Friday, November 17, 2017

The Jose Flash Review
Wage

Indonesia agaknya tak akan pernah kekurangan tokoh untuk diangkat ke layar lebar sebagai sebuah biopik. Selalu ada saja tokoh yang sebenarnya selama ini punya peranan penting bagi bangsa Indonesia tapi belum banyak yang mengetahui kisahnya. Maka upaya yang dilakukan Opshid Media hingga bersedia mengucurkan dana sebesar 16 miliar rupiah untuk memproduksi Wage, film biopik dari pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Mempercayakan penyutradaraan ke tangan John De Rantau (Denias, Senandung di Atas Awan, Generasi Biru, Obama Anak Menteng, Semesta Mendukung, dan Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta), naskahnya disusun oleh Fredy Aryanto (Ketika Mas Gagah Pergi the Movie, Duka Sedalam Cinta) dan Gunawan BS berdasarkan riset yang konon dilakukan dengan serius mengingat minimnya informasi maupun literatur tentang kehidupan sang tokoh. Rendra Embun Pamungkas yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor Teater Gandrik Muda didapuk merepresentasikan sosok Wage, didukung aktor-aktris yang lebih berpengalaman di layar lebar seperti Teuku Rifnu Wikana, Putri Ayudya, dan Prisia Nasution.
Wage kecil lebih cenderung menyukai kesenian, khususnya seni musik dibandingkan teman-teman sebayanya. Ketika pergolakan perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda, Wage harus kehilangan sang Ibu yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Beruntung ia diadopsi oleh keluarga Belanda yang kemudian menyekolahkannya dan mempertemukannya dengan biola. Namun pergulatan batin dan perlakuan orang-orang Belanda terhadap dirinya yang masih dianggap pribumi membuatnya aktif di berbagai kegiatan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai menjadi jurnalis, mengikuti organisasi pemuda, hingga menggubah lagu-lagu yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat. Lahirlah lagu-lagu seperti Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, RA Kartini, dan puncaknya lagu yang kemudian diabadikan sebagai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Meski sebagai konsekuensi ia harus menghadapi pemerintah Hindia Belanda yang menganggap lagu-lagu gubahannya mengancam eksistensi serta wibawa mereka.


Tak mudah menggarap sebuah biopik, terutama faktor rentang waktu yang cukup panjang dan banyaknya aspek kehidupan subjek yang bisa jadi kerap kali tidak saling relevan. Maka penyusun naskah dan sutradara harus jeli memilih aspek-aspek saja yang ingin di-highlight untuk kemudian dirangkum dalam sebuah visualisasi yang solid serta saling koheren. Agaknya tak banyak yang bisa berhasil melakukannya. Khususnya di Indonesia, banyak biopik yang lebih memilih main aman dan mudah dengan sekedar memaparkan peristiwa demi peristiwa sesuai dengan urutan kronologis. Wage, sayangnya, termasuk salah satu yang melakukan treatment tersebut. Sepanjang durasi yang mencapai sekitar 2 jam, penonton disuguhi drama bergaya teatrikal (mungkin treatment seperti ini yang membuat De Rantau percaya diri melabeli film ini sebagai film noir, padahal sebenarnya definisi noir tidak sesempit itu) sesuai dengan urutan kronologis. Mulai masa kecil Wage, kiprah bermusik dan perjuangan mencapai kemerdekaan, hingga ajal menjemput. Kelemahannya, semua peristiwa tersusun begitu saja tanpa bridging antar adegan yang cukup koheren. Alhasil dari adegan ke adegan sering terasa sangat jumping, bahkan tak jarang membingungkan penonton terutama untuk perpindahan adegan dengan rentang waktu yang cukup panjang. Tak heran jika ada banyak penonton yang mempertanyakan bagaimana (atau mengapa) seorang keluarga Belanda akhirnya memutuskan untuk mengangkat Wage sebagai anak. Jika pertanyaan sebab-akibat masih banyak yang muncul dari benak penonton, apa lagi character investment yang jelas-jelas masih jauh untuk bisa dicapai. In short, sekalipun penonton mampu bertahan mengikuti plot hingga akhir film, yang didapat hanya sekedar info-info secara kronologis. Syukur-syukur jika masih bersedia untuk mencerna lagi keseluruhan informasi yang disodorkan dan menarik kesimpulan dari kiprah Sang Maestro tanpa bantuan ‘kata kunci’ yang jelas dari filmmaker.

Memikul beban performa terbesar dan terberat, Rendra Embun Pamungkas mencoba memasukkan treatment yang lebih teatrikal untuk peran Wage. Bisa jadi konsep teatrikal seperti ini yang ingin dicapai John dengan label ‘film noir’. Tak ada yang salah jika memang mengadopsi konsep teatrikal secara keseluruhan, terutama treatment visual. Sayangnya dengan visual treatment yang jelas-jelas realistik dengan urutan kronologis dan desain produksi Frans XR Paat yang tergolong tergarap serius, akting teatrikal Rendra terkesan out of place dan bahkan di banyak kesempatan, kelewat dramatis pada momentum yang kurang tepat. Teuku Rifnu Wikana cukup menonjol dengan performa teatrikal yang masih bisa lebih terkontrol sebagai Fritz. Sementara dukungan dari Putri Ayudya sebagai Roekiyem dan Prisia Nasution sebagai Salama terasa waste of talent dengan penulisan karakter serta porsi yang teramat sangat terbatas.
Secara teknis sejatinya Wage tergolong cukup mumpuni dan layak secara sinematis. Camera work dan pemilihan shot-shot Hani Pradigya sesuai dengan kebutuhan meski belum ada yang benar-benar signatural ataupun ikonik. Editing Kusen Dony Hermansyah pun terlihat berupaya menjaga flow secara keseluruhan secara nyaman di balik rangkaian adegan yang terasa kurang koheren. Musik Indra Qadarsih dan score M Subchi Azal Tsani terdengar sinematis serta dramatis sesuai kebutuhan adegan. Tak sampai jadi memorable tapi juga tidak terasa over-dramatic. Pemilihan The Entertainer dari Scott Joplin memang terkesan sangat generik tapi di sisi lain, cukup familiar bagi penonton luas.

Mengingat Wage Rudolf Supratman adalah sosok penting tapi tergolong jarang terdengar dan tak banyak informasi yang tersebar luas, ide mengangkat kisahnya ke layar lebar sesungguhnya merupakan upaya positif dan menarik. Sayangnya dengan treatment yang masih jauh untuk sekedar mengenal dan memahami sosok sang tokoh, upaya tersebut agaknya terasa sia-sia. Semoga saja ke depannya ada bentuk yang jauh lebih baik dan accessible. Selagi menunggu, setidaknya masih bisa mencari tahu sedikit banyak kiprah serta perjalanan hidup sang tokoh lewat
Wage. Asal sudah mempersiapkan diri untuk memanfaatkan daya cerna informasi (serta daya tahan) yang lebih serius saja ketika menontonnya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates