omnibus interwoven yang diinspirasi dari tiga lagu gubahan Raja Bhumibol Adulyadej.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 9, 2017

The Jose Flash Review
La La Land

Musikal mungkin bukan genre yang populer di Indonesia. Bahkan bisa jadi genre yang paling tak diminati. Entah kenapa banyak penonton kita yang geli sendiri tiap kali nonton film yang dialognya dinyanyikan. Padahal film musikal, seperti halnya pertunjukan drama panggung, adalah seni pertunjukan yang berkelas di banyak negara, dan film musikal terus diproduksi kendati secara kuantitas tak banyak. Akhir tahun 2016 ini kita disuguhi film musikal dari sutradara muda, Damien Chazelle, yang sukses besar, baik secara komersial maupun di berbagai ajang penghargaan bergengsi, lewat Whiplash. Jika Whiplash menyuguhkan permainan drum, maka di film bertajuk La La Land (LLL), penonton akan dibawa pada nuansa jazz murni yang mengalun lembut nan indah. Istilah La La Land sebenarnya merujuk pada Los Angeles yang disingkat jadi LA sekaligus ungkapan ‘tak terjangkau’ dari tanah Hollywood yang ‘menjual’ mimpi. Dengan nomor-nomor musikal yang benar-benar baru (bukan berasal dari lagu-lagu populer maupun drama panggung musikal), konsep LLL sejatinya sudah ada di dalam benak Chazelle sejak 2009 lalu. Namun karena namanya kala itu belum dikenal dan resiko tak diterima penonton yang besar karena pure jazz sudah dianggap punah, maka baru setelah kesuksesan Whiplash proyek ini akhirnya bisa terwujud. Menyandingkan (kembali) Emma Stone dan Ryan Gosling (setelah di Gangster Squad dan Crazy, Stupid, Love), upaya ‘beresiko’ Chazelle ini terbukti disambut hangat, bahkan sudah menyapu bersih tujuh penghargaan Golden Globes 2017 dari semua nominasi yang diraih. Ini merupakan rekor sepanjang masa, mengalahkan One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975) yang menyapu bersih enam kategori, dan Midnight Express (1978) yang membawa pulang lima dari tujuh nominasi Golden Globes.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Arrival

Membuat film bergenre sci-fi bukanlah tugas mudah. Meski tergolong fiksi, tetap saja ada kaedah-kaedah logika science yang bisa diterima akal sehat jika tak mau dicemooh penonton. Belum lagi tuntutan zaman sekarang dimana sebuah sci-fi harus menjadi ‘cerebral sci-fi’, dengan konsep grande yang mengusik pola pikir manusia atau setidaknya mampu berfilosofi. Beberapa tahun terakhir terbukti ada beberapa judul yang ‘lulus’ mendapatkan predikat bergengsi, ‘cerebral sci-fi’, seperti Interstellar, Gravity, dan The Martian. Tahun 2016 ini ada satu lagi kandidat ‘cerebral sci-fi’ yang dipuji banyak kalangan, Arrival. Diangkat dari novella Story of Your Life karya Ted Chiang (1998), naskahnya diadaptasi oleh Eric Heisserer (Final Destination 5, remake The Thing, A Nightmare on Elm Street, Hours, dan Lights Out). Sutradara Denis Villeneuve yang dikenal sebagai salah satu auteur berbakat lewat Incendies, Prisoners, Enemy, dan Sicario, memang sudah sejak lama ingin menggarap sci-fi, menerima proyek ini dengan perubahan-perubahan di sana-sini, termasuk judul yang diubah ke Arrival agar tak berkesan sebuah romantic-comedy. Memasang Amy Adams dan Jeremy Renner di lini terdepan, Villeneuve mencoba peruntungan di ranah ‘cerebral sci-fi’. Tentu dari nama Villeneuve, penonton, terutama pengamat karya-karyanya selama ini, mengharapkan sesuatu yang istimewa dari Arrival.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 8, 2017

The Jose Flash Review
Promise

Invasi Screenplay Films dari FTV ke layar lebar agaknya berjalan sukses. Bagaimana tidak, dari empat film layar lebar yang mereka produksi pertama, Magic Hour (2015), London Love Story (2016), ILY from 38.000 Ft (2016), dan Headshot (2016), kesemuanya bisa dibilang sukses. Bahkan dua di antaranya sudah melewati angka satu juta penonton. Kesuksesan ini tak lepas dari peran sutradara Asep Kusdinar, penulis naskah Sukhdev Singh dan Tisa TS, serta tentu saja artis-artis eksklusif mereka, seperti Michelle Ziudith dan Dimas Anggara yang sudah punya massa luar biasa banyaknya. Dengan kontrak bersama Legacy Pictures yang dimulai sejak ILY from 38.000 Ft lalu, kualitas production value mereka terasa meningkat dari FTV-ish menjadi lebih sinematis. Kerjasama keduanya kembali terjalin lewat Promise yang dibintangi Dimas Anggara bersama Mikha Tambayong, Boy William, dan pendatang baru yang baru saja kita lihat sekilas di ILY from 38.000 Ft (serta merupakan adik kandung dari Annisa Rawles yang kita lihat di Single-nya Raditya Dika), Amanda Rawles. Dengan dream-team dan artis-artis eye-candy dosis tinggi, Promise di awal tahun 2017 ini sekali lagi mencoba menarik perhatian penonton remaja, terutama yang sudah menjadi fan setia produksi-produksi mereka.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 4, 2017

The Jose Flash Review
The Unspoken

Trend film horror ternyata masih dengan formula ‘baru pindah ke sebuah rumah yang dikenal punya cerita masa lalu kelam’ dan ‘aliran sesat’. The Unspoken, sebuah film horror indie yang ditulis dan disutradarai oleh Sheldon Wilson, adalah salah satunya. Saking indie-nya, bahkan cast yang digunakan pun tak terlalu populer. Hanya ada nama Jodelle Ferland (masih ingat cewek cilik tak berbibir di poster Silent Hill, Bree di The Twilight Saga atau Patience di The Cabin in the Woods?), Anthony Konechny (Sam di X-Men: Apocalypse dan Paul di Fifty Shades of Grey), dan yang paling familiar bagi saya, Neal McDonough (Dave dari serial Desperate Housewives). Namun setidaknya The Unspoken ini masih punya poster dan trailer yang ‘menjanjikan’. Kendati secara tertulis produksi 2015, The Unspoken baru rilis Oktober 2016 lalu di Amerika Serikat. Sementara kita di Indonesia bisa menyaksikannya di bioskop mulai 4 Januari 2017 di bawah bendera Moxienotion (yang artinya hanya tayang di bioskop-bioskop non-XXI).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 3, 2017

The Jose Flash Review
The Great Wall
[长城]

Geliat perfilman Cina yang makin membabi buta membuat raksasa Hollywood pun mau tak mau melirik potensi mereka. Tak hanya sebagai potensi penonton yang bahkan melebihi pasar domestik mereka sendiri, tapi juga soal pendanaan dan tenaga kerja yang juga tak kalah bersaing. Apalagi Cina menetapkan aturan kuota investasi dan/atau tenaga kerja lokal bagi film-film asing yang ingin masuk ke pasar mereka. Salah satunya adalah Legendary Pictures yang kerap memproduksi film-film bertemakan fantasi (dan juga sebagian besar sahamnya kini sudah di tangan Wanda Group, raksasa bisnis asal Cina), memprakarsai ide mengangkat legenda di balik salah satu dari tujuh keajaiban dunia, The Great Wall. Ada banyak versi kisah di baliknya, tapi mereka memilih legenda fantasi fiktif tentang makhluk monster bernama Taotie pada masa Dinasti Song.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates