Thursday, November 23, 2017

The Jose Flash Review
Justice League

Warner Bros. dan DC agaknya tak pernah patah arang untuk menyusul ketertinggalan dari Marvel Cinematic Universe yang jauh lebih sukses dan menggaet lebih banyak penggemar baru. Setelah Batman v Superman: Dawn of Justice yang cukup ambisius tapi dianggap konyol oleh banyak kalangan, Suicide Squad, dan Wonder Woman yang ternyata justru mendapatkan sambutan jauh lebih hangat, DC tetap bersikukuh melaju dengan proyek yang bisa dibilang salah satu puncak ambisiusmenya, Justice League (JL). Bak versi DC dari The Avengers, penyatuan berbagai superhero besar mereka ke dalam satu film memang secara logika bisa mengundang lebih banyak penonton. Bayangkan masing-masing fans dari karakter superhero akan berbondong-bondong menyaksikan jagoannya beraksi bersama karakter-karakter lainnya. Zack Snyder yang sudah ‘membangun’ konsep DCEU (DC Extended Universe) sejak Man of Steel masih dipercaya duduk di bangku sutradara meski di momen-momen terakhir mengundurkan diri paska kematian sang putri dan dilanjutkan Joss Whedon yang berjasa dalam membangun MCU. Sementara Whedon sendiri memang sudah berada di jajaran penyusun naskah bersama dengan Chris Terrio (Argo, Batman v Superman). Ben Affleck dan Gal Gadot pun kembali muncul, bersama dengan Ezra Miller, Jason Momoa, dan Ray Fisher yang sempat di-tease di installment-installment sebelumnya, serta tentu saja kembalinya Henry Cavill yang sudah ditunggu-tunggu oleh para fans sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama film. Bisa dibilang, JL menjadi pertaruhan yang cukup penting untuk menentukan arah dan masa depan franchise DCEU.

Paska kematian Superman, Bruce Wayne alias Batman tergerak untuk menyusun strategi baru untuk membela kemanusiaan di atas bumi kalau-kalau nanti ada ancaman yang berbahaya. Dibantu Diana Prince alias Wonder Woman, Bruce lantas tertarik untuk merekrut seorang remaja dengan kecepatan luar biasa, Barry Allen alias The Flash, Arthur Curry alias Aquaman, dan Victor Stone alias Cyborg. Tak lama setelah membagi tugas dan ‘membujuk’ dengan caranya masing-masing, tiba-tiba muncul ancaman baru. Menurut Diana, ancaman tersebut bernama Steppenwolf dan pasukan Parademon. Steppenwolf dikenal sebagai sosok yang ingin merombak ulang tatanan dunia seturut kehendaknya dengan kekuatan dari tiga kubus bernama Motherbox yang disatukan. Di masa lampau kaum Amazon, Atlantis, manusia, para dewa Olympia, dan Green Lantern berhasil bersama-sama mengalahkan Steppenwolf serta menyebar ketiga Motherbox ke seluruh penjuru dunia yang lokasinya dirahasiakan. Kini dengan kematian Superman, kekuatan Motherbox bereaksi dan memicu kembalinya Steppenwolf beserta pasukan Parademon-nya. Melihat kekuatan Steppenwolf yang luar biasa, Bruce merasa harus menambah kekuatan Justice League dengan mengambil keputusan nekad dan resiko yang belum diketahui: menghidupkan kembali Superman!
Sekutu superhero JL sejatinya sudah ada di versi komik sejak tahun 1960 (tiga tahun sebelum penampilan pertama kali komik Avengers) dengan formasi awal Superman, Batman, Wonder Woman, Aquaman, Flash, Green Lantern, dan Martian Manhunter. Namun di versi layar lebar kedua yang disebutkan terakhir dipending dan digantikan oleh Cyborg yang sebenarnya dikenal sebagai anggota Teen Titans tapi menjadi bagian dari JL inti di komik versi reboot tahun 2011. Sebuah keputusan yang cukup bijak untuk lebih mengutamakan jagoan-jagoan yang sudah familiar bagi publik umum dan memilih hanya Cyborg yang diperkenalkan secara tersendiri setelah muncul sejenak di BvS, sementara Aquaman akan punya film sendiri secara individu yang direncanakan rilis 2018. Perilisan JL sebelum film individu Aquaman dan Cyborg sebenarnya tergolong aneh secara kronologikal, tapi well, let’s see later.
Kembali ke JL, agaknya kali ini memang sekedar ingin men-treat para fans dengan berfokus pada proses bersatunya para superhero sementara kemunculan Steppenwolf sebagai musuh terkesan sekedar asal memenuhi syarat film aksi superhero yang punya sosok musuh sebagai alasan menghadirkan adegan-adegan aksinya. Memang ada penjelasan singkat asal-usul Steppenwolf tapi karakternya tak pernah benar-benar diolah menjadi sesuatu yang lebih menarik. Tidak pula tampak teaser-teaser sang sosok yang sebenarnya membuka jalan untuk konsep musuh jauh lebih besar di versi komik, Darkseid. Semua terasa bergulir sangat straight-forward (baca: lugas); mengumpulkan para superhero dan kemudian membagi tugas untuk mengalahkan sang musuh. End of story. Bisa jadi ini merupakan upaya untuk perlahan-lahan mengubah image DCEU yang sejak awal terkesan kelam, depresif, dan rumit menjadi film superhero generik yang menghibur serta memanjakan para fans dari masing-masing superhero lewat berbagai momen showcase yang dengan mudah membuat berkali-kali bersorak-sorai di dalam teater. For that purpose, JL setidaknya sudah melakukan mood-shifting yang cukup menjanjikan masa depan DCEU yang lebih ‘cerah’. 
Meski secara plot sebenarnya tak ada yang benar-benar menarik selain formula-formula super-generiknya, setidaknya JL menghidupkan kembali Superman secara koheren dengan konsep sang musuh. Sosok Superman menjadi karakter dengan transformasi yang sangat menarik dan menimbulkan rasa penasaran yang lebih lagi bagi saya. Apalagi Henry Cavill menginjeksikan performa kemisteriusan yang tergolong belum pernah terlihat sebelumnya pada sosok Superman. Sisanya, nikmati saja gelaran highly-entertaining yang sekali ini dan akhirnya, fun untuk diikuti tanpa perlu susah-susah berpikir atau mencerna. Terutama sekali lewat performa Ezra Miller yang mampu menghadirkan feel komedik sepanjang film lewat karakter Flash. Begitu juga Ben Affleck yang kali ini tampak lebih ‘santai’ atau justru pasrah setelah selama ini kemunculannya selalu menjadi bahan ejekan dalam merepresentasi karakter Batman. Apapun yang sebenarnya terjadi, kemunculan Batman kali ini menjadi sarkasme yang cukup menggelitik dan menghibur. Gal Gadot, sebagaimana sebelum-sebelumnya, masih menampilkan pesona maksimal ke dalam sosok Wonder Woman meski harus berbagi porsi dengan karakter-karakter lain. Sementara Jason Momoa sebagai Aquaman dan Ray Fisher sebagai Cyborg agaknya masih perlu film individu masing-masing dirilis untuk menjadikan karakternya cukup mampu memikat fans baru. Ciarán Hinds yang mengisi peran Steppenwolf tak lebih dari sekedar villain tanpa perkembangan karakter lebih meski ia terlihat berusaha maksimal untuk menjadi villain yang kharismatik dan mengancam. Sementara pendukung lainnya seperti Amy Adams sebagai Lois Lane, Jeremy Irons sebagai Alfred, Diane Lane sebagai Martha Kent, hingga J.K. Simmons sebagai Commissioner Gordon terasa sekedar menjaga kontinuiti film, tanpa kepentingan lebih.
Sinematografi Fabian Wagner (Victor Frankenstein, Game of Thrones) membawa feel blockbuster yang lebih megah dan sinematik tanpa meninggalkan kesan fun di balik konsep lighting yang masih kelam. Beberapa adegan mengingatkan saya akan Batman versi Tim Burton, terutama faktor musical score dari Danny Elfman yang didapuk menggantikan Junkie XL. Alhasil JL terasa punya feel yang berbeda secara signifikan dengan BvS. Lebih classical fantasy. Editing yang dilakukan David Brenner, Richard Pearson, dan Martin Walsh juga menjadi faktor terbesar yang membuat feel JL berbeda. Bagi yang sudah terlanjur cocok dengan storytelling Snyder mungkin akan menganggapnya pendangkalan konsep Snyder, tapi bagi penonton umum yang sekedar ingin bersenang-senang, mereka berhasil menyajikan film aksi superhero yang straight-forward dan mengasyikkan untuk ditonton. Pilihan soundtrack pun tergolong jitu dalam memancing emosi penonton. Mulai Everybody Knows dari Sigrid yang membuat tribute terhadap Superman terasa begitu khidmat dan bersahaja, Icky Thump dari The White Stripes, hingga Come Together dari The Beatles yang didaur ulang oleh Gary Clark Jr. & Junkie XL menjadi lebih modern tanpa kehilangan spiritnya.
JL mungkin bukan merupakan film dimana DCEU menemukan bentuk teridealnya. Namun sebagai upaya mengubah mood dari yang sebelumnya kelam menjadi lebih menyenangkan, cukup berhasil untuk sekedar menghibur. Anggap saja sebagai transisi sekaligus pemanasan karena mood-shifting yang kelewat drastis juga akan membawa dampak yang kurang nyaman untuk diikuti. Dengan dihadirkannya karakter-karakter maupun elemen-elemen yang memberikan hint menarik (terutama bagi penggemar yang juga mengikuti komiknya), masa depan DCEU terlihat lebih cerah. Semoga saja pengembangan berikutnya membuat grafik DCEU, baik dari segi kualitas maupun sisi fun, semakin meningkat. Mustahil memang membandingkan kualitas film keroyokan dengan masing-masing individu, tapi setidaknya bisa menjadi satu kesatuan yang menarik seperti layaknya MCU. Suka atau tidak, lebih baik coba terlebih dahulu baru memutuskan karena resepsi tiap orang bisa sangat berbeda sesuai ekspektasi masing-masing. Jangan lupa ada satu mid-credit scene yang cukup menarik dan satu after-credit scene yang penting jika Anda tertarik untuk mengetahui bagaiman rencana pengembangan DCEU ke depannya.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates