Friday, December 1, 2017

The Jose Flash Review
Mata Batin

Trend horor di sinema Indonesia dimanfaatkan dengan baik oleh Hitmaker Studios sebagai anak perusahaan Soraya Intercine Films yang sejatinya sudah konsisten di genre tersebut sejak 2012. Setelah sukses The Doll 2 baik secara komersial maupun pencapaian kualitas, mereka mencoba peruntungan lagi lewat Mata Batin (MB) dengan menggandeng Jessica Mila, Denny Sumargo, Citra Prima, Epy Kusnandar, dan Bianca Hello yang belum lama ini kita lihat di Mereka yang Tak Terlihat. Sementara bangku sutradara masih diduduki oleh Rocky Soraya sendiri, naskah pun masih dipercayakan kepada Riheam Junianti yang sudah menulis semua naskah film-film produksi Hitmaker Studios dengan sekali lagi dibantu oleh Fajar Umbara setelah The Doll 2

Kabar kedua orang tuanya yang meninggal dunia dalam kecelakaan membuat Alia memutuskan pulang ke Jakarta bersama sang kekasih, Davin, untuk menemani adiknya, Abel di rumah lama mereka yang jauh dari kota. Meski menyambut baik kepulangan sang kakak, Abel sebenarnya enggan untuk pindah karena trauma dengan sosok-sosok makhluk halus penunggu rumah. Sebagai pembuktian bahwa mata batinnya sudah terbuka sejak kecil, Abel mengajak Alia ke seorang paranormal yang membantunya mengontrol mata batinnya ketika kecil, Bu Windu. Alia tetap tidak percaya dan menantang agar mata batinnya juga dibuka. Awalnya tak terjadi apa-apa hingga perlahan Alia sadar bahwa sebenarnya ada banyak orang di sekelilingnya yang sebenarnya bukan manusia. Namun di saat yang bersamaan ada makhluk halus yang berusaha memanfaatkan kemampuan Alia dan Abel untuk membalas dendam. Sebagai seoang kakak, Alia mau tak mau mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Abel dari gangguan-gangguan gaib.
Tema individu dengan kemampuan bisa melihat sosok-sosok gaib atau sering disebut indera keenam termasuk salah satu yang sering diangkat dalam film horor, baik sebagai menu utama maupun salah satu elemen pendukung saja. Yang paling mendapatkan rekoknisi sedunia tentu saja The Sixth Sense yang fenomenal dan melambungkan nama M. Night Shyamalan, sementara di ranah film Indonesia terakhir ada Mereka yang Tak Terlihat. Mencoba menawarkan konsep yang sedikit berbeda, MB berpendapat bahwa semua manusia punya kemampuan melihat atau merasakan kehadiran makhluk gaib. Hanya saja tak semua orang mata batinnya sudah terbuka sehingga bisa melihatnya. Bukan konsep teori baru ataupun mengada-ada, tapi masih jarang digunakan apalagi sebagai menu utama. Teori ini pula yang membuat MB punya modal plot yang cukup menarik untuk dikembangkan, melibatkan koneksi antar saudara yang terjalin cukup meyakinkan antara Jessica Mila dan Bianca Hello, hingga twist yang mungkin memang bukan sesuatu yang baru, sedikit banyak sudah terbaca sejak awal, maupun punya signifikansi terhadap plot utama tapi dihadirkan sebagai salah satu elemen yang patut diapresiasi. Termasuk dalam hal konsistensi yang membuatnya tidak terasa come out of nowhere. MB seperti memadukan elemen-elemen dari The Sixth Sense, Ghost, The Doll, hingga Insidious dengan blend-in yang cukup seimbang dan saling padu. 
Selain dari itu pembangunan ketegangan (sedikit slasher, anyone?), atmosfer kengerian, jumpscare, dan yang menjadi highlight utama kali ini, desain karakter-karakter makhluk gaib, pun tergarap dengan baik berkat sinematografi Asep Kalila (meski beberapa teknik long take handheld-nya masih terasa kurang nyaman diikuti), editing Sastha Sunu, make-up effect dari Yonna Kairupan, serta musik-musik eerie dari Stevesmith Music Production. Dampaknya bagi saya mungkin tak semencekam atau seseru The Doll 2 tapi harus diakui, jelas berada di atas produksi horor Hitmaker Studios sebelum-sebelumnya. 
Jajaran cast pendukung pun tampil cukup suportif. Denny Sumargo mungkin memang tak punya porsi yang cukup di plot utama tapi setidaknya masih cukup noticeable terutama dalam hal pemanfaatan karakternya sebagai salah satu elemen paling menarik dari keseluruhan film.  Citra Prima mencoba untuk memerankan sosok yang jauh lebih tua dan berkharisma cukup kuat sebagai sosok paranormal, Bu Windu. Sedikit terkesan dibuat-buat yang mengingatkan saya akan sosok Vicky Burki dan sesekali masih sering kelepasan pembawaan berkata-kata sehari-hari, tapi secara keseluruhan masih tergolong cukup baik sesuai kebutuhan film. Sementara Epy Kusnandar kembali menjadi pencuri perhatian tersendiri lewat karakter Kang Asep meski porsinya tergolong sangat terbatas.
Dengan penataan plot yang dikembangkan dengan baik dan elemen-elemen horor yang cukup berhasil, MB sekali lagi membuktikan kelas horor produksi Hitmaker Studios tersendiri yang sudah di berada di atas rata-rata tanpa mengesampingkan unsur-unsur komersial yang ditunggu-tunggu penonton umum. Tak perlu ragu-ragu untuk menonton jika sudah tertarik dari premise, trailer, dan materi-materi promonya. Punya kans yang cukup besar dan menarik pula untuk dijadikan franchise tersendiri.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates