Monday, November 13, 2017

The Jose Flash Review
My Generation

Generation gap adalah isu sosial yang selalu terjadi pada generasi maupun masa apapun mengingat selalu terjadi pergantian sekaligus perubahan yang cukup signifikan antar generasi. Perbedaan yang terasa kian meruncing di era media sosial yang mendorong tiap individu untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan berpikir semakin kritis. Padahal disadari atau tidak, kasus serupa tapi tak sama juga terjadi di generasi-generasi sebelumnya. Itulah yang ingin diangkat oleh Upi, sutradara wanita yang karyanya selalu berjiwa ‘muda’, terutama lewat tema content, desain produksi, hingga pilihan soundtrack. Setelah 2005 lalu ia sempat menyuarakan jiwa muda pada generasinya lewat Realita Cinta dan Rock n’ Roll (RCRR), kini ia tergugah untuk menyelami generasi ‘kids jaman now’ lewat suguhan terbarunya, My Generation (MG). Bertindak selaku co-producer, penulis skrip, dan sutradara, Upi berani menggandeng empat aktor-aktris utama muda yang belum pernah berakting di layar lebar sebelumnya; Bryan Langelo, Arya Vasco, Lutesha, dan Alexandra Kosasie. Tentu saja didukung pula oleh aktor-aktris yang sudah lebih senior seperti Tyo Pakusadewo, Aida Nurmala, Surya Saputra, Ira Wibowo, Karina Suwandi, Indah Kalalo, dan Joko Anwar. Menjadikan MG sajian yang menjanjikan sesuatu yang fresh dan youthful.

Rencana Zeke, Konji, Suki, dan Orly liburan panjang ke Bali batal karena dihukum setelah mengunggah video yang dianggap menghina sekolah dan orang tua mereka. Padahal maksud hati mereka menyampaikan protes atas perlakuan sekolah dan orang tua terhadap mereka selama ini. Tak mau berlarut-larut meratapi nasib, keempatnya kemudian mencoba untuk mencari kegiatan-kegiatan seru sendiri lengkap dengan problematikan masing-masing. Namun kejadian demi kejadian justru semakin memperuncing konflik di antara mereka berempat maupun dengan orang tua masing-masing. Hingga pada satu titik membuat mereka harus menemukan titik tengah yang bisa mengubah pola pikir masing-masing.
Jujur, secara struktur MG sebenarnya terkesan kurang tertata dengan baik. Nyaris tiga perempat pertama ia seolah membombardir penonton dengan berbagai bentuk protes dalam format fragmen-fragmen terpisah dengan koherensi antar adegan yang tergolong tipis. Untungnya disampaikan lewat gelaran dialog-dialog yang witty, menggelitik tapi cerdas (terutama lewat campuran bahasa Inggris dan Indonesia yang saat ini menjadi representasi siswa-siswi sekolah internasional di Indonesia), serta visualisasi (terutama desain produksi berwarna-warni vibrant) dan soundtrack (mulai Ndasmu! dari D.P.M.B hingga aransemen ulang dari lagu-lagu era ’90-an seperti Bebas dari Iwa K. (Deva Remix), Inikah Cinta dari ME (CVX Remix), dan Kebebasan dari Singiku (Shout Remix)) yang memompa energi youthful secara maksimal. Sehingga secara keseluruhan bagian bisa membuat penonton yang merasa relatable berkali-kali bergumam ‘nah, betul tuh!’ atau bagi penonton yang sudah menjadi orang tua dari kaum remaja resah tapi mau tak mau mengakui protes-protes kritis para remaja ini ada benarnya juga. Tak ada konflik yang sebenarnya kompleks maupun berbahaya, tapi sangat kritis.
Setelah konflik semakin mencapai klimaksnya, mood film terasa shifted secara drastis menjadi serius dan dramatis. Fase yang penting dilakukan, tapi jujur, dengan mood shifting ini terasa bak sebuah party yang seru dan asyik, tapi pada saatnya punya titik basian juga. Lagi-lagi dengan konsep bak susunan fragmen-fragmen terpisah yang sebenarnya masing-masing punya dramatisasi yang tergarap baik dengan performa emosi yang rata-rata cukup layak. Namun sebagai sebuah kesatuan, penyelesaian konflik satu per satu seperti ini harus diakui agak melelahkan dan membosankan. 
Kendati demikian ada lebih banyak sisi positif yang membuat kekurang-nyamanan stuktural masih bisa termaklumi. Dimulai dari keseimbangan yang adil dan realistis dari kedua belah pihak generasi. Alih-alih sekedar meletakkan karakter-karakter orang tua sebagai ‘antagonis’, generasi remaja juga digambarkan punya sisi naif dan bingung dengan kemauannya sendiri. Contohnya Suki yang kesal karena ketika hendak memutuskan sang kekasih tapi ternyata sang kekasih juga berniat yang sama. Atau Orly yang justru protes punya seorang ibu yang tergolong gaul, bahkan melebihi dirinya sendiri. Potret-potret yang mempertanyakan kaum remaja, maunya apa ketika mendapatkan apa yang diinginkan kaumnya secara umum. Begitu juga gambaran karakter-karakter remaja yang tak tergolong ‘nakal’ dengan berbagai tingkah negatifnya, justru sebaliknya, tergolong cerdas dan berprestasi, yang turut membuat saya salut. Bahkan Orly yang punya project ‘losing virginity’ bukan semata-mata karena ingin menjalani seks bebas. Ditambah lagi arah sub-plot yang menuju sikap kedewasaan. Ini adalah keputusan yang sangat baik dan positif sehingga punya kekuatan argumen tersendiri ketika ada remaja dengan kehidupan ‘rusak’ yang ingin memberontak dengan dalih yang sama seperti para karakter di MG. Terakhir, tentu saja statement konklusi bijak dan solutif Upi yang memang terasa sekali berniat untuk mendamaikan semua pihak, terutama antar generasi dan termasuk berdamain dengan diri sendiri. Menjadikan MG sajian yang tak hanya rebellious tapi punya tujuan positif dan berhati besar.
Keempat aktor-aktris di lini terdepan termasuk tampil baik sekali sebagai pendatang baru. Bryan Langelo menampilkan emosi yang cukup realistis sebagai Zeke kendati beberapa kali masih terkesan agak kelewat meluap-luap dan ‘sinetron-ish’. Begitu juga Lutesha yang memberikan performa emosi sesuai porsi perannya sebagai Suki, Alexandra Kosasie sebagai Orly, dan Arya Vasco sebagai Konji. Above all, chemistry persahabatan di antara keempatnya terjalin dengan begitu akrab, dekat, hangat, sekaligus menyenangkan. Di deretan pemeran pendukung para orang tua pun tak mengecewakan, bahkan kerap kali memberikan kesegaran tersendiri, seperti pasangan Joko Anwar-Ira Wibowo atau Indah Kalalo. Pun juga momen-momen dramatis seperti yang ditunjukkan pasangan Tyo Pakusadewo-Karina Suwandi dan Aida Nurmala-Surya Saputra. 
Selain artistik khas Upi yang begitu detail dan warna-warni oleh Wencislaus de Rozari (look at that rollerskate ring yang dibangun from the scratch!), termasuk tata kostum dari Andhika Dharmapermana, teknis-teknis MG lainnya mendukung sesuai kebutuhan. Tata kamera Muhammad Firdaus yang merekam adegan dengan semangat youthful lewat teknik handheld tapi tetap nyaman diikuti. Editing Sahadadti Adjie SP masih mampu menjaga pace di balik struktur plot yang sejatinya ‘kurang nyaman’. Pun momen-momen dramatis juga terasa berhasil ‘menggerakkan’ penonton. Sedikit mengganggu mungkin terletak pada efek zoom-in yang terlalu banyak dan pada momentum yang kurang perlu dan pemenggalan lagu pengiring yang masih sering terdengar sekedar asal fade out.
Musik Ric Slim dan Tony Merle jelas menyuntikkan youthful spirit dengan maksimal, bersanding selaras dengan pilihan soundtrack dari berbagai genre tapi merepresentasikan satu kesatuan nafas. Mulai rap/hip-hop/R&B macam Fuccboy dari Nayaka x Trip TRVP, Keep Us On dari Nayaka & NAJ, My Number One dari Jayko, Naked dari Matthew Bento, dan tentu saja Ndasmu! dari D.P.M.B yang paling melekat dalam ingatan, classic funk seperti Funk Yeah dari Mario Zwinkle, rock hardcore seperti Sesal dari Aftercoma, Sun Will Rise dari Annie Drury yang kontemplatif, hingga penutup, Rayakan Pemenang dari Morfem yang terkesan mendamaikan.

Secara struktur MG mungkin masih bisa tersusun dengan jalinan plot yang lebih koheren dari satu adegan ke adegan berikutnya atau pemilihan konflik yang lebih menyatu ketimbang ditampilkan (sekaligus diselesaikan) satu per satu. Namun berkat keseimbangan yang adil, kritis, serta realistis dari kedua belah pihak generasi, begitu juga kemasan yang mengasyikkan, MG menjadi sajian yang sama-sama kontemplatif bagi kaum remaja maupun orang tua. Penting sekaligus menghibur.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates