Saturday, November 18, 2017

The Jose Flash Review
Paddington 2

Butuh waktu 56 tahun bagi karakter beruang bernama Paddington ciptaan Michael Bond untuk tampil dalam format film live action panjang setelah menjadi salah satu representasi Inggris di panggung dunia lewat buku cerita, boneka, dan serial animasi. Terbukti film perdana Paddington mendapatkan sambutan hangat yang terbukti lewat penghasilan sebesar US$ 268 juta di seluruh dunia dengan budget yang ‘hanya’ € 38.5 juta atau sekitar US$ 50-55 juta, serta review yang serba positif. Maka rencana melanjutkan franchise dapat berjalan dengan lebih mulus. Semua cast pengisi karakter penting kembali, termasuk Ben Wishaw (Skyfall, Perfume: The Story of a Murderer) sebagai pengisi suara sang tokoh titular. Begitu juga David Heyman (franchise Harry Potter) selaku produser dan Paul King kembali mengisi posisi sutradara sekaligus penulis naskah, yang kali ini dibantu oleh Simon Farnaby (kreator serial Yonderland). Sementara Hugh Grant dan Brendan Gleeson turut meramaikan jajaran cast serta tentu saja menambah daya tarik sekuelnya. Tak tanggung-tanggung. Saking optimisnya, King sudah mempersiapkan installment ketiga bahkan sebelum installment kedua mulai diproduksi. 

Menemukan keluarga sebaik Keluarga Brown dan nyaman tinggal di sebuah lingkungan suburban Windsor Garden di Inggris membuat Paddington ingin membagi kebahagiaannya dengan sang bibi yang telah banyak berjasa dalam hidupnya, Bibi Lucy. Saat kebingungan memilih hadiah ulang tahun Bibi Lucy ke-100, ia tertarik dengan sebuah buku pop-up tentang berbagai landmark London yang dijual di toko antik milik Mr. Gruber. Harapannya, jika tidak bisa membawa sang bibi ke London, setidaknya ia bisa mengajaknya berkeliling London lewat buku tersebut. Sayangnya buku tersebut tergolong langka dan bernilai mahal. Tak patah arang, Paddington memutuskan untuk bekerja demi mengumpulkan uang dan menebus buku tersebut. Malangnya ketika hampir berhasil, buku tersebut dicuri oleh sosok misterius dan hanya Paddington satu-satunya tertuduh yang tertangkap basah berada di TKP. Selagi keluarga Brown menyelidiki siapa pelaku pencurian yang sebenarnya, Paddington sendiri juga berusaha membersihkan namanya dengan mengumpulkan dukungan dari seisi penghuni penjara. Tentu bukan upaya yang mudah mengingat jati diri Paddington dengan segala keluguannya dan status bahaya dari penghuni penjara yang lain.

Mengembangkan dari kisah yang sudah disusun di film pertama,
Paddington 2 masih menyuguhkan whimsical comedy (komedi yang mengandalkan peristiwa kebetulan) dan tingkah ceroboh sang beruang Peru, yang bisa dikatakan sebagai salah satu khas Inggris, sebagai menu utamanya. Tentu jenis komedi seperti ini lebih bisa merangkul range penonton yang lebih luas dan relatif lebih ‘aman’ bagi penonton cilik. Pun ajaibnya masih dengan mudah berhasil memancing tawa tanpa terkesan bodoh. Sebaliknya, banyak momen yang terasa cerdas sekaligus lugu. Menambahkan sedikit bumbu action dan investigasi membuat jilid kedua ini terasa punya level keseruan yang meningkat. Tentu saja dalam kadar yang masih sangat aman bagi seluruh anggota keluarga dari berbagai tingkat usia. Camera work Erik Wilson memperkuat elemen action-adventure-nya, ditambah editing Mark Everson (kali ini dibantu oleh Jonathan Amos) yang serba tepat momentum, baik dalam upaya membangun energi petualangan maupun situasional komedinya. Tak ketinggalan score music dari Dario Marianelli yang membuat petualangan kali ini terasa lebih megah dan fantastis bak film-film keluarga John Hughes atau Tim Burton era ‘90-an, selain memvariasikan score-score Nick Urata tanpa mengubah atmosfer dan feel yang telah digubah di film sebelumnya.

Above all yang membuat Paddington 2 masih berhasil menjadi sajian yang mengesankan, bahkan mampu bertahan lama dalam memori adalah esensi value yang teresonansi secara kuat dan konsisten lewat jalinan plot utama beserta kesemua sub-plot pendukungnya; keluguan dalam melihat kebaikan dalam tiap hal atau orang. Bukan sesuatu yang benar-benar baru memang, tapi kerap diabaikan dan dilupakan di dunia yang semakin gila ini. Setidaknya keluguan dan kesederhanaan di sini menjadi pengingat lembut atau setidaknya penghiburan yang ringan nan manis.

Penampilan para cast pendukung rata-rata tergolong konsisten dari film pertama. Seperti Ben Whisaw yang masih meniupkan keluguan dan semangat positif lewat representasi suara Paddington, atau penampilan komedi menggelitik tapi hangat dari Hugh Bonneville sebagai Henry Brown, Sally Hawkins sebagai Mary Brown, dan Julie Walters sebagai Mrs. Bird. Madeleine Harris dan Samuel Joslin sebagai Judy dan Jonathan Brown mendapatkan porsi yang sedikit lebih besar serta menarik seiring dengan pertumbuhan karakter. Jim Broadbent masih memerankan sosok Mr. Gruber sesuai dengan citra khasnya. Sementara penambahan performa dari Brendan Gleeson dan Hugh Grant, seperti biasa, terbukti berhasil menjadi pencuri perhatian tersendiri lewat eksentrisme masing-masing dalam menghidupkan karakter yang memang sudah unik.

Di tengah minimnya hiburan yang menarik dan aman, baik secara content maupun value, kehadiran Paddington 2 terasa bak oase yang menyegarkan sekaligus menyenangkan. Tak hanya untuk penonton anak-anak tapi juga berhasil mengulik sisi lugu dari penonton dewasa. Sepelik apapun permasalahan hidup yang harus ditanggung oleh seorang individu dewasa, keluguan serta kebaikan sederhana Paddington 2 niscaya menjadi penghiburan sekaligus pengingat yang lembut tapi efektif. Apalagi dengan penambahan dosis action-adventure dan investigasi yang membuat laju plotnya menarik untuk terus disimak. Ajak seluruh anggota keluarga dari tingkat usia berapapun untuk seru-seruan sekaligus merasakan suasana yang manis dan hangat bersama.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates