Saturday, November 25, 2017

The Jose Flash Review
Breathe

Selama ini kita mengenal Andy Serkis sebagai sosok aktor motion-capture pengisi karakter-karakter CGI macam Gollum di The Lord of the Rings Trilogy, Kong di King Kong, dan Caesar di Rise of the Planet of the Apes Trilogy. Siapa sangka ternyata ia punya bakat terpendam sebagai sutradara. Kiprah debutnya adalah Breathe, biografi tentang pasangan inspiratif yang mengubah persepsi dunia tentang penderita polio, Robin dan Diana Cavendish yang merupakan orang tua dari sahabat sekaligus partner bisnisnya, Jonathan Cavendish (keduanya menjalankan The Imaginarium, studio spesialis teknik motion-capture yang pernah menangani Rise of the Planet of the Apes Trilogy, Avengers: Age of Ultron, dan Star Wars: Episode VII - The Force Awakens). Proyek ini bisa jadi sebuah keberuntungan sekaligus menjadi tantangan yang tak ringan bagi Serkis mengingat materinya tergolong serius tapi juga punya potensi menjadi sajian klise dan terjerumus ke dalam tearjerker eksploitatif bertema penyakit (saya menjulukinya sebagai ‘disease-porn’). William Nicholson yang punya daftar filmografi mengesankan seperti Nell, First Knight, Gladiator, Elizabeth: The Golden Age, Les Misérables, Mandela: Long Walk to Freedom, Unbroken, Everest dipercaya menyusun naskahnya, dengan bintang Andrew Garfield, Claire Foy (Season of the Witch, Vampire Academy, The Lady in the Van), dan Tom Hollander (About Time, Mission: Impossible - Rogue Nation).

Kebahagiaan pernikahan Robin dan Diana Cavendish yang awalnya penuh dengan petualangan tak berlangsung lama setelah mendadak Robin didiagnosis menderita polio yang mengakibatkan tubuhnya lumpuh dari leher ke bawah. Bahkan untuk bernafas ia membutuhkan alat bantu yang juga mengharuskannya selalu berbaring di tempat tidur. Dokter memprediksi usianya mustahil melebihi tiga bulan. Namun Diana tak patah arang. Memenuhi permintaan Robin untuk meninggalkan rumah sakit dan dirawat di rumah, Diana mendedikasikan hidupnya demi Robin. Perlahan pula Robin menemukan semangat hidup hingga mematahkan prediksi dokter, bahkan melanjutkan petualangannya bersama Diana dan putra tunggal mereka, Jonathan berkat kursi portabel dengan peralatan lengkap yang dibutuhkan penderita lumpuh untuk beraktivitas sehari-hari. Semangat dan perjuangannya berusaha mendobrak persepsi medis terhadap para pasien yang didiagnosis sakit parah untuk bisa menikmati hidup.
Dari premise-nya saja mungkin banyak penonton yang menduga bahwa Breathe adalah film drama tearjerker yang menjual air mata lewat penderitaan penyakit. Tak bisa dipungkiri, memang benar. Namun ia ternyata tak mau terlalu tenggelam dalam air mata. Memulai setup cerita pertemuan Robin dan Diana yang tergolong singkat, secukupnya, dan perpindahan adegan yang masih terasa kurang mulus (mungkin bukan salah editing Masahiro Hirakubo, tapi pengarahan Serkis yang masih belum terbiasa bagaimana menyudahi tiap adegan dengan baik), Breathe ternyata memanfaatkan kejadian setelah kelumpuhan Robin untuk membangun emosi dengan penonton. Treatment yang cukup jitu dan efisien dalam menyampaikan cerita sekaligus mendulang simpati penonton. Serkis agaknya punya bakat sense drama yang kuat dan taste yang elegan dalam menyampaikannya. Secara keseluruhan plot Breathe terasa berjalan dengan elegan, nuansa yang lebih ke fun ketimbang depresif, tapi tetap punya momentum-momentum yang mampu menyentuh tanpa harus terasa kelewat didramatisir. Terutama momentum kepergian karakter sentral yang tak semata-mata dijadikan sebagai sumber pemeras air mata, tapi sebagai kejadian alami yang pasti terjadi.
Tentu saja performa para aktor menjadi salah satu faktor keberhasilan drama Serkis. Terutama sekali performa Andrew Garfield yang terasa kian matang dan kharisma yang makin kuat. Peran Robin Cavendish mungkin tak sekompleks Desmond Doss di Hacksaw Ridge atau Pastor Sebastião Rodrigues di Silence, tapi saya harus mengakui bahwa peran Robin Cavendish di sini termasuk salah satu performa terbaik yang pernah ia bawakan. Claire Foy yang awalnya tampak kurang menonjol sebagai sosok Diana Cavendish, seiring dengan durasi perlahan menunjukkan performa yang semakin kuat dan mampu mengimbangi Garfield. Sementara Tom Hollander, Hugh Bonneville, Jonathan Hyde, dan Amit Shah mendukung dengan baik sesuai porsi masing-masing.
Teknis Breathe mungkin memang tak ada yang istimewa tapi setidaknya lebih dari cukup dalam menggelar dramanya dengan emosional yang tetap mampu menggugah. Mulai sinematografi Robert Richardson yang mampu menghadirkan spirit adventurous lewat eksplorasi camera work di lokasi-lokasi eksotisnya maupun momen-momen emosional secara tepat dan efektif, editing Masahiro Hirakubo yang tergolong menjaga pace cerita serba proporsional dan tetap efektif dalam ‘menyentuh’ penonton, hingga music score Nitin Sawhney yang memang masih terdengar generik tapi cukup berhasil memberikan rasa lebih pada adegan-adegan dramatis dan emosional sesuai dengan ke-elegan-an Serkis bertutur.

Di genre drama bertema penderita penyakit, belum banyak yang membidik sisi fun, adventurous, enjoyment, dan pembangkit semangat ketimbang sengaja menjadi tearjerker penguras air mata semata. Breathe adalah salah satunya. Fokus utamanya terletak pada apa saja kiprah semasa hidup dan perubahan yang telah dibuatnya bahkan jauh setelah ia tiada. Ini teresonansi dengan cukup kuat, sederhana tapi bersahaja berkat penanganan Serkis. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates