Friday, November 24, 2017

The Jose Flash Review
Naura & Genk Juara
The Movie

Ada alasan mengapa film anak-anak jarang dibuat. Selain pasarnya yang masih terbatas dibandingkan film-film dengan range usia yang lebih luas (sering juga kan orang tua yang malas menemani anak-anaknya menonton film anak dan cenderung memilih film yang lebih umum atau dewasa yang sekiranya ‘aman’ untuk ditonton bersama-sama?), menggarap film anak juga punya tingkat kesulitan tersendiri. Naskahnya harus dipastikan benar-benar aman untuk menghindari kontroversi dan pengaturan/pengarahan cast anak-anak yang jelas lebih sulit daripada dewasa. Namun bagaimana pun kita perlu film-film yang tak hanya aman tapi juga bermanfaat sekaligus menghibur untuk penonton anak. Maka apa yang diprakarsai oleh KG Productions (Kompas Gramedia) yang konsisten memproduksi konten-konten mendidik sekaligus menghibur, bekerja sama dengan KPG dan Creative and Co. ini patut mendapat apresiasi. Menggandeng Naura, penyanyi cilik populer, putri dari pasangan Nola AB Three dan manajer Be3, Baldy Mulya Putra, film bertajuk Naura & Genk Juara The Movie (NGJ) menawarkan genre musikal. Eugene Panji, sutradara video musik yang memulai debut layar lebar lewat film anak, Cita-Citaku Setinggi Tanah dipercaya untuk mengarahkan berdasarkan naskah yang disusun oleh Dendie Archenius Hutauruk.

Naura, Okky, dan Bimo mewakili sekolahnya untuk mengikuti Kemah Kreatif dimana pada puncaknya digelar kompetisi sains di kawasan hutan tropis Situ Gunung, Sukabumi. Naura yang berjiwa pemimpin mendapatkan pertentangan dari Okky yang merasa idenya lebih baik. Perpecahan dan persaingan di antara mereka harus dikesampingkan sementara ketika Bimo diculik. Menurut penyelidikan Kipli, seorang anak yang ditugaskan menjaga satwa di Kemah Kreatif, komplotan penculik yang menamakan diri Trio Licik ini juga menyelundupkan berbagai jenis satwa di hutan Situ Gunung. Karena Pak Marsono yang dipercaya memimpin Kemah Kreatif tidak percaya dengan cerita Kipli, Naura, dan Okky, mereka memutuskan untuk menjalankan misi penyelamatan sendiri dengan berbekal ilmu sains yang selama ini mereka pelajari di sekolah dan sedikit kreativitas.
NGJ memang masih mengusung template film anak, seperti Home Alone dan Petualangan Sherina dengan sentuhan sains yang saat ini memang semakin maju diperkenalkan kepada siswa sekolah. Kendati demikian item-item sains yang ditampilkan sebagai ‘jebakan’ tidak boleh diremehkan begitu saja. Begitu juga suguhan nomor-nomor musikal yang ternyata sangat catchy. Mulai Juara, Mendengar Alam, Setinggi Langit, Aku Hanya Ingin Pulang, hingga Kita Adalah Juara, kesemuanya enak untuk diikuti sambil berdendang, bahkan terus terngiang dalam memori untuk jangka waktu yang panjang. In term of musical, upaya yang dilakukan NGJ tergolong berhasil.
Performa Naura di lini terdepan mungkin memang tak terlalu istimewa, tapi setidaknya ia sudah membuktikan bahwa ia punya kharisma sebagai lead yang lebih dari cukup untuk terus dikembangkan di kemudian hari. Tema persahabatan yang diusung didukung oleh chemistry yang terjalin baik dan meyakinkan dari Naura, Joshua Yorie Rundengan sebagai Okky, Vickram Abdul Faqin Priyono sebagai Bimo, dan Andryan Sulaiman Bima sebagai Kipli. Meski harus diakui plot bisa memasukkan intrik-intrik yang membuat pertalian persahabatan mereka terasa lebih solid dan mengundang simpati penonton. Begitu juga pilihan dialog antar anggota keluarga Naura yang terkesan terlalu teatrikal. Totos Rasiti sebagai Pak Marsono menjadi pencuri perhatian terbesar berkat tingkah komikalnya yang mengingatkan saya akan sosok Cak Lontong. Sementara penampilan Shelomita sebagai Bu Tike, Kiki Juliar sebagai Bu Laras, serta Trio Licik, masih noticeable sesuai porsi masing-masing.
Sayang, kekurangan lain juga bisa ditemukan dengan mudah pada teknis. Misalnya pada sinematografi Wendy Agah Wahyudi yang meski secara keseluruhan membuat adegan-adegan musikal dengan koreografi asyik terlihat lebih megah, tapi di banyak kesempatan masih ada blocking yang kurang nyaman dilihat. Begitu juga sound mixing yang menjadi kelemahan terburuknya, terutama untuk dialog dan pengucapan lirik di kanal depan yang terkesan tenggelam oleh sound effect dan musik di kanal-kanal belakang. Untuk genre musikal, ini kelemahan besar yang mempengaruhi feel keseluruhan film. Sayang sekali. Selebihnya sudah tergarap baik, seperti editing Wawan I Wibowo yang mengalirkan flow film dengan nyaman, tata artistik Eros Eflin yang detail terutama untuk item-item sains-nya, bahkan sampai visual effect yang tampak realistik.

Abaikan tuntutan beberapa pihak yang memfitnah NGJ dengan tuduhan penistaan agama. Jika Anda merasa diri cerdas dan bijak dalam menganalisis, tuduhan tersebut terdengar sangat bodoh dan insecure. Bahkan tuduhan tersebut tak pernah terbersit dalam pikiran saya ketika menyaksikannya sebanyak dua kali sebelum kontroversi tersebut berhembus. Masih jauh dari solid, seperti misalnya Petualangan Sherina, tapi jika Anda rindu tontonan anak yang positif dengan suguhan musikal yang catchy untuk didendangkan secara spontan setelah menonton filmnya, NGJ tak boleh dilewatkan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates