Friday, November 24, 2017

The Jose Flash Review
Marlina
Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Di ranah perfilman internasional ada istilah sub-genre ‘spaghetti Western’ untuk menyebut film-film dengan latar western yang sejatinya berasal dari Amerika Serikat tapi dibuat oleh Italia, terutama Sergio Leone yang paling populer lewat Dollars Trilogy; A Fistful of Dollars, For a Few Dollars More, dan The Good, the Bad, and the Ugly. Populer di era ’60-an, genre yang dikarang oleh jurnalis Spanyol ini sejatinya banyak terpengaruh dari film-film lain, seperti film Akira Kurosawa, Yojimbo (film-film Western secara umum memang sering mengambil pengaruh dari film-film Kurosawa, seperti The Magnificent Seven yang merupakan adaptasi bebas dari Seven Samurai). 

Istilah spaghetti western kemudian berkembang di berbagai negara. Memadukan elemen-elemen khasnya, seperti jagoan yang mengembara di tanah tanpa hukum melawan geng kriminal, dengan kultur lokal masing-masing menghasilkan keunikan tersendiri, seperti Tampopo (1985) dari Jepang yang disebut sebagai ‘ramen Western’, Sholay (1984) dari India dengan julukan ‘curry Western’, serta ‘kimchi Western’ yang dialamatkan kepada The Good, the Bad, the Weird dan Kundo: Age of the Rampant. Di era 2000-an, Quentin Tarantino memadukan elemen-elemen khas spaghetti Western dengan racikannya sendiri sejak Kill Bill hingga yang terakhir, The Hateful Eight
Sinema Indonesia akhirnya punya tema sejenis yang disebut-sebut oleh wartawan Variety sebagai ‘satay Western’, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Marlina) dari tangan Mouly Surya (Fiksi, What They Don’t Talk About When They Talk About Love). Setelah sukses ‘berkelana’ di kancah internasional, seperti di Cannes, Toronto, dan bahkan aktris utama Marsha Timothy memenangkan penghargaan aktris terbaik di Sitges International Fantastic Film Festival di Spanyol, film yang merupakan kolaborasi produksi dari Indonesia, Perancis, Malaysia, Singapura, dan Thailand ini ‘pulang kampung’ untuk menyapa penonton film Indonesia.
Marlina, seorang janda yang suaminya baru saja meninggal dunia didatangi oleh sekelompok perampok yang dipimpin oleh Markus. Tak hanya merampok hewan-hewan ternaknya, mereka bertujuh juga berniat ‘menggilir’ Marlina. Beruntung sebelum benar-benar beraksi, mereka minta dimasakkan sup ayam yang sudah Marlina bubuhi racun dari buah bintaro. Mereka bertujuh pun tewas seketika, termasuk Markus yang bahkan sampai kepalanya berhasil ditebas. Marlina lantas berniat untuk membawa kepala Markus dan melaporkannya ke polisi. Karena tinggal di Sumba Barat yang segala prasarana masih sangat terbatas dan serba jauh, Marlina memulai perjalanan panjangnya. Pertemuannya dengan banyak orang, seperti Novi yang sedang hamil, seorang ibu yang dalam perjalanan menikahkan anaknya, dan seorang anak perempuan yang bernama sama seperti mendiang putranya. Sementara itu, Frans, kawanan Markus yang berhasil selamat oleh keadaan, masih terus memburu Marlina.
Secara premise, Marlina tergolong sangat sederhana, bahkan dalam kontekstual sub-genre Western sekalipun. Namun yang membuatnya terasa berbeda bahkan luar biasa adalah bagaimana Mouly memvisualisasikannya ke dalam bahasa gambar yang sinematis. Bukan hanya soal pemanfaatan panoramik latar Sumba Barat yang memang sudah indah, tapi bagaimana ia men-staging komposisi di tiap frame dengan begitu luar biasa. Screen capture frame manapun maka Anda akan mendapatkan gambar yang luar biasa. Bagi saya pribadi, justru inilah esensi utama dari filmmaking. Yunus Pasolang selaku penata kamera tak perlu menyuguhkan camera work, angle, atau stock shot yang variatif, karena staging yang powerful dalam bercerita. Editing Kelvin Nugroho pun tak menghadirkan shot-shot panjang hanya untuk sekedar memberikan kesan ‘arthouse’ tapi secara efektif menggerakkan plot sesuai dengan pace yang dibutuhkan. 
Analisis plotnya lebih dalam, Marlina sebenarnya tak semata-mata mengangkat tema woman-empowerment ataupun feminisme. Secara kuat dan jelas ia menggambarkan bagaimana hukum bekerja di daerah-daerah yang minim prasarana, terlepas bagi kaum wanita ataupun pria. Lihat bagaimana reaksi polisi ketika Marlina melapor yang tampak santai-santai saja dan penjelasannya tentang prosedur penyelidikan kasus perampokan dan pemerkosaan yang terlalu lama. Hanya saja dengan sudut pandang wanita, terlebih lagi unsur pemerkosaan yang perlu proses penyelidikan lebih detail, ditambah sub-plot tentang Novi dan seorang ibu yang bisa disimpulkan ‘menentang’ mitos sosial yang mendeskritkan kaum wanita, nafas tema woman-empowerment atau feminisme jadi terasa begitu kuat. Tak melulu serius, malah di banyak kesempatan tersampaikan lewat celetukan-celetukan yang menggelitik. Hingga kemudian keputusan aksi Marlina setelah melapor menjadi materi refleksi sosial yang kuat. Menyedihkan tapi di saat yang bersamaan mengajak penonton untuk bersemangat melawan. Tak heran jika pilihan-pilihan aksi Marlina (dan juga Novi) kemudian menimbulkan sorak-sorai kemenangan dari penonton. Konsep ‘empat babak’ (The Robbery/Perampokan Setengah Jam Lagi, The Journey/Perjalanan Juang Wanita, The Confession/Pengakuan Dosa, dan The Birth/Tangisan Bayi) menjadi hint garis besar sebuah siklus yang terjadi terutama pada karakter Marlina. 
Kekuatan utama lainnya terletak pada performa akting yang dari luar terkesan natural dan biasa saja tapi jika diperhatikan lebih dalam, luar biasa. Tak heran jika akting Marsha Timothy sebagai peran utama mendapatkan pujian dari berbagai pihak. Perhatikan sorot mata dan gestur tubuhnya yang menampilkan berbagai emosi, pergulatan batin, bahkan ketika tak sedang menyampaikan dialog. Natural, tapi terasa begitu jelas dan kuat. Dukungan dari Dea Panendra sebagai Novi dan Rita Matu Mona sebagai ibu-ibu pun punya momen tersendiri. Begitu juga Egy Fedly, Yayu Unru, dan tentu saja Yoga Pratama yang terasa makin terasah. Terakhir, penampilan Tumpal Tampubolon sebagai suami Marlina yang mau tak mau, begitu mencuri perhatian.
Aroma ‘Western’ terasa makin kental lewat artistik Frans Paat dan kostum dari Meutia Pudjowarsito yang berhasil mengawinkan elemen-elemen visual khas Western dengan motif dan warna-warna etnik khas Sumba menjadi item-item artistik yang unik, cantik, bahkan signatural. Tak ketinggalan musik dari Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang sangat beraroma Ennio Morricone (komposer khas film-film spaghetti Western), tanpa meninggalkan jejak-jejak etnik, terutama iringan jungga (gitar khas Sumba). Pilihan lagu La HP Jodo yang populer di masyarakat Sumba dan dibawakan oleh Yoga Pratama pun menjadi momentum tersendiri. Terakhir, tentu saja soundtrack Lazuardi yang dibawakan Zeke Khaseli, Yudhi Arfani, dan Cholil Mahmud merepresentasi film secara garis besar, baik secara elemen bunyi-bunyian maupun emosi.
Marlina mungkin memang masih tergolong arthouse yang mungkin masih agak berjarak dengan penonton umum, tapi kesemuanya ditampilkan sesuai kebutuhan. Bukan sekedar untuk gaya-gayaan agar mencapai gelar ‘arthouse’ yang segmented. Malahan untuk ukuran arthouse, apa yang digulirkan Marlina termasuk mudah dicerna. Tak ada simbol-simbol semiotika yang harus dianalisis penonton hanya untuk memahaminya. Plot terluarnya sangat sederhana dan mudah dipahami sekaligus dinikmati. Jika berniat untuk menganalisisnya lebih dalam, ia mengangkat isu sosial secara kuat dan reflektif. Menurut saya pribadi, Marlina adalah pencapaian visual storytelling (atau dalam konteks ini, filmmaking) yang eksepsional. Sederhana tapi indah, kaya, dan kompleks.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates