Monday, November 27, 2017

The Jose Flash Review
Marrowbone

Sinema Spanyol di mata internasional selama ini terepresentasikan oleh nama-nama sineas seperti Alejandro Amenábar (Open Your Eyes, The Others), Pedro Almodóvar (The Skin I Love In, Volver), dan J.A. Bayona (The Orphanage, The Impossible, A Monster Calls, dan upcoming, Jurassic World: Fallen Kingdom). Sergio G. Sánchez yang selama ini dikenal sebagai penulis naskah dari The Orphanage dan The Impossible, agaknya layak untuk menyusul masuk daftar tersebut lewat karya terbarunya, Marrowbone. Didukung aktor dan aktris yang masih ‘segar’ seperti George MacKay (Defiance, Captain Fantastic), Charlie Heaton (Shut In, serial Stranger Things), Anya Taylor-Joy (The VVitch, Morgan, Split), Mia Goth (Everest, A Cure for Wellness), dan Kyle Soller (Anna Karenina, Fury), ia menawarkan horor psikologis dengan pendekatan ikatan keluarga, sebagaimana The Orphanage dan bahkan The Impossible.

Rose memutuskan membawa keempat anaknya; Jack, Billy, Jane, dan Sam, kembali ke rumah masa kecilnya dengan kembali menggunakan nama belakang keluarganya sebelum menikah, Marrowbone, untuk menghindari permasalahan hukum yang dialami sang ayah. Billy, Jane, dan Sam merasakan ada sesuatu yang aneh dan tak suka dengan kehadiran mereka di rumah tersebut. Tak lama kemudian, Rose meninggal akibat penyakitnya. Sejak itu Jack memutuskan untuk merahasiakan kematian sang ibu sampai dirinya berusia 21 tahun untuk menghindari ketentuan hukum atas perwalian oleh pihak lain. Sementara para adik harus ‘bersembunyi’ di rumah, Jack bekerja di kota untuk menjual kue. Ketertarikannya kepada seorang gadis penjaga perpustakaan, Allie, membawa Simon Fairbairn, pengacara yang bertugas mengurus surat-surat kepemilikan rumah Marrowbone terbakar dendam sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah Marrowbone. Ketika masuk ke rumah keluarga Marrowbone, barulah Simon menemukan rahasia keluarga yang sebenarnya.
Marrowbone masih menawarkan elemen-elemen khas horor Spanyol seperti elemen keluarga dan struktur cerita, terutama dalam menjaga rahasia twist-nya. Sejak awal ia menghadirkan misteri yang membuat penonton berpikir sebagai formula-formula generik horor lainnya (uniknya, referensi yang paling punya banyak kemiripan adalah Pengabdi Setan versi tahun 2017). Namun sembari menggelar ‘formula generik’-nya, ia juga menawarkan berbagai sub-plot untuk semakin menumpuk rasa penasaran penonton dalam memperhatikan tiap petunjuk dan menganalisisnya. Misalnya yang terkuat, thriller masuknya karakter Simon Fairbairn yang digarap dengan begitu ‘menggigit’ dan drama keluarga yang terasa hangat di banyak momen. Berbagai sub-plot ini mungkin awalnya sempat membuat penonton berpikir sebagai tumpukan konflik semata. Sedikit bersabar, perlahan-lahan mulai terkuak mengapa kesemua sub-plot tersebut punya fungsi masing-masing dan tersusun secara solid. Sebuah twisted revealing yang mungkin sudah sangat sering digunakan di tema sejenis, tapi harus saya akui, terasa masih segar berkat ‘tipuan-tipuan’ serta distraksi petunjuk di babak-babak sebelumnya yang baru disadari penonton di momen tersebut. Tak hanya berhenti di titik revealing yang mungkin bagi banyak penonton menjadi daya tarik utama, ia masih memberikan konklusi yang begitu hangat  dan menyentuh dalam tema keluarga-nya. Tak salah jika ada banyak penonton yang mencapai titik emosional tertinggi justru di bagian konklusi. 
Selain sense horor, thriller, serta dramatis dari Sánchez yang ternyata sangat baik, kekuatan Marrowbone ada di hampir semua elemen pendukungnya. Mulai akting dari jajaran cast-nya, seperti George MacKay sebagai Jack yang terasa paling kuat, Charlie Heaton sebagai Billy, Anya Taylor-Joy sebagai Allie, dan Tom Fisher sebagai Simon Fairbairn, hingga dukungan teknis yang tahu betul bagaimana menyampaikan materi cerita beserta kesemua konsepnya dengan impact maksimal. Seperti sinematografi Xavi Giménez yang secara efektif mengeksplor tiap kebutuhan impact adegan, editing Elena Ruiz yang serba tepat momentum, desain produksi Patrick Salvador serta art dari Jaime Anduiza yang semakin mendukung atmosfer creepy, hingga musical score dari Fernando Velázquez yang memperkuat ‘rasa’ dari tiap adegannya. Sound mixing yang tahu betul menjaga keseimbangan antara silent moment dengan sound effect yang menggebrak sehingga menghasilkan impact jumpscare yang efektif tapi tak terkesan murahan.
Bagi pecinta horor terutama yang cocok dengan style horor Spanyol seperti The Others dan The Orphanage, Marrowbone tentu sajian yang pantang untuk dilewatkan begitu saja. Nikmati asyiknya mencari-cari petunjuk misteri dan menganalisisnya sambil menikmati ‘roller-coaster’ yang mengaduk-aduk emosi dari awal hingga akhir film. Twisted revealing yang digunakan mungkin memang sudah sering digunakan, apalagi jika referensi horor Anda termasuk luas, tapi berkat racikan dan distraksi-distraksi yang disebar Sánchez membuatnya tetap terasa segar, saling terkoneksi secara solid, dan konklusi tentang ikatan keluarga yang menyentuh. Bahkan mungkin tak berlebihan jika menobatkannya sebagai salah satu film drama thriller/horror terbaik beberapa tahun terakhir di ranah sinema manapun.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates